"Wisata Politik" Jadi Peluang Bisnis

thumbnail
"Wisata politik" yang sering diwujudkan dalam kunjungan kerja (kunker) pejabat legislatif, eksekutif dan perusahaan swasta ke berbagai daerah termasuk ke Yogyakarta, berpotensi menjadi peluang bisnis. "Potensi itu cukup besar dan bisa menjadi peluang bisnis yang prospektif," kata Ketua DPD Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DIY, M.A.Desky, di Yogyakarta, Jumat (12/6).
Menurut dia, kegiatan kunker anggota DPRD di kabupaten/kota maupun provinsi di berbagai daerah di Indonesia merupakan peluang bisnis dalam perjalanan wisata sehingga perlu direspon positif. "Dengan demikian tidak bisa disepelekan lagi potensi besar dalam usaha jasa pariwisata terkait wisata politik anggota DPRD kabupaten/kota maupun provinsi dari seluruh Indonesia," katanya.
Menurut Desky, ada sekitar 480 kabupaten/kota dan 33 provinsi di Indonesia. Jika setiap tahun ada empat kali kunker, maka jumlah kunker anggota DPRD kabupaten/kota se-Indonesia sebanyak 1.730 kali. "Jumlah tu jika ditambah kunker anggota DPRD provinsi se-Indonesia, ada sekitar 2.000 kali kunjungan. Ini menunjukkan bahwa wisata politik merupakan peluang bisnis bagi usaha jasa pariwisata," katanya.
Ia mengatakan, daerah yang favorit dijadikan tempoat kunker adalah Yogyakarta, Batam dan Denpasar (Bali). "Kalau sepuluh persen dari 2.000 kunker dengan setiap rombongan beranggotakan 20 orang mengunjungi Yogyakarta, akan ada 40.000 wisatawan yang masuk daerah ini," katanya.
Dengan jumlah wisatawan kunker sebanyak itu, berarti uang yang dibelanjakan di Yogyakarta cukup besar, dan diyakini akan membantu menghidupi pembangunan sektor pariwisata. "Jika dilihat dari pemasukan devisa negara, memang tidak ada, karena termasuk wisatawan nusantara (wisnus). Tetapi perputaran uang di daerah tujuan wisata itu cukup besar," katanya.
Dengan perputaran uang yang cukup besar itu diharapkan ada keadilan pariwisata, terutama bagi daerah tujuan wisata yang jarang dijadikan tempat kunker pihak legislatif dan eksekutif. "Wisata politik ini mestinya disikapi positif oleh para pelaku usaha jasa pariwisata di negeri ini sebagai peluang bisnis yang prospektif," kata Desky.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Bali Tawarkan Condotel Nuansa Kampung

thumbnail
Maraknya pembangunan vila, hotel dan condotel bernuansa modern di Bali, disikapi investor dengan membangun condominium - hotel bernuansa kampung, meniru model bangunan rumah tradisional di Pulau Dewata.
"Kami menyajikan suasana condotel yang berbeda, dengan harapan mampu memberikan pilihan baru yang mampu merebut minat pasar investasi dan nantinya menarik bagi tamu yang memerlukan sarana akomodasi," kata Razie Abdullah, direksi PT Dwamitra Property and Services di Canggu, Badung.
Ia mengungkapkan hal itu di sela-sela peluncuran Condotel Taum Seminyak, yang dibangun PT Dwamitra di atas lahan seluas 7.000 meter persegi di daerah Lebaksari, Seminyak, Kabupaten Badung.
Walaupun bangunannya dirancang empat lantai terdiri 90 unit kamar, namun bercorak tradisional, ruangan model tinggi dan di berbagai sudut dibuat terbuka dengan deretan taman guna menciptakan suasana indah serta sejuk.
Dengan membangun condotel yang berbeda dari model sarana akomodasi yang sudah bertebaran di Bali, Razie Abdullah berharap seluruh unit bisa segera laku dan nantinya mampu memenuhi keinginan serta kebutuhan tamu.
Mengenai nilai investasi pembangunan condotel tersebut, setiap unitnya kini memerlukan biaya rata-rata sekitar Rp 1,5 miliar, dan pembangunannya ditargetkan rampung serta mulai dioperasikan untuk tamu umum pada 2010.
Sedangkan penjualan masing-masing unit condotel, katanya, dihitung Rp 23 juta per meter persegi, sehingga untuk unit terkecil 45 meter persegi harganya lebih dari Rp 1 miliar dan yang terbesar 200 meter persegi mencapai Rp 4,6 miliar.
"Melihat perkembangan saat ini yang sudah terjual 20 persen, kami optimistis condotel dengan nuansa kampung ini seluruhnya segera terjual. Peminat dari Jakarta cukup banyak," kata Razie Abdullah.
Hal itu juga didasarkan pengalaman menangani beberapa proyek sebelumnya, yakni Apartemen Nirvana, Apartemen Senopati Suites, Villa Biu Biu Jimbaran, Villa Paya Paya (bersama grup Asiana) dan beberapa proyek perumahan kelas atas di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Pembangunan condotel tersebut ditangani arsitek Andra Matin, yang menghadirkan nuansa bersahabat dan unik, tetapi tidak meninggalkan kebutuhan privasi dengan kombinasi konsep ruang modern.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Pemkab Kediri Gencar Promosi Tarik Wisatawan

thumbnail
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kediri, Jawa Timur, gencar mempromosikan lokasi wisata di daerah itu guna menarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara. "Kami selalu memanfaatkan media, seperti elektronik maupun kerja sama dengan biro wisata, untuk menarik kunjungan wisatawan terutama asing," kata Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Kediri, Mudjianto, Minggu (14/6).
Beberapa lokasi objek wisata yang gencar dipromosikan, menurut dia, seperti kubah lava di areal Gunung Kelud (1.731 mdpl), lokasi wisata rafting di Dusun Jowah, Desa Siman, Kecamatan Kepung, lokasi wisata air terjun Irenggolo, di Desa Dolo, Kecamatan Semen, serta beberapa objek wisata lainnya.
Khusus untuk Kelud, lanjut Mudjianto, pihaknya sudah mempersiapkan beberapa aset tambahan, seperti beberapa unit mainan anak, hotel, serta beberapa fasilitas lainnya.
Rencananya, pada tahun 2009 ini, beberapa fasilitas tersebut sudah dapat terealisasi, sehingga diharapkan dapat menarik kunjungan wisatawan.
Ia mengatakan, kunjungan wisatawan ke Kelud, beberapa waktu terakhir sudah mulai berkurang. Setidaknya jumlah kunjungan hanya sekitar 600-800 orang, jika hari libur. Padahal, dulu kunjungan wisatawan mampu mencapai jumlah 1.500 pengunjung.
"Beberapa fasilitas tambahan, seperti mainan anak, akan kami bangun di `rest area` atau di sekitar lokasi parkir. Sementara, untuk hotel, kami sudah bekerja sama dengan PG Margomulyo, agar mereka ikut membangun hotel," kata Mudjianto dilansir ANTARA.
Sementara, hingga kini, pemerintah juga masih terus melakukan pembenahan akses jalan yang sempat terputus akibat longsor sekitar empat kilometer dari puncak Kelud.
Pembenahan itu dimaksudkan, selain membuat pengunjung nyaman, juga mempermudah akses, di mana lokasi jalan dapat ditempuh kendaraan roda empat.
Mudjianto juga mengatakan, pembangunan serta promosi yang gencar dilakukan pemerintah bukan hanya isapan jempol dan tidak berguna. Nyatanya, banyak kunjungan wisatawan dari mancanegara, seperti Malaysia, yang datang berkunjung ke Kelud, untuk melihat langsung fenomena alam, berupa anak Gunung Kelud.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Paket Wisata Baturaden Pertajam Ekowisata

thumbnail
Aliansi Pelaku Pariwisata Baturaden (Baturaden Tourism Stakeholder Alliance) Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menawarkan sejumlah paket wisata yang merupakan kolaborasi antara wisata alam, seni, dan tradisi masyarakat setempat.
"Selama ini kita akui, potensi wisata alam, atraksi budaya dan tradisi penduduknya masih kurang diangkat dalam ranah wisata minat khusus dan ekowisata," kata Koordinator Aliansi Pelaku Pariwisata Baturaden, Deskart Sotyo Djatmiko, di Banyumas, Minggu (14/6).
Menurut dia, pamor wisata Baturaden tidak akan pernah menjawab pola kunjungan wisatawan yang lebih dominan kepada wisata minat khusus dan ekowisata jika hanya tetap mengandalkan panorama alam.
Dengan demikian, kata dia, pamor wisata Baturaden akan dikalahkan daerah lainnya yang telah mampu menangkap peluang pasar. "Untuk itu, kami membentuk aliansi ini sebagai upaya menyatukan visi dan pandangan mengenai pembangunan dan pemasaran wisata Baturaden. Apalagi animo wisatawan yang datang ke Baturaden banyak yang berorientasi kepada wisata minat khusus dan ekowisata," katanya.
Ia mengatakan, aliansi tersebut terdiri para stakeholder pariwisata di Baturaden, yakni Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul (BBPTU), Baturraden Adventure Forest (BAF), UPT Lokawisata Baturraden, PT Perhutani Alam Wisata (Palawi), Pengelola Kampoeng Boedaja Poetjungan Ketenger, dan Paguyuban Masyarakat Pariwisata Baturraden (PMPB).
Menurut dia, aliansi telah menghasilkan sejumlah paket wisata yang mengkolaborasikan antara wisata alam, seni, serta tradisi masyarakat setempat.
Salah satu paket yang ditawarkan, kata dia, berupa kegiatan wisata selama tiga hari-dua malam dengan menginap satu malam di hotel dan satu malam di rumah penduduk desa.
Paket tersebut diawali dengan "tracking" padang rumput di BBPTU dengan menikmati susu segar dan makanan tradisional produksi masyarakat setempat yang dilanjutkan kegiatan bersepeda air di Lowakisata Baturraden.
Usai kegiatan di Lokawisata Baturaden, wisatawan diajak menuju BAF untuk mengikuti kegiatan petualangan sambil menikmati keindahan Gunung Slamet. Di tempat ini disediakan permainan riverboard, tracking hutan, serta flying fox.
Malam harinya, wisatawan disuguhi dengan kesenian tradisional berupa Lengger Banyumasan atau musik kenthongan di Desa Wisata Ketenger. Keesokan harinya wisatawan diajak menikmati keindahan alam dan budaya pedesaan serta sejumlah curug/air terjun, PLTA Ketenger peninggalan penjajahan Belanda, dan persawahan di Grumbul Pucungan, Desa Ketenger.
Wisatawan juga akan menikmati fasilitas pijat belerang di Pancuran Pitu (Pancuran Tujuh) dan menerima cendera mata untuk setiap orang. "Apabila dalam keadaan hujan akan diberikan bonus paket wisata hujan hujanan," ujar Deskart.
Menurut dia, paket wisata tersebut rencananya akan dijual dengan harga paket ekonomi Rp600 ribu per orang dan VIP Rp1 juta per orang. Jumlah peserta dalam setiap paketnya minimal 10 orang dan untuk pemesanan dapat menghubungi Aliansi Pelaku Pariwisata Baturaden di nomor 08156975763 (Deskart Sotyo Djatmiko) dan 08179412079 (Tekad Santosa).
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Pariwisata, Sektor Paling Kebal Krisis

thumbnail
Pariwisata Indonesia dinilai sebagai sektor yang paling kebal dan memiliki daya tahan paling baik terhadap krisis ekonomi. ’’Pariwisata Indonesia terbukti berdaya tahan paling kuat saat krisis dan dalam situasi seperti ini industri pariwisata dalam negeri semakin menjadi tumpuan,’’ kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar), Sapta Nirwandar di Jakarta, Selasa (16/6).
Sektor tersebut di Indonesia pada 2008 sanggup menyumbang devisa hampir Rp 200 triliun yang hampir seluruhnya terserap langsung ke sektor riil pendukung pariwisata. Sapta berharap sektor pariwisata akan tumbuh semakin positif pada tengah tahun 2009 atau periode Juli-Agustus. ’’Semoga dengan kerja sama semua pihak, Juli-Agustus bisa naik dan tumbuh positif,’’ katanya.
Meski begitu, masih ada setidaknya 10 juta orang dalam setiap harinya yang melakukan travelling (perjalanan). Jumlah itu merupakan pasar yang sangat lumayan untuk digarap. Pihaknya bertekad terus melakukan promosi baik di dalam maupun di luar negeri. Misi pemasaran ke luar negeri dilakukan di antaranya melalui keikutsertaan Indonesia dalam Korea World Travel Fair dan Riyad Travel Fair 2009.
Hingga kuartal pertama 2009, Indonesia dikunjungi 1,893 juta atau tumbuh 1,53% dibanding periode yang sama 2008. Pertumbuhan wisman 1,53% (naik 28.570) itu menunjukkan industri pariwisata Indonesia cukup imun terhadap dampak krisis ekonomi global yang saat ini tengah melanda dunia. Padahal industri pariwisata di sejumlah negara tetangga seperti Singapura, Thailand, dan Jepang pada periode yang sama mengalami pertumbuhan negatif.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Tur Perdana Ke Bukit Hexon

thumbnail
Treking Hingga Mandi Air Terjun
Hari itu Sabtu, 23 Mei 2009. Desiran angin pegunungan menyiram aroma kesejukan di sekujur tubuh. Udara pagi nan segar berhembus lembut. Canda dan tawa riang menghiasi wajah rombongan peserta Agrotour Perdana Bukit Hexon saat tiba di perkebunan stroberi Desa Pancasari, Bedugul. Dirut GN Wididana didampingi Direktur Agus Urson, Manajer Keuangan Made Ayu Lidyawati dan staf dari berbagai divisi berloncatan turun dari bus mitsubishi yang membawa mereka dari Denpasar.
Bambang H, General Manajer Bali Meru Holidays Tours & Travel Pak Oles Group didampingi Komang Abdi (43) yang menjadi tour guide berkeliling melihat budidaya tanaman stroberi milik I Made Suastika dan I Wayan Seriadi seluas 88 are. Buah stroberi tumbuh segar di atas lahan seluas 10 are yang dikelola khusus Made Suastika dengan menggunakan pupuk Bokashi Kotaku dan EM4. Sedangkan Wayan Seria menanam 7600 pohon stroberi dengan pemupukan organik EM4 yang diperkenalkan Pak Oles di atas lahan seluas 18 are. “Setelah 3 bulan memakai pupuk Bokashi dan EM4, baru terlihat hasilnya. Tanaman stroberi yang pakai pupuk Bokashi lebih subur, buah lebih banyak dan bisa dibuat perbandingan buahnya dari segi rasa. Beda jauh dengan tanaman stroberi di sebelah yang belum pakai pupuk Bokashi,” ungkap Suastika kepada peserta tur yang diizinkan mencicipi buah stroberi miliknya.
Setelah berpamitan, bus tur kembali bergerak menuju areal agrowisata Bukit Hexon, sebuah bukit hijau di ketinggian 1320 m (dpl), 60 km arah barat Denpasar, tepatnya di Desa Lemukih, Sawan, Buleleng. Jalan berkelok penuh tanjakan dihiasi pepohonan hijau di sisi jalan membawakan sensasi tersendiri. Akhirnya rombongan tiba di dusun Tempek Lobong, sebuah dusun yang terletak di kaki Bukit Hexon. Bus terus merangkak naik menuju bukit yang dulu bernama asli Bukit Sandeh.
Di Bukit Hexon yang berudara sejuk, rombongan seakan tak sabar bergegas turun menghirup udara segar sepuas-puasnya. Dengan ramah rombongan disambut koordinator pembangunan Bukit Hexon Gede Eddy Sukawiratha (30) dan kepala kampung Tempek Lobong, Made Yasa (48). Tak lama berselang, pengelola Bukit Hexon menghidangkan teh panas dan kopi hangat. Peserta tur yang duduk lesehan di bale bengong menyeruput minuman dengan penuh rasa terima kasih sambil mencicipi ubi rebus.
Gede Eddy Sukawiratha pun mulai berceritera awal pembangunan Bukit Hexon, upaya warga secara swadaya membuka akses jalan hingga budidaya berbagai tanaman obat, garden tracking dan lintasan gasstrack otomotif yang membalut Bukit Hexon sepanjang 2,4 km.
Ajang treking pun dimulai. Rombongan tur menapak jalan setapak menuju puncak Bukit Hexon. Mata menjadi segar melihat berbagai tanaman obat dan markisa tumbuh subur. Di puncak bukit, terdapat pura serta pohon beringin tua yang besar dan teduh. Rasa lelah dan capek hilang seketika. Rombongan pun duduk bersila di hamparan rumput hijau sambil meditasi napas yang dipimpin langsung Pak Oles. Semua rutinitas hidup seperti dikubur, kecemasan lenyap, kekhawatiran sirna…Ya itulah sebabnya nabi, para rahib dan pertapa selalu mendaki bukit untuk bertemu Sang Pencipta.
Usai makan siang, rombongan berangkat menuju objek wisata air terjun kembar lima di Desa Sekumpul, 30 menit dari Bukit Hexon. Sungguh sebuah pemandangan yang menakjubkan. Ada lima sumber air terjun. Untuk sampai ke sumber air terjun, rombongan harus menuruni tangga yang bertepikan jurang menganga. Bukannya rasa takut, justru kian 'memancing' adrenalin para peserta tur untuk menguji ketangkasan pribadi dan ketangguhan otot kaki. Decak kagum dan aroma kengerian bersatu lekat dengan tekad untuk merasakan langsung butir-butir air terjun. Sedikit kesalahan saja bisa berakibat fatal. Beruntung sepanjang tangga ada pegangan besi yang kokoh.
Setelah puas menikmati percikan air terjun yang mengandung mineral berenergi, rombongan pun kembali ke Denpasar membawa segudang pengalaman dan sensasi keindahan alam yang ditawarkan dalam paket wisata Agrotour Bukit Hexon. (Nia)

Paket Wisata Agrotour
1. Denpasar – Pupuan – IPSA – Bukit Hexon – Bedugul – Denpasar / Tidur 1 malam di guest house Bukit Hexon.
2. Denpasar – Bedugul – Bukit Hexon – IPSA – Pupuan – Denpasar / Tidur 1 malam di villa IPSA Desa Bengkel.
3. Denpasar – Bedugul – Bukit Hexon – Denpasar / One Day Tour.
4. Denpasar – Pupuan – IPSA – Bedugul – Denpasar / One Day Tour.

Jadwal Bukit Hexon Tour
07:40 AM = Berangkat dari Denpasar
09:00 AM = Kebun Strawberry Bedugul
09:40 AM = Menuju Bukit Hexon
10:15 AM = Coffe break di Bukit Hexon
10:40 AM = Treking di areal Bukit Hexon
12:00 AM = Makan siang di Bukit Hexon
01:00 PM = Berangkat ke Air Terjun Sekumpul
04:00 PM = Pulang ke Denpasar mampir di Pasar Bedugul
06:00 PM = Tiba di Denpasar

NB: Harga termasuk:
- Mobil + BBM + Driver + parkir fee
- Coffe break
- Tiket obyek wisata
- Guide
- Makan siang

Harga tidak termasuk:
- Asuransi
- Obat-obatan pribadi
- Tip kepada tour guide
- Pengeluaran bersifat pribadi
Reservation: Bali Meru Holydays, Jl Letda Kajeng No 21B, Denpasar, Tlp/faks (0361-263862)

KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Pak Oles: 3 Tahun Lagi Agrotour Dicari Orang

thumbnail
Paket Wisata Bukit Hexon Agrotour
Pasar wisata di Bali amat beragam. Maklum Bali menjadi destinasi wisata paling favorit di Indonesia. Bahkan, Bali bisa kita juluki sebagai “Kampung Global Mini.” Manusia dari berbagai belahan dunia dengan beragam budaya, etnis, bahasa dan agama ada di Bali. Tak heran bila praktisi wisata di Bali aktif menawarkan berbagai paket wisata kreatif kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Dengan visi pemberdayaan potensi daerah terpencil, Dr Ir GN Wididana, M.Agr menggagas “proyek wisata” agrotour. Perintis pertanian organik berbasis teknologi effective microorganisms (EM) di Indonesia itu berkeinginan menawarkan paket wisata alam berbasis pertanian organik. Wisatawan selain menikmati pemandangan alam, juga dapat melihat langsung sentra-sentra pengembangan pertanian organik yang digagas Pak Oles.
Tempat-tempat wisata yang dirintis Pak Oles, julukan pria kelahiran Singaraja itu, jauh dari glamoritas dan hiruk pikuk. Seperti Bukit Hexon yang jauh terpencil di Desa Lemukih, Kecamatan Sawan, Kabupaten Buleleng Bali utara. Amat kontras dengan Garuda Wisnu Kencana di Bukit Pecatu, Bali selatan yang sudah biasa dikunjungi wisatawan. Demikian pula areal pertanian organik stroberi di kawasan Desa Pancasari Bedugul yang tidak seglamor pantai Kuta.
Ada juga Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) di Desa Bengkel, Busungbiu, Singaraja. Tempat ini telah menjadi rujukan para petani dari Sabang - Merauke, pelajar dan akademisi kampus dalam dan luar negeri untuk mempelajari teknik dan aplikasi teknologi EM di bidang pertanian, peternakan, dan pengolahan limbah. Desa Bengkel sendiri merupakan sentra industri obat-obatan tradisional dan produsen pupuk organik Bokashi Kotaku.
Sedangkan pengembangan areal Bukit Hexon sebagai kawasan agrowisata dirintis Pak Oles dengan visi kerakyatan. Upaya pengembangan agrotour itu semata-mata untuk pengembangan dan pemberdayaan potensi daerah-daerah terpencil yang selama ini jauh dari sentuhan akses pembangunan. “Kegiatan agrotour ini belum banyak berkembang di Bali. Saya yakin dua atau tiga tahun lagi paket wisata agrotour akan dicari banyak orang. Untuk sementara kami menawarkan paket wisata agrotour ini kepada para pegawai kantoran,” urai Pak Oles.
Bukit Hexon yang dulunya dikenal sebagai bukit Sandeh perlahan-lahan disulap menjadi areal agrowisata yang puncaknya diresmikan oleh Mantan Menham/Pangab Jend. TNI (Purn) H Wiranto. Siapa sangka, penduduk di kaki bukit yang jauh dari lalu lintas informasi kini mulai memasuki era keterbukaan. Hampir setiap pekan, ada tamu yang berkunjung ke bukit seluas 8 hektar tersebut.
Perlahan namun pasti, pembangunan sarana agrowisata mulai berjalan. Setelah akses jalan terbuka dan diaspal, pendirian bangunan fisik mulai dilakukan. Di antaranya pembangunan bale bengong, rumah panggung untuk penginapan (guest house) dari gelebek dan fasilitas MCK. Sebelumnya bersama warga setempat, Pak Oles berhasil mengalirkan air dari mata air di sisi Bukit Hexon yang kini dikonsumsi masyarakat sekitar.
Kehidupan penduduk desa yang miskin menurut Pak Oles bukan karena ketiadaan potensi. Sebaliknya desa-desa di kawasan Bukit Hexon memiliki potensi pertanian yang belum digarap optimal. Di antaranya peternakan sapi, budidaya tanaman kopi dan stroberi. Saat ini yang paling dirasakan masyarakat setempat adalah kehadiran produk Kopi Bubuk Bukit Hexon. Hasil kopi mereka sudah bisa dipasarkan berkat kerjasama dengan Pak Oles. (Nia)
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Laut Sawu Jadi Taman Nasional Perairan

thumbnail
Pemerintah resmi menetapkan 3,5 juta hektar perairan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi Taman Nasional Perairan (TNP). ‘’Ini akan memberikan peningkatan bagi perekonomian masyarakat pesisir dan juga daerah. Juga menjadi sumbangan bagi anak dan cucu kita,’’ kata Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi di Manado.
Penetapan ini melengkapi kawasan konvervasi laut yang telah mencapai 10 juta hektar, sehingga sekarang menjadi 13,5 juta hektar. Kawasan konvervasi tersebut berada di delapan provinsi mulai dari provinsi NTT, Sulawesi Utar, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, DKI Jakarta, Papua Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara. Dan delapan kabupaten yakni Raja Ampat, Berau, Wakatobi, Kaimana, Pesisir Selatan Sumatera Barat, Sorong dan Alor.
Penetapan TMP Sawu ini merupakan komitmen pemerintah Indonesia untuk melaksanakan konvervasi jangka panjang, dimana pada tahun 2010 ditargetkan luar kawasan konservasi laut mencapai 10 juta hektar dan pada 2020 mencapai 20 juta hektar. Sementara Gubernur NTT Frans Leburai mengatakan, ada 566 pulau di perairan Laut Sawu yang juga menjadi lintasan berbagai jenis paus, serta tiga jenis penyu.
Penetapan Laut Sawu mencakup luas lebih dari 3,9 juta hektar. Ia sendiri menegaskan perlu dirumuskan pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) yang lebih menunjang kesejahteraan masyarakat dengan cara-cara yang lestari serta menghormati kearifan lokal. Pemerintah pusat hendaknya membantu Pemda untuk menginformasikan Taman Nasional Perairan Laut Sawu terutama di mata internasional.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Jelang Pilpres, Pariwisata Indonesia Garap Pasar Domestik

thumbnail
Menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Juli mendatang, pariwisata Indonesia difokuskan garap pasar domestik atau pilar "inbound". "Menjelang Pilpres kami akan memperkuat jumlah kunjungan wisatawan agar tidak turun," kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Rabu (13/5).
Pihaknya berkonsentrasi menggarap pasar domestik mengingat beberapa pasar pariwisata Indonesia utama selama ini sedang digempur krisis finansial global seperti Jepang, Korea Selatan, dan Singapura. "Memang kondisi sekarang sedang sulit, Amerika Serikat juga babak belur termasuk Eropa," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap posisi jumlah kunjungan wisman di Indonesia tetap stabil bahkan ditargetkan meningkat sampai April 2009.
"Kita harapkan posisi kita sampai April bagus. Apalagi April diperkirakan naik itu berarti plus tidak defisit. Juni-Juli kita harapkan plus-plus. Dan kalau itu terjadi target kunjungan 6,5 juta wisatawan tahun ini akan tercapai," katanya.
Ia menegaskan, jika kondisi sedang krisis seperti saat ini, sudah saatnya Indonesia memperkuat pasar domestik untuk mensubstitusi menurunnya pilar `outbound` (luar negeri).
Pihaknya akan mengupayakan berbagai hal di antaranya dengan mengadakan pameran untuk konsumen termasuk juga merancang paket perjalanan wisata domestik yang selama ini belum terlampau populer.
Jumlah kunjungan wisman ke Indonesia secara kumulatif meningkat pada periode Januari-Maret 2009 dibandingkan periode yang sama pada 2008.
Pada Januari 2009 tercatat jumlah wisman yang berkunjung 474.930 naik 8,44 persen dibandingkan tahun lalu. Februari terjadi penurunan sebanyak 9,43 persen dari 465.449 pada 2008 menjadi hanya 421.555. Pada Maret wisman yang berkunjung 511.314 atau naik 1,85 persen dibandingkan tahun lalu yang hanya 502.041 wisman.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kinerja Polisi Pariwisata Rendah

thumbnail
Ketidaktanggapan dalam menyelesaikan masalah dan ketidakramahan, adalah dua penyebab utama ketidakpuasan penduduk lokal terhadap kiprah polisi pariwisata (Polpar) di Pulau Dewata.
Dari kenyataan itu, menunjukkan bahwa kinerja Polpar masih rendah dilihat dari aspek kemampuan dalam mencegah kejahatan serta peningkatan rasa aman dan nyaman, demikian terungkap dalam acara penelitian tahap akhir jajak pendapat tentang polisi pariwisata di wilayah Bali, di gedung Rupatama Polda Bali di Denpasar, Jumat (15/5).
"Dari segi jumlah, keberadaan Polpar memang masih sedikit yakni 388 personel. Untuk ke depannya, kita masih harus dilakukan pembahas, sehingga keberadaan polisi `turis` itu sesuai dengan harapan semua pihak," kata Direktur Pengamanan Wisata Polda Bali Kombes Pol I Gusti Made Adhi S Putra.
Sementara Komisaris Polisi Jepang, Takeuchi Naoto, mengatakan selama lima tahun kerja sama Japan International Cooperation Agency (JICA) dengan Kepolisian Republik Indonesia dalam pengamanan pariwisata, sudah ada banyak kemajuan dibanding dengan hasil penelitian sebelumnya.
Menyangkut keberadaan Polpar, Naoto menyebutkan sejauh ini masyarakat belum begitu banyak yang tahu. Untuk itu, Polpar perlu lebih mendekatkan diri ke masyarakat, sekaligus mampu melakukan upaya pengamanan yang lebih baik.
Di samping itu, tulis reporter ANTARA, kemampuan Polpar juga harus terus ditingkatkan melalui pelbagai pelatihan-pelatihan, terutama kemampuan dalam menguasai bahasa asing, ucapnya. Hadir dalam acara penelitian jajak pendapat tersebut tampak Wakapolda Bali Brigjen Pol Ketut Adria dan sejumlah petugas dari JICA, Kapoltabes Denpasar Kombes Pol Alit Widana serta para Kapolres se-Bali.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

6 Desa Wisata Tidak Beraktivitas Lagi

thumbnail
Sebanyak enam dari 39 desa wisata di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kini tidak beraktivitas lagi sehingga tidak ada agenda acara yang disiapkan untuk menyambut kedatangan wisatawan.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Sleman, Haryono di Yogyakarta, Jumat (15/5), mengatakan saat mendata desa wisata di Sleman pihaknya menemukan enam desa yang aktivitasnya tidak terlihat lagi, bahkan ada yang sama sekali tidak memiliki kegiatan apa pun.
Desa wisata yang tidak beraktivitas dan cenderung "mati suri" itu antara lain desa wisata Sendari, Pajangan, Grogol, Candi Abang dan Ngamboh. Cukup disayangkan jika desa wisata tersebut tidak lagi beraktivitas terkait upaya promosi untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke desa itu," katanya.
Padahal, kata dia, desa-desa itu punya potensi pariwisata yang bisa dijual kepada wisatawan. “Saya berharap desa wisata tersebut dapat bangkit lagi dan bersama-sama pengelola serta warga setempat menghidupkan kembali kegiatan desa dan menawarkannya sebagai objek wisata alternatif," kata Haryono yang juga Ketua Pengelola Desa Wisata Ketingan Sleman.
Menurut dia, dalam mengembangkan desa wisata, peran masyarakat dan tokoh desa menjadi dominan, karena itu pengelola desa hendaknya melibatkan mereka.
Ia berharap para pengelola dan warga setempat bersedia menghidupkan kembali kegiatan di desa wisata itu, apalagi enam desa wisata tersebut memiliki potensi yang berbeda dengan desa wisata lain di Sleman.
Prospek desa wisata di Sleman cukup bagus dan jika dikembangkan dengan baik akan menjadi objek wisata alternatif di DIY. Selain itu, berkembangnya desa wisata berdampak pula pada peningkatan pendapatan warga setempat. "Warga bisa menyewakan rumahnya menjadi `home stay` atau membuka warung makan sehingga warga di sekitar desa wisata dapat meningkatkan kesejahteraannya," katanya dilansir ANTARA.
Ia mencontohkan, desa wisata Ketingan, Tirtoadi, Mlati, Sleman selama 2008 dikunjungi lebih dari seribu wisatawan termasuk wisatawan mancanegara (wisman)..
Soal promosi, kata dia, Forum Komunikasi Desa Wisata di Kabupaten Sleman telah menyebarkan `leaflet` ke pompa bensin, terminal bus dan tempat umum lainnya. Hasilnya, jumlah pengunjung di bebrapa desa wisata di Sleman mencapai lebih dari seribu orang khususnya pada hari libur akhir pekan atau libur lebaran. "Saya sering menerima telepon dari Jakarta. Sambutan mereka terhadap desa wisata di Sleman cukup bagus," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Philip Kotler-Hermawan Kartajaya Duta Pariwisata Indonesia

thumbnail
Dua ahli marketing ternama, Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya segera dinobatkan sebagai Duta Pariwisata Indonesia. "Kami akan menganugerahkan pin emas Visit Indonesia kepada Philip Kotler dan Hermawan Kartajaya," kata Direktur Jenderal Pemasaran Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Sapta Nirwandar, di Jakarta, Rabu pekan lalu.
Philip Kotler selama ini kondang dengan sebutan "The Father of Modern Marketing" (Bapak Pemasaran Dunia), sedangkan Hermawan Kartajaya memiliki julukan "One of 50 Gurus who have shaped the future of marketing" (Salah satu dari 50 guru yang membentuk masa depan pemasaran).
Keduanya akan disemati pin sebagai Duta Pariwisata Indonesia oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik dan rencananya akan disaksikan langsung oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. "Rencananya penyematan pin akan dilaksanakan pada 27 Mei 2009 pukul 19.00 WIB di Museum Nasional, Jakarta," katanya.
Sapta mengatakan, pengangkatan kedua tokoh menjadi duta pariwisata Indonesia berdasarkan pada antusiasme keduanya dalam memasarkan pariwisata Indonesia pada setiap "event" komunitas marketer se-dunia. "Selain itu, juga merupakan bagian dari strategi pemasaran pariwisata horizontal," katanya seperti ditulis ANTARA.
Tahun ini pihaknya menggunakan strategi promosi "prominent person" (orang terkemuka) untuk memperluas pemasaran pariwisata Indonesia.
Pihaknya berharap kedua tokoh itu dapat memperkenalkan pariwisata Indonesia kepada dunia luas sehingga diharapkan semakin banyak wisman berkunjung.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Tiga Gili Akan Dikunjungi Wartawan Malaysia

thumbnail
Objek wisata Gili (pulau kecil) Gili Terawangan, Gili Meno, dan Gili Air di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu objek yang akan dikunjungi 30 wartawan Malaysia. "30 wartawan dan sejumlah Biro Perjalanan Malaysia akan berkunjung ke Lombok, NTB pada 30 Mei hingga 2 Juni 2009 untuk melihat berbagai objek wisata di daerah ini," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB, Lalu Gita Ariadi, Jumat (15/5).
Objek wisata tiga gili ramai dikunjungi wisatawan mancanegara maupun nusantara karena keindahan alam bawah lautnya, terutama dengan adanya blue coral atau karang biru merupakan spesies langka.
Menurut penelitian, keindahan karang biru di dunia ini hanya bersisa di dua tempat, yakni di Indonesia dan Laut Karibia. Numun kini terumbu karang yang masuk kategori karang langka tersebut terancam rusak akibat seringnya perahu nelayan maupun kapal-kapal pesiar membuang jangkar di perairan pantai di objek wisata tiga gili yang menjadi area tumbuhnya karang biru.
Untuk menjaga lelestarian karang biru tersebut dibangunnya jetty (dermaga) di tiga gili tersebut, maka kapal pesiar maupun para nelayan diharapkan tidak lagi membuang jangkar di laut.
Pemandangan alam bawah laut khususnya terumbu karang yang merupakan salah satu daya tarik wisata di pulau kecil itu bisa diselamatkan dan objek wisata ini tetap menjadi "magnet" untuk menyedot wisatawan berkunjung ke NTB.
Pembangunan jetty di tiga gili itu berkaitan dengan upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata NTB untuk menyukseskan program nasional Visit Indonesia 2008.
"Untuk menyukseskan program tersebut, NTB menargetkan angka kunjungan wisatawan sebanyak 600.000 orang, sementara tahun 2012 ditargetkan sejuta kunjungan," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Guide Harus Cerdas Jual Yogya

thumbnail
Pemandu wisata (guide) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus cerdas menjual objek wisata Yogyakarta kepada wisatawan mancanegara (wisman) sehingga diharapkan mereka tertarik dan terkesan mengunjungi daerah ini. "Pemandu wisata juga harus mampu menceritakan kondisi objek wisata dengan cara yang menarik, jangan monoton seperti selama ini," kata Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa) Indonesia, Sarbini,di Yogyakarta, Kamis pekan lalu.
Pemandu wisata perlu menceritakan sisi lain dari yang selama ini telah diceritakan kepada wisman agar mereka tidak jenuh terhadap objek wisata tersebut. "Yogyakarta memiliki banyak objek wisata yang dapat dijual kepada wisman asalkan pemandu wisata mampu mengangkat cerita yang ada di balik objek wisata tersebut dengan cara menarik," katanya.
Misalnya, kata dia, kawasan alun-alun ttara Yogyakarta bisa menjadi objek wisata sendiri jika dikemas dalam cerita yang menarik. Selama ini alun-alun hanya diceritakan sebagai bagian milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tetapi belum diungkapkan filosofi yang terkandung di dalamnya.
Menurut dia, mestinya alun-alun utara diceritakan sebagai bagian filosofi pemerintahan Kerajaan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Jadi bukan hanya tanah lapang yang digunakan untuk kepentingan keraton. "Lapangan Tiananmen di Beijing Cina saja mampu menyedot banyak wisatawan, padahal hanya lapangan biasa, dan terkenal setelah terjadinya tragedi berdarah yang menimpa aktivis demokrasi di negeri itu," katanya.
Ia mengatakan, para pemandu wisata merupakan ujung tombak menjual objek wisata di DIY dan diharapkan mampu membuat wisatawan untuk kembali mengunjungi daerah ini. "Pemandu wisata perlu setiap saat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan memandu sehingga wisatawan yang datang mengunjungi objek wisata di DIY selalu puas dan terkesan," katanya.
Menurut dia, peran pemandu wisata penting dalam menjual objek wisata di DIY, namun masih perlu terus dipromosikan dengan gencar baik di dalam maupun luar negeri, meski DIY sudah dikenal sebagai daerah tujuan wisata. "Promosi tersebut bertujuan mengingatkan dan mengenalkan kembali serta memulihkan citra pariwisata DIY sebagai destinasi pariwisata unggulan," katanya.
Menurut dia, meski DIY sudah lama dikenal sebagai daerah tujuan wisata unggulan, promosi pariwisata tetap diperlukan untuk menarik minat wisatawan mengunjungi daerah ini. "Jika tidak dipromosikan lagi secara gencar, DIY sebagai tujuan wisata akan semakin ditinggalkan dan dilupakan. Apalagi daerah tujuan wisata lain di Indonesia terus menggencarkan promosi," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Wisata Perkawinan Diminati Turis Asing

thumbnail
Paket wisata perkawinan dan kesehatan di Bali memiliki prospek yang cerah untuk terus dikembangkan karena akhir-akhir ini banyak diminati oleh turis asing.
Kepala Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kepariwisataan Universitas Udayana, Dr. Ir. Agung Suryawan Wiranatha, MSc, berharap, bukan hanya kalangan swasta, tapi pemerintah juga ikut menfasilitasi pengembangan wisata perkawinan dan kesehatan tersebut.
"Misalnya pemerintah melakukan `road show` ke luar negeri untuk berpromosi. Pemerintah ikut berpromosi bahwa Bali sangat cocok untuk menggelar pesta perkawinan. Saya kira semua fasilitas tersedia di hotel-hotel di Bali, termasuk untuk perkawinan bernuansa agama," ujarnya.
Ia menjelaskan, selama ini umumnya wisatawan mancanegara itu banyak melakukan pesta perkawinan di pantai. Mereka menggelar pesta di Bali hanya untuk "mengejar" suasananya di pantai, sedangkan adatnya tetap sesuai dengan yang ada di negaranya masing-masing. "Paket ini menurut saya perlu digarap secara serius karena jumlah wisatawan yang datang cukup banyak. Mereka biasanya menggelar pesta perkawinan dalam grup," ujar Agung Suryawan.
Mengenai wisata kesehatan berupa spa, dalam beberapa tahun terakhir juga terasa banyak peminatnya, bahkan bisa dikatakan saat ini sedang "booming" di Bali. "Boleh dikatakan saat ini Bali merupakan pusat spa internasional. Wisatawan asing tertarik dengan spa di Bali yang menggunakan bahan-bahan tradisional berupa rempah-rempah yang diambil dari tradisi Bali dan Jawa. Wisatawan asing juga tertarik dengan pijat dan lulur," katanya.
Menurut dia, paket wisata lain yang perlu dikembangkan di Bali adalah kapal pesiar. Saat ini, paket wisata tersebut masih belum berjalan secara kontinyu dan seringkali hanya "muncul tenggelam". "Bali ini belum memiliki pelabuhan memadai untuk wisata ini, kecuali kalau di Padang Bay sudah selesai dibangun dermaga. Biasanya paket wisata semacam ini hanya mampir di Bali setelah mereka keliling dunia. Mereka biasanya hanya turun siang hari dan malamnya kembali ke kapal," ujar dia.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Festival Kuliner Jatim Di Cito

thumbnail
Oleh: Musyawir
Jawa Timur telah lama terkenal dengan ragam kulinernya yang khas, penggemarnya pun tersebar di seantero negeri, bahkan mancanegara. Melihat besarnya potensi pasar tersebut, kini pusat belanja City of Tomorrow menjalin kerja sama dengan Citibank untuk menciptakan wisata kuliner ala Jawa Timur, yang dirangkai dalam program Cito-Citinak Food Festival mulai Jumat (16/4) sampai 17 Juni 2009. "Kegiatan ini merupakan apresiasi bagi pengunjung Cito yang selama ini berbelanja di sini. Untuk itu, kami menyapa dan mengajak mereka untuk ikut meramaikan program ini," kata General Manager Cito, Riza I Wibowo, di Surabaya.
Ia menyatakan bisnis makanan tak mungkin terimbas krisis ekonomi saat ini. "Makan adalah kebutuhan vital bagi manusia untuk melanjutkan hidupnya," katanya.
Ia optimistis, programnya saat ini akan mendatangkan banyak pengunjung. "Bisnis makanan selalu terserap pasar dan orang terus membutuhkannya," katanya.
Sebenarnya, kata dia, wisata kuliner tersebut bisa ditemui di setiap sudut mal di Surabaya. Namun, selama ini pengelola mal hanya menyediakannya di "foodcourt". Bahkan, sajian di sana nyaris tanpa konsep yang khas atau sesuai asal makanan yang ditawarkan ke konsumen. "Memang, selama ini hampir setiap pusat perbelanjaan di Surabaya memiliki `foodcourt` dan gerainya memiliki kemiripan antara mal satu dengan lainnya," katanya.
Untuk itu, lanjut dia, diperlukan langkah kreatif dari setiap manajemen gedung mal itu terhadap program "foodcourt" nya, sehingga masyarakat yang datang mendapatkan manfaat berbeda dari penampilan mal lain.
Melalui Food Festival ini,masyarakat bisa makan sepuasnya dan membayar semaunya. "Selain itu, dalam Food Festival ini, kami tidak hanya mengundang masyarakat menikmati beragam masakan. Namun, juga mengedukasi tentang wisata kuliner khas Surabaya dan Jawa Timur," katanya.
Tingkatkan Volume Pengunjung
Ia optimistis, program "Food Festival" yang diadakan juga untuk menyambut program Surabaya Shopping Festival ini bisa meningkatkan pengunjung 25-30 persen, dibandingkan hari biasa tanpa program. "Untuk memanjakan pengunjung, Food Festival tersebut diikuti 18 restoran dengan program makan sepuasnya dan bayar semaunya dan 20 restoran dengan program `buy one get one`. Total jumlah tenantnya mencapai 50 gerai," katanya.
Sampai saat ini, kata dia, jumlah pengunjung Cito ketika hari biasa berkisar antara 15 ribu orang. Namun, saat akhir pekan dan libur nasional bisa meningkat menjadi 20 ribu orang. "Biasanya, hampir 56 persen pengunjung Cito berasal dari Surabaya, selebihnya menyebar dari Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, dan Mojokerto," katanya.
Terkait keterisian di Cito, tambah dia, kini sekitar 70 persen. "Pada akhir tahun ini, diharapkan meningkat menjadi 85 persen. Selain itu, kami juga akan menambah tenant makanan dalam waktu dekat," katanya.
Hari Jadi Surabaya Ke-716
"Promotion Head" Cito, Dorothe Novita, mengatakan, hari ini Citibank mengumumkan keikutsertaannya dalam meramaikan Surabaya Shopping Festival 2009. Acara tersebut merupakan rangkaian perayaan hari jadi kota Surabaya ke-716 yang jatuh setiap tanggal 31 Mei. "Sekaligus, menjadi ajang promosi untuk wisatawan domestik dan mancanegara agar semakin mengenal budaya, hasil kerajinan, dan makanan asli Surabaya," katanya.
Ia melanjutkan, sebagai ibukota Jatim dan kota kedua di Indonesia, Surabaya termasuk pusat bisnis dan keuangan terbesar di negeri ini.
"Untuk menarik kunjungan wisatawan dalam `Surabaya Shopping Festival`, sebanyak 15 mal di Surabaya akan berpartisipasi dengan memberikan diskon sampai dengan 70 selama bulan Mei 2009," katanya.
"Vice President Card Business Manager Citibank" Jawa Timur, Djoesianto Lukas, menjelaskan, partisipasi dalam kegiatan ini lebih pada penguatan kepercayaan "customer" dan meningkatkan kepuasan masyarakat. "Dalam acara ini, kami ingin memberikan nilai tambah bagi nasabah. Selain bisa mengikuti makan sepuasnya dan bayar semaunya, dengan menggunakan kartu kreditnya mereka mendapat diskon 50 persen untuk `Food and Beverage` di CiTo," katanya.
Ia menerangkan, festival ini merupakan kesempatan menikmati belanja hemat dan berkualitas bagi warga Surabaya dan wisatawan. "Untuk itu, `Food Festival` dan `Surabaya Shopping Festival` yang dicanangkan Pemkot Surabaya sangat butuh dukungan dari berbagai pihak," katanya. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Wisata Sejarah Malang Sepi Pengunjung

thumbnail
Wisata sejarah terutama ke museum Mpu Purwa yang berlokasi di kawasan Mojolangu Kota Malang dan mengoleksi benda-benda sejarah seperti arca dan situs itu sama sekali tak diminati wisatawan, baik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Menurut Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, Rr Diana Ina WH, selama kurun waktu 2008 sama sekali tak ada kunjungan wisata yang tercatat di museum tersebut.
Padahal, katanya, koleksi museum Mpu Purwa cukup banyak dan mampu menambah wawasan sejarah para wisawatan. "Entah kenapa belum diminati wisatawan," katanya.
Kondisi di Museum Mpu Purwa itu berbeda sekali dengan lokasi-lokasi wisata lainnya seperti Taman Rekreasi (TR) Senaputra, Tlogomas Permai dan Taman Rekreasi Kota (Tarekot) yang jumlah kunjungannya mencapai ratusan ribu.
Berdasarkan data dari Disbudpar Kota Malang, selama semester pertama tahun 2008, kunjungan wisata di daerah itu mencapai 240.250 orang dengan rincian 239.907 adalah wisatawan domestik dan 343 lainnya adalah wisatawan mancanegara.
Dari lima obyek wisata yang sebenarnya menjadi andalan Kota Malang yakni Tlogomas Permai, Museum Brawijaya, Tarekot, TR Senaputra dan museum Mpu Purwa, kata Diana, hanya museum sejarah Mpu Purwa saja yang angka kunjungan wisatawannya nol.
Museum sejarah Mpu Purwa yang mengoleksi 121 arca dan situs penting cikal bakal berdirinya kerajaan Kanjuruhan dan Gajayana beserta peninggalannya itu berlokasi di kawasan Kelurahan Mojolangu Kecamatan Lowokwaru yang sulit dijangkau kendaraan umum.
Gedung museum memang belum representatif, karena hanya memanfaatkan beberapa bekas ruang kelas SDN Mojolangu II, sehingga tidak terlihat sama sekali kalau bangunan tersebut adalah museum yang menyimpan benda-benda sejarah.
Ketika jabatan wali kota masih dijabat Suyitno dan dilanjutkan oleh Peni Suparto pernah digagas lokasi museum sejarah berdampingan dengan gedung perpustakaan kota yang berlokasi di Jalan Ijen agar mudah dijangkau masyarakat.
Selain 121 situs dan arca maupun prasasti yang tersimpan sebagai koleksi museum Mpu Purwa, masih banyak peninggalan sejarah yang tercecer dibeberapa lokasi terutama di kawasan Merjosari, Dinoyo dan Tlogomas, dimana kawasan itu pernah berdiri kerajaan Gajayana dan Kanjuruhan.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Turis Australia Belum “Lirik” Luar Bali

thumbnail
Sekitar 70 persen wisatawan Australia yang datang ke Indonesia selama ini hanya mengunjungi Bali dan belum "melirik" daerah-daerah lain di Indonesia walaupun banyak tempat wisata menarik lain di luar Pulau Dewata, kata Direktur Promosi Luar Negeri Depbudpar, I Gde Pitana.
Untuk menarik kunjungan wisatawan Australia pada 2009 yang ditargetkan sebesar 480 ribu orang, para pemangku kepentingan industri pariwisata di daerah-daerah di luar Bali perlu memahami karakteristik pasar Australia yang dinamis, katanya pada acara misi penjualan pariwisata Indonesia di Brisbane 16 April.
Beberapa daerah kunjungan wisata menarik di luar Bali yang layak dikunjungi adalah Raja Ampat di Papua dengan pesona bawah lautnya, Pulau Komodo, Bunaken (Sulawesi Utara), dan Danau Toba (Sumatera Utara).
Bagi wisatawan Australia yang menggemari wisata spa misalnya, mereka tidak hanya dapat menikmatinya di Pulau Bali yang sudah menjadi "ibukota" spa dunia tetapi juga di kota-kota lain seperti Yogyakarta dan Surabaya.
Namun kemampuan daerah lain di luar Bali untuk menarik para wisatawan Australia ini menuntut kerja dan pemahaman yang baik tentang karakteristik pasar wisata negara itu, katanya.
Dilihat dari aspek keamanan, Pitana mengatakan, Indonesia sudah diakui komunitas dunia sebagai negara yang aman, terbukti dari banyaknya kegiatan internasional yang diadakan di Indonesia berlangsung dengan aman. Bahkan Amerika Serikat dan Kanada telah pun mencabut status larangan perjalanannya.
Pitana berada di Brisbane pada 15 dan 16 April bersama delegasi misi penjualan pariwisata Indonesia yang terdiri atas beberapa staf Depbudpar RI dan 18 orang pelaku bisnis pariwisata nasional. Sebelum ke Brisbane, Pitana dan rombongan telah pun merampungkan misi penjualan di Sydney.
Pada misi bertema "Bali and Beyond" di Sydney 14 April lalu itu, 18 orang "penjual" Indonesia bertemu dengan 119 agen wisata Australia, sedangkan saat di Brisbane 16 April, mereka bertemu dengan 98 agen wisata setempat.
Misi penjualan pariwisata RI itu berlanjut di Melbourne (20/4) serta Wellington (22/4) dan Auckland (23/4). Indonesia menargetkan kunjungan 6,25 juta sampai 6,5 juta orang wisman sepanjang Tahun Kunjungan Wisata (VIY) 2009.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Indonesia Perlu Pusat Informasi Pariwisata

thumbnail
Indonesia perlu membuka pusat informasi pariwisata di mancanegara untuk mendukung promosi potensi semua objek wisata. "Pemeritah harus mempertimbangkan membuka pusat informasi pariwisata di mancanegara khususnya di setiap Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI)," kata Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa) Indonesia, H Sarbini.
Ia mengatakan, pertimbangan membuka kembali pusat informasi tersebut sebagai upaya mendatangkan lebih banyak wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. "Ini juga sebagai bagian dari promosi pariwisata Indonesia yang diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisman," katanya.
Menurut dia, pemerintah saat ini sudah berupaya meningkatkan jumlah kunjungan wisman, sehingga peran pusat informasi pariwisata di luar negeri menjadi penting dan mendesak untuk direalisasikan.
Ia mengakui untuk membuka pusat informasi pariwisata perlu dana cukup besar, sementara pemerintah menghadapi masalah keterbatasan dana.
Meski demikian, kata dia, perlu dicari jalan keluarnya agar pusat informasi pariwisata di luar negeri dapat terwujud dan berperan menjadi ujung tombak promosi objek wisata di negeri ini. "Memang promosi pariwisata tidak dapat dilakukan sendiri-sendiri, harus dalam satu kesatuan yang dilakukan oleh para pemangku kepentingan pariwisita, apalagi jika dilakukan di luar negeri " katanya.
Ia mengatakan, embangunan pariwisata di Indonesia harus diikuti kesiapan dalam pengelolaan objek wisata di berbagai daerah agar mampu menarik minat kunjungan wisman. "Selain itu, sarana dan prasarana pariwisata juga harus disiapkan untuk memberikan kemudahan kepada wisman yang berkunjung ke objek wisata tersebut, sehingga wisatawan merasa nyaman dan aman selama mengunjungi objek wisata tersebut," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Pesona Vila Mewah Di Bali Utara

thumbnail
Wisatawan mancanegara mulai banyak yang tertarik menikmati sarana akomodasi vila mewah yang dibangun di kawasan perbukitan menghadap Pantai Lovina-Seririt, Kabupaten Buleleng, wilayah utara Bali.
ANTARA yang melakukan pemantauan ke kawasan yang tengah tumbuh menjadi destinasi kelas atas itu, Rabu melaporkan, walaupun kamar-kamar vila mewah tersebut kini masih lebih sering kosong, namun sudah banyak turis yang pesan untuk liburan Juli - Agustus 2009.
Seperti Royal Residence Rangdu yang berjarak sekitar 20 kilometer dari Pantai Lovina, sudah banyak melakukan kontak dengan asosiasi maupun agen perjalanan wisata di negara-negara Eropa maupun lainnya untuk pemesanan kamar musim liburan mendatang.
Seperti Nyhavn Reyser, asosiasi agen perjalanan (rholesaler) di Denmark, menurut Winni Wissendorf, selaku konsultan Royal Residence Rangdu, segera datang melakukan penjajakan ke vilanya Juli mendatang.
Kepada Ratna N Soebrata, dari agen perjalanan di Bali yang bermitra dengan Nyhavn, dijelaskan bahwa pihaknya sudah menyiapkan enam vila, masing-masing memiliki dua-empat kamar tidur dilengkapi dapur, kolam renang, kendaraan bermotor, perpustakaan mini, hingga seorang pelayan dan aneka sajian makanan dan minuman alami.
Sarana akomodasi yang masih terus melanjutkan pembangunan vila baru di atas lahan perbukitan seluas lebih dua hektar itu, menawarkan tarif paket hingga 1.995 dolar AS untuk dua orang, maksimal tambah dua orang dengan tambahan biaya 595 dolar AS untuk selama 10 hari.
Sementara Richard Hood, pemilik Rambutan A Boutique Hotel, Kalibukbuk, Lovina, juga mengaku sudah banyak menerima pesanan kamar untuk musim liburan Juli-Agustus nanti. "Tamu saat ini memang belum ramai, tapi mulai Juli mendatang akan banyak. Bahkan untuk hari-hari tertentu sudah `full booked`. Terutama dari Eropa dan juga Australia," kata pria yang sudah 20 tahun menetap di Bali.
Suami dari Suartini, SH, yang dikaruniai dua putri yang sudah remaja itu, berharap kunjungan tamu ke depan akan semakin membaik, walaupun Maret lalu sempat turun.
Vila-vila mewah yang semula berkembang di kawasan selatan Bali, terus merambah daerah tengah seperti daerah perbukitan sekitar danau Buyan dan Beratan, kawasan Pantai Pemuteran hingga ke daerah Seririt-Lovina.
General Manager Sunari Villas & Spa Resort, Made Suarda, didampingi Gede Prapta, sales & marketing sarana akomodasi di kawasan Pantai Lovina itu, mengakui bahwa belakangan semakin marak pembangunan vila mewah yang bisa merebut konsumen sarana akomodasi yang sudah ada.
Meski begitu, ia merasa optimis kunjungan tamu ke Bali, terutama dari Perancis, Italia, Jerman dan negara Eropa lainnya serta dari Australia dan Jepang akan terus tumbuh pesat. "Saat ini saja peningkatan kunjungan tamu sudah lumayan. Pada musim liburan nanti tentu akan semakin membaik. Di tempat kami sudah banyak pemesanan kamar untuk musim liburan nanti," ucap Made Suarda seraya berharap kondisi Bali semakin aman dan nyaman.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009