Perang

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Suntzu adalah guru perang di zaman cina kuno. Ilmu perang itu disebut perang Suntzu, yang ditulis langsung berdasarkan pemahaman dan penghayatan sang guru, hampir 2.300 tahun yang lalu. Ilmu perang itu diturunkan dalam bahasa lisan dari generasi ke generasi, agar tidak lupa ada yang ditulis di dinding bilah-bilah bambu, di dinding batu, di kayu atau di daun tanaman. Sampai sekarang, ilmu Suntzu dengan mudah dipelajari melalui buku, internet atau seminar. Selanjutnya, ilmu ini juga dikenal sebagai ilmu perang itu, stategi perang atau seni perang yang menyebar luas ke berbagai disiplin ilmu.
Selain dalam ranah militer, ilmu ini sudah menerobos ranah menejemen, keuangan, kepemimpinan, pemasaran, politik, pelayanan publik, sumber daya manusia dan lain-lain. Perang bertujuan untuk mendapat kemenangan meski dengan ragam cara, strategi licik, lihai dan tipu daya, menggunakan kekuatan atau berpura-pura lemah, bahkan bisa membunuh dari belakang dengan pisau pinjaman. Kemenangan yang paling menggembirakan adalah kemenangan tanpa peperangan, --musuhnya mengalah sebelum perang dimulai.
Dalam berpikir ekstrem, hidup adalah perang, --perang melawan kematian, mempertahankan hidup, melawan kemiskinan dan penindasan agar tubuh sehat dan pikiran merdeka. Pikiran adalah perang, yaitu perang untuk mengambil keputusan, memilih, memilah dan menimbang informasi yang saling berkecamuk di dalam pikiran, yang saling mendahului dan saling berargumentasi untuk mendapat persetujuan, pikiran dalam bentuk keputusan.
Di dalam tubuh hampir setiap saat ada peperangan agar tubuh bisa menangkal masuknya penyakit demi tetap sehat agar sistim pertahanan tubuh harus berjalan normal. Jika penyakit masuk kedalam tubuh, maka tubuh harus segera mendepaknya keluar, atau membunuhnya dan membuangnya melalui sistim pembuangan. Jika penyakit tersebut menang dan berkembang di dalam tubuh, maka manusia harus minum obat atau minta bantuan dokter, dukun atau paranormal untuk mengusir penyakit. Jika penyakit menang, lama kelamaan manusia mati. Jika penyakit kalah, secara perlahan kesehatan manusia pulih. Akhirnya manusia juga mati karena kalah perang melawan waktu, dimakan usia.
Bagaimana cara memenangkan perang ? Keberanian, persiapan dan kegigihan. Dengan keberanian kita bisa memutuskan dan bertindak tanpa ragu-ragu. Dengan persiapan kita melakukan latihan dan perencanaan. Semakin mantap dan rajin latihan yang kita lakukan maka kita akan menjadi ahli dan terbiasa. Perencanaan yang baik akan mengantarkan kemenangan. Perencanaan yang rapi akan menguatkan strategi dan teknik menuju kemenangan. Akhirnya seorang pemenang ditentukan oleh kegigihannya dalam mempertahankan dan melanjutkan tindakan. Kegigihan sangatlah perlu untuk tetap semangat dan tekun berjuang. Kegigihan adalah kekuatan dan kesabaran, kuat dalam bertahan dan terus berjuang, serta sabar dalam berbagai hal, secara fisik maupun mental, untuk memperjuangkan kemenangan. Ingat, keragu-raguan akan mengantarkan kita pada kekalahan. Berjuanglah dengan penuh kegigihan dan kesabaran, tinggalkan segala keraguan. Dengan usaha keras dan doa pasti berhasil.
Sebuah produk yang berhasil di pasaran adalah suatu bentuk kemenangan. Kenapa berhasil? Karena keberanian memasarkan produk, ketepatan waktu hadir di pasar, keberanian mengeksekusi peluang untuk kebutuhan pasar. Keberanian itu merupakan kemampuan lebih yang harus terus diasah. Semakin sering keberanian seseorang diuji dan berhasil, keberanian akan semakin baik. Cara berani? Kerjakan pekerjaan atau tugas yang membuat anda takut, maka secara perlahan keberanian muncul, dan ketakutan lenyap. Jangan hindari ketakutan, labrak saja dengan tindakan.
Produk yang dipersiapkan dengan baik akan berhasil dipasaran. Perencanaan sangat penting. Perencanaan yang mantap mengantarkan separuh kemenangan. Jangan lalaikan perencanaan. Kehidupan yang gagal adalah kehidupan yang dijalani tanpa perencanaan. Perencanaan juga harus mengalami perbaikan sesuai dengan situasi dan kondisi di lapangan.
Kegigihan untuk terus memperjuangkan produknya di pasaran harus dimiliki setiap pengusaha. Jangan patah semangat, jangan lari dari kenyataan, jangan mengeluh, jangan menyerah. Produk apapun yang ada dan akan ada di pasaran pasti miliki persaingan. Persaingan adalah peperangan. Tanpa persaingan suatu produk tidak bisa diuji kemampuannya. Apakah produk baik atau buruk, unggul atau kalah. Persaingan memunculkan motivasi, inovasi dan kreativitas. Tanpa persaingan tidak akan ada semangat, tidak ada hal yang baru dan tidak ada pemikiran dan ide baru.
Hanya mereka yang gigih bisa menang dalam persaingan. Mereka yang memiliki mental setengah-setengah pasti kalah bersaing. Jika kita memahami konsep perang, bahwa hidup dan kehidupan itu adalah perang, pemikiran dan pikiran adalah perang, maka kemenangan itu berawal dari dalam diri sendiri, dari hidup kita sendiri, dari pikiran kita sendiri. Seorang pemenang adalah orang yang berani, siap dan gigih. Dari dalam diri seorang pemenanglah muncul keberanian, persiapan dan kegigihan.
Jika diri sendiri sudah loyo, jangan harap peperangan bisa dimenangkan. Tabuh genderang perang, sorak sorai dan gemuruh pasukan, umbul-umbul dan bendera adalah faktor pelengkap perang. Tapi jika seseorang telah miliki keberanian, persiapan dan kegigihan, kemenangan bisa dicapai. Dalam hidup apapun, seseorang harus miliki ketiga hal tersebut agar berhasil dan menang dalam menjalani hidup. Kalau tidak, bersiap-siaplah gagal.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Kesabaran

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Andrew Carnegie mengatakan bahwa, manusia yang memiliki kesabaran yang kukuh memungkinkannya untuk memantapkan segala sesuatu. Kesabaran adalah modal yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan sesuatu. Sering kita melupakan hal ini, bahwa di dalam diri kita sendiri sudah memiliki modal yang terpendam, yaitu kesabaran. Karena kita sering melupakan kesabaran, maka kita sering kehilangan kesabaran. Bagi mereka yang kurang sabar, mudah marah atau suka terburu-buru sering menyesal dengan peringai yang dimilikinya, akan tetapi mereka selalu melupakan akibat ketidak-sabarannya pada kesempatan lain dan selalu mengulang kesalahannya dengan mudah marah dan terburu-buru. Apa yang didapat dari sifat tidak sabar tersebut? Mereka tidak mampu mewujudkan niatnya, tidak mampu mewujudkan cita-citanya, tidak berhasil mewujudkan sesuatu. Perkawinan yang gagal, bisnis yang hancur, perkelahian, putusnya persahabatan, semuanya itu terjadi karena kurangnya kesabaran.
Kesabaran itu adalah kekuatan. Barang siapa yang memiliki kesabaran, maka ia akan bisa meraih sesuatu. Sabar itu adalah kunci keberhasilan, karena di dalam kesabaran ada kekuatan untuk bertahan, bekerja keras, tekun belajar, berjuang, maju melompati berbagai rintangan untuk berprestasi. Mereka yang berhasil adalah orang-orang yang memiliki kesabaran dalam menghadapi cobaan.
Kesabaran itu dibagi menjadi dua macam, yaitu kesabaran dalam menghadapi masalah-masalah duniawi dan kesabaran dalam menghadapi masalah-masalah spiritual. Kesabaran dalam menghadapi masalah-masalah duniawi mencakup sabar dalam meninggalkan syahwat dan rela atas segala rezeki yang diberikan oleh Tuhan. Kesabaran duniawi diuji apakah kita bisa mengendalikan nafsu kita saat ada banyak kesempatan yang memberikan kenikmatan duniawi. Seperti ujian untuk tidak berbuat maksiat saat kita bergelimang harta, ujian untuk tidak berbuat curang saat kita tertekan, ujian untuk tetap berjuang saat kita menderita. Kesabaran berarti kerelaan dan keikhlasan kita menerima rezeki. Orang yang rela adalah orang yang sabar. Rela dan ikhlas adalah bentuk kesabaran. Sebaliknya orang yang tidak sabar adalah orang yang bersungut-sungut, mengumpat dan mengeluh dalam menghadapi cobaan hidup. Kesabaran dalam menghadapi masalah-masalah spiritual artinya dia menikmati segala apa yang dilakukan Tuhan atas dirinya. Dia menikmati segala tugas dan tanggung jawabnya sebagai manusia di muka bumi ini sebagai pemberian yang harus disyukuri dan dikerjakan dengan baik, dengan segala rintangan dan deritanya untuk memberikan kesejahteraan bagi orang banyak dalam bekerja. Sabar dalam bentuk inilah yang disebut dengan kesabaran tingkat tinggi.
Munculnya masalah yang berlarut-larut yang semakin susah diselesaikan adalah karena kurangnya kesabaran. Setiap orang bersaing untuk menjadi yang terbaik, terhebat, maka haruslah melalui jalan kesabaran, bukan jalan pintas. Bagi mereka yang melalui jalan pintas akan jatuh dalam hitungan waktu. Banyak pegawai yang dipecat karena kurang sabar. Banyak perusahaan yang bangkrut karena kurang sabar. Banyak perkawinan yang hancur di tengah jalan karena kurang sabar. Kesabaran adalah kekuatan untuk mewujudkan segala sesuatu. Bukan jalan pintas.
Kesabaran itu ibarat olah raga, dia perlu dilatih. Otot yang kuat merupakan hasil dari latihan. Kesabaran yang kuat juga merupakan hasil dari latihan. Bagaimana caranya melatih kesabaran? Jangan mengikuti arus kemarahan dan ketergesa-gesaan. Jika anda marah dalam posisi berdiri, maka duduklah. Jika anda marah dalam posisi duduk, maka berbaringlah. Jika anda marah dalam posisisi berbaring, maka ngorok sajalah. Jika anda marah, segera ingat Tuhan berdoalah, atau berwudhu dan lakukan sholat. Jika anda ingin tergesa-gesa, maka perlambatlah gerakan, santai saja, bergembira, tersenyum, bersiul atau bersenandung ria. Atur nafas lebih pelan dan lebih berirama, ucapkan kata dalam hati : sabar-sabar-sabar, semoga berhasil.
Munculnya generasi instant merupakan sebuah gejala lahirnya generasi yang kurang sabar. Generasi tersebut memiliki keinginan yang serba cepat, cepat selesai, cepat lulus, cepat naik gaji, cepat naik pangkat, cepat kawin, cepat cerai, cepat berhasil, cepat gagal, cepat cari untung dan cepat juga buntung, bahkan cepat masuk bui. Generasi ini lahir karena dari kecil sudah dikejar target, dipaksa mencapai tujuan, bahwa seolah-olah tujuan itu adalah sebuah keberhasilan, jadi capailah tujuan dengan cepat, jangan buang waktu, dengan cara apapun juga. Dalam mencapai tujuan ingatlah proses. Proses itu lebih penting dari tujuan.
Dengan proses yang baik tujuan akan tercapai, makna tujuan akan dipahami. Jika proses dilalui dengan baik, jika kegagalan ditemui setelah tujuan tercapai, maka kita bisa belajar lagi dari proses. Contohnya apa? Kenapa banyak caleg dan pengusaha yang stres setelah gagal terpilih atau rugi? Karena tidak memahami proses. Kenapa banyak pengusaha atau politisi yang stres setelah berhasil, misalnya terjebak kawin siri atau selingkuh, dieksploitasi media karena cinta segitiganya, bahkan tega menjadi pembunuh? Karena tidak belajar dari proses. Mereka ingin mencapai tujuan segera dengan tidak sabar. Mungkin juga mereka tidak tahu untuk apa dan apa yang harus dikerjakan setelah tujuan tercapai. Inilah penyakit generasi instant yang harus segera diobati dengan satu kata kunci: sabar. Karena orang yang sabar adalah kekasih Tuhan. Kesabaran adalah kekuatan untuk mampu mewujudkan cita-citanya, maka kesabaran itu harus dilatih agar bisa menjadi sikap hidup, agar berhasil mencapai cita-cita.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Atur Negara

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Kong Zi, seorang filsuf Cina mengatakan bahwa, orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri tidak mungkin mampu mengatur negara. Bagaimana mungkin seseorang bisa berhasil mengatur hal-hal yang besar, jika dia belum mampu mengatur hal-hal yang kecil. Hal-hal yang kecil itu berawal dari diri sendiri.
Untuk mencapai keberhasilan, kita harus mampu membuat diri sendiri berhasil. Untuk mencapai kebahagiaan, kita harus mampu membuat diri sendiri bahagia. Sebaliknya, mereka yang gagal sudah mengawali ke gagalannya dari dalam dirinya sendiri. Mereka yang bersedih sudah mengawali kesedihannya dari dalam dirinya sendiri.
Bagaimana cara mengatur diri sendiri agar berhasil dan bahagia ? hiduplah dengan disiplin, berpikir maju, berani, bertanggungjawab, bergembira dan bersyukur. Orang yang disiplin adalah orang yang bekerja tekun dan bekerja keras. Orang yang berpikir maju adalah orang yang mau belajar dan mengembangkan diri. Orang yang berani adalah orang yang yakin dan ikhlas menghadapi tantangan. Orang yang bertanggung jawab adalah orang menyelesaikan pekerjaan dan tugasnya. Dan orang yang bergembira dan bersyukur adalah orang yang selalu tersenyum dan selalu mengucapkan terima kasih.
Banyak orang ingin menjadi pengatur negara, ingin menjadi Kepala Dinas, Kepala Desa, Camat, Anggota Dewan, Menteri, Bupati, Gubernur, atau Presiden. Jika mereka tidak bisa mengatur dirinya sendiri, pastilah mereka tidak mampu mengatur negara. Kenapa demikian ? karena semua keberhasilan dan kegagalan berawal dari diri sendiri. Jika kita belum mampu mengatur diri sendiri, belum mampu membuat diri bersih, belum mampu mengatur keluarga sendiri, belum mampu membuat disiplin diri, maka janganlah coba-coba mengambil pekerjaan yang lebih besar – mengatur negara. Pemimpin yang gagal adalah pemimpin yang belum mampu mengatur dirinya sendiri.
Kemajuan dan kemunduran, kemenangan dan kekalahan, kebangkitan dan kejatuhan, semuanya itu berawal dari diri sendiri. Diri yang kuat dan disiplin akan mampu memberdayakan orang lain, membuat keteraturan dalam tatanan dirinya sendiri dengan lebih baik, selanjutnya membuat keteraturan didalam lingkungan dan masyarakatnya.
Tujuan dari mengatur negara adalah membuat negara menjadi lebih teratur, artinya membuat negara menjadi lebih tertata, rapi, tidak berantakan, jelas, transparan, terbuka, tertib dalam segala bidang, sehingga masyarakatnya menjadi lebih terlayani, yaitu mendapatkan perlindungan, kesejahteraan, keadilan dan kemakmuran. Tugas pemimpin adalah memberikan pelayanan tersebut kepada masyarakat, bukan mendapatkan pelayanan dari masyarakat.
Jika pada waktu lampau seorang pejabat negara merasa bangga dengan fasilitas yang didapatkannya, mungkin sekarang mereka harus merasa terbebani dengan fasilitas yang diterimanya, karena dia merasa belum memberikan pelayanan yang baik. Jika pada waktu lampau seorang pejabat merasa bangga memiliki istri simpanan, memiliki istri lebih dari satu, tentu sekarang mereka akan merasa risi karena mereka terlihat belum terlalu pintar mengatur dirinya sendiri, karena mereka masih menonjolkan vitalitas dirinya daripada prestasi pelayanannya kepada masyarakat. Dengan semakin terbukanya informasi melalui berbagai media, pejabat sekarang sudah semakin mengerti akan pentingnya kemandirian, integritas dan kualitas individu sebagai dasar kepemimpinan.
Pentingnya keterbukaan dan keteraturan dalam mengatur negara akan membuka partisipasi masyarakat untuk ikut serta dalam pembangunan secara aktif. Hadirnya partisipasi tersebut akan memperkaya keragaman peningkatan kualitas kemampuan individu yang ikut bergabung dalam pembangunan. Tanpa keterbukaan dan keteraturan, maka akan muncul premanisme dan kaum petualang untuk hadir dan saling berebut mengambil kesempatan dalam pembangunan. Untuk membuat negara menjadi lebih terbuka dan teratur diperlukan orang-orang yang mau berkorban membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Orang-orang itu adalah mereka yang bisa mengatur dirinya sendiri terlebih dahulu, memiliki prinsip dan keyakinan yang kuat untuk membuat perubahan, jujur terhadap diri sendiri dan orang lain, dan berani berkorban untuk menjadi pelaku perubahan.
Di tangan pemudalah poros perubahan itu berawal. Pemuda adalah tokoh pembaharuan. Jika pemudanya memble, bermental krupuk, malas, lemah, takut berubah, hanya ingin selamat, pragmatis, keras kepala, maka perubahan yang lebih baik akan lambat terjadi, negara menjadi semakin tidak teratur dan tidak terbuka, premanisme, pragmatisme, dan kaum oportunis tumbuh pesat mengambil kesempatan dan memperkeruh suasana. Oleh karena itu, dalam membuat suatu perubahan yang lebih baik, maka pemuda yang mandiri dan bertanggung jawab sangatlah diperlukan kehadirannya. Tugas generasi pendahulu adalah mempersiapkan generasi muda yang mandiri dan bertanggung jawab melalui pendidikan, pelatihan, dan mentoring. Jika generasi muda yang mandiri dan bertanggung jawab tidak bisa disiapkan, maka proses alih generasi, alih kepemimpinan menjadi gagal, negara menjadi semakin tidak terbuka dan tidak teratur.
Tidak ada generasi yang bisa hidup terus. Generasi muda akan menjadi tua. Generasi tua akan mati. Generasi yang baru lahir akan menjadi generasi muda. Kehidupan berjalan terus sesuai siklus hidupnya. Demikian juga pemimpin. Pemimpin baru akan lahir. Pemimpin lama akan diganti, baik oleh peraturan, digusur atau karena tua sekali dan mati. Tugas rakyat adalah membentuk pemimpinnya sendiri, yang bisa melayani rakyat, mengatur negara dengan baik. Jika rakyat diberikan kebebasan memilih pemimpinnya sendiri, janganlah kebebasannya dipasung dengan memperkecil alternatif pilihan. Memang kemampuan mengatur dirinya sendiri sebagai pemimpin adalah penting, tapi yang jauh lebih penting adalah visi, aksi, keberanian dan ketegasan yang harus dimiliki oleh pemimpin untuk melakukan tugas kepemimpinan. Tugas mengatur negara jauh lebih sulit daripada mengatur keluarga, organisasi atau perusahaan. Untuk berhasil mengatur hal-hal yang besar, maka seseorang harus berhasil mengatur hal-hal yang kecil terlebih dahulu.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kemiskinan Mental

thumbnail
Kemiskinan itu mengerikan, dan bahkan sangat mengerikan. Hidup serba kekurangan; kurang makan, kurang sehat, kurang pendidikan, kurang uang, kurang tempat, kurang perhatian, kurang cinta kasih dan kurang peduli. Pernahkah anda melihat kemiskinan seperti itu?
Mungkin tidak pernah karena anda terlalu kaya dan tidak mau peduli dengan kemiskinan. Juga mungkin anda terlalu sering melihat orang miskin sehingga anda menjadi terbiasa dan mati rasa, tidak bisa membedakan lagi, mana orang yang terkategori miskin dalam kemiskinan, dan mana orang yang tergolong kaya dalam kekayaan tetapi terjerembab dalam lembah kemiskinan. Jadi bukan soal penampilan semata, tetapi lebih pada masalah mental.
Walaupun penampilan kaya, tetapi jika mental masih akrab dengan miskin, sebenarnya mereka masih orang miskin. Secara inderawi memang sangat susah untuk dibedakan, namun mengaca pada praktek harian jelas mudah untuk diketahui. Orang yang bermental miskin, hidupnya boros, suka minta bantuan dan mudah melupakan, malas, judi, mabuk, selingkuh, korupsi, menyalahgunakan jabatan, membocorkan soal ujian, mencuri suara, premanisme, nombok, memalsu nilai, memalsu data dan lain-lain.
Jika kemiskinan itu sudah tersemai dan terkandung apik dalam bilik-bilik mental yang way of life, maka mental itulah yang harus disembuhkan. Meksi secara intelektual berpendidikan tinggi dan sumber daya alam berlimpah. Jika masih terus mengeram dalam sarang-sarang kemiskinan, baik itu secara individu maupun berkelompok, jelas buah kemiskinan itu adalah miskin.
Dari mana datangnya mental miskin? Dari kebiasaan dan sikap hidup yang berkepanjangan dan turun-menurun. Muaranya, mental miskin itu tersemai dalam darah, mengalir ke seluruh tubuh sampai ke tulang sumsum. Lalu kembali menyeruak di dalam dan bersatu dengan adat istiadat serta budaya. Kalau sudah begini, maka menghapus mental miskin memang sulit, jika tidak diikuti dengan usaha tekun.
Cara termudah untuk mengubah kemiskinan menjadi kekayaan adalah dengan menerima warisan dari orang kaya. Prakteknya, kawin dengan orang kaya, janda kaya, duda kaya, secara sah atau tidak sah, termasuk di-monogami atau di-poligami. Singkatnya, yang penting bisa mengikat harta alias morotin secara halus. Jika pakai cara yang agak lebih kasar, dengan menjadi perek, lonte atau gigolo. Mungkin awalnya main-main atau amatiran, tapi secara perlahan dapat menjadi pemain profesional.
Dalam potret sehari-hari, banyak kita merekam keluhan bahwa sekolah mahal dan politik jauh lebih mahal. Jika terus-terus dipupuk, justru cenderung menghasilkan individu bermental miskin.
Sekolah mahal menghasilkan individu yang materialis, yang selalu fokus pada output materi, menejemen USA (Untung Saya Apa), tidak peduli dengan masalah sosial dan lingkungan, memiliki budaya instan (ingin cepat berhasil) dan fragmatis (berpikir pendek untuk dapat untung). Sekolah mahal memang bagus kalau tidak matrek (mata duitan). Arti mahal dengan matrek sangat jauh berbeda. Sekolah mahal karena kualitas yang bagus, tentu orang tua atau murid akan membeli dengan suka hati. Sekolah matrek akan selalu menciptakan peluang untuk menarik uang dari para murid dengan dalil kualitas. Misalnya, uang gedung atau uang sumbangan pembangunan. Uang-uang itu sebenarnya bukan berasal dari orang tua murid tetapi seharusnya dari investor pendidikan. Lantas apa hasil dari sekolah matrek, kecuali lulusan-lulusan matrek alias individu bermental miskin.
Lihat saja perjalanan demokrasi bangsa kita melalui Pemilu Legislatif (Pileg) 2009. Banyak caleg stres bukan karena gagal atau kalah berkompetisi, tetapi lebih banyak karena tertimbun hutang dan dikibuli tim sukses atau calo suara. Politik itu soal investasi jangka panjang dan bahkan sangat panjang, yang hasilnya juga mungkin kita raih dalam beberapa generasi. Jika pola pikir miskin ingin berinvestasi politik inilah yang sangat disayangkan karena investasi itu tidak akan berbalik dalam bentuk rupiah ke individu calaon legislatif (caleg), tapi kembali ke masyarakat dalam bentuk kesejahteraan.
Jika hal ini tidak dimengerti, maka jangan menyalahkan banyak caleg stress yang bertumbangan, banyak praktek jual beli suara muncul, bahkan anggota legislatif yang dihasilkan lebih berjiwa besar dalam hal kematrekan. Jangan juga salahkan jika mereka bermental matrek karena yang namanya produk jual beli itu bertepi pada untung atau rugi. Potret berinvestasi politik demikian itulah, yang harus segera diperbaiki dan diobati sehingga virus-virus kemiskinan mental tidak terus menyebar secara periodis.
Tujuan utama mendirikan rumah sakit adalah utamanya untuk (melayani) menyembuhkan orang sakit. Dalam bidang penyembuhan, kata sembuh adalah nomor satu, kata untung dan duit nomor dua atau nomor tiga. Jika tujuan untung dan duit nomor satu, maka tujuan pendirian rumah sakit tidak jauh berbeda dengan mendirikan sebuah industri yang berujung pada praktek eksploitasi orang sakit. Janganlah disalahkan, jika di negara-negara miskin, yang lemah jaminan sosialnya termasuk di Indonesia, orang miskin dilarang sakit.
Dari mana kita perbaiki kemiskinan mental ini? Ibarat darah, jika sudah dimiskin, maka darah itu harus dicuci sampai bersih. Sikap hidup berlimpah, mental kerja keras, kreativitas dan kejujuran harus ditumbuhkan. Budaya malu dan budaya takut harus ditumbuhkan dari dalam diri, yang akhirnya menyebar ke masyarakat, yaitu malu dan takut malas, malu dan takut matrek, malu dan takut cengeng, malu dan takut diri tidak berharga, dan lain-lain. Karena itu, mari kita memerangi penyakit mental miskin ini sekarang juga dengan menumbuhkan budaya malu dan budaya takut yang positif.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Democrazy

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Kata democrazy adalah istilah baru dari plesetan kata demokrasi, merupakan gabungan dari kata demo dan crazy, yang artinya kekuasaan ada di tangan rakyat yang gila dan pemimpin gila. Memang miris dan mengejutkan, sedih bercampur geram, tersenyum bercampur pilu. Semua rasa bercampur menjadi satu dalam wujud democrazy, ibarat permen nano-nano. Fenomena itulah yang kita alami sekarang. Ibarat hukum ayam dan telor, saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Ayam jelek bertelor jelek, telor jelek menghasilkan ayam jelek, demikian juga sebaliknya.
Kualitas kepemimpinan menghasilkan kualitas organisasi. Kepemimpinan yang baik akan menghasilkan organisasi yang baik, kepemimpinan yang buruk akan menghasilkan organisasi yang buruk. Kepemimpinan adalah kualitas orang yang memimpin. Kualitas itu muncul dari keberanian dan kejujurannya, yaitu keberanian dalam mengemban amanah dan tanggung jawab, serta kejujuran pada diri sendiri, orang lain dan Tuhannya. Kepemimpinan yang buruk akan mengakibatkan organisasi kacau, rumah tangga hancur, perusahaan bangkrut, Negara miskin. Pemimpin yang berkualitas akan menghasilkan rakyat yang berkualitas. Menghasilkan pemimpin memang tidak semudah membalik telapak tangan, butuh proses, butuh pembelajaran dan usaha gigih yang terus menerus. Jika pemimpinnya sakit dan tidak berkualitas, maka rakyatnya juga sakit serta tidak berkualitas, kondisi ini bisa disebut sebagai kondisi democrazy, karena pemimpin yang gila menghasilkan rakyat yang gila juga. Pemimpin gila bergelimang harta, sedangkan rakyat yang gila sangat melarat, miskin, apatis, bringas dan mata duitan.
Pemilu Legislatif 2009 merupakan cermin dari democrazy. Kenapa partainya dari 24 di tahun 2004 berkembang menjadi 48 di tahun 2009? Mungkin banyak argumen yang bisa menjelaskan agar terlihat rasional dan demokratis. Tapi jawaban yang paling gampang menurut saya adalah, agar rakyat bertambah bingung memilih pemimpinnya. Pemilih yang bingung akan menggampangkan, salah pilih, atau tidak memilih. Jawaban tersebut ternyata benar. Buktinya, mereka yang salah pilih, bingung memilih, tidak tahu siapa pilihannya, surat suara rusak dan golongan putih jumlahnya membludak, mengalahkan partai berkuasa dua kali lipat. Seluruh rakyat Indonesia mengharapkan perubahan dari perubahan kekuasaan di legislatif Mereka berharap banyak dari perubahan persentase suara partai. Mereka memelototi hasil quick count di TV, sambil berteriak, tertawa, sedih atau menangis, bahkan ada yang mati jantungan. Inikah yang dimaksud histeria politik? Terlalu banyak rakyat yang menginginkan perubahan dengan berteriak, melongo dan menangis, jumlahnya lebih dari 45%, hampir setengah dari jumlah pemilih bangsa Indonesia mengharapkan perubahan dengan golput. Perubahan apa yang didapat dari molor dan ngerumpi? Perubahan tidak akan ada selama suara bisa dijual. Perubahan tidak akan ada selama pembeli suara dan broker politik bergentayangan. Perubahan tidak akan ada selama daftar pemilih tetap kacau. Lantas, untuk apa memelototi hasil quick count seperti menonton sepak bola. Hasilnya jauh dari harapan. Negara hanya bertambah tua, tetapi tidak bertambah dewasa. Rakyat bertambah pintar tentang politik secara dangkal dan instant, bahwa politik adalah kekuasaan dan uang, oleh karena itu suaranya harus berharga dan dijual, dalam bentuk sumbangan ke pribadi, kelompok, organisasi, klan keluarga, PKK, paguyuban, koperasi, karang taruna, perkumpulan olah raga, kelompok preman, ketua preman, bahkan kelompok dan organisasi fiktif, semua suara itu bisa diuangkan, bisa dijual. Kenapa bisa dijual? Karena ada yang membeli. Karena penjual dan pembelinya lagi mabuk, lagi gila. Inilah yang disebut dengan democrazy. Benar-benar gila.
Untuk mereka yang golongan putih. Saya doakan semoga berbahagia atas keapatisannya. Tolong jangan bangga dengan keputihannya, yang mungkin merasa diri suci tidak menentukan pilihan diantara porak-porandanya Negara, yang memilih tidur dan berlibur di saat pemilihan, yang mengharapkan perubahan besar tanpa melakukan perubahan kecil. Kebanggaan atas keputihannya itu sungguh gila. Gila karena ingin perubahan yang lebih baik sambil tidur dan tertawa. Kesadaran inilah yang harus dibangun. Bahwa sikap dan tindakan untuk berubah itu sangat penting dilakukan. Mereka yang tidak memiliki sikap dan tidak bertindak berdasarkan sikapnya akan hancur. Hancur dilindas kerasnya kekuasaan yang merusak.
Dengan banyaknya partai memunculkan banyaknya caleg untuk bertanding merebut suara. Partai baru muncul dengan berbagai visi-misi, jika ketua umumnya kelas ikan teri hasilnya pasti keok. Caleg-caleg bertempur membabi buta. Banyak yang menggadaikan barang dan menjual asetnya untuk mendapatkan nomor kecil. Setelah ada peraturan tarung bebas, ternyata nomor kecil tidak berguna, mereka harus bertarung bebas, ibarat smack down. Ibarat banteng luka yang mengamuk melawan musuh dan temannya, logika dan kesadaran politik- ekonomi-sosial- budaya menghilang. Di dalam otaknya hanya ada satu pertanyaan yang harus dijawab, bagaimana caranya meraih suara sebanyak mungkin. Bahkan suara kentut dan suara tokek pun dikantongi. Hasilnya? Banyak yang stres dan ada yang mati. Politik itu memang mahal dan bisa juga murah, tergantung kita yang membuatnya. Karena kita membuatnya mahal, maka dia jadi mahal. Ingat sesuatu yang mahal belum tentu berkualitas. Inikah yang dinamakan democrazy? Ya..! Kita sekarang berada di tengah zaman itu. Harapan kita sekarang hanya satu, semoga kesalahan dan kegagalan jangan diulang berkali-kali. Stop democrazy, kembali ke demokrasi. Harapan itu harus didahului dengan sikap dan tindakan. Bukan dengan melongo, golput, dan jual beli suara.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Kemiskinan

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Kemiskinan adalah kata benda yang memberikan arti tentang sesuatu yang miskin, yang bisa saja terjadi pada bidang apa saja, dan artinya pun bisa diperluas tergantung dari kata yang mengikutinya. Misalnya kemiskinan struktural (karena struktur organisasi yang menyebabkan kemiskinan), kemiskinan vertikal (kemiskinan yang terjadi di dalam masyarakat dari tingkat atas sampai bawah), kemiskinan horizontal (kemiskinan pada masyarakat di tingkat bawah yang meluas), kemiskinan sosial budaya (kemiskinan akan tanggung jawab masyarakat akan masalah-masalah sosial yang mengakibatkan masyarakatnya miskin budaya).
Miskin itu berarti sangat kekurangan. Karena arti miskin bisa sangat luas, bisa dalam berbagai bidang di dalam masyarakat, maka kita perlu fokus mengulas tentang kemiskinan ekonomi saja, yang pada akhirnya juga menghubungkan berbagai jenis kemiskinan yang ada. Walaupun dalam beberapa kasus terjadi bahwa kemakmuran ekonomi juga bisa menjadikan masyarakatnya miskin secara sosial dan budaya, karena kelalaian dan kesombongan masyarakatnya. Masyarakatnya terlalu individu dan terlalu bebas. Akibatnya, hubungan sosial di dalam masyarakat menjadi berkurang, kesepian, sehingga mereka bisa merusak budayanya sendiri.
Kenapa seseorang menjadi miskin? Karena tidak bekerja. Bahkan orang yang bekerja pun bisa jatuh miskin, karena rugi, bangkrut, atau tidak bisa mengelola pendapatannya dengan baik. Kenapa mereka tidak bekerja? Mungkin tidak ada pekerjaan, tidak mampu bekerja karena tidak memiliki ilmu, pengalaman, atau karena usia tua dan cacat. Kenapa tidak ada pekerjaan? Karena krisis ekonomi, berkurangnya investasi atau tidak ada investasi, negara yang tidak aman, hukum dan peraturan yang tidak ditegakan, korupsi yang merebak. Tidak ada pekerjaan juga bisa terjadi karena keadaan alam yang tidak mendukung, sumber daya alam yang rendah, yang mengakibatkan masyarakatnya apatis, judi, mabuk dan melontekan diri.
Melihat kemiskinan memang mengerikan, hidup orang miskin sangat dekat dengan kelaparan, penyakit, kekerasan, dan ketidak-berdayaan. Orang miskin hidup serba kekurangan. Anak-anak yang lahir di tempat miskin dan keluarga miskin tidak memiliki pilihan. Mereka sangat tergantung dari kehidupan orangtuanya yang miskin. Orang dewasa yang miskin sudah bisa memilih dan memutuskan untuk berjuang, melawan atau melarikan diri dari kemiskinan. Orang dewasa yang apatis menyerah dan melarutkan diri dalam kondisi miskinnya. Mereka akan melahirkan banyak anak-anak miskin dan sakit-sakitan. Jika anak-anak tersebut tumbuh dewasa, karena kurangnya pendidikan, kesempatan kerja juga berkurang, mental miskinnya berkembang menjadi malas, maling, preman, penjudi dan lonte. Kalau mereka mau introspeksi diri, sebenarnya letak masalah kemiskinan itu ada pada dirinya sendiri, bukan di luar dirinya. Karena mencari penyebab kemiskinan di luar diri sama halnya dengan mencari alasan dan pembenaran untuk tidak berubah. Bagaimana cara mengubah kemiskinan diri? Ubahlah diri sendiri terlebih dahulu, maka keadaan di luar diri akan berubah. Jika kemiskinan di dalam diri seseorang berubah menjadi kemakmuran, maka secara perlahan-lahan akan turut mengubah masyarakat dan lingkungannya menjadi kemakmuran.
Karena masalah kemiskinan adalah masalah mental, maka pusat masalah ada di dalam pikirannya. Pikiran miskin menyebabkan kehidupan miskin, hidupnya mudah menyerah, takut tantangan dan susah menerima perubahan. Mengapa mereka takut berubah, takut mengambil risiko? Mengapa mereka tetap bertahan dalam kondisi miskinnya secara turun temurun? Kenapa mereka tidak melakukan transmigrasi atau hijrah ke daerah yang lebih subur? Mengapa mereka tidak keluar dari lingkungannya menuntut ilmu dan memperkaya pengalaman? Karena mereka takut perubahan. Setiap perubahan membutuhkan keberanian untuk menghadapi tantangan. Tidak semua orang atau kelompok masyarakat memiliki keberanian untuk berubah menghadapi tantangan. Karena perubahan yang berhasil membutuhkan kerja keras, kreativitas dan inovasi. Bagi mereka yang memiliki kekuatan tersebut, mereka bisa berhasil mengusir kemiskinan di dalam dirinya sendiri.
Banyak orang yang berhasil membuat perubahan. Banyak juga yang gagal atau mati di tengah jalan dalam menjalankan misi perubahannya. Bagi mereka yang telah berhasil, atau gagal di tengah jalan, saya yakin mereka dalam keadaan bahagia dalam keberhasilan atau dalam kegagalannya, karena mereka telah menjalankan misinya dalam langkah nyata, bukan menyimpannya di dalam benak. Bagi mereka yang hanya menginginkan perubahan tanpa bekerja, hanya mengangankannya saja, saya yakin mereka hidup dan matinya tidak bahagia, karena tidak menjalankan cita-citanya dengan baik, tidak melakukan perubahan sesuai dengan keinginannya.
Kemiskinan ada di mana-mana. Di negara mana pun pasti memiliki masyarakat miskin. Tanggung jawab pemerintah adalah memberikan fasilitas, agar mereka bisa keluar dari kubangan kemiskinan. Kemiskinan bisa dijual atau dieksploitasi menjadi obyek bisnis, obyek proyek dan obyek politik. Jangan biarkan mereka yang miskin bertambah bingung menghadapi kemiskinannya. Tunjukkan dan tuntun mereka menuju jalan kemakmuran.
Kemiskinan adalah tanggung jawab pribadi. Suatu keputusan individu untuk tetap bertahan di sana atau lari menjauhinya menuju kemakmuran. Bagaimana caranya? Segera keluar dari rantai kemiskinan dengan keberanian, kreativitas dan kerja keras. Secara kenegaraan, masalah kemiskinan adalah tanggung jawab negara. Pemimpin negara harus bertanggung jawab menuntaskan masalah ini dengan penuh tanggung jawab, bukan sekedar berkhotbah sebagai pemanis bibir. Tanggung jawab ini akan diminta oleh masyarakat sewaktu pemimpin hidup di dunia dan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sewaktu pemimpin meninggalkan dunia ini.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Mengatur Waktu

thumbnail
Oleh : Pak Oles
Theodore Roosevelt mengatakan bahwa ciri utama manusia bijak adalah pandai memanfaatkan waktu. Manusia dilahirkan untuk menjadi makhluk bijaksana, karena hanya manusialah yang memiliki pikiran dan perasaan, sedangkan makhluk lain tidak memilikinya. Dengan pikiran dan perasaannya, manusia bisa mengatur dirinya sendiri untuk meningkatkan kemampuannya agar bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang lain dan lingkungannya. Orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri adalah termasuk orang yang tidak bijaksana, karena kemampuannya untuk mengatur dirinya sendiri tidak bisa digunakan. Salah satu ciri orang yang tidak bisa mengatur dirinya sendiri adalah dia tidak bisa mengatur waktunya, tidak bisa menggunakan waktu hidupnya dengan baik.
Waktu yang tidak digunakan dengan baik akan habis percuma. Ada banyak cara untuk membuang waktu yang mungkin tidak kita sadari, seperti: kebiasaan menunda pekerjaan yang seharusnya dikerjakan, lari dari tanggung jawab, malas, tidur terlalu lama, ngerumpi, menonton siaran TV yang tidak perlu, berjalan-jalan tidak tentu tujuan, mengerjakan hal yang tidak penting, bersedih, melamun, khawatir, ragu-ragu, takut, dsb. Semua hal tersebut sangat menghabiskan waktu dalam hidup kita yang tidak kita rasakan. Dan kita baru tersadar setelah tua, ternyata kita belum mengerjakan suatu pekerjaan yang membanggakan hidup kita. Pada saat itulah kita menyesal, karena kita telah terlalu banyak membuang waktu yang sangat berharga.
Waktu lebih berharga daripada uang. Uang bisa dipinjam atau dipinjamkan. Tetapi waktu tidak bisa. Orang yang bijaksana adalah dia yang bisa menggunakan waktunya dengan baik. Bagaimana caranya? Jangan menunda-nunda pekerjaan. Apa yang menjadi tugas dan pekerjaan kita harus dapat kita kerjakan sekarang. Jangan tunggu hari esok. Banyaklah belajar dan tuntutlah ilmu selagi muda, maka di masa tua kita tidak akan menyesal. Tidak ada penyesalan yang lebih berat kita rasakan di saat tua yang baru menyadari bahwa waktunya telah banyak habis terbuang percuma. Orang yang bijaksana bisa mengatur waktunya dengan baik. Orang bodoh adalah orang yang diatur oleh waktunya.
Kita semua memiliki jumlah waktu yang sama setiap hari, sama-sama memiliki waktu 24 jam per hari. Perbedaannya adalah dalam efektifitas penggunaannya. Orang yang sukses sangat efektif menggunakan waktunya. Mereka memiliki waktu yang seimbang antara fokus dalam pengembangan diri dan relaks dalam peremajaan diri. Pengembangan diri yang dimaksud adalah kemampuan untuk meningkatkan kualitas dirinya dengan ilmu, pendidikan, pelatihan dan pengalaman, agar hidupnya dapat dihadapi dengan mudah. Peremajaan diri adalah kemapuan untuk memanfaatkan waktu agar dirinya menjadi lebih relaks dan bergembira. Dalam kurun waktu tertentu, perbedaan efektivitas pemanfaatan waktu akan memberikan perbedaan kualitas hidup individu. Mereka yang tidak memanfaatkan waktunya dengan bijaksana akan mendapatkan kualitas hidup yang rendah. Sedangkan mereka yang menggunakan waktunya dengan bijaksana akan memiliki kualitas hidup yang tinggi.
Bagaimana cara memanfaatkan waktu agar lebih efektif? Bangunlah lebih pagi, tidurlah lebih malam, bekerja dan belajarlah di dalam waktu terjaga, serta manfaatkan waktu istirahat dengan produktif. Banyak orang yang membuang-buang waktunya pada saat terjaga atau pada saat tidur, dengan cara mengobrol, melamun dan keluyuran tak tentu arah, serta tidur terlalu lama. Kenapa demikian? Karena kita tidak menghargai waktu yang kita miliki. Mungkin kita masih menyangka bahwa waktu yang kita miliki adalah tidak terbatas. Istilah masih ada hari esok sering menina bobokan hidup kita untuk lebih sering menunda dan tidak menyelesaikan pekerjaan. Kita juga harus sering mengingat, bahwa hari esok itu mungkin tidak ada. Karena waktu kita hidup di muka bumi ini adalah rahasia Tuhan. Makanya kita harus menghargai waktu setiap hari, bahkan setiap detiknya. Manfaatkanlah momen-momen penting dalam perjalanan hidup kita dengan memanfaatkan waktu semaksimal mungkin, agar hidup kita menjadi lebih berarti.
Bagaimana seandainya kita divonis oleh dokter, bahwa hidup kita hanya masih enam bulan lagi karena kita mengidap penyakit mematikan? Mungkin dalam waktu enam bulan kita stres tidak bisa tidur memikirkan penyakit dan kematian. Atau mungkin juga kita berusaha memanfaatkan waktu lebih efektif untuk belajar, berdoa dan berbuat baik, agar sisa hidup kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Semuanya itu adalah pilihan kita. Kita bisa membuang sisa waktu yang kita miliki dalam hidup, atau kita memanfaatkannya dengan baik.
Ingat, dalam hidup pasti ada kematian. Semua orang tidak mengetahui kapan datangnya. Dan kita semua masih memiliki sisa waktu itu. Perlulah kita mulai merenung sejenak, akan kita apakan sisa waktu yang kita miliki sekarang ini. Semuanya itu hanya kita yang bisa memutuskannya, untuk menjadi manusia yang bijaksana atau tidak. Jangan sampai menyesal sebelum ajal. Karena waktu tidak bisa diputar ulang, seperti kaset atau VCD.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Pria Dan Perempuan Sejati

thumbnail
OLEH: PAK OLES
Jaap Dieleman dalam bukunya tentang pria sejati mengatakan bahwa, pria sejati haruslah suami satu isteri. Kriteria pria sejati tentang isterinya lebih detil ditekankan bahwa, dia harus menyayangi isterinya, memimpin keluarga, memaafkan kesalahan isterinya, berinvestasi untuk isterinya, dll.
Salah satu hal yang menarik tentang pria sejati adalah: pria sejati haruslah suami satu isteri. Dalam kitab agama sering kali diingatkan kepada suami bahwa: jangan berzinah. Jangan menginginkan isteri sesamamu. Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.
Seorang pria dalam kesuksesannya ingin menggunakan banyak simbol. Simbol tersebut banyak berhubungan dengan materi, misalnya mobil, rumah, perhiasan, dan isteri yang lebih dari satu. Sejak zaman kerajaan, seorang raja yang berhasil harus memiliki satu permaisuri dan banyak selir, serta gundik-gundik. Kebiasaan itu menurun kepada sebagian lelaki yang berhasil, bahwa seorang pria sejati harus memiliki banyak isteri, banyak pacar dan banyak simpanan. Tentu saja pria yang memiliki banyak isteri tersebut tidak lebih dari seorang pria yang frustasi mencari kepuasan seks untuk membuktikan jati dirinya, yang pada akhirnya dia akan kehilangan kepercayaan diri untuk menunjukkan jati dirinya sebagai pria sejati.
Setiap wanita yang dimadu pasti rajin bertengkar, karena mereka saling memperebutkan kasih sayang dan materi dari suaminya. Pertengkaran yang berlarut-larut tersebut pasti memusingkan kepala suaminya. Kepusingan tersebut akan banyak menguras energi sang suami untuk berprestasi. Akhirnya, pria yang banyak isteri tersebut terpojok disalahkan oleh isteri-isterinya yang bertengkar. Jika seorang pria menyadari hal ini, maka cukuplah dia berpikir dalam hidupnya hanya dengan satu isteri, sehingga dia bisa fokus mencintai isteri dan keluarganya sepenuh hati.
Bagaimana jika seorang pria terlanjur berselingkuh atau memiliki perempuan lain selain isterinya? Tidak ada jalan lain kecuali bertobat dan menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi. Kalau tidak dia akan tetap menjalani aktor sebagai pemain sandiwara. Bagaimana kalau seorang pria telah terlanjur memiliki dua isteri? Jangan nambah lagi. Renungkan kesalahan itu sebagai pelajaran. Karena sudah terlanjur, berikan kepada mereka keadilan lahir dan batin. Khusus kepada pria yang belum menikah, atau yang telah memiliki satu isteri, ingatlah motto pria sejati: Pria sejati haruslah satu isteri.
Dalam Kitab Digha Nikaya dikatakan bahwa, seorang pria sejati memiliki kewajiban terhadap isterinya, yaitu dia harus memperhatikan kebutuhan isterinya, bersikap lemah lembut, setia kepada isterinya, memberi kekuasaan tertentu kepada isterinya, serta memberi perhiasan kepada isterinya. Sebaliknya, seorang isteri juga harus melakukan kewajiban kepada suaminya, yaitu melakukan tugasnya dengan baik, ramah tamah kepada keluarga dari kedua belah pihak, setia kepada suaminya, menjaga dengan baik barang yang dibawa suaminya, pandai dan rajin mengurus rumah tangga.
Hidup berkeluarga hendaklah laksana dewa hidup dengan dewi, yang selalu selaras dalam budi pekerti, menjauhi kekerasan dan kemabukan, luhur dan berwatak baik, hatinya bebas dari iri, pelit dan dengki, hidup dalam etika, moral dan agama, semuanya itu menjadikan fondasi yang kuat untuk sebuah keluarga yang luhur. Dari seorang pria sejati dan perempuan sejati akan melahirkan anak-anak yang luhur dan berbakti kepada orang tuanya.
Sebuah keluarga menjadi sejahtera dan bahagia bila keluarga tersebut memiliki kemantapan dalam keyakinan, kemantapan dalam moralitas, kemantapan dalam kemurahan hati, serta kemantapan dalam kebijaksanaan. Keempat kemantapan tersebut haruslah terus menerus diasah agar terus melekat di dalam hatinya, sehingga secara lahir batin ikatan keluarga antara suami-isteri, orang tua-anak menjadi semakin kuat.
Hidup di dalam masyarakat yang serba instan, otak kita terus menerus dicekoki dengan dunia sinetron dan infotainment, yang membombardir alam bawah sadar kita tentang pria sejati, perempuan sejati dan keluarga bahagia. Setiap hari kita disuguhi acara sinetron percintaan, perselingkuhan, perceraian dan kehidupan glamor. Setiap hari kita disuguhi gosip artis dan selebritis kawin-selingkuh-cerai, seolah hidup dan kawin semudah makan kacang. Dengan cara itu otak kita menjadi tercuci dengan pandangan baru, bahwa pria sejati adalah mereka yang ganteng, macho, egois, kaya, pintar dan banyak ceweknya. Demikian juga perempuan sejati adalah mereka yang cantik, kaya, pintar, galak, konsumtif dan kawin cerai. Tentu saja pandangan baru dari hasil cuci otak ala sinetron itu salah berat. Karena apa yang terlihat di kehidupan sinetron lain dengan kehidupan nyata. Hidup memang tidak semudah makan kacang. Kawin juga tidak semudah menaruh jempol di jari tengah. Membentuk keluarga yang bahagia tidak semudah membuang angin. Semuanya itu harus dilakukan dengan niat, usaha dan kerja keras. Tekad yang kuat, usaha yang gigih dan semangat yang tinggi yang bisa mengantarkan seseorang menjadi pria sejati, perempuan sejati dan keluarga yang bahagia. Jangan pernah menyerah, jangan pernah mengeluh untuk meraihnya. Sukses untuk anda...!
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Memberdayakan Orang Lain

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Menjadi pemimpin memang susah, harus bisa memberdayakan orang lain. Artinya seorang pemimpin harus bisa membuat orang lain berdaya, mengeluarkan segala potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi. Seorang pemimpin tidak saja harus pintar dan menguasai bidang yang digelutinya, tapi juga harus bisa bekerja sama dengan anggota kelompoknya, untuk mencapai hasil yang maksimal.
Ada pemimpin yang lahir karena didorong dan ditarik. Pemimpin yang didorong lahir karena didorong-dorong oleh teman dan anggotanya, karena di dalam kelompoknya tidak ada yang mau menjadi pemimpin, tidak ada yang mau berkorban untuk memajukan kelompoknya. Mereka mengharapkan ada orang lain yang bisa didorong menjadi pemimpin. Pemimpin yang didorong tidak merasa bertanggung jawab terhadap kemajuan organisasinya dan tidak bisa memberdayakan anggota kelompoknya. Pemimpin itu akan menyalahkan anggotanya, kenapa mereka memaksa dirinya menjadi pemimpin, sampai mendorong-dorong segala, sehingga dia mendapatkan musibah untuk selalu berkorban demi kepentingan anggota kelompoknya.
Pemimpin yang lahir karena ditarik bertanggung jawab terhadap yang menariknya, bukan terhadap bawahannya. Biasanya kekuatan yang menarik itu berasal dari lingkaran kekuasaan dan koneksi. Karena kedekatan seseorang dengan kekuasaan dan koneksi, seseorang bisa menjadi pemimpin yang ditarik. Pemimpin yang ditarik ini hobinya menjilat atasan agar selamat dan menginjak bawahan agar mendapat untung. Tentu saja saat lingkaran kekuasaannya atau koneksinya melemah, dia akan jatuh.
Pemimpin yang didorong dan ditarik selalu membikin dongkol bawahannya, karena dia memang mendongkolkan. Sebut saja seorang kepala desa yang lahir karena didorong atau ditarik. Seorang kepala desa harus rajin, kreatif, berani, bertanggung jawab, menjadi panutan dan rela berkorban untuk kemajuan desa dan warga desanya. Kepala desa yang didorong akan selalu cuek, “habis gua didorong-dorong sih! Untung gua mau. Kalau soal fasilitas jabatan gua nikmatin aja,” katanya.
Kepala desa yang ditarik selalu memakai jurus selamatkan diri ke atas. Biasanya penampilan kepala desa yang ditarik dari segi tongkrongannya seratus persen oke, tapi tanggung jawabnya ke bawah tergantung bos yang menariknya. Kepala desa itu akan selalu membuat konflik di desanya, karena warganya terbelah menjadi dua kubu, yaitu kubu penjilat dan kubu tertindas. Kubu penjilat menikmati fasilitas, kubu tertindas tersingkirkan.
Kepemimpinan itu harus muncul dari dalam hati, bukan karena didorong atau ditarik. Pemimpin yang didorong dan ditarik pasti kandas di tengah jalan, karena masalah-masalah yang harus diselesaikan ditunda dan dihindari. Akibatnya, masalah besar akan menimpanya suatu hari. Pemimpin yang memiliki niat untuk menjadi pemimpin mempunyai kekuatan karena tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Kalau kita ingin memilih pemimpin, tanyakan dulu niatnya, apakah dia ingin menjadi pemimpin karena hatinya ingin bertanggung jawab, atau karena ditarik atau didorong. Caleg-caleg yang ingin menjadi pemimpin mungkin sudah mengetahui jawaban di dalam hatinya masing-masing, walaupun yang terucap adalah demi masyarakat. Apakah mereka ingin menjadi pemimpin karena hati, didorong teman atau ditarik partai? Mudah-mudahan mereka menjadi pemimpin karena dorongan hatinya, sehingga mereka bisa melakukan tugasnya untuk kemajuan masyarakat, kalau tidak, tentu hasilnya akan mengecewakan masyarakat.
Pemimpin yang didorong dan ditarik tidak bisa memberdayakan orang lain, karena dirinya sendiri tidak berdaya, tidak memiliki kekuatan dari dalam dirinya sendiri, hasrat dan tanggung jawabnya lemah. Dia memang benar-benar pemimpin yang loyo. Kalau dirinya sendiri loyo, bagaimana bisa membuat orang lain kenceng? Hasrat dan tanggung jawab sebagai pemimpin harus muncul dari dalam hati. Kalau hatinya sebagai pemimpin sudah tidak ada, maka jangan harap bisa berhasil.
Bagaimana ciri-ciri pemimpin yang bisa memberdayakan orang lain? Gaya kepemimpinannya relaks, tidak tegang. Orang-orang yang dipimpinnya bergembira, tidak cemberut. Semakin banyak tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan, semakin banyak orang yang membantu. Delegasi dan pembagian tugas berjalan lancar, pekerjaan tidak menumpuk pada satu orang sampai termehek-mehek. Tugas dapat diselesaikan tepat waktu dengan tersenyum, bukan molor sambil cemberut.
Jadilah pemimpin yang melayani, yang menjadi teladan, yang membuat pengikutnya bergembira. Pemimpin yang melayani selalu ikhlas dalam bekerja dan membimbing pengikutnya, sehingga setiap masalah dan orang yang menjengkelkan yang ditemuinya merupakan ujian pelayanan yang harus diselesaikan dengan baik. Jika pelayanan dapat dijadikan teladan, maka seluruh pengikutnya akan memberikan kerja dan pelayanan yang maksimal.
Menjadi teladan untuk melayani memang sangat susah. Sebaliknya, menjadi teladan untuk dilayani memang gampang. Agar pengikutnya selalu bergembira, maka pemimpin harus mampu menunjukkan kegembiraan setiap saat. Saat untung dan rugi, dipuji dan dicaci, senang dan sedih, harus tetap bergembira. Bagaimana caranya agar tetap bergembira? Cukup dengan tersenyum dan tertawa melihat kelucuan hidup. Mudah ‘kan? Ya, kelihatannya mudah, tapi prakteknya benar-benar susah. Buktinya apa? Krisis kepemimpinan ada di mana-mana.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Dua Belas Jalan Kemerosotan

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Hidup ini misteri? Ya. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita tidak mengetahui kapan berakhir. Itulah rahasianya. Apakah setiap kematian ada awal kehidupan baru? Itulah misteri. Semuanya menjadi rahasia hidup. Saat kita miskin atau jatuh, kita tidak tahu apa bisa kembali berjaya atau tidak. Di saat kita berjaya, kita juga tidak tahu kapan jatuh, jatuh secara perlahan-lahan, jatuh mendadak atau terperosok ke jurang. Itulah yang kita tidak tahu. Karena tidak tahu, maka tetaplah waspadalah, selalulah siaga.
Untuk berbuat baik susahnya minta ampun. Tetapi untuk berbuat jahat semudah membalik telapak tangan. Perbuatan baik ibarat menabung, jika dikumpulkan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perbuatan jahat ibarat menggali lubang, jika rajin dilakukan, lama-lama menjadi jurang. Menabung diperlukan komitmen dan disiplin. Mengutang dapat dilakukan secara serampangan. Jika masih ada asset yang bisa digade, hutang dipersilahkan. Jika asset sudah habis, siapa sudi berurusan dengan pengemplang?
Budha Gautama mengatakan, ada dua belas jalan kemerosotan. Yang pertama, siapa yang mencintai agama (dhamma), dialah jaya. Siapa yang membenci agama, dialah merosot. Ibarat bangunan, Agama adalah dasar yang sangat penting untuk menjaga agar bangunan menjadi kokoh. Agama itu harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar diucapkan, diplesetkan, bahkan dijadikan bahan guyon. Lemahnya praktek agama dalam kehidupan sehari-hari bisa direkam dari plesetan singkatan dan akronim yang ada di masyarakat, seperti: TTM (Teman Tapi Mesra) untuk selingkuh; STMJ (Sembahyang Terus Maksiat Jalan) untuk orang munafik; Selingkuh (Selingan indah keluarga utuh); BBS (Bobo-Bobo Siang) untuk selingkuh; SAL (Sex After Lunch) untuk selingkuh setelah makan siang; Muda kaya raya mati masuk sorga (untuk pencinta narkoba, pemabuk dan pemalas); Munafik (muka nabi fikiran kotor); dan masih banyak lagi contoh kata-kata baru di masyarakat yang menyiratkan bahwa kita sudah menjauhi jalan agama. Itulah jalan kemerosotan.
Yang kedua, gemar berbuat buruk, berteman dengan orang buruk adalah sebab kemerosotan. Teman yang buruk adalah ia yang mendorong kita berbuat buruk, ia yang menggerogoti, ia yang mengangguk di depan tetapi menunggingi dari belakang, ia yang benalu dan ia yang tidak membantu saat dibutuhkan.
Yang ketiga, hidup boros, malas, dan mudah marah. Membuang waktu dan uang untuk hal-hal yang tidak penting adalah sebab kemerosotan. Hidup boros dan malas menyebabkan kemiskinan. Orang malas tidak memiliki semangat. Semangat memble menutup kesempatan baik. Mudah marah adalah penyebab perpecahan, rezeki menjauh dan kehilangan banyak hal.
Yang keempat, tidak menghormati dan tidak membantu ayah dan ibu. Durhaka dan tidak meghiraukan orang tua akan menutup pintu rezeki. Doa dan harapan orang tua sangat mustajab untuk keberhasilan anaknya. Tunjukkan sikap hormat dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, niscaya hidup bisa dihadapi dengan lebih mudah.
Yang kelima, menipu dan berdusta. Dengan menipu dan berdusta menumbuhkan kecurigaan dan ketidak-percayaan orang lain kepada kita. Apalagi yang kita tipu adalah orang suci, pemimpin agama atau rohaniawan. Dengan menipu hidup kita merosot. Penipu dan pengemplang sudah masuk daftar hitam, sehingga susah untuk bisa berkembang.
Jalan keenam, menggunakan kekayaan hanya untuk diri sendiri. Kekikiran dan egoisme menjauhkan persahabatan. Bersedekah bertujuan untuk memuliakan harta. Kekayaan yang hanya digunakan untuk diri sendiri tidak akan banyak manfaatnya, tetapi jika digunakan untuk meningkatkan kehidupan orang lain dan masyarakat luas akan meningkatkan kehidupan kita sendiri.
Jalan ketujuh, sombong dan takabur karena keturunannya, kekayaannya dan kesukuannya, bahkan merendahkan sanak saudaranya sendiri. Orang yang sombong dan takabur pasti jatuh. Kerendahan hati menjaga kejayaan.
Jalan kedelapan, menyerahkan diri pada wanita rendah, mabuk, suka minum keras, judi, menghamburkan apa yang telah dapat dicarinya. Jika salah satu dari hal tersebut sedang kita lakukan, maka lebih baik dihentikan, karena itu jalan menuju kebangkrutan. Jika belum percaya, karena lagi asyik, silakan teruskan, pasti hasilnya tinggal kolor saja.
Jalan kesembilan, selingkuh. Barang siapa yang tidak puas dengan istrinya sendiri, memelihara wanita/pria lacur, sering terlihat bersama istri/suami orang lain, itulah sebab kemerosotan. Ternyata kehidupan seks yang bebas menyebabkan kebangrutan. Karena daging seuprit hidup kita bisa terperosok. Memang kenikmatan liar harganya mahal dan berisiko tinggi.
Jalan kesepuluh. Barang siapa yang sudah lewat masa mudanya, lalu memperistri wanita remaja yang cantik, istri itu selalu membuatnya cemburu dan selalu dijaga, itulah sebab kemerosotan. Setiap hari hidupnya penuh was-was, cemburu, dan berkerja keras untuk menafkahi istrinya lahir batin, padahal tubuhnya sudah tidak mampu. Mana tahan..! Yang ini benar-benar keterlaluan. Mobil tua dipaksa ngebut oleh supir muda. Mesin bisa meledak.
Jalan kesebelas, Barang siapa memberi kekuasaan melewati batas, baik kepada seorang wanita atau pria, yang kedua-duanya bersifat pemboros, itulah sebab kemerosotan. Ibarat menyerahkan senjata tajam kepada pemabuk, tentu senjata itu bisa melukai, bahkan membunuh pemiliknya.
Jalan kedua belas. Barang siapa yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk memimpin, karena keinginannya besar menginginkan kekuasaan, inilah jalan kemerosotan. Peringatan keras bagi caleg, cabup, cagub dan capres, tolong ukur-ukur dulu kemampuannya, sebelum stress dan bangkrut, jangan terlalu diporsir, karena banyak jalan menuju kejatuhan, melalui politik uang, tim sukses yang morotin, dan sumbangan-sumbangan yang ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Membeli suara ibarat membeli togel, lebih banyak membangkrutkan daripada memenangkan.
Jika kedua belas jalan kemerosotan itu dijadikan kompas hidup, mudah-mudahan kebangkrutan bisa dihindari. Karena sifat manusia selalu lupa dan tidak sadar saat berjaya, saat susah baru menyesal. Eling….Eling…. Eling..!
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Bangkrut

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Kata bangkrut memang pemali diucapkan karena bisa-bisa jadi kenyataan. Tapi itulah potret sekarang, di awal dekade abad 21. Di berbagai belahan dunia, banyak perusahaan yang didera bangkrut. Di Amerika, sejak krisis keuangan September 2008, setiap bulan hampir 100.000 perusahaan menyatakan diri bangkrut. Perusahaan yang bangkrut bisa hidup lagi beberapa tahun setelah dibebaskan atau diringankan dari berbagai kewajiban. Atau dijual dan atau dinyatakan bangkrut total tidak bisa dihidupkan lagi.
Bangkrut itu ibarat mati. Ada mati suri yang kemungkinan bisa hidup lagi, ada mati beneran yang benar-benar mati. Perusahaan yang menyatakan diri bangkrut di Indonesia berarti mati beneran. Siapa yang menyangka akan terjadi banyak perusahaan bangkrut di Amerika? Mungkin sangat sedikit atau tidak ada sama sekali. Penampakan ibarat gunung es, --tampak kecil di bagian atas, tetapi sangat besar di bagian dasarnya. Atau mungkin seperti tsunami, yang muncul secara tiba-tiba. Tapi kita harus ingat, segala akibat pasti ada sebab. Mungkin saja akibatnya sangat nyata, tapi penyebabnya tidak kasat mata.
Perusahaan-perusahaan besar di Amerika yang menyatakan diri bangkrut cukup membuat kita tercekat. Dari mulut terkunci, hati kita bertanya “Bagaimana mungkin? Koq bisa begitu? Lho…?’’ Seperti mimpi. Memang demikian adanya. Itulah fakta-fakta.
Dalam kondisi keuangan yang kacau, apapun bisa terjadi. Kalau perusahaan besar saja bisa bangkrut, apalagi perusahaan kecil. Tapi jangan salah, dalam banyak kasus, perusahaan kecil lebih kuat bertahan daripada perusahaan besar karena perusahaan kecil mudah menyesuaikan diri dan hidupnya sudah terbiasa minim. Perusahaan besar sudah terbiasa hidup mewah dan mahal, lamban dan kurang peka perubahan.
Orang atau keluarga bisa juga bangkrut. Mungkin tidak tersiar media masa. Ciri-ciri orang yang bangkrut adalah hutangnya jauh lebih banyak dari aset. Dia hidup dari hutang, bukan dari produktivitas. Pertanyaannya, kenapa berhutang besar dan kenapa tidak produktif? Jawabannya, karena pola hidup dan gaya hidup. Pola hidup adalah kebiasaan hidup untuk berhutang. Gaya hidup adalah penampilan, pencitraan dan tingkah laku untuk kehidupan sehari-hari. Pola hidup berhutang dan dengan berhutang untuk memenuhi gaya hidup mewah menyebabkan kebangkrutan.
Masyarakat Amerika telah menjadi contoh nyata kebangkrutan di abad 21 ini. Masyarakat dibiasakan menghutang dan menghutang untuk meningkatkan pasar. Justru orang atau perusahaan akan dipercaya bank jika memiliki hutang banyak. Mereka yang tidak memiliki hutang berarti tidak konsumtif. Karena tidak konsumtif, dianggap tidak produktif. Memang hutang itu ada baiknya untuk mempercepat pertumbuhan, tetapi jika terlalu banyak, apalagi melebihi asset, dengan kemampuan bayar yang rendah, hutang justru berbalik jadi bahaya. Dapat membangkrutkan.
Kenyataannya terbalik. Masyarakat harus produktif terlebih dahulu, baru bisa menggunakan hasil produksi untuk konsumsi. Masyarakat yang dipaksa hidup konsumtif, lama kelamaan ketagihan Dan sakit jiwa untuk terus konsumsi, --membeli produk-produk yang tidak dibutuhkan. Mereka konsumsi apa yang dilihat, membeli apa yang orang lain beli. Jadi semacam digerogoti virus kehilangan jati diri karena tidak benar-benar mengetahui apa yang sebenarnya yang diinginkan. Lama-kelamaan uangnya habis dan minus terus, karena digunakan melebihi kemampuan.
Perusahaan-perusahaan juga bisa bangkrut karena pola hidup dan gaya hidup. Salah investasi, salah kalkulasi, menanggung risiko tinggi ibarat judi, adalah pola hidup. Hidup lebih besar pasak daripada tiang, hidup mewah, mental lemah dan kurang gigih adalah gaya hidup. Semua itu diperparah dengan penjualan produk yang turun, daya beli masyarakat yang lemah, keuntungan yang kian menipis dan kerugian. Dalam kurun waktu tertentu, secara perlahan namun pasti, jika tidak lekas dilakukan perubahan menejemen, perusahaan pasti bangkrut.
Negara juga demikian. Negara yang rajin ngutang, boros, korup dan pembangunan tidak tepat sasaran akan terlilit hutang. Kondisi itu akan mengakibatkan masyarakatnya menjadi sakit, tergantung pada pemerintah, tidak mandiri, lemah dan tidak produktif. Sifat konsumtif adalah kebiasaan. Sifat konsumtif yang muncul karena produktivitas tinggi akan menunjang pasar. Akan tetapi, jika sifat konsumtif muncul tanpa ditopang produktivitas masyarakat akan menimbulkan korupsi dan masalah sosial. Ngutang adalah masalah kebiasaan. Hutang yang dipinjam Negara hendaknya digunakan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat, bukan meningkatkan konsumsi masyarakat. Kalau itu tidak bisa dilakukan, jangan salahkan peribahasa ‘’Guru kencing berdiri, anak kencing berlari. Negara terbiasa ngutang untuk hidup, warga negaranya terbiasa ngutang untuk gaya hidup. Akhirnya, perlahan namun pasti, negara dan warganya terkubur hutang hidup-hidup.
Kalau ingin tidur lelap perkecil hutang atau jangan ngutang. Kalau ingin bahagia, hiduplah sederhana. Individu, kelompok, organisasi atau Negara pengutang hidupnya perlahan-lahan menuju kebangkrutan. Hutang itu bisa baik dan bisa juga jahat, tergantung cara menggunakannya. Hutang bisa digunakan untuk membesarkan individu, keluarga, usaha, organisasi atau Negara, atau bisa juga mengerdilkan dan sekaligus mematikan. Hati-hati, hutang itu bisa berbahaya…!
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Buktikan Janjimu Hai Pemimpin

thumbnail
Oleh : Pak Oles
Di zaman yang serba gonjang-ganjing ini, hidup di negeri Indonesia semakin susah. Yang dimaksud dengan kemiskinan sudah semakin tidak dimengerti oleh pemimpin dan orang kaya, karena mereka sudah terbiasa. Kelompok masyarakat miskin sudah terbiasa hidup miskin, dan kelompok masyarakat kaya sudah terbiasa hidup kaya. Kalau ada kelompok masyarakat yang menganggap hidupnya miskin, dan kemiskinan itu bisa diturunkan seperti genetik, tentu ada sebabnya. Pemimpin mungkin bingung mengenyahkan penyebabnya, karena kadang-kadang kemiskinan itu juga diperlukan untuk bisa dibuat proyek oleh pemimpin.

Dalam jangka pendek mungkin bantuan kemiskinan itu bisa diberikan secara langsung oleh pemerintah, tetapi sampai kapan pemerintah bisa dan sanggup memberikan bantuan langsung itu. Bukan bantuan ecek-ecek itu yang diharapkan untuk menolong masyarakat miskin, tetapi bagaimana tercipta lapangan pekerjaan dan mengurangi pengangguran. Dengan cara demikian kemiskinan akan berkurang.

Bolehlah kita sebagai masyarakat awam bertanya, kenapa sekelompok masyarakat bisa miskin. Dan tentunya saya mencoba menjawab sendiri. Apakah kemiskinan timbul karena kemalasan? Belum tentu. Karena banyak kelompok masyarakat miskin harus bekerja sangat keras dan rajin untuk bertahan hidup. Apakah masyarakat miskin tumbuh karena mereka tidak berpendidikan atau bodoh? Ya. Karena tidak ada orang bodoh hidupnya kaya, dan tidak ada orang pintar hidupnya miskin. Apakah masyarakat miskin hidupnya karena terpencil atau terisolasi? Ya. Karena hidupnya yang terisolasi dan terpencil itulah yang membuat mereka menjadi miskin.

Kenapa hidup jadi miskin? Jawabannya bisa jadi banyak dan bisa dikombinasikan, sehingga menjadi semakin banyak, yaitu: karena malas, sakit, judi, serakah, bodoh, kondisi alam kritis, terisolasi, dan masih banyak lagi penyebabnya. Apakah masyarakat miskin bisa dibantu dengan bantuan langsung tunai seratus ribu rupiah per bulan? Pasti jawabannya tidak bisa. Mungkin bantuan senilai itu cukup untuk hidup lima hari sekeluarga dalam taraf hidup orang miskin.

Pemimpin yang mengaku peduli terhadap pengentasan kemiskinan ternyata belum peduli, atau dalam bahasa spiritualnya belum memiliki rasa, mungkin karena dia belum pernah menjalani hidup sebagai orang miskin. Betapa sakitnya hidup miskin perlu juga dirasakan secara lahir batin oleh pemimpin, sehingga mereka bisa cepat dan tanggap untuk mencari jalan keluar, yaitu bagaimana agar bisa membantu masyarakat lepas dari belitan kemiskinan. Kemiskinan ibarat penyakit kanker yang harus dibongkar penyebabnya dan dicari obatnya. Bukan seperti memberi obat sakit kepala bagi penderita kanker, yang hanya memberikan kesembuhan sesaat, padahal sakitnya masih sangat parah.

Berkali-kali pemilu diadakan secara berkala. Setiap lima tahun caleg (calon legislatif) dan juga capres (calon presiden) menjual kemiskinan sebagai produk yang perlu diselesaikan dan dicabut akarnya. Akan tetapi, setelah mereka itu duduk menjabat sebagai anggota DPRD, DPR, menteri, kepala dinas, bupati, gubernur atau presiden justru mereka lupa akan produk jualannya. Memang melupakan janji itu gampang, bahkan sangat gampang. Lupa bisa dilakukan secara berpura-pura atau benar-benar lupa.

Untuk saling mengingatkan, pemimpin antar lawan politik, antara yang dikalahkan dan yang mengalahkan bisa saling bersilat lidah agar masyarakat tetap lupa dan juga tetap ingat akan janji pemimpin yang sudah diikrarkan, yaitu: mengentaskan kemiskinan. Pemimpin yang satu dituduh memakai jurus poco-poco, karena masyarakat tetap di tempat kemiskinan walaupun pejabat sudah sibuk bergerak. Pemimpin yang lain dibilang memakai jurus tebar pesona, karena pemimpin itu terlihat ikhlas membantu mengentaskan kemiskinan, padahal tujuannya adalah untuk bisa terpilih di pemilu nanti, dan hasilnya tetap saja masyarakat miskin. Pemimpin yang lain dibilang memakai jurus undur-undur, yaitu sejenis serangga yang terbangnya mundur, karena masyarakat miskin jumlahnya bertambah banyak semakin tahun, artinya kesejahteraan masyarakat semakin mundur.

Jika antar pemimpin saling menyalahkan mungkin masyarakat menjadi bingung. Memang itu jurus yang paling ampuh untuk melempar tanggung jawab, yaitu dengan membuat semua bingung. Apakah tidak ada jurus yang lain? Mungkin tidak ada. Budaya tidak tahu malu dan pengecut memang masih mendarah daging di dalam tubuh pemimpin. Semuanya itu membuat masyarakat muak, sakit perut karena terlalu sering muntah. Mereka sakit hati karena terlalu sering ditipu. Mereka tidak bisa tidur karena selalu menunggu janji-janji palsu pemimpin.

Saat menjelang pemilu, jumlah partai dan jumlah caleg tumbuh ibarat jamur di musim hujan, semuanya dengan visi dan misi yang sama, hanya kalimatnya saja lain, yaitu: untuk menciptakan kesejahteraan rakyat, mengubur kemiskinan. Semuanya itu dibungkus dengan bahasa mantap dan puitis, retorika, patriotis, dengan foto cerah terpampang di baliho jalanan, berwajah tulus, rendah hati, dan tatapan mata bersemangat memperjuangkan nasib masyarakat, agar bebas dari kemiskinan. Apakah masyarakat percaya dengan model bunglon itu?

Saya yakin tidak. Kenapa? Karena janjinya telah membikin hatinya muak dan sakit hati. Masyarakat bertanya, kenapa janji yang dulu belum kau tepati tapi kau tega berjanji lagi? Masyarakat menjadi apatis dan pragmatis, ogah-ogahan, patah semangat dan ingin cepat panen. Masyarakat berpikir, “Boleh kau berjanji, tapi bayar tanda jadi dulu dong! Ada hal yang harus diingat, tanda jadi itu juga belum berarti aku memilih kau. Soalnya janji kamu palsu sih! Perutku mules makan janji –janji busukmu!”

Lantas apa mau dikata? Masyarakat kita sakit karena pemimpinnya sakit. Pemimpin yang sakit muncul dari masyarakat yang sakit. Ibarat ayam dan telor, mana yang lebih dulu? Diantara telor-telor yang busuk dan prematur masih bisa dipilih yang baik untuk bisa melahirkan anak ayam yang baik. Demikian juga di antara masyarakat yang sakit masih ada juga masyarakat yang sehat. Dari sanalah harapan kita untuk bisa melahirkan pemimpin yang baik. Kesadaran itulah yang harus dimunculkan. Kesadaran masyarakat akan kemampuannya melahirkan pemimpin yang baik, dan ketidaksadaran masyarakat untuk bisa melahirkan pemimpin yang buruk.

Nasib suatu bangsa ada di tangan pemimpinnya. Maka hati-hatilah memilih pemimpin, yang bukan hanya berjanji, tetapi terbukti dalam karya, yaitu mengentaskan kemiskinan, mewujudkan kesejahteraan rakyat dan kemandirian bangsa, yang bukan asal omong dan asal nampang! Memang banyak yang mau menjadi pemimpin, tapi belum tentu mereka sadar, tahu, mampu, dan bertanggung jawab. Semoga selamat dan sukses menjalani pemilu 2009.
Koran Pak Oles/Edisi 164/Desember 2008

Kepemimpinan Yang Melayani

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Keberhasilan atau kegagalan suatu individu, keluarga, organisasi, bahkan negara sekalipun sangatlah ditentukan oleh kepemimpinan pemimpinnya. Kepemimpinan yang baik akan menghasilkan keberhasilan, sedangkan kepemimpinan yang buruk akan menghasilkan kegagalan.
Kejadian itu sudah sangat jelas kita amati. Jatuh bangun setiap kehidupan individu, keluarga, organisasi atau negara ditentukan oleh kualitas kepemimpinan pemimpinnya
Seorang individu yang berhasil dalam menjalani hidup, menjadi seorang yang sukses dalam bidangnya. Di dalam dirinya telah berkembang nilai-nilai juang kepemimpinan, yang dalam bahasa Inggris disebut leadership. Nilai kepemimpinan inilah yang memotivasi dirinya untuk terus berjuang, gigih, tabah, sabar dan tekun, sehingga dia bisa menjadi manusia yang memiliki keunggulan. Kepemimpinan ibarat pedang, dia akan terus bertambah tajam dan semakin bermanfaat jika rajin diasah. Baja yang terkandung di dalam pedang itu sangatlah menentukan kualitas ketajaman pedangnya. Walaupun pedang hanya terbuat dari besi, jika kita rajin mengasahnya, pastilah akan tajam juga hasilnya. Kesimpulannya adalah, bahwa kepemimpinan itu adalah masalah bakat dan kemauan untuk mengembangkan bakat. Orang yang memiliki bakat tanpa kemauan akan gagal. Sedangkan orang yang memiliki kemauan tanpa bakat, harus memerlukan kerja yang lebih keras untuk menumbuhkan bakat.
Kenapa seseorang tidak memiliki bakat kepemimpinan? Apakah karena masalah keturunan, trah, genetik, budaya, pendidikan, atau karena faktor lain? Untuk kasus orang idiot, atau kelainan mental, pastilah mereka tidak mungkin menjadi pemimpin. Tetapi untuk orang normal, di dalam dirinya sudah memiliki bakat kepemimpinan yang terpendam, yang harus digali, ditemukan dan diasah agar bisa bersinar terang. Ibarat intan, dia harus digali, ditemukan dan diasah dengan baik, sehingga memiliki nilai sebagai batu mulia.
Krisis yang dialami oleh individu, keluarga, organisasi atau negara berawal dari krisis kepemimpinan pemimpinnya. Kebangkrutan akan menunggu jika krisis kepemimpinan tidak dikelola dengan baik. Jadi kepemimpinan itu sangatlah penting, karena tanpa kepemimpinan yang baik, maka kehidupan pengikutnya pasti melarat. Kepemimpinan yang dimaksud adalah masalah sikap mental yang harus dimiliki oleh seseorang, yaitu: disiplin, kerja keras, jujur dan mampu bekerja sama. Tanpa salah satu dari keempat hal itu, pastilah individu, keluarga, organisasi, atau negara yang dipimpinnya akan tidak bisa berkembang maksimal.
Disiplin berarti tegas terhadap pengaturan waktu, uang dan orang untuk kemajuan yang ingin dicapai. Kerja keras berarti bekerja lebih, bekerja cerdas dan bekerja ikhlas. Jujur berarti bekerja sesuai dengan nuraninya. Mampu bekerja sama berarti bisa memotivasi, menggerakkan, membentuk jaringan untuk mencapai tujuan.
Krisis kepemimpinan yang kita alami terlihat dari semakin susahnya masyarakat mencari pemimpin untuk kelompoknya sendiri. Semakin banyak organisasi yang mengeluhkan kelangkaan menejer, direktur, kepala dan pemimpin, Walaupun banyak orang yang menginginkan jabatan tersebut, tetapi keinginannya bukan berdasarkan kemampuannya. Jabatan tersebut dilirik karena gaji dan fasilitas yang ingin dinikmatinya. Di lain pihak, banyak juga pemimpin yang suka memaksakan dirinya sendiri untuk memimpin, tanpa mau banyak belajar dan melayani, yang pada akhirnya banyak menimbulkan konflik dan kegagalan pencapaian tujuan organisasi.
Bagi pemimpin, belajar kepemimpinan tidak akan pernah selesai, dia ibarat pelajaran kehidupan sampai ke liang kubur. Banyak ilmu kepemimpinan dijual di toko buku dan diseminarkan serta dilatih oleh pelatih ternama. Mungkin semuanya itu baru sampai tahapan pengetahuan, belum dipraktekkan oleh pembaca, peserta seminar dan peserta pelatihan. Yang pada akhirnya, segala ilmu yang didapat dari buku dan lisan dikembalikan lagi pada diri kita sendiri, untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pemimpin yang melayani pengikutnya.
Di manakah letak kepemimpinan itu? Dia ada di dalam hati. Ilmu kepemimpinan yang dipelajari di buku dan di sekolah menejemen hanya sampai di otak, sehingga pengetahuannya baru sampai pada tahap logika yang mengetahui baik-buruk, benar-salah, dan untung rugi. Kalau ilmu kepemimpinan hanya sampai di otak, maka sering kali muncul keragu-raguan, kebimbangan dan ketakutan. Karena seorang yang ragu dan bimbang tidak mungkin menjadi pemimpin. Bukan juga berarti pemimpin tidak memiliki rasa takut, tetapi rasa takutnya itu dikalahkan dengan tanggung jawabnya. Sehingga karena rasa tanggung jawabnya sebagai pemegang amanah pemimpin, maka rasa ketakutan itu menjadi sangat kecil untuk dirasakan. Jika ilmu kepemimpinan seseorang sudah tertanam di dalam hatinya, maka yang muncul adalah ketetapan hati untuk memimpin, untuk berbuat dan berkorban, memberikan pelayanan. Keraguan, kebimbangan dan ketakutannya menjadi hilang. Bagi pemimpin, memberikan pelayanan itu adalah sebuah kegembiraan. Jika hal itu sudah dirasakan, anda berarti sudah menjadi pemimpin yang memiliki kerendahan hati dan kelapangan jiwa.
Bagaimana caranya agar kepemimpinan itu ada di dalam hati? Merenunglah tentang siapa diri kita sebenarnya. Banyak pemimpin yang tidak mengetahui siapa dirinya sendiri, apa keahliannya, apa pekerjaan yang disenanginya, mengapa dan untuk apa dia menyenangi atau tidak menyenangi pekerjaan itu. Perenungan harus terus menerus dilakukan tentang segala hal yang berkaitan dengan diri kita sendiri, sampai kita mendapatkan jawaban tentang siapa diri kita sendiri. Mungkin jawaban yang didapat bervariasi tergantung dari perenungan kita. Dari perenungan itulah kita mengetahui keunikan dari keahlian yang kita miliki, yang pasti tidak dimiliki oleh orang lain. Karena Tuhan menciptakan masing-masing keunikan individu yang berbeda-beda. Dengan cara demikian kita telah memiliki jati diri, yang mencakup tentang pemahaman terhadap diri sendiri dan kemampuan diri sendiri. Pada saat itulah seorang pemimpin sudah memiliki kemampuan memimpin yang memancar dari dalam. Jika kepemimpinan itu terus menerus digunakan untuk memberikan pelayanan untuk masyarakat, maka nilai kepemimpinan seorang pemimpin akan terus meningkat. Seorang pemimpin adalah seorang samurai, yang berarti dia yang melayani. Dengan kekuatan dan kemampuannya, dia memberikan pelayanan. Karena belum banyak pemimpin yang mau memberikan pelayanan, maka krisis kepemimpinan terjadi di mana-mana. Jadi, harap maklum!
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Belajar Dari Anjing

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Anjing itu binatang pemakan daging. Di alam hidupnya berkelompok. Dia merupakan keturunan serigala yang jinak. Jenisnya banyak. Warnanya banyak. Kepintarannya berbeda-beda, ada yang pintar, ada juga yang bloon, sama seperti manusia. Anjing bisa diubah menu makanannya, tidak hanya daging, tapi nasi juga bisa, lebih baik jika dikasih kuah daging. Anjing orang kampung yang miskin makannya- senen kemis, karena bosnya juga sering makan nasi aking. Anjing bisa juga makan jagung mentah, singkong, pepaya, pisang atau nangka. Dia bisa mencuri di kebun orang. Nasib anjing tergantung dari pemiliknya.
Jika pemiliknya kaya dan sayang anjing, dia makannya terjamin, empat sehat lima sempurna. Bahkan kalau dia sakit bisa opname di dokter hewan, atau diajak piknik ke luar kota, atau mandi, keramas, dan potong bulu di salon anjing. Kalau nasibnya lagi miskin, makannya dijatah, kadang dilupakan oleh pemiliknya, sering ditendang dan dipukul kalau salah, bahkan disate!
Manusia adalah makhluk berpikir, memiliki kebijaksanaan dari berpikirnya. Manusia juga memiliki nurani. Manusia banyak belajar dari anjing, bahkan banyak istilah anjing dan gaya anjing digunakan dalam kehidupan manusia. Misalnya saja hotdog, adalah sejenis makanan roti gaya Amerika, yang di dalamnya ada sosis. Kata hotdog tidak ada hubungannya dengan anjing kepanasan. Makanan hotdog menjadi laris dan terkenal karena memakai nama anjing. Salah satu teknik bercinta yang paling disukai manusia adalah gaya anjing atau dogstyle. Bagi pasangan yang suka main belakang, gaya anjing sangat tepat dipraktekkan, karena gayanya bebas tapi pasti. Dalam hal ini, manusia berguru pada anjing.
Anjing juga memiliki persamaan seperti manusia, yaitu suka kawin dan ganti-ganti pasangan. Karena dalam dunia manusia ada rasa malu dan takut yang dikembangkan sesuai dengan akhlak, moral, kesehatan, peraturan dan undang-undang, maka manusia malu dan takut berganti-ganti pasangan, tapi nalurinya untuk berganti-ganti pasangan masih sering menyelinap di otaknya, yang kadang-kadang bisa disalurkan secara sembunyi-sembunyi. “Boleh gitu, asal tidak ketahuan,” pikir manusia.
Anjing memang memiliki kemerdekaan total dalam bidang seks, dia bisa ngeseks dimana saja dan dengan siapa saja kalau pasangannya sama-sama OK, tanpa takut dan malu. Tapi anjing ngeseks tahu waktu. Ada waktunya untuk kawin. Jika lagi tidak musim kawin, dikasih upahpun anjing tidak akan mau kawin. Mungkin pada saat itu nafsu dan libidonya lagi drop. Musim kawin anjing adalah bulan purnama kesembilan, sekitar bulan maret. Mungkin karena pengaruh gaya tarik bulan dan getaran alam lainnya, anjing betina dewasa serentak birahinya memuncak, ngebet kawin sampai melolong-lolong. Kelamin betina anjing menjadi basah menebar aroma seks diterbangkan angin mengundang pejantan untuk hadir.
Ibarat dunia manusia modern, Anjing betina birahi menebar SMS mengundang kawin gratis, “Hai pejantan, cepat datang, gua lagi tidak tahan nih!” kata Si betina dalam bahasa manusia. Tentu saja aroma kelamin anjing betina yang dicium oleh anjing jantan membikinnya blingsatan untuk segera bergegas beradu nasib, siapa tahu ketiban jodoh, kebagian yang basah-basah.
Ternyata anjing jantan yang datang menghampiri Si betina bukan seekor-dua ekor, tapi bisa puluhan ekor. Karena Si betina hanya bisa melayani satu ekor, atau mungkin sampai tiga ekor pada malam itu, tentu saja persaingan antara puluhan pejantan terjadi semakin sengit, sampai terjadi perkelahian hebat. Si betina berhak memilih yang paling cakep, macho, dan meyakinkan. Yang kurus, penakut dan tidak meyakinkan tidak kebagian rezeki. Seleksi alam memang demikian. Lucunya, kalau Si betina sudah menentukan pasangan untuk bercinta, pejantan lain tidak cemburu atau berusaha mencegah jalannya perkawinan, tapi mereka masih bergerombol sambil berharap dipilih menjadi aktor diputaran kedua atau putaran ketiga. Kalau waktu sudah selesai, karena keburu pagi atau Si betina kecapaian, seluruh anjing jantan yang menghadiri undangan membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing tanpa cemburu buta.
Setelah kawin, Anjing jantan tidak bertanggung jawab atas perbuatannya. Jangankan menafkahi Si betina dan anak-anaknya, menyayangi Si betina saat hamil, menunggui kelahiran bayi, semuanya itu tidak dilakukan. Si jantan cuek saja. “Bukankah gara-gara lu yang ngundang kawin. Gua kan hanya nyemprot aja. Coba kalau kagak gua semprot, pasti lu melolong-lolong terus minta dikawini, kasihan deh lu..!” kata Si jantan melengos saat berpapasan di jalan. Si betina juga tidak mau ambil pusing dengan sikap si jantan. Si betina memang makhluk mandiri, dari hamil, melahirkan sampai merawat anaknya sampai besar dilakukannya sendiri. Tidak seperti manusia yang cengengnya minta ampun saat hamil, pakai ngidam dan ngambek segala saat hamil.
Memang manusia tidak bisa dibandingkan dengan anjing. Manusia adalah makhluk bijaksana, sedangkan anjing adalah binatang. Karena manusia adalah makhluk bijaksana, dia bisa belajar dan melakukan perenungan terhadap kelebihan anjing yang dikodratkan secara alam. Apa yang perlu kita pelajari dari anjing? Ada banyak hal, --kesetiaan dan kesabarannya, kerendah-hatian dan keramahan tentang keberanian dan kesigapannya membela tuan.
Anjing adalah binatang yang paling setia dan sabar. Manusia harus banyak belajar darinya. Jika anjing diusir seribu kali, dia tidak akan minggat dari rumah tuannya, ini adalah sifat makhluk yang setia. Kesetiaanya muncul karena kesabarannya. Manusia susah belajar setia dan sabar. Anjing selalu memiliki sifat rendah hati dan ramah terhadap tuannya. Dia selalu lebih dulu menyapa, hormat dengan goyangan ekor dan gonggongan kecil. Walaupun dicuekin tuannya dia tetap ramah dan rendah hati. Tentang keberaniannya, anjing memang hebat. Dia akan tetap menjaga pertahanan daerahnya, agar tidak dimasuki orang lain atau makhluk lain tanpa permisi, atau tanpa ijin tuannya. Anjing juga sigap menjalankan tugas, kemanapun diajak tuannya, dia pasti sigap menjalankan tugas, walau ngantuk dan lapar sekalipun.
Lantas, kalau ada teman atau saudara kita yang melepaskan emosinya dengan mengumpat kata “anjing”, kita harus berterima kasih, karena sifat-sifat sabar, setia, rendah hati, ramah dan berani sudah didoakan untuk menempel watak kita. “Anjing, Lu..!” Terima kasih kawan...! Kita adalah makhluk bijaksana yang baru belajar menjadi anjing. Mari kita belajar dan berguru pada anjing. Belajar tentang hal-hal yang positif dari makhluk hina yang bernama anjing itu.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Bekerja Sambil Berlibur

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Tujuan hidup adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan di bumi dan di akhirat. Jika kita merasa bahagia hidup di bumi, maka kita juga akan mampu meraih kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya, jika kita tidak merasakan kebahagiaan di bumi, maka mustahil kita mampu meraih kebahagiaan di akhirat.
Bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di bumi? Ada banyak caranya. Dengan bersyukur, ikhlas, sabar dan menikmati hidup apa adanya. Salah satu cara hidup bahagia yang diusulkan oleh Mark Twain adalah dengan menjadikan pekerjaan kita sebagai liburan. Bukankah yang diusulkan tersebut bersifat kontradiktif? Antara bekerja dan berlibur susah disatukan. Bekerja membutuhkan keseriusan untuk menghasilkan uang, sedangkan berlibur diperlukan santai untuk menghabiskan uang.
Menjadikan pekerjaan sebagai liburan berarti di dalam bekerja kita harus merasakan kegembiraan, kesenangan dan tidak memiliki beban yang memberatkan hati dan pikiran. Dengan kegembiraan dalam bekerja kita akan merasakan kesenangan dan ketenangan. Pada saat kita berhasil, kita mendapatkan kegairahan yang luar biasa atas prestasi yang dicapai. Pada saat kita gagal kita merasa dipacu dan ditantang untuk mampu berprestasi lebih baik.
Apakah kita telah menjadikan pekerjaan kita sebagai liburan? Atau kita telah menjadikan pekerjaan sebagai tugas berat yang harus diselesaikan? Cintailah pekerjaan anda dan lakukanlah sepenuh hati. Niscaya, dengan mencintai pekerjaan, kita akan merasakan pekerjaan sebagai liburan yang sangat menyenangkan, bukan sebagai tugas yang semakin memberatkan.
Saya berkenalan dengan seorang petani muda dari sebuah desa di Bali. Namanya Ketut, yang biasa dipanggil Nyamprut. Dia bekerja giat di sawah, membajak, meratakan tanah, membersihkan gundukan, mengairi sawah, menanam padi, dan merawatnya setiap hari sampai panen. Selanjutnya gabah yang dipanen dijemur sampai kering, kemudian digiling. Dari hasil pekerjaannya tersebut jika dihitung dari nilai rupiah yang didapat mungkin tidak seberapa. Dengan kreativitasnya dia merasakan kegembiraan yang sangat tinggi dalam bekerja. Pagi hari saat berangkat ke sawah dia merasakan kesegaran udara dan indahnya pemandangan dengan panorama matahari terbit. Sambil bersenandung dia bekerja di sawah. Sore hari dia mandi dipancuran yang jernih. Dia merasakan nikmatnya kucuran air seperti turis mandi di SPA hotel berbintang.
Dari rumahnya yang sederhana, lahan sawah Nyamprut sangat indah dipandang. Di pinggiran bagian atas petakan sawah dibuat kolam ikan yang dikelilingi bunga-bungaan. Di dalam kolam ditanam berbagai jenis bunga teratai dan ikan hias berwarna-warni. Kebunnya ditata sedemikian rupa, walaupun dengan bahan-bahan sederhana, tetapi sangat indah dipandang. Lahan sawahnya tertata rapi, sangat indah dipandang, apalagi saat tanaman padi menguning. Lahan pertaniannya dimanfaatkan dengan sangat produktif. Lahan tersebut bisa menghasilkan padi, sayur, bunga, ikan, sapi dan ayam. Di antara petani lainnya, Nyamprut termasuk petani yang paling berprestasi. Dengan berkembangnya pariwisata, lahan Nyamprut sering dikunjungi turis. Dengan senang hati Nyamprut mengantar dan menjelaskan turis keliling kebunnya. Sekali kunjungan, turis diwajibkan membayar sumbangan sukarela yang dimasukkan ke dalam kotak sumbangan. Dengan cara itu, Nyamprut mendapatkan tambahan penghasilan hampir dua kali lipat hasil tanaman padinya.
Ketika saya tanya, apa resepnya bekerja sebagai petani sehingga bisa berhasil dengan baik. Dia mengatakan tidak mempunyai resep khusus, bahkan dia mengatakan tidak pernah merasa bekerja sebagai petani. Dia sedang menyalurkan hobinya menanam tanaman dan membuat indah lahan pertaniannya, seperti taman di sorga. Dan di dalam taman yang indah itu, dia bisa menikmati keindahan tamannya sepuas-puasnya, sambil bekerja, sambil berwisata.
Seorang penjual yang berhasil sangat menikmati pekerjaannya, terutama pekerjaan saat bertemu dengan orang, melobi orang, memberikan servis dan melakukan transaksi. Penjual yang berhasil melakukan kunjungan lapangan, atau kunjungan ke daerah-daerah seperti sedang melakukan kunjungan wisata. Mereka yang menikmati pekerjaannya sebagai penjual, tidak pernah merasakan bekerja, tidak pernah merasakan lelah dan penat, karena dia telah menyatukan pekerjaannya dalam bermain. Penjual seperti ini mampu melampaui target penjualan di atas batas yang ditentukan. Sebaliknya penjual yang selalu mengeluh dan merasakan beban berat saat melakukan kunjungan lapangan atau kunjungan ke daerah selalu merasakan pekerjaan menjualnya sebagai tugas yang harus diselesaikan dan menjadi tugas yang maha berat. Hasil penjualan yang dicapai dari penjual yang terlalu serius itu sangatlah jeblok, karena hidupnya terlalu tegang dan kurang bermain.
Kebanyakan pengusaha yang berhasil mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukannya selama menjadi pengusaha adalah serangkaian permainan yang tidak pernah melelahkan, bahkan selalu membikin hidupnya tambah bergairah. Dalam sebuah permainannya dalam bekerja melahirkan kreativitas, inovasi (memperkenalkan sesuatu yang baru) dan invensi (menemukan sesuatu yang baru). Kreativitas lahir dari ide-ide baru, gabungan dari berbagai perbedaan, dan melihat perbedaan untuk memperkaya ide kreatif. Kreativitas muncul dari pemikiran yang tidak tegang, tidak stres dan tanpa beban. Itu berarti haya pada orang yang bisa menempatkan pekerjaannya sebagai liburan baru bisa memunculkan ide kreatif, inovasi dan invensi. Kalau tidak, maka setiap pekerjaan yang dilaluinya menjadi selaksa beban.
Pegawai atau karyawan yang berhasil dan berprestasi adalah mereka yang menikmati pekerjaannya. Prestasinya ditunjukkan dengan kemampuan dan loyalitas. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, karyawan yang mampu dan loyal menunjukkan prestasi yang lebih tinggi daripada karyawan yang bekerja asal-asalan. Kenyataan menunjukkan bahwa, karyawan yang berprestasi bekerja dengan otak dan hatinya, sedangkan karyawan yang asal-asalan hanya bekerja dengan otaknya saja. Jika kita bekerja dengan otak dan hati, maka badan kita merasa relaks. Jika kita bekerja hanya dengan otak saja, maka badan kita merasakan ketegangan yang luar biasa.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008

Untung Dan Jujur

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Untung adalah nilai positif dari selisih pendapatan dikurangi pengeluaran. Setiap usaha bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi tidak semua usaha bisa mendapatkannya. Diperlukan usaha yang keras, keahlian dan pengalaman untuk bisa meraih keuntungan. Jika tidak, maka bukan untung yang didapatkan, tetapi buntung, alias rugi sampai habis modal.

Keuntungan ada dua macam, yaitu keuntungan material dan spiritual. Keuntungan material bisa dilihat barangnya dan dihitung rupiahnya. Keuntungan spiritual tidak bisa dilihat barang dan duitnya, tapi dapat dirasakan berupa kenyamanan, kenikmatan dan kepuasan batin. Keuntungan material dan spiritual ibarat dua sisi mata uang yang harus diambil keduanya. Kadang-kadang kita berusaha hanya mengutamakan keuntungan material dengan mengesampingkan keuntungan spiritual. Hasilnya tentu bisa ditebak, yaitu berupa kesepian, ketidakpuasan, hilangnya harga diri dan perasaan tidak berguna. Contohnya: bagaimana perasaan kita jika kita mendapatkan untung dari usaha dengan mengorbankan nyawa orang lain, menyebabkan orang lain sakit atau mengalami kecelakaan; bagaimana perasaan kita jika kita mendapatkan untung besar, tetapi nama baik kita tercemar. Dalam hal ini kita merasakan bahwa ada nilai keuntungan spiritual yang hilang, yaitu merasa bersalah dan berdosa karena menghilangkan nyawa orang lain, serta merasa dikucilkan karena nama kita berbau busuk. Yang paling utama dalam mendapatkan keuntungan adalah bagaimana kita bisa mendapatkan keuntungan material dan spiritual. Untuk mendapatkan keduanya, maka dahulukan keuntungan spiritual, selanjutnya keuntungan material mengikutinya.
Dalam dunia usaha, bangsa kita termasuk bangsa yang tidak dipercaya oleh bangsanya sendiri dan juga oleh bangsa lain. Kenapa demikian? Mungkin salah satu jawabannya yang tepat, adalah karena terlalu banyak penipu bergentayangan dan terlalu banyak korban penipuan bergelimpangan, yang mengakibatkan keraguan dan sikap ekstra hati-hati untuk menangkal penipuan harus dilakukan. Barangsiapa yang lengah, maka siap-siap saja kena kemplang. Artinya, kalau keraguan dan ketidakpercayaan selalu mewarnai transaksi bisnis, maka pastilah bisnisnya kandas di tengah jalan, karena si penipu lari, dan yang ditipu bangkrut. Tentu saja biaya keraguan dan ketidakpercayaan jika dihitung secara materi menjadi sangat tinggi, karena bisa menimbulkan biaya siluman yang muncul tiba-tiba jika ada masalah, atau bisa juga menjadi usaha yang gagal total, jika masalahnya sangat besar dan tidak dapat ditanggulangi.
Contohnya: suatu kawasan perluasan kota sudah ditetapkan dalam bentuk perencanaan tata kota. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh calo tanah, investor atau pejabat yang ingin bermain, yaitu mengapling tanah terlebih dahulu dengan harga murah, kemudian menjualnya dengan harga tinggi. Semakin lama proyek tersebut terlaksana, maka harga tanah akan semakin naik, karena sudah terjadi transaksi tanah yang sama berkali-kali. Dari segi etika bisnis, jelas bisnis tersebut sudah tidak ada etikanya, karena ingin mendapatkan keuntungan dari informasi yang kacau. Bagaimana kalau proyek perluasan kota itu batal karena harga tanah yang tidak terjangkau? Tentu saja pembeli tanah yang terakhir akan rugi berat. Jika proyek perluasan kota itu dilaksanakan, tentu biayanya menjadi sangat besar yang menjadi beban masyarakat. Dalam kasus yang ekstrim, ada bupati atau gubernur yang bermain sendiri menjadi calo tanah dan sangat terpaksa berurusan dengan jaksa dan pengadilan karena kasusnya sudah tidak bisa ditutupi lagi.
Pernahkah anda mendengar berita tentang pabrik obat yang menjual obat palsu; obat dalam kemasan hanya mengandung tepung; pabrik jamu untuk stamina yang di dalam kemasannya mengandung obat kuat yang pada akhirnya bisa merusak ginjal orang; tahu dan bakso yang diawetkan dengan formalin; orang mengoplos BBM dengan cairan tertentu agar terlihat seperti solar dan bensin asli; orang menjual gas di dalam tabung yang dikentutkan terlebih dahulu; truk pasir yang “berak” di jalan; truk BBM yang “kencing” di jalan; daging limbah hotel yang sudah busuk dan diolah dengan formalin dan bumbu menjadi empal dan dendeng kemudian dijual. Kalau anda rajin nonton TV, berita seperti itu sudah menjadi menu mingguan. Inti beritanya adalah penipuan di dalam bisnis dan usaha. Masalahnya adalah si penipu tidak pernah bertobat merugikan orang lain; melalui berita, si penipu menularkan ilmunya kepada orang lain untuk bisa diterapkan secara bebas; polisi dan pemerintah selalu kalah gesit menghadang langkah penipu, karena korban selalu lebih dulu muncul daripada tindakan pencegahan; masyarakat yang ditipu selalu kecolongan sakit gigi sambil berkata “bangsat dan sialan lu!;” hukuman kepada si penipu juga tidak terlalu berat, sehingga si penipu ketagihan mengulanginya.
Saya mencoba merenung untuk mencari jawaban dari masalah tipu-menipu di dalam bisnis, yang mungkin sudah menjadi semacam peringatan merek dagang bagi pengusaha bangsa lain jika berbisnis di negara kita: “hati-hati bisnis di Indonesia, banyak penipunya!” Kenapa kita menjadi masyarakat yang susah dipercayai oleh orang lain , dan juga susah mempercayai orang lain? Jawabannya adalah karena kita kurang bertakwa. Takwa artinya mengagungkan Tuhan dan menjauhi larangannya. Takwa artinya memiliki iman yang benar, merealisasikan iman di hati dengan perkataan dan perbuatan, menjauhkan diri dari kekufuran dan perbuatan hina. Salah satu sifat orang yang bertakwa adalah memiliki kejujuran (shidiq). Kalau jujur saja tidak bisa, bagaimana kita bisa mengatakan bahwa diri kita bertakwa, karena salah satu syarat bertakwa sudah tidak terpenuhi.
Mungkin takwa yang kita lakukan baru kulitnya saja. Baru mencoba jujur kepada Tuhan. Karena kita tahu Tuhan maha pemaaf dan pengasih. Sehingga walaupun kita tidak jujur kepadaNya, maka pastilah dimaafkan. Kita banyak lupa tentang pentingnya jujur kepada diri sendiri dan orang lain. Kita juga sering lupa bahwa praktek nyata kejujuran kepada diri sendiri dan orang lain merupakan bukti yang kita tunjukkan untuk jujur kepada Tuhan.
Dalam bisnis diperlukan kreativitas. Kreativitas itu penting untuk menghasilkan produk baru dan peluang baru untuk kehidupan baru. Menipu bukanlah bentuk kreatif. Menipu tidak menghidupkan usaha, tetapi mematikannya. Termasuk mematikan dirinya sendiri dan mematikan orang lain. Orang tidak jujur pasti masuk kubur. Bukan sebaliknya!
KPO/EDISI 160/16-30 SEPTEMBER 2008

Bererong

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Di daerah-daerah miskin di pedesaan di Bali ada orang memiliki ilmu pesugihan. Ilmu itu bernama bererong. Dia adalah sejenis makhluk cahaya yang tidak tampak mata, hanya kadang-kadang saja bisa menampakkan diri menjadi bentuk ular. Bererong merupakan makhluk piaraan yang bisa membuat si pemeliharanya menjadi kaya. Pokoknya uang atau harta akan datang sendiri entah dari mana. Si pemilik bererong harus sudah melakukan perjanjian dengan dunia gelap, bahwa salah satu atau beberapa dari anak-anaknya, terutama yang paling disayang mengalami cacat dan mati.
Jika ada seseorang menjadi kaya di pedesaan, apalagi ditambah dengan kikir dan susah bergaul, biasanya dia dicurigai memiliki bererong. Tapi karena kepemilikan bererong tidak bisa dibuktikan, apalagi dengan surat-surat, maka cukuplah kabar tersebut menjadi desas-desus yang dipercaya. Apalagi jika salah satu anggota keluarga yang diduga memiliki bererong ada yang cacat atau mati muda, hal ini akan menguatkan dugaan, atau dianggap bukti sebagai kepemilikan bererong. Di masyarakat Jawa dan Sunda juga memiliki budaya ilmu bererong, namanya babi ngepet, atau Nyai Blorong. Yaitu sejenis ilmu pesugihan yang bisa menyebabkan orang menjadi kaya tanpa kerja keras.
Orang yang memiliki ilmu bererong memiliki kebiasaan keluar-masuk pasar, terutama pergi ke pasar kecamatan atau ke pasar kota. Setiap hari dia pasti pergi ke luar desa menuju pasar, entah naik ojek, angkutan, dokar, becak atau jalan kaki. Dia tidak memiliki hari libur ke pasar kecuali sakit atau berhalangan berat. Tingginya aktivitas seseorang pergi ke pasar juga dianggap sebagai bukti kepemilikan bererong. Si pemilik bererong biasanya juga memiliki toko atau warung yang selalu buka walaupun ada kenduri di tetangga. Rajinnya seseorang membuka toko lebih pagi dan menutupnya lebih malam juga dianggap bukti kepemilikan bererong.
Budaya petani di masyarakat pedesaan yang miskin ditandai dengan minimnya hubungan transportasi dan komunikasi. Setiap hari masyarakat petani pergi ke ladang dan sawah, bergaul dengan orang di lingkungan sempit yang sama, sehingga mereka memiliki pemikiran sempit, bahwa menjadi kaya adalah sesuatu yang mustahil. Karena mereka telah buktikan sendiri dengan bekerja keras membanting tulang menjadi petani dari zaman kakek kakeknya, dia tidak pernah menjadi kaya. Mereka hanya menjadi cukup makan dan bersyukur jika tidak sakit. Dan jika ada seseorang anggota masyarakat desa yang bisa menjadi kaya, tentu mereka akan curiga, jangan-jangan ada bererong di balik kantongnya.
Tiga puluh tahun yang lalu, di Bali sangat banyak ada desa miskin dan penduduk miskin. Mereka hidup terisolir di desanya, karena jalan tanah, jembatan rusak dan sarana transportasi sangat minim. Listrik dan air bersih merupakan barang mewah yang tidak ada di desa. Mereka menggunakan lampu senter atau petromaks untuk menerangi rumah di malam hari. Jika ada kenduri, selamatan, atau hajatan seni di malam hari, masyarakat menyewa generator. Air bersih untuk minum cukup diambil di kali dengan menyunggi atau menentengnya pakai belek dari seng. Sungai adalah tempat rekreasi, mandi dan buang hajat. Hidup mereka sangat miskin, tapi mereka sudah menganggap terbiasa dalam kemiskinan. Bahkan jika ada salah satu warga yang kaya, mereka bisa menjadi curiga, jangan-jangan si dia memiliki bererong. Orang-orang kaya di desa biasanya adalah tuan tanah atau kaum ningrat. Jika tuan tanah kaya sudah biasa, tapi jika orang biasa kaya bisa dicurigai.
Saya adalah orang yang paling tidak percaya dengan ilmu bererong, karena saya dari kecil dididik oleh orang tua untuk bekerja keras dan tidak percaya takhyul. Walaupun pada saat itu banyak teman-teman saya yang sangat percaya dan hati-hati dengan orang yang diduga memiliki bererong karena takut uangnya disedot, justru saya sering menantang bererong untuk hadir ke rumah saya, atau saya sering bergaul dengan orang yang diduga memiliki bererong sebagai penyelidik amatir. Kebanyakan orang yang diduga memiliki bererong bekerja sebagai pemasaran, bukan petani. Dia bekerja sebagai perantara penjualan barang atau jasa di pasar, sebagai rentenir, makelar tanah, atau jual-beli perhiasan. Mereka memiliki moto hidup yang sangat sederhana: bekerja, untung, nabung dan hidup hemat. Secara perlahan-lahan hidupnya menjadi berkecukupan dan bertambah kaya dari tahun ke tahun. Mereka menjadi orang yang berbeda di desanya.
Tiga puluh tahun kemudian, banyak orang yang diduga memiliki bererong menjadi bangkrut gara-gara salah manajemen usahanya. Ada pengusaha pemilik bererong mobil angkutan desa bangkrut total tanahnya dilelang bank gara-gara kredit macet. Ada janda kaya pemilik bererong jatuh miskin karena tanah warisan suaminya sudah habis terjual. Ada pemilik bererong yang hidupnya pas-pasan, karena uangnya habis untuk menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Ada pemilik bererong yang keluar dari penjara karena pemalsuan sertifikat tanah. Ada pemilik bererong pengusaha hasil bumi jatuh bangkrut di tangan judi dan perempuan. Sangat sedikit dari mereka yang diduga memiliki bererong berhasil mempertahankan kekayaannya. Apakah karena ilmunya sudah punah? Ternyata tidak. Karena mereka masih miskin pendidikan dan miskin wawasan.
Di abad ke 21, gara-gara pendidikan, terbukanya sarana transportasi, komunikasi, pariwisata, ilmu bererong menjadi punah. Bahkan pemuda-pemuda desa sudah tidak lagi percaya dengan bererong, kecuali mereka yang masih suka mengkhayal dan mabuk. Bahwa tanpa kerja keras, pendidikan tinggi dan pengalaman luas, duit tidak akan datang. Kerja di kapal pesiar merupakan cita-cita pemuda desa untuk cepat mengumpulkan duit dan bisa membangun rumah di desa. Banyak pemuda desa merantau ke kota bekerja di berbagai bidang agar bisa menghasilkan duit. Konsep bererong di otak pemuda sudah hilang dari memorinya.
Dalam kemajuan ilmu pengetahuan, ilmu bererong sudah mengalami transformasi menjadi ilmu ekonomi, bisnis, kepemimpinan, manajemen dan pikiran. Dia bisa dipelajari dan dilatih, sehingga buku dan pelatihannya bisa dijual laris-manis. Orang Amerika mengetahui ilmu bererong ini, sehingga bangsanya bisa menjadi kaya. Cobalah baca buku Napoleon Hill yang banyak mengulas tentang rahasia menjadi orang kaya dan bijak, dalam bukunya berpikir dan menjadi kaya. Cobalah baca buku The Key, karya Joe Vitale, yang mengungkap tentang rahasia terpendam untuk menarik apapun yang anda inginkan (terutama menarik duit). Atau bukunya T. Harv Eker, Rahasia Berpikir Jutawan, yang bisa membimbing kita menjadi ahli jutawan dalam kursus 3 hari. Ternyata inti sari ilmu bererong sudah dicuri oleh orang Amerika. Dan yang tertinggal di Indonesia hanya klenik-kleniknya saja.
Kalau kita berpikir lebih dalam, bukankah ilmu bererong itu sudah ditransformasikan menjadi duit oleh orang Amerika? Bahwa duit itu datang dari ilmu, pikiran fokus dan kerja keras. Bahwa duit itu tidak datang dari dunia kegelapan, yang kita tidak tahu asalnya, yang kita tidak tahu bagaimana cara menyimpan dan menggunakannya. Marilah kita belajar menarik duit dari Donald Trump (ahli real estate), Dale Carnegie (ahli motivasi), Bill Gates (ahli komputer), atau Jack Canfield (ahli manajemen). Mereka itu adalah gurunya ilmu bererong abad 21. Untuk menjadi kaya kita harus kerja keras dan banyak ilmu, bukan dengan klenik.
KPO/EDISI 158/AGUSTUS 2008