Kuat, Kapitalisme Kelola RS

thumbnail
Oleh: Irwan Arfa
Prita Mulyasari memang telah keluar dari penjara, tapi ia masih harus menjalani persidangan yang melelahkan di pengadilan. Siksaan itu harus Prita jalani karena dianggap melakukan perbuatan melawan hukum yakni pencemaran nama baik terhadap RS Omni Internasional. Proses hukum berawal dari pengiriman email yang dilakukan Prita kepada teman-temannya tentang ketidaknyamanan pelayanan kesehatan yang didapatkan di RS.
Mungkin ia hanya kecewa dan berkeluh kesah kepada teman-teman karena tidak mengetahui ke mana harus mengadu. Namun ketika email itu dipublikasikan, Prita tidak menduga harus jalani kenyataan pahit, dipenjara dan terpisah dari keluarga.
Kapitalisme RS apa yang dialami Prita akibat dari asas kapitalisme yang sudah berlaku dalam pengelolaan RS. Demikian Direktur LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof Dr Firman Lubis, MPh.
Menurut Sitorus, angin kapitalisme RS mulai bertiup kencang kala diberlakukan UU 23/1992 tentang Kesehatan sebagai pengganti UU 9/1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan. Melalui UU 23/1992, pemerintah mengizinkan badan hukum rumah sakit berbentuk perseroan terbatas (PT) yang berorientasi bisnis. Padahal semestinya RS mengemban fungsi sosial. Dengan UU itu pemerintah tidak lagi memiliki hak mengatur atau intervensi terhadap model operasional RS yang telah beralih jadi ladang bisnis. Dengan kondisi itu, tampak bahwa penyelengara negara telah mendistorsi kepentingan orang banyak dan berupaya melindungi segelintir pemilik modal.
Pelan tapi pasti, mulai terjadi degradasi fungsi sosial RS sehingga kegiatan yang tidak menguntungkan secara materi mulai dihilangkan satu per satu. Contohnya, sebut Sitorus, kewajiban pengelola RS untuk menyediakan tempat tidur kelas III secara gratis beserta perawatan tenaga medik dan obat. Sejak tahun 60-an hingga 1992, fungsi sosial RS masih ada dan masyarakat miskin masih bisa mendapat layanan kesehatan secara gratis meski kualitas berbeda.
Namun setelah berlaku UU 23/1992 tentang Kesehatan, hak rakyat mulai dikurangi dengan hanya kewajiban menyedikan tempat tidur oleh RS. Sedangkan dokter dan obat tetap dibayar. Lalu, hak rakyat itu dikurangi lagi dengan menetapkan kewajiban tempat tidur gratis hanya di RS pemerintah, sedangkan RS swasta tidak diwajibkan. Terakhir tidak ada lagi RS yang menyiapkan tempat tidur, pelayanan medis dan obat gratis bagi orang miskin hingga kini. Kalau ada, hanya RS yang mengikat kontrak dalam program Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) atau Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Itulah fenomena kapitalisme yang sudah melanda pola pengelolaan RS di Indonesia.
Prof Lubis berpendapat, asas kapitalisme RS dapat dilihat dari belum adanya peraturan pemerintah yang melindungi masyarakat dari kemungkinan praktik pemerasan pengelola RS. Contohnya, ketentuan pencantuman tarif pengobatan agar masyarakat mengetahui total dana yang disiapkan jika menginginkan layanan tertentu. Pola kapitalisme di RS kian banyak terjadi karena Departemen Kesehatan (Depkes) jarang melakukan pengawasan. Malah Depkes sering terkesan lepas tangan terhadap pengawasan RS meski institusi yang berwenang seperti proses pemberian izin. ’’Depkes jangan hanya mau memberi izin tapi tidak mau mengawasi,’’ tegas Prof Lubis yang juga Ketua LSM Koalisi Untuk Indonesia Sehat (KUIS) itu.
Sitorus menambahkan, kapitalisme itu menyebabkan beberapa RS di dalam negeri jadi calo atau anak perusahaan RS yang di luar negeri. Pemilik-pemilik modal dari luar negeri yang mempunyai dana besar bisa membeli atau mendirikan RS di Indonesia, lalu mengoneksikan dengan beberapa RS di luar negeri. Praktik percaloan itu dapat terlihat dari sekitar 40% operasional RS di Kepulauan Riau yag mencantumkan boleh berobat ke luar negeri atau memilih negera lain seperti Singapura dan Malaysia melalui mereka. Pola kapitalisme itu menyebabkan masyarakat sering dijadikan alat pengelola RS untuk mengembalikan modal khususnya pembelian peralatan medik yang mahal.
Menurut Sitorus, harga alat-alat kedokteran itu sangat mahal, berkisar antara Rp 1,5 miliar hingga Rp 7 miliar per unit atau lebih mahal lagi. Jika menggunakan cara biasa, pengembalian modal sulit dilakukan karena tidak semua pasien menderita sakit parah dan harus memakai peralatan itu. Agar dapat mengembalikan modal dengan cepat, alat-alat kedokteran dimaksimalkan penggunaannya dengan dipergunakan pada setiap pasien yang berobat.
Caranya, para dokter sering melebih-lebihkan hasil diagnosa sehingga diperlukan tindakan medik yang lebih jauh. Ia mencontohkan, kalau pasien menderita sakit kepala, umumnya disebabkan kurang darah, kurang tidur atau karena sirkulasi darah yang tidak baik. Lalu, pihak RS menyebut second opinion atau kemungkinan penyebab lain sehingga diperlukan tindakan lanjut seperti pemeriksaan darah dan kolesterol yang tidak perlu atau tidak terkait penyakit yang diderita. Karena ada pemeriksaan lanjutan, pasien wajib membayar lebih karena penggunaan peralatan kedokteran yang mahal itu.
Namun, dalam praktiknya pasien cenderung pasrah karena memang sangat mengharapkan kesembuhan yang secara profesionalisme hanya diketahui dan dapat dilakukan para dokter. ’’Jangankan pasien menengah ke bawah, para jenderal akan bilang, iya dokter, bagaimana baiknya saja agar cepat sembuh. Para profesor akan begitu,’’ katanya. Hal itu disebabkan pada prinsipnya manusia ingin mempertahankan hidup sehingga sering tidak mempedulikan biaya yang harus dikeluarkan atau apa yang dilakukan terhadap dirinya. Mungkin, bagi para pejabat atau orang kaya tidak terlalu masalah tapi justru sangat memberatkan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.
Prita Mulyasari hanya satu dari sekian banyak masyarakat yang jadi korban kapitalisme pengelolaan RS di Indonesia. ’’Sebelumnya, sudah banyak kasus serupa, hanya saja tidak di-back up media massa seperti sekarang ini. Ada praktik penyanderaan selama dua minggu terhadap seorang pasien yang mengalami patah tangan akibat kecelakaan lalu lintas di sebuah RS di Jakarta Selatan karena tidak mampu membayar biaya pengobatan. Lalu, praktik merantai pasien dengan besi di tempat tidur di sebuah RS di Binjai, Sumatera Utara (Sumut) atau penolakan memberi pengobatan pasien penderita AIDS di Medan. Semua peristiwa itu sangat sadis tapi terabaikan,’’ tandas Sitorus.
Sitorus menilai, kasus Prita itu cerminan dari realita masyarakat yang tidak mengetahui cara bersikap atau menuntut haknya atas kapitalisme pengelolaan RS. Cara Prita yang tidak memakai prosedur hukum yakni dengan mengirim email kepada teman-temannya dianggap melawan hukum oleh RS Omni Internasional. Seharusnya, Prita menempuh upaya hukum dengan melaporkan perlakuan yang dialami ke pihak kepolisian seperti ketentuan perundang-undangan. ’’Itulah yang kita sayangkan, kenapa RS Omni yang lebih dulu mengadu, bukan Prita. Dengan pengelolaan RS dan UU seperti sekarang ini, yakinlah akan muncul Prita-Prita lain,’’ kata Sitorus.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menilai banyaknya kasus selama ini karena tidak berfungsinya mekanisme komunikasi antara pasien dengan pengelola RS. ’Kasus yang menimpa Prita hanya salah satu ekses dari tidak berpungsinya komunikasi itu," kata Ketua YLKI, Huzna Zahir. Idealnya, pasien selaku konsumen harus dianggap subjek atau bagian proses kegiatan pengobatan yang dilakukan RS. Selaku subjek, pasien harus diajak komunikasi untuk mengetahui hak dan kewajiban sebagai konsumen dari layanan kesehatan yang diberikan.
Sayangnya, harapan ideal itu jarang dilaksanakan karena pengelola RS tidak menyediakan wadah komunikasi dengan pasien, padahal sudah ada standar pelayanan publik sesuai Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 20-M.PAN-04-2006. Mungkin, pengelola RS banyak yang dengan sengaja tidak menyiapkan wadah komunikasi itu untuk memanfaatkan ketidaktahuan pasien demi mendapatkan keuntungan. Praktik itu dapat dilihat dari banyak pasien yang disuruh jalani pemeriksaan tapi tidak diketahui apa manfaat dan tujuannya.
Mungkin, selama ini pengelola RS lebih menganggap pasien sebagai objek sehingga yang berlaku adalah siapa membutuhkan siapa, kata Huzna. Prof Firman Lubis mengimbau kasus yang terjadi pada Prita Mulyasari menjadi pelajaran bagi Depkes untuk lebih mengawasi operasional RS. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Ada Prita-Prita Lain?

thumbnail
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan meyakini akan muncul banyak Prita-Prita lain yang mengeluhkan layanan kesehatan di Indonesia karena buruknya perlindungan pasien dalam perundang-undangan di bidang kesehatan saat ini. ’’Yakinlah, akan muncul Prita-Prita lain karena hak rakyat sudah direduksi UU,’’ kata Direktur LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus di Jakarta, Selasa (9/6).
UU Kesehatan yang berlaku saat ini, sengaja disetting untuk mengurangi hak orang banyak demi keuntungan segelintir pihak yang memiliki modal. Dengan sedikitnya hak orang banyak dalam bidang kesehatan tersebut, tidak tertutup kemungkinan munculnya rakyat yang mengeluh atau menempuh upaya hukum.
Banyaknya keluhan pasien itu berawal dari diberlakukannya UU 23/1992 tentang Kesehatan, menggantikan UU 9/1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan. Dalam UU 23/1992 tentang Kesehatan itu, baik eksekutif mau pun legislatif mengizinkan sebuah perseroan terbatas (PT) yang mendewakan keuntungan untuk miliki RS. Lalu, PT yang mengelola RS diizinkan berbuat apa saja dengan perangkat peraturan yang sangat mudah dilanggar.
Ia mencontohkan dengan ketentuan tersedianya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan pengolahannya yang tidak dilaksanakan banyak pengelola RS. ’’Saya berani bertaruh, hanya satu RS di Indonesia yang mampu mengolah seluruh limbahnya, yakni RSCM, yang lain bohong. Dengan UU baru itu, pemerintah tidak lagi mengatur atau campur tangan untuk menentukan model RS ideal bagi orang banyak. Kondisi pelayanan RS saat ini, lebih parah dan tidak manusiawi jika dibandingkan pada masa penjajahan Belanda. Pada masa Belanda, orang sakit yang sudah dirawat tapi tidak mampu membayar masih dikasih ongkos pulang,’’ katanya.
Kondisi itu masih membaik sekitar tahun 60-an hingga 1992 dengan wajib tersedianya tempat tidur bagi orang miskin plus perawatan tim medis dan obat. Namun, setelah berlakunya UU 23/1992 tentang Kesehatan itu, hak rakyat itu mulai dikurangi dengan hanya kewajiban menyedikan tempat tidur oleh RS, sedangkan dokter dan obatnya tetap dibayar.
Lalu, hak rakyat itu dikurangi lagi dengan menetapkan kewajiban tempat tidur gratis itu hanya di RS pemerintah, sedangkan RS swasta tidak diwajibkan lagi. Terakhir, hingga saat ini, tidak ada lagi RS yang menyiapkan tempat tidur, pelayanan medis dan obat gratis bagi orang miskin. Kalau pun ada, hanya RS yang mengikat kontrak dalam program Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) atau Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Dengan kondisi itu, rakyat yang sedang susah akan berteriak menghadapi sulitnya mendapatkan layanan kesehatan yang baik dengan kondisi perekonomiannya yang terbatas. Sementara RS yang merasa dicemarkan nama baiknya dengan mudah melakukan tindakan hukum ke pengadilan.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

2% Obat Tradisional Ada Bahan Kimia

thumbnail
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Husniah Rubiana Thamrin Akib mengatakan bahwa sekitar dua persen obat tradisional yang beredar di pasaran mengandung bahan kimia obat (BKO) yang jika digunakan tanpa petunjuk dokter dapat membahayakan kesehatan. "Dari sekitar tujuh ribu sampel yang diperiksa setiap tahun, dua persen di antaranya mengandung BKO," katanya dilansir ANTARA.
BPOM selalu menarik peredaran dan mencabut ijin edar obat tradisional yang menurut hasil pemeriksaan mengandung bahan kimia obat. "Kami juga menginstruksikan Balai POM di daerah untuk menindaklanjuti setiap temuan dengan melakukan penelusuran dan mengumpulkan bukti supaya produsen produk yang bersangkutan bisa diproses secara hukum," tambah Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen BPOM Ruslan Aspan.
Proses penelusuran dan pengumpulan barang bukti terkait penambahan bahan kimia obat pada obat tradisional cukup sulit dilakukan karena nama dan alamat produsen, nomor pendaftaran dan nomor ijin edar yang tertera dalam kemasan obat tradisional seringkali fiktif. "Tapi pada beberapa kasus sudah dilakukan proses proyustisia dan masuk pengadilan," kata Ruslan.
Menurut UU No 23 Tahun 1992 tentang kesehatan, orang yang memproduksi dan atau mengedarkan obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat diancam pidana penjara paling lama lima tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp 100 juta.
Tindakan pelanggaran itu, menurut UU No 8 Tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, juga diancam hukuman pidana penjara selama lima tahun dan atau denda paling banyak Rp2 miliar.
Sayangnya, kata Ruslan, sanksi yang diberikan pengadilan kepada produsen obat tradisional yang menambahkan bahan kimia obat selama ini sangat ringan. "Cuma pidana penjara empat bulan atau denda Rp10 juta," katanya.
Sanksi tersebut, kata dia, tidak membuat pelaku jera sehingga kembali mengulang pelanggaran tersebut. Apalagi keuntungan yang didapat dengan menambahkan bahan kimia obat pada produk obat tradisional mendatangkan keuntungan besar bagi mereka. "Penambahan BKO membuat obat tradisional terkesan cespleng, karena langsung bereaksi tak lama setelah dikonsumsi, sehingga banyak yang membeli dan mereka dapat untung besar," jelas Husniah.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Krim Saribing: Kulit Sehat Tanpa Obat Kimia

thumbnail
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan "public warning" terhadap kosmetika palsu dan mengandung bahan obat kimia yang marak beredar di pasaran.
Produk-produk yang beredar itu diantaranya banyak yang bermerk terkenal seperti OLAY 4 in 1 complete make up, OLAY Total White, POND`s Detox Complete, POND`s Age miracle, Salsa Hair Colorant, CR UV Whitening, dan lainnya.
Produk berbahaya tersebut antara lain mengandung Mercuri, Hidroquinon, Asam Retionoat, dan bahan pewarna yang dapat merusak organ tubuh, iritasi kulit, dan juga kanker. Masyarakat pun mulai hati-hati dalam memilih maupun membeli produk kosmetika.
Yang paling aman adalah membeli produk-produk kecantikan herbal yang telah terbukti khasiatnya dan bebas bahan kimia. Salah satunya adalah Krim Saribing, produk kecantikan kulit terbaik karya anak negeri dari Pulau Bali, Dr. Ir. G.N. Wididana, M.Agr atau yang biasa dikenal sebagai Pak Oles.
Ibu Yuli Widihastuti (29) seorang guru TK di Boyolali, Jateng awalnya ragu untuk memakai produk kecantikan Pak Oles. Maklum kulit wajahnya pernah rusak karena memakai kosmetik tertentu. “Setelah membaca informasi di Koran Pak Oles, saya akhirnya mencoba Krim Saribing dan Masker Madu Hitam. Alhamdulillah dengan keyakinan hati, dalam dua minggu, muka saya lebih bersih dan kerutan muka memudar. Saya menjadi lebih PD dan wajah tetap bersih alami walaupun tanpa bedak,” ungkapnya.
Saribing adalah krim kecantikan alami yang terbuat dari hasil fermentasi beberapa tanaman yang berkhasiat melembutkan dan meremajakan sel kulit. Saribing terbuat dari ekstrak lidah buaya, daun pepaya dan daun sirih yang diikat dengan lilin lebah madu (wax).
Pemakaian Krim Saribing yang rutin dapat melembutkan dan menghaluskan kulit, menghilangkan noda hitam atau flek pada kulit, mengurangi atau mencegah keriput pada kulit dan wajah serta melindungi kulit dari efek negatif sinar matahari.
Untuk melembutkan dan menghaluskan kulit di telapak tangan, siku, lutut atau kulit wajah, Krim Saribing diusapkan secara tipis dan merata sambil ditekan-tekan.
Krim ini juga efektif mengurangi noda hitam atau flek dan keriput di wajah dengan cara mengusapkannya tipis-tipis pada kulit wajah yang mengalami pigmentasi pada malam hari. Sebelumnya, kulit wajah dibersihkan terlebih dahulu untuk perawatan yang intensif, usapkan Saribing secara kontinyu setiap malam.
Bagi kaum wanita yang sering bepergian atau kerap terkena sinar matahari langsung dapat melindungi kulit dari efek negatif sinar matahari dengan Krim Saribing. Usapkan Saribing secara tipis dan merata pada kulit yang banyak terpapar sinar matahari.(Nia)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Saatnya Pelajar Pahami Toga

thumbnail
Fungsi dan khasiat tanaman obat keluarga (Toga) sebaiknya diperkenalkan kepada remaja sejak dini. Wakil Gubernur Provinsi Banten HM Masduki, misalnya, meminta kepada pelajar Kabupaten Tangerang untuk mengerti dan mengetahui fungsi Toga sebagai bagian dari hidup sehat.
"Jangan lupa kita ini bangsa Indonesia yang rakyatnya setia mengunakan obat keluarga, maka dari itu siswa harus mencintai dan belajar bagaimana memahami tanaman toga," ungkap Masduki ketika meninjau persiapan SMPN II Balaraja, di Desa Saga, Kecamatan Balaraja Kabupaten Tangerang yang akan mengikuti lomba sekolah sehat, Selasa, (9/6).
Masduki mengatakan, calon penerus bangsa tidak harus selalu mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi, siswa harus berpaling kebelakang untuk mempelajari kegunaan tanaman bagi kesehatan. "Tanaman obat harus dikembangkan terutama di sekolah sehat, siswa harus dididik soal kesehatan oleh gurunya bagaimana meramu dan ahli belajar soal Toga," tuturnya.
Sementara kebun percontohan tanaman obat milik Pak Oles di Pulau Roti, Denpasar, menjadi langganan murid TK, pelajar hingga mahasiswa mempelajari secara langsung aneka khasiat Toga. Misalnya, murid SD Tunas Daud Denpasar diajak para gurunya bertamasya ke kebun percontohan tanaman obat dan produksi pupuk Bokashi tersebut.
Di kebun tersebut, mereka belajar tentang ragam tananan obat. Pelajaran yang diberikan pada murid itu berkisar tentang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan materi SDA yang dapat diperbaharui, pengolahan bahan baku menjadi nilai ekonomi dan tumbuhan.
Menurut Ir Kadek Suiartana, Kepala Pemasaran Pupuk Bokashi Kotaku, cara pembuatan Pupuk Bokashi Kotaku juga menyita perhatian anak-anak. Mereka banyak bertanya tentang bahan baku yang digunakan dan manfaat pupuk organik tersebut, ungkap, Kadek Suiartana. (Ant/Nia)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

"Home Schooling" Buat Anak Senang Belajar

thumbnail
Sekolah di rumah (home schooling) menjadikan anak lebih senang belajar, mengingat pola belajar dilakukan dengan pendekatan dan kasih sayang dari keluarga.
"Bahkan, proses penyerapan ilmu dengan sekolah di rumah juga lebih baik, mengingat dalam suasana lebih menyenangkan dan dapat dilakukan sambil bermain," kata salah satu pembicara pada seminar "Home Schooling", Seto Mulyadi (Kak Seto) di salah satu hotel berbintang di Semarang, Rabu pekan lalu.
Sekolah di rumah, kata Kak Seto, merupakan konsep pendidikan yang dilandasi pemikiran bahwa setiap anak mempunyai bakat berbeda dan unik. "Hasilnya, anak akan lebih kreatif dan mempunyai kemandirian," ujar Kak Seto yang juga Ketua Komnas Perlindungan Anak.
Terlebih lagi, kata dia, sekolah formal melakukan penyeragaman materi pendidikan, sehingga tidak memberi ruang bebas bagi murid untuk berkembang berdasarkan potensi dan keunikan individu. "Konsep pendidikan sekolah saat ini justru banyak yang mematikan potensi anak, sehingga menimbulkan stres dan fobia sekolah, karena tidak ada pendampingan dalam belajar. Bahkan, anak dipaksa menerima pelajaran yang dibakukan dalam bentuk kurikulum," ujarnya dilansir ANTARA.
Sementara itu, Kresno Mulyadi adik kandung Kak Seto mengatakan, anak di Indonesia banyak yang mendapatkan pengalaman tidak menyenangkan dalam proses pendidikan di sekolah, seperti kasus kekerasan, bentakan, kekerasan dari guru, hingga pemasungan kreativitas anak. "Sungguh kurang beruntung anak-anak kita di sekolah. Padahal tujuan pendidikan untuk membentuk manusia seutuhnya yang mempunyai nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, serta keadilan," katanya mengutip butir-butir Pancasila.
Listya, salah seorang peserta seminar menyatakan setuju dengan pendidikan alternatif di dalam rumah (home schooling). Ibu dua anak itu mengaku, lebih memaksimalkan mendidik kedua anaknya di rumah. "Bahkan, saya pernah membiarkan anak pertama saya, Dika (9) bolos sekolah, karena ingin menyelesaikan bacaannya hingga tuntas," ujarnya.
Meskipun anaknya sering bolos hanya karena ingin belajar di rumah, kata Listya, anaknya justru mampu menguasai sejumlah pelajaran di sekolahnya, bahkan lebih cepat daripada diterangkan gurunya. "Pendidikan sejati itu dari ibu dan keluarga, sehingga mendorong saya mendampingi anak belajar di rumah secara total," tambahnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

TV Hambat Perkembangan Bahasa Bayi

thumbnail
Bayi yang selalu terbiasa pada suara televisi lebih mungkin menderita penundaan perkembangan bahasa dan tertinggal dalam perkembangan otak karena mereka mendengar lebih sedikit kata dari orang-tua mereka dan kurang "berbicara".
"Kita telah mengetahui bahwa pajanan terhadap televisi selama kehamilan berkaitan dengan penundaan bahasa dan gangguan perhatian, tapi sejauh ini kondisi tersebut tetap belum jelas mengapa," kata pemimpin tim peneliti AS Dimitri Christakis, profesor di "University of Washington".
"Televisi yang bersuara jelas mengurangi kata-kata bayi dan perawat mereka di dalam rumah dan ini mengandung potensi yang merugikan bagi perkembangan bayi," kata Christakis, sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Cina, Xinhua.
"Studi ini adalah yang pertama yang memperlihatkan bahwa ketika televisi menyala ada pengurangan kata-kata di dalam rumah. Bayi kurang mengeluarkan kata-kata dan perawat mereka juga lebih jarang berbicara dengan mereka," katanya.
Studi tersebut, yang melibatkan 329 anak, meneliti bayi yang berusia dua bulan sampai empat tahun. Anak-anak itu memakai perekam kecil digital seberat dua ons yang seukuran kartu bisnis pada hari yang diacak per bulan sampai selama dua tahun.
Rompi yang dirancang khusus dengan kantung di dada menjadi tempat penyimpanan alat perekam tersebut dengan jarak tertentu dari mulut, dan merekam semua yang dikatakan anak itu dan juga terdengar selama waktu 12 sampai 16 jam terus-menerus.
Alat perekam itu hanya dipindahkan saat bayi tidur siang, mandi, tidur malam dan naik mobil. Program piranti lunak pengenal ucapan memproses fail rekaman dan untuk menganalisis suara anak terpajan pada lingkungan hidup mereka, serta suara dan ucapan yang mereka sampaikan.
Pengukuran dalam studi itu meliputi hitungan kata orang dewasa, ucapan anak, dan perubahan percakapan anak, yang didefinisikan sebagai interaksi verbal ketika seorang anak mengucapkan dan orang dewasa menanggapi mereka secara lisan --atau sebaliknya-- dalam waktu lima detik.
Studi tersebut mendapati bahwa setiap jam suara televisi berkaitan dengan pengurangan mencolok pengucapan oleh anak, rentang ucapan, dan perubahan percakapan. Rata-rata, setiap jam pajanan televisi juga berhubungan dengan penurunan 770 kata yang didengar anak dari orang dewasa selama kegiatan rekaman.
Itu mewakili penurunan tujuh persen kata-kata yang terdengar, secara rata-rata. Ada pengurangan besar dalam hitungan kata orang dewasa laki-laki dan perempuan. Dari 500 sampai 1.000 lebih sedikit kata diucapkan per jam oleh televisi. "Hasil ini mungkin menjelaskan hubungan antara pajanan bayi terhadap televisi dan terhambatnya perkembangan bahasa," kata Christakis.
Studi tersebut disiarkan di dalam jurnal "Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine". Sebanyak 30 persen rumah tangga di Amerika kini melaporkan menghadapi televisi setiap waktu, bahkan ketika tak ada orang yang menonton. "Americian Academy of Pediatrics" menyarankan agar anak-anak yang berusia di bawah dua tahun tak diperkenankan nonton televisi dan pada saat yang sama mendesak diupayakannya permainan yang lebih interaktif.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Mendongeng Tumbuhkan Gagasan Anak

thumbnail
Mendongeng adalah cara paling efektif untuk menanamkan gagasan atau pemikiran, juga nilai moral, budi pekerti serta konsep sebab akibat terutama pada anak. "Pilihannya pada anak-anak karena memang lebih mudah memahami aturan yang kompleks melalui dongeng sederhana daripada membawa begitu banyak larangan dan aturan," kata Editor Penerbit Erlangga Dani Widyoputranto pada acara Grand Final lomba Duta Read a Story, di Jakarta, pekan lalu.
Menurut Dani, bercerita atau membacakan buku cerita untuk anak memiliki banyak manfaat, selain meningkatkan kemampuan konseptual, mendengar, berbahasa, berkomunikasi verbal dan memecahkan masalah. Aktivitas ini juga mampu meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas, pengetahuan serta kecerdasan emosial anak, kata Dani Widyoputranto.
Secara psikologis, papar Dani, rutinitas mendongeng ini juga memperat hubungan emosional antara para orang tua dan anak-anak. Namun saat ini mayoritas anak Indonesia belum dibesarkan dengan suasana yang kondusif untuk mendongeng. Demikian pula kesadaran orang tua akan pentingnya membacakan cerita masih sangat minim.
Melalui program Read a Story ini, Penerbit Erlangga yang telah berpengalaman di dunia pendidikan, mengajak semua elemen masyarakat untuk mengembalikan budaya membacakan cerita sebagai landasan pendidikan dini bagi anak-anak.
Sementara Ketua Sanggar Kukuruyuk Denpasar Drs I Made Taro berharap mendongeng di kalangan anak-anak mampu menanamkan dan menumbuhkan kesadaran akan arti penting terhadap konservasi alam.
Sedikitnya ada 225 judul lagu anak-anak, 120 buah di antaranya dongeng yang menceritakan sifat-sifat baik dan buruk aneka jenis binatang dan tumbuh-tumbuhan, kata I Made Taro.
Selain lagu dan dongeng masih ada sekitar 200 permainan anak-anak. Jika semua itu diajarkan kepada anak-anak sejak dini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran mereka untuk menjaga kelestarian lingkungan dan kesinambungan aneka jenis binatang.
Dongeng maupun permainan itu sebenarnya sangat diminati oleh anak-anak, sekaligus bermanfaat untuk mendekatkan anak-anak dengan kehidupan flora dan fauna di sekitarnya.
Selain itu akan menjadi cikal bakal dalam mengajak dan mengarahkan generasi mendatang dalam menjaga kelestarian lingkungan dan kehidupan aneka jenis satwa, ujar Made Taro. (Ant)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Stamina Pulih Minum Madu Jamur

thumbnail
Nama: Budi Santoso, 34 tahun, swasta, tinggal di Semarang
Pengalaman:
Saya termasuk orang yang fanatik menggunakan Ramuan Pak Oles karena saya yakin dengan khasiatnya. Awalnya saya sering merasa cepat capek jika bekerja terlalu berat. Namun sejak minum Madu Jamur, stamina saya meningkat dan tidak mudah sakit meskipun sering kehujanan. Begitu juga dengan Minyak Oles Bokashi. Saya menggunakannya untuk urut dan kerokan. Bila masuk angin pasti dapat diatasi.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Benjolan Hilang Berkat Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Ni Luh Suterni, 53 tahun, ibu rumah tangga, Ampenan, Mataram, NTB.
Pengalaman:
Pada pergelangan tangan kanan saya ada sebuah benjolan. Benjolan tersebut pernah disedot di rumah sakit, namun belum juga bisa sembuh. Namun sejak saya rutin mengoleskan Minyak Oles Bokashi pada bagian benjolan tersebut, lama-kelamaan benjolan tersebut kempes dan menghilang. Sampai sekarang tidak pernah kambuh lagi.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Langsing Dengan Madu Sekar

thumbnail
Nama: Fitriyah, 26 tahun, guru agama, tinggal di Aikmel Utara, Lombok Timur.
Pengalaman:
Berat badan saya mula-mula 60 kg. Saya berupaya menjaga tubuh tetap ramping dengan mengonsumsi ramuan tradisional karena tanpa efek samping. Pilihan saya jatuh pada Ramuan Pak Oles yaiu Madu Sekar. Setelah rutin minum Madu Sekar, berat badan saya turun. Sampai sekarang saya masih mengonsumsi Madu Sekar. Bagi yang ingin langsing, saya sarankan minum Madu Sekar.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Aneka Manfaat Minyak Oles Bokashi

thumbnail
Nama: Kustinah, 58 tahun, PNS, tinggal di Semarang.
Pengalaman:
Pemakaian Minyak Oles Bokashi bagi saya sangat bermanfaat. Di antaranya untuk mencegah gigitan nyamuk dan mencegah nyeri pada gigi. Caranya, gigi yang berlubang bila terasa nyeri ditempel kapas yang berisi Minyak Oles Bokashi. Di samping itu bisa juga dipakai untuk mengobati luka lecet dan gatal. Pasti cepat sembuh.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Nyeri Di Tangan Berkurang

thumbnail
Nama: Ely Prihartini, 50 tahun, PNS, tinggal di Magelang
Pengalaman:
Saya sudah lama menderita sakit nyeri pada tangan dan ibu jari sehingga susah untuk digerakkan. Ketika bertemu dengan SPG Pak Oles di kantor, sales itu menawarkan Minyak Oles Bokashi. Saya secara rutin mengoleskan Minyak Oles Bokashi pada bagian tangan dan jari yang sakit. Saya merasa secara berangsur-angsur rasa nyeri di tangan dan jari mulai berkurang dan membaik. Alhamdulillah, jari yang tadinya tidak bisa digerakkan sekarang sudah normal kembali.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Ambeien Dan Sesak Napas Sirna

thumbnail
Nama: Sunarno, 53 tahun, PNS, tinggal di Kel. Susukan, Kec. Ungaran Timur, Kab. Semarang.
Pengalaman:
SPG Pak Oles berkunjung ke kantor saya menawarkan berbagai produk jamu Pak Oles. Kebetulan saya menderita penyakit ambeien dan sesak napas yang sudah lama. Saya mencoba minum setiap hari satu sendok Madu Rocky dicampur 4 tetes Minyak Oles Bokashi, pagi, siang dan malam. Alhamdulillah tidak sampai satu bulan penyakit saya sembuh, padahal madu dan Minyak Oles Bokashi belum habis.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Penyakit Kulit Sembuh

thumbnail
Nama: Ahmad Dawamodin Z., 53 tahun, PNS, tinggal di Unggaran, Semarang.
Pengalaman:
Saya menderita penyakit kulit, semacam kutil tapi tidak timbul yang sulit disembuhkan. Berbagai obat luar yang saya gunakan baik yang mahal maupun yang murah hasilnya nol besar. Bahkan “kutil” itu sudah saya kerok sampai berdarah-darah. Lalu saya obati, tapi tidak bisa sembuh. Suatu saat ada sales Pak Oles yang datang menawarkan Minyak Oles Bokashi. Dengan rasa tidak begitu yakin saya beli. Setelah sebulan menggunakan Minyak Oles Bokashi, penyakit kulit saya sembuh total.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Kena Minyak Panas Tidak Melepuh

thumbnail
Nama: Nur Widayati, 27 tahun, PNS, tinggal Banjarharjo, Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta.
Pengalaman:
Sebagai ibu rumah tangga, setiap hari saya harus menyiapkan makanan untuk keluarga. Waktu menggoreng lauk, tangan saya secara tidak sengaja kena minyak panas. Langsung saya olesi menggunakan Minyak Oles Bokashi. Anehnya, tangan saya tidak melepuh dan bengkak. Selain itu bila anak saya terluka karena jatuh selalu saya olesi dengan Minyak Oles Bokashi sebab saya sudah merasakan khasiatnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Menu Monogami

thumbnail
Tanya:
Sebagai suami monogamy, tentu saya sering merasa bosan dengan satu istri. Terus terang saya sering menghayalkan seseorang untuk bisa berselingkuh dengan saya. Saya takut dosa dan mengecewakan istri. Akhir-akhir ini nafsu dan tenaga saya mengendor gara-gara memikirkan hal itu. Mohon saran.
Dari: Yudi, Nganjuk.

Jawab:
Anda mengalami demam kebosanan. Ibarat makan mungkin menu dan cara penyajiannya monoton. Ditambah lagi memang prestasi anda anjlok. Menghayal tentang selingkuh perlu direvisi. Ibarat petuah orang tua, pergunakan dan rawat yang ada, jangan mengada-ada, kalau hidup ingin bahagia. Bangun komunikasi dengan pasangan agar bisa saling mendukung. Kalau anda rajin menghayal selingkuh dengan orang lain, takutnya anda salah sebut saat orgasme, maksudnya bisa saja anda mengucapkan nama orang lain, soalnya anda dalam kondisi setengah sadar. Hal itu bisa menjebolkan mental istri, walaupun anda pintar beralasan yang masuk akal. Rawatlah cinta anda pada istri anda, walaupun menunya sama, mungkin bumbu, cara penyajian dan cara makanya bisa berbeda. Selamat menikmati menu monogami.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Perang

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Suntzu adalah guru perang di zaman cina kuno. Ilmu perang itu disebut perang Suntzu, yang ditulis langsung berdasarkan pemahaman dan penghayatan sang guru, hampir 2.300 tahun yang lalu. Ilmu perang itu diturunkan dalam bahasa lisan dari generasi ke generasi, agar tidak lupa ada yang ditulis di dinding bilah-bilah bambu, di dinding batu, di kayu atau di daun tanaman. Sampai sekarang, ilmu Suntzu dengan mudah dipelajari melalui buku, internet atau seminar. Selanjutnya, ilmu ini juga dikenal sebagai ilmu perang itu, stategi perang atau seni perang yang menyebar luas ke berbagai disiplin ilmu.
Selain dalam ranah militer, ilmu ini sudah menerobos ranah menejemen, keuangan, kepemimpinan, pemasaran, politik, pelayanan publik, sumber daya manusia dan lain-lain. Perang bertujuan untuk mendapat kemenangan meski dengan ragam cara, strategi licik, lihai dan tipu daya, menggunakan kekuatan atau berpura-pura lemah, bahkan bisa membunuh dari belakang dengan pisau pinjaman. Kemenangan yang paling menggembirakan adalah kemenangan tanpa peperangan, --musuhnya mengalah sebelum perang dimulai.
Dalam berpikir ekstrem, hidup adalah perang, --perang melawan kematian, mempertahankan hidup, melawan kemiskinan dan penindasan agar tubuh sehat dan pikiran merdeka. Pikiran adalah perang, yaitu perang untuk mengambil keputusan, memilih, memilah dan menimbang informasi yang saling berkecamuk di dalam pikiran, yang saling mendahului dan saling berargumentasi untuk mendapat persetujuan, pikiran dalam bentuk keputusan.
Di dalam tubuh hampir setiap saat ada peperangan agar tubuh bisa menangkal masuknya penyakit demi tetap sehat agar sistim pertahanan tubuh harus berjalan normal. Jika penyakit masuk kedalam tubuh, maka tubuh harus segera mendepaknya keluar, atau membunuhnya dan membuangnya melalui sistim pembuangan. Jika penyakit tersebut menang dan berkembang di dalam tubuh, maka manusia harus minum obat atau minta bantuan dokter, dukun atau paranormal untuk mengusir penyakit. Jika penyakit menang, lama kelamaan manusia mati. Jika penyakit kalah, secara perlahan kesehatan manusia pulih. Akhirnya manusia juga mati karena kalah perang melawan waktu, dimakan usia.
Bagaimana cara memenangkan perang ? Keberanian, persiapan dan kegigihan. Dengan keberanian kita bisa memutuskan dan bertindak tanpa ragu-ragu. Dengan persiapan kita melakukan latihan dan perencanaan. Semakin mantap dan rajin latihan yang kita lakukan maka kita akan menjadi ahli dan terbiasa. Perencanaan yang baik akan mengantarkan kemenangan. Perencanaan yang rapi akan menguatkan strategi dan teknik menuju kemenangan. Akhirnya seorang pemenang ditentukan oleh kegigihannya dalam mempertahankan dan melanjutkan tindakan. Kegigihan sangatlah perlu untuk tetap semangat dan tekun berjuang. Kegigihan adalah kekuatan dan kesabaran, kuat dalam bertahan dan terus berjuang, serta sabar dalam berbagai hal, secara fisik maupun mental, untuk memperjuangkan kemenangan. Ingat, keragu-raguan akan mengantarkan kita pada kekalahan. Berjuanglah dengan penuh kegigihan dan kesabaran, tinggalkan segala keraguan. Dengan usaha keras dan doa pasti berhasil.
Sebuah produk yang berhasil di pasaran adalah suatu bentuk kemenangan. Kenapa berhasil? Karena keberanian memasarkan produk, ketepatan waktu hadir di pasar, keberanian mengeksekusi peluang untuk kebutuhan pasar. Keberanian itu merupakan kemampuan lebih yang harus terus diasah. Semakin sering keberanian seseorang diuji dan berhasil, keberanian akan semakin baik. Cara berani? Kerjakan pekerjaan atau tugas yang membuat anda takut, maka secara perlahan keberanian muncul, dan ketakutan lenyap. Jangan hindari ketakutan, labrak saja dengan tindakan.
Produk yang dipersiapkan dengan baik akan berhasil dipasaran. Perencanaan sangat penting. Perencanaan yang mantap mengantarkan separuh kemenangan. Jangan lalaikan perencanaan. Kehidupan yang gagal adalah kehidupan yang dijalani tanpa perencanaan. Perencanaan juga harus mengalami perbaikan sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.
Kegigihan untuk terus memperjuangkan produknya di pasaran harus dimiliki setiap pengusaha. Jangan patah semangat, jangan lari dari kenyataan, jangan mengeluh, jangan menyerah. Produk apapun yang ada dan akan ada di pasaran pasti miliki persaingan. Persaingan adalah peperangan. Tanpa persaingan suatu produk tidak bisa diuji kemampuannya. Apakah produk baik atau buruk, unggul atau kalah. Persaingan memunculkan motivasi, inovasi dan kreativitas. Tanpa persaingan tidak akan ada semangat, tidak ada hal yang baru dan tidak ada pemikiran dan ide baru.
Hanya mereka yang gigih bisa menang dalam persaingan. Mereka yang memiliki mental setengah-setengah pasti kalah bersaing. Jika kita memahami konsep perang, bahwa hidup dan kehidupan itu adalah perang, pemikiran dan pikiran adalah perang, maka kemenangan itu berawal dari dalam diri sendiri, dari hidup kita sendiri, dari pikiran kita sendiri. Seorang pemenang adalah orang yang berani, siap dan gigih. Dari dalam diri seorang pemenanglah muncul keberanian, persiapan dan kegigihan.
Jika diri sendiri sudah loyo, jangan harap peperangan bisa dimenangkan. Tabuh genderang perang, sorak sorai dan gemuruh pasukan, umbul-umbul dan bendera adalah faktor pelengkap perang. Tapi jika seseorang telah miliki keberanian, persiapan dan kegigihan, kemenangan bisa dicapai. Dalam hidup apapun, seseorang harus miliki ketiga hal tersebut agar berhasil dan menang dalam menjalani hidup. Kalau tidak, bersiap-siaplah gagal.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Kurikulum Wajib Toga

thumbnail
Membangun budaya dan hidup sehat secara alami. Itulah salah satu kesadaran global yang tumbuh di berbagai belahan dunia saat ini. Bahkan masyarakat di negara Eropa –pusat penelitian dan pengembangan obat-obatan kimia- mulai menoleh warisan dan budaya hidup sehat yang terpendam dalam peradaban dunia timur.
Yoga misalnya, mulai dipelajari orang Amerika dan Eropa karena konsep yoga yang memadukan gerak tubuh dan pernapasan ternyata efektif menyehatkan tubuh dan berpengaruh lurus terhadap pengembangan sikap moral. Seorang yang tekun mempelajari yoga akan diperciki kesadaran diri untuk hidup menyatu dengan alam, mencintai lingkungan hidup dan hidup selaras dengan alam semesta.
Selain yoga, pusat-pusat pengobatan alternatif berbasis obat-obat herbal mulai dikembangkan. Proses pengobatan atas suatu penyakit kini tidak sepenuhnya menjadi “wewenang mutlak” paramedis modern. Masyarakat di negara maju rupanya sadar bahwa pola hidup sehat sebenarnya sudah diwariskan sejak ribuan tahun lalu. Ada berbagai rahasia pengobatan kuno yang belum terungkap. Juga ada ribuan obat herbal berkhasiat yang belum dipopulerkan atau dikembangkan.
Pemerintah Indonesia tidak perlu malu meniru Cina dalam pengembangan pengobatan tradisional. Seorang siswa kedokteran sejak awal ditawarkan untuk memilih spesialisasi pengobatan medis barat atau menekuni warisan pengobatan tradisional khas Cina. Ini berarti, eksistensi pengobatan tradisional diakui, dikembangkan dan dilindungi oleh pemerintah.
Belum ada kata terlambat bagi pemerintah Indonesia mencantumkan materi tentang pengenalan tanaman obat keluarga (toga) dan pengetahuan manfaat jamu dalam kurikulum wajib di lembaga pendidikan. Terutama pada lembaga pendidikan yang dikelola Departemen Kesehatan seperti Akademi Perawat dan Akademi Kesehatan.
Kurikulum wajib tersebut diharapkan pula diisi penjelasan tentang berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi penelitian. Dengan begitu siswa atau mahasiswa di sekolah atau akademi tersebut dapat mengikuti perkembangan dunia usaha jamu, terutama di Indonesia.
Selain itu, pemerintah terus mendorong rakyat untuk memanfaatkan pekarangan rumah menjadi apotek hidup. Lingkungang menjadi asri dan penghuninya pun memperoleh manfaat kesehatan. Semoga!
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Mendemokratiskan Perkawinan Melalui RUU

thumbnail
Oleh: Nurani Soyomukti*
Saat ini Rancangan Undang-Undang (RUU) Peradilan Agama tentang Perkawinan yang melarang nikah siri, poligami, kawin kontrak, dan pernikahan anak-anak usia dini berusaha digulirkan pemerintah melalui Kementerian Agama. Tentu hal ini berangkat dari berbagai macam kejadian di mana hubungan pernikahan yang menyimpang semakin semarak terjadi. Nikah siri akhir-akhir ini menghiasi media dengan banyak selebritis yang melakukannya. Belum lagi kasus kawin kontrak yang marak dipraktekkan di kawasan wisata Puncak Bogor yang pernah dibongkar aparat keamanan.
Sedangkan kasus menikahi anak usia dini juga terjadi. Lutfiana Ulfa (gadis berumur 12) tahun dinikahi oleh Syekh Puji di Semarang. Kasus ini sangat kontroversial dan membuat banyak pihak yang kawatir bahwa pernikahan anak usia dini akan menjadi kebiasaan yang merugikan hak anak-anak sebagai pihak yang seharusnya mendapatkan pendidikan dan kesempatan menjalani kehidupan tanpa tergantung pada seorang laki-laki yang hanya memandangnya sebagai pelayan seksual atau pekerja domestik.
Singkatnya, berbagai kasus penyimpangan hubungan kembali marak terjadi akhir-akhir ini. Isu penyimpangan hubungan mulai mencuat di permukaan setelah berbagai model hubungan seperti kawin siri, kawin kontrak, hingga menikahi perempuan di bawah umur diblow-up oleh berbagai media. Tampaknya banyak pihak yang merasa gerah dengan berbagai macam hubungan yang dianggap merugikan kaum perempuan dan anak-anak ini.
Berbagai kalangan banyak yang meresahkan tentang berbagai fenomena penyimpangan itu. Mereka yang menganggap poligami, pernikahan di bawah umur, nikah siri, dan kawin kontrak sebagai model hubungan yang tidak demokratis dan merugikan perempuan dan anak terus memperjuangkan agar produk budaya yang menyimpang itu dilarang. Isu-isu penolakan terhadap poligami, misalnya, selalu muncul dan bahkan dapat dikatakan sebagai isu yang paling tua dalam gerakan perempuan dan kesetaraan gender di Indonesia. Isu anti-poligami telah muncul jauh hari sebelum Indonesia merdeka.
Di negeri ini, penolakan secara keras terhadap bentuk pernikahan yang merugikan perempuan seperti poligami sebenarnya selalu disuarakan secara keras oleh aktivis perempuan jauh sebelum Indonesia merdeka. Masalah poligami bahkan mencuat dalam Kongres Pemuda I pada tahun 1926. Kongres Pemuda I tanggal 30 April-2 Mei 1926 juga ada kaitannya dengan dengan Kongres Perempuan I tanggal 22-25 Desember 1928. Ceramah Bahder Djohan berjudul “Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia” mempertegas peranan gerakan perempuan dalam membangun persatuan nasional. Bahkan Bahder Djohan juga menghubungkan landasan kebangunan nasional dengan dihapuskannya lembaga poligami. Bahder Djohan meyakini, pembangunan ikatan sosial yang kuat membutuhkan pengakuan yang penuh atas persamaan derajat perempuan dan laki-laki di dalam keluarga. Konsekuensinya adalah menolak kelembagaan yang merintangi, menghambat, dan menghalanginya. Lembaga ini adalah permaduan atau kawin banyak (poligami). Bahder Djohan juga menolak asumsi poligami akan menghapuskan pelacuran karena akar persoalan masalah itu bersangkut paut dengan perbaikan syarat-syarat hidup. Pengaruh Kongres Perempuan tahun 1928 itu begitu terasa. Terbukti kemudian muncul organisasi-organisasi perempuan yang radikal, terutama yang menyangkut isu menentang poligini (perceraian sepihak oleh laki-laki), poligami, perkawinan anak perempuan.
Affirmative Action
Kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bukanlah suatu hal yang asing. Bahkan ketika undang-undang anti-KDRT sudah disahkan, tampaknya kasus-kasus yang ada juga masih banyak terjadi. Jika belakangan isu pernikahan usia dini, nikah siri, poligami, dan kawin kontrak merebak lagi, tentu hal itu bukan tanpa sebab. Bentuk-bentuk pernikahan itu pada kenyataannya menunjukkan adanya hubungan yang tak demokratis, menumpulkan produktifitas perempuan, dan menciptakan ketergantungan.
Berdasarkan survei, berbagai bentuk pernikahan itu banyak merugikan perempuan dan anak-anak. Tak heran jika pada akhirnya banyak yang memandang bahwa dibutuhkan adanya tindakan penegasan (affirmative action) yang berasal dari tekanan para aktivis feminis dan pejuang demokrasi, yang kemudian pada awal Maret 2009 memunculkan Rancangan Undang-Undang (RUU) yang menegaskan bahwa para pelaku pernikahan tidak demokratis itu dikenalan pasal.
Departemen Agama (Depag) sudah menyerahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Peradilan Agama Tentang Perkawinan yang membahas nikah siri, poligami, dan kawin kontrak kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan dijelaskan bahwa jika melakukan nikah siri akan terancam hukuman kurungan maksimal 6 bulan dan denda maksimal Rp 6 juta. Isi RUU tersebut juga akan memperketat tentang nikah siri, kawin kontrak dan poligami.
Hal ini diberlakukan dengan alasan nikah siri, poligami, dan kawin kontrak, merugikan banyak pihak, khususnya perempuan, atas pernikahan ini. Saat ini RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan yang membahas nikah siri, poligami dan kawin kontrak, akan segera dibawa ke DPR untuk dibahas secara seksama.
Ormas Islam yang besar seperti Muhammadiyah bahkan mendukung Rancangan Undang-Undang (RUU) Peradilan Agama tentang Perkawinan yang membahas nikah siri, poligami, dan kawin kontrak. Ketua Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, "Adanya produk hukum yang mengatur ajaran agama dalam tataran hukum seperti perkawinan memang baik, tidak ada salahnya”. Meskipun beliau juga mengingatkan bahwa perlunya kehati-hatian untuk melahirkan produk hukum tersebut (RUU Peradilan Agama) agar tidak memasuki wilayah yang bertentangan dengan prinsip agama. Menurut Din, yang perlu diatur dimensi sosialnya saja, jangan sampai memasuki wilayah ajaran agama. Menurut Din, nikah siri dalam ajaran agama tidak ada yang salah. Oleh karena itu, jika dianggap ada pelanggaran hukum negara, maka hal tersebut bertentangan dengan hukum agama.
Departemen Agama sudah menyerahkan RUU Peradilan Agama tentang Perkawinan kepada Presiden. Dalam RUU Peradilan Agama tersebut terdapat sanksi berupa ancaman pidana untuk nikah siri, poligami, dan kawin kontrak. Ada kurungan maksimal 3 bulan dan denda maksimal 5 juta. Alasannya adalah bahwa nikah siri, poligami dan kawin kontrak dipidanakan karena banyak pihak yang dirugikan atas pernikahan tersebut terutama perempuan. Sanksi juga berlaku bagi pihak yang mengawinkan atau yang dikawinkan secara nikah siri, poligami, maupun nikah kontrak.
Setiap penghulu yang menikahkan seseorang yang bermasalah, misalnya masih terikat dalam perkawinan sebelumnya, akan dikenai sanksi pidana 1 tahun penjara. Pegawai Kantor Urusan Agama yang menikahkan mempelai tanpa syarat lengkap juga diancam denda Rp 6 juta dan 1 tahun penjara. Perkara perkawinan kontrak, dengan alasan apa pun juga tidak dibenarkan. Rencananya RUU Peradilan Agama tersebut akan segera dibawa ke DPR, karena sudah dibahas sejak setahun sebelumnya.
*)Pemerhati masalah perempuan dan anak; direktur ”Sekolah Litera”, tinggal di Trenggalek, Jawa Timur.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Perangkap Alienasi Televisi

thumbnail
Oleh: Ardhie Raditya, MA*
Tayangan televisi kita kian hari kian memprihatikan. Tidak sedikit dari tayangan televisi yang cenderung mengalienasi (membius) kesadaran kritis massa dan lebih bernuansakan hedonisme semata. Meski ada juga tayangan televisi bertajuk edukatif, tetapi porsinya kalah jauh dengan acara gosip, infoteiment, serta realitas cinta monyet jaman sekarang. Intinya, televisi kita kini lebih berdimensi apologis, elitis, banalistik daripada kritis dan populistik.
Dalam artikelnya, sosiolog prancis, Pierre Bourdieu (2004) pernah menulis perangkap alienasi dari televisi (The Traps Alienation in Television). Menurutnya, perkembangan televisi belakangan ini di hampir di banyak negara, mulai memutuskan tali keberpihakannya pada kaum subordinate dan marjinal. Televisi di era posmodernitas ini, sudah menjadi alat kekuasaan yang digunakan sebagai kendaraan meraup keuntungan. Baik keuntungan yang bersifat ekonomi, kultural ataupun politis.
Di Inggris misalnya. Beberapa tahun lalu, ketika buruh dan aktifis keadilan berhamburan di jalan-jalan untuk menentang kebijakan lembaga donor asing (IMF hingga WTO) yang ingin memeloroti peran negara dalam rangka mengendalikan ekonomi domestik, justru kebanyakan televisi di sana tidak meliputnya secara arif dan proporsional.
Meski liputan demonstrasi itu ditayangkan, toh pihak yang dapat dimintai pendapatnya justru datang dari kebanyakan elite kekuasaan. Sementara, suara dari pihak oposisi (penentang kebijakan lembaga donor) itu hanyalah diberi tempat yang sempit. Yakni, tempat di mana ketika terkena iklan pemutih kulit saja, pesan kaum oposisi itu langsung hilang terbawa angin. Karena itu, Bourdieu pun sangat tegas mengatakan bahwa televisi kini adalah corongnya kekuasaan, dan mulai tak lagi memegang moralitas kerakyatan yang sesungguhnya.
Televisi di negeri kita pada umumnya demikian. Kalau anda tidak percaya, maka dalam satu hari saja cobalah hitung berapa banyak tayangan sinetron, reality show dan gosip para artis. Kemudian, coba ada simak juga berapa banyak waktu untuk acara edukasi dan beritanya. Saya pun pernah melakukan kajian idiografik ini.
Di salah satu televisi ternama di Indonesia (RCTI) misalnya, dalam sehari saja acara edukasi dan beritanya kurang lebih 3-5 jam saja. Sisanya, 15-20 jamnya justru lebih banyak tayangan sinetron, film, gosip, dan reality show. Terkadang, di dalam tayangan sinetron, film dan reality show itu pemirsanya disuguhkan sebuah tontonan yang mengandung unsur kekerasan, sensualitas, hingga berbohong untuk mencapai semua tujuan.
Tidak hanya itu, sebagian besar tayangan dinetron ataupun reality show itu justru tak sedikit yang mendistorsi bahasa Indonesia yang baku dan standar. Lihat saja, di hampir semua sinetron bahasa yang digunakan pemainnya adalah bahasa yang bersifat gaul ataupun prokem. Misalnya, loe-loe, gue-gue. Atau jadul banget sih loe, so what gitu loe, dan ya-iyalah masak ya-iya dong.
Di balik tayangan itu pula, justru berbagai realitas semu di dalam iklan (tayangan hiperealitas) juga tak kalah massifnya disuguhkan. Pada satu tayangan gosip saja, paling tidak ada puluhan iklan. Yang lebih ironis, iklan itu adalah iklan yang mengkomersialisasikan tubuh manusia. Mulai iklan parfum, pemutih kulit, pelangsing, penambah stamina, kosmetik, makanan ataupun minuman kesehatan. Kini, komposisi iklan tubuh itu mulai dibarengi dengan iklan-iklan politik. Entah iklan para capres, caleg, calon pemimpin daerah hingga partai politik (parpol).
Memang, kita terkadang mengalami situasi yang paradok dan dilemati jika mengamati tayangan televisi tersebut. Sebab, kini sistem pertelevisian kita sudah diserahkan pada mekanisme pasar. Kapitalisme telah merambah di tubuh televisi kita. Sehingga, berbagai tayangan yang disuguhkan harus bernuasa komodifikasi.
Artinya, program yang disuguhkan televisi itu memiliki daya tawar dan nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga, ketika ada masalah penderitaan akar rumput tapi tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi di mata mereka, maka jangan harap realitas populis itu akan mendapat space yang luas di televisi.
Dilema yang berikutnya bukan hanya menyangkut perangkap kapitalisme itu sendiri. Melainkan kapasitas masyarakat kita yang kurang memiliki kesadaran kritis dalam membaca televisi pada umumnya. Hal ini lebih disebabkan rendahnya kultur membaca masyarakat kita. Membaca di sini bukan berarti membaca tulisan atau abjad. Tetapi meminjam istilah Roland Barthes, kemampuan membaca tanda dan proses penandaan (signifikansi).
Salah satu prinsip penting di dalam mengasah kemampuan membaca tanda dan proses penandaan itu adalah mempertajam proses pemilahan (differensiasi) di dalam tayangan media elektronik (termasuk juga suatu media cetak) yang sedang ditontonnya. Dalam proses pemilihan ini terdapat dua hal penting yang perlu diperhatikan. Yakni, denotasi dan konotasi. Denotasi adalah proses memilah suatu tayangan yang benar, dan konotasi adalah pemilahan tayangan yang salah.
Tentu, proses pemilahan benar-salah itu harus dilandasi oleh ideologi dan nilai-nilai populisme dan humanisme. Sehingga, ketika kita sedang menyaksikan program pemerintah tentang penurunan harga BBM, maka kita bisa tahu manakah nilai-nilai populisnya dan manakah nilai politisnya.
Ketika di dalam sebuah televisi lebih banyak menguak nilai populisnya, maka kita harus sadar bahwa berita ini bertujuan untuk membangun citra politik pihak tertentu. Sebab, nilai populis itu terkesan hendak menelikungkan nilai-nilai politisnya. Padahal, kebijakan itu jelas-jelas sangat politik untuk saat ini.
Kemampuan membaca tanda-tanda itulah yang setidaknya dapat membuat para masyarakat terbebas dari perangkap alienasi televisi. Sehingga, mereka tidak mudah dimanipulasi oleh tayangan televisi yang lebih bernuasa banalitik, sensual, komodotif, dan elitis belaka.
Akan lebih arif dan cermat lagi jika kita tidak melulu tergantung kepada televisi saja dalam mendapatkan informasi. Karena, media cetak seperti koran pun kini mulai kritis dalam menyuguhkan informasi pada pembacanya. Setidaknya, koran bisa menjadi media komparatif bagi berbagai tayangan televisi yang mulai elitis di negeri ini.
*)Sosiolog postmodern, dosen di Fak. Ilmu Sosial Univ. Negeri Surabaya (UNESA).
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Uang Pulsa Kalahkan Uang Buku

thumbnail
Mulai tahun 1995, bulan Mei ditetapkan pemerintah sebagai Bulan Buku. Tujuannya jelas agar derajat keakraban masyarakat dengan buku dapat ditingkatkan. Buku merupakan “pintu gerbang” sekaligus “gudang” pengetahuan. Tetapi adalah kenyataan, sampai kini minat baca masyarakat kita belum menggembirakan.
Tak perlu jauh-jauh kita bandingkan dengan negara maju. Bandingkan saja misalnya, dengan minat dengar masyarakat kita pada musik dangdut ataupun pop. Oplah tertinggi buku best seller hanya berbilang ratusan ribu (setelah naik cetak berulangkali). Sementara kaset lagu begitu ditayangkan TV, lalu digenjot sedikit iklan, maka dalam waktu singkat toko kaset diserbu konsumen. Dan kaset/CD yang best seller, dalam waktu beberapa bulan saja bisa mencapai ratusan ribu.
Di Yogyakarta --sebagai kota pelajar--, beberapa bulan lalu ada survei yang menemukan fakta: cost mahasiswa membeli pulsa sepuluh kali lebih besar dibanding membeli buku. Sementara Ikapi (Ikatan Penerbit Indonesia) memperkirakan, hanya 10 persen penduduk yang secara rutin membeli buku. Ini berarti 90 persen penduduk Indonesia yang melek huruf, belum menjadikan buku sebagai kebutuhan pokok kesepuluh.
Rendahnya minat baca itu, barangkali sudah style masyarakat kita yang cenderung public hearing daripada public reading. Di mana ada waktu luang, di situ akan dipenuhi acara ngobrol kesana kemari.
Benang Kusut
Buku dan membaca adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Namun menjadikan buku sebagai kebutuhan pokok kesepuluh, bagi masyarakat kita masih “jauh panggang dari api”. Walau sebenarnya, soal minat baca bisa ditingkatkan asal harga buku dapat terjangkau masyarakat luas.
Bahkan pemerintah perlu mencontoh Jepang dan Korea, yaitu mendirikan lembaga khusus yang bertugas menterjemahkan karya-karya ilmiah dari berbagai negara maju, secara besar-besaran. Hasilnya sebagaimana kita saksikan, di forum internasional Jepang dan Korea disegani negara lain. Segi positif lain adanya proyek penterjemahan merangsang perkembangan ilmuwan kita sendiri.
Akan tetapi banyak kendala yang dihadapi penerbit dalam mencetak buku murah. Mereka harus membayar PPh dan PPn yang cukup tinggi. Belum lagi biaya produksi dan rabat yang mencapai 35-45 persen dari harga jual, royalty penulis 10 persen, over head cost 10 persen, dan target laba penerbit 10 persen. Karena itu bisa dimaklumi, kalau harga buku di Indonesia termasuk “mencekik”.
Pada sisi lain - secara kuantitas, pengadaan buku masih memprihatinkan. Jumlah terbitan belum menunjukkan perkembangan menggembirakan. Antusias kita dalam meneguk pengetahuan berbanding terbalik dengan perkembangan penerbitan buku. Indonesia paling banter mampu menerbitkan 5.000 judul buku per tahunnya. Tercecer jauh dari Malaysia yang berhasil menerbitkan 15.000 judul.
Dalam situasi sulit seperti itu, bisa dimengerti pembajak-pembajak buku bermunculan. Mereka melihat peluang emas di balik tingginya harga buku. Hal ini berkorelasi antara harga buku yang “mencekik” dengan kondisi perekonomian kita. Masyarakat cenderung membeli buku yang murah tanpa mempertimbangkan: Apakah buku yang dibeli itu bajakan atau bukan? Dan secara pribadi, praktek pembajakan buku juga sering dilakukan, yaitu menggandakan - mengcopy tanpa izin penerbit.
Masyarakat menjadi pendukung utama pembajak buku. Kehadirannya disambut “gembira”, karena menyediakan buku bermutu dengan harga miring. Hal ini mungkin terjadi, sebab pembajak buku tidak perlu membayar royalti penulis, PPh, PPn, dan biaya promosi. Meski memang, masalah mutu cetak dan penjilidan masih kalah dengan yang asli. Namun masyarakat tak begitu peduli. Yang mereka butuhkan adalah “isi” daripada “penampilan” buku yang wah.
Antisipasi
Situasi seperti di atas, jelas mematahkan semangat penerbit buku. Bisnis buku sampai kini masih dianggap bisnis idealisme. Sepintas teramati, penerbit buku yang sudah malang melintang puluhan tahun, tidak satupun yang menjadi perusahaan raksasa berkat bisnis buku. Ini mengindikasikan, penerbitan buku belum menjanjikan keuntungan besar. Tantangan penerbit buku tidak ringan. Mulai dari minimnya minat baca, pajak, sampai soal pembajakan yang belum mampu ditaklukkan
Dengan demikian, uluran tangan pemerintah diperlukan guna mencerahkan dunia pustaka kita. Sudah saatnya pemerintah mensubsidi anggota Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) agar dapat menerbitkan buku-buku ilmiah yang sesuai kantong masyarakat. Wujudnya, antara lain menghapus PPh & PPn, memberlakukan harga khusus bahan baku kertas, serta mempertegas pelaksanaan UU Hak Cipta.
Selain itu sudah saatnya anggota Ikapi, dalam penerbitannnya menyajikan dua macam tingkatan kualitas; edisi luks (kertas HVS dan bersampul mewah) serta edisi biasa (kertas koran dan bersampul karton). Sehingga masyarakat yang kantongnya “tipis” tetap mampu beli buku – walau penampilannya kurang mewah.
Juga tidak ada jeleknya, penerbit buku mencoba kiat yang diberlakukan majalah pop atau remaja. Dengan teknik cetak yang aduhai dan ketebalan hampir 50 halaman, ternyata dijual jauh lebih murah dibanding buku. Mengapa bisa terjadi?
Ya, karena majalah memperoleh “subsidi” dari iklan. Maka tak ada salahnya kalau bukupun memuat iklan (asal masih sesuai dengan misi pendidikan), agar ongkos produksi bisa dipangkas. Dari sini kegiatan membajak buku akan berhenti dengan sendirinya. Sebab harga buku sudah terjangkau masyarakat, dan ia tak akan memperoleh biaya iklan bila memuat iklan pada buku bajakannya.
(Komentar: Drs. Nurhadi Bambang S, pendidik di SMP N 2 Sedayu, Bantul, Yogyakarta)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

PKB Ke-31: Spirit Memuliakan Jati Diri

thumbnail
Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-31 diawali pawai budaya yang ikuti 3.500 seniman dari berbagai daerah di Pulau Dewata serta sejumlah provinsi lain di Denpasar, Sabtu sore (13/6). Atraksi budaya yang mencerminkan sebuah garapan kolosal melibatkan ribuan seniman dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali itu, dirancang khusus dengan konsep tradisi dan inovasi, tetap mengusung kekhasan seni budaya masing-masing.
Percikan air suci (tirta) dan penaburan beras putih kuning (bija), menandai pelepasan parade kesenian akbar tersebut oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Atraksi seni rakyat Bali tahunan kali ini bertemakan Mulat Sarira, kembali ke jati diri menuju kemuliaan berbangsa dan bernegara.
Lalu Gubernur Pastika juga memutar cakra yang diusung sejumlah seniman, menandai digelarnya aktivitas seni tahunan yang pada malam harinya dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Budaya Denpasar.
Pawai budaya yang disaksikan ribuan masyarakat yang memadati jalur sepanjang 1,5 km dari depan bangsal Jaya Sabha hingga Taman Budaya, diawali dengan penampilan puluhan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Mereka membawakan tari Ciwa Nataraja yang menggambarkan manifestasi Dewa Ciwa sebagai raja diraja yang menciptakan dunia lewat seni. Sebagai dewanya seni Ciwa Nataraja secara terus menerus berkarya, sehingga mampu menciptakan ritme dan keteraturan dalam kosmos.
Pancaran energi suci Ciwa itu kemudian bersatu dan terciptalah alam semesta beserta isinya. Tari Ciwa Nataraja yang ditampilkan melewati tiga panggung kehormatan yang diperuntukkan bagi pejabat dan undangan itu dilengkapi dengan kober (bendera) payung dan Dewata Nawasanga beserta senjatanya.
Penampilan pertama yang mampu menarik perhatian pengunjung itu merupakan visualisasi warna dan posisi sesuai arah mata angin. Kekuatan energi suci Dewa Ciwa itu digarap dengan menampilkan 32 penari, yang diiringi dengan drumband tradisional "Adi Merdangga" serta beberapa alat musik tradisionil lainnya.
PKB akan berlangsung selama 13 Juni hingga 11 Juli dan melibatkan sekitar 14.000 seniman dari berbagai usia. Enam negara sahabat turut serta memeriahkan PKB yaitu Amerika Serikat, India,Taiwan, Jepang, Thailand, dan Mexico. Peserta dari Negeri Sakura misalnya, menampilkan budaya asli mereka yaitu samurai yang memperagakan teknik gerakan memainkan pedang
Sementara dalam negeri sebanyak 19 provinsi seperti Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Yogyakarta, dan Lombok Barat. Pegelaran seni ini menelan biaya sekitar Rp 3,9 miliar. Rencananya tahun depan dianggarkan sekitar Rp 5 miliar. (Nia/Ant)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Remaja Kurang Minati Tari Betawi

thumbnail
Para remaja kebanyakan kurang berminat pada tari-tarian tradisional Betawi, kata Iyoh, salah seorang penari dari Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Jakarta.
Dia mengatakan saat ini terlihat tidak terlalu banyak remaja mau berlatih tari tradisional ini. "Tari tradisional sudah tersisih karena banyak remaja lebih menggemari tarian serta musik dari luar negeri," ujarnya saat ditemui ANTARA.
Menurut dia, tari-tarian tradisional Betawi saat ini agak kurang dipertunjukkan di khalayak ramai, biasanya hanya waktu-waktu tertentu seperti Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta. "Ada juga sih yang mengelar tari-tarian Betawi, tetapi kebanyakan asal menari saja dan tidak memperlihatkan bentuk suatu tarian," ujarnya.
Maksud dari bentuk suatu tarian menurut, perempuan berusia 22 tahun ini adalah saat melakukan gerakan tarian Betawi yang kebanyakan harus posisi kuda-kuda merendah ini tidak dilakukan dengan benar oleh banyak penari. "Termasuk juga tangan harus lentik dan gemulai, serta sesuai dengan irama musik yang mengiringi," ujar Iyoh.
Iyoh menekuni tari-tarian Betawi ini sejak tujuh tahun lalu dan pertama kali berlatih di sanggar Setu Babakan Perkampungan Budaya Betawi, yang kebetulan bersebelahan dengan tempat tinggalnya.
Beberapa gerakan tarian tradisional dan modern Betawi telah dikuasainya, antara lain tari Sirih Kuning, Topeng, Ganjen, Ngarojeng dan Akang Haji.
Selain berlatih tari setiap minggu sekali dia juga mengajar tari tradisional Betawi pada beberapa anak-anak Sekolah Dasar (SD) di sanggar Setra Kirana. "Meskipun baru setahun ini sanggar tari dibuka, saya harap dapat berkembang dan banyak peminat," katanya.
Cara inilah Iyoh katakan yang baru dapat dilakukan untuk melestarikan budaya nenek moyang ini agar tetap lestari. "Saya menyukai tari Betawi ini sebagai bentuk ekspresi diri serta dapat membuahkan gerakan tarian Betawi yang modern," ujar Iyoh.
Selain kebahagiaan batin yang diperolehnya dari menari, Iyoh juga memperoleh hasil jerih payahnya dari menari berupa honor setiap kali mempertunjukkan tariannya. Bersama teman-temannya dalam satu kali pertunjukan Iyoh memperoleh honor antara Rp 100 ribu-Rp 250 ribu.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Dahsyatnya Pikiran

thumbnail
Judul : Lima Aturan Pikiran
Penulis : Mary T. Browne
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Terbit : 2008
Tebal : xi+ 266 halaman
Peresensi : Nurul Maghfiroh*
Cogito ergo sum! Begitu teriak Descartes, filsuf Yunani kuno. Saya berfikir maka saya ada. Kata-kata bijak, filsuf besar ini mengundang beberapa pertanyaan. Di antaranya mengapa manusia harus berpikir? Ada apa dengan pikiran itu?
Menurut Mary T. Browne, pikiran adalah sebuah gambaran yang diarahkan ke angkasa. Pikiran ada getaran. Pikiran adalah gaya dan energi. Pikiran adalah kekuatan kreatif. Pikiran adalah ruh. Ia memiliki warna, bunyi, dan kepadatan. Pikiran itu sungguh hidup. Anda adalah apa yang Anda pikirkan.
Jika demikian adanya, pikiran merupakan titik sentral kehidupan kita. Kita tidak akan dapat hidup tanpa berpikir. Mungkin hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Manusia dibekali oleh Tuhan dengan pikiran dan nurani. Dengannya, manusia dapat membedakan yang haq dan yang batil, berproses, dan menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi.
Kontributor The Secret dalam buku ini, menawarkan lima aturan pokok pikiran yang akan mengantarkan manusia menjadi manusia sejati. Manusia yang mampu menangkap peluang dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tidak hanya itu, lima aturan pokok pikiran ini akan mengantarkan manusia mampu menggunakan Daya Ilahi dalam menjalani proses kehidupan.
Lima aturan pokok pikiran ini adalah, pertama, Anda harus menentukan apa yang Anda inginkan. Kedua, lihat hal itu telah terjadi. Ketiga, jangan ragu-ragu. Keempat, Anda harus mempunyai keyakinan. Kelima, ketekunan membawa hasil.
Kelima aturan pokok pikiran ini diuraikan secara apik dalam bab tiga buku ini. Kelima aturan pokok pikiran ini berasal dari hasil refleksi penulis yang tinggal di New York, Amerika Serikat, selama menjadi cenayang profesional selama 20 tahun. Kelebihan lain buku ini adalah diuraikan berdasarkan pengalaman klien Mary T. Browne, sehingga semakin memikat hati.
Buku kecil ini, menjadi enak dibaca karena ditulis dengan bahasa sederhana dan tidak bertele-tele. Buku ini juga cukup sistematis dalam menggambarkan ide-ide besar yang diramu dengan pendekatan psikologi yang cukup memadai.
Namun, buku ini terkesan serius karena di dalamnya tidak disertai dengan ilustrasi atau gambar-gambar yang menghibur. Ilustrasi atau gambar akan semakin memperkaya imajinasi kita dalam memahami sebuah buku. Dengan adanya ilustrasi atau gambar, dapat mengurangi kejenuhan dalam membaca. Dengan bantuan gambar pula, setiap orang mampu (tanpa membedakan umur) dengan sendirinya menangkap pesan dari si penulis.
Pun demikian, buku ini layak Anda baca sebagai referensi dan pemecah kebuntuan berpikir di tengah laju perubahan zaman yang semakin cepat. Pikiran akan mampu mengantarkan Anda menjadi manusia utuh. Hal ini karena, pikiran merupakan titik sentral kehidupan manusia. Tanpa pikiran, manusia hanyalah makhluk lemah yang tak berdaya. Inilah dahsyatnya pikiran, sebagaimana penggambaran yang dinyatakan oleh Descartes.
*) Ibu rumah tangga, tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Shalawat Cara Mudah Hidup Sehat

thumbnail
Judul : Rahasia Sehat Berkah Shalawat
Terapi Ampuh Mencegah Dan Menyembuhkan Penyakit
Penulis : M. Syukron Maksum & A. Fathoni el-Kaysi
Penerbit : Best Publisher, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 192 halaman
Peresensi : Supriyadi*
Era modernisasi ditandai dengan perkembangan dan kemajuan keilmuan pada banyak bidang. Istilah ilmiah tak asing di telinga setiap orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Metode-metode teknologi modern telah diperkenalkan oleh para ilmuwan. Di bidang kedokteran dan kesehatan, umat manusia telah beralih menuju cara-cara pengobatan medis modern.
Dukun, tabib, dan pengobatan tradisionalisme lainnya warisan leluhur ditinggalkan oleh manusia yang berpikiran modernis-rasionalis. Rumah sakit dan puskesmas kini dibangun di mana-mana. Praktek dokter pun juga semakin banyak sebagai pelayanan kesehatan masyarakat. Meski demikian, masih banyak orang yang awam terhadap modernisasi, terutama pada bidang kesehatan. Mereka yang awam itu masih menganggap dukun sebagai orang yang mampu mengobati. Mitos-mitos pun masih berkembang pada pemikiran mereka yang awam itu.
M. Syukron Maksum dan A. Fathoni el-Kaysi dalam bukunya yang berjudul Rahasia Sehat Berkah Shalawat; Terapi Ampuh Mencegah Dan Menyembuhkan Penyakit menguraikan keterangan-keterangan beserta argumentasinya metode kesehatan dengan shalawat. Shalawat adalah bentuk pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Shalawat mampu mencegah dan menyembuhkan penyakit. Dengan beberapa bukti empiris, shalawat memang mempunyai energi untuk terapi ampuh kesehatan.
Masih segar dalam ingatan publik tentang fenomena dukun cilik dari Jombang, Ponari. Dengan batu ajaibnya, Ponari mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan hanya mencelupkan batu tersebut ke dalam air minum, lalu diminumkan kepada orang sakit. Antrean panjang pun terjadi karena ingin minta kesembuhan dari air celupan batu Ponari itu.
Fenomena seperti itu semestinya menjadi pelajaran bagi layanan kesehatan masyarakat seperti rumah sakit dan puskesmas. Mengapa masyarakat lebih memilih Ponari (mistis) dari pada layanan kesehatan modern (medis). Hal itu merupakan indikator bahwa Ponari (mistis) lebih mendapat tempat di hati masyarakat daripada layanan kesehatan modern seperti rumah sakit, puskesmas, dan praktek dokter.
Secara sosial, ternyata masih banyak masyarakat yang mempercayai hal-hal mistis-supranatural, padahal modernisasi dan rasionalitas ilmu pengetahuan telah masuk dan mendasari banyak pemikiran umat manusia. Dengan munculnya fenomena Ponari tersebut, menjadi bukti kuat bahwa masih banyak masyarakat dengan “keterbelakangan pemikiran.” Hal itu dikarenakan pendidikan dan internalisasi ilmu pengetahuan pada masyarakat tersebut kurang berperan karena pemikiran masyarakat tersebut masih terkungkung pada mitos.
Dari fenomena Ponari tersebut setidaknya menjadi kritik bagi layanan kesehatan di Indonesia. Beberapa hal yang menjadi obyek kritikan dari gejala sosial Ponari tersebut adalah kurang terpenuhinya kepuasan masyarakat dari layanan kesehatan. Hal itu dikarenakan tingginya biaya kesehatan sementara daya beli sebagian masyarakat rendah. Tak mengherankan jika akhirnya masyarakat berduyun-duyun mendatangi Ponari. Hal itu ditambahkan dengan banyaknya malpraktek oleh beberapa dokter yang telah menelan banyak korban. Akhirnya, masyarakat takut akan malpraktek tersebut dan beralih ke Ponari yang terbukti murah dan mereka anggap aman karena tidak mungkin terjadi malpraktek pada pengobatan ala Ponari.
Dari segi agama (Islam), hal itu telah memasuki area syirik karena masyarakat seolah-olah mendewakan Ponari dengan batunya sehingga menyebabkan kepercayaan yang berlebihan. Fenomena Ponari tersebut telah melunturkan keimanan masyarakat sehingga iman tidak lagi menjadi pondasi kehidupan. Demikian pula pengaruhnya dalam pemikiran masyarakat yang telah terbius oleh mitos akan mistis-supranatural.
Terapi kesehatan, yakni shalawat telah teruji secara ilmiah dan lepas dari mistis-supranatural. Shalawat ternyata memiliki efek yang baik terhadap kesehatan dan dapat menjadi terapi bagi penyembuhan penyakit. Hal ini disebabkan pengaruh shalawat yang sangat besar terhadap unusur psikologis seseorang. Shalawat yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, khusyuk, tepat, dan kontinyu diyakini dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping, yaitu suatu mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima (stres). Apabila coping mechanism ini berhasil, seseorang dapat beradaptasi terhadap perubahan tersebut atau merasakan beban berat menjadi ringan (hal. 76).
Secara kausatif dan berpikir logis, karena shalawat mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif bagi seseorang. Hal tersebut mempengaruhi respons imun sehingga kekebalan dan ketahanan tubuh seseorang terhadap penyakit akan meningkat. Jadi, dengan mengamalkan shalawat secara ikhlas, khusyuk, tepat, dan kontinyu tubuh seseorang akan lebih tahan terhadap penyakit. Bahkan bisa menyembuhkan penyakit.
Para pembaca diajak lebih jauh mendalami rahasia dan manfaat shalawat bagi kesehatan sehingga menjadi terapi ampuh untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Selain telah terbukti secara ilmiah, shalawat juga tidak membutuhkan biaya mahal. Bahkan tidak mengandung syirik sebagaimana Ponari dengan batu ajaibnya. Shalawat menjadi cara mudah hidup sehat di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit.
*) Pustakawan yang Aktif pada Kelompok Diskusi GRANAT (GDC), Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Mengembalikan Kemerdekaan Suara Tuhan

thumbnail
Judul : Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan
Penulis : Dr. Moeslim Abdurrahman
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : 2009
Tebal : 296 halaman
Peresensi : Imam Musthafa*
Demokrasi telah bergulir, rakyat menyambut dengan penuh semangat. Optimisme masyarakat penuh dengan harapan ideal. Segala permasalahan yang menumpuk secara cepat dan total akan terselasaikan. Seperti, krisis ekonomi dan sosial secara berkepanjangan mengantarkan Indonesia pada jurang kemiskinan dan pengangguran. Malalui lahirnya sistem negara demokrasi secara mendadak mengawali babak baru bagi Indonesia untuk lebih adil dan sejahtera.
Memasuki pemilu 1999, ingar bingar masyarakat menyambut pemilihan umum penuh apresiasi. Mereka terjun berpolitik secara langsung menentukan pilihan calon pemimpin yang sesuai dengan hati sanubarinya. Rentetan pasangan calon dijadikan penilaian objektif tanpa menerima suapan dari pasangan. Karena Kesadaran masyarakat mulai tumbuh, bahwa kemajuan negara tertera pada pemimpin yang bersih.
Pemilu 1999 yang dimenangkan KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) melalui pemilihan parlemen (legalitas) menbawa harapan dan optimisme yang cukup besar akan terciptanya perubahan yang lebih baik dan maju. Harapan itu mulai meredup setelah sampai setahun akibat kegagalannya mengantarkan Indonesia yang lebih baik dan maju. Ini juga berlangsung pada pemerintahan Megawati hingga SBY yang belum menjawab aspirasi rakyat.
Dari sini menjadi pelajaran berharga bagi rakyat Indonesia bahwa berbagai bentuk sistem pemerintahan tidak dapat dijadikan legitimasi pembenaran menbawa Indonesia bebas dari jeratan hutang. Hambatan dan kegagalan Gusdur dan presiden lainnya dalam menbangun negara, alasannya nyaris serupa, kekacauan stabilitas politik dan sosial. Imbas utama, neraca perekonomian negara kian menpuruk dan berlanjut, tanda-tanda keberhasilan sebagai pemerintah hanya sebatas wacana. Potret dilapangan menunjukkan angka kemiskinan dan penganguran melonjak drastis. Seolah-olah hanya rayuan elit politik untuk menbahagiakan rakyat yang selama ini, janjinya tidak terpenuhi.
Memasuki pemilu 2009, rasa pesimisme akan menbayangi pemilih terhadap kapasitas dan kapabilitas elit politik. Apalagi reaksi dan strategis Partai Politik (Parpol) memberikan tontonan tidak menarik akibat tidak memiliki landasan ideologi. Parpol yang mendapatkan suara minim pada pemilihan legislatif mengekor pada parpol besar, Partai Demokrat dengan suara di atas 20 persen. Sementara kedudukan Parpol Islam dalam pemilu kali ini, hanya sebatas bayang-bayang akibat meraih suara sedikit seperti PKS, PAN, PKB, dan PPP. Kekalahan yang diterima tidak dijadikan pelajaran untuk semakin menperkuat dirinya, tanpa berpecah belah.
Realitas yang terjadi, parpol Islam memberikan kebebasan terhadap generasinya mengikuti jejak partai lain. Tidak semuanya lurus mengikuti ketua fraksinya. Semestinya, parpol Islam mengubah formasinya menjadi partai oposisi dalam rangka melindungi rakyat apabila terdapat kebijakan yang tidak memihak terhadap rakyat.
Melihat realitas politik yang tidak mendewasakan dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, Dr.Moeslim Abdurrahman melalui bukunya “Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan” memberikan jawaban untuk meluruskan perjalanan demokrasi Indonesia yang jauh dari objeknya. Demokrasi negara kita hanya sebatas prosedur, belum sampai pada subtansinya.
Sistem demokrasi akan tercapai dan sesuai dengan cita-citanya. Yaitu dari rakyat, oleh, dan untuk rakyat manakala keadaan sosial telah tentram dan aman. Segala macam bentuk pertikaian di belahan bumi nusantara telah dikendalikan. Artinya, masyarakat dituntut menerima perbedaan. Identitasnya harus dijinakkan supaya keangkuhan entitas dapat menemukan titik temu.
Untuk menemukan titik temu dan kebersamaan, tidak sepenuhnya diserahkan ke kelompok itu sendiri. Meskipun tingkat kesadaran dari kelompok telah tumbuh. Lebih baiknya, mendapatkan dukungan parpol dalam rangka menjembatani hubungan keduanya, sehingga perjalanan kebijakan pemerintah lebih terarah dan obyektif.
Moeslim Abdurrahman mengatakan, demokrasi Indonesia tidak bisa berjalan sendiri, tanpa intervensi agama. Karena masyarakat Indonesia sebagian besar pemeluk agama. Kekacauan yang semarak di berbagai wilayah perlu ditinjau dari sudut agama yang mengajari terhadap pemeluknya dalam berpolitik. Persoalannya eksistensi semua agama memiliki misi suci dengan menjunjung tinggi nilai perdamaian.
Dr. Moeslim Abdurrahman pada khususnya lebih menitik beratkan pada nilai agama Islam sebagai agama terbesar di bumi nusantara ini. Sehingga dalam buku ini, Abdurrahman ingin menberikan penegasan kembali terhadap agama Islam, bahwa Islam sebagai ideologi perubahan yang menggugah kesadaran emansipasi, terutama yang bersifat struktural. Bukan sekedar mengutamakan dakwah yang terlalu menonjolkan kesalehan ritual.
Islam sebagai agama profetik harus secepatnya bergerak, tidak menyerah pada struktur hegemonik yang menghasilkan lebarnya ketimpangan sosial. Moeslim Abdurrahman menganjurkan Islam menjadi teks sosial yang menjadi agen perubahan, supaya memunculkan sebuah kekuatan moral-kolektif, sehingga Islam senantiasa memberikan dorongan meyakinkan terhadap penganutnya. Selebihnya terhadap negara yang berasas demokrasi, bahwa Islam merupakan agama perdamaian dan mengerikan rakhmat terhadap antar golongan.
Untuk menciptakan perdamaian, suara Tuhan (wahyu) harus diteriakkan oleh mereka yang menderita supaya memiliki kesadaran kolektif. Yang lebih utama adalah ulama-ulama biasa yang memiliki kedekatan sosial terhadap masyarakat bawah. Misalnya, dalam majlis taklim yang egaliter dan dialogis.
Parpol Islam menempati peran urgen dalam membantu para ulama dan lembaga keagamaan yang meneriakkan suara Tuhan. Tapi, peran parpol lebih mengarah ke wilayah politis. Bagaimana menciptakan pendidikan politik? Yang mana, Islam telah mengajari terhadap umatnya untuk mematuhi dan bertanggungjawab terhadap negaranya. Kesadaran itulah yang harus dibongkar supaya cita-cita demokrasi tercapai. Sehingga suara Tuhan yang nyaris sirna di tengah realitas ruang dan waktu kembali bersuara sesuai dengan literaturnya.
Buku ini menberikan kritikan terhadap lembaga sosial dan politik yang senantiasa menyuarakan ketimpangan sosial yang kunjung belum berhasil. Penjelasannya sangat sistematis dan jelas unsur-unsur yang paling berpengaruh dalam pertikaian dan ketidakstabilan politik dan sosial sejak orde baru, hingga tidak ada pemimpin yang mampu memulihkannya.
*)Pustakawan Rumah Baca Kutub Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

"Wisata Politik" Jadi Peluang Bisnis

thumbnail
"Wisata politik" yang sering diwujudkan dalam kunjungan kerja (kunker) pejabat legislatif, eksekutif dan perusahaan swasta ke berbagai daerah termasuk ke Yogyakarta, berpotensi menjadi peluang bisnis. "Potensi itu cukup besar dan bisa menjadi peluang bisnis yang prospektif," kata Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, M.A.Desky, di Yogyakarta, Jumat (12/6).
Menurut dia, kegiatan kunker anggota DPRD di kabupaten/kota maupun provinsi di berbagai daerah di Indonesia merupakan peluang bisnis dalam perjalanan wisata sehingga perlu direspon positif. "Dengan demikian tidak bisa disepelekan lagi potensi besar dalam usaha jasa pariwisata terkait wisata politik anggota DPRD kabupaten/kota maupun provinsi dari seluruh Indonesia," katanya.
Menurut Desky, ada sekitar 480 kabupaten/kota dan 33 provinsi di Indonesia. Jika setiap tahun ada empat kali kunker, maka jumlah kunker anggota DPRD kabupaten/kota se-Indonesia sebanyak 1.730 kali. "Jumlah tu jika ditambah kunker anggota DPRD provinsi se-Indonesia, ada sekitar 2.000 kali kunjungan. Ini menunjukkan bahwa wisata politik merupakan peluang bisnis bagi usaha jasa pariwisata," katanya.
Ia mengatakan, daerah yang favorit dijadikan tempoat kunker adalah Yogyakarta, Batam dan Denpasar (Bali). "Kalau sepuluh persen dari 2.000 kunker dengan setiap rombongan beranggotakan 20 orang mengunjungi Yogyakarta, akan ada 40.000 wisatawan yang masuk daerah ini," katanya.
Dengan jumlah wisatawan kunker sebanyak itu, berarti uang yang dibelanjakan di Yogyakarta cukup besar, dan diyakini akan membantu menghidupi pembangunan sektor pariwisata. "Jika dilihat dari pemasukan devisa negara, memang tidak ada, karena termasuk wisatawan nusantara (wisnus). Tetapi perputaran uang di daerah tujuan wisata itu cukup besar," katanya.
Dengan perputaran uang yang cukup besar itu diharapkan ada keadilan pariwisata, terutama bagi daerah tujuan wisata yang jarang dijadikan tempat kunker pihak legislatif dan eksekutif. "Wisata politik ini mestinya disikapi positif oleh para pelaku usaha jasa pariwisata di negeri ini sebagai peluang bisnis yang prospektif," kata Desky.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Bali Tawarkan Condotel Nuansa Kampung

thumbnail
Maraknya pembangunan vila, hotel dan condotel bernuansa modern di Bali, disikapi investor dengan membangun condominium - hotel bernuansa kampung, meniru model bangunan rumah tradisional di Pulau Dewata.
"Kami menyajikan suasana condotel yang berbeda, dengan harapan mampu memberikan pilihan baru yang mampu merebut minat pasar investasi dan nantinya menarik bagi tamu yang memerlukan sarana akomodasi," kata Razie Abdullah, direksi PT Dwamitra Property and Services di Canggu, Badung.
Ia mengungkapkan hal itu di sela-sela peluncuran Condotel Taum Seminyak, yang dibangun PT Dwamitra di atas lahan seluas 7.000 meter persegi di daerah Lebaksari, Seminyak, Kabupaten Badung.
Walaupun bangunannya dirancang empat lantai terdiri 90 unit kamar, namun bercorak tradisional, ruangan model tinggi dan di berbagai sudut dibuat terbuka dengan deretan taman guna menciptakan suasana indah serta sejuk.
Dengan membangun condotel yang berbeda dari model sarana akomodasi yang sudah bertebaran di Bali, Razie Abdullah berharap seluruh unit bisa segera laku dan nantinya mampu memenuhi keinginan serta kebutuhan tamu.
Mengenai nilai investasi pembangunan condotel tersebut, setiap unitnya kini memerlukan biaya rata-rata sekitar Rp 1,5 miliar, dan pembangunannya ditargetkan rampung serta mulai dioperasikan untuk tamu umum pada 2010.
Sedangkan penjualan masing-masing unit condotel, katanya, dihitung Rp 23 juta per meter persegi, sehingga untuk unit terkecil 45 meter persegi harganya lebih dari Rp 1 miliar dan yang terbesar 200 meter persegi mencapai Rp 4,6 miliar.
"Melihat perkembangan saat ini yang sudah terjual 20 persen, kami optimistis condotel dengan nuansa kampung ini seluruhnya segera terjual. Peminat dari Jakarta cukup banyak," kata Razie Abdullah.
Hal itu juga didasarkan pengalaman menangani beberapa proyek sebelumnya, yakni Apartemen Nirvana, Apartemen Senopati Suites, Villa Biu Biu Jimbaran, Villa Paya Paya (bersama grup Asiana) dan beberapa proyek perumahan kelas atas di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Pembangunan condotel tersebut ditangani arsitek Andra Matin, yang menghadirkan nuansa bersahabat dan unik, tetapi tidak meninggalkan kebutuhan privasi dengan kombinasi konsep ruang modern.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Pemkab Kediri Gencar Promosi Tarik Wisatawan

thumbnail
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, Jawa Timur, gencar mempromosikan lokasi wisata di daerah itu guna menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara. "Kami selalu memanfaatkan media, seperti elektronik maupun kerja sama dengan biro wisata, untuk menarik kunjungan wisatawan terutama asing," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mudjianto, Minggu (14/6).
Beberapa lokasi objek wisata yang gencar dipromosikan, menurut dia, seperti kubah lava di areal Gunung Kelud (1.731 mdpl), lokasi wisata rafting di Dusun Jowah, Desa Siman, Kecamatan Kepung, lokasi wisata air terjun Irenggolo, di Desa Dolo, Kecamatan Semen, serta beberapa objek wisata lainnya.
Khusus untuk Kelud, lanjut Mudjianto, pihaknya sudah mempersiapkan beberapa aset tambahan, seperti beberapa unit mainan anak, hotel, serta beberapa fasilitas lainnya.
Rencananya, pada tahun 2009 ini, beberapa fasilitas tersebut sudah dapat terealisasi, sehingga diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan.
Ia mengatakan, kunjungan wisatawan ke Kelud, beberapa waktu terakhir sudah mulai berkurang. Setidaknya jumlah kunjungan hanya sekitar 600-800 orang, jika hari libur. Padahal, dulu kunjungan wisatawan mampu mencapai jumlah 1.500 pengunjung.
"Beberapa fasilitas tambahan, seperti mainan anak, akan kami bangun di `rest area` atau di sekitar lokasi parkir. Sementara, untuk hotel, kami sudah bekerja sama dengan PG Margomulyo, agar mereka ikut membangun hotel," kata Mudjianto dilansir ANTARA.
Sementara, hingga kini, pemerintah juga masih terus melakukan pembenahan akses jalan yang sempat terputus akibat longsor sekitar empat kilometer dari puncak Kelud.
Pembenahan itu dimaksudkan, selain membuat pengunjung nyaman, juga mempermudah akses, di mana lokasi jalan dapat ditempuh kendaraan roda empat.
Mudjianto juga mengatakan, pembangunan serta promosi yang gencar dilakukan pemerintah bukan hanya isapan jempol dan tidak berguna. Nyatanya, banyak kunjungan wisatawan dari mancanegara, seperti Malaysia, yang datang berkunjung ke Kelud, untuk melihat langsung fenomena alam, berupa anak Gunung Kelud.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Paket Wisata Baturaden Pertajam Ekowisata

thumbnail
Aliansi Pelaku Pariwisata Baturaden (Baturaden Tourism Stakeholder Alliance) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menawarkan sejumlah paket wisata yang merupakan kolaborasi antara wisata alam, seni, dan tradisi masyarakat setempat.
"Selama ini kita akui, potensi wisata alam, atraksi budaya dan tradisi penduduknya masih kurang diangkat dalam ranah wisata minat khusus dan ekowisata," kata Koordinator Aliansi Pelaku Pariwisata Baturaden, Deskart Sotyo Djatmiko, di Banyumas, Minggu (14/6).
Menurut dia, pamor wisata Baturaden tidak akan pernah menjawab pola kunjungan wisatawan yang lebih dominan kepada wisata minat khusus dan ekowisata jika hanya tetap mengandalkan panorama alam.
Dengan demikian, kata dia, pamor wisata Baturaden akan dikalahkan daerah lainnya yang telah mampu menangkap peluang pasar. "Untuk itu, kami membentuk aliansi ini sebagai upaya menyatukan visi dan pandangan mengenai pembangunan dan pemasaran wisata Baturaden. Apalagi animo wisatawan yang datang ke Baturaden banyak yang berorientasi kepada wisata minat khusus dan ekowisata," katanya.
Ia mengatakan, aliansi tersebut terdiri para stakeholder pariwisata di Baturaden, yakni Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU), Baturraden Adventure Forest (BAF), UPT Lokawisata Baturraden, PT Perhutani Alam Wisata (Palawi), Pengelola Kampoeng Boedaja Poetjungan Ketenger, dan Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB).
Menurut dia, aliansi telah menghasilkan sejumlah paket wisata yang mengkolaborasikan antara wisata alam, seni, serta tradisi masyarakat setempat.
Salah satu paket yang ditawarkan, kata dia, berupa kegiatan wisata selama tiga hari-dua malam dengan menginap satu malam di hotel dan satu malam di rumah penduduk desa.
Paket tersebut diawali dengan "tracking" padang rumput di BBPTU dengan menikmati susu segar dan makanan tradisional produksi masyarakat setempat yang dilanjutkan kegiatan bersepeda air di Lowakisata Baturraden.
Usai kegiatan di Lokawisata Baturaden, wisatawan diajak menuju BAF untuk mengikuti kegiatan petualangan sambil menikmati keindahan Gunung Slamet. Di tempat ini disediakan permainan riverboard, tracking hutan, serta flying fox.
Malam harinya, wisatawan disuguhi dengan kesenian tradisional berupa Lengger Banyumasan atau musik kenthongan di Desa Wisata Ketenger. Keesokan harinya wisatawan diajak menikmati keindahan alam dan budaya pedesaan serta sejumlah curug/air terjun, PLTA Ketenger peninggalan penjajahan Belanda, dan persawahan di Grumbul Pucungan, Desa Ketenger.
Wisatawan juga akan menikmati fasilitas pijat belerang di Pancuran Pitu (Pancuran Tujuh) dan menerima cendera mata untuk setiap orang. "Apabila dalam keadaan hujan akan diberikan bonus paket wisata hujan hujanan," ujar Deskart.
Menurut dia, paket wisata tersebut rencananya akan dijual dengan harga paket ekonomi Rp600 ribu per orang dan VIP Rp1 juta per orang. Jumlah peserta dalam setiap paketnya minimal 10 orang dan untuk pemesanan dapat menghubungi Aliansi Pelaku Pariwisata Baturaden di nomor 08156975763 (Deskart Sotyo Djatmiko) dan 08179412079 (Tekad Santosa).
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Pariwisata, Sektor Paling Kebal Krisis

thumbnail
Pariwisata Indonesia dinilai sebagai sektor yang paling kebal dan memiliki daya tahan paling baik terhadap krisis ekonomi. ’’Pariwisata Indonesia terbukti berdaya tahan paling kuat saat krisis dan dalam situasi seperti ini industri pariwisata dalam negeri semakin menjadi tumpuan,’’ kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Sapta Nirwandar di Jakarta, Selasa (16/6).
Sektor tersebut di Indonesia pada 2008 sanggup menyumbang devisa hampir Rp 200 triliun yang hampir seluruhnya terserap langsung ke sektor riil pendukung pariwisata. Sapta berharap sektor pariwisata akan tumbuh semakin positif pada tengah tahun 2009 atau periode Juli-Agustus. ’’Semoga dengan kerja sama semua pihak, Juli-Agustus bisa naik dan tumbuh positif,’’ katanya.
Meski begitu, masih ada setidaknya 10 juta orang dalam setiap harinya yang melakukan travelling (perjalanan). Jumlah itu merupakan pasar yang sangat lumayan untuk digarap. Pihaknya bertekad terus melakukan promosi baik di dalam maupun di luar negeri. Misi pemasaran ke luar negeri dilakukan di antaranya melalui keikutsertaan Indonesia dalam Korea World Travel Fair dan Riyad Travel Fair 2009.
Hingga kuartal pertama 2009, Indonesia dikunjungi 1,893 juta atau tumbuh 1,53% dibanding periode yang sama 2008. Pertumbuhan wisman 1,53% (naik 28.570) itu menunjukkan industri pariwisata Indonesia cukup imun terhadap dampak krisis ekonomi global yang saat ini tengah melanda dunia. Padahal industri pariwisata di sejumlah negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Jepang pada periode yang sama mengalami pertumbuhan negatif.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Bisnis Kosmetik Lesu

thumbnail
Bisnis kosmetik dan peralatannya di Jakarta lesu yang ditandai penurunan omzet hingga separuh dari kondisi normal. "Omzet penjualan mengalami penurunan berkisar 50 persen selama krisis keuangan melanda," kata Hendrik yang ditemui ANTARA, pedagang kosmetik dan peralatannya di Pasar Baru, yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan produk kecantikan di Jakarta.
Hendrik mengatakan, para ibu rumah tangga dan remaja putri yang selama ini menjadi pelanggan tetap, mulai berkurang yang datang berbelanja karena mereka berhemat.
Dewi, pedagang khusus alat kecantikan di Harco Metro Pasar Baru, mengatakan, keadaan sepi pembeli merupakan terbesar pertama kali sejak krisis ekonomi moneter melanda Indonesia tahun 1998. "Kalau dibandingkan saat krisis moneter, lebih parah tahun ini, pembeli yang datang jauh berkurang," kata Dewi.
Para pedagang mengatakan, terpaksa melakukan potongan harga untuk menarik minat belanja, namun sampai sejauhnya ini belum efektif, karena pengunjung tetap saja sepi.
Akibat kondisi sepi, maka beberapa pedagang kosmetik terpaksa mengurangi karyawannya guna mencegah terjadi kerugian yang lebih besar. "Beberapa karyawan terpaksa kita berhentikan, sebab pemasukan yang diterima tidak sebanding dengan ongkos tenaga kerja, apalagi ada beban cukup besar lain yang musti ditanggung pengusaha," kata Hendrik.
Rita, ibu rumah tangga pembeli kosmetik di kawasan tersebut mengakui mengurangi pengeluaran untuk produk kecantikan karena khawatir dengan keuangan keluarga yang terus menipis saat ini. "Sebagai seorang pekerja swasta merasakan penghasilan menurun, makanya jalan keluarnya melakukan efisiensi, barang yang penting saja yang dibeli," kata warga Tanjung Priok Jakarta itu.
Kosmetik dan peralatannya yang dijual di Pasar Baru sebagian besar merupakan produk Indonesia, tetapi masih tetap banyak produk impor dari berbagai negara seperti Jerman, Perancis, karena pembelinya tetap ada.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Segera Hadir Game Nusantara On Line

thumbnail
Indonesia sekarang mulai menggarap aneka permainan (game) anak-anak secara `on line`, dalam rangka ikut bersaing menumbuhkan sumber ekonomi baru di bidang perfilman lokal. Sekarang sudah tersedia satu paket permainan (game) buatan anak bangsa dan akan dikembangkan melalui jaringan `on line`, kata Sigit dari "Nusantara On Line".
`Game on line` yang diberi judul" Nusantara on line" itu sudah digarap selama dua tahun, dan sekarang dalam proses siar. Penayangan perdananya akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Dalam film animasi itu digambarkan tiga kerajaan besar yakni Kerajaan Majapahit, Pejajaran dan Kerajaan Sriwijaya. Pembuatan film itu berlokasi di Solo, Jawa Tengah.
Keberhasilan anak bangsa dalam memproduksi film animasi itu menunjukkan bahwa anak bangsa kini sudah mampu bersaiang dengan negara maju, terutama dalam hal perfilman anak-anak.
Karya mereka itu nantinya akan dikembangkan dan bahkan diekspor ke beberapa negara, karena dalam ujicoba belum lama ini animasi dari Indonesia itu cukup menarik pangsa pasar di luar negeri.
Bila produk film `game` lokal itu sudah merambah ke konsumen luar negeri, pihaknya optimistis Indonesia sepuluh tahun ke depan menjadi negara produsen film animasi yang diperhitungkan di kancah internasional. "Kalau kita tidak mengantisipasi dari sekarang, dikhawatirkan anak cucu bangsa Indonesia ke depan akan mencintai budaya asing dan asing dengan budaya lokal," katanya.
Sekretaris Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo mengatakan, film animasi produk lokal itu akan mulai ditayangkan pada pembukaan Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009, akhir Juni ini yang direncanakan dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan akan menampilkan 14 subsektor industri ekonomi kreatif yang ada di tanah air.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Madu Perhutani Masih Dipasarkan Di Jawa

thumbnail
Jakarta Fair 2009
Produksi madu murni Pusat Perlebahan Nasional Bogor, Perum Perhutani saat ini baru bisa memenuhi kebutuhan konsumen di Pulau Jawa, kata Bagian Pemasaran Madu Perhutani, Endang Sopian di Jakarta.
"Produksi kami hanya baru bisa memenuhi konsumen di wilayah Jawa, namun ke depan terus berupaya meningkatkan produksinya hingga bisa memenuhi konsumen lebih luas," katanya saat ditemui ANTARA di arena "Jakarta Fair 2009".
Ia mengatakan, produksi madu yang telah dipasarkan dengan tiga rasa yaitu mangga, rambutan dan randu. "Untuk rasa dan jenis madu sebenarnya ditentukan oleh jenis bunga sebagai tanaman makan lebah. Jadi madu murni ini tidak ada campuran aroma dari bahan kimia," jelasnya.
Endang mengatakan, untuk satu botol ukuran 650 mililiter (ml) dijual seharga Rp 70.000, sedangkan botol ukuran 220 ml Rp 75.000.
Disinggung mengenai tenaga kerja dalam usaha tersebut, Endang mengatakan saat ini mempekerjakan sekitar 50 karyawan dengan hasil produksi rata-rata 5000 botol per bulan atau 60.000 setahun. "Kalau dibanding permintaan pasar produksinya hingga saat ini belum bisa memenuhi, hal itu tergantung juga cuaca saat lebah mencari pakan untuk menghasilkan madu," ujarnya.
Dikatakan, madu murni produk Perhutani telah memenuhi syarat mutu SNI 1994 melalui uji laboratorium, yaitu kadar air maksimum (max) 22 persen, gula preduksi minimal (min) 60 persen.
Untuk skrosa max 10 persen, keasaman max 40 ml, aktivitas enzim diatase min 3 DN. "Madu merupakan sebagai makanan kesehatan dapat meningkatkan stamina tubuh sebagai energi seketika, bersifat anti bakteri dan anti cendawan," kata Endang.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Madu Sialang Diminati Pengunjung

thumbnail
Jakarta Fair 2009
"Madu Hutan Asli Sialang" asal Riau, Sumatera menempati stan hall C1 `Jakarta Fair `di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, banyak diminati pengunjung.
Sejak pembukaan `Jakarta Fair` pada Kamis (11/6) hingga sekarang pengunjung antusias ingin mencicip Madu Hutan Asli Sialang ini," kata pengusaha Madu Hutan Asli Sialang, Syafnil yang ditemui ANTARA.
Menurut dia, pada hari pertama Jakarta Fair madu yang diperdagangan mampu terjual sekitar 20 botol. "Harga madu berbotol isi 400 mililiter dijual Rp 50 ribu," katanya.
Menurut dia, pameran dan promo produk-produk unggulan kegiatan Jakarta Fair 2009, pihaknya menargetkan hasil penjualan lebih Rp 2,5 juta per hari. "Jumlah penjualan tersebut melebihi hasil tahun sebelumnya yakni 50 botol atau Rp 2,5 juta per hari," katanya.
Menurut dia, madu produksinya itu betul asli diambil dari pohon sialang yang didatangkan langsung dari hutan di Riau, Sumatera. "Madu diambil masih bersama rumah lebah dan proses penyaringan dan pengemesan di Jakarta," katanya.
Banyaknya peminat masyarakat terhadapt madu ini, karena miliki banyak manfaat bagi manusia di antaranya, meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh secara umum.
Madu juga bisa memperlambat proses penuaan dan meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki tatanan jaringan kulit sehingga dapat menunda terjadinya keriput.
Selain itu, madu juga bermanfaat sebagai membantu pertumbuhan kuku, memperbaikit sirkulasi darah, dan meningkatkan daya konsentrasi, daya ingat , dan reaksi rangsangan sarat. "Madu bermanfaat mempercepat proses regenerasi sel sehingga dapat membantu proses penyembuhan penyakit-penyakit yang akut seperti influenza, hepatitis dan tipus," katanya.
Madu adalah produk yang kaya antioksidan, hal itu seakan-akan menegaskan kepada produk perlebahan yang tercantum dalam kitab-kitab suci dan dianjurkan untuk mengkonsumsi secara rutin.
Kandungan yang terdapat pada madu sebagai sumber bahan gizi seperti vitamin B kompleks, sumber "acetil choline yang bertanggung jawab terhadap perkembangan otak, dan meneral, vitamin A,C,D, E, hormon, enzim, dan koenzim. "Madu yang terdaftar di Dinkes : P-IRT No109147101537 itu, diharapkan dapat memenuhi penjualan ditargetkan," katanya.
Salah satu pengunjung Jakarta Fair, Ny Lilik, mengatakan, madu baik sekali untuk pertumbuhan anak sehingga keluarganya sering mengkonsumsi.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009