Dahsyatnya Pikiran

thumbnail
Judul : Lima Aturan Pikiran
Penulis : Mary T. Browne
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Terbit : 2008
Tebal : xi+ 266 halaman
Peresensi : Nurul Maghfiroh*
Cogito ergo sum! Begitu teriak Descartes, filsuf Yunani kuno. Saya berfikir maka saya ada. Kata-kata bijak, filsuf besar ini mengundang beberapa pertanyaan. Di antaranya mengapa manusia harus berpikir? Ada apa dengan pikiran itu?
Menurut Mary T. Browne, pikiran adalah sebuah gambaran yang diarahkan ke angkasa. Pikiran ada getaran. Pikiran adalah gaya dan energi. Pikiran adalah kekuatan kreatif. Pikiran adalah ruh. Ia memiliki warna, bunyi, dan kepadatan. Pikiran itu sungguh hidup. Anda adalah apa yang Anda pikirkan.
Jika demikian adanya, pikiran merupakan titik sentral kehidupan kita. Kita tidak akan dapat hidup tanpa berpikir. Mungkin hal inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Manusia dibekali oleh Tuhan dengan pikiran dan nurani. Dengannya, manusia dapat membedakan yang haq dan yang batil, berproses, dan menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi.
Kontributor The Secret dalam buku ini, menawarkan lima aturan pokok pikiran yang akan mengantarkan manusia menjadi manusia sejati. Manusia yang mampu menangkap peluang dan memperoleh apa yang diinginkannya. Tidak hanya itu, lima aturan pokok pikiran ini akan mengantarkan manusia mampu menggunakan Daya Ilahi dalam menjalani proses kehidupan.
Lima aturan pokok pikiran ini adalah, pertama, Anda harus menentukan apa yang Anda inginkan. Kedua, lihat hal itu telah terjadi. Ketiga, jangan ragu-ragu. Keempat, Anda harus mempunyai keyakinan. Kelima, ketekunan membawa hasil.
Kelima aturan pokok pikiran ini diuraikan secara apik dalam bab tiga buku ini. Kelima aturan pokok pikiran ini berasal dari hasil refleksi penulis yang tinggal di New York, Amerika Serikat, selama menjadi cenayang profesional selama 20 tahun. Kelebihan lain buku ini adalah diuraikan berdasarkan pengalaman klien Mary T. Browne, sehingga semakin memikat hati.
Buku kecil ini, menjadi enak dibaca karena ditulis dengan bahasa sederhana dan tidak bertele-tele. Buku ini juga cukup sistematis dalam menggambarkan ide-ide besar yang diramu dengan pendekatan psikologi yang cukup memadai.
Namun, buku ini terkesan serius karena di dalamnya tidak disertai dengan ilustrasi atau gambar-gambar yang menghibur. Ilustrasi atau gambar akan semakin memperkaya imajinasi kita dalam memahami sebuah buku. Dengan adanya ilustrasi atau gambar, dapat mengurangi kejenuhan dalam membaca. Dengan bantuan gambar pula, setiap orang mampu (tanpa membedakan umur) dengan sendirinya menangkap pesan dari si penulis.
Pun demikian, buku ini layak Anda baca sebagai referensi dan pemecah kebuntuan berpikir di tengah laju perubahan zaman yang semakin cepat. Pikiran akan mampu mengantarkan Anda menjadi manusia utuh. Hal ini karena, pikiran merupakan titik sentral kehidupan manusia. Tanpa pikiran, manusia hanyalah makhluk lemah yang tak berdaya. Inilah dahsyatnya pikiran, sebagaimana penggambaran yang dinyatakan oleh Descartes.
*) Ibu rumah tangga, tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Shalawat Cara Mudah Hidup Sehat

thumbnail
Judul : Rahasia Sehat Berkah Shalawat
Terapi Ampuh Mencegah Dan Menyembuhkan Penyakit
Penulis : M. Syukron Maksum & A. Fathoni el-Kaysi
Penerbit : Best Publisher, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : 192 halaman
Peresensi : Supriyadi*
Era modernisasi ditandai dengan perkembangan dan kemajuan keilmuan pada banyak bidang. Istilah ilmiah tak asing di telinga setiap orang yang mendalami ilmu pengetahuan. Metode-metode teknologi modern telah diperkenalkan oleh para ilmuwan. Di bidang kedokteran dan kesehatan, umat manusia telah beralih menuju cara-cara pengobatan medis modern.
Dukun, tabib, dan pengobatan tradisionalisme lainnya warisan leluhur ditinggalkan oleh manusia yang berpikiran modernis-rasionalis. Rumah sakit dan puskesmas kini dibangun di mana-mana. Praktek dokter pun juga semakin banyak sebagai pelayanan kesehatan masyarakat. Meski demikian, masih banyak orang yang awam terhadap modernisasi, terutama pada bidang kesehatan. Mereka yang awam itu masih menganggap dukun sebagai orang yang mampu mengobati. Mitos-mitos pun masih berkembang pada pemikiran mereka yang awam itu.
M. Syukron Maksum dan A. Fathoni el-Kaysi dalam bukunya yang berjudul Rahasia Sehat Berkah Shalawat; Terapi Ampuh Mencegah Dan Menyembuhkan Penyakit menguraikan keterangan-keterangan beserta argumentasinya metode kesehatan dengan shalawat. Shalawat adalah bentuk pujian kepada Nabi Muhammad Saw. Shalawat mampu mencegah dan menyembuhkan penyakit. Dengan beberapa bukti empiris, shalawat memang mempunyai energi untuk terapi ampuh kesehatan.
Masih segar dalam ingatan publik tentang fenomena dukun cilik dari Jombang, Ponari. Dengan batu ajaibnya, Ponari mampu menyembuhkan berbagai penyakit dengan hanya mencelupkan batu tersebut ke dalam air minum, lalu diminumkan kepada orang sakit. Antrean panjang pun terjadi karena ingin minta kesembuhan dari air celupan batu Ponari itu.
Fenomena seperti itu semestinya menjadi pelajaran bagi layanan kesehatan masyarakat seperti rumah sakit dan puskesmas. Mengapa masyarakat lebih memilih Ponari (mistis) dari pada layanan kesehatan modern (medis). Hal itu merupakan indikator bahwa Ponari (mistis) lebih mendapat tempat di hati masyarakat daripada layanan kesehatan modern seperti rumah sakit, puskesmas, dan praktek dokter.
Secara sosial, ternyata masih banyak masyarakat yang mempercayai hal-hal mistis-supranatural, padahal modernisasi dan rasionalitas ilmu pengetahuan telah masuk dan mendasari banyak pemikiran umat manusia. Dengan munculnya fenomena Ponari tersebut, menjadi bukti kuat bahwa masih banyak masyarakat dengan “keterbelakangan pemikiran.” Hal itu dikarenakan pendidikan dan internalisasi ilmu pengetahuan pada masyarakat tersebut kurang berperan karena pemikiran masyarakat tersebut masih terkungkung pada mitos.
Dari fenomena Ponari tersebut setidaknya menjadi kritik bagi layanan kesehatan di Indonesia. Beberapa hal yang menjadi obyek kritikan dari gejala sosial Ponari tersebut adalah kurang terpenuhinya kepuasan masyarakat dari layanan kesehatan. Hal itu dikarenakan tingginya biaya kesehatan sementara daya beli sebagian masyarakat rendah. Tak mengherankan jika akhirnya masyarakat berduyun-duyun mendatangi Ponari. Hal itu ditambahkan dengan banyaknya malpraktek oleh beberapa dokter yang telah menelan banyak korban. Akhirnya, masyarakat takut akan malpraktek tersebut dan beralih ke Ponari yang terbukti murah dan mereka anggap aman karena tidak mungkin terjadi malpraktek pada pengobatan ala Ponari.
Dari segi agama (Islam), hal itu telah memasuki area syirik karena masyarakat seolah-olah mendewakan Ponari dengan batunya sehingga menyebabkan kepercayaan yang berlebihan. Fenomena Ponari tersebut telah melunturkan keimanan masyarakat sehingga iman tidak lagi menjadi pondasi kehidupan. Demikian pula pengaruhnya dalam pemikiran masyarakat yang telah terbius oleh mitos akan mistis-supranatural.
Terapi kesehatan, yakni shalawat telah teruji secara ilmiah dan lepas dari mistis-supranatural. Shalawat ternyata memiliki efek yang baik terhadap kesehatan dan dapat menjadi terapi bagi penyembuhan penyakit. Hal ini disebabkan pengaruh shalawat yang sangat besar terhadap unusur psikologis seseorang. Shalawat yang dilakukan dengan penuh keikhlasan, khusyuk, tepat, dan kontinyu diyakini dapat menumbuhkan persepsi dan motivasi positif dan mengefektifkan coping, yaitu suatu mekanisme untuk mengatasi perubahan yang dihadapi atau beban yang diterima (stres). Apabila coping mechanism ini berhasil, seseorang dapat beradaptasi terhadap perubahan tersebut atau merasakan beban berat menjadi ringan (hal. 76).
Secara kausatif dan berpikir logis, karena shalawat mampu menumbuhkan persepsi dan motivasi positif bagi seseorang. Hal tersebut mempengaruhi respons imun sehingga kekebalan dan ketahanan tubuh seseorang terhadap penyakit akan meningkat. Jadi, dengan mengamalkan shalawat secara ikhlas, khusyuk, tepat, dan kontinyu tubuh seseorang akan lebih tahan terhadap penyakit. Bahkan bisa menyembuhkan penyakit.
Para pembaca diajak lebih jauh mendalami rahasia dan manfaat shalawat bagi kesehatan sehingga menjadi terapi ampuh untuk mencegah dan menyembuhkan berbagai macam penyakit. Selain telah terbukti secara ilmiah, shalawat juga tidak membutuhkan biaya mahal. Bahkan tidak mengandung syirik sebagaimana Ponari dengan batu ajaibnya. Shalawat menjadi cara mudah hidup sehat di tengah kondisi ekonomi yang serba sulit.
*) Pustakawan yang Aktif pada Kelompok Diskusi GRANAT (GDC), Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Mengembalikan Kemerdekaan Suara Tuhan

thumbnail
Judul : Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan
Penulis : Dr. Moeslim Abdurrahman
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Cetakan : 2009
Tebal : 296 halaman
Peresensi : Imam Musthafa*
Demokrasi telah bergulir, rakyat menyambut dengan penuh semangat. Optimisme masyarakat penuh dengan harapan ideal. Segala permasalahan yang menumpuk secara cepat dan total akan terselasaikan. Seperti, krisis ekonomi dan sosial secara berkepanjangan mengantarkan Indonesia pada jurang kemiskinan dan pengangguran. Malalui lahirnya sistem negara demokrasi secara mendadak mengawali babak baru bagi Indonesia untuk lebih adil dan sejahtera.
Memasuki pemilu 1999, ingar bingar masyarakat menyambut pemilihan umum penuh apresiasi. Mereka terjun berpolitik secara langsung menentukan pilihan calon pemimpin yang sesuai dengan hati sanubarinya. Rentetan pasangan calon dijadikan penilaian objektif tanpa menerima suapan dari pasangan. Karena Kesadaran masyarakat mulai tumbuh, bahwa kemajuan negara tertera pada pemimpin yang bersih.
Pemilu 1999 yang dimenangkan KH. Abdurrahman Wahid (Gusdur) melalui pemilihan parlemen (legalitas) menbawa harapan dan optimisme yang cukup besar akan terciptanya perubahan yang lebih baik dan maju. Harapan itu mulai meredup setelah sampai setahun akibat kegagalannya mengantarkan Indonesia yang lebih baik dan maju. Ini juga berlangsung pada pemerintahan Megawati hingga SBY yang belum menjawab aspirasi rakyat.
Dari sini menjadi pelajaran berharga bagi rakyat Indonesia bahwa berbagai bentuk sistem pemerintahan tidak dapat dijadikan legitimasi pembenaran menbawa Indonesia bebas dari jeratan hutang. Hambatan dan kegagalan Gusdur dan presiden lainnya dalam menbangun negara, alasannya nyaris serupa, kekacauan stabilitas politik dan sosial. Imbas utama, neraca perekonomian negara kian menpuruk dan berlanjut, tanda-tanda keberhasilan sebagai pemerintah hanya sebatas wacana. Potret dilapangan menunjukkan angka kemiskinan dan penganguran melonjak drastis. Seolah-olah hanya rayuan elit politik untuk menbahagiakan rakyat yang selama ini, janjinya tidak terpenuhi.
Memasuki pemilu 2009, rasa pesimisme akan menbayangi pemilih terhadap kapasitas dan kapabilitas elit politik. Apalagi reaksi dan strategis Partai Politik (Parpol) memberikan tontonan tidak menarik akibat tidak memiliki landasan ideologi. Parpol yang mendapatkan suara minim pada pemilihan legislatif mengekor pada parpol besar, Partai Demokrat dengan suara di atas 20 persen. Sementara kedudukan Parpol Islam dalam pemilu kali ini, hanya sebatas bayang-bayang akibat meraih suara sedikit seperti PKS, PAN, PKB, dan PPP. Kekalahan yang diterima tidak dijadikan pelajaran untuk semakin menperkuat dirinya, tanpa berpecah belah.
Realitas yang terjadi, parpol Islam memberikan kebebasan terhadap generasinya mengikuti jejak partai lain. Tidak semuanya lurus mengikuti ketua fraksinya. Semestinya, parpol Islam mengubah formasinya menjadi partai oposisi dalam rangka melindungi rakyat apabila terdapat kebijakan yang tidak memihak terhadap rakyat.
Melihat realitas politik yang tidak mendewasakan dan bertanggung jawab terhadap kehidupan sosial, Dr.Moeslim Abdurrahman melalui bukunya “Suara Tuhan, Suara Pemerdekaan” memberikan jawaban untuk meluruskan perjalanan demokrasi Indonesia yang jauh dari objeknya. Demokrasi negara kita hanya sebatas prosedur, belum sampai pada subtansinya.
Sistem demokrasi akan tercapai dan sesuai dengan cita-citanya. Yaitu dari rakyat, oleh, dan untuk rakyat manakala keadaan sosial telah tentram dan aman. Segala macam bentuk pertikaian di belahan bumi nusantara telah dikendalikan. Artinya, masyarakat dituntut menerima perbedaan. Identitasnya harus dijinakkan supaya keangkuhan entitas dapat menemukan titik temu.
Untuk menemukan titik temu dan kebersamaan, tidak sepenuhnya diserahkan ke kelompok itu sendiri. Meskipun tingkat kesadaran dari kelompok telah tumbuh. Lebih baiknya, mendapatkan dukungan parpol dalam rangka menjembatani hubungan keduanya, sehingga perjalanan kebijakan pemerintah lebih terarah dan obyektif.
Moeslim Abdurrahman mengatakan, demokrasi Indonesia tidak bisa berjalan sendiri, tanpa intervensi agama. Karena masyarakat Indonesia sebagian besar pemeluk agama. Kekacauan yang semarak di berbagai wilayah perlu ditinjau dari sudut agama yang mengajari terhadap pemeluknya dalam berpolitik. Persoalannya eksistensi semua agama memiliki misi suci dengan menjunjung tinggi nilai perdamaian.
Dr. Moeslim Abdurrahman pada khususnya lebih menitik beratkan pada nilai agama Islam sebagai agama terbesar di bumi nusantara ini. Sehingga dalam buku ini, Abdurrahman ingin menberikan penegasan kembali terhadap agama Islam, bahwa Islam sebagai ideologi perubahan yang menggugah kesadaran emansipasi, terutama yang bersifat struktural. Bukan sekedar mengutamakan dakwah yang terlalu menonjolkan kesalehan ritual.
Islam sebagai agama profetik harus secepatnya bergerak, tidak menyerah pada struktur hegemonik yang menghasilkan lebarnya ketimpangan sosial. Moeslim Abdurrahman menganjurkan Islam menjadi teks sosial yang menjadi agen perubahan, supaya memunculkan sebuah kekuatan moral-kolektif, sehingga Islam senantiasa memberikan dorongan meyakinkan terhadap penganutnya. Selebihnya terhadap negara yang berasas demokrasi, bahwa Islam merupakan agama perdamaian dan mengerikan rakhmat terhadap antar golongan.
Untuk menciptakan perdamaian, suara Tuhan (wahyu) harus diteriakkan oleh mereka yang menderita supaya memiliki kesadaran kolektif. Yang lebih utama adalah ulama-ulama biasa yang memiliki kedekatan sosial terhadap masyarakat bawah. Misalnya, dalam majlis taklim yang egaliter dan dialogis.
Parpol Islam menempati peran urgen dalam membantu para ulama dan lembaga keagamaan yang meneriakkan suara Tuhan. Tapi, peran parpol lebih mengarah ke wilayah politis. Bagaimana menciptakan pendidikan politik? Yang mana, Islam telah mengajari terhadap umatnya untuk mematuhi dan bertanggungjawab terhadap negaranya. Kesadaran itulah yang harus dibongkar supaya cita-cita demokrasi tercapai. Sehingga suara Tuhan yang nyaris sirna di tengah realitas ruang dan waktu kembali bersuara sesuai dengan literaturnya.
Buku ini menberikan kritikan terhadap lembaga sosial dan politik yang senantiasa menyuarakan ketimpangan sosial yang kunjung belum berhasil. Penjelasannya sangat sistematis dan jelas unsur-unsur yang paling berpengaruh dalam pertikaian dan ketidakstabilan politik dan sosial sejak orde baru, hingga tidak ada pemimpin yang mampu memulihkannya.
*)Pustakawan Rumah Baca Kutub Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Denyut Ekonomi Di Masa Kolonial

thumbnail
Judul: Bertahan di Tengah Krisis; Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon
Penulis : Abdul Wahid
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2009
Tebal : xxii + 184 halaman
Peresensi : Humaidiy AS*
Banyak penganut teori modernisme percaya bahwa sejarah manusia yang bersifat linier ini akan mencapai tahap akhir di mana nilai-nilai kapitalisme dan demokrasi liberal akan menjadi ideologi hegemonik tanpa tanding. Digambarkan pula bahwa seluruh aspek kehidupan umat manusia, baik ekonomi, politik maupun sosial akan sangat kental diwarnai oleh norma-norma kapitalisme sebagai konsekuensi dari terintegrasinya ekonomi nasional dalam kapitalisme global. Namun, siapa mengira terjadinya krisis ekonomi Asia, khususnya di Indonesia, Thailand dan Korea Selatan pada 1997 lalu mulai menimbulkan keraguan akan argumentasi teori modernisme tersebut.
Begitu mendalam dan luasnya pengaruh krisis, sehingga membuat krisis ekonomi 1997 cepat menjadi krisis total di segala bidang yang diantara dampak pentingnya adalah terkikis habisnya pondasi ekonomi yang telah menopang rezim Orde Baru lebih dari tiga dekade lamanya. Begitu dramatisnya dampak krisis 1997, sehingga menarik banyak akademisi dari berbagai disisplin ilmu untuk menganalisis latar belakang fenemona keruntuhan ekonomi yang terjadi karena memiliki kecendrungan yang berulang meski dalam kualitas yang berbeda.
Sebagaimana judulnya, buku Bertahan di Tengah Krisis; Komunitas Tionghoa dan Ekonomi Kota Cirebon yang ditulis oleh Abdul Wahid ini mencoba mengkaji fenomena krisis ekonomi dalam konteks sejarah Indonesia yang dikhususkannya pada fenomena depresi ekonomi tahun 1930-an pada masa kolonial. Dalam kajian sejarah ekonomi Indonesia, depresi ekonomi 1930 merupakan salah satu krisis yang skala dampaknya dianggap menyerupai krisis ekonomi tahun 1997, bahkan lebih dahysat pengaruhnya daripada krisis keuangan global yang menimpa masyarakat kita saat ini. Menariknya, pembahasan buku ini secara khusus mencermati peran komunitas Tionghoa di tengah percaturan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam balutan konteks Cirebon dan wilayah sekitarnya.
Sejak abad ke-16, kota Cirebon memang merupakan salah satu kota yang terletak di kawasan pantai utara Jawa. Sejak awal perkembangannya, kota ini menjadi bagian aktif dari dinamika perdagangan periode awal di nusantara. Karenanya wajar jika kota ini menjadi salah satu titik persinggahan yang dikenal sebagai “Jalur Sutra” dan pusat terpenting aktivitas perdagangan. Sebagai kota pelabuhan, Cirebon pada masa itu dengan cepat mengalami perkembangan, baik dari segi sosial, politik, maupun ekonomi masyarakatnya. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kemudian Cirebon dengan cepat berubah menjadi kota ‘kosmopolitan’ yang dihuni oleh beragam etnik (hal. 8). Adapun komunitas Tionghoa merupakan kelompok pedagang terpenting yang cukup mempengaruhi aktivitas perdagangan di Cirebon. Mulai dari pedagang eceran, menengah dan besar. Sewaktu depresi ekonomi terjadi, denyut perekonomian masyarakat Cirebon yang banyak bergantung pada laju perdagangan mengalami kelesuan sehingga sangat mempengaruhi produktivitas perekonomian regional dan nasional secara menyeluruh, termasuk mengguncang daya survival masyarakat pribumi dan Tionghoa bahkan Pemerintah Kolonial yang menjadi penguasa. Depresi ekonomi yang dimulai antara tahun 1929-1939 ini diakui menjangkau seluruh dunia dan digambarkan sebagai kemunduran ekonomi terbesar yang terjadi pada paruh pertama abad ke-20. Sementara itu, bagi Indonesia depresi ekonomi tahun 1930-an merupakan bukti paling nyata bahwa perekonomian Indonesia telah terintegrasi dengan pasar internasional.
Fenomena depresi ekonomi tahun 1930-an merupakan salah satu tonggak penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia di masa kolonial. Ada beberapa indikasi mengapa peristiwa itu dianggap memiliki makna historis yang cukup signifikan. Pertama, peristiwa itu memiliki pengaruh yang sangat luas dan mendalam terhadap aktivitas dan kondisi ekonomi berbagai komunitas sosial dalam masyarakat Indonesia. Kedua, depresi ekonomi ini juga berpengaruh terhadap perkembangan sosial-politik masyarakat Indonesia. Ketiga, sehubungan dengan itu, Pemerintah Kolonial harus mengikis habis kebijakan ekonominya dalam rangka politik etis, karena prinsip dasar mereka yang sebelumnya menolak intervensi dalam aktivitas ekonomi harus dicabut. Sebagai gantinya, mereka mulai menerapkan berbagai regulasi dan restrikrasi untuk menanggulangi dampak dari depresi ekonomi.
Melalui buku ini, pembaca tidak hanya akan mendapat pemahaman sejarah bagaimana komunitas Tionghoa sebagai bangsa penjelajah dunia sampai ke nusantara yang mencapai puncaknya pada 1860-an dan 1930-an (hal.77). Lebih dari itu, Wahid dengan sangat terperinci menjabarkan bagaimana komunitas ini muncul sebagai kelompok paling progresif dalam memanfaatkan berbagai kesempatan ekonomi yang tersedia. Wawasan cakrawala kita juga semakin bertambah tidak hanya pada aspek ekonomi dalam rentang waktu tersebut, tetapi juga aspek-aspek sosial-politik yang melingkupinya.
*)Staf Pendidik pada MTs. Ali Maksum Ponpes Krapyak dan Aktivis pada Lembaga Kajian Agama dan Swadaya Umat (LeKAS) Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Peran Stilistika Dalam Sastra Dan Kehidupan

thumbnail
Judul: Stilistika; Kajian Puitika Bahasa, Sastra, dan Budaya
Penulis : Prof. Dr. Nyoman Kutha Ratna
Penerbit : Pustaka Pelajar
Cetakan : I Mei 2009
Tebal : xi+480 halaman
Peresensi : Eko Sulistiyo*
Karya sastra, khususnya puisi dan cerpen, merupakan karangan bebas, yakni karangan yang tidak terikat oleh syarat-syarat (teori). Pengertian bebas dipahami dalam arti bebas untuk mengekspresikan dan menumbuhkembangkan karya itu sendiri. Tetapi tidak sedikit orang yang berasumsi bahwa bebas di atas adalah bebas dalam segala hal. Untuk meluruskan kembali kekeliruan itu, maka sangat diperlukan ilmu yang membahas tentang stilistika.
Jika dipandang dari sudut etimologi, stilistika (stylistic) adalah ilmu tentang gaya. Sedangkan style sendiri adalah cara yang khas. Segala sesuatu diungkapkan dengan cara tertentu, sehingga tujuan yang dimaksud dapat dicapai secara maksimal. Terkait kedua istilah di atas, ada istilah lain yang sering dilupakan, meskipun dalam proses analisis sejatinya menempati peran yang tidak dapat diremehkan, yakni majas. Karena dari majas akan lahir yang namanya gaya dan rasa, yang keduanya itu akan memberikan warna dalam sastra.
Karya sastra dapat dipahami dengan dua cara, yakni karya sastra sebagai seni bahasa dan karya sastra sebagai seni. Namun yang lebih dominan adalah bagian pertama. Pasalnya, yang pertama cenderung condong pada karya seni yang di dalamnya masalah-masalah dalam bahasa belum digunakan. Karena di sana terdapat masalah yang sangat kompleks, sehingga memerlukan perhatian yang sangat serius, semisal stilistika, semiotika, teks, dan berbagai kompetensi yang berkaitan dengan hermeneutika.
Jika ditarik dalam pengertian luas, stilistika dan estetika bekerja saling meliputi, di mana stilistika mengimplikasikan keindahan. Demikian dengan keindahan yang juga selalu melibatkan berbagai sarana yang dimiliki oleh gaya bahasa. Seperti halnya persamaan bunyi dalam puisi, kombinasi warna pada lukisan, susunan nada dalam lagu dan lain sebagainya. Kesuluruhan aspek estetis, baik dalam karya seni dan sastra jelas dilakukan dengan menggunakan gaya tertentu, karena gaya dan bahasa adalah dua unsur yang saling meliputi dan juga saling melengkapi dalam rangka menampilkan makna suatu aktivitas kultural.
Oleh sebab itu, stilistika dan estetika selalu menempati kedudukan yang tinggi dalam karya sastra. Karena stilistika selalu berkaitan dengan medium utama, yaitu bahasa. Sedangkan keindahan tidak lepas dari hasil akhir kemampuan medium itu sendiri dalam menampilkan ciri khasnya. Pengarang dapat dikatakan sukses jika sensitif terhadap objek, sehingga dia mampu untuk menyajikan seluruh permasalahan yang ada dalam masyarakat sesuai dengan tujuan. Selain itu, kesensitifan pengarang terhadap eksistensi bahasa juga sangat diperlukan.
Stilistika dalam kehidupan
Ternyata peran stilistika tidak berhenti hanya sampai pada sastra.
Karena gaya bahasa tidak semata-mata merupakan kompetensi sastra,
melainkan di semua aktivitas yang menggunakan medium bahasa. Untuk
mengetahui dasar hidup sehari-hari dalam bidang sosiologi, kiranya
diperlukan teoroi yang telah dikembangkan oleh Berger dan Luckmann.
Pertama, kehidupan sehari-hari adalah kehidupan yang sudah ada, tanpa
harus diteliti lebih jauh asal-usulnya. Karena gejala-gejala di
dalamnya sudah tersusun.
Kedua, kehidupan sehari-hari merupakan kehidupan yang alami bersama
orang lain, sebab konstruksi intersubjektif. Kehidupan sehari-hari
juga bersifat pragmatis dan berjalan terus. Oleh karena itu di
dalamnya tidak ada plot, peristiwa tidak diseleksi dan juga tidak
berulang. Dan yang ketiga adalah bahwa dalam kehidupan sehari-hari
terikat dalam struktur ruang dan waktu.
Atas dasar ciri-ciri di atas, kehidupan sehari-hari dapat
diklarifikasikan kedalam dua bentuk, yakni langsung dan tidak
langsung. Bentuk pertama merupakan tatap muka dan terjadi saat ini,
yang di dalamnya berlangsung interaksi sehingga melahirkan berbagai
macam ekspresi. Sedangkan yang kedua adalah bentuk interaksi yang
dilakukan melalui sarana pikiran, perasaan, dan sikap, khususnya
bahasa. Dengan demikian, bahasa sudah dibatasi dengan secara
geografis, etnis, dan pembagian kelompok yang lain.
Dengan demikian, bahasa membangun bidang semantis, sehingga terjadi
perbedaan gender, keakraban, dan nama kelas-kelas sosial. Semisal
“Mas” untuk sebutan putra dan “Mbak” untuk putri. Disamping kehidupan
sehari-hari yang bersifat pragmatis, juga berlaku dalam kehidupan yang
lebih spesifik, seperti seni, politik, ekonomi, penelitian di
laboratorium, dan sebagainya. Tetapi yang terakhir ini dilakukan oleh
kelompok tertentu sesuai dengan profesinya.
Gaya dan kehidupan sehari-hari dengan demikian dapat dianggap memiliki
kualitas yang lebih dari pada gaya bahasa tulis. Pada dasarnya, bahasa
sehari-hari juga dapat digunakan sebagai tolok ukur untuk mengetahui
tingkat kehidupan kelompok tertentu. Karena secara tidak disadari,
masyarakat terdidik atau sebaliknya jelas menampilkan bahasa
sehari-hari yang berbeda dan juga gaya yang berbeda pula.
Kelemahamnya, bahasa itu dengan sendirinya tidak direkam secara
seluruhnya. Bahasa sehari-hari adalah bahasa yang hanya sekali
diucapkan dan didengarkan. Karena itulah bahasa sehari-hari dikatakan
sbagai bahasa yang unik.
Sekarang ini masih banyak orang berfikir bahwa gaya bahasa hanya dapat
digunakan dalam sastra. Padahal dalam kehidupanpun gaya bahasa
memegang peranan yang sangat penting. Seperti orang buta atau tuli,
yang tidak lepas dari gaya sinekdoke. Dengan demikian, presentase
kehidupan dalam bersastra sangat kecil jika disandingkan dengan
kehidupan manusia dalam keseluruhan. Lebih-lebih apabila dikaitkan
dengan sastra dalam arti formal, seperti pembicaraan mengenai sebuah
novel, puisi, drama, dan genre sastra yang lain.
*)Staf Divisi pengelola dan pemberdayaan Perpustakaan al Hikmah, Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kitab Sastra Monumental Sepanjang Sejarah

thumbnail
Judul : 100 Karya Sastra Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan
Penulis : Minan Nuri Rahman dkk
Penerbit : I, Boekoe, Yogyakarta
Cetakan : Mei 2009
Tebal : 1000 halaman
Peresensi : Miftahul A’la*
Dalam jagad dunia kesusastraan Indonesia, sastra merupakan dunia yang banyak diminati oleh masyarakat. Kenyataan ini terbukti dari begitu banyaknya karya-karya sastra yang lahir dan berkembang secara drastis. Baik sebelum maupun pasca kemerdekaan. Sastra telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari peradaban kehidupan masyarakat Indonesia. Bahkan pasca kemerdekaan, banyak sastrawan Indonesia yang mulai bermunculan dengan karya-karya terbaiknya di Indonesia bak jamur yang tumbuh di musim hujan. Sastra turut serta dalam memperkenalkan serta membesarkan Indonesia pada kancah dunia internasional.
Sudah tak terhitung begitu banyak karya sastra hingga sampai abad ini yang telah dilahirkan oleh putra-putra Indonesia. Mulai dari sastra yang berbentuk prosa, cerpen, esai, pusi dan drama maupun yang lain sebagainya. Semua karya sastra tersebut memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Ada sebagain karya sastra Indonesia yang mampu mengemparkan dan mengundang kritkan dari sastwan lainnya. Bahkan tidak sedikit karya sastra Indonesia yang menjadi referensi oleh sastrawan dunia.
Namun demikian, mungkin karya “100 Karya Sastra Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan” ini merupakan karya sastra yang bisa dikatakan paling “monumental” sepanjang serajah kesusastraan Indonesia. Meskipun karya ini masih terbilang baru, namun kitab sastra ini mempunyai banyak kelebihan yang tidak dimiliki oleh karya-karya sastra yang lainnya. Tentunya sastra ini juga akan mampu mengguncang dunia kesusastraan Indonesia yang selama ini mengalami pasang surut dalam perjalannya. Di dalamnya dibedah dan disajikan secara lebih terperinci tentang karya-karya sastra Indonesia yang dikira telah mampu mewakili dan banyak menjadi referensi oleh dunia sastra. Dari karya sastra klasik sebelum kemerdekaan hingga karya sastra modern pasca kemerdekaan semuanya menjadi fokus dalam pembahasan kitab ini.
Karya ensiklopedi sastra ini terdiri dari pusi, esai, novel, ciklit serta darama. Namun tujuan dari karya ini bukan bermaksud mengajukan suatu daftar ”buku-buku terbaik” ataupun ”buku-buku terpenting”. Tujuan pertama dari karya ini adalah untuk menemui buku-buku karya sastra yang menjadi penopang utama Pax Literaria Indonesia.
Namun demikian tidak menutup kemungkinan terdapat banyak kekurangan di dalamnya. Sebab dari sekian banyak sastra yang dilahirkan sastrawan Indonesia, ternyata hanya sebanyak 100 karya sastra saja yang masuk dalam kategori dan dipilih dalam daftar. Tentunya jumlah yang sangat sedikit jika melihat begitu lamanya sastrawan Indonesia dan begitu produktifnya mereka dalam berkarya. Pengerucutan inilah yang menyebabkan tidak semua karya sastra “terbaik Indonesia” yang tidak tercaver di dalamnya, karena terbatasnya tempat yang disediakan.
Selain itu, kekurangan yang sangat menonjol adalah penilaian yang dipakai dalam klarifikasi bisa dikatakan sangat subyektif. Sebab dalam penilaian yang dipakai dalam klarifikasinya, hanya dirumuskan oleh 4 orang saja. Sehingga menurut hemat penulis tentunya subjektifitas yang dikemukakan oleh mereka tentunya secara garis besar belum mampu mewakili. Sedangkan dalam pemilihan dalam buku ini secara garis besar hanya menggunakan 3 tolok ukur.
Pertama, karya terseut merupakan karya sastra murni Indonesia, dalam artian luas mencakup buku sajak, esai, drama, fikis, cerita silat komik, novel dan sebagainya. Dengan atribut ”Indonesia” diaksudkan bahwa buku ini pada mulanya ditulis dalam bahasan Indonesia, melayu tinggi dan atau melayu rendah/pasar/melayu lingua franca. Kedua, karya itu harus mampu ”menggoncang’ jagad kesusastraan Indonesia. Goncangan ini timbul akibat dari dayabesar yang dimilikinya sebagai karya sastra. Ini diasumsikan sebuah karya memiliki strukturnya sendiri yang komplet dan self-sufficient, sehingga karya tersebut mampu berdiri secara independen ketika menemui pembacanya. Selain juga harus mampu memancing pembicaraan dan perdebatan di kalangan sastrawan atau bahkan masyarakat umum. Dan yang ketiga, buku tersebut tidak akan disisihkan bila memberikan pengaruh besar terhadap situasi kemasyarakatan secara umum, baik secara langsung maupun tidak. (hal 6)
Terlepas dari kekurangan dan berbagai macam ketidakpuasan karena tidak tercavernya seluruh karya sastra terbaik Indonesia, memang kitab sastra ini patut untuk diapresiasikan dan mampu mendapatkan tempat yang lebih dalam jagat dunia kesusastraan Indonesia. Sebab bagaimanapun tidak bisa dipungkiri bahwa banyak karya sastra yang terlupakan atau sengaja dilupakan oleh sejarah. Entah karena sastra tersebut menimbulkan banyak kontroversi yang begitu dasyatnya seperti Langit Makin Mendung Karya Ki Panji Kusmin, atau karena sekian tahun lamanya karya tersebut dilahirkan, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan atau memahami draft karya itu.
Dengan kehadiran karya sastra ini, minimal putra-putri bangsa mampu untuk kembali mengenal dan memahami karya sastra Idonesia yang selama ini sudah banyak dilupakan. Karena tidak menutup kemungkinan dari zaman ke zaman banyak sastra yang sengaja dibuang oleh penguasa karena dinilai terlalu kontroversi dan banyak mengkritik dunia pemerintahan. Semoga dengan lahirnya karya ini mampu menggugah serta membangkitkan sastrawan Indonesia untuk lebih produktif dan mampu melahirkan karya terbaiknya untuk sumbangan dan kemujuan bangsa-negara.
*)Pecinta Buku tinggal di Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Sudah Sampaikah Anda di Kediaman Otak Sendiri?

thumbnail
Judul: Psikologi Kognitif
Penulis: Robert J. Sternberg
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: Desember 2008
Tebal: xx + 585
Peresensi : Naqib Najah *
Di manakah letak jiwa manusia? Di badankah? Atau di kepala?
Terdapatlah legenda kuno dari daratan India yang menceritakan seorang perempuan bernama Sinta. Ternyata Sinta mempunyai keburukan yang sampai saat ini masih hinggap di jiwa masyarakat modern: sekalipun sudah bersuami, tapi tetap saja mencintai lelaki lain.
Pada suatu tempo, terbongkarlah keburukan Sinta. Sang suami tahu bahwa ada lelaki lain selain dirinya di hati Sinta. Kedua lelaki itu bertemu. Dan terjadilah pertengkaran yang berujung pada kematian. Ya, kedua-duanya meninggal dengan kepala masing-masing terputus.
Sinta merasa amat kecewa dengan kejadian tersebut. Dia menyesalkan keburukan sifatnya yang mengakibatkan kedua lelaki tercintanya itu meninggal.
Dengan penuh pengharapan, akhirnya Sinta meminta kepada Dewa Kali untuk menghidupkan keduanya. Sang Dewa mengkabulkan permintaan Sinta. Sang Dewa memerintahkan Sinta untuk menyambungkan kepala masing-masing ke tubuh masing-masing pula. Sinta riang, hatinya berdegup merasakan kebahagiaan itu.
Karena jiwa Sinta keburu melonjak dengan terkabulnya doa tersebut, maka salahlah dia dalam menyambungkan kepala dua lelaki itu. Kepala sang suami disambungkan dengan badan lelaki selingkuhannya, sedang kepala lelaki selingkuhannya tersambung dengan badan suami Sinta.
Maka bingunglah Sinta. Berpikirlah dia hendak menikah dengan yang mana? Dalam batinnya dia bertanya, siapa yang menjadi siapa?
Dari peristiwa di atas, muncullah rentetan pertanyaan yang amat lazim diudarakan di dunia para filsuf juga ilmuwan. Yakni, di manakah letak jiwa seseorang sebenarnya? Benarkah jiwa tersebut terletak pada tubuh manusia, atau bahkan di kepalanya saja?
Dan di antara kelanjutan pertanyaan tersebut, bagaimanakah kinerja tubuh dengan jiwa manusia? Bagaimakah otak turut andil dalam pergerakan manusia?
Nampaknya semua pertanyaan tersebut akan dikuak oleh dua bidang keilmuan: Psikologi Kognitif dan Neurobiologi. Dari kesinambungan antara keduanya, akan muncul beberapa penemuan yang menjawab beberapa pertanyaan tersebut.
Psikologi Kognitif yang mempelajari sistem gerak otak, mencatat bahwa otak tak lain adalah organ tubuh manusia yang mengatur pikiran, emosi, serta motivasi. Dari otak inilah, jiwa manusia terbentuk. Bila otak tersebut mempunyai daya kinerja yang buruk, maka buruk pulalah jiwa manusia. Oleh sebab itu, keterkaitan antara otak dengan jiwa sangatlah erat. Dan sulit dipisahkan. Namun kendatipun demikian, tidak bisa dikatakan bahwa otak adalah jiwa manusia, atau jiwa adalah otak itu sendiri.
Jiwa mempunyai komponen yang sangat banyak. Dan otak hanya sebagai Big Bos seluruh komponen tersebut. Seperti bos, dengan beragam organ lain merespon di bawah komandonya. Namun seperti bos yang lain, dia mendengarkan dan dipengaruhi juga oleh bawahan-bawahannya. (Hal. 28)
Oleh karena itu, otak bersifat direktif sekaligus reaktif. Tentu anda sadar dengan beberapa pertanyaan berikut. Bahwasanya pertanyaan di bawah ini adalah rangkaian keluhan yang sering dialami manusia:
Mengapa kita bisa mengingat seseorang yang kita temui beberapa tahun lalu tetapi kita (mudah) lupa dengan apa yang sudah kita pelajari dalam suatu kuliah? Mengapa orang-orang sering kali merasa pasti kalau mereka sudah benar dalam menjawab sebuah pertanyaan padahal faktanya tidak? Bagimana cara kita mengatur atensi untuk bercakap-cakap dengan seseorang di sebuah pesta sembari menguping percakapan orang lain yang lebih menarik di dekat kita? (Hal. xiii)
Tiga pertanyaan tersebut, tak lain adalah Pe-er bagi para ilmuan yang bernaung di bidang Psikologi Kognitif.
Selama ini, kita semakin banyak menemui sosok yang terjangkit gejala memfonis dirinya sendiri sebagai orang terhebat. Begitu mudahnya kita menemukan sosok yang bersifat sombong, yang mengunggul-unggulkan dirinya. Bercermin menatap diri sendiri, adalah perihal yang sangat sulit dilakukan oleh penduduk bumi dewasa kini. Dalam kata pengantar edisi bahasa Indonesia tertulis, membaca buku Psikologi Kognitif ini layaknya kita membaca diri sendiri. Kita diajak untuk memahami isi otak kita dan menelusuri serta mengingat berbagai bentuk kejadian dalam hidup kita sehari-hari.
Robert J. Sternberg yang adalah seornag Profesor Psikologi dan Pendidikan IBM di Yale University, menawarkan kepada pembaca beberapa teori yang menjembatani antara manusia dengan jiwanya sendiri. Bukan kepada orang lain. Dan betapa sulitnya mensampaikan langkah kita menuju pintu jiwa kita. Sebab menelusuri jiwa seseorang (image) terasa lebih mudah dan mengasyikkan ketimbang menelusuri jiwa sendiri. Maka teori Robert J. Sternberg menjadi sangat penting untuk dipelajari masyarakat sekarang.
Mengapa memori otak kita tidak seperti hardisk komputer, yang kuat menyimpan data yang sudah dimasukkan, serta dengan mudahnya kita memanggilnya kembali hanya dengan sekali menekan mouse? Kenapa kita mudah lupa dan data yang ada di otak kita sering kali tumpang tindih? (Hal. v)
Diskusikanlah pertanyaan tersebut dengan pakar psikologi yang juga seorang Direktur Center for the Psychology of Abilitise ini.
*)Editor dan penyunting buku,anggota Komunitas KUTUB Yogyakarta.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Tips Susun Proposal Seumur Hidup

thumbnail
Judul: Tuhan, Inilah Proposal Hidupku
Penulis : Jamil Azzaini
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Maret 2009
Tebal: 99 halaman
Kalau untuk sebuah acara yang digelar satu-dua hari pasti kita butuh proposal, tapi mengapa untuk hidup kita yang berjalan puluhan tahun tidak membuat proposal? Sebuah pertanyaan retorik yang sungguh amat sangat menyentak kesadaran kita, seperti kita telah membiarkan hidup kita mengalir tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa cinta-cita. Sama terkejutnya Nagabonar pada kenyataan yang tidak diinginkan, “apa kata dunia?!”
Jamil Azzaini dalam bukunya berjudul “Tuhan, Inilah Proposal Hidupku” memandu kita untuk menyusun rencana hidup kita dalam sebuah kerangka yang disebut dengan “Proposal Hidup.”
Hal ini sebagaimana pengalaman Jamil sendiri yang membawa proposal hidup ketika menunaikan ibadah haji. Tampak ia tidak perlu repot-repot berdoa panjang-lebar di depan Kabah. Sambil thowaf di Masjidil Haram, ia hanya meminta pada Allah agar ia dapat wujudkan cita-cita sukses-mulianya. Dalam proposal itu, hanya jika hal ini kalau diridhai oleh-Nya. Sebuah pengalaman mempraktekkan dalam thowaf sambil menenteng proposal yang membuat kita salut dan tentu memberi apresiasi tinggi.
Dalam sebuah riset yang dipimpin Mark McCormack pada para lulusan MBA di Harvard Business School tahun 1979 sampai 1989 berkaitan penulisan rencana hidup. Tahun 1979 ditanya “apakah Anda telah menyusun sebuah rencana hidup yang jelas, spesifik, dan tertulis?”. Dan sepuluh tahun kemudian, 1989, hasilnya 13% yang memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik tapi tidak tertulis, memiliki penghasilan rata-rata dua kali lipat dibanding mereka yang 84% (belum memiliki dan menyusun rencana hidup). Yang luar biasa, 3% para lulusan yang telah memiliki rencana hidup yang jelas, spesifik, dan tertulis memiliki penghasilan yang besarnya rata-rata 10 kali lipat dibanding 97% lulusan sekolah bisnis tersebut. Sebuah penghasilan yang tentu sangat memuaskan!
Buku ini terbagi dalam lima langkah. Langkah pertama, sadarilah bahwa Anda adalah Masterpiece, yang meyakinkan Anda adalah mahakarya dari Sang Pencipta. Begitu Anda lahir-tumbuh-meninggal maka tidak pernah dan tidak akan pernah ada lagi makhluk sama persis seperti Anda. Betapa Anda memang benar-benar spesial yang tentu pastinya berharga sangat mahal. Jadi tulislah pengalaman hidup Anda untuk kemudian pilih pengalaman yang berkorelasi sangat kuat dengan masa depan Anda.
Langkah kedua, tetapkan orientasi terbaik yang akan Anda raih dan meyakinkan Anda untuk merancang masa depan. Tetapkan prestasi terbaik yang ingin Anda raih selama hidup di muka bumi. Karena Anda spesial dan berharga mahal, maka jangan sia-siakan hidup Anda. Pastikan prestasi atau karya Anda sebanding atau paling tidak mendekati dengan harga diri Anda yang begitu mahal.
Langkah ketiga, jadilah seorang expert, yang meyakinkan Anda untuk memilih keahlian (expert) yang menyenangkan ketika Anda mengerjakan. Bukan hanya itu saja, keahlian itupun bisa Anda jadikan sebagai sumber penghasilan bagi Anda. Mereka semakin expert, menikmati dan mencintai pekerjaan itu, dan hebatnya lagi bayaran dan popularitasnya semakin meningkat. Orang-orang expert menjadi public figur yang banyak menghiasi media massa cetak maupun televisi.
Dalam langkah ini terdiri dari tiga bahasan, yaitu mulai dari mencurahkan waktu untuk meningkatkan expert Anda, kemudian mencari guru expert, spiritual dan kehidupan, setelah itu barulah sampai bersahabat dengan orang yang mendukung Anda.
Langkah keempat, sempurnakan hidup Anda sekarang, yang meyakinkan untuk menyempurnakan hidup Anda sekarang juga. Karena keberhasilan Anda mewujudkan prestasi ternaik dan expertise yang ingin Anda kuasai sangat ditentukan oleh kehidupan Anda saat ini. Anda tak pernah meraih hidup di masa depan hingga melakukan kegiatan-kegiatan yang berkualitas hari ini. Seperti apa jadinya Anda di masa depan adalah hasil dari apa yang Anda lakukan hari ini.
Dalam langkah ini terdiri dari dua bahasan, yaitu bersahabat dengan orang yang mendukung Anda, kemudian tetapkan komitmen sikap dan perilaku Anda.
Terakhir, langkah kelima, yaitu sempurnakan lingkungan Anda, yang meyarankan Anda untuk mencari dan menciptakan lingkungan sesuai dengan nilai-nilai Anda yang tentu dapat mendukung pencapaian prestasi dan expert Anda.
Dalam langkah ini terdiri empat bahasan, yaitu memulai dari rumah Anda, sampaikan proposal hidup Anda dalam setiap kesempatan, berdoalah, sampai dengan mensyukuri keberhasilan di setiap tahapan.
(Peresensi: Akhmad Sekhu, pengamat buku, tinggal di Jakarta)KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Jejak Petualangan Prabowo

thumbnail
Judul: Prabowo dari Cijantung Bergerak ke Istana
Penulis: Femi Adi Soempeno
Penerbit: Galangpress, Yogyakarta
Cetakan: Maret, 2009
Tebal: 263 halaman
Prabowo Subianto kembali menjadi ikon yang mampu menyedot perhatian dari khalayak masyarakat umum di Indonesia. Sosoknya yang terkesan kontraversial kembali memunculkan beragam tafsir yang berbeda. Bahkan hingga sampai detik ini, Prabowo tak habis-habisnya menjadi berita. Setelah namanya sempat menggemparkan media massa di tahun 1990-an, kini ia kembali membuat Indonesia gempar dan bertanya-tanya tentang keinginannya untuk maju menuju kursi tertinggi di RI.
Keinginan prabowo untuk menuju RI I memang bukan hal baru. Sejak awal kariernya dalam dunia militer, dalam diri Prabowo telah tampak sikap ambisiusnya yang sangat besar terhadap kekuasaan. Dan ambisinya tersebut sempat dapat diraihnya pada tahun 2003 yang lalu. Prabowo juga sempat menjadi salah satu capres dari partai Golkar. Meskipun Prabowo sudah banyak dikenal oleh masyarakat Indonesia, sebagian besar dari masyarakat Indoesia sendiri sangat jarang yang mengetahui secara pasti tentang seluk beluk serta perjalanan panjang Prabowo hingga keinginannya menyatakan kesanggupan dalam pertarungan panas dalam pemilu 2009.
Buku “Prabowo dari Cijantung Bergerak ke Istana” karangan Femi Adi Soepeno ini mencoba memberikan gambaran tentang berbagai jalan terjal dan background Prabowo secara lebih detail dan menyeluruh. Mulai dari kehidupannya semasa remaja yang menempuh studi di American School di London, keinginannya untuk masuk dunia militer yang awalnya sangat ditentang oleh ayahnya Soemitro yang dikenal dengan faham sosialis, jalan terjal dan duka lara selama masa tugasnya di lapangan tempur, pernikahannya dengan putri keempat Presiden Soeharto, Siti Hediyati hingga kemunculan kembali Prabowo dalam panggung percaturan politik Indonesia yang sempat vakum beberapa tahun. Semuanya dijelaskan lebih terperinci dan mendetail dalam karya Femi ini.
Selain itu di dalamnya juga dijelaskan lebih jauh mengenai motor politik yang digunakan Prabowo dalam pertarungan pemilu 2009 yakni Gerinda. Mulai dari visi dan misi hingga komitmen Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), yang secara tidak terduga mampu menggerakan dan banyak dielu-elukan oleh seluruh masyakat Indonesia. Partai baru yang secara jelas dalam slogannya memberikan beragam tawaran untuk ikut serta dalam kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.
(Peresensi: Miftahul A’la, pecinta buku tinggal di Yogyakarta).
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Siswono Sumbangkan Pemikiran “Welfare State”

thumbnail
Siswono Yudo Husodo mantan Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) pada era Presiden Soeharto menyumbangkan pemikiran tentang negara kesejahteraan (welfare state) melalui bukunya yang berjudul "menuju Welfare State".
Peluncuran buku buah pemikiran Siswono itu secara resmi dilakukan di Semarang, yang dihadiri sejumlah pengamat, politisi, budayawan, dan aktivis kampus, serta sejumlah pihak yang dianggap tertarik untuk membahas pemikiran Siswono.
"Sejak tahun 1990-an saya menulis, tak terasa telah terkumpul 150 tulisan. Sebagian tulisan ini terkait cita-cita membentuk negara kesejahteraan," ujarnya saat menjadi pembicara dalam peluncuran bukunya yang berjudul "Menuju Welfare State".
Secara ideologis dia mengakui sebagai pendukung konsepsi negara kesejahteraan berbentuk republik yang mengutamakan kesejahteraan masyarakat luas, mendahulukan kepentingan bangsa, dan demokratis.
Ia menganggap, konsepsi negara kesejahteraan bukan hanya berlingkup ekonomi, melainkan aspek fundamental kehidupan berbangsa dan bernegara.
Konstitusi negara, katanya, dengan jelas menyebutkan bahwa Negara Indonesia adalah sebuah republik, negara kesatuan, negara demokratis, negara dengan sistem pemerintahan presidensial, dan negara kesejahteraan.
Walaupun UUD 1945 tidak secara tertulis menyebut Negara Kesejahteraan, tetapi ditunjukkan oleh unsur-unsur ideologis yang ada dalam UUD 1945, di samping itu, landasan filsafat Pancasila.
Bahkan, negara kesejahteraan di sejumlah negara di dunia dalam menyempurnakan dirinya secara evolutif telah melahirkan negara-negara yang sejahtera di Eropa Barat, seperti Belanda, Jerman, Prancis, dan negara-negara Skandinavia.
Dalam negara kesejahteraan, cita-cita kesejahteraan bersama menjadi unsur yang dimasukkan dalam prinsip ekonomi pasar, melalui intervensi negara, sehingga negara tidak membiarkan terjadinya pasar yang naturalistik yang dapat memunculkan konflik pihak yang kuat akan menelan yang lemah.
Pernyataan bernada pesimistis diungkapkan oleh pembicara dalam diskusi peluncuran buku tersebut, Wijaya Rektor Universitas 17 Agustus Semarang mengatakan, pelaksanaan bentuk negara kesejahteraan di Indonesia bakal mengalami hambatan sejumlah peraturan yang telah ada.
Misal, Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) tidak pro kesejahteraan karena semakin membebani masyarakat untuk memperoleh pendidikan terjangkau.
Selain itu, kewenangan yang dimiliki birokrat dan administrator terlalu besar mengingat dijalankan bukan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Rasa optimistis justru ditunjukkan oleh pengamat ekonomi dari UGM Yogyakarta, Sri Adiningsih mengatakan, negara kesejahteraan justru akan menolong kondisi perekonomian bangsa yang saat sedang bergejolak karena krisis global.
Ia menganggap, kegagalan di negara berkembang mengembangkan negaranya bersaing dengan negara baju karena masalah kelola yang tidak benar.
"Seharusnya, kita belajar dari sejarah untuk dijadikan pijakan untuk membangun masa depan, karena beberapa negara dengan penduduk besar seperti halnya Indonesia mampu berubah dan sukses," ujarnya.
Ia menganggap, bukan sesuatu yang mustahil menjadi negara kesejahteraan. "Yang jelas kita harus berani bermimpi," imbaunya.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Serial Winnetou Kembali Hadir

thumbnail
Lima buku seri Winnetou untuk remaja karya penulis Jerman legendaris Karl May, yakni "Anak Pemburu Beruang", "Hantu Llano Estacado", "Harta di Danau Perak", "Raja Minyak" dan "Mustang Hitam" kembali diterbitkan.
"Saya menganjurkan remaja untuk membaca buku-buku ini. Winnetou dan kawan-kawan tidak hanya memenuhi rasa ingin tahu soal petualangan mereka, tetapi lebih dari sekedar itu, memberi teladan akan keberanian, kepahlawanan, dan kemanusiaan," kata Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI Prof Riris Sarumpaet MSc Phd yang membahas mengenai lima buku tersebut di Wisma Antara Jakarta, Selasa (31/3).
Ia menyayangkan, generasi sekarang tidak membaca buku yang baik, misalnya membaca buku-buku komik seperti Vagabond, Manga serta buku-buku Chicklit yang tidak mendidik. Generasi muda sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia, karena itu jika mereka salah memilih buku maka akan suramlah masa depan bangsa.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) Pandu Ganesa yang menerbitkan kelima buku itu bersama Pustaka Primatama mengatakan, sebagian dari buku-buku yang sama itu, pernah terbit di Indonesia pada tahun 1960-an dari naskah Belanda. "Buku-buku yang terbit sekarang diterjemahkan langsung dari naskah aslinya yang berbahasa Jerman," kata pecinta Karl May itu.
Buku-buku Karl May yang diterbitkannya di Indonesia selain buku-buku serial untuk remaja tersebut, juga serial "Winnetou I: Kepala Suku Apache", "Winnetou II: Si Pencari Jejak", "Winnetou III: Winnetou Gugur", "Winnetou IV Ahli Waris Winnetou", "Old Surehand I: Oase di Llano Estacado", "Old Surehand II: Jefferson City".
Juga buku serial "Kara Ben Nemsi I: Menjelajah Gurun", "Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan", "Kara Ben Nemsi III Petualangan di Kurdistan", "Kara Ben Nemsi IV: Kafilah Maut", "Kara Ben Nemsi V: Dari Bagdad ke Stambul", serta komik-komik Winnetou dan Old Shatterhand serta buku "Dan Damai di Bumi".
Winnetou, ujar Pandu, meski berkisah tentang petualangan di negeri "wild west" namun tidak bernuansa pertumpahan darah. Kemenangan Winnetou dan Old Shatterhand selalu bernuansa kecerdasan, kebijakan serta dipenuhi pesan kemanusiaan. "Ia hidup seratus tahun lalu, namun pemikirannya sudah sangat maju dengan pernyataannya bahwa bangsa Eropa merupakan bangsa pencuri tanah, kolonialisme sama dengan terorisme, dan bagaimana Barat berutang budi pada dunia Timur," katanya seraya menambahkan bahwa Karl May yang kontroversial ini sempat dimusuhi karena pendapatnya itu.
Buku-buku karya Karl May sedikitnya terdiri dari 80 judul buku dan terjual hingga lebih dari 125 juta eksemplar, belum termasuk edisi bahasa asing yang tak kurang diterjemahkan dalam 39 bahasa dunia.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Lawan Kapitalisme Dengan Wajah Baru

thumbnail
Judul: The Against Third Way (Kritik Anti-Kapitalis atas
Keruntuhan Ekonomi Global)
Penulis: Alex Caliinicos
Penerbit: Eduka, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Desember 2008
Tebal: xii + 239 halaman
Peresensi: Mohamad Fathollah*


Saat ini dunia menderita resesi besar dan pertumbuhan ekonomi global
berada di bawah nol persen pada 2009. Demikian peringatan yang
diberikan pimpinan Dana Moneter Internasional di Paris, Selasa (10/3).
Sementara itu, pasar saham terus tumbang. Di bursa saham Asia, indeks
Nikkei ditutup melemah 0,44 persen menjadi 7.054,98 setelah
harga-harga saham tergelincir di Wall Street sehari sebelumnya. Indeks
di Wall Street mencapai titik terendah sejak Oktober 1982, yakni
6.547. (Kompas,11/03).
Krisis ekonomi global yang belum lama menimpa Amerika Serikat hingga
kini masih dalam kondisi kritis. Pergeseran kurva pendapatan
perekonomian yang semakin menurun di berbagai perusahan besar di
Amerika Serikat berdampak negatif pada perkembangan perekonomian
negara-negara lain, terutama yang memakai ukuran kurs dollar.
Kolapsnya perusahan besar seperti Lehman Brothers, dan perusahaan
otomotif lainnya butuh infus besar-besaran dari pemerintah AS. Maka
demi terciptanya stabilitas produksi dan ekonomi negara, pemerintah
memberikan dana segar sebesar 700 milliar dollar yang dipredeksikan
akan terus bertambah. Hal itu tidak memberikan ruang kosong bagi
negara-negara lain untuk menyelematkan bangunan finansialnya sehingga
perlu mengambil langkah kongkrit dan praksis. Pemerintah rela
berkorban demi kelancaran kegiatan bisnis dunia makro. Secara
matematis, kegiatan ekonomi makro memberikan kontribusi signifikan
bagi keberlangsungan sistem ekonomi-politik suatu negara, baik dalam
tataran nasional (nation-state) maupun internasional.
Keberpihakan pemerintah pada sistem globalisasi ekonomi makro,
walaupun secara global dapat mengangkat kredibiltas negara di mata
internasional, mengancam perekonomian kalangan menengah kebawah.
Berjubelnya korban PHK adalah sebagai bukti. Hal itu dikarenakan
kapitalisme dijadikan mazab sistem perekonomian dunia internasional.
Sistem kapitalis berperan aktif mencincang urat nadi ekonomi suatu
bangsa.
Krisis ekonomi tersebut mendorong organisasi Buruh Dunia di Geneva,
Swiss, Rabu, berkesimpulan bahwa krisis ekonomi dan keuangan global
dua tahun terakhir bakal menyebabkan PHK terhadap 50 juta lebih hingga
akhir tahun 2009. Perkiraan angka ini menunjukkan PHK global tahun
2009 akan meningkat melampaui angka tahun 2007, dengan rentang 18
juta-30 juta pekerja.
Solusi mengatasi krisis ekonomi dunia menjadi sebuah keharusan. Ekonom
Stephen Roach memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2009 hanya
2,5 persen. Ekonomi dunia digambarkan sudah “mendekati resesi”.
(Kompas, 29/01)
Jauh sebelum krisis ekonomi AS yang notabene sebagai biang krisis
perekonomian global terjadi, Alex Callinicos –profesor politik di
Universitas York, Inggris- mempredeksikan bahwa di awal abad ke-21
kapitalisme akan menjadi “lebih liar” dan sulit dikendalikan. Ternyata
Callinicos benar, dibanding krisis 1930 dan 1997, krisis ekonomi 2008
memberikan dampak yang lebih mengkhawatirkan seluruh dunia.
Perusahaan yang sukses saat ini, menurut Alex, adalah perusahaaan yang
mampu memasarkan merk terkenal. Peningkatan popularitas merek ini
tidak bergantung pada produk khusus melainkan cukup dengan membuka
sumber daya pengetahuan baru yang dihasilkan oleh masyarakat
berpengetahuan tinggi.
Alex Callinicos sengaja membantah teori Jalan Ketiga (the Third Way)
Anthony Giddens. Giddens mengupayakan sistem pembangunan ekonomi
tidak lagi mengarah sepenuhnya pada kapitalisasi global. Sebagai jalan
tengah dari sistem ekonomi kiri dan kanan, Jalan Ketiga hendak
mengupayakan keuntungan yang berasas kerja keras. Akan tetapi bagi
Callinicos teori Jalan Ketiga tidak sepenuhnya akan membebaskan rakyat
dari penderitaan struktural. Maka dengan buku The Against Third Way
ini Callinicos membantah dan memotong teori Jalan Ketiga sebagai
bagian dari sistem kapitalisme yang menyengsarakan.
Jalan ketiga menurut eksponen Jalan Ketiga, Anthony Giddens, berada di
antara sosial demokrasi model lama, yang mempunyai kepercayaan
berlebihan kepada negara, dan neo-liberalisme yang juga mempunyai
kepercayaan keliru terhadap pasar bebas. ‘Jalan Ketiga’ menjanjikan
jalan keluar dari batas-batas sejarah. ‘Jalan Ketiga’ bermaksud
menawarkan jalan maju yang mengambil segi-segi terbaik dari dua kutub
tradisi lama yang merepresentasikan kegagalan kiri maupun kanan
tradisional.
Jalan Ketiga tidak sekedar gagasan. Konsep ini telah lama diterima
oleh kaum Demokrat Baru (New Democrats) dan menjadi ‘agama’ baru di
gedung putih di bawah pimpinan Bill Clinton. Di samping itu, ia juga
melakukan afiliasi terhadap New Labor (Partai Buruh di Inggris) di
bawah pimpinan Tony Blair.
Paradoksnya, konsep ini mendapat dukungan kelembagaan yang sangat kuat
di Inggris, yaitu negara bagian Eropa yang menentang konsep-konsep
abstrak dan kaum intelektual yang ahli dalam mengartikulasikannya.
Jalan ketiga, menurut Callinicos, bukanlah jalan utama memotong sistem
kapitalisme global. Musuh utamanya bukanlah globalisasi, namun
kapitalisme global. Kesimpulan akhir buku ini adalah, bahwa Jalan
Ketiga yang kini ditawarkan tidak menjadi pilihan menarik bagi bagi
golongan kiri. Tanpa memutuskan diri dengan kebijakan neo-liberal dari
Kanan Baru, Jalan Ketiga melanjutkan dan dalam beberapa hal
meradikalisasinya.
Secara khusus, banyak klaim mengenai “ekonomi baru” sangatlah
berlebihan. Berkat revolusi teknologi informasi, kapitalisme tidak
melampaui jangkauan ledakan dan kemerosotan ekonomi: sesungguhnya
karakteristik pergolakan dan spekulasi dari ekspansi Amerika sejak
awal dekade 1990-an menunjukkan bahwa bagaimanapun halnya kita
sekarang tengah memasuki era kegoyahan ekonomi yang lebih besar
(h.198).
Dalam merespon sistem kapitalisme terdapat enam tesis yang dikemukakan
oleh Callinicos dalam buku ini. Dalam banyak hal gerakan anti
kapitalisme masih kacau balau. Namun gerakan ini bersikap tegas
terhadap slogan yang dipopulerkan Bove sendiri “le Monde N’est Pas Une
Marchyandise” (dunia bukan untuk dijual). Dengan kata lain, sebagai
protes penentangan komodifikasi tiada henti atas segala hal yang
diusung oleh hegemoni neo-liberal dan diperkuat pemerintahan Jalan
Ketiga.
Dimanakah posisi kiri dalam dunia yang masih dikuasi logika akumulasi
kapital ini? Di belakang pengalaman Jalan Ketiga terdapat upaya
berkesinambungan dari gerakan buruh selama abad yang silam untuk
mereformasi kapitalisme. Kekecewaan terhadap pemerintahan reformis
yang tunduk pada modal telah ikut menciptakan konteks sosial yang
memaksa kebijakan-kebijkan neo-liberal oleh Kanan Baru dan Jalan
Ketiga. Namun sejarah tidak pernah berhenti. Tidak ada alasan mengapa
masa silam pasti mengulang dirinya sendiri. Callinicos mengakhiri buku
ini dengan kalimat: “ Kiri baru bisa menawarkan suatu alternatif murni
atas kebuntuan yang mendorong pemikiran Jalan Ketiga.”
*)Staf peneliti The Center for Social Economic and
Humanity Studies (CSéhs), FISHUM UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Menjaga Transformasi Keilmuan

thumbnail
Judul: Aku Menulis Maka Aku Ada
Penulis: KH. Zainal Arifin Thoha
Penerbit: Kutub, Yogyakarta
Edisi: Maret 2009
Tebal: xviii + 182 Halaman
Peresensi: Sungatno*

Hingga kini, rakyat Indonesia masih mendapat klaim dari berbagai penyelenggara penelitian sebagai bangsa yang minat bacanya rendah. Tak pelak, dari berbagai pihak yang -konon terlanjur- cinta baca, selalu menghimbau dan mengajak bangsa ini untuk berlatih dan membudayakan aktivitas membaca.
Sayangnya, himbauan itu menjadi sia-sia ketika bangsa yang masih malas-malasan untuk membaca ini berkilah. Kilah itu pun tampak logis ketika mereka berdalih bahwa anggaran untuk beli buku lebih baik dialihkan untuk kepentingan yang lebih mendesak kegunaannya. Terlebih ketika harga buku menjadi mahal akibat harga kertas yang melambung. Sementara, perpustakaan yang ada di tengah masyarakat tidak mampu menarik minat baca mereka. Mulai dari koleksi buku yang minim, tidak sesuai dengan perkembangan keilmuan dan informasi, ruangan sempit, panas, banyak aturan dan sejumlah kendala lain yang menghilangkan selera baca.
Namun, menurut KH. Zainal Arifin Thoha –penulis buku ini, tidak seharusnya bangsa ini apatis dengan fasilitas dan sarana bacaan yang realitanya memang masih demikian. Bangsa ini perlu selalu dan selalu membaca. Selain itu, pihak pemerintah hendaknya segera memperhatikan kebutuhan bangsa ini terkait dengan bahan bacaan dan fasilitas lainnya. Bukankah dalam sejarah kemajuan suatu bangsa di dunia ini tidak luput dari kegiatan dan ketekuan membaca?
Selain itu kyai yang menekuni dunia jurnalistik ini mengajak pembaca untuk merenungi aktivitas membaca itu sendiri. Jika kita selalu membaca dan membaca tanpa merenungkan hari esok, aktivitas itu akan menjadi sia-sia pula. Informasi dan keilmuan dalam suatu bacaan akan berhenti pada si pembaca saja. Maksimal isi dari suatu bacaan akan dikonsumsi sendiri dan orang lain yang kebetulan diberi tahu tentang isi tersebut. Akibatnya, konsekuensi logis pun akan menimpa generasi berikutnya. Mereka akan kehilangan kesempatan untuk mengetahui dan menikmati bacaan itu ketika si pembaca dan atau pendengar isi bacaan telah meninggal dunia. Terlebih ketika literatur itu telah musnah atau hilang di telan usia.
Sehingga, selain membaca, bangsa ini hendaknya turut menjaga transformasi ilmu pengetahuan dan informasi yang diperoleh mereka. Tentunya, dengan mendokumentasikan keilmuan dan informasi itu dalam suatu media; baik dalam buku, media massa maupun lainnya. Sayangnya, hal itu masih belum tampak menggairahkan pula. Seiring dengan rendahnya minat baca, bangsa ini masih malas dan kurang peduli terhadap generasi yang akan datang. Maka, bangsa ini perlu segera membudayakan membaca, lantas mengolah informasi dan keilmuan yang didapatkannya guna didokumentasikan untuk dikonsumsi orang lain dan generasi berikutnya.
Budaya Menulis
Meski budaya membaca di negara ini masih dikatakan rendah, tidak semestinya bagi mereka yang telah suka membaca menjadi egois. Egosisme itu perlu diganti dengan kepedulian untuk menyalurkan pengetahuannya kepada orang lain. Adapun salah satu cara untuk mewujudkan kepedulian itu adalah membudayakan menulis. Dengan menulis dan menyebarluaskan pengetahuannya itu orang lain akan mendapat manfaat dan transformasi pengetahuan tidak akan berhenti pada salah satu orang saja. Walhasil, dengan informasi dan ilmu pengetahuan itu, bangsa ini akan lebih maju daripada bangsa terdahulu atau bangsa yang tidak membudayakan membaca dan menulis.
Untuk melengkapi gagasan itu, kyai yang akrab dipanggil Gus Zainal ini menuliskan panduan dan berbagai contoh tulisan-tulisan pribadinya dan orang lain. Mulai dari jenis tulisan opini, resensi, esei, puisi, cerita pendek (cerpen), dan kolom. Dari semua jenis tulisan itu dibahas secara mendetail, santai, dan menggunakan bahasa yang sekiranya cocok untuk membahas jenis-jenis tulisan tersebut. Semisal, ketika membahas opini (gagasan), gaya bahasa yang digunakannya belum tentu sama dengan gaya bahasa ketika membahas esai, puisi, cerpen maupun karya sastra lainnya.
Meski bahasa yang digunakannya menyesuaikan setiap pembahasan yang ada, secara keseluruan gaya bahasa yang digunakannya tidak terlalu berat. Uniknya, susunan gaya bahasa yang digunakan beraroma sastra, lentur, tidak kering, dan tidak monoton pada pilihan kata-kata tertentu. Sehingga, selain mengajak pembaca untuk tetap menjaga gairah membaca dan menulis, buku ini mengenalkan kekayaan khazanah kata-kata bahasa Indonesia yang kemunculannya masih belum banyak diketahui. Selain itu, di akhir buku ini juga disertakan sejumlah email media massa cetak maupun elektronik. Sayangnya, penulis hanya menyertakan email media massa tanpa menginformasikan email penerbit buku yang juga berkaitan dengan budaya membaca dan menulis. Begitu juga, yang ada hanya email saja tanpa alamat media massa dan nomor telephon yang bisa dihubungi.
Terlepas dari itu semua, gagasan untuk menjaga transformasi keilmuan perlu direaliasikan bangsa ini. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupan informasi dan ilmu pengetahuan serta peduli dengan generasi berikutnya. Selamat berkarya.
*Ketua Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

PKS di Mata Publik

thumbnail
Judul : Ideologi Politik PKS: Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen
Penulis : M. Imdadun Rahmat
Penerbit : Lkis, Yogyakarta
Cetakan : I Desember 2008
Tebal : xv+318Halaman
Peresensi :Zainuddin*
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini sering kali disebut sebagai fenomena baru dalam dunia perpolitikan tanah air ini. Betapa tidak, hanya dalam satu tahun dari pendeklarasiannya pada bulan Agustus 1998, partai yang semula bernama Partai Keadilan ini berhasil mengikuti pemilu pada tahun 1999, dan mampu menjaring suara sekitar 1,36%, dari jumlah keseluruhan.
Pada tahun 2004 PKS mampu meningkatkan jumlah suara yang sangat signifikan. Partai yang karena alasan electoral threshold berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini dapat meraih suara sekitar 7,43%, meskipun sebenarnya partai ini masih kalah dibandingkan dengan partai-partai besar lain. Tapi partai ini telah mampu untuk mengungguli partai-partai besar yang telah lebih tua sejarahnya.
Partai yang lahir dari LDK anak-anak muda Tarbiyah ini juga berhasil dalam membangun basis politik di daerah-daerah. Bahkan partai ini juga mampu meraih kesuksesan besar dalam menempatkan sebagian kandidatnya yang telah diusungnya dari kepala daerah, baik dalam tingkat propinsi maupun dalam tingkat kabupaten/kota. Dengan kekuatan yang masih relatif kecil, partai yang menyebut diri sebagai “partai dakwa” ini juga mampu mempengaruhi pencaturan perpolitikan maupun pembuatan keputusan publik.
Partai ini juga mendapat sorotan dari publik karena ideologi Islam yang telah dianutnya. Partai ini secara mendasar mengamalkan doktrin perjuangan Ikhwal Muslimin (IM). Dan IM sendiri acapkali dipandang sebagai organisasi yang ingin mengubah dunia Islam secara radikal dan sering berbenturan secara fundamental dengan pemerintah dimana IM itu berada. Militansi untuk menwujudkan pemerintah yang islami dengan dasar Al-Qur’an dan As-sunah secara kaffah mendorong IM intoleran, ekslusif, dan menimbulkan keterancaman baik terhadap muslim sendiri ataupun dengan non-muslim.
Lewat buku Ideologi Politik PKS ini, M. Imdadun Rahmat mencoba menjelaskan dan mencari jawaban dari hasil hipotesis serta persoalan-persoalan seperti, sejauh mana persentuhan PKS dengan realitas kenegaraan, hadirnya kader- kader dalam diri PKS itu sendiri, serta adaptasi PKS dalam dunia politik di Indonesia.
Secara lebih luas buku ini juga bisa dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan meyangkut regulasi kehidupan keagamaan di Indonesia, khususnya menyangkut gerakan radikal yang berpotensi menimbulkan masalah, seperti konflik internal agama, konflik antar agama, bahkan disintegrasi bangsa.

*)Koordinator Penjaringan Buku pada Perpustakaan Hasyim As’ari, Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Dari Raja Jawa menuju Tahta RI 1

thumbnail
Judul : Laku Spiritual Sultan, Langkah Raja Jawa Menuju Istana
Penulis : Arwan Tuti Artha
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : 1, Januari 2009
Tebal : 175 halaman
Harga : 30.000
Peresensi : Ahmad Hasan MS*
Nama Sri Sultan Hamengku Buwono X akhir-akhir ini makin populer di lembaran media massa. Raja Keraton Yogyakarta X yang bernama lengkap "Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatullah Kaping Sedoso" itu dipastikan akan berlaga dalam pentas nasional melalui Pemilu 2009. Suhu politik kian memanas menyusul Sultan adalah salah satu tokoh penggerak reformasi 1998 yang memiliki basis massa cukup kuat di tengah masyarakat. Pertanyaannya, seberapa besar peluang Sultan untuk naik ke tahta RI 1?
Buku "Laku Spiritual Sultan, Langkah Raja Jawa Menuju Istana" yang ditulis oleh Arwan Tuti Artha ini berusaha menguak secara mendalam ihwal langkah Sultan menuju pentas nasional. Bagi Arwan, Sultan merupakan sosok kharismatis yang menyedot perhatian publik. Sultan bukan saja raja keraton Ngayogyakarta, yang memiliki integritas kuat dalam menjaga tradisi, akan tetapi ia juga sosok nasionalis yang senantiasa membela kepentingan bangsa.
Sebagai seorang raja, Sultan dikenal amat kuat dalam memegang prinsip. Menurut YB Margantoro dalam "meneguhkan Tahta Untuk Rakyat "(1999) bahwa Sultan adalah sosok yang menjaga betul wasiat ayahandanya, yakni Sultan HB IX, berupa lima prasyarat dalam nglunggahi jejering watu (memegang tahta kekuasaan). Pertama, harus berjanji tidak boleh berprasangka, iri pada orang lain biarpun orang lain ini tidak senang. Kedua, harus berjanji tidak melanggar peraturan negara. Ketiga, harus berani mengatakan yang benar itu benar, serta yang salah itu salah. Keempat, tidak boleh punya ambisi, kecuali ambisi itu untuk menyejahterakan masyarakat. Kelima, lebih banyak memberi daripada menerima (hal. 33).
Buku ini menarik dibaca bagi siapa saja, khususnya mereka yang concern dalam falsafah kepemimpinan Jawa. Kelebihan buku ini terletak dari gaya bahasanya yang renyah dan mudah dipahami bagi masyarakat awam sekalipun. Akan tetapi, buku ini masih memiliki kelemahan, khususnya dalam sistematika pembahasan yang meloncat-loncat dan landasan argumen yang terkadang irasional. Namun buku ini patut diapresiasi bagi semua kalangan, sebab turut memperkaya khasanah kebudayaan bangsa yang benar-benar adiluhung.

*)Pustakawan dan Peneliti Pada Pusat Studi Pancasila, UGM Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Memahami Dunia Bisnis

thumbnail
Judul Buku: Kata-kata Bijak Warren Buffet
Penulis: Mary Buffet & David Clark
Alih Bahasa: Daniel Wirajaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: 2009
Tebal : ix + 240 halaman
Peresensi: Akhmad Sekhu*

Apa yang terlintas di benak kita kalau mendengar sosok nama Warren Buffet? Seorang investor paling berhasil di seluruh dunia yang sekarang menjadi pengusaha terkaya dan seorang dermawan terbesar. Bahkan orang-orang yang berpegang teguh pada kearifan master investor itu menyebut diri sebagai Buffettologist.
Salah seorang Buffettologist, David Clark, yang menyimpan banyak buku catatan berisi kearifan Warren tentang investasi, memesona Mary Buffet—penulis tiga buku metode investasi Warren, hingga kemudian mereka berdua menulis buku berjudul “Kata-kata Bijak Warren Buffet.” Sebuah buku yang menghadirkan filosofi bisnis Warren Buffet dalam bentuk kata-kata bijak yang cerdas, penuh humor, dan mudah diingat.
Dari buku ini sangat menyenangkan untuk dibaca karena benar-benar membuat kita berpikir. Bagi para Buffettologist, bahwa kebenaran ini mirip dengan pengajaran seorang ahli Tao. Semakin lama seorang siswa merenungkannya, semakin banyak yang terungkap darinya.
Mind-set bisnis Warrem Buffet, membuat kita memahami keruwetan dunia saham dan investasi, termasuk kita yang sama sekali tak paham keuangan, bisnis, dan investasi. Buku ini menginspirasi, mempertajam pikiran, dan menawarkan tips investasi tak ternilai yang dapat diaplikasikan setiap orang. Kita tidak akan pernah takut dan cemas akan keadaan ekonomi saat ini, jika sejak awal mengikuti pola pikir dan saran-sarannya.
Buku ini diawali dengan pembahasan “Menjadi Kaya dan Tetap Kaya.” Rahasia terbesar untuk menjadi kaya adalah membuat uang kita berlipat ganda, dan semakin besar jumlah yang kita miliki di awal akan semakin baik. Semakin besar kerugian kita, semakin besar dampaknya terhadap kemampuan kita untuk mendapatkan uang di masa mendatang. Inilah yang tidak pernah dilupakan oleh Warren. Ini juga alasan dia tetap mengendarai mobil VW Beetle kuno setelah dia menjadi multijutawan.
Diceritakan tentang Warren yang melakukan investasi pertamanya pada usia sebelas tahun, yaitu membeli tiga lembar saham perusahaan minyak City Services dengan harga $38, hanya untuk melihatnya terpuruk menjadi $27. Ia bertahan dan, setelah pulih kembali, ia menjualnya dengan harga $40 per saham. Tak lama setelah itu, nilainya melesat menjadi $200 per saham dan ia mempelajari pelajaran pertamanya dalam bidang investasi—kesabaran. Hal-hal baik terjadi pada orang-orang yang bersedia menunggu—asalkan kita memilih saham yang tepat.
Selanjutnya, pembahasan tentang “Bisnis” mengenai harga saham, manajemen, akuntansi sebagai bahasa bisnis, fenomena pasar, mengelola karier seperti investasi, sampai pada rahasia besar di balik strategi Warren untuk beli dan pegang saham. Pembahasan tentang “Para Mentor Warren” seperti Benjamin Graham, yang dikenal sebagai Dekan Wall Street, dalam mengembangkan konsep investasi nilai (value investing); Bill Ruane, teman kuliahnya di Columbia University; Bernard Baruch, tokoh investasi terkemuka di tahun 1920-an; Phill Fisher, investor ahli di zamannya.
Bahasan tentang “Pendidikan” mengenai kemampuan matematika yang diperlukan untuk menjadi investor hebat adalah penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan kemampuan untuk menghitung prosentase dan probabilitas secara cepat. Juga tentang kita mendapatkan informasi untuk mengolah gagasan investasi dari media, yang berarti kita sepenuhnya bergantung pada wartawan untuk mendapatkan akurasi dan analisis yang tepat tentang apa yang terjadi. Menurut Warren yang selalu berpegang pada gagasan bahwa semakin baik gurunya, semakin cerdas murid-muridnya. Oleh karena itu, semakin pintar wartawannya, maka akan semakin baik masyarakatnya. Pengalaman adalah guru terbaik, tetapi dapat menjadi mahal jika kita belajar dari kesalahan kita sendiri. Jadi lebih baik belajar dari kesalahan orang lain. Inilah alasan Warren mempelajari dan meneliti kesalahan bisnis dan investasi orang lain menjadi bagian dari pola pendidikannya.
Pada bahasan tentang “Tempat Kerja,” Warren telah menemukan bahwa keahlian bisnis yang datang bersamaan dengan usia hampir tidak mungkin untuk diajarkan kepada para manajer yang lebih muda. Tentang integritas sebagai unsur kunci bagi filosofi manajemen Warren, bahwa ketika mencari orang yang akan dipekerjakan, kita mencari ketiga kualitas: integritas, kecerdasan, dan energi. Tetapi yang terpenting ialah integritas, karena jika mereka tidak memilikinya, dua kualitas lainnya, yaitu kecerdasan dan energi akan membunuh kita.
Berikutnya, pembahasan tentang analisis, penasehat, sampai pada orang-orang yang perlu dihindari. Lalu, tentang mengapa tidak melakukan diversifikasi, disiplin, kehati-hatian, dan kesabaran. Anjuran-anjuran; waspada terhadap kebodohan akibat ketamakan; kapan harus menjual, kapan harus pergi; kesalahan-kesalahan yang perlu diwaspadai; lingkaran kompetensi kita, sampai pada harga yang kita bayar. Terakhir, pembahasan tentang nilai ekonomi jangka panjang adalah rahasia untuk mengeksploitasi kebodohan bursa saham dalam jangka panjang.
Dengan membaca buku ini, bagi para Buffettologist, kata-kata Warren Buffett lebih dari sekadar pernyataan kebenaran yang sederhana; kata-katanya serupa dengan ajaran guru Tao dari China, karena semakin kita merenungkannya, semakin menunjukkan “jalan” atau “arah’ untuk mencapai kekayaan besar. Memang benar adanya.
Buku berisi kumpulan kutipan Buffett beserta interpretasinya ini untuk membantu kita menemukan “jalan” dengan membawa kita masuk lebih dalam ke pemikiran yang tercerahkan dari seorang investor dan dermawan terbesar dalam masa sekarang ini. Dengan harapan, kearifan yang terkandung di dalamnya akan membantu memperkaya hidup kita dengan membuat dunia kita menjadi tempat yang jauh lebih menguntungkan, dan lebih mudah menikmati, untuk hidup dan bekerja.
*)Pengamat buku, tinggal di Jakarta.Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Kehebohan Orang-orang Bodoh

thumbnail
Judul: The Stupid Mans: Orang-orang Bodoh yang Menggemparkan Dunia
Penulis: Hotimah
Penerbit: Cemerlang Publishing, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal: 203 halaman
Peresensi: Ahmad Fatoni*
Bodoh bukan berarti harus gagal, pintar juga tidak selalu berarti sukses. Kebodohan dan kepintaran adalah sesuatu yang relatif. Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Seseorang yang pintar bisa saja menjadi bodoh dalam suatu hal. Begitu pula seseorang yang bodoh bisa saja menjadi pintar dalam hal tertentu. Seseorang tidak mungkin pintar dalam semua hal dan seseorang yang bodoh tidak mungkin juga bodoh dalam segala hal.
Buku The Stupid Mans ini hadir di hadapan Anda dengan cerita hidup berbagai tokoh mulai dari kalangan ilmuwan, politisi, pengusaha, sutradara, sastrawan sampai olahragawan, yang pada awalnya dianggap bodoh oleh orang-orang di sekitarnya. Tidak hanya dianggap bodoh, bahkan ada yang dianggap gila. Tapi kebodohan dan kegilaan itu pada titik tertentu berbalik 180 derajat. Lewat hasil-hasil penemuan membuktikan bahwa mereka adalah orang-orang pintar. Karya-karya mereka menyuguhkan pengaruh besar dan menghebohkan jagad dunia.
Albert Einstein, misalnya. Einstein adalah seorang tokoh yang hebat, terutama dalam bidang ilmu fisika. Ia berjasa karena teori relativitasnya. Einstein terkenal sebagai seorang jenius dengan berbagai penemuan dan penghargaan yang didapatinya. Namun tahukah Anda jika pada masa kecilnya Einstein adalah anak yang bodoh? Einstein belum dapat berbicara sampai ia berusia 4 tahun dan tidak bisa membaca sampai berusia 7 tahun. Gurunya menggambarkan Einstein seorang yang lamban ingatannya dan seorang pengkhayal yang selalu terlena dalam lamunan-lamunan yang tolol. Karena ketololannya Einstein kemudian dikeluarkan dari sekolah tempat ia belajar.
Namun setelah kematiannya, keberadaan Einstein melahirkan inspirasi bagi banyak novelis, film, dan permainan. Einstein adalah sosok favorit sebagai ilmuwan pemberontak, gila, dan pelamun dengan ekspresi wajah serta model rambut yang amat mencolok.
Ilmuwan besar lainnya ialah Thomas Alva Edison. Ilmuwan serba bisa ini menghasilkan banyak penemuan, yaitu sekitar 1300 penemuan. Sebuah jumlah yang fantantis dan sulit mencari tandingannya hingga kini. Edison terutama sangat terkenal karena penemuan bola lampunya. Ia adalah seorang penemu terbesar dalam sejarah dunia. Tapi tahukah Anda bahwa Edison kecil adalah seorang anak yang dianggap bodoh dan lamban dalam mempelajari apa pun? Dia juga dianggap sebagai murid bebal yang sulit diatur.
Hampir semasa hidupnya Edison menderita pendengaran lemah. Meski begitu, dia lebih dari sekedar dapat mengatasi hambatan itu dengan kerja kerasnya yang mengagumkan. Ia percaya bahwa kesuksesan itu adalah 10% bakat dan 90% kerja keras. Pada 1928 Edison menerima penghargaan berupa sebuah medali khusus dari Kongres Amerika Serikat.
Adalah Charles Robert Darwin, ahli biologi terpopuler sepanjang sejarah. Jika Anda pernah mendengar tentang teori evolusi mengenai asal usul makhluk hidup. Toh demikian, benarkah seorang tokoh yang begitu melegenda sepanjang masa ini adalah seorang yang cerdas dan selalu sukses seumur hidupnya? Tidak. Darwin bukanlah seorang yang cerdas. Sejak masa anak-anak dan mudanya Darwin dianggap oleh gurunya sebagai anak yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah standar umum.
Dari kalangan politisi terdapat Winston Churchill, penggagas hak asasi manusia. Nama Churchill tentu tidak asing lagi di dunia perpolitikan internasional. Ia adalah seorang negarawan, ahli pidato, pakar strategi dan mantan Perdana Menteri Inggris. Churchill juga seorang anggota Angkatan Laut Perang Inggris, pengarang yang cemerlang dan pernah memenangkan Hadiah Nobel pada tahun 1953 untuk tulisan sejarahnya.
Akan tetapi, di balik semua kesuksesan, kepandaian, dan ketenarannya, ternyata Churchill pernah tidak naik kelas di kelas 6 SD. Masa kanak-kanak dan mudanya memang dihabiskan untuk ketololan dan kebodohan yang tidak perlu. Ia pun baru menjadi Perdana Menteri Inggris di usianya yang ke-62 tahun. Sumbangan-sumbangan terbesarnya pun muncul ketika ia sudah tua.
Lalu, pernahkah Anda mendengar nama Leo Tolstoy, pengarang novel Perang dan Damai (War and Peace), Anna Karenina, Kematian Ivan Ilych dan Hadji Murad? Ia adalah seorang sastrawaan Rusia abad ke-19, pembaru sosial, dan pemikir moral. Nama besar Leo Tolstoy dikenal karena gagasan-gagasannya tentang perlawanan tanpa kekerasan. Gagasannya ini mempengaruhi tokoh-tokoh abad ke-20 seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King, Jr. Sungguh besar dan tenar nama Leo Tolstoy. Namun tahukah Anda bahwa Leo Tolstoy pernah gagal kuliahnya?
Menyimak buku dengan sub judul Orang-orang Bodoh yang Menggemparkan Dunia ini akan menohok kesadaran pembaca bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Simak saja pengalaman Edison. Ia baru berhasil menemukan bola lampu setelah mengalami 2000 kegagalan. Ketika seorang sastrawan mewawancarainya, Edison menjawab “Tidak satu kali pun aku gagal, hanya saja aku perlu melewati 2000 tahap untuk menciptakannya.”
Demikian kisah orang-orang bodoh yang secara tak langsung ingin mengajarkan kita agar selalu bersikap arif dan sekali-kali tidak menganggap orang lain bodoh. Sebaliknya, bagi Anda yang merasa bodoh, saran penulis, janganlah merasa berkecil hati. Kebodohan bukanlah sesuatu yang harus disesali dan dibiarkan. Sebab, seperti cerita dalam buku ini, orang bodoh pun bisa jadi orang sukses.
*Praktisi Lab Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah MalangKoran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Meneguhkan Islam Mazhab Indonesia

thumbnail
Judul: Mengindonesiakan Islam; Representasi dan Ideologi
Penulis: Dr. Mujiburrahman
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan I: Desember 2008
Tebal: xxii+438 halaman
Peresensi: Juma Darmapoetra*

Islam diturunkan ke dunia sesuai dengan bahasa umatnya. Islam diturunkan di Mekah sehingga ajaran dan hukum yang berlaku sesuai dengan budaya dan tradisi yang berlaku di Arab. Sedangkan Islam yang berada di negara selain Mekah, juga sesuai dengan kondisi sosio-kultural daerah tersebut.
Islam bersifat universal. Islam sesuai dengan konteks sosio-kultural masyarakat di mana ia berkembang. Islam adalah shalihun fi kulli zamanin wa makanin (Islam cocok sesuai kondisi zaman dan tempat di manapun).
Ketika sayap Islam melebar ke seluruh belahan bumi, maka Islam Arab tidak boleh tidak harus beradaptasi dan berakulturasi dengan tradisi dan budaya di tempat lain seperti Afrika, Eropa, Amerika, Asia, dan Australia. Dalam konteks ini, Islam yang masuk ke Indonesia, harus disesuaikan dengan budaya di Indonesia. Sehingga Islam akan dengan mudah diterima oleh masyarakat. Gagasan dan konsep “pribumisasi Islam” ala Gus Dur dan “Islam Keindonesiaan” versi Cak Nur dapat dipahami dalam konteks ini. Gagasan tentang “pribumisasi Islam” atau “Islam keindonesiaan” merupakan dua wajah “ijtihad” dalam konteks ibadah ghairu mahdhah sedangkan ibadah mahdhah sudah ada ketetapan dari Tuhan, tidak bisa diubah atau ditambah.
Tidak berbeda dengan kedua tokoh di atas, Dr. Mujiburrahman dalam buku “Mengindonesiakan Islam; Repsentasi dan Ideologi” juga berasumsi bahwa Islam yang ada di Indonesia harus berlaku sebagaimana adat istiadat dan budaya Indonesia. Karena, tidak mungkin semua ajaran Islam Arab diterapkan di Indonesia. Secara geografis dan kultur budaya, keduanya sangat berbeda dan tidak akan menemukan titik equilibrium. Sehingga adanya reinterpretasi terhadap Islam yang membumi (mengindonesia) menjadi pilihan yang cukup strategis di tengah perdebatan alot antara ideologi Arabisasi Islam atau Islam ala Indonesia (mengindonesiakan Islam).
Ketika arabisasi yang menjadi pilihan, maka konsekwensinya adalah adanya puritanisme (pemurnian ajaran) Islam. Adanya arabisasi Islam dalam konteks Indonesia termanifestasikan oleh gerakan yang berafiliasi dalam konsep “Mengislamkan Indonesia”. Sedangkan “pribumisasi Islam” termanifestasikan dalam konsep “Mengindonesiakan Islam”. Konsep ini, sangat kental dengan tradisionalisme dan bisanya diidentifikasikan sebagai masyarakat sinkretis. Sedangkan konsep Mengislamkan Indonesia identifikasi dari modernisme biasanya lebih dikenal dengan semangat purifikasi. Keduanya merupakan domain yang kuat memegang kendali keagamaan yang cukup krusial di Indonesia. Sekarang kita tinggal memilih apakah akan memakai konsep “mengislamkan Indonesia” yang anti terhadap kebudayaan dan tradisi seperti Wahabiyah dan kawan-kawan ataukah “mengindonesiakan Islam” seperti NU dkk, yang ramah terhadap budaya dan tradisi lokal tanpa menggadaikan esensi dan subtansi ajaran Islam.
Keduanya merupakam manifestasi keagamaan bangsa Indonesia yang majemuk, multikultural dan bhineka. Walaupun kita tidak bisa menafikan adanya kelompok lain yang juga memiliki pengaruh cukup kuat. Keduanya merupakan representasi dan ideologi yang menancap kuat di tanah Indonesia.
Dengan mengambil sampel dari masyarakat Banjar, terutama di Amuntapai dan Martapura, penulis melaporkan bahwa masyarakat di sana masih menggunakan akar-akar tradisionalisme dalam praktek “keagamaannya”, seperti adanya tradisi Mandi Hamil, “Apung Mawar”, Pengantinan dan lain sebagainya.
Dalam hal ini, pertentangan antara kelompok tradisionalis dan puritanis seakan tidak bisa dihindari kembali. Kelompok tradisionalis akan menganggap bahwa praktek keagamaan semacam itu akan semakin merekatkan hubungan harmonis dengan masyarakat umum. Sedangkan kelompok Puritanis akan menganggap bahwa itu merupakan sebuah pelecehan terhadap agama karena telah mencampurkan agama dan budaya yang cenderung bertentangan. Agama berada di wilayah ketuhanan sedangkan budaya di wilayah manusia.
Adanya pro-kontra seputar praktek keagamaan semacam ini merupakan corak Islam Indonesia. Selama keduanya masih berada dalam jalur yang bisa ditoleransi maka bentuk pro-kontra merupakan sunnatullah yang memang harus terjadi. Tetapi, ketika pro dan kontra itu menjurus pada pertentangan dan konfrontasi secara fisik, bukan merupakan bentuk perbedaan yang diharapkan.
Melihat fenomena di atas, maka konsep dan gagasan mengenai mengindonesiakan Islam, setidaknya harus memegang prinsip keterbukaan dan saling menghargai merupakan hal vital dalam konteks keagamaan Indonesia. Karena Indonesia dibangun atas keberagaman, kemajemukan dan keberbedaan yang mentradisi dalam ranah kehidupan masyarakat Indonesia.
Kebhinekaan budaya Indonesia merupakan bentuk akulturasi dari berbagai budaya di Indonesia, seperti Hindhu-Budha, animisme dan dinamisme yang kemudian bercampur dan berakulturasi dengan nilai-nilai kenabian dan keilahian yang diusung oleh Islam. Sehingga dari sini, Islam Indonesia akan tampil dengan wajah yang berbeda dari asalnya, di Arab. Di sini, kita bisa melihat kelihaian para penyebar Islam dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Mereka berani memasuki budaya masyarakat yang sudah lama berkembang kuat dengan senantiasa mengadaptasikan dengan Islam.
Perasan sari pati ide pemikiran penulis dalam buku ini, yaitu mengusung konsep bagaimana Islam yang ada di Indonesia diaplikasikan sesuai dengan kultur dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. Karena, tidak semua ajaran Islam yang diturunkan di Arab, Mekah sesuai dengan budaya Indonesia. Adanya perbedaan yang ada di Banjar agar tidak menjadi pemicu permusuhan dan kekacauan, karena subtansinya, Islam memang tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan tradisi manusia.
Dalam hal ini, adanya reinterpretasi merupakan jalan yang tidak bisa dihindari agar Islam itu terasa fleksibel, universal dan membumi. Bukankah Islam itu, sesuai di setiap zaman dan tempat? Kita tidak bisa menghomogenkan sesuatu yang heterogen. Karena akan bertentangan dengan hukum alam dan konsekwensinya akan muncul permusuhan, pengrusakan, kekacauan dan tidak adanya sikap saling menghormati dan menghargai sesama.
*)Aktif pada Central for Cultural Research (CCR), Adab Faculty UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Aktif di LKKY, Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Dehumanisasi Model Pendidikan Kapitalis

thumbnail
Judul: Metode Pendidikan Marxis Sosialis: Antara Teori dan Praktik
Penulis: Nurani Soyomukti
Penerbit: Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, Desember 2008
Tebal: 316 Halaman
Peresensi: Khoridatul Anisah*

Pendidikan, umumnya dipahami sebagai kegiatan mulia yang selalu mengandung kebajikan dan berwatak netral atau bebas nilai. Pandangan ini masih dominan hingga saat ini meskipun tiga dasawarsa yang lalu telah dibongkar oleh Paulo Freire dan Ivan Tillich. Keduanya memandang bahwa penindasan dan selubung nilai yang halus senantiasa berusaha ditanamkan dalam kesadaran semua yang terlibat dalam aktivitas pendidikan. Pendidikan bukan merupakan konsep yang bebas nilai.
Nilai-nilai ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan, ideologi, dan kepentingan dari pemangku kepentingan pendidikan tersebut. Pendidikan ibarat perahu kecil yang terjepit di antara dua karang besar yakni, apakah pendidikan akan memberikan dan mengukuhkan dominasi atas selubung dan ilusi penindasan tersebut, ataukah pendidikan menjadi sarana pembebasan atas dominasi dan penindasan yang telah mapan.
Nurani Soyomukti berusaha untuk melanjutkan tradisi kritik atas dominasi dan penindasan model pendidikan kapitalis yang telah mapan. Sebelum membongkar borok model pendidikan kapitalis, penulis menancapkan dasar berpikir yang sangat dipengaruhi oleh teori-teori Karl Marx seperti filsafat materialisme dialektika dan konsep-konsep ekonomi Marxis. Laiknya pengikut tradisi Marxis yang setia, penulis menempatkan ekonomi sebagai faktor determinan yang berfungsi menjadi basis penyangga, dan pendidikan sebagai bangunan atas atau supra struktur.
Corak produksi masyarakat yang kapitalis, menentukan bangunan pendidikan di atasnya akan seperti apa. Pendidikan berfungsi untuk melayani dan menstabilkan corak produksi tersebut. Secara sukarela dan tanpa sadar banyak dari kita yang menjadi pelayan bagi kepentingan kapitalis yang masuk lewat penidikan. Ketundukan sukarela untuk melayani kepentingan kapital inilah yang oleh Gramsci diistilahkan sebagai hegemoni.
Termanifestasi dalam pendidikan, hegemoni mengambil bentuk melalui kurikulum sebagai media yang sangat penting untuk mereproduksi cara pandang yang sesuai dengan kapitalisme. Semua sekolah kapitalis memiliki “kurikulum tersembunyi” (hidden curriculum) untuk tujuan memaksakan ideologi kapitalis masuk kelas. Kurikulum tersembunyi di sekolah merujuk pada norma-norma, nilai-nilai, dan sikap di bawah sadar yang seringkali ditransmisikan secara halus lewat relasi-relasi sosial di sekolah dan kelas. Dengan menekankan pada aturan konformitas, pasifitas, dan ketertundukan, hidden curriculum menjadi salah satu media sosialisasi yang kuat dan dapat berguna untuk memproduksi model-model pribadi yang siap menerima hubungan sosial dan sruktur kekuasaan yang sedang bekerja.
Kurikulum menentukan pelajaran apa yang harus diberikan pada murid dan apa yang harus diajarkan guru. Hal itu juga akan menentukan apa yang dimasukkan pada pikiran anak didik dan guru, akhirnya juga pengetahuan apa dan macam apa (di mana keberpihakannya) yang harus diajarkan di sekolah. Kurikulum dalam pengertian modern dipahami sebagai himpunan pengalaman peserta didik yang menjadi objek pembahasan dan praktek belajar mengajar. Subjek materi dan proses belajar mengajar dalam kurikulum seharusnya bersumber dari dari realitas konkrit keseharian peserta didik sendiri.
Kurikulum tersembunyi bukan satu-satunya pangkal dehumanisasi model pendidikan kapitalis. Komersialisasi pendidikan yang bermuara pada elitisme pendidikan juga menjadi biang keladi bahwa pendidikan telah berubah fungsinya karena tidak lagi mampu melayani kebutuhan dasar nan pokok masayarakat secara luas tanpa diskriminasi dan diakses dengan keluaran biaya yang rendah. Sekolah telah mengimitasi model organisasi perusahaan. Elemen-lemen pendidikan di sekolah tidak jauh berbeda dengan tata kelola perusahaan yang tujuan akhirnya adalah untuk berproduksi.Guru dipersonifikasikan sebagai manajer yang mempunyai otoritas dalam menentukan tujuan dan aktivitas apa yang dilakukan bagi anak didiknya, seperti manajer perusahaan yang mempunyai kewenangan menentukan tujuan produksi buruhnya. Murid yang mirip dengan buruh hanyalah obyek yang tunduk pada majikan. Upah buruh adalah gaji, sedangkan upah murid adalah nilai yang tertera dalam raport. Sama seperti buruh dalam kapitalisme, para murid juga mengalami alienasi dan ketertindasan dari hasil dan proses belajar yang ada (hal. 187).
Seolah tidak ingin terjebak dalam gaya koboi yang segera setelah menuntaskan kejahatan meninggalkan locus-nya, dan tidak memberikan alternatif jawaban yang konkrit, penulis tidak hanya saja melancarkan kritik terhadap model pendidikan kapitalis, namun juga menawarkan alternatif jawaban atas kritikannya tersebut. Sosialisme menjadi jawaban atas kritik yang dilancarkannya. Pendidikan sosialisme bertujuan untuk membongkar ilusi-ilusi kemapanan dan selubung penindasan supaya manusia bisa menemukan kembali kemanusiaannya yang telah tercerabut akibat proses pendidikan yang tidak humanis. Ini berarti tugas utama pendidikan sosialis adalah melakukan refleksi kritis terhadap ideologi dominan menuju ke arah transformasi sosial. Membangun ruang kesadaran agar sikap kritis terhadap sistem dan struktur keadilan, serta melakukan dekonstruksi dan advokasi menuju sistem pendidikan dan sosial yang lebih adil. Dengan lain perkataan, tugas pendidikan adalah “memanusiakan” kembali manusia yang mengalami dehumanisasi karena sistem dan struktur yang tidak adil.
Supaya tidak hanya menjadi angan kosong model ideal yang dicitakan, penulis melengkapi dengan capaian-capaian beberapa model pendidikan di negera-negara yang menganut atau pernah menganut paham sosialis ( hal. 203-240) seperti di Uni Soviet (sekarang Russia ), Cina , Kuba, dan Venezuela. Sejumlah data-data keberhasilan dan capaian yang cukup signifikan berhasil digapai oleh negara-negara yang menganut model pendidikan sosialis tersebut. Di semua negara-negara tersebut, dari sisi anggaran pendidikan misalnya, mengalami lonjakan yang cukup fantastis. Sebutlah misalnya di Uni Soviet yang mengalami peningkatan anggaran sampai 10 kali lipat sejak rejim Bolshevik berkuasa. Demikian pula dengan capaian sumber daya manusia yang bisa diukur dari kuantitas maupun kualitas keluaran dari model lembaga pendidikan sosialis tersebut.
Buku yang disajikan dengan menggunakan paradigma kritis ini, secara jitu berhasil menelanjangi bangunan pendidikan kapitalis yang banyak mengandung ilusi-ilusi di dalamnya. Sebuah karya yang cukup provokatif mengenai pendidikan di tengah praktik pendidikan yang paradoksal di negeri kita.
*)Guru pada Madrasah Aliyah Persiapan Negeri Cimahi.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Belajar Sukses Dari Kupu-Kupu

thumbnail
Judul: Dari Kepompong Menjadi Kupu-kupu, Refleksi Menuju Sukses Diri dan Organisai.
Penulis: Drs. HD Iriyanto, MM
Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan: 1 Januari 2009
Peresensi: Danuji Ahmad*
Proses terbentuknya kepompong menjadi kupu-kupu sungguh sangat menakjubkan. Ulat yang nampak jelek ternyata mampu bermetamorfosis secara fantastis dan elastis menjadi kupu-kupu. Makhluk yang indah, dinamis, bahkan juga dapat membantu reprodruksi tanaman. Proses perubahan dari kepompong menjadi kupu-kupu inilah yang dikupas Drs. HD. Iriyanto, MM dalam buku yang berjudul “Dari Kepompong Menjadi Kupu-Kupu” ini.
Memang ada beberapa binatang yang mampu melakukan perubahan seperti halnya dengan kepompong. Bunglon misalnya. Bagaimana ia mampu merubah warna kulit tubuhnya di mana ia berada atau bertempat tinggal. Akan tetapi, perubahan tersebut tidak sefundamental kupu-kupu. Bunglon belum mampu menyentuh pada perubahan karakter dan kinerja sebagaimana yang dilakukan kepompong.
Lalu pelajaran apa yang dapat dipetik manusia dari metamorfosis kupu-kupu? Manusia dengan segala kekurangannya dapat bertumbuh dan berkembang ke arah yang baik. Iriyanto sang penulis buku ini awalnya juga orang yang miskin dalam hal materi. Namun ia kreatif dan progresif dengan ide-ide cemerlang untuk mendirikan lembaga bimbingan belajar.
Dengan modal dengkul, Iryanto berhasil mendirikan lembaga bimbingan belajar itu. Bahkan lembaga yang didirikannya sekarang tersebar di seluruh penjuru Nusantara dengan nama Primagama. Diapun akhirnya menjadi kupu-kupu yang dapat memberikan pencerahan bagi bangsa dan tanah airnya lewat lembaga pembelajaran yang didirikannya tersebut.
Penulis juga menampilkan contoh sosok Ucok Baba yang memiliki banyak keterbatasan fisik tetapi mampu meraih sukses. Secara materi ia kekurangan. Fisiknya pendek, kurang lebih setinggi 50 cm tidak sampai setinggi orang dewasa pada umumnya. Menjadi pemain sepak bola mustahil ia lakukan. Menjadi perenang tentu ia akan ketinggalan dengan lawan-lawannya. Apalagi menjadi seorang artis. Tentu satu-satunya profesi yang bisa ia lakukan saat itu adalah mengemis di pinggir jalan untuk mengail uang recahan. Tapi tidak bagi Ucok. Dengam tekad, pemuda asal Medan inipun akhirnya memutuskan hijrah ke ibu kota untuk mengadu nasib di kota metropolitan tersebut. Berbagai cemoohan, caci maki, dan segala penolakan pernah menghampirinya. Tapi Ucok tetap percaya bahwa suatu saat keberuntungan pasti akan datang menghampirinya. Siapa sangka, Ucok sekarang selalu tampil menghiasi layar kaca kita. Diapun akhirnya menjadi kupu-kupu bagi keluarganya (hal 3).
Anda adalah apa yang anda pikirkan! Pikiran atau yang biasa kita sebut dengan pandangan hidup adalah hal yang sangat subtantif untuk menuntun kehidupan manusia. Kemanapun ia akan pergi, segala aktivitas yang ia lakukan sangatlah ditentukan oleh kualitas pikiran tersebut. Kesuksesan sangat ditentukan oleh bagaimana kita berpikir untuk dapat mewujudkannya.
Penulis menekankan tiga hal penting untuk sukses yang disebut Triple “R”. “R” yang pertama adalah membangun dan mengembangkan hubungan dengan diri sendiri (self relationship). Mengenali diri sendiri sangat penting untuk mengetahui bakat, hasrat, dan nilai-nilai yang kita dengan baik. Aspek ini menimbulkan kesadaran untuk memahami aspirasi dan kebutuhan diri dengan jernih. Sehingga tekad untuk memperjuangkan cita-cita akan tetap bergelora meski banyak rintangan yang menghadang.
“R” yang kedua adalah membangun dan mengembangkan hubungan dengan orang lain (customer relationship). Cara ini perlu dilakukan untuk menumbuhkan sikap proaktif yang dapat membantu dalam megambil respon yang positif. Kepekaan akan mempertimbangkan baik dan buruk, untung dan rugi dapat kita pecahkan dengan sebaik mungkin. “R” yang ketiga adalah membangun dan mengembangkan hubungan dengan organisasi (organizantion relantionship). Dalam hal ini kita harus mampu membuktikan seberapa besar peran kita bagi organisasi. Seberapa besar kita merubah organisai tersebut secara fundamental hingga mampu menyentuh karakter dan kinerjanya sebagaimana kepompong merubah dirinya menjadi kupu-kupu.
*) Peneliti pada Laboratirium Politik Fak. Syariah UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009