Ada Prita-Prita Lain?

thumbnail
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Kesehatan meyakini akan muncul banyak Prita-Prita lain yang mengeluhkan layanan kesehatan di Indonesia karena buruknya perlindungan pasien dalam perundang-undangan di bidang kesehatan saat ini. ’’Yakinlah, akan muncul Prita-Prita lain karena hak rakyat sudah direduksi UU,’’ kata Direktur LBH Kesehatan, Iskandar Sitorus di Jakarta, Selasa (9/6).
UU Kesehatan yang berlaku saat ini, sengaja disetting untuk mengurangi hak orang banyak demi keuntungan segelintir pihak yang memiliki modal. Dengan sedikitnya hak orang banyak dalam bidang kesehatan tersebut, tidak tertutup kemungkinan munculnya rakyat yang mengeluh atau menempuh upaya hukum.
Banyaknya keluhan pasien itu berawal dari diberlakukannya UU 23/1992 tentang Kesehatan, menggantikan UU 9/1960 tentang Pokok-pokok Kesehatan. Dalam UU 23/1992 tentang Kesehatan itu, baik eksekutif mau pun legislatif mengizinkan sebuah perseroan terbatas (PT) yang mendewakan keuntungan untuk miliki RS. Lalu, PT yang mengelola RS diizinkan berbuat apa saja dengan perangkat peraturan yang sangat mudah dilanggar.
Ia mencontohkan dengan ketentuan tersedianya instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dan pengolahannya yang tidak dilaksanakan banyak pengelola RS. ’’Saya berani bertaruh, hanya satu RS di Indonesia yang mampu mengolah seluruh limbahnya, yakni RSCM, yang lain bohong. Dengan UU baru itu, pemerintah tidak lagi mengatur atau campur tangan untuk menentukan model RS ideal bagi orang banyak. Kondisi pelayanan RS saat ini, lebih parah dan tidak manusiawi jika dibandingkan pada masa penjajahan Belanda. Pada masa Belanda, orang sakit yang sudah dirawat tapi tidak mampu membayar masih dikasih ongkos pulang,’’ katanya.
Kondisi itu masih membaik sekitar tahun 60-an hingga 1992 dengan wajib tersedianya tempat tidur bagi orang miskin plus perawatan tim medis dan obat. Namun, setelah berlakunya UU 23/1992 tentang Kesehatan itu, hak rakyat itu mulai dikurangi dengan hanya kewajiban menyedikan tempat tidur oleh RS, sedangkan dokter dan obatnya tetap dibayar.
Lalu, hak rakyat itu dikurangi lagi dengan menetapkan kewajiban tempat tidur gratis itu hanya di RS pemerintah, sedangkan RS swasta tidak diwajibkan lagi. Terakhir, hingga saat ini, tidak ada lagi RS yang menyiapkan tempat tidur, pelayanan medis dan obat gratis bagi orang miskin. Kalau pun ada, hanya RS yang mengikat kontrak dalam program Asuransi Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin) atau Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas).
Dengan kondisi itu, rakyat yang sedang susah akan berteriak menghadapi sulitnya mendapatkan layanan kesehatan yang baik dengan kondisi perekonomiannya yang terbatas. Sementara RS yang merasa dicemarkan nama baiknya dengan mudah melakukan tindakan hukum ke pengadilan.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Jangan Malu Tiru Cina Dalam Kembangkan Obat Tradisional

thumbnail
Kegiatan penelitian dan pengembangan metode pengobatan herbal di Cina berkembang sangat pesat, karena itu Indonesia jangan malu meniru negara "tirai bambu" itu dalam mengembangkan obat-obatan lokal agar bisa menembus pasaran internasional, demikian ungkap pakar farmasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Ernie H. Purwaningsih MS kepada Antara.
"Saya kira kita harus belajar dari Cina dalam hal penelitian dan pengembangan metode pengobatan herbal karena di sana sudah demikian maju," kata Ernie.
Menurut Ernie, pesatnya perkembangan pengobatan herbal di Cina tidak lepas dari kebijakan pemerintah setempat yang mendorong dibukanya program studi pengobatan tradisional di berbagai lembaga perguruan tinggi.
Para mahasiswa fakultas kedokteran di Cina sejak mendaftar ke perguruan tinggi diberi pilihan untuk belajar ilmu kedokteran yang berorientasi ke dunia barat terutama Amerika Serikat atau memilih kedokteran dengan spesialisasi pengobatan tradisional Cina.
Dengan kondisi tersebut, penelitian obat-obatan tradisional Cina terus berkembang pesat yang berimbas pada membanjirnya berbagai produk obat-obatan herbal asal Cina ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia.
Adapun di Indonesia, hingga kini baru segelintir PT yang membuka program studi pengobatan herbal seperti Universitas Airlangga (Unair) di Surabaya.
Universitas Indonesia (UI) rencananya baru akan membuka program studi magister herbal Indonesia tahun ini.
Ernie mengatakan proposal pembentukan program studi magister herbal Indonesia tersebut masih dikaji oleh Badan Pengkajian Mutu Akademik UI untuk selanjutnya diserahkan kepada Senat Akademik UI.
Jika program studi ini telah terbentuk maka nantinya diharapkan terbentuk kolegium herbal medik, keperawatan herbal dan estetika herbal yang akan menghasilkan penelitian yang terintegrasi.
Masih menurut Ernie, penelitian pengobatan herbal di Indonesia selama ini belum terintegrasi alias berjalan sendiri-sendiri seperti yang dilakukan Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Gajah Mada (UGM), Unair dan juga Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).
Bahkan Departemen Pertanian, Departemen Kesehatan melalui Badan Penelitian Obat dan Makanan (BPOM), dan Kantor Kementrian Ristek juga meneliti soal ini. "Fokus penelitian selama ini beda-beda, tidak terintegrasi sehingga dananya tersebar ke mana-mana. Akibatnya, kita tidak memiliki data nasional berapa banyak tanaman lokal kita yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit," tutur Ernie yang juga menjabat Ketua Program Studi Departemen Farmasi Fakultas Kedokteran UI itu.
Ernie mengatakan, jika semua hasil penelitian berbagai instansi tersebut diintegrasikan dan dipublikasikan secara bersamaan maka dunia internasional bisa mengetahui bahwa Indonesia merupakan "surga" tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan.
Ia menyambut baik usaha Dewan Riset Nasional yang menerbitkan buku panduan tentang lima tanaman asli Indonesia yang merupakan primadona sebagai obat yang berkhasiat bagi kesehatan yakni temulawak, jahe, kencur, sambiloto, pegagan dan daun sirih.
Selain ke lima tanaman itu, katanya, masih terdapat ratusan hingga ribuan jenis tanaman lokal Indonesia lainnya yang tersebar di seluruh pelosok nusantara yang memiliki khasiat yang sangat baik untuk menyembuhkan penyakit.
Namun sebagian besar jenis tanaman tersebut tidak diketahui publik meskipun sudah pernah diteliti para ahli lantaran tidak adanya data based hasil penelitian di bidang pengobatan herbal.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Kawin Kontrak Siapa Rugi?

thumbnail
Salah satu tantangan bagi Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai pencatat pernikahan di tanah air adalah masih adanya umat muslim yang melakukan nikah kontrak dan pernikahan di bawah tangan alias nikah siri. Konsekuensinya, pasangan suami-isteri itu tak mempunyai buku nikah yang dikeluarkan oleh pemerintah.
Nikah siri dikenal muncul setelah diundangkannya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. Dalam peraturan tersebut disebutkan bahwa tiap perkawinan selain harus dilakukan menurut ketentuan agama juga harus dicatatkan.
Drs Zamhari Hasan MM, saat menyampaikan orasi ilmiah pada pengukuhan sebagai widyaiswara utama Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Departemen Agama di Jakarta, menjelaskan bahwa pernikahan siri biasanya terjadi untuk nikah kedua dan seterusnya, karena untuk mendapatkan izin dari isteri pertama biasanya sangat sulit. ‘’Pernikahan seperti ini jelas tidak punya kepastian hukum atau tidak punya kekuatan hukum. Yang paling dirugikan adalah wanita,’’ ujarnya.
Tentang nikah kontrak, kata Zamhari, yaitu nikah yang dibatasi oleh waktu. Apabila habis waktunya maka bubarlah perkawinan tersebut. Kejadian ini banyak dilakukan oleh orang asing yang datang ke Indonesia tidak bersama istrinya. Kalau pernikahan terjadi, pernikahan tersebut sudah pasti tidak tercatat, tidak mempunyai kekuatan hukum yang pada akhirnya yang dirugikan juga pihak perempuan. ‘’Di daerah Bogor dan sekitarnya biasanya kawin kontrak dilakukan oleh orang asing dari etnis Arab, ujar Widyaiswara yang menyampaikan orasi berjudul Optimalisasi pelayanan penghulu pada KUA di Kecamatan Bogor Selatan, Bogor tahun 2006.
Masalah lain dalam peristiwa pernikahan di Indonesia yaitu calon penganten tidak datang sendiri ke KUA untuk pendaftaran nikah. Mereka umumnya menggunakan jasa calo sehingga informasi yang diberikan calo bisa menyesatkan seperti mahalnya biaya nikah, dan akibatnya pasangan nikah hanya peroleh buku nikah yang palsu.
Pendiri Pondok Pesantren Islam Al Mu`min di Ngruki, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ustadz Abu Bakar Ba`asyir minta agar praktek kawin siri, nikah kontrak atau pun nikah di bawah tangan, hendaknya dapat dihentikan, karena cara atau bentuk perkawinan demikian dapat menimbulkan fitnah dan merugikan kedua fihak di kemudian hari. "Sebaiknya praktik nikah siri dihapus saja," kata Ba`asyir di Jakarta ketika ditanya seputar maraknya nikah siri yang dilakukan para selebritis di tanah air.
Nikah siri atau nikah di bawah tangan dan tak tercatat di Kantur Urusa Agama (KAU) belakangan ini dianggap sah menurut agama. Padahal, yang demikian itu dapat menimbulkan fitnah. Orang melakukan pernikahan demikian karena pernikahannya tak ingin diketahui orang banyak. Padahal, untuk melakukan pernikahan, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi, antara lain diketahui orang banyak. Ba`asyir mengatakan, jika seseorang berani untuk nikah mengapa takut untuk diketahui banyak orang. Itu namanya pengecut. Karena itu ia menyarankan agar pemerintah segera mengambil peran, supaya nikah siri atau perkawinan di bawah tangan segera dihentikan.
Terkait dengan Rancangan Undang-Undang Hukum Materil Peradilan Agama (RUU HMPA) yang memasukkan agar semua bentuk perkawinan didaftar ke KUA, ia menegaskan tak setuju. Bukan soal didaftar atau tidak, karena Al Quran tak memerintahkan demikian. Jika seseorang hendak berpoligami, maka hendaknya yang bersangkutan punya itikad baik, yaitu bersikap adil kepada isteri-isterinya.
Ia juga menolak bagi seorang pria jika ingin beristeri perlu izin dari Pengadilan Agama. Ini tak perlu. Cukup dari isteri dengan ketentuan, suami sanggup bersikap adil. Seorang suami yang tak berani adil kepada isterinya, sebaiknya tak usah nikah lebih dari satu. Namun, ia mengakui, RUU HMPA yang mensyaratkan bagi orang asing jika hendak menikahi perempuan Indonesia, harus memberikan jaminan berupa bank garansi. ‘’Jika ini, saya setuju. Dengan cara itu, perempuan Indonesia tak diperlakukan seenaknya,’’ ujarnya.
Masih Berlanjut
Pengamatan Antara di masyarakat, kawin siri adalah perkawinan yang tidak disaksikan oleh orang banyak, dan tidak dilakukan di depan Pegawai Pencatat Nikah (PPN) atau dicatat di KUA. Meski UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan sudah diberlakukan, praktik perkawinan siri yang melanggar UU ini terus saja berlangsung. Bahkan ada kecenderungan dalam masyarakat Islam, kawin siri dipandang sebagai perkawinan sah menurut agama.
Dalam perkembangannya, kawin siri juga dipandang sebagai perkawinan yang sah menurut agama. Bahkan, modin atau kyai sebagai pelaksananya yang mengukuhkan perkawinan siri. Jadi, dalam pandangan Islam, perkawinan siri dilaksanakan sekedar untuk memenuhi ketentuan mutlak sebagai sahnya akad nikah yang ditandai dengan adanya calon pengantin laki-laki dan perempuan, wali pengantin perempuan, dua orang saksi, ijab dan qobul.
Keempat hal tersebut merupakan syarat sebagai rukun atau syarat wajib nikah. Departemen Agama (Depag) kini tengah persiapkan pengajuan RUU Materil Peradilan Agama (HMPA) guna melengkapi UU Perkawinan No 1/1974, sehingga hakim dalam memutus perkara yang berkaitan dengan perkawinan punya pegangan kuat. Selama ini hakim berpegang pada kompilasi hukum agama dalam memutuskan perkara yang berkaitan dengan perkawinan, perceraian dan hal lainnya yang berkaitan dengan masalah keluarga.
RUU HMPA sudah mengendap di Sekretariat Negara (Sekneg) dua tahun. Diperkirakan RUU HMPA dapat diberlakukan tahun 2010, pasca dibahas di DPR RI. Diperkirakan RUU yang mengusung keberpihakan kepada kaum hawa itu akan mendapat tantangan dari berbagai pihak. Guna mengatasi masalah ini, Zamhari menyarankan, perlu dilakukan pembinaan, pengawasan dan penyuluhan terhadap praktik penghulu liar serta nikah di bawah tangan dan nikah kontrak.
Juga diupayakan jalinan koordinasi dengan aparat terkait dan tokoh agama dan msyarakat secara efektif. Pemerintah perlu meningkatkan kualitas SDM penghulu karena pendidikan dan pelatihan jadi salah satu pilihan untuk optimalisasi para penghulu dalam pelayanan masyarakat. Kepala Badan Litbang dan Diklat Depag, Prof Dr Atho Mudzhar menyebut, berbagai masalah yang muncul dalam perkawinan, tidak lepas dari bagaimana pengamalan agama. (Edy Supriatna Sjafei/Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Siap Menang, Siap Kalah, Tak Siap Gila

thumbnail
Oleh: Masduki Attamami
Siapa pun yang berani ikut kompetisi, tentunya siap menang dan siap kalah. Tetapi untuk ikut berkompetisi dalam pemilihan umum legislatif 9 April, kesiapan tidak cukup hanya itu. Juga harus siap gila atau stres maupun depresi berat. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Soetjipto Helly dalam diskusi "Kalah ora ngamuk, menang ora umuk (sikap menerima hasil pemilu, Red)" di Yogyakarta, mengatakan, usai pemilu calon anggota legislatif (caleg) sangat berpotensi mengalami gangguan kejiwaan atau bahkan sakit jiwa karena kalah. "Mereka mengalami kondisi jiwa seperti itu karena sebelumnya telah mengeluarkan dana yang cukup banyak untuk membangun citra di depan publik," katanya.
Menjadi caleg sama saja dengan bertaruh, tetapi di antara mereka ada yang tidak memiliki mental sebagai seorang petaruh. Terkait dengan hal itu, sejumlah partai politik (parpol) telah menempa mental para kader yang menjadi caleg, agar siap kalah maupun siap menang, sebagai antisipasi kemungkinan ada caleg stres karena tidak terpilih dalam pemilu nanti. "Secara teknis semua caleg diwajibkan mengikuti program orientasi, meskipun sejak awal kami selalu menekankan untuk siap menang dan siap kalah," kata Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Jawa Tengah, A Haris Shodaqoh.
Jika caleg mendapat kepercayaan terpilih sebagai anggora legislatif, hal itu merupakan beban, dan bukan pahala. Jika tidak berhasil, itu adalah amanah karena lepas dari beban. Upaya serupa dilakukan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) untuk mengantisipasi caleg yang kalah kemudian stres karena telah mengeluarkan biaya besar. ‘’Untuk mengisi aspek mentalitas para caleg, digelar forum-forum pengajian secara reguler," kata Humas DPW PKS Jateng Hadi Santoso.
Selain itu, semua caleg PKS dibekali doa, usaha, ikhtiar dan tawakal. Terkait biaya yang telah dikeluarkan caleg, disepakati bersama bahwa itu sebagai infak karena PKS tidak bisa dilepaskan dari kiprahnya partai dakwah.
Psikolog Rumah Sakit Ahmad Mukhtar (RSAM) Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, Zera Mendrosa, M.Psi, memprediksi, setelah penghitungan suara pada Pemilu 9 April 2009, caleg yang kalah bertarung memperebutkan kursi parlemen terancam mengalami depresi dan gangguan psikotik karena beban berat yang dipikulnya.
Ancaman depresi caleg yang kalah akibat beban berat psikologis yang luar biasa itu, karena yang bersangkutan sudah mengeluarkan uang banyak. Modal terbuang sia-sia ketika menjadi calon anggota legislatif, karena tidak terpilih. Ketika seseorang mencalonkan diri dengan menjadi caleg, tentu butuh modal yang tidak sedikit. Bahkan banyak di antara para caleg terpaksa harus menjual mobil, rumah atau pinjam ke saudara, tetangga dan ke bank.
Belum lagi adanya pandangan masyarakat yang menganggap jika sudah menjadi caleg, dinilai kuat dan hebat. Namun jika kenyataannya tidak hebat dan tidak terpilih, maka beban psikisnya sangat berat. Kondisi itu akan mengganggu konsep diri seseorang, harga diri dan fungsi peranan di masyarakat. Sampai sekarang memang belum ada caleg yang konsultasi ke RSAM Bukittinggi. Namun, di rumah prakteknya ada istri dari seorang caleg yang konsultasi karena cemas.
Wakil Direktur RSAM Bukittinggi, dr Khairul Said mengatakan hingga kini RSAM tidak menyediakan ruangan khusus bagi caleg yang bermasalah. "Tetapi jika untuk keperluan pelayanan konseling atau konsultasi, ada psikolog yang akan membantu," katanya. Bahkan bila memang terlalu parah, bisa dirujuk ke rumah sakit khusus.
Siap Tampung
Rumah Sakit Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Provinsi Bengkulu siap menampung caleg yang stres akibat kalah pada Pemilu 9 April 2009. "Kita bukannya berpikiran buruk, namun untuk pelayanan dan memberi pertolongan, RSJKO pasti siap untuk menampung warga masyarakat yang mengalami stres termasuk caleg yang kalah dalam pemilihan umum legislatif nanti," kata Wakil Direktur Pelayanan RSJKO Bengkulu, Sugiarto.
Pihaknya harus cepat tanggap dengan situasi sekarang dan mendatang,apalagi terkait dengan isu akan banyak caleg yang stes karena kalah bersaing dalam memperebutkan kursi wakil rakyat baik di DPR RI, DPD maupun DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota. Isu tersebut, menurut dia, sah-sah saja sepanjang tidak merugikan orang lain, dan RSJKO Bengkulu sebagai pelayan masyarakat siap menampung siapa pun yang mengalami gangguan jiwa.
RSJKO Bengkulu saat ini telah mempersiapkan kamar khusus bagi pasien yang mengalami stres dan depresi berat. Juga disiapkan ruang inap khusus bagi pasien stres ringan. Daya tampung RSJKO Bengkulu semula hanya untuk 100 pasien, namun menghadapi isu itu disiapkan 50 ruang inap.
Kapasitas 100 pasien karena jumlah pasien yang dirawat di RSJKO Bengkulu selama ini hanya berkisar antara 70 hingga 120 pasien setiap hari. Di RSJKO Bengkulu ada dua jenis pasien yang mengalami gangguan jiwa, yaitu pasien yang gelisah dan pasien yang tenang. Penyebab gangguan jiwa karena keturunan, akibat penyakit fisik seperti malaria dan tipes yang mengakibatkan kerusakan saraf, serta gangguan jiwa akibat konsumsi obat-obat terlarang stres akibat depresi berat. ‘’Jika nanti ada caleg mengalami gangguan jiwa akibat kalah dalam pemilu, ini termasuk gangguan jiwa akibat depresi,’’ katanya.
Sementara Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pandeglang, Banten, saat ini juga telah menyediakan ruangan khusus untuk merawat caleg yang mengalami depresi akibat kalah dalam pemilu. "Kami sudah siapkan ruang inap bagi pasien caleg yang depresi," kata Direktur RSUD Pandeglang, Didi Suhandi.
Sesuai informasi jumlah caleg di Pandeglang 550 orang, dan diperkirakan pasca pemilu banyak pasien depresi di rumah sakit setempat. "Mereka mengalami depresi karena gagal meraih kursi anggota legislatif pada Pemilu 2009," katanya.
Untuk itu, pihaknya menyediakan ruangan khusus bagi perawatan pasien depresi. "Tenaga medis dan obat-obatan juga ditambah untuk menyembuhkan caleg yang mengalami depresi atau bahkan mengalami gangguan kejiwaan," katanya. Meski ruangan khusus sederhana, namun bisa menampung para caleg yang stres.
Bila pasien itu tidak bisa disembuhkan, pihaknya akan memberikan rujukan ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cilendek, Bogor, atau RSJ Grogol, Jakarta. ‘’Kedua rumah sakit tersebut sangat memadai untuk menangani dan merawat penderita penyakit kejiwaan,’’ katanya.
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pandeglang, Budi Prasetio kepada Antara mengatakan pihaknya khawatir pasca pemilu banyak caleg yang kalah mengalami gangguan kejiwaan karena malu atau hartanya habis. ‘’Saya sangat berterima kasih atas inisiatif pengelola RSUD Pandeglang yang telah menyediakan ruangan khusus bagi pasien depresi,’’ katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Wanita Pembuat Keputusan Akhir

thumbnail
Sebuah hasil survei menunjukkan 59,6% wanita Indonesia menganggap mereka sebagai pembuat keputusan akhir dalam rumah tangganya dan angka prosentase itu ternyata lebih tinggi dibanding rekan-rekan mereka di Australia dan Singapura.
‘’Sungguh menarik melihat lebih dari 50% wanita Indonesia menganggap diri mereka sebagai pembuat keputusan akhir bagi rumah tangga mereka dan ini merupakan prosentase lebih besar dibanding Australia dan Singapura,’’ kata Vice President Communications, Asia Pacific, Middle East and Africa Mastercard Worldwide, Georgette Tan via press release yang diterima Antara di Jakarta, Selasa (30/3).
Tan menjelaskan, angka-angka itu diperoleh via survei MasterCard Worldwide Index of Women`s Advancement. Survei itu untuk melihat perkembangan di Indonesia terkait peran serta wanita dalam dunia kerja, perolehan pendidikan tingkat perguruan tinggi dan persepsi soal peran manajerial dan pendapatan.
Wanita merupakan segmen terpenting bagi perusahaan. Mastercard bisa menyediakan pengetahuan dan angka-angka untuk membantu berbagai perusahaan lebih menyadari untuk menjangkau kelompok wanita. Survei menunjukkan, peran sosio ekonomi wanita Indonesia menurun pada 2008 dibanding 2007.
Nilai indeks mengalami penurunan karena jumlah wanita per 100 pria yang menganggap bahwa mereka memegang posisi manajer (43 wanita dibanding 100 pria) mengalami penurunan dari tahun 2007 (52 wanita per 100 pria). Jumlah wanita dibanding pria yang menganggap pendapatan di atas median sedikit menurun. Sekitar 80 wanita per 100 pria jadi 75 wanita per 100 pria. Angka di bawah 100 berarti, ada ketidaksamarataan wanita lebih berperan. Angka 100 menunjukkan, wanita dan pria miliki peran yang proporsional.
Mastercard miliki komitmen memberdayakan wanita lewat berbagai program, antara lain U21 Global Scholarship for Women in Travel and Tourism yang diluncurkan 2006 yang memberi kesempatan bagi wanita karir untuk mengembangkan kemampuan managemen dan mengoptimalkan potensi.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Jual Sepeda Bekas, Anak Sarjana

thumbnail
Siapa sangka, dari hasil jualan sepeda bekas di sepanjang Jl Malabar Bandung, Bapak Amung (90), mampu menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi dan jadi seorang sarjana. ‘’Alhamdulillah dari jualan sepeda bekas ini, dua dari sembilan anak bapak jadi sarjana,’’ kata pria kelahiran Garut itu.
Menurutnya, saat ini kedua buah hatinya yang menjadi seorang sarjana, sedang bekerja sebagai Arsitek di pulau Kalimantan. Hanya tiga dari kesembilan anak, yang bersedia membantu dan meneruskan usaha jualan sepeda bekas, yang sudah dirintis selama 20 tahun. Seiring dengan banyaknya orang yang memiliki sepeda motor, omzet penjualan sepeda bekas tidak seramai pada akhir tahun 1980 dan awal tahun 1990. ‘’Masa kejayaan jualan sepeda bekas itu akhir tahun 1980 dan awal tahun 1990-an karena jumlah motor masih sedikit,’’ katanya.
Pada tahun tersebut, dalam sebulan, ia mampu menjual sepeda di atas 80 unit. ‘’Kalau sekarang mah, dalam satu bulan paling banyak terjual 20 unit,’’ katanya. Harga satu unit sepeda bekas beserta aneka ragam mulai dari Rp 300 ribu hingga Rp 1 juta. Pria paruh baya ini berharap, penjualan sepeda bekas miliknya beserta penjual sepeda bekas lainnya, di sepanjang Jl Malabar Bandung dapat kembali berjaya seperti tahun 1980 dan 1990-an. ‘’Naik sepeda itu banyak untungnya. Harganya murah, menyehatkan dan tidak menimbulkan polusi udara seperti sepeda motor,’’ katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Sayuran Dalam Ikatan Merah Putih

thumbnail
Jalan beraspal itu tampak tidak begitu mulus dan tidak cukup lebar. Hanya pas untuk satu kendaraan roda empat. Sepanjang tepi jalan mengikuti alur selokan tertata apik, meski tidak seperti proyek trotoar di daerah perkotaan. Air irigasi pertanian tradisional (subak) yang mengalir di selokan cukup jernih, menggenangi sawah dan kolam ikan yang terbentang di hilir Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, 27 km barat laut Kota Denpasar.
Jaringan jalan sempit sekitar 2 km membelah areal pertanian Subak Mole dan Subak Sengawang dengan hamparan sawah seluas 50 hektar, meski sebelumnya hanya jalan setapak. Pelebaran jalan secara gotong royong di tahun 1996 lalu diaspal Pemkab Tabanan dengan harapan bisa menghubungkan Taman Makam Pahlawan (TMP) Pujaan Bangsa Margarana dengan obyek wisata Alas Kedaton, --tempat ratusan ekor kera dan kelelawar besar.
Jalan aspal yang dihubungkan dengan jembatan darurat (titi) dari bambu khusus pejalan kaki jadi rute Lintas Alam dan Pedusunan (LAD) ratusan peserta dalam memeriahkan peringatan HUT PWI, RRI, TVRI dan LKBN ANTARA, hari Minggu (21/12). Lintas alam dan pedusunan sejauh 7 km dengan start dan finish di depan candi TMP Margarana.
Rute yang dijajal sekitar sejam itu, para peserta harus melewati Banjar Kelaci, Subak Babakan dan Banjar Adeng serta meniti jembatan tradisional dari bambu yang melintang di atas aliran sungai kecil sebelum mendaki tebing terjal diapit jurang curam, lalu memasuki hamparan padi menguning di areal Subak Sengawang, Banjar Ole. Uniknya, Asisten Teritorial Kasdam IX/Udayana Kol Inf Sudiarja dan para peserta dikadoi cinderamata berupa secekal sayuran dalam ikatan merah putih dari petani yang sedang panen.
I Nyoman Sada (35), petani sayur-mayur menghadiahkan hasil panenan kepada setiap peserta lintas alam pedusunan. Kol Sudiarja mengaku terharu dan bangga ketika disodori seikat sayuran dengan tali pita merah putih. Seikat sayuran daun gonda dan bayam dengan pita merah putih dipersembahkan petani Desa Adat Ole, Marga.
Kawasan Desa Adat Ole dikenal sebagai daerah gerilya pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai dalam merebut kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah. Di depan Pura Dalem Basa Ole yang kerap dipakai tempat bersemedi oleh I Gusti Ngurah Rai, Aster dan peserta gerak jalan LAD lainnya tiba-tiba disodori seikat sayuran berpita merah putih hasil pertanian masyarakat setempat. ‘’Wah, berpita merah putih. Ini benar-benar desa pahlawan,’’ ujar Sudiarja.
Rute yang dilalui peserta Lintas Alam dan Pedusunan menyimpan kisah heroik karena pernah dilewati pasukan Ciung Wanara pimpinan Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai (pahlawan nasional) ketika merampas sanjata NICA di Tabanan, 19 Nopember 1946. Senjata hasil rampasan lalu digunakan untuk perang habis-habisan (puputan) melawan penjajah Jepang di subak Umakaang, yang kini dikenal Puputan Margarana, yang diperingati per 20 Nopember.
Di lokasi bekas perang itu kini berdiri sebuah candi dan 1.371 tugu kecil di atas areal 10 hektar, berkait erat dengan kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pimpinan I Gusti Ngurah Rai (almarhum), pahlawan nasional asal Bali. Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana memiliki nilai historis, mengingat kesaksikan secara kasat mata, warga Bali memberi tempat yang sangat istimewa bagi Sang Tokoh. Hingga nama I Gusti Ngurah Rai diabadikan menjadii nama jalan, bangunan dan Bandara Internasional di Tuban, patung Ngurah Rai di pertigaan Jl Bandara arteri Tuban-Sanur-Nusa Dua, di samping nama sebuah perguruan tinggi swasta di kota Denpasar.
Masyarakat Bali memberikan tempat instimewa bagi sang tokoh, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai yang tidak bisa dipisahkan dengan Desa Marga. Bangsa Indonesia secara resmi telah memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Namun kolonial Belanda masih belum rela melepaskan wilayah jajahannya. Pertempuran berdarah habis-habisan termasuk di Desa Marga, 20 Nopember tahun 1946.
I Gusti Ngurah Rai dipercayakan memimpin pasukan tempur melawan NICA Belanda. Menurut kisahnya, lebih dari 1.000 prajurit pimpinannya memilih Banjar Ole, Desa Marga sebagai markasnya. Mereka tersebar di sejumlah rumah penduduk, sedangkan I Gusti Ngurah Rai memilih kediaman Wayan Pasek (almarhum). Arena pertempuran di lokasi lain di seberang sungai, yang kini menjadi kawasan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana. Pertempuran berlangsung sengit. Ngurah Rai bersama pasukan dengan dukungan masyarakat tidak pernah surut semangat mengusir penjajah. Bahkan nyaris menaklukkan pasukan NICA. Ketika kemenangan hendak digapai, pasukan udara NICA datang. Mereka menjatuhkan bom dari udara dan Marga hancur berantakan. Akibatnya, Kapten Ngurah Rai bersama sekitar 1.370 anggota pasukan pendukung gugur dalam medan laga.
Menelusuri tebing yang terjal dengan semak belukar sebelum melewati jalan subak yang beraspal seakan-akan menggapai kedamaian dan keheningan khas pedesaan, lengang dari bising mesin kendaraan bermotor. Kotek dan kokok ayam bersautan di pagi hari, seirama embusan angin serta mengikuti gesekan daun dan ranting bambu.
Di sini, dari kaki kampung, antara tegakan rumpun bambu, terdengar riakan air mengalir. Dingin dan bening, nyaris tidak dibiarkan mengalir leluasa karena terus dialirkan untuk genangi hamparan sawah, tambak, sawah dan kebun sayuran. Banjar berpenduduk 345 kepala keluarga (KK) atau 1.200 jiwa, memiliki lahan subur yang ditopang debit air yang besar sebagai karunia bagi para petani desa ‘pahlawan’ itu. Dari bentangan lahan sawah, tidak sejengkalpun dibiarkan telantar.
Klian Banjar Adat Ole, Pan Rasta mengaku, mayoritas warga bergantung dari sawah beternak sapi, babi, ayam, menanam sayuran dan memelihara ikan. Khusus beternak sapi, sistim pemeliharaan diikat di bawah pondok sederhana (kandang), yang terlihat menyebar di sejumlah titik di tepi sawah. Pakan cukup diambil dari pematang sawah atau sekitar selokan di tepi jalan yang ditanami rumput gajah. ‘’Beternak sapi di sini cukup menjanjikan. Pemeliharaan tidak banyak menyita waktu atau tidak merepotkan, harganya baik,’’ jelas petani I Wayan Karya (39) yang sehari-hari diakrabi Pan Angga.
Bagi warga petani di Banjar Ole, memelihara sapi ibarat menabung dengan bunga menjanjikan. Mengikuti musim, para petani larut dalam kesibukan rutinitas. Ada sekelompok petani sedang membenahi petak sawah jadi tambak udang atau kolam air tawar, yang lain sibuk menanam benih padi yang sempat jadi pusat perhatian peserta lintas alam pedusunan. (Ketut Sutika dan Yanes Setat/Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Ciuman Pembuat Tuli

thumbnail
Pasangan muda yang sedang mabuk kasmaran disarankan hati-hati dalam berkencan. Seorang perempuan muda di Cina selatan kehilangan sebagian daya pendengaran, setelah pacarnya merusak gendang telinga selama ciuman penuh nafsu yang berlebihan. Demikian laporan media local belum lama ini seperti yang dikutib Reuters.
Gadis muda dari Zhuhai yang berusia 20-an tahun, di provinsi Guangdong, Cina selatan, pergi ke rumah sakit dalam keadaan telinga kirinya sama sekali tidak dapat mendengar, tulis Cina Daily.
‘’Ciuman itu mengurangi tekanan di mulut, menarik gendang telinga ke luar dan membuat telinga jadi tuli,’’ kata surat kabar tersebut, yang mengutip pernyataan seorang dokter bermarga Li dari rumah sakit tempat gadis muda itu berobat.
Pendengaran perempuan tersebut diperkirakan akan normal lagi setelah sekitar dua bulan, kata Li. ‘’Meskipun berciuman biasanya sangat aman, para dokter menyarankan masyarakat agar melakukannya dengan hati-hati,’’ sebut surat kabar itu.
Koran Pak Oles/Edisi 165/Desember 2008

Nonton TV, Remaja Cenderung Seks Dini

thumbnail
Terlalu banyak menonton televisi, rendahnya penghargaan terhadap diri sendiri, tingginya tingkat kekecewaan dan buruknya hubungan keluarga dapat menjadi rumus yang meningkatkan prilaku seks dini di kalangan remaja, demikian hasil suatu studi baru. ‘’Jika anda mengumpulkan semua faktor tersebut, anda dapat memperoleh perkiraan yang lebih kuat mengenai siapa yang melakukan hubungan seks dan siapa yang tidak,’’ kata Dr Janet Hyde, dari University of Wisconsin, pimpinan tim penelitian tersebut.
Hyde dan timnya mempelajari 273 remaja yang berusia antara 13 dan 15 tahun. Sebanyak 15% dari mereka telah melakukan hubungan seks dini. ‘’Anak-anak yang melakukan perbuatan seks dini sangat tak mungkin untuk menggunakan pelindung sehingga menambah besar resiko kehamilan di kalangan remaja dan menderita penyakit yang menular melalui hubungan seks,’’ kata Hyde.
Salah satu faktor terbesar bagi hubungan seks dini oleh remaja adalah menonton televisi, sebagian karena program televisi menggambarkan tingkat seksualitas yang lebih tinggi buat remaja dan orang dewasa dibandingkan dengan yang ada dalam kenyataan, kata para peneliti itu. ‘’Banyak ahli komunikasi mengatakan bahwa sewaktu kita menonton banyak bahan seperti itu, kita dibuat percaya bahwa itu nyata. Dalam kasus ini, anak-anak yang banyak menonton TV percaya bahwa semua anak sebenarnya melakukan hubungan seks, sehingga mereka akan melakukannya juga atau mereka akan merasa terasing,’’ kata Hyde --yang melaporkan temuan timnya di dalam Journal of Youth and Adolescence.
TV juga sering tidak menggambarkan konsekuensi negatif hubungan seks, seperti kehamilan yang tak dikehendaki atau penyakit yang menular melalui hubungan seks. Tetapi itu bukan satu-satunya faktor resiko bagi remaja untuk memulai hubungan seks sebelum berusia 15 tahun.
Anak perempuan yang telah melakukan hubungan seks secara dini memiliki penghargaan diri yang lebih rendah, hubungan yang buruk dengan orang-tua mereka, hidup bersama ibu tunggal atau orang-tua tiri, memperlihatkan tanda gangguan hiperaktif kekurangan-perhatian (ADHD), tak berprestasi di sekolah, dan lebih banyak menonton televisi.
Anak laki-laki yang melakukan hubungan seks dini lebih lauh melewati masa puber, memiliki penghargaan diri yang rendah, memperlihatkan tanda ADHA dan gangguan pembangkangan (ODD), memiliki hubungan buruk dengan orang tua dan lebih banyak menonton telvisi dibandingkan anak laki-laki lain.
Para peneliti menyarankan, semua faktor resiko mengenai seks dini oleh remaja ditangani dengan melibatkan peran orang tua, guru dan pembimbing. Mereka juga menyerukan dilancarkan program pendidikan seks menyeluruh sehingga remaja dapat melindungi diri jika melakukan hubungan seks.
Koran Pak Oles/Edisi 164/Desember 2008

Ayah Tampan Miliki Putra Jelek, Putri Cantik

thumbnail
Ayah yang menawan tak mewariskan ketampanan mereka kepada putra mereka tapi akan menganugerahi pesona mereka kepada putri mereka, demikian hasil suatu penelitian. Beberapa ahli ilmuwa jiwa mendapati bahwa kedua orang-tua mempengaruhi daya-tarik putri mereka, daya-tarik anak laki-laki tak terwarisi. Pria ganteng dengan penampilan maskulin lebih mungkin untuk menurunkan ciri maskulin mereka, tapi bukan daya tarik wajah.
Prof David Perrett dan Prof Elisabeth Cornwell dari University of St Andrews juga mengatakan, kecantikan seorang ibu tak membuat perbedaan pada daya tarik putra mereka saat dewasa. Teori itu menunjukkan bukan tidak biasa bahwa orang-tua yang menawan memiliki seorang putri yang cantik tapi gagal mewariskan daya-tarik yang sama pada putra mereka. Meski banyak ibu pesohor menghasilkan putri yang membuat orang tercengang --seperti Goldie Hawn dan putrinya Kate Hudson atau Jerry Hall dan putrinya Georgia-- kondisi yang sama tak persis sama pada ayah pesohor.
Sean Stewart, putra Rod Stewart dan istri pertamanya Alana, barangkali akan dinilai kurang menarik dibandingkan dengan saudarinya, yang menjadi model Kimberly. Prof Perrett mengatakan, seorang perempuan akan meningkatkan keberhasilan keturunan dengan memilih pasangan ‘yang seksi’ dengan gennya ditularkan ke anak laki-laki sehingga mereka jadi tak dapat ditolak oleh generasi mendatang.
Tetapi studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Animal Behaviour, bertolak belakang dengan teori tersebut. ‘’Kami memeriksa untuk melihat apakah ciri wajah laki-laki dan perempuan diwarisi. Untuk garis laki-laki, kami mendapati ciri wajah maskulin sejalan dengan konsep bapak dan anak sama saja. Ayah yang maskulin memiliki putra yang maskulin. Tetapi kami tak menemukan bukti apapun bahwa daya tarik wajah diwariskan dari ayah kepada putranya,’’ katanya.
‘’Kami bingung, mengapa kami tak menemukan bukti apapun bagi warisan daya-tarik pada laki-laki, baik melalui orang-tua laki-laki maupun perempuan. Jawabannya mungkin karena perempuan sangat beragam dalam hal mereka mendapati daya tarik maskulin’’.
"Kami mengetahui bahwa perempuan feminim yang menarik memperlihatkan pilihan kuat bagi wajah pria maskulin untuk dijadikan pasangan jangka panjang,’’ katanya. Para peneliti mempelajari album foto keluarga mahasiswa, gambar yang dikumpulkan mengenai 100 perempuan dan 100 pria dan orang tua kandung mereka masing-masing yang diambil selama beberapa tahun. Semua foto setiap mahasiswa, ayah dan ibu mereka dikategorikan secara terpisah dalam hal daya-tarik dan ciri maskulin - feminim.
Mereka mendapati bukti, daya tarik diturunkan dari ayah dan ibu ke anak perempuan, dan ayah yang mempesona lebih mungkin untuk memiliki putri yang feminim dan menarik, baik ibunya menarik atau tidak. Penelitian sebelum di Amerika mendapati, orang tua yang menawan 26% lebih mungkin untuk memiliki seorang putri, dibanding seorang putra, sebagai anak pertama mereka -- statistik yang tampaknya dimiliki oleh anak pertama pasangan Brad Pitt dan Angelina Jolie. Dalam studi itu, para peneliti menyimpulkan, ‘‘orang tua yang cantik memiliki lebih banyak putri dibanding orang tua yang jelek’’. (Ant)
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Apa Kabar Sastra Indonesia

thumbnail
Oleh: Maria D Andriana
Kendati karya sastra dewasa ini disebut-sebut sedang dalam posisi terpuruk, Pusat Bahasa masih gigih menggugah minat kaum muda untuk mendalaminya, antara lain menggelar lomba penulisan cerita pendek untuk pelajar SMP dan SMA. ‘’Tahun 2008 adalah tahun bahasa dan dalam peringatan 60 tahun Bahasa Indonesia, kami juga mengingatkan kembali bahasa sastra adalah bagian dari Bahasa Indonesia. Jadi, peringatannya adalah bahasa dan sastra,’’ ujar Kepala Pusat Bahasa Dr Dendy Sugono.
Penilaian terhadap cerpen karya peserta dari seluruh Indonesia sudah dilakukan dan hasilnya akan diumumkan pada puncak peringatan Tahun Bahasa yaitu pada 28 Oktober 2008 bertepatan dengan pembukaan Kongres IX Bahasa Indonesia di Jakarta. Dari naskah-naskah cerpen yang masuk, terdilihat minat remaja terhadap karya sastra cukup tinggi. Tema yang masuk juga sangat beragam, khususnya menyangkut kehidupan keseharian para penulisnya, tutur Emma Sitahang Nababan dari Pusat Bahasa yang menjadi salah seorang panitia lomba menulis cerpen.
Selain tema yang beragam, pemakaian bahasa juga bervariasi termasuk memakai bahasa gaul. Tetapi agak disayangkan, naskah dari daerah atau kota-kota kecil masih sedikit yang masuk dan beberapa naskah dari seluruh peserta diketahui ada yang menyontek karya-karya penulis terkemuka bahkan termasuk karya Hamsad Rangkoeti, salah seorang juri.
Naskah para peserta lomba cerpen itu dijaring melalui kota-kota yang memiliki Balai Bahasa yang seluruhnya berjumlah 22 dan dari Jakarta, masing-masing diwakili oleh sepuluh naskah terbaik yang terjaring dalam seleksi di tingkat balai. Keprihatinan mengenai tingkat pelajaran sastra yang sangat kecil di tiap sekolah juga diungkapkan penyair Taufiq Ismail yang pernah menggelar program khusus untuk memberikan pelajaran sastra keliling sekolah.
Pusat Bahasa pun menyelenggarakan kegiatan serupa dengan menghadirkan Putu Wijaya ke daerah-daerah. ‘’Anak-anak sebenarnya haus akan bacaan, tetapi seringkali orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari hal itu,’’ kata Julius Felicianus, Direktur Penerbit Galang Press.
Ketika Galang Press memelopori pengiriman parsel lebaran berisi paket buku untuk seluruh anggota keluarga, ada penerima parsel yang menyampaikan catatan bahwa ia merasa tersindir karena anaknya berujar: ‘’Ayah, kalau memberi hadiah yang seperti ini, buku-buku ini aku suka,’’ sementara si ayah mengaku selama ini tidak pernah menghadiahi anaknya dengan buku, kata Julius.
Munculnya sejumlah penulis berusia muda, terutama anak-anak yang terinspirasi ‘’manga’’ Jepang dan kisah Harry Potter, tidak dapat dipungkiri sebagai persemaian subur untuk menumbuhkan penulis-penulis muda Indonesia. ‘’Anak-anak biasanya akan mulai dengan bacaan yang ringan, komik, lalu meningkat menjadi yang lebih berat. Tetapi lembaga pendidikan dan orang tua perlu menyediakan dukungan untuk memotivasi mereka,’’ katanya.
Meski karya-karya penulis muda masih dangkal, Sastrawan F Rahardi menilai positif munculnya bibit-bibit muda karena dapat ditingkatkan melalui peran serta berbagai pihak mulai dari lingkungan di rumah, sekolah, penerbit hingga toko buku. Kurikulum di sekolah tertinggal jauh dibanding gejala yang ada di masyarakat. Sekolah dan guru mempunyai kekuasaan untuk memberikan pelajaran dengan mengembangkan kreativitas.
Rahardi mengambil contoh sistem pendidikan yang dilakukan oleh lembaga Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah di Salatiga yang mengedepankan kreativitas, sehingga menguatkan bukti bahwa keterbatasan modal (uang) bukan menjadi penghalang bagi kreativitas. Ruang-ruang untuk memancing kreativitas bidang sastra baik itu puisi dan prosa semakin sempit, paling tersedia pada beberapa koran dan majalah yang masih peduli dan menyediakan rubrik khusus.
Tak mengherankan jika kemudian penulis-penulis muda berkiblat ke karya sastra dunia seperti Ataka Awwalur Rizqi yang melahirkan Misteri Pedang Skinheld karena terinspirasi cerita Lord Of The Ring dan Harry Potter, kendati ia juga melahap karya-karya Pramoedya Ananta Toer. Demikian pula penulis Fathia yang terilhami kisah Naruto (Jepang).
Indonesia pernah memiliki karya-karya sastra Melayu atau karya sastra asli, tetapi jika tidak dicetak ulang, para pembaca muda akan kesulitan mendapatkannya karena toko buku tidak menyediakan buku-buku lama, kata Rahardi. Julius menegaskan, perpustakaan sekolah sekarang kebanyakan berbelanja buku panduan praktis, bukan karya sastra seperti masa-masa 1950-an hingga 1980-an. Guru atau petugas perpustakaan berbelanja buku sesuai selera pribadi, bukan kepentingan umum. (Anspek)
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Stop Bom Bali Dengan Dialog

thumbnail
Pengamat dan cendekiawan Muslim Indonesia Prof Abd A`la menilai peringatan peristiwa Bom Bali I pada 12 Oktober 2002 dan Bom Bali II pada 1 Oktober 2005 menunjukkan pentingnya dialog untuk menghentikan aksi-aksi teroris seperti itu. "Aksi-aksi teroris di Bali itu mungkin menyudutkan Islam, padahal teroris itu bukan hanya ada dalam Islam, tapi juga ada dalam penganut Kristen, Protestan, Yahudi dan agama lain. Karena itu dialog sangat penting," kata guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu kepada ANTARA di Surabaya, Minggu (12/10).
Ia mengemukakan hal itu menanggapi peringatan peristiwa Bom Bali I di beberapa tempat di Bali yakni Konsulat Australia, Jl Mpu Tantular Denpasar dan monumen bom Bali I di Jl Legian, Kuta (12/10). Sedangkan peristiwa Bom Bali II diperingati di Memoriam Garden dan Konjenl Australia di Denpasar (1/10).
Asisten Direktur Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya itu menilai, aksi teroris untuk ke sekian kalinya bukan jawaban menghentikan penyetaraan Islam dengan teroris, melainkan dialog dan kerja sama merupakan cara paling penting untuk melawan pandangan yang salah itu. ‘’Peringatan Bom Bali I dan II hendaknya mendorong dialog dan kerja sama antar umat dari berbagai agama dan lintas negara, sehingga perlawanan terhadap teroris itu dilakukan pada teroris dari agama mana pun, apakah Islam, Protestan, Yahudi dan sebagainya,’’ katanya.
Cendekiawan muslim yang pernah berkunjung ke Israel pada 3-8 Desember 2007 itu menyatakan bila tidak ada dialog justru akan mendorong kecurigaan antar umat beragama, sehingga teror seperti Bom Bali itu akan terjadi terus-menerus. ‘’Karena itu kecurigaan harus diatasi dengan menyelesaikan ketidakadilan dan ketidakadilan itu dapat diatasi dengan dialog, bukan dengan bom. Teroris itu sesungguhnya merupakan kata yang netral dan maknanya adalah setiap orang yang mengancam orang lain,’’ katanya.
Karena itu, kata dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya itu, penempelan istilah ‘teroris’ pada Islam itu harus diluruskan, karena orang Yahudi di Israel yang melakukan aneksasi dan ancaman terhadap bangsa Palestina juga harus ditempeli istilah yang sama (teroris). ‘’Tapi, upaya meluruskan ketidakadilan itu bukan dengan cara kekerasan, melainkan dialog dan kerja sama justru cara yang penting untuk menunjukkan bahwa orang Islam yang baik dan tidak baik itu sama dengan orang Israel yang baik dan tidak baik,’’ katanya.
Di Yogyakarta, akhir pekan pertama Oktober, Ketua Umum DPP Partai Amanat Nasional (PAN) Sutrisno Bachir berpendapat, peradaban baru Indoneia harus dibangun atas kesadaran kebhinekaan. "Kesadaran kebhinekaan seperti itu tidak akan pernah mati dan selalu ada dalam setiap kelompok masyarakat," katanya pada Sarasehan Budaya Membangun Peradaban Baru Indonesia di Taman Budaya Yogyakarta.
Sosok yang berkesadaran kebhinekaan itulah yang dapat membangun Indonesia karena mereka adalah sosok jernih dan kritis terhadap realitas yang berkembang di masyarakat plus bersikap positif untuk mencari solusi terhadap persoalan bangsa. Pribadi yang jernih itu, kata Sutrisno, ada di setiap profesi maupun kelompok masyarakat di nusantara, bisa dari kalangan birokrasi, militer, politisi, pengusaha, pedagang kali lima, petani, nelayan, buruh, pekerja angkutan, artis, guru dan tokoh agama. ‘’Atau siapa pun dia serta berasal dari suku apa saja dan agama apa pun. Mereka itulah simbol kesadaran bangsa yang perlu dipertautkan dalam jejaring membangun peradaban baru Indonesia,’’ tegas Sutrisno.
Sementara Guru Besar Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Prof Dr Suminto A Sayuti mengatakan, masa depan peradaban tergantung pada kembalinya kesadaran spiritual dalam hati dan pikiran umat manusia. Jika kehendak itu dimaknai sebagai upaya baru untuk menemukan kembali tatanan sebagai bagian integral dari rangkaian perubahan yang terencana, sesungguhnya itu menjadi bagian tak terpisahkan dari penanganan persoalan budaya secara strategis.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008

Pasar-Pasar RAMADAN

thumbnail
Mulyadi seorang usahawan pertambangan di Kalimantan Selatan (Kalsel) hilir mudik di kawasan Pasar Wadai Ramadan (Ramadan Cake Fair) di Jalan Sudirman tepatnya di pinggiran Sungai Martapura Banjarmasin. "Di mana ya langganan saya membeli kue (penganan) amparan tatak yang enak dan lezat, di pasar wadai ini," ujarnya mencari-cari kios kue langganannya.
Mulyadi akhirnya menemukan kios seorang ibu penjual kue dari puluhan kios kue di pasar yang hanya berdiri sepanjang Ramadan tersebut, seraya membeli beberapa potong kue untuk dibawa pulang. "Saya sudah terbiasa membeli kue di lokasi kios milik ibu itu, walau ada kue sejenis di tempat lain, tetapi rasanya menurut saya paling enak di kios itu," katanya.
Beberapa orang wisatawan asal Jepang yang dipandu seorang pramuwisata datang ke pasar Wadai, terlihat membidikkan kamera digitalnya ke deretan penjual makanan Ramadan. Para wisatawan tersebut lebih tertarik dengan masakan yang terbuat dari ikan-ikan lokal, seperti saluang goreng, lais pepes, haruan baubar, baung gangan asam, serta gangan batanak (ikan asin gabus digulai).

Beberapa pengunjung yang lain bergerombol menyerbu sebuah kios yang khusus menjual burung balibis goreng, burung puyuh dan burung punai goreng. Di lokasi pasar kue tahunan yang dikelola Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Banjarmasin ini memang menggelar setidaknya 41 macam kue tradisional khas suku Banjar, di Kalsel, seperti kue amparan tatak, kraraban, lamang, cingkarok batu, wajik, kelepon, sari pangantin, sarimuka, putrisalat, cincin, untuk-untuk, gagatas, onde-onde, pare, putu mayang, laksa, kokoleh, bingka, bingka barandam, bulungan hayam, kikicak, gayam, agar-agar bagula habang dan kue tradisonal lainnya.
Ia juga menggelar dagangan aneka masakan khas Kalsel, seperti gangan waluh, gangan balamak, papuyu baubar, saluang basanga, masak habang, laksa, lontong, katupat kandangan, soto banjar, gangan kecap haruan, gangan humbut, gangan rabung, pais patin, pais lais, pais baung, karih ayam, karih kambing, dan masakan lainnya.
Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), Drs.Rudy Ariffin, saat membuka kegiatan tahunan Senin 1 September 2008 itu menyatakan, pasar Wadai Ramadan (Ramadhan Cake Fair) yang berlangsung setiap bulan Ramadan di Kota Banjarmasin dinyatakan sebagai objek wisata kuliner di wilayah Kalsel. Pasar Wadai dinobatkan sebagai wisata kuliner Ramadan karena menyediakan aneka penganan (kue) dan makanan khas suku Banjar, yang sebagian sulit ditemukan di hari biasa. "Pasar Wadai Ramadan sebagai objek wisata kuliner akan terus dipublikasikan ke penjuru tanah air dan dunia untuk memancing minat wisatawan datang ke Banjarmasin, kata Rudy Ariffin didampingi Walikota Banjarmasin, Yudhi Wahyuni.
Menurut Ariffin yang merupakan putra asli suku Banjar tersebut, keberadaan pasar Wadai dinilai sebagai objek wisata kuliner lantaran di lokasi ini dijual aneka ragam penganan, makanan dan minuman khas suku Banjar Kalsel. Selain itu juga tersedia aneka penganan dan makanan yang berasal dari suku-suku yang ada di tanah air. Sebagian kue dan makanan khas Kalsel yang dijual itu jarang ditemukan di hari biasa kecuali di bulan Ramadan.
Melihat banyaknya kue tradisional yang khas tersebut, maka pasar wadai Ramadan tidak hanya diminati kaum muslimin saja, tapi juga oleh warga non-muslim serta kalangan wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara. Kekhasan atraksi wisata dan juga atraksi budaya pasar Wadai ini telah menjadi event wisata tahunan dan bagian dari kalender kebudayaan Kalsel, yang mendukung Visit Indonesia Year tahun 2008 serta visit Kalsel tahun 2009 mendatang, kata Rudy Ariffin.
Gubernur Kalsel juga berharap pasar wadai dapat memenuhi kebutuhan untuk berbuka puasa kaum muslimin di wilayah ini, karena itu diingatkan kepada para pedagang agar memperhatikan segala aspek, seperti harga, kebersihan, kesehatan, kualitas dan variasi produk dagangan. "Bila pedagang bisa menjaga segala aspek tersebut di atas maka lokasi ini benar-benar akan memancing para pembeli, pada akhirnya mampu menjadikan pasar Wadai sebagai lokasi wisata kuliner bagi semua orang," katanya.
Walikota Banjarmasin, Haji Yudhi Wahyuni menuturkan (Pemko), Banjarmasin melalui kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat kembali menggelar event wisata tahunan, Pasar Wadai Ramadhan di pusat kota Banjarmasin untuk memancing kunjungan wisatawan. "Keberadaan pasar wadai ini juga bisa menjadi ajang nostalgia orang-orang suku Banjar, baik yang ada di Kalsel, maupun yang ada di luar Kalsel, seperti dari Pulau Jawa atau Tembilahan Provinsi Riau yang datang khusus untuk menikmati kue-kue nostalgia tersebut," tuturnya.
Keberadaan pasar Wadai Ramadan di Banjarmasin dimulai tahun 1985, ketika Walikota Banjarmasin saat itu, Haji Kamarudin yang melihat begitu banyaknya penjual wadai di berbagai sudut kota saat puasa yang bukan saja semrawut tetapi juga merusak pemandangan. (Anspek/Hasan Zainuddin)
KPO/EDISI 160/16-30 SEPTEMBER 2008

Pupuk Organik Hidrolisat Ikan

thumbnail
Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Jember (Unej) menciptakan pupuk organik yang bahannya berasal dari ikan. "Pupuk organik hidrolisat ikan ini 100 persen dibuat dari ikan segar yang dicairkan secara enzimatik," kata salah seorang penggagas, A Sjaifullah, PhD di Surabaya, awal Agustus.  
Seperti diberitakan Antara, pupuk organik cair hidrolisat ikan mengandung hidrolisat protein, asam amino dengan nutrisi utama berupa vitamin, hormon, minyak ikan dan mineral, baik makro maupun mikro. Pupuk itu juga mengandung fosfor organik yang diperlukan pertumbuhan akar yang sehat untuk efisiensi pemakaian unsur nitrogen dan kalium.
Karena kandungan nutrisi lengkap, pupuk cair hidrolisat ikan yang pertama kali di Indonesia itu bisa untuk menyuburkan tanah (penyiraman) dan sebagai pupuk daun (penyemprotan). Hasil uji coba terhadap tanaman padi, jagung, kacang tanah, semangka, melon dan jeruk menunjukkan, pemakaian pupuk itu dapat menurunkan pemakaian pupuk kimia hingga 80% dengan hasil panen yang lebih baik.
"Karena keberadaan pupuk cair ini diharapkan menjadi alternatif atau solusi untuk mengatasi kelangkaan pupuk yang akhir-akhir ini dialami petani di Indonesia termasuk di Kabupaten Jember," jelas Sjaifullah. KPO/EDISI 159/SEPTEMBER 2008

Tahu Karena Terbiasa

thumbnail
‘’Jakarta Kapal Api
Bali Asri
Madura Kental
NTB Manis
Lainnya biasa-biasa saja’’
Desain kalimat di atas sengaja saya rancang menyerupai bentuk gaya tulisan puisi atau sajak agar lebih tegas dibaca. Aslinya, itu merupakan satu kesatuan jawaban dari seorang Ahmad Sauri (45), pedagang asal Banyuwangi atas pertanyaan saya tentang bagaimana Sauri bisa menyeduh kopi dengan hanya melihat wajah atau mendengar dialek (logat) bahasa seseorang.
Saya sendiri bertemu Sauri pada awal Agustus 2008 saat mampir ke warung yang disewa di sebuah areal lapang KMP Gilimanuk II yang saban hari melayari rute Pelabuhan Ketapang (Banyuwangi) – Gilimanuk (Jembrana). ‘’Saya sudah hafal betul kemauan penumpang kapal ini yang hendak minum kopi di sini. Penumpang dari Jakarta atau Jawa Barat, biasanya lebih suka kopi merek Kapal Api. Kalau Bali, harus asri dengan seduhan kopi setengah kelas. Madura biasanya minta kopi kental, orang NTB dan NTT agak manis dan yang lainnya biasa-biasa saja,’’ kata Sauri.
‘’Saya sendiri sudah sepuluh tahun bertahan hidup di atas kapal ini, jadi mengetahui betul kemauan penumpang yang ingin minum kopi,’’ lanjut Sauri lagi. Seraya menikmati suguhan kopi yang dibuatkan Sauri, saya hanya berusaha mangguk-mangguk. Nampaknya Sauri bisa mengetahui karaktek para peminum kopi di kedainya karena sudah terbiasa bertemu berbagai latar belakang masyarakat pengguna kapal penyeberangan saban hari.
Sauri sendiri memiliki dua istri dan dikaruniai lima orang anak. Sauri sudah 10 tahun menyewa salah satu areal di dek parkir berukuran 1 x 1,5 untuk jualan aneka camilan, nasi bungkus bila ada, mie rebus dan kopi. Setiap saat, kedai kecil ttersebut selalu saja ada pembeli. Tempat itu disewa Sauri Rp 2 juta per bulan, dan meraih untuk sekitar Rp 1 juta sampai Rp 2 juta.
‘’Hidup itu tidak boleh tegang-tegang. Seperti saya, tetap berusaha tertawa, meski memiliki dua istri. Ya, enjoy aja seperti bahasa iklan sebuah produk rokok. Soal urusan ‘’setor’’ saya tetap melakukan kewajiban sebagai seorang suami secara bertanggung jawab, di samping memberi nafkah secara lahiriah setiap bulan,’’ kata Sauri sembari tertawa ngakak.
Kesan yang minimal saya dapat dari pertemuan dengan Sauri; untuk hidup dan membangun kehidupan, harus tetap berjuang dengan penuh kreatif. Untuk menggerakan sebuah bisnis, sangat dibutuhkan modal, komunikasi (informasi) dan harus berani membuka diri untuk memulai.
Dalam berbisnis, tidak pernah ada sekat-sekat ruang, waktu dan musim. Pun tidak pernah ada nubuat bahwa berbisnis itu hanya bisa dilakukan siang atau malam saja. Juga tidak pernah ada larangan agar tidak boleh berbisnis pada siang atau malam hari. Berbisnis itu tidak mengenal ruang terang atau ruang gelap. Bisnis dapat digeluti siang atau malam, gelap atau terang, panas, dingin dan bahkan hujan sekalipun. Di simpul ini, berbisnis dapat digeluti siapa saja di bawah kolong langit katulistiwa, --di darat, laut maupun di udara. Jaya terus bagi anak negeri yang kreatif dan berani!!! (Albert Kin Ose Moruk) KPO/EDISI 158/AGUSTUS 2008

Balada Laskar Asongan

thumbnail
OASE
Oleh: Albert Kin Ose Moruk
Hari itu Jumat siang, tanggal 25 Juli 2008. Panas matahari di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, terus membakar kulit para pengunjung, --dalam maupun luar negeri. Nafas gadis usia remaja itu masih naik turun akibat terpaan terik mentari yang cukup menyengat. Biji keringat tampak mengalir agak deras seakan ingin me-lap riasan bedak di wajahnya. Sepintas dari raut wajahnya, terekam fakta bahwa ia harus berjuang ekstra untuk bisa menggaet pembeli, yang adalah para wisatawan dalam dan luar negeri.
Seraya menahan napas, gadis cantik ini melempar senyum dan memperkenalkan diri, ‘’Aku Desi,’’ ujarnya sambil menyodorkan aneka kaos bertulis dan bergambar Borobudur kepada saya dan teman yang baru saja turun dari puncak Candi Borobudur.
‘’Terima kasih, terima kasih. Tenangkan diri dulu. Saya masih capek dan ingin minum air,’’ jawab saya kepada Desi yang sudah didampingi lima orang pedagang, sesama teman sejawatnya. ‘’Beli lima kaos hanya 100 ribu rupiah. Ya…, buat pelaris. Dari pukul 10.00 WIB, belum ada yang laku Pak’’ ucap Desi tanpa menggubris butiran keringat yang kian deras mengucur di wajahnya. Saya dan teman saya coba jalan terus menuju areal parkir, namun terus dikerubuti para pedagang yang mayoritas kaum wanita.
Karena terus diikuti, kembali saya menawar, ’’Boleh enam kaos 100 ribu rupiah?,’’ kata saya sambil jalan. Mendengar tawaran ini, tanpa basah basih lagi, Desi langsung mengeluarkan enam kaos sesuai permintaan saya. Desi pun pergi meninggalkan kerumunan rekan seprofesinya yang lain menuju sasaran pembeli berikutnya.
Begitulah potret Desi bersama kaumnya melakoni sebuah rutinitas kehidupan saban hari, dari pukul 10.00 sampai 17.00 di setiap ruas jalan. Antar sesama rekan pedagang, tetap berselimut senyum ramah dan akrab meski barang yang dijejali di tangan kiri dan kanan tidak semua dibeli pengunjung.
Rezeki yang diperoleh setiap orang untuk setiap lakon hidup dan kehidupan saban hari, jelas berbeda-beda. Tidak sama. Candi Borobudur, bagi Desi dan sekitar 1000 lebih kaumnya jelas menjadi ladang, tambang garapan dan sandaran utama mempertahankan kehidupan. Berani, semangat pantang menyerah dan rajin berbicara (menawar) barang dagangan, ternyata menjadi perabas cela untuk menuai rezeki. Bisu dan sunyi apalagi diam, lupa tampak di sekitar areal bangunan peninggalan sejarah terindah dan terbaik di dunia itu.
Potret profesi seorang gadis Desi menggugah daya reflektif saya akan perjuangan maha hebat para seniman tempoe doeloe dalam mendesain dan menghadirkan sebuah bangunan maha karya di tanah Jawa, Indonesia. Lebih dari itu, semangat pantang menyerah yang diperankan setiap pedagang asong kebanyakan menyiratkan kesan bahwa hidup harus terus berbuat (bergerak), dan rajin berbicara (komunikasi) itu sangat penting untuk hidup.
Informasi yang sempat saya himpun menyebut, setiap hari ada sekitar 1000 orang pedagang asongan seperti Desi yang mengadu nasib untuk bertahan hidup dengan menjajakan aneka cinderamata khas Borobudur kepada para tamu, termasuk jasa semir sepatu dan sandal kulit. Jumlah pedagang asong tersebut belum terhitung pedagang di kios-kios pakaian, sandal, sepatu, makanan dan minuman yang berjejer di sekitar areal parkir sampai pintu masuk candi yang menjadi salah satu dari tujuh keajaiban di dunia.
Meski harus mandi matahari dan bersahabat dengan iklim lainnya, kegigihan para pedagang di pinggiran lini-lini Borobudur yang dibangun sekitar abad ke-8 pada Raja Samaratungga dari Dinasti Syailendra tersebut, seakan-akan menyiratkan guratan daya kreatif dari setiap jengkal pahatan ornamen candi. Bukankah relief-relief yang terukir di setiap dinding candi menawarkan kesan hidup yang harmonis, tanpa harus diberi batasan kaya miskin, kelas bawah, menengah dan atas?