Saat Pengobatan Alternatif Jadi Pilihan

thumbnail
moumOleh: Puspa Perwitasari
Mahalnya biaya pengobatan dan pelayanan di rumah sakit membuat sejumlah orang enggan berobat secara medis. Mereka cenderung memilih ke pengobatan alternatif atau tradisional yang biayanya relatif lebih murah.
Yang pengobatannya lebih populer ditangani dengan cara tradisional, misalnya, patah tulang atau istilah medisnya disebut fraktur.
Tempat-tempat pengobatan patah tulang alternatif pun bermunculan, sebut saja pengobatan Guru Singa di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pusat urut tulang di Cimande Bogor, dan pengobatan Haji Naim di Cilandak, Jakarta Selatan.
Menjamurnya pengobatan patah tulang alternatif itu tidak lepas dari kepercayaan masyarakat yang menilai patah tulang akan lebih cepat sembuh jika diurut dengan cara tradisional daripada menjalani operasi di rumah sakit. Itu, misalnya, diakui Isah (28), warga Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Menurut dia, saat itu dirinya mengalami kecelakaan ketika bermain sepak bola hingga tempurung lutut kanannya bergeser. Untuk menyembuhkan cidera tersebut dia memilih pengobatan alternatif. Perempuan yang memiliki dua orang anak itu memilih ke pengobatan alternatif di kawasan Kampung Bali, Jakarta Pusat, karena biayanya dianggap murah dan penanganan yang cepat. "Kalau alternatif itu biayanya sukarela sesuai dengan dompet saja. Coba kalau saya ke dokter, bisa habis biaya ratusan ribu bahkan jutaan," katanya.
Pada saat mengalami kecelakaan tersebut, ia tidak terpikir untuk ke dokter kendati saat itu tidak bisa berjalan. Dirinya merasa penanganan medis terlalu rumit dan berbelit-belit. "Ke dokter itu pasti pake rontgen dulu, jadi kelamaan menanganinya. Kalau ke pengobatan alternatif kan langsung diurut," kata perempuan yang kesehariannya berdagang makanan itu.
Dirinya hanya perlu berobat tiga kali hingga akhirnya bisa berjalan normal kembali.
"Ini sudah bisa jalan enak, tapi memang posisi tempurung belum kembali seperti semula," kata Isah.
Hal serupa dikata Okta (32). Pria yang mengalami luka pada bagian lutut kirinya itu mengaku lebih tertarik pada pengobatan tradisional karena banyak masyarakat yang sembuh hanya dengan melakukan pengobatan alternatif. "Pengobatan alternatif tidak perlu operasi bahkan bekasnya pun tidak ada. Jika melakukan pengobatan medis berapa banyak uang yang harus saya keluarkan? Pasti dioperasi dan membekas," kata akuntan pada sebuah perusahaan nasional itu.
Hanya dengan tiga kali mendatangi tempat penyembuhan alternatif, dirinya mengaku lebih baik dan bisa berjalan seperti biasa meski masih belum sempurna. Selama menjalani perawatan oleh ahli pengobatan alternatif, dirinya mengaku hanya diurut dengan menggunakan minyak biasa. Sebelum menjalani perawatan, untuk berjalan pun dia harus meminta bantuan orang lain. "Sekarang sudah bisa berjalan seperti biasa meski belum sempurna. Saya melihat pengobatan alternatif lebih efektif dan murah, " katanya saat dikonfirmasi.
Ahli pengobatan patah tulang alternatif yang beroperasi di Jl Kampung Bali XXXI, Nurhafid (50), mengatakan, antusiasme masyarakat untuk lebih memilih pengobatan alternatif dikarenakan tingginya biaya pengobatan medis di rumah sakit. "Banyak pasien patah tulang yang akhirnya datang ke pengobatan alternatif karena dihadang biaya puluhan juta untuk operasi di rumah sakit," katanya.
Lelaki yang mengandalkan keahlian pijat urut dari turunan kakeknya, Haji Asmawi, itu mengatakan, pengobatan alternatif menjadi pilihan karena masyarakat percaya dengan hasil yang bisa dirasakan setelah melakukan pengobatan. "Rata-rata mereka kembali karena percaya dengan khasiat pengobatan ini," katanya.
Lelaki yang berpraktek di ruang seluas 3x4 meter itu menggunakan minyak untuk mengurut pasiennya. "Kesembuhan pasien tidak hanya tergantung oleh pengobatan ini, tapi juga oleh tekad pasien untuk sembuh," kata lelaki yang akrab disapa Hafid itu.
Meski banyak orang yang memilih pengobatan alternatif, Rahmad Gunawan (27) yang mengalami patah tulang di persendian siku tangan kiri akibat kecelakaan motor pada akhir 2008 itu, akhirnya lebih memilih pengobatan secara medis dibandingkan alternatif.
Lelaki yang tinggal di Kebun Jeruk, Jakarta Barat, itu mengatakan, usai kecelakaan, dirinya sempat dirontgen dan dirujuk untuk melakukan operasi. "Waktu itu saya dianjurkan operasi dan digadang biaya Rp 13 juta," katanya.
Biaya sebesar itu, kata lelaki yang akrab disapa Tole, sangat berat karena saat itu penghasilannya belum menentu. "Uang sebesar itu bagi saya sangat besar, terlebih saya saat itu masih membiayai kuliah dengan hasil bekerja sebagai fotografer freelance," katanya.
Ia kemudian mendapatkan rekomendasi untuk berobat pada salah satu ahli pengobatan tulang alternatif di kawasan Jakarta Selatan. Menurut orang-orang, pengobatan alternatif untuk patah tulang cenderung lebih cepat. "Saya selama tiga bulan bolak-balik ke pengobatan itu, sempat di gips dan diolesi putih telur untuk menjaga posisi tulang yang patah," kata Tole.
Tiga bulan berlalu, namun cidera patah tulang yang dialaminya tak kunjung menampakkan kesembuhan. Bahkan tangan kirinya yang di gips cenderung mengecil. "Saya khawatir dengan kondisi tangan yang semakin hari semakin mengecil, dan pada saat itu rasanya saya ingin menyerah," katanya.
Akhirnya, kata Tole, ia memutuskan untuk memeriksakan kembali cidera patah tulangnya ke rumah sakit. Ia kembali dirontgen. Dan menurutnya, tak ada perbedaan sama sekali dari hasil rontgen pertama dengan hasil rontgen setelah ia berobat alternatif. "Saya sungguh kecewa, dan akhirnya memutuskan untuk berobat secara medis saja," katanya.
Baginya, pengobatan secara medis memang solusi yang terbaik untuk patah tulang, karena para dokter yang menangani mengerti betul seluk-beluk tulang. "Sekarang saya lebih yakin dengan tenaga medis, karena penanganan yang mereka lakukan benar-benar nyata meskipun biayanya mahal," katanya.
Lelaki yang akan menjalani operasi awal minggu empat bulan Mei itu menyatakan, pengobatan secara medis bisa dipertanggungjawabkan. Ia mengisahkan nasib tetangganya yang meninggal dunia setelah berobat selama satu bulan di pengobatan alternatif. "Kalau terjadi kesalahan penanganan di rumah sakit kan pasien atau pihak keluarga bisa mengadukan hal itu, tapi kalau di pengobatan alternatif mana bisa dituntut?" katanya.
Ia menyatakan, sebaiknya masyarakat lebih percaya kepada ahlinya dibandingkan harus berspekulasi khususnya untuk kesehatan dirinya sendiri.
Ahli bedah tulang RS Pelni Jakarta Barat dr Mulyono Soedirman SpB, SpOT menyatakan, dirinya tidak mendukung adanya praktek pengobatan patah tulang alternatif.
Menurutnya, patah tulang adalah cidera yang bersifat patologis, bukan fungsiologis. “Kondisi patah tulang itu beda dengan melahirkan, patah tulang itu sakit sedangkan kalau melahirkan itu organ dalam kondisi normal," katanya.
Baginya, segala macam bentuk patah tulang hendaknya diperiksakan secara medis dan tidak ditangani dengan cara tradisional seperti metode urut. "Kalau terjadi patah tulang, seringan atau seberat apapun, hendaknya pasien melakukan rontgen terlebih dahulu agar segera ditangani dengan tepat dan bukan meraba-raba," katanya.
Penanganan yang tidak tepat dapat mengakibatkan kelumpuhan bagi penderita. "Harus dibedakan antara tulang dewasa dan anak-anak, karena jika terjadi kesalahan penanganan pada tulang anak dapat mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan dan bisa terjadi kelumpuhan," katanya.
Mulyono menambahkan, hendaknya pemerintah melalui Departemen Kesehatan segera melakukan tindakan pada praktek-praktek pengobatan tulang alternatif yang mulai menjamur dewasa ini. "Depkes seharusnya segera menindak praktek alternatif itu dan mengeluarkan `policy`," katanya. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Ruang Pengobatan Tradisional

thumbnail
Oleh: Maryati
Walaupun teknologi pengobatan modern terus berkembang bersama perjalanan waktu, perkembangannya tidak bisa benar-benar menggusur penggunaan obat dan pengobatan tradisional yang jauh lebih dulu menjadi bagian hidup masyarakat.
Hingga kini obat dan pengobat tradisional masih menjadi alternatif penyembuh dan pencegah penyakit dalam masyarakat. Produsen obat tradisional masih hidup dan bahkan terus bertambah. Toko, kios, dan pedagang jamu keliling masih punya pelanggan.
Jumlah obat tradisional dalam negeri yang didaftarkan ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) naik dari 772 produk pada 2007 menjadi 1.172 produk tahun 2008. Sementara produk obat tradisional dari luar negeri yang didaftarkan untuk mendapatkan ijin edar rata-rata 100 produk per tahun.
Tingkat penggunaan obat herbal/tradisional pun cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan, tahun 1980 penggunaan obat herbal mencapai 19,8 persen, tahun 1986 bertambah menjadi 23,3 persen, tahun 2001 kembali bertambah menjadi 31,7 persen dan meningkat lagi menjadi 32,8 persen pada 2004.
Pengobat tradisional seperti dukun pijat, tabib, penyembuh patah tulang, sunat, tukang pijat refleksi, akupresuris, dan akupunkturis masih banyak dimanfaatkan jasanya. Pemerintah tampaknya memandang pengobatan tradisional sebagai salah satu alternatif upaya pengobatan yang aman sehingga tetap memberikan ruang untuk berkembang meski tetap memagarinya dengan regulasi agar tetap terkontrol.
Regulasi tentang obat dan pengobatan tradisional diterbitkan oleh Departemen Kesehatan serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ketentuan Departemen Kesehatan terkait obat dan pengobat tradisional antara lain tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 246 Tahun 1990 tentang ijin usaha industri obat tradisional; Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1297 Tahun 1998 tentang peredaran obat tradisional impor; dan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1076/Menkes/ SK/VII/2003 tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional.
Menurut ketentuan, yang dimaksud dengan pengobatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan menggunakan cara yang mengacu kepada pengalaman, keterampilan turun temurun, dan/atau pendidikan/pelatihan yang diterapkan sesuai norma dalam masyarakat.
Obat tradisional didefinisikan sebagai bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran bahan tersebut yang secara turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.Menurut ketentuan tentang pengobatan tradisional, obat dan jasa pengobat tradisional hanya boleh digunakan apabila tidak membahayakan jiwa atau melanggar kaidah agama, aman dan bermanfaat bagi kesehatan, tidak bertentangan dengan upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat serta tidak bertentangan dengan norma dan nilai hidup masyarakat.
Peraturan tentang penyelenggaraan pengobatan tradisional juga mewajibkan pengobat tradisional yang menjalankan profesinya untuk mendaftarkan diri ke dinas kesehatan kabupaten/kota setempat untuk mendapatkan Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT).
Menurut aturan, STPT hanya diberikan kepada pengobat tradisional yang metodenya telah memenuhi persyaratan penapisan, pengkajian, penelitian dan pengujian serta terbukti aman dan bermanfaat bagi kesehatan.
Pengobat tradisional asing pun harus mendaftarkan diri meski tidak boleh melakukan praktek secara langsung dan hanya boleh bekerja sebagai tenaga konsultan dan atas permintaan sarana pelayanan kesehatan yang berbadan hukum yang memiliki izin dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat.
Dalam hal ini Departemen Kesehatan juga melakukan pembinaan terhadap pengobat tradisional melalui Asosiasi Pengobat Tradisional dan membentuk Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (Sentra P3T) untuk meningkatkan pemanfaatan pengobatan tradisional.
Sementara BPOM mengeluarkan aturan tentang produksi, penjualan dan pengawasan peredaran obat tradisional. Aturan tersebut antara lain berupa peraturan Kepala BPOM tentang pedoman Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan peraturan Kepala BPOM mengenai pengawasan pemasukan obat tradisional.
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik, dan Produk Komplemen BPOM Ruslan Aspan menjelaskan, pihaknya membina produsen obat tradisional supaya secara bertahap menerapkan CPOTB dalam proses produksi.
Seluruh produsen obat tradisional yang saat ini jumlahnya 1.052 perusahaan ditargetkan sudah menerapkan CPOTB pada 2010. Pendampingan dan pemantauan sarana produksi dilakukan secara berkala dilakukan untuk memastikan penerapan cara produksi tersebut oleh seluruh produsen.
Pengawasan
Ruslan menjelaskan, selain mengeluarkan regulasi, BPOM juga mengawasi produksi dan peredaran obat tradisional. Pengawasan terhadap obat tradisional sebelum dan setelah produk dipasarkan itu untuk memastikan keamanan produk yang beredar di pasaran.
Menurut dia, sebelum mengeluarkan izin edar obat tradisional pihaknya melakukan penilaian (pre-market evaluation) untuk menjamin keamanan, manfaat dan mutu produk tersebut.
Pada saat melakukan pendaftaran produk obat tradisionalnya, perusahaan yang bersangkutan harus memberikan informasi yang benar mengenai komposisi bahan, cara produksi, data keamanan produk, stabilitas produk, dan hasil pemeriksaan laboratorium terakreditasi mengenai produknya termasuk pengujian kandungan bahan kimia obat (BKO) dengan parameter tertentu. "Selanjutnya kami melakukan pengujian terhadap produk yang didaftarkan dan mengobservasi proses pembuatannya, " kata Ruslan.
Menurut dia, dalam hal ini BPOM memiliki standar keamanan, kualitas, stabilitas, dan khasiat obat tradisional.
Hanya untuk obat tradisional yang sudah dipastikan tidak berisiko mengganggu kesehatan, dibuat secara baik, tidak mengalami perubahan dalam dua tahun, bebas dari cemaran bahan kimia, dan terbukti berkhasiat saja BPOM memberikan nomor persetujuan pendaftaran atau nomor ijin edar. "Namun tidak seperti obat, pengujian khasiat obat tradisional hanya dilakukan berdasarkan bukti empirik dan bukan harus berdasarkan hasil uji klinis," katanya.
Ia menambahkan, dari sekitar 15 ribu produk obat tradisional yang hingga kini ada di Indonesia hanya lima di antaranya yang kemanjurannya sudah dibuktikan dengan uji klinis pada manusia. "Karena perlu waktu lama dan biaya yang sangat besar untuk uji klinis, tidak semua produsen mampu melakukannya, " katanya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, pihaknya juga mengawasi ketaatan penerapan CPOTB untuk memastikan keamanan produk obat tradisional yang diedarkan ke pasaran.
Selain itu, pengawasan juga dilakukan terhadap produk obat tradisional yang sudah beredar di pasaran untuk memastikan produsen tidak melakukan pelanggaran.
Pengawasan terhadap peredaran produk dilakukan dengan melakukan inspeksi ke sarana penjualan serta mengambil dan memeriksa sampel produk obat tradisional yang beredar di pasaran secara periodik.
"Karena kadang produsen dengan sengaja menambahkan BKO saat produksi atau menyembunyikan informasi mengenai komposisi saat penilaian awal," katanya.
Pelanggaran
Meski ketentuan sudah diterbitkan dan pengawasan sudah dilakukan, pelanggaran masih saja ditemukan.
Ruslan mengatakan, setiap tahun pihaknya menemukan antara satu persen hingga dua persen obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat seperti sildenafil dan sibutramin, yang dalam jangka panjang berisiko menyebabkan gangguan kesehatan.
Selama triwulan pertama tahun 2009, BPOM telah melakukan pengujian terhadap 454 sampel obat tradisional dan mendapati 210 (38 persen) di antaranya tidak memenuhi persyaratan mutu. "Tidak memenuhi syarat mutu di sini bukan berarti selalu mengandung BKO, ada yang produksinya belum standar, tidak terdaftar dan yang lainnya," kata Ruslan.
Ia menambahkan, produk obat tradisional yang dalam tiga bulan terakhir sudah dimusnahkan karena mengandung bahan kimia obat (BKO) sebanyak 472 kotak, 20.710 bungkus, 237 kapsul, 22 botol dan 38 tube.
Selama periode itu, BPOM juga telah memeriksa 164 sarana distribusi atau tempat penjualan obat tradisional dan menemukan 35 sarana distribusi yang tidak memenuhi ketentuan.
Inspeksi penerapan CPOTB juga dilakukan pada 48 industri obat tradisional selama periode itu dan BPOM menemukan 27 produsen yang tidak beroperasi sesuai ketentuan.
Ruslan mengatakan, pihaknya memberikan sanksi berupa peringatan, teguran hingga pencabutan ijin edar dan ijin produksi terhadap distributor dan produsen yang kedapatan melakukan pelanggaran.
Ia menjelaskan, selama ini pelanggaran belum bisa ditekan hingga serendah mungkin karena keterbatasan dana dan sumber daya manusia selama ini menjadi hambatan dalam upaya pengawasan. "Dana dan sumber daya yang kami miliki terbatas sehingga pengawasan kadang tidak bisa dilakukan secara maksimal," katanya.
Oleh karena itu, dia melanjutkan, pihaknya berusaha menggerakkan partisipasi pemerintah daerah dan masyarakat dalam kegiatan pengawasan. "Kami juga menyediakan unit layanan pengaduan konsumen, di sana masyarakat bisa menyampaikan informasi, pertanyaan dan keluhan tentang produk obat dan makanan, termasuk produk obat tradisional, " katanya.
Unit Layanan Pengaduan Konsumen BPOM dapat dijangkau melalui telepon ke nomor 021-4263333/ 32199000 atau surat elektronik ke: ulpk@pom.go. id dan ulpkbadanpom@yahoo.com.
Dia juga meminta konsumen menjaga diri dengan berhati-hati dan teliti jika ingin menggunakan obat atau pengobat tradisional. "Lebih baik menggunakan obat tradisional yang sudah terdaftar di BPOM, yang bertanda TR, obat tradisional yang produsennya jelas, serta yang nama dan khasiat yang dicantumkan dalam kemasannya tidak bombastis atau berlebihan. Untuk produk impor, gunakan yang sudah terdaftar, yang keterangan produknya berbahasa Indonesia," demikian Ruslan Aspan. (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Lindungi Tanaman Asli Indonesia

thumbnail
Pakar farmasi dari Universitas Indonesia, DR dr Ernie H Purwatiningsih MS meminta pemerintah memberi perlindungan terhadap berbagai tanaman asli Indonesia seperti Mahkota Dewa dan Temulawak karena terancam dicuri hak patennya oleh negara lain.
"Pemerintah dan masyarakat Indonesia harus mencegah tindakan pengambilan tanaman asli Indonesia untuk diproduksi menjadi obat herbal di negara lain, lalu hak patennya jatuh ke tangan mereka," kata Ernie.
Kasus penggandaan tanaman Mahkota Dewa dengan sistem kultur jaringan oleh salah satu peneliti Jepang beberapa tahun lalu harus menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan masyarakat Indonesia.
Tanaman mahkota dewa merupakan tanaman asli Indonesia yang sudah lama digunakan oleh masyarakat untuk pengobatan sejumlah jenis penyakit. "Kita sudah beberapa kali kebobolan. Bahkan tanaman temulawak yang menghasilkan minyak atsiri kini sudah dipatenkan di Korea Selatan. Pemerintah harus tahu bahwa banyak produk kita sudah dicuri," kata Ernie yang juga Kepala Program Studi Departemen Farmasi Kedokteran pada Fakultas Kedokteran UI itu.
Sehubungan dengan kasus tersebut, Ernie meminta pemerintah melalui instansi terkait meningkatkan pengawasan terhadap produk obat-obatan luar yang saat ini menjamur di Indonesia.
Ernie mengaku prihatin dengan membanjirnya berbagai produk obat-obatan dari luar negeri seperti Cina, Korea, Jepang dan lainnya yang justru mematikan produk obat-obatan asli Indonesia.
Dari aspek klinis, katanya, obat-obatan herbal dari luar negeri terutama dari Cina tidak seluruhnya melalui uji klinik untuk memastikan apakah obat-obatan tersebut aman untuk dikonsumsi. "Kita harus berusaha mencegah meluasnya peredaran obat-obatan dari Cina dan negara-negara lain dengan meningkatkan pengobatan herbal asli Indonesia tidak saja di dalam negeri tetapi juga ke luar negeri," kata Ernie.
Menurut Ernie, dari berbagai penelitian yang dilakukan terbukti ratusan hingga ribuan jenis tanaman asli Indonesia seperti temulawak, jahe, kencur, sambiloto, pegagan, daun sirih, kunyit dan lainnya memiliki kandungan yang baik untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Kanker Payudara Sembuh Total

thumbnail
Terapi Energi Biopendant
Wanita mana saja yang divonis menderita kanker payudara pasti akan terkejut. Takut, cemas dan gelisah merayap di dinding hati. Selain belum diketahui tingkatan stadium dan jenis kanker yang diderita, pasien umumnya dilanda pengalaman traumatik. Pasalnya, banyak penderita kanker payudara yang akhirnya meninggal dunia. Kanker menjadi penyakit maut.
Tapi ada banyak pengalaman dan kesaksian bahwa pasien atau penderita kanker payudara dapat kembali hidup normal. Mereka sembuh total dari penyakit kanker yang menyerang tubuh mereka. Penyebaran dan pertumbuhan sel kanker berhenti total. Mereka menjadi sembuh setelah menjalani terapi alternatif non medis.
Hal ini dialami langsung Ny Katarina Deru Pay (55). Perempuan paruh baya asal NTT ini menderita kanker payudara stadium satu. Ia menjalani operasi pengangkatan sel kanker di RS Sanglah Denpasar. Usai operasi, ia harus melewati lagi serangkaian kemoterapi. Beruntung, ia diperkenalkan metode terapi energi biopendant oleh Rudy Winata, seorang master energi yang beralamat di Jl Nusa Penita No 37 Denpasar.
Katarina Deru Pay dianjurkan memakai kalung berenergi biopendat yang memiliki kekuatan pancaran energy Sinar-Inframerah-Gelombang-Panjang (Far Infrared Ray atau disingkat FIR) dan anion yang efektif mencegah pertumbuhan maupun penyebaran sel-sel kanker. “Selama pengobatan dan perawatan di RS Sanglah Denpasar, saya selalu mengenakan bioenergi pendant dan meminum air energi dari biopendant. Saya mengalami kejadian-kejadian yang mengejutkan. Isi tubuh saya bagai dikuras. Keluar muntah disertai lendir berwarna kehitam-hitaman dan air seni berwarna merah darah. Menurut Pak Rudi, hal itu merupakan proses detoksifikasi,” ungkapnya.
Sebelumnya berdasarkan hasil pemeriksaan dengan foto roentgen, Katarina dinyatakan terserang kanker ganas stadium 1. Dokter dari RS Bajawa, NTT mendesaknya untuk segera menjalankan operasi pengangkatan kanker payudara dengan serangkaian upaya perawatan, kemoterapi dan radiologi di RS Sanglah Denpasar. Operasi dilaksanakan pada 11 November 2008 dan dilanjutkan dengan 6 kali kemoterapi setiap 3 minggu. “Pada kemoterapi keempat, kondisi tubuh saya menurun drastis. Dokter menganjurkan saya menjalani terapi hormonal untuk mengembalikan dan memulihkan sel-sel dan metabolisme tubuh dengan biaya 1,5 juta rupiah. Pada saat yang sama saya dikenalkan dengan terapi bioenergi pendant. Saya memilih terapi bioenergi pendant daripada terapi hormonal,” ujarnya.
Saat memakai biopendant, ia merasakan ada hawa sejuk mengalir di dalam tubuh. Ia merasa fisik lebih kuat daripada sebelumnya. Bagun pagi badannya terasa segar, nafsu makan bertambah, asma dan ngorok yang menjadi kebiasaannya hilang seketika. “Satu bulan kemudian saya datang ke RS Sanglah untuk menjalani kemoterapi ke-6. Seorang perawat Sr Siska Pareira yang sering merawat saya sangat terkejut melihat kondisi saya yang tampak bugar,” kenangnya.
Kejaiban bioenergi pendant mulai tampak. Menjelang kemoterapi, tiba-tiba napas Ny Katarina terasa sesak dan perutnya mendadak sakit amat sangat. Rasa sakit luar bisa melebihi rasa sakit melahirkan ke-6 anaknya. “Saat itu saya berpikir ajal akan segera tiba. Di tengah rasa sakit saya menelpon anak-anakku di Flores untuk meminta dukungan doa yang disambut tangisan. Dua perawat yang mendampingiku turut panik dan menghubungi dokter untuk memantau kondisiku saat itu. Karena rasa sakit yang tak tertahan saat itu saya menolak untuk menjalani kemoterapi. Namun setelah diperiksa, dokter menyatakan tidak ada hal yang mengkhawatirkan dan kemoterapi harus dilaksanakan,” ungkapnya.
Dalam kesakitan yang teramat sangat, ia pun teringat akan kalung biopendant yang terkalung di lehernya. Ia mengambil aqua dan dengan tergesa-gesa biopendant diketuk-ketukkan ke gelas aqua lalu diminum. Seketika itu juga Ny Katarina muntah-muntah dan terasa ada sesuatu di perutnya bergerak keluar. Ada bongkahan kental kehitaman yang keluar. Sesaat setelah muntah sakit perutnya hilang. Anehnya, saat buang air kecil, air seninya berwarna merah. Ia mengalami air seni berwarna ini selama dua hari. “Pulang dari rumah sakit saya masih muntah selama 9 kali dan keluar sesuatu yang menyerupai kerak-kerak hitam berbentuk setengah lingkaran seperti cacing. Saat buang air besar keluar kotoran yang menyerupai usus,” saya percaya itu adalah peristiwa detox.
Seharusnya Ny Katarina menjalani penyinaran sesuai dengan jadwal yang ditetapkan. Tapi setalah pemerikasaan terakhir. Dokter menyatakan ia sehat setelah melihat hasil USG dan roentgen tidak ada lagi penyebaran sel kanker. Akhirnya penyinaran dibatalkan. Ia diperbolehkan untuk pulang ke Flores. “Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah membuka jalan agar saya boleh menemukan bioenergi pendant yang luar biasa ini,” ungkapnya dengan rasa syukur. (NIA)
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Trend Pengobatan Kanker Menuju Pengobatan Yang Ramah

thumbnail
Trend pengobatan kanker yang berkembang di Indonesia menuju pengobatan yang ramah, artinya pengobatan tersebut hanya membunuh inti sel kankernya saja tanpa membunuh jaringan normal yang juga berkembang di sekitar sel kanker.
"Pengobatan kanker yang ada sekarang sering membawa efek samping pada penderita," kata Ketua Program Doktor Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Mohamad Sadikin usai Seminar Forum Biomedika di FKUI, Jakarta, Rabu pekan lalu.
Ia menjelaskan bahwa pengobatan kanker yang ada, yaitu dengan bedah, elektrokimia, dan konsumsi obat berfokus untuk membunuh ke inti sel kanker. "Makanya kalau ada pasien yang merasakan sakit sekali ketika sedang diobati, itu karena sel-sel yang normalnya juga ikut mati," kata Sadikin.
Ia juga menambahkan, kini dunia kedokteran sedang mengusahakan pengobatan kanker yang bukan hanya berfokus pada menghentikan perkembangan sel kanker dengan cara radikal, namun dengan cara yang selektif yaitu mengganggu metabolisme sel kanker, menghindari pemicu kanker dengan gaya hidup sehat, dan yang terbaru adalah pengobatan dengan sel punca.
Di Indonesia, kanker termasuk ke dalam lima besar sebagai penyebab kematian khususnya kanker payudara dan kanker rahim yang lebih banyak diidap penderita kanker di Indonesia paling banyak dibandingkan jenis kanker lainnya.
Sel kanker yang ada di dalam tubuh tidak semuanya bisa menjadi ganas karena sel tersebut bisa menjadi ganas setelah dipicu oleh zat-zat tertentu. Zat tersebut bisa berasal dari apa yang kita konsumsi setiap hari.
Mengenai pengobatan kanker dengan tanaman tradisional, Mohamad Sadikin mengatakan perlu adanya penelitian lebih lanjut terhadap obat-obatan tradisional tersebut. "Pengobatan itu sebaiknya harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah," kata Sadikin.
Sadikin menambahkan jika bahan tanaman tradisional itu sebatas pada bahan yang bisa dikonsumsi langsung seperti bawang putih, kunyit, jahe, dan dikonsumsi dalam takaran yang wajar, maka tidak akan membawa dampak yang signifikan pada kesehatan.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Menanti Obat Kanker Syaraf

thumbnail
Oleh: Nanang Mairiadi
Penyakit mematikan kanker "neuroblastoma" (kanker syaraf) telah menyerang anak-anak di dunia namun sampai sekarang belum ada obatnya ,sehingga yang menjadi pertanyaan adalah apakah obatnya bisa ditemukan dua tahun lagi.
Jawaban itu tergantung hasil penelitian tim riset kesehatan Universitas Chiba Jepang yang bekerja sama dengan International Business Machines (IBM) yang meluncurkan proyek bantuan kemanusiaan khusus kanker anak.
Pada 17 Maret 2009, IBM meluncurkan proyek bantuan penanggulangan kanker anak bernama "World Community Grid (WCG) Help Fight Childhood Cancer", kata Manejer Pemasaran IBM di Indonesia, Hartini Haris.
Kegiatan riset yang dilakukan saat ini bertujuan untuk memberikan harapan kepada anak-anak yang dinyatakan menderita kanker neuroblastoma dengan menemukan obat atau cara mengobatan terhadap kanker syaraf tersebut.
WCG adalah program yang menyediakan sebuah infrastruktur yang memungkinkan orang diseluruh dunia untuk menyumbangkan waktu melalui komputer mereka yang dapat membantu proyek kemanusiaan tersebut.
Infrastruktur yang dibuat adalah perangkat progam komputer tentang kanker neuroblostoma dan hasil yang diharapkan adalah sebuah kekuatan besar yang melalui program itu.
Di Indonesia, IBM telah menjalin kerja sama dengan Yayasan Ongkologi Anak Indonesia (YOAI) yang diketuai Rahmi Adi Taher dan RS Kanker Dharmais serta Rumah Sakit (RS) Kanker Dharmais.
Saat ini, program WCG yang sedang digencarkan di dunia juga disosialisasikan di Indonesia yang bertujuan untuk memerangi penyakit ganas tersebut.
Penelitian ini dapat memakan waktu selama 200 tahun jika hanya menggunakan kekuatan sebuah komputer.
Akan tetapi dengan gencarnya penelitian terhadap program WCG maka diharapkan riset tentang neuroblastoma dapat diselesaikan kurang dari dua tahun.
"Saat ini WCG melakukan tujuh riset tentang kesehatan dan diantaranya neuroblostoma guna kepentingan manusia," kata Hatini.
Relawan
IBM, YOAI dan RS Kanker Dharmais sedang mencari relawan untuk mengajak khalayak banyak berpartisipasi aktif melawan kanker neuroblastoma melalui program komputerisasi WCG.
Program pararel koleksi kemanusiaan publik terbesar saat ini dilakukan dengan memanfaatkan power komputer yang sedang tidak terpakai. Sampai saat ini di dunia sudah ada 430 ribu anggota lebih dari hampir seluruh negara dengan koneksi ke lebih dari 1,2 juta komputer.
"Jumlah penderita kanker di dunia meningkat tajam dari waktu ke waktu dan kanker adalah penyakit kedua yang mematikan setelah jantung," kata Ketua YOAI Rahmi Adi Putra pada acara peluncuran program tersebut minggu lalu.
Pakar kesehatan di dunia memperkirakan jumlah penderita kanker di Asia pada 2020 akan meningkat hingga 60 persen dan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang terbaru menunjukkan bahwa akan terdapat 27 juta penyakit kanker baru pada 2030.
Korban kanker neuroblosgtoma yang ditangani YOAI selama dua tahun terakhir tercatat 30 orang yang 22 orang di antaranya meninggal dunia karena sudah stadium tinggi, sedangkan delapan anak-anak yang berusia 0 - 8 tahun masih bertahan hidup dengan mendapatkan perawatan intensif di RS Kanker Dharmais Jakarta.
Melalui program yang baru diluncurkan IBM, diharapkan sebagian besar dokter dapat mengetahui penyebab neuroblastoma yang sudah ada dalam sel tubuh yang secara tidak sengaja selama perkembangan "sympathetic ganglia" dan kelenjar adrenal.
Proyek ini menggunakan daya komputasi yang terpakai di komputer para relawan untuk mengindentifikasi tiga juta kandidat pengobatan yang berpotensi menghambat pertumbuhan protein yang menyebabkan kanker.
Program ini dapat membantu membangun sistem kesehatan yang lebih baik dengan menghantarkan pengobatan yang lebih cepat sehingga setiap orang dapat menargetkan terapi pengobatan mereka sendiri.
Kerja sama IBM di Indonesia dengan YOAI merupakan salah satu langkah berarti bagi dunia kesehatan di tanah air khususnya bagi perkembangan pengobatan kanker neuroblastoma.
Melalui kerja sama program kemanusiaan ini akan memperpanjang harapan hidup anak-anak penderita neuroblostoma terutama di Indonesia dan untuk kerja keras tersebut harus ada relawan yang cukup.
YOAI, RS Kanker Darmais dan IMB telah sepakat bekerja sama menciptakan industri kesehatan yang mengajak masyarakat untuk melawan aktif kanker neuroblatoma dengan menjadi relawan pada program pemanfaatan power komputerisasi yang sedang tidak dipakai untuk disebarluaskan.
Penderita di Indonesia
Sebanyak 70 persen anak-anak di Indonesia yang menderita penyakit kanker neuroblastoma (kanker syaraf) meninggal dunia, karena penyakit ini sudah ditemukan sejak manusia dalam bentuk embrio hingga dalam kandungan dan belum ada obatnya.
Sampai saat ini sulit mendeteksi apakah seorang bayi yang baru lahir terbebas dari penyakit mematikan itu karena dari 30 korban anak penderita kanker neuroblastoma yang dirawat di RS Kanker Dharmais hanya delapan orang atau masih bertahan hidup, kata Rahmi.
Kedelapan anak yang rata-rata berusia dibawah delapan tahun itu masih bertahan dan kini masih mendapatkan perawatan intensif di RS Kanker Dharmais.
Neuroblastoma berada pada peringkat empat sebagai penyakit kanker ganas mematikan dari empat jenis kanker yakni leukimia, tumor otak dan retinabalstoma.
Namun neuroblastoma penderitanya adalah anak-anak, kata dokter spesialis Edi S Tehuteru yang sedang menanggani pederita neuroblastoma di RS Kanker Darmais.
RS Kanker Dharmais bersama YOAI pada 5 Mei 2009, telah melakukan diagnosis terhadap seorang anak perempuan berusia tiga bulan dengan menyuntikkan yodium 131 (zat radinuklir) untuk mendeteksi apakah bayi itu menderita kanker neuroblastoma atau tidak.
Anggota tim dokter RS Kanker Dharmais Edi S Tehuberu SpA MHA masih harus menunggu hasil diagnosisnya guna memastikan apakah anak itu menderita penyakit mematikan itu atau tidak yang hingga kini belum ditemukan obatnya untuk bisa menyembuhkan secara total dari serangan penyakit itu.
Berbahaya dan seriusnya penyakit tersebut membuat keluarga korban harus menyiapkan dana besar untuk berobat yakni sekitar Rp13 juta per hari untuk menyembuhkan anak yang terserang neuroblatoma dengan kurun waktu 18 bulan.
Yayasan Ongkologi Anak Indonesia (YOAI) memberikan kesempatan berobat gratis kepada anak-anak penderita kanker nueroblostoma (kanker syaraf) yang berasal dari keluarga miskin.
YOAI bekerja sama dengan RS Kanker Dharmais sudah melakukan program berobat gratis bagi anak korban neuroblostoma yang mendapatkan perawatan di rumah sakit kanker tersebut, kata Rahmi Adi Putra Tahir.
Syarat bagi korban kanker ganas tersebut untuk mendapatkan berobat gratis di RS Kanker Dharmais Jakarta adalah benar-benar dari keluarga miskin, ditandai dengan surat miskin dari kelurahan atau dokter yang memeriksanya atau memiliki kartu keluarga miskin.Besarnya biaya berobat kanker neuroblostoma yang mencapai Rp13 juta per hari dengan lamanya waktu 18 bulan, membuat yayasan kanker anak ini juga kesulitan mencari donatur untuk membantu anak yang menderita sakit.
Selain membantu pengobatan gratis kepada korban kanker tersebut, yayasan ini juga memberikan bantuan bimbingan secara psikologis kepada orang tua yang anaknya menderita penyakit mematikan tersebut.
Kemudian YOAI juga secara rutin melakukan diskusi atau berbagi pendapat dengan para orang tua korban untuk memberikan mereka semangat menghadapi musibah yang menimpanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

LIPI Teliti Khasiat Kayu Manis Untuk Kanker

thumbnail
Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Cibinong, mengembangkan penelitian terhadap empat jenis tanaman yang berkhasiat bagi kesehatan manusia.
Empat penelitian tersebut ialah penelitian terhadap keluarga kayu manis (cinnamomum) sebagai obat penyakit kanker, penelitian terhadap tumbuhan dari keluarga "simaroubaceae" sebagai obat anti malaria, penelitian tanaman temu mangga serta penelitian pada keluarga jahe yang mengandung zat yang dapat meningkatkan kekebalan tubuh. "Semua penelitiannya masih dalam proses," kata Peneliti Bahan Alami Bidang Botani Pusat Penelitian Biologi LIPI Chairul.
Masing-masing dari keempat penelitian membutuhkan waktu antara satu hingga tiga tahun. Hingga kini, penelitian tersebut ada yang baru mencapai tahap ekstraksi, yaitu tahap memisahkan komponen-komponen kimia dari tanaman yang diteliti, dan ada juga penelitian yang telah mencapai tahap uji aktivitas, yaitu melakukan pengujian dengan simulasi.
Jika penelitian terhadap tanaman berkhasiat itu telah selesai, maka tahap selanjutnya adalah melakukan publikasi ilmiah, yaitu mempresentasikan hasil penelitian pada khalayak, kemudian membuat prototipe produk, baru setelah itu dipatenkan.
Chairul juga mengeluhkan masalah pendanaan penelitian dari pemerintah. "Kadang penelitian harus berhenti di tengah jalan karena nggak ada dana," kata peneliti yang telah berkiprah selama 25 tahun di bidang penelitian botani tersebut.
Ia juga mengaku kepada ANTARA, beberapa peneliti terkadang harus melanjutkan penelitian dengan dana pribadi.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Perubahan Rokok Picu Kanker Paru-paru

thumbnail
Menghisap rokok hari ini memiliki resiko lebih besar bagi paru-paru dibandingkan dengan beberapa dasawarsa lalu akibat perubahan dalam rancangan rokok, demikian hasil satu studi baru.
Sebanyak separuh kasus kanker paru-paru di AS mungkin disebabkan oleh perubahan itu, kata Dr. David Burns dari University of California, San Diego, pada pertemuan para peneliti tembakau baru-baru ini.
Studi yang dilansir ANTARA tersebut mendapati peningkatan satu jenis tumor paru-paru yang disebut "adenocarcinoma" lebih tinggi di Amerika Serikat dibandingkan dengan di Australia, sekalipun kedua negara itu beralih ke apa yang disebut rokok yang lebih ringan pada saat yang sama. "Penjelasan yang paling mungkin buat itu ialah perubahan pada rokok," kata Burns dalam satu wawancara. "Rokok yang dijual di Australia berisi kadar `nitrosamine` yang lebih rendah, yang dikenal dengan nama `carcinogen`, dibandingkan dengan yang dijual di Amerika Serikat."
Ia mengakui itu adalah bukti sementara yang memerlukan penelitian lebih lanjut. Studi tersebut diajukan pada pertemuan Perhimpunan bagi Penelitian mengenai Nikotin dan Tembakau, mengenai perbandingan prilaku merokok pada kelompok usia yang berbeda selama empat dasawarsa --berapa banyak mereka merokok, kapan mereka memulai, kapan mereka berhenti-- dan bagaimana resiko kanker berubah.
Risiko bisul kanker sel squamous (SCC) tetap sama selama masa itu, demikian temuan Burns. Namun risiko adenocarcinoma meningkat. Itu merupakan 65 persen sampai 70 persen kasus kanker paru-paru yang baru muncul di AS tapi tak lebih dari 40 persen kanker paru-paru di Australia, katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

UI Lakukan Penelitian Sel Punca Kanker

thumbnail
Fakultas Kedokteran, Fakultas Kedokteran Gigi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, serta Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (UI) bekerjasama untuk melakukan penelitian terhadap karakteristik sel punca kanker untuk menemukan cara yang tepat menghentikan sel kanker memperbarui diri.
"Sel punca kanker inilah yang menentukan sel-sel kanker yang sudah diobati tumbuh lagi" kata Ketua Program Studi Magister Ilmu Biomedik FKUI Septelia Inawati Wanandi.
Ia menambahkan jika karakteristik sel punca kanker telah diteliti, maka akan ditemukan cara untuk menghambat perkembangan atau bahkan membunuh sel punca tersebut sehingga penyakit kanker bisa disembuhkan secara total dan tidak merusak jaringan normal yang berada di sekitar sel kanker.
Penelitian terhadap sel punca kanker akan mengarah pada pengembangan pengobatan kanker dengan "targeted therapy".
"Targeted therapy" ialah pengobatan kanker yang hanya membunuh sel punca kankernya saja tanpa membunuh sel-sel normal yang berada di sekitar sel-sel kanker.
Pengobatan kanker selama ini menggunakan pengobatan sinar, kemoterapi, dan pembedahan. Pengobatan tersebut bukan hanya mematikan sel-sel kanker namun juga merusak sel-sel normal yang hidup di sekitar sel kanker.
Rusaknya sel-sel normal itulah yang menyebabkan penderita merasa kesakitan ketika menjalani pengobatan kanker. "Dengan membunuh sel punca kankernya saja, diharapkan akan menciptakan pengobatan yang lebih nyaman bagi penderita kanker," kata Septelia yang dilansir ANTARA.
Peneliti dari UI itu juga menjelaskan penelitian sel punca kanker dilakukan pada sel kanker payudara dan kanker rahim karena jumlah penderita kanker payudara dan kanker rahim paling tinggi dibandingkan penderita kanker lainnya.
Penelitian sel punca kanker ditargetkan selesai dalam tiga tahun dan akan dimulai pada bulan Juni 2009. "Seharusnya kami sudah mulai bulan Maret, tetapi karena penelitian ini benar-benar baru, jadi kami harus menyiapkan semuanya dari awal," kata perempuan yang kerap dipanggil Ina itu.
Sebelumnya, sudah banyak penelitian terhadap sel punca pada jaringan tubuh yang sehat atau sel punca normal, bukan sel punca kanker. Sel punca normal bahkan dapat digunakan untuk pengobatan.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Ki Mangunsarkoro Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

thumbnail
Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa berencana mengusulkan kepada pemerintah untuk menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada tokoh Tamansiswa, Ki Sarmidi Mangunsarkoro atas perjuangan dan pengabdiannya di bidang pendidikan nasional.
"Ki Sarmidi Mangunsarkoro adalah tokoh pendidikan yang layak memperoleh gelar pahlawan nasional," kata Ki Bambang Widodo, Ketua Panitia Sarasehan Menelusuri Jejak Perjuangan Tokoh Pendidikan Nasional Ki Mangunsarkoro, di Yogyakarta, Selasa (12/5).
Sarasehan tersebut diselenggarakan dalam rangkaian memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2009 yang bertujuan menanamkan nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan dan kesetiakawanan sosial bagi generasi muda.
Selain itu untuk menggali pendapat para pakar pendidikan, budayawan, sejarawan serta tokoh masyarakat tentang perjuangan Ki Sarmidi Mangunsarkoro dalam dunia pendidikan di Indonesia. "Dari hasil sarasehan ini kami akan mengusulkan kepada pemerintah agar Ki Sarmidi Mangunsarkoro memperoleh anugerah gelar pahlawan nasional," kata Ki Bambang Widodo.
Sementara itu, Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto mengatakan sejak berdirinya Tamansiswa 3 Juli 1922, Ki Hajar Dewantara dan para pendiri Tamansiswa lainnya sadar bahwa bangsa Indonesia memerlukan modal pendidikan nasional sebagai bekal menuju jembatan emas kemerdekaan.
Ki Hajar Dewantara selain menciptakan konsep dasar pendidikan nasional, juga berhasil mendidik serta membina generasi bangsa dan pejuang perintis kemerdekaan Indonesia yang berjiwa nasionalis, dan salah seorang di antaranya adalah Ki Sarmidi Mangunsarkoro. "Ki Mangunsarkoro mengawali perjuangannya sejak di bangku sekolah dengan mendirikan organisasi pemuda kemudian menjadi aktivis Jong Java di Yogyakarta," katanya.
Ki Mangunsarkoro juga aktif dalam kongres pemuda dan sempat menjabat sebagai pimpinan Partai Nasional Indonesia (PNI). Pengabdian Ki Sarmidi Mangunsarkoro di Tamansiswa dimulai sebagai pamong/guru, kemudian mendirikan dan memimpin Tamansiswa Cabang Jakarta. "Dia pernah memimpin kongres nasional pertama Tamansiswa yang kemudian terpilih sebagai ketua umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa," katanya.
Setelah Indonesia merdeka, Ki Sarmidi Mangunsarkoro tercatat dua kali sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) dalam dua kabinet dan mengesahkan Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran pada 1950. "Selama dua tahun menjabat Menteri P dan K, dia mendirikan Akademi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta, Konservatori Karawitan Surakarta dan ikut membidani lahirnya Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta," katanya.
Ki Sarmidi Mangunsarkoro bukan hanya guru atau politikus, tetapi dia benar-benar seorang negarawan besar dan berjasa bagi nusa dan bangsa Indonesia. "Sepantasnya jika pemerintah mempertimbangkan penghargaan terbaik untuk Ki Mangunsarkoro," kata Ki Tyasno Sudarto.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Sekaa Pesantian Menuju Pendidikan Non Formal

thumbnail
Kelompok (sekaa) pesantian, yakni seni olah sastra dan apresiasi teks sastra Bali kuno (kekawin) yang berkembang di Bali dalam beberapa tahun belakangan dapat diterapkan secara permanen sebagai pendidikan non-formal di bawah binaan Departemen Agama.
"Hal itu sangat dimungkinan untuk bisa mendapat bantuan dana pembinaan dari Departemen Agama seperti halnya pondok pesantren," kata Drs I Gusti Made Ngurah, dosen senior Insitut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Mantan Kakanwil Agama Provinsi Bali itu menilai, kehadiran sekaa-sekaa pesantian yang berkembang di pelosok pedesaan perlu pembinaan secara lebih intensif.
Untuk itu perlu adanya dukungan dana, yang selama ini masalah tersebut belum berhasil diatasi. Oleh sebab itu perlu kerja keras dan perjuangan agar sekaa pesantian mendapat pengakuan sebagai lembaga pendidikan non-formal.
Gusti Ngurah menyebutkan, lembaga pendidikan non-formal itu dapat diformat sedemikian rupa, dengan melibatkan anak didik mulai dari tingkat sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), serta penduduk dewasa hingga orang tua.
Sekaa pesantian yang berkembang pesat, baik di kalangan masyarakat perkotaan maupun pedesaan di Bali mempunyai peran penting dalam mendukung kelestarian dan pengembangan seni budaya Bali. "Melalui aktifitas sekaa pesantian mampu mencetak kader-kader seniman dan budaya Bali," ujarnya.
Hal senada juga diungkapkan Dosen Fakultas Sastra Universitas Udayana Drs Nengah Medera MHum, yang menyebutkan bahwa kelompok pesantian selama ini lebih banyak "dihuni" orang-orang dewasa dan orang tua, dan hanya sebagian kecil saja dari kalangan generasi muda.
Kelompok tersebut dalam aktifitasnya pada malam hari, melakukan pembahasan secara mendalam mengenai konsep nilai yang terkandung dalam karya sastra agama.
Forum tersebut pada akhirnya menyepakati seperangkat nilai yang dipakai acuan berperilaku dalam memuliakan hidup manusia. Dengan demikian kegiatan pesantian menjadi media penerusan nilai-nilai universal dalam budaya Hindu kepada generasi penerus.
Nengah Medera yang pernah menerima Dharma Kusuma, penghargaan tertinggi dalam bidang seni dari Pemerintah Provinsi Bali itu menambahkan, kegiatan apresiasi dan diskusi sekaa pesantian menggunakan bahasa daerah Bali sebagai mediumnya.
Kegiatan tersebut secara tidak langsung memberikan pelatihan pemakaian bahasa daerah Bali yang baik dan benar, di samping pemahaman dan pengenalan sastra Bali dan Jawa kuno.
Hampir di setiap banjar, desa di kota maupun pedesaan di Bali telah terbentuk sekaa pesantian, bahkan merambah ke kantor-kantor instansi pemerintah maupun swasta. "Mereka itulah pendekar-pendekar seni budaya Bali yang senantiasa rela berkarya untuk pengorbanan suci (yadnya) tanpa pamrih, tanpa banyak menuntut untuk tetap lestari dan kokohnya seni budaya Bali," ujar Nengah Medera.
Kegiatan yang mengumandangkan pembacaan ayat-ayat suci agama Hindu secara tidak langsung mampu merubah prilaku seorang sesuai tuntutan norma agama. "Kalau dicermati seserorang yang awalnya menjalani kehidupan yang serba gelap antara lain pemabuk dan penjudi, setelah mendapat pembinaan dalam sekaa pesantian akhirnya sadar dan taat pada norma agama," tutur Nengah Medera.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pendidikan Belum Berpihak Kepada Orang Miskin

thumbnail
Dualisme kebijakan yang dilakukan pemerintah dalam dunia pendidikan saat ini telah menjadikan pendidikan tidak lagi berpihak kepada kaum miskin dan menghasilkan lulusan yang pragmatis. "Bahkan, dalam konteks lebih luas kebijakan itu memungkinkan terjadinya ketimpangan dalam proses integrasi nasional bangsa," kata pengamat pendidikan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Said Tuhuleley.
Menurut dia pada dialog refleksi pendidikan dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, dualisme kebijakan tersebut meliputi kebijakan pemerintah yang telah memberikan dana bantuan operasional sekolah (BOS) dan klausul Undang-undang (UU) Badan Hukum Pendidikan (BHP).
BOS dinilai cukup membantu proses peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Dengan adanya BOS, sebenarnya pemerintah telah selangkah lebih maju dalam mengupayakan peningkatan mutu pendidikan sekolah di negeri ini.
Namun, di sisi lain klausul UU BHP telah menjadikan pendidikan bagaikan barang komoditas yang dilempar ke pasar dengan memberikan otonomi kepada perguruan tinggi untuk menarik pungutan bagi mahasiswa yang memiliki materi berlebih. "Dengan fenomena itu biaya pendidikan pun menjadi semakin tidak terjangkau untuk kaum miskin. Tanpa klausul BHP pun, perguruan tinggi sebenarnya sudah memungut sumbangan berlebih bagi calon mahasiswa," katanya.
Oleh karena itu, hanya mahasiswa dengan materi berlebih yang dapat mengenyam pendidikan di sekolah yang berkualitas bagus, sedangkan kaum miskin cukup bersekolah di lembaga pendidikan yang kualitasnya kurang bagus. "Padahal, tumpuan harapan orang miskin untuk mendapat pendidikan yang berkualitas dengan harga terjangkau bukan hanya hak orang miskin, namun juga merupakan kewajiban negara," katanya.
Ia mengatakan, akibat dualisme kebijakan itu lulusan sarjana di negeri ini menjadi pragmatis, karena mereka cenderung hanya berpikir bagaimana mencari pekerjaan yang dapat "balik modal" sesuai dengan biaya kuliah yang telah dikeluarkan dengan harga tinggi.
Bahkan, dalam konteks lebih luas manusia Indonesia pun terkotak-kotak menjadi kasta, antara golongan si kaya dan si miskin. Perbedaan kasta itu dapat terjadi karena perbedaan pungutan dalam lembaga pendidikan. "Sangat disayangkan jika hal itu memungkinkan terjadinya ketimpangan dalam proses integrasi bangsa," katanya.
Sehubungan dengan hal itu, pemerintah perlu mendorong peran pemerintah daerah (pemda) untuk sektor pendidikan dan menyadarkan pengelola pendidikan untuk menghapus segala hal yang berbau pungutan.
Menurut dia, kecenderungan untuk melakukan pungutan merupakan penyakit yang sudah menjadi kebiasaan lembaga pendidikan di negeri ini. Penyakit ini harus diberantas karena pungutan hanya menghambat orang miskin untuk mengenyam pendidikan. "Untuk itu, ideologi yang harus diberlakukan di negeri ini adalah kebijakan yang berpihak kepada orang miskin. Kebijakan itu harus diterapkan dalam bidang apa saja, termasuk dalam bidang pendidikan," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

SMK Potensial Cetak Wirausahawan

thumbnail
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) potensial mencetak wirausahawan baru dengan sistem pendidikan yang mengutamakan praktik dan teori yang kuat.
Direktur Pembinaan SMK Depdiknas, Joko Sutrisno dalam seminar revitalisasi pendidikan kewirausahaan di Yogyakarta, Senin pekan lalu, mengatakan untuk bisa menjadi wirausahawan diperlukan materi pembelajaran keterampilan yang mudah diadaptasi oleh siswa serta pengembangan pengajaran teknik industri.
Ia mengatakan keterampilan yang mudah diadaptasi tersebut dapat dikuatkan melalui berbagai cara, di antaranya penguasaan matematika dan ilmu pengetahuan, menguasai bahasa internasional, dan memiliki kemampuan dasar dalam teknologi informasi.
"Untuk mendukung program pengembangan pendidikan wirausaha di SMK, pemerintah telah mengalokasikan dana sebesar Rp24 miliar pada 2009 untuk SMK di seluruh Indonesia sebanyak 7.746 sekolah sesuai dengan program keahlian di masing-masing wilayah," katanya.
Selain potensial mencetak wirausahawan, kata dia, lulusan SMK juga siap terjun ke dalam pasar kerja karena telah dibekali dengan keterampilan dari sekolah. "Dari data survei tenaga kerja nasional pada 2007, lulusan SMK yang diterima di dunia kerja mencapai lebih dari 40 persen, sedangkan lulusan SMA hanya 30 persen," ujarnya.
Dalam tiga tahun terakhir, jumlah siswa lulusan sekolah menengah pertama (SMP) yang berminat melanjutkan ke SMK semakin meningkat. Pada 2006, perbandingan jumlah siswa SMA dan SMK adalah 60 persen dibanding 40 persen atau 3.591.846 siswa SMA dan 2.401.732 siswa SMK. Perbandingan itu pun berubah pada 2007, yaitu 56 persen untuk SMA atau 3.686.219 siswa dengan 44 persen siswa SMK atau sebanyak 2.864.962 siswa. Ia mengatakan, pada 2008 jumlah siswa SMK kembali bertambah, yaitu 46 persen atau 3.290.396 siswa dibanding siswa SMA sebanyak 54 persen yaitu 3.863.744 siswa.
Menurut dia, beberapa kendala yang masih dihadapi oleh SMK di antaranya kekurangan tenaga guru yang hampir merata di seluruh SMK di Indonesia serta masih minimnya peralatan praktik atau umur peralatan yang sudah tua sehingga tidak lagi sesuai dengan perkembangan dunia industri. "Usaha yang telah dilakukan untuk memajukan SMK di antaranya bekerja sama dengan dunia industri, seperti keberhasilan siswa SMK merakit komputer dan laptop atau sepeda motor," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pendidikan Gratis Tidak Dijadikan Slogan

thumbnail
Ketua Umum Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa, Ki Tyasno Sudarto minta program pendidikan gratis tidak dijadikan slogan untuk kepentingan kampanye menarik simpati rakyat.
Di sela kegiatan Sarasehan Menelusuri Jejak Perjuangan Tokoh Pendidikan Ki Sarmidi Mangunsarkoro di Pendapa Tamansiswa Yogyakarta, Selasa pekan lalu, ia mengatakan mestinya pendidikan tidak hanya dijadikan slogan, tetapi harus direalisasikan untuk kepentingan pemerataan memperoleh pendidikan untuk rakyat Indonesia. "Program pendidikan gratis itu yang penting dapat dirasakan seluruh rakyat Indonesia dan Tamansiswa jelas akan mendukung program tersebut," katanya.
Namun jika kenyataannya pemerintah menggratiskan biaya pendidikan, tetapi komite sekolah mengharuskan siswa membayar uang gedung, berarti semua itu hanya slogan dan membodohi rakyat.
Menurut dia, terkait pendidikan gratis, sebenarnya Ki Hajar Dewantara sudah mengajarkan bahwa pendidikan akan bermafaat bagi bangsa jika penyebarannya merata.
Pendidikan yang tidak merata akan kurang bermanfaat bagi pengembangan bangsa karena akan membuat jurang perbedaan antara yang terpelajar dengan yang kurang terpelajar. "Karena itu konsep pendidikan Tamansiswa lebih dulu memilih membangun sarana pendidikan untuk kepentingan yang lebih luas. Artinya, pendidikan itu harus bisa dinikmati oleh sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia," katanya.
Menyinggung konsep pendidikan nasional, ia mengatakan pendidikan tidak boleh dipisahkan dari jati diri bangsa sendiri dan harus menjadi pedoman untuk melangkah ke masa depan.
Ia berharap sistem pendidikan nasional yang dipilih bangsa Indonesia dalam era globalisasi adalah pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai kepribadian bangsa Indonesia. "Dengan demikian bangsa Indonesia akan bisa bertahan dalam arus globalisasi. Sejumlah negara mampu bertahan dalam arus globalisasi karena memiliki jiwa nasionalis tinggi seperti yang ditunjukkan Amerika, Jepang, Cina, dan Korea," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Padukan Industri Kreatif Dengan Teknologi

thumbnail
Industri kreatif sangat potensial dikembangkan di berbagai daerah terkait beragamnya budaya dan seni nusantara, sehingga perguruan tinggi harus mampu mendorong berkembangnya ekonomi kreatif ini melalui riset dan inovasi.
"Kita kaya akan budaya, seni dan agama. Karena itu, industri kreatif menjadi hal yang sangat potensial dikembangkan.Meski demikian, industri ini jangan sekedar sebagai kerajinan semata dan harus dikembangkan dengan teknologi," kata Dirjen Pendidikan Tinggi Depdiknas, Fasli Jalal.
Dengan riset dan teknologi, lanjut dia, perkembangan industri kreatif akan menjadi jauh lebih baik dan akan memiliki daya saing cukup tinggi dibanding negara lainnya.
Karena itu, ujarnya, pada puncak Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2009 yang akan diselenggarakan di Sasana Budaya Ganesha Kampus ITB, Bandung pada Minggu 14 Mei 2009 akan ditonjolkan berbagai informasi bagaimana pendidikan tinggi mendorong industri kreatif. "Kami akan beri contoh yang telah dihasilkan berbagai perguruan tinggi kita dan memamerkan bagaimana tersedianya banyak potensi di berbagai daerah, baik potensi kelautan, kehutanan, termasuk potensi sabana di daerah Nusa Tenggara," katanya.
Dirjen Dikti, ujarnya, akan mendanai penelitian-penelitian di daerah untuk mengembangkan industri kreatif ini dan menjanjikan dana riset teknologi itu hingga Rp 250 juta per orang.
Sementara itu, Rektor ITB, Prof Dr Djoko Santoso, mengatakan, Peringatan Hardiknas yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pejabat tinggi lainnya itu akan menggelar pameran, berbagai lomba ilmiah, bakti sosial, pemberian penghargaan, olahraga, ziarah, serta peresmian hasil-hasil pembangunan di bidang pendidikan.
Djoko mengatakan, pada puncak peringatan Hardiknas itu akan ditonjolkan bagaimana hasil dari Wajib Belajar Sembilan Tahun, bagaimana pendidikan melalui teknologi bisa mendukung pertumbuhan industri kreatif dan bagaimana mendorong ekonomi kreatif melalui riset. "Contohnya di seni kriya, untuk menggambari logam memerlukan zat kimia tertentu. Zat kimia ini dibuat dengan teknologi tertentu," kata Djoko.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Radar Buatan Anak Negeri Diluncurkan

thumbnail
Radar produksi anak negeri diluncurkan di Bandung, bersamaan digelarnya sebuah seminar bertajuk Radar Nasional 2009, Kamis (30/4). Peluncuran dilakukan bersama Pusat Penelitian Eletronika dan Komunikasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PPET LIPI) bekerjasama dengan Sekolah Teknik Elektro dan Inforatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) dan International Research Centre for Telecommunication and Radar Belanda.
Dalam program mewujudkan bangsa dan ketahanan nasional dengan radar dalam negeri adalah agar potensi yang dimiliki oleh anak negeri bisa membanggakan Indonesia.
Dikarenakan Indonesia adalah negara dengan potensi becana alam maka PPET LIPI membuat radar dengan nama INDERA (Indonesian Radar), INDERA sendiri adalah Radar pertama kali yang diproduksi oleh Indonesia. Sampai saat ini INDERA masih dalam pengembangan agar bisa menyaingi radar-radar buatan luar negeri.
Radar buatan Indonesia ini mempunya keunikan dari beberapa radar yang sudah ada, dengan menggunakan teknologi Frequency Modulated Continuous Wave (FM-CW), sehingga konsumsi daya dan ukuran radar menjadi lebih kecil dari ukuran radar pada umumnya. Tetapi tanpa mengurangi keunggulan yang mengikuti perkembangan jaman.
Selain acara seminar yang diadakan oleh PPET LIPI ini, juga sebuah acara peluncuran produk radar buatan Indonesia.
Dalam peluncuran radar buatan Indonesia terdapat dua buah produk radar hasil litbang oleh anak bangsa yaitu Radar Pengawas Pantai dan Radar Navigasi Kapal.
Mengingat peranan radar yang sangat penting, maka perlu dilakukan suatu inventarisasi kebutuhan dan kemampuan Indonesia dalam penyediaan radar secara mandiri.
Dalam seminar dan peluncuran radar buatan Indonesia yang pertama kali ini, dihadiri oleh para pembuat keputusan. Turut hadir staf ahli MENRISTEK bidang HANKAM dan perwakilan TNI AU yang diwakili oleh Marsekal Pertama TNI Wasito. Selain itu turut hadir pula pembicara dari Belanda yaitu Prof Dr Ir Leo P Ligthart, seorang ahli Radar dari IRCTR-TU Delft.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

"The Dream Stick" Raih Medali Perak

thumbnail
"The dream stick" atau alat bantu jalan berupa tongkat yang ditujukan bagi penderita tunanetra meraih medali perak dalam lomba karya ilmiah yang diadakan 11-13 April 2009 di Ankara, Turki. "Tongkat tersebut diciptakan oleh dua siswa kelas dua SMA Semesta, Semarang yaitu Yossy Amiko Subagia dan R. Aqsa Aditya Gunadarma," kata Kepala Sekolah SMP-SMA Semesta, Moh. Haris.
"The dream stick" merupakan sebuah tongkat yang dibuat khusus bagi penderita tunanetra dalam menentukan arah jalan mereka, tongkat ini telah dilengkapi dengan komponen-komponen berupa sebuah sensor gelombang ultrasonik yang terdapat pada ujung tongkat dan akan memancarkan sinyal berupa getaran kepada penderita tunanetra jika didepannya ada sesuatu yang menghalangi.
"Dalam jarak setengah meter, penderita tunanetra yang menggunakan tongkat ini akan menyadari ada tidaknya sesuatu yang menghalangi tanpa menyentuhnya," ujarnya.
Dan yang lebih hebatnya lagi, lanjut dia, sebagian besar komponen tongkat ini terbuat dari barang bekas, kecuali pada bagian sensor ultrasonik.
Menurut Yossy dan Aqsa, ide pembuatan tongkat tersebut berawal dari keinginan mereka untuk membantu penderita tunanetra agar dapat berjalan sendiri tanpa bergantung pada orang lain.
Dengan adanya "The dream stick" ini diharapkan dapat membantu kehidupan penderita tunanetra dari berbagai segi, terutama dari segi sosial yang terkadang menjadikan sebuah kendala tersendiri dalam kehidupannya.
Sedangkan manfaat yang diperoleh dari penggunaan tongkat ini antara lain, memudahkan penderita tunanetra untuk berjalan, mengurangi tingkat kecelakaan yang terjadi pada penderita , dan mengasah kemampuan indera pendengaran dan indera perasa penderita tunanetra. "The dream stick" berhasil meraih medali perak dalam lomba "Dreamline Project Olimpiade", yang diikuti 707 sekolah dari 28 negara. Sedangkan juara pertama diraih perwakilan dari Rumania.
Moh. Haris mengaku bangga dengan keberhasilan kedua anak didiknya dalam lomba bertaraf internasional ini. "Sebagai pihak sekolah, kami akan selalu mendukung para siswa yang memiliki potensi pada bidang apapun. Kebetulan banyak siswa kami yang tertarik pada bidang teknologi dan beberapa kali memenangkan lomba tingkat dunia, sehingga mengangkat nama Indonesia di mata dunia dalam bidang pendidikan," ujarnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Sulam Jadi Produk Kreatif

thumbnail
Kaum perempuan diharapkan dapat memanfaatkan seni sulam sebagai produk ekonomi kreatif unggulan. "Pada tempo dulu ketrampilan menyulam hanya untuk diri sendiri, misal untuk menghiasi sapu tangan, seiring berjalannya waktu seni sulam makin berkembang sehingga dapat menjadi bagian dari ekonomi kreatif," kata Ibu Ani Yudhoyono saat membuka pameran Gebyar Adikriya Sulam Indonesia di Jakarta, pekan lalu.
Pada pameran bertema "Kriya Sulam Indonesia sebagai Produk Kreatif Masa Kini dan Masa Datang" di Museum Nasional itu, Ibu Ani mengatakan, seni sulam saat ini telah menjadi bagian dari industri yang lebih besar seperti industri kerajinan dan industri mode.
Oleh karena itu, kata dia, pada pameran tersebut diharapkan dapat terjadi pertukaran informasi mengenai seni sulam di antara para pengrajin dan peminat sehingga seni sulam Indonesia makin berkembang.
Ibu Ani yang siang itu mengenakan kebaya merah dengan hiasan sulaman di ujung lengan dan dada itu percaya seni sulam sebagai khasanah kebudayaan Indonesia akan tetap terjaga kelestariannya. "Apalagi selain menggelar pameran untuk mengenalkan produk sulam warisan budaya dan `masterpiece` karya pengrajin, Gebyar Adikriya Sulam Indonesia juga menyelenggarakan lomba kreatif sulam nusantara yang diikuti penyulam dari seluruh provinsi di indonesia," katanya.
Dengan pameran-pameran seperti ini, lanjut Ibu Ani, masyarakat akan lebih digugah minatnya terhadap sulam. "Sehingga pemasaran hasil sulam dapat dperluas lagi," ujarnya.
Ketua Umum Yayasan Sulam Indonesia Triena Wacik mengatakan, acara itu diharapkan dapat memperkenalkan bermacam-macam jenis sulam Indonesia. "Kami berharap acara ini menjadi ajang transaksi dan mendapatkan wawasan dan inspirasi untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, serta mutu sulaman indonesia sehingga menghasilkan produk yang disukai, dibeli, dan dipakai oleh semua lapisan masyarakat," katanya.
Bahkan, lanjut dia, di masa mendatang seni sulam diharapkan bisa menjadi komoditi ekspor yang kompetitif dan memiliki daya saing.
Kriya sulam sesungguhnya telah lama tumbuh dan berkembang di berbagai daerah di Indonesia namun keberadaannya belum sepopuler kain batik dan tenun songket yang sudah dikenal luas hingga ke mancanegara.
Padahal bangsa Indonesia dikenal kaya dengan seni sulam antara lain sulam kasab dari Aceh, sulam suji cair dan sulam kepalo samek dari Sumatra Barat, sulam manik-manik dari Sumatra Utara dan NTT, sulam terawang dari Gorontalo, serta sulam tapis dan usus dari Lampung. Termasuk sejumlah seni sulam yang sedang marak beberapa waktu terakhir yaitu sulam mesin atau bordir, sulam pita, sulam payet dan sulam rajut.
Dalam pameran tersebut juga ditampilkan sejumlah karya seni sulam dari sejumlah negara tetangga seperti Vietnam, Thailand, Cina dan beberapa negara Eropa.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Gerakan Kreatif Cegah PHK

thumbnail
Gerakan kreativitas sosial dan inovasi berpotensi menyelamatkan perekonomian Indonesia dari guncangan krisis finansial global. "Perekonomian Indonesia yang sedang terguncang oleh krisis global sangat mungkin terselamatkan oleh gerakan kreativitas sosial dan inovasi yang dihasilkannya," kata Faculty Member of UI sekaligus Coach & Fasilitator in Strategic Management & Innovation, Avanti Fontana, Ph.D.
Dalam Seminar Innovation Series Seminar bertajuk Mengatasi Krisis dengan Kreativitas & Inovasi di Kampus The Joseph Wibowo Center Bina Nusantara, ia mengatakan, menjadi suatu perusahaan yang inovatif memang bukanlah pekerjaan yang mudah.
Oleh karena itu, katanya, dibutuhkan energi dan semangat yang tinggi untuk mampu menjalankan aspek-aspek yang mendukung. "Sejumlah penyelidikan menyebut tiga aspek kunci yang layak digenggam dalam perlombaan sang jawara inovasi," katanya seperti dilansir ANTARA.
Aspek yang pertama adalah penciptaan iklim inovasi dalam suatu perusahaan. Avanti mengatakan, iklim tersebut hanya dapat berkembang melalui sistem pengelolaan manajemen yang demokratis, bergerak cair dalam lintas departemen, dan diusung melalui pola kepemimpinan yang terbuka terhadap beragam ide baru, betapa pun radikalnya ide baru itu.
Ia menambahkan untuk aspek kedua adalah adanya visi dan arah yang jelas mengenai strategi perusahaan menghadapi pasar masa depan. Tanpa strategi yang jelas, proses inovasi yang telah dimunculkan hanya akan berputar-putar di tempat tanpa mampu diterjemahkan menjadi produk unggul yang menguntungkan dan menang di pasaran.
"Aspek yang terakhir yang juga layak diperhatikan ketika perusahaan hendak berinovasi adalah kepekaan mengantisipasi kebutuhan masa depan pelanggan," katanya.
Avanti menekankan pentingnya proses inovasi bagi kelangsungan hidup sebuah organisasi baik organisasi bisnis maupun organisasi publik. "Dengan kata lain, tanpa inovasi sebuah perusahaan hampir pasti akan tersisih dalam arena persaingan bisnis yang kian ketat," katanya.
Fakta di lapangan saat ini banyak perusahaan yang mengambil jalan pintas dengan cara melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sebagai dampak dari krisisi finansial global. Padahal PHK bukanlah satu-satunya jalan keluar yang efektif sebab menyatukan kreativitas untuk melakukan inovasi merupakan alternatif terbaik menghadapi persaingain di tengah krisis saat ini. "Inovasi diperlukan terutama bagi perusahaan yang baru berdiri dan perusahaan yang tidak mau terjerat krisis," kata Avanti.
Inovasi memberikan sisi penawaran sekaligus sisi produksi yang saat ini tampak sedang tidak bergairah, demikian Avanti Fontana.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Ciptakan Pasar Investasi Strategis

thumbnail
Buktikan Jamu Berkualitas
Konsultan Frost and Sullivan menyarankan agar pengusaha menciptakan pasar investasi yang strategis dalam bidang riset, pengembangan produk, dan strategi pertumbuhan untuk meraih keuntungan maksimal di dalam pemulihan ekonomi.
"Jika pemulihan ekonomi terjadi seperti pada resesi pada tahun 2002, maka dipastikan ekonomi dunia akan membaik dengan cepat. Langkah penciptaan pasar investasi yang strategis tentu akan membuat perusahaan lebih siap bertanding," kata Country Director Frost and Sullivan Indonesia, Eugene van de Weerd.
Ia mengatakan tingkat pertumbuhan menjadi fokus utama para CEO perusahaan dalam menjalankan bisnis sekarang ini. "Respon alami dari 50 lebih perusahaan dengan memangkas anggaran mereka dan pengurangan pegawai seharusnya dihindari," ujar dia.
Ia menyarankan agar pengusaha di tanah air untuk memperluas jam kerja manajemen, menyamaratakan tanggung jawab untuk setiap tim kerja, dan lebih fokus pada pendukung layanan purna jual, membimbing dan memonitor jalur penjualan serta hanya memangkas biaya operasional untuk dapat mempertemukan permintaan minimal.
Menurut van de Weerd, krisis sebenarnya dapat menciptakan kesempatan bagus untuk perusahaan di Indonesia, terutama untuk strategi peningkatan ekonomi. Perusahaan harusnya fokus pada titik tolak peningkatan dan menjadi yang pertama bergerak, melompat, berkompetisi, dan menciptakan kondisi pasar yang kondusif yang sebenarnya sulit dicapai di keadaan ekonomi normal.
Sementara itu, Businees Development Manager Healtcare Practice Frost and Sullivan Indonesia, Steve Aditya, mengatakan, faktor perubahan regulasi, krisis finansial, dan berkembangnya teknologi informasi mempunyai peran penting dalam menciptakan perubahan yang dinamis di pasar farmasi sendri.
Ia menambahkan potensi pengembangan investasi bagi industri farmasi yang memproduksi herbal sangat besar saat ini. Hanya saja industri ini perlu bekerja keras dalam pembuktian kualitas produk di pasar global. "Riset lebih penting dari pada cerita sukses. Ini memang mahal, namun ini akan sangat mendukung perkembangan industri farmasi herbal untuk dapat meyakinkan pasar global," katanya.
Di lain pihak, bisnis di bidang herbal jauh lebih menjanjikan mengingat produk ini menggunakan lebih dari 60 persen bahan baku lokal, sedangkan untuk industri farmasi kimia, 90 persen bahan baku masih impor. "Dunia saat ini bergerak mencari alternatif pengobatan dan produk herbal atau jamu yang merupakan obat tradisional Indonesia juga akan mampu menembus pasar global apabila industri berani melakukan riset untuk membuktikan bahwa produk tersebut berkualitas," ujar Steve.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009