Bisnis Kosmetik Lesu

thumbnail
Bisnis kosmetik dan peralatannya di Jakarta lesu yang ditandai penurunan omzet hingga separuh dari kondisi normal. "Omzet penjualan mengalami penurunan berkisar 50 persen selama krisis keuangan melanda," kata Hendrik yang ditemui ANTARA, pedagang kosmetik dan peralatannya di Pasar Baru, yang selama ini dikenal sebagai pusat perdagangan produk kecantikan di Jakarta.
Hendrik mengatakan, para ibu rumah tangga dan remaja putri yang selama ini menjadi pelanggan tetap, mulai berkurang yang datang berbelanja karena mereka berhemat.
Dewi, pedagang khusus alat kecantikan di Harco Metro Pasar Baru, mengatakan, keadaan sepi pembeli merupakan terbesar pertama kali sejak krisis ekonomi moneter melanda Indonesia tahun 1998. "Kalau dibandingkan saat krisis moneter, lebih parah tahun ini, pembeli yang datang jauh berkurang," kata Dewi.
Para pedagang mengatakan, terpaksa melakukan potongan harga untuk menarik minat belanja, namun sampai sejauhnya ini belum efektif, karena pengunjung tetap saja sepi.
Akibat kondisi sepi, maka beberapa pedagang kosmetik terpaksa mengurangi karyawannya guna mencegah terjadi kerugian yang lebih besar. "Beberapa karyawan terpaksa kita berhentikan, sebab pemasukan yang diterima tidak sebanding dengan ongkos tenaga kerja, apalagi ada beban cukup besar lain yang musti ditanggung pengusaha," kata Hendrik.
Rita, ibu rumah tangga pembeli kosmetik di kawasan tersebut mengakui mengurangi pengeluaran untuk produk kecantikan karena khawatir dengan keuangan keluarga yang terus menipis saat ini. "Sebagai seorang pekerja swasta merasakan penghasilan menurun, makanya jalan keluarnya melakukan efisiensi, barang yang penting saja yang dibeli," kata warga Tanjung Priok Jakarta itu.
Kosmetik dan peralatannya yang dijual di Pasar Baru sebagian besar merupakan produk Indonesia, tetapi masih tetap banyak produk impor dari berbagai negara seperti Jerman, Perancis, karena pembelinya tetap ada.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Segera Hadir Game Nusantara On Line

thumbnail
Indonesia sekarang mulai menggarap aneka permainan (game) anak-anak secara `on line`, dalam rangka ikut bersaing menumbuhkan sumber ekonomi baru di bidang perfilman lokal. Sekarang sudah tersedia satu paket permainan (game) buatan anak bangsa dan akan dikembangkan melalui jaringan `on line`, kata Sigit dari "Nusantara On Line".
`Game on line` yang diberi judul" Nusantara on line" itu sudah digarap selama dua tahun, dan sekarang dalam proses siar. Penayangan perdananya akan dilakukan dalam waktu dekat ini. Dalam film animasi itu digambarkan tiga kerajaan besar yakni Kerajaan Majapahit, Pejajaran dan Kerajaan Sriwijaya. Pembuatan film itu berlokasi di Solo, Jawa Tengah.
Keberhasilan anak bangsa dalam memproduksi film animasi itu menunjukkan bahwa anak bangsa kini sudah mampu bersaiang dengan negara maju, terutama dalam hal perfilman anak-anak.
Karya mereka itu nantinya akan dikembangkan dan bahkan diekspor ke beberapa negara, karena dalam ujicoba belum lama ini animasi dari Indonesia itu cukup menarik pangsa pasar di luar negeri.
Bila produk film `game` lokal itu sudah merambah ke konsumen luar negeri, pihaknya optimistis Indonesia sepuluh tahun ke depan menjadi negara produsen film animasi yang diperhitungkan di kancah internasional. "Kalau kita tidak mengantisipasi dari sekarang, dikhawatirkan anak cucu bangsa Indonesia ke depan akan mencintai budaya asing dan asing dengan budaya lokal," katanya.
Sekretaris Menteri Kordinator Kesejahteraan Rakyat, Indroyono Soesilo mengatakan, film animasi produk lokal itu akan mulai ditayangkan pada pembukaan Pekan Produk Kreatif Indonesia 2009, akhir Juni ini yang direncanakan dibuka langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan akan menampilkan 14 subsektor industri ekonomi kreatif yang ada di tanah air.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Madu Perhutani Masih Dipasarkan Di Jawa

thumbnail
Jakarta Fair 2009
Produksi madu murni Pusat Perlebahan Nasional Bogor, Perum Perhutani saat ini baru bisa memenuhi kebutuhan konsumen di Pulau Jawa, kata Bagian Pemasaran Madu Perhutani, Endang Sopian di Jakarta.
"Produksi kami hanya baru bisa memenuhi konsumen di wilayah Jawa, namun ke depan terus berupaya meningkatkan produksinya hingga bisa memenuhi konsumen lebih luas," katanya saat ditemui ANTARA di arena "Jakarta Fair 2009".
Ia mengatakan, produksi madu yang telah dipasarkan dengan tiga rasa yaitu mangga, rambutan dan randu. "Untuk rasa dan jenis madu sebenarnya ditentukan oleh jenis bunga sebagai tanaman makan lebah. Jadi madu murni ini tidak ada campuran aroma dari bahan kimia," jelasnya.
Endang mengatakan, untuk satu botol ukuran 650 mililiter (ml) dijual seharga Rp 70.000, sedangkan botol ukuran 220 ml Rp 75.000.
Disinggung mengenai tenaga kerja dalam usaha tersebut, Endang mengatakan saat ini mempekerjakan sekitar 50 karyawan dengan hasil produksi rata-rata 5000 botol per bulan atau 60.000 setahun. "Kalau dibanding permintaan pasar produksinya hingga saat ini belum bisa memenuhi, hal itu tergantung juga cuaca saat lebah mencari pakan untuk menghasilkan madu," ujarnya.
Dikatakan, madu murni produk Perhutani telah memenuhi syarat mutu SNI 1994 melalui uji laboratorium, yaitu kadar air maksimum (max) 22 persen, gula preduksi minimal (min) 60 persen.
Untuk skrosa max 10 persen, keasaman max 40 ml, aktivitas enzim diatase min 3 DN. "Madu merupakan sebagai makanan kesehatan dapat meningkatkan stamina tubuh sebagai energi seketika, bersifat anti bakteri dan anti cendawan," kata Endang.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Madu Sialang Diminati Pengunjung

thumbnail
Jakarta Fair 2009
"Madu Hutan Asli Sialang" asal Riau, Sumatera menempati stan hall C1 `Jakarta Fair `di arena Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, banyak diminati pengunjung.
Sejak pembukaan `Jakarta Fair` pada Kamis (11/6) hingga sekarang pengunjung antusias ingin mencicip Madu Hutan Asli Sialang ini," kata pengusaha Madu Hutan Asli Sialang, Syafnil yang ditemui ANTARA.
Menurut dia, pada hari pertama Jakarta Fair madu yang diperdagangan mampu terjual sekitar 20 botol. "Harga madu berbotol isi 400 mililiter dijual Rp 50 ribu," katanya.
Menurut dia, pameran dan promo produk-produk unggulan kegiatan Jakarta Fair 2009, pihaknya menargetkan hasil penjualan lebih Rp 2,5 juta per hari. "Jumlah penjualan tersebut melebihi hasil tahun sebelumnya yakni 50 botol atau Rp 2,5 juta per hari," katanya.
Menurut dia, madu produksinya itu betul asli diambil dari pohon sialang yang didatangkan langsung dari hutan di Riau, Sumatera. "Madu diambil masih bersama rumah lebah dan proses penyaringan dan pengemesan di Jakarta," katanya.
Banyaknya peminat masyarakat terhadapt madu ini, karena miliki banyak manfaat bagi manusia di antaranya, meningkatkan kesehatan dan daya tahan tubuh secara umum.
Madu juga bisa memperlambat proses penuaan dan meningkatkan kualitas hidup, memperbaiki tatanan jaringan kulit sehingga dapat menunda terjadinya keriput.
Selain itu, madu juga bermanfaat sebagai membantu pertumbuhan kuku, memperbaikit sirkulasi darah, dan meningkatkan daya konsentrasi, daya ingat , dan reaksi rangsangan sarat. "Madu bermanfaat mempercepat proses regenerasi sel sehingga dapat membantu proses penyembuhan penyakit-penyakit yang akut seperti influenza, hepatitis dan tipus," katanya.
Madu adalah produk yang kaya antioksidan, hal itu seakan-akan menegaskan kepada produk perlebahan yang tercantum dalam kitab-kitab suci dan dianjurkan untuk mengkonsumsi secara rutin.
Kandungan yang terdapat pada madu sebagai sumber bahan gizi seperti vitamin B kompleks, sumber "acetil choline yang bertanggung jawab terhadap perkembangan otak, dan meneral, vitamin A,C,D, E, hormon, enzim, dan koenzim. "Madu yang terdaftar di Dinkes : P-IRT No109147101537 itu, diharapkan dapat memenuhi penjualan ditargetkan," katanya.
Salah satu pengunjung Jakarta Fair, Ny Lilik, mengatakan, madu baik sekali untuk pertumbuhan anak sehingga keluarganya sering mengkonsumsi.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Agribisnis Kakao Masih Seperti Masa VOC

thumbnail
Oleh: Rz. Subagiyo
Sebagai negara produsen kakao terbesar kedua di dunia, bisa jadi merupakan hal yang membanggakan bagi Indonesia. Sebelumnya Indonesia masih di urutan ketiga setelah Pantai Gading dan Ghana.
Produksi kakao nasional saat ini sekitar 570 ribu ton, sedangkan Pantai Gading sebanyak 1,3 juta ton, namun di pasar internasional Indonesia hanya sekedar menjadi pemasok bahan baku industri pengolahan coklat milik negara-negara maju.
Menurut data Departemen Pertanian kakao menjadi salah satu komoditas penghasil devisa terbesar ketiga setelah minyak sawit dan karet.
Dirjen perkebunan Achmad Mangga Barani mengatakan, dalam empat tahun ke depan, produksi kakao diprediksi akan meningkat pesat setelah pemerintah meluncurkan program peremajaan, rehabilitasi dan intensifikasi kebun kakao.
Namun karena ekspor komoditas kakao Indonesia masih dalam bentuk biji mentah, maka tidak banyak devisa yang didapatkan negara karena nilai tambahnya sangat rendah, sebaliknya nilai tambah lebih tinggi dinikmati negara-negara industri pengolah kakao.
Salah satu nilai tambah dari biji coklat yakni "cocoa butter" yang jumlahnya hampir 30 persen pada setiap biji kakao, padahal nilai cocoa butter lebih tinggi mencapai Rp60 ribu/kg dibandingkan biji kakao yang hanya Rp25 ribu/kg.
Mangga menjelaskan, kakao Indonesia sudah dikenal di pasar perdagangan dunia sejak masa penjajahan Belanda dengan perusahaan dagangnya VOC. Indonesia menjadi salah satu pemasok biji kakao sebagai bahan baku industri di negara-negara lain. "Apa kita ingin terus seperti ini? Nilai tambah malah dinikmati negara lain. Jika hanya menjadi pemasok bahan mentah terus kita tidak akan beranjak dari masa VOC," katanya.
Hal itu tak lepas dari kondisi industri berbahan baku kakao dalam negeri yang saat ini seperti dalam keadaan mati suri karena kekurangan bahan baku.
Saat ini dari 16 industri pengolahan kakao yang ada, hanya dua yang masih beroperasi normal, 12 lainya tengah menanti ajal dan dua lainnya malah sudah gulung tikar.
Kondisi yang dialami industri kakao dalam negeri sangat berbeda dengan Malaysia dan Singapura yang mana meski tidak memiliki kebun kakao, industri pengolahan kakao di negara tetangga itu jauh lebih maju.
Padahal selama ini pasokan bahan bakunya berasal dari kebun yang ada Indonesia dan diperkirakan 60 persen dari sekitar 350 ribu ton ekspor kakao Indonesia diserap negeri jiran.
Dengan total kapasitas industri mencapai 300 ribu ton di dalam negeri, ternyata yang berjalan hanya 50 persen sebaliknya Singapura yang tidak mempunyai kebun kakao justru kapasitas industrinya mencapai 100 ribu ton dan berjalan dengan baik.
Begitu juga dengan Malaysia, meski produksi kakaonya tidak lebih 30 ribu ton, tapi kapasitas industri kakaonya mencapai 300 ribu ton. "Ini karena sebagian besar biji kakao diekspor. Karena itu harus dilihat secara bagus dan simultan, bagaimana membuat kebijakan perkakaoan Indonesia," kata Mangga.
Dukungan rendah
Kondisi industri kakao dalam negeri yang tidak berjalan dengan optimal tersebut tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang kurang berpihak atau masih rendahnya dukungan pemerintah.
Salah satu kebijakan yang tidak mendukung pengembangan industri kakao dalam negeri menurut Ketua Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman, ekspor biji kakao tidak dikenakan bea keluar, sedangkan ekspor produk kakao olahan, seperti bubuk (powder) justru terkena pajak ekspor 30 persen.
Tentu saja hal itu menjadikan kakao yang diekspor lebih banyak dalam bentuk biji dibandingkan produk olahan, terlebih lagi ekspor produk olahan kakao Indonesia ke negara lain mengalami hambatan tarif seperti di China terkena bea masuk 20 persen.
Sementara itu ketika industri pengolahan membeli biji kakao dari petani, juga terkena pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen meski kemudian kebijakan tersebut dihapus pada tahun 2007.
Selain itu dukungan perbankan juga masih sangat kurang, dengan tingginya bunga bank sebesar 14 persen. "Ini sangat berbeda dengan Singapura dan Malaysia. Untuk mendorong industri berbahan baku kakao, dua negara itu memberikan berbagai insentif," kata Piter membandingkan.
Pemerintah Singapura menetapkan bea masuk biji kakao nol persen dan bunga pinjaman perbankan hanya 5 persen begitu juga dengan Pemerintah Malaysia dengan memberikan tax holiday selama 10 tahun, bea masuk biji kakao nol persen, bunga perbankan 5 persen dan dukungan infrastruktur. "Oleh karena itu tak mengherankan meski hanya sedikit memiliki kebun kakao, industri pengolahan kakao di negara itu berkembang cukup baik," katanya.
Kebijakan lain yang dilakukan negara jiran tersebut yakni untuk menghambat produk olahan kakao dari luar negeri mereka menetapkan bea masuk kakao olahan sebesar 25-30 persen.
Kebijakan Pemerintah Malaysia itu sebagai upaya mereka menjadikan industri pengolahan kakao terbesar di Asia. Piter menyatakan, tekad Pemerintah Malaysia itu sangat jauh berbeda dengan Indonesia.
Sebagai salah satu produsen kakao terbesar di dunia, Pemerintah Indonesia malah hanya bertekad menjadi produsen biji kakao terbesar di dunia. Dengan target produksi biji kakao pada 2020 sebanyak 2 juta ton, mengalahkan Pantai Gading yang produksinya hanya sekitar 1,38 juta ton. "Jadi siapa yang akan mendapatkan nilai tambahnya? Selama ini negara yang tidak mempunyai bahan baku selalu memanfaatkan kelemahan Indonesia," katanya.
Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Coklat Indonesia (APIKCI), Sonny Satari mengatakan, penyebab banyaknya industri pengolahan kakao yang tidak beroperasi karena pasokan bahan baku di dalam negeri kurang.
Selama ini produksi kakao petani dalam negeri banyak yang tidak difermentasi bahkan sebagian besar produksi biji kakao yang non fermetasi itu justru diekspor sementara industri kakao dan coklat memerlukan bahan baku biji kakao yang sudah difermentasi.
Karena itu untuk memenuhi kebutuhan biji kakao yang tiap tahunnya mencapai 80 ribu ton, industri kakao harus mendatangkan sebanyak 25 ribu hingga 30 ribu ton dari Ghana dan Pantai Gading, sedangkan sekitar 50 ribu ton dibeli dari dalam negeri.
Kondisi ini berbeda dengan Pantai Gading dan Ghana. Kedua negara yang selama ini menjadi produsen kakao dunia, menetapkan ketentuan bahwa ekspor produk kakao harus difermentasi terlebih dahulu. Karena itu biji kakao dari Pantai Gading dan Ghana di pasar AS mendapat harga primium, sedangkan biji kakao Indonesia kerap terkena pemotongan harga otomatis (automatic detention).
Saat ini harga rata-rata kakao terminal New York sekitar 2.500 dolar AS/ton, harga kakao Ghana mencapai 2.700 dolar AS/ton. Sedangkan kakao Indonesia hanya 2.300 dolar AS/ton.
Bea keluar
Untuk mencegah semakin banyaknya industri pengolahan kakao yang bertumbangan kalangan industri mendesak pemerintah menyusun kebijakan yang bisa mengurangi ekspor kakao dalam bentuk biji.
Menurut Piter Jasman salah satu alternatifnya yakni dengan menerapkan Bea Keluar sehingga mampu menahan membanjirnya biji kakao ke luar negeri kemudian dialihkan untuk memasok industri dalam negeri. "Kuncinya adalah penerapan bea keluar. Jika itu diterapkan, maka akan melindungi industri kakao dalam negeri," katanya.
Tumbuhnya industri kakao dalam negeri akan memberikan banyak keuntungan. Menurut dia, selain akan menyerap tenaga kerja cukup besar, Indonesia berpotensi menjadi negara pemasok utama produk olahan coklat dunia karena kondisi dalam negeri relatif lebih aman daripada dua negara pesaing kakao lainnya yakni Ghana dan Pantai Gading.
Permintaan dunia terhadap produk olahan kakao juga terus meningkat sekitar 2-4 persen per tahun atau sekitar 60 ribu hingga 120 ribu ton/tahun. Bahkan pasar makin terbuka, jika konsumsi coklat tiga negara berpenduduk besar yakni Indonesia, India dan China meningkat dari hanya 0,06 kg/kapita/tahun menjadi 1 kg/kapita/tahun.
Wakil Ketua Dewan Kakao Indonesia (Dekindo), Teguh Wahyudi dalam kunjungan ke PT Bumitangerang Mesindotama, salah satu produsen bubuk coklat menjelaskan, pihaknya dalam dua bulan ke depan berupaya memfinalisasi besarnya angka bea keluar ekspor biji kakao. "Kalau bea keluar ini tidak diterapkan, pabrik kakao dalam negeri kalah bersaing dengan Malaysia," katanya.
Sepertinya , sudah tidak ada pilihan lain bagi Dekindo dan pemerinta huntuk menghentikan arus keluar ekspor biji kakao selain menghilangkan daya saing ekspor dalam bentuk biji ini apalagi ekspor kakao dalam bentuk biji sudah dikuasai eksportir/trader asing yang sudah bercokol bertahun-tahun di Indonesia.
Selain itu diharapkan industri pengolahan dalam negeri semakin berkembang yang dampaknya mampu meningkatkan nilai tambah produk kakao Indonesia di pasar internasional sehingga tidak lagi seperti ketika agribisnis kakao masih dibawah pengelolaan VOC.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Produk Kerajinan Dongkrak Ekonomi Keluarga

thumbnail
Pembuatan dan penjualan aneka produk kerajinan bisa menjadi alternatif untuk menggairahkan kembali ekonomi di tingkat keluarga. "Kami telah membuat gantungan kunci dan barang oleh-oleh lain sejak tiga tahun lalu. Yang mengerjakan itu anak-anak dan istri di rumah dan rancangan mencontoh dari yang sudah ada. Hasilnya lumayan, bisa menutup biaya listrik dan gas," kata Ketut Sumerta, warga Desa Kapal, Kabupaten Tabanan, Bali.
Sumerta bersama dengan tiga anak dan istrinya secara bergantian membuat aneka gantungan kunci dari kayu-kayu bekas peti kemas. Kayu-kayu itu dipotong kecil-kecil memakai gergaji tripleks, dihaluskan, dicat, dan diberi gantungan dari rantai kecil.
Satu gantungan kunci, katanya, dijual ke pengumpul seharga Rp 750 dan mereka bisa membuat sekitar 30 gantungan kunci sehari. "Kalau dihitung-hitung, modal satu gantungan kunci ini cuma Rp 300, tapi kami menjual dalam partai. Kami tidak mau dikontrak karena khawatir tidak bisa memenuhi kontrak itu," katanya.
Di Bali, sebetulnya banyak keluarga yang menjalankan bisnis rumahan dengan cara seperti itu di sela waktu luang. Sumerta sebagai misal, ketiga anaknya telah menginjak sekolah menengah sehingga waktu luangnya bisa dialihkan mengerjakan gantungan kunci itu.
Selain ditampung oleh para pengumpul, produk kerajinan tangan itu juga dipajang di berbagai toko pusat oleh-oleh di Bali. Toko Erlangga, Krisna, dan beberapa yang lain menjadi tempat-tempat besar kegemaran para turis yang ingin mendapat oleh-oleh murah tanpa harus tarik urat leher untuk menawar barang.
Jika turis ingin menikmati seni tawar-menawar, maka Pasar Sukawati, di Kabupaten Gianyar, menjadi pilihan utama. Kelengkapan barang oleh-oleh bisa lebih beraneka ketimbang di pusat-pusat oleh-oleh itu.
Sebelumnya, calon anggota DPD Bali, Nyoman Masni, menyatakan, ekonomi keluarga banyak terbantu dengan aktivitas seperti itu. "Saya punya konstituen ibu-ibu yang bersatu dalam satu paguyuban ekonomi mikro seperti itu. Modal yang dperlukan tidak perlu banyak, yang penting produknya bisa cepat dipasarkan," katanya dilansir ANTARA.
Dia memberi contoh, setiap hari masyarakat di Bali memerlukan "banten", "caru", dan sesajen lain yang bisa disiapkan oleh warga. "Mereka membuat itu semua dari bahan-bahan yang ada di sekitar rumah dan menjualnya. Ini pasti laku dan bisa dikembangkan," katanya.
Tentang hal ini, Bank Indonesia di Denpasar mengeluarkan data, besaran, dan nilai ekspor produk non migas dari Bali ke manca negara selama Februari 2009 mengalami sedikit peningkatan. Komoditas tekstil dan produk kerajinan, perikanan, dan perabotan rumah tangga masih menjadi andalan.
Secara keseluruhan, volume ekspor itu mencapai nilai 41,783 ribu dolar AS, dibandingkan hanya 40,346 ribu dolar AS pada Desember 2008.
Data menyebutkan, nilai transaksi pada Februari 2009 ini sedikit lebih baik ketimbang pada Januari 2009 yang cuma bertengger di angka 41,346 ribu dolar AS.
Berdasarkan urutan komoditas penyumbang nilai transaksi itu, produk pakaian menyumbang 9,976 ribu dolar AS, pangan ikan laut dan turunannya sebanyak 7,288 ribu dolar AS, produk industri lain 7,176 ribu dolar AS, produk kayu dan kerajinan kayu sebanyak 5,400 ribu dolar AS, dan perabotan sebanyak 3,291 ribu dolar AS.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Masyarakat Terlanjur Benci Sistem MLM

thumbnail
Ekonom asal Bali, Prof. Dr. Wayan Ramantha menyatakan bahwa masyarakat dewasa ini terlanjur benci dan menilai minor terhadap pola perdagangan dengan sistem "multi level marketing" (MLM). "Penilaian minor seperti itu masuk akal sehubungan tidak sedikit praktik usaha MLM di masyarakat yang terbukti hanya dipakai ajang mencari keuntungan semata oleh pihak penyelenggara. Padahal, tidak semuanya demikian," kata Prof Ramantha, Rabu (23/5).
Di sela-sela seminar "Penggabungan Konsep Dunia Usaha Ritel Dengan Network Marketing", ia menyebutkan, tidak semua dunia usaha yang menerapkan MLM adalah penipu yang ingin mencari keuntungan sendiri. "Memang banyak yang terbukti menipu, tapi tidak semuanya. Sebagai bukti, badan usaha Tiansi yang memiliki jaringan di seratus lebih negara, mampu menjalankan model MLM dengan baik dan menguntungkan banyak orang," kata Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Udayana itu.
Menurut dia, dari hasil survei pihaknya diketahui bahwa Tiansi, sebuah perusahaan "networking marketing (NM)" dari Cina, telah cukup banyak mencetak para pengusaha baru yang tergabung di dalamnya. "Model ini sangat menguntungkan, karena seseorang yang benar-benar tekun, dalam waktu yang relatif singkat, kurang lebih dua tahun, sudah bisa menjadi seorang pengusaha dalam jaringan NW perusahaan asal Cina tersebut," katanya.
Berdeda dengan memulai usaha secara konvensional, lanjut dia, selain dibutuhkan modal yang cukup besar, juga pencapaian suksesnya relatif lama. "Tidak jarang orang baru sekses antara sepuluh sampai 20 tahun dalam merintis dunia usaha dengan model konvensional," katanya.
Senada dengan Ramantha, Ir Heru Kuncoro, praktisi "networking marketing" (NM) mengatakan, sebuah perusahaan seperti Tiansi, terbukti telah mampu menggabungkan industri ritel dengan NM. "Ini sebuah terobosan baru yang sangat cocok untuk dapat diterapkan untuk menjawab sistem ekonomi kerakyatan," katanya.
Menurut dia, orang yang tergabung dalam dunia usaha yang menggabungan antara ritel dan NM itu tidak dituntut suatu permodalam yang cukup besar. "Mereka cukup hanya mendaftar sebagai anggota, kemudian diberi pengarahan menyangkut dunia bisnis dan seluk-beluknya. Itu saja, sehingga sangat mudah untuk menjawab sistem ekomoni kerakyatan yang kini tengah digencarkan di tanah air," katanya.
Seminar yang diikuti lebih dari seribu orang yang mayoritas anggota jaringan bisnis Tiansi tersebut, menampilkan pembicara Ferdinand F Liu, konseptor BennerPoint Project, Drs Frengky Liyanto MSc MBA, konsultan manajemen dan IT, serta Yogi Tyandasu SSos, pengusaha dan CEO Fajar Group.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Perempuan Lebih Berpotensi Jadi Pengusaha

thumbnail
Kaum perempuan lebih berpotensi menjadi pengusaha sukses, karena mereka lebih memiliki beberapa karakter yang tak dimiliki oleh kaum lelaki. "Perempuan bisa lebih sukses sebagai pengusaha karena memiliki intuisi yang tajam," kata Pakar Marketing, Rhenald Kasali, di Surabaya, Sabtu pekan lalu.
Menurut dia, wanita lebih berpengalaman dengan ketidakpastian yakni terlihat saat mereka mengurus keluarga dan anak-anaknya. "Adanya kedekatan dengan ketidakpastian inilah yang menjadi kunci sukses dalam berbisnis," ujarnya.
Rhenald Kasali menjelaskan, dunia bisnis memang identik dengan ketidakpastian. Mereka yang ingin sukses di bidang ini harus bersahabat dengan ketidakpastian. "Semakin pasti suatu bisnis, semakin kecil resiko yang dihadapi namun keuntungannya semakin kecil," katanya.
Ia mencontohkan, di Australia bisnis properti segalanya pasti, artinya izin mendirikan usaha mudah, pasarnya jelas ada, lahan pun melimpah, dan pasti laku. Namun, keuntungan yang diperoleh relatif minim.
Sebaliknya, tambah dia, berbisnis properti di Indonesia, dengan lahan yang jarang, pasarnya belum jelas, izin pun berbelit-belit justru akan mendatangkan banyak keuntungan. "Alasannya, pelaku usaha akan aktif mencari strategi untuk mendapatkan keuntungan besar. Kalau pasar sudah tersedia, mereka justru akan malas berusaha," katanya.
Rhenald juga memberikan tips sukses dalam berbisnis. Dalam berbisnis, calon pengusaha harus menciptakan pasar, bukan hanya sekadar mengikuti pasar yang ada.
Terkait modal dalam menjalankan bisnis, kata dia, ada beberapa alternatif seperti mengajukan kredit ke bank atau mengajak pihak lain untuk menjadi mitra dalam bisnis. "Namun, jangan salah pilih mitra. Yang terpenting bukanlah dia keluarga atau bukan, teman atau bukan, melainkan apakah ada chemistry antara Anda dan calon partner Anda. Juga jang memilih partner semata-mata karena uangnya," katanya.
Hal terpenting, ungkap dia, hindari memilih kawan bisnis yang bisa diandalkan karena posisinya sejajar.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Berburu Rupiah Dari Usaha Tanaman Hias

thumbnail
Oleh: Oktaveri
"Saya tidak tamat sekolah dasar (SD). Tapi Alhamdulillah, dari usaha tanaman hias ini bisa menghidupi keluarga," tutur Karna (48), salah seorang penjual tanaman hias, di kawasan Cempaka Putih, Jakarta.
Pria asal Cirebon Jawa Barat itu mengaku mulai seriud menekuni usaha tanaman hias sejak tahun 1983. "Pada tahun 1980 saya hanya ikut-ikutan majikan yang orang Betawi. Namun tiga tahun kemudian, bisa membangun usaha tanaman hias sendiri," kata bapak satu anak itu.
Dia mengatakan modal awal merintis usaha tanaman hias sebesar Rp 1,5 juta, yang didapat dari tabungan sebagai pekerja di usaha tanaman hias. Kini di lahan seluas 6 X 12 meter di tepi Jalan Letjen Suprapto, Jakarta, Karna memiliki aset sekitar Rp10 juta.
Di lahan yang dipinjam dari Pemda DKI Jakarta tersebut, terdapat sekitar 200-an jenis tanaman hias, dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 800 ribu. Di sana ada bunga deliveries, athurium, pirlo, kaktus, dan berbagai jenis bunga lainnya.
Karna mengaku usaha tanaman hias sangat menjanjikan bagi mereka yang menekuni. Rata-rata satu bulan dia mengaku bisa berpenghasilan Rp 800 ribu hingga Rp 1 juta. "Saya sebetulnya agak menyesal karena tidak bisa mengumpulkan uang untuk membeli rumah karena pada masa lalu hidup boros," kata lelaki yang kulitnya mulai keriput itu.
Dulu katanya, usaha tanaman hias ini cukup gemilang. Ini membuat Karna lupa daratan. “Pepatah bilang hemat pangkal kaya," katanya, mengenang kekeliruan masa lalu.
Lelaki bertubuh tinggi itu bertekad akan terus mengembangkan usaha tanaman hias miliknya sampai tua. "Saya tidak berniat beralih ke usaha lain karena dari usaha ini sudah bisa memenuhi kebutuhan hidup," akunya.
Karna mengaku pelanggan tanaman hiasnya juga dari kalangan pejabat dan artis. "Pernah yang membeli di sini artis Uci Bing Slamet," katanya.
Beli rumah
Berbeda dengan Karna, penjual tanaman hias lainnya, Sadiyo (32), mengaku mampu membeli mobil dan rumah dari usaha tanaman hias. "Saya membangun sebuah rumah di Pondok Ungu Permai, Bekasi Utara," kata pria yang mengaku tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP) itu.
Sadiyo yang asal Solo, Jawa Tengah itu mengatakan telah berbisnis tanaman hias, dan pembuatan taman sejak 1998. "Pada mulanya saya bekerja dengan paman pada 1993-1998. Mulai 1998 saya berdiri sendiri," kata lelaki yang mengaku berasal dari keluarga tidak mampu itu.
Dia menuturkan rata-rata satu bulan omzet tanaman hiasnya bisa mencapai Rp 2,5 juta. Namun kalau ada proyek pembuatan taman hias, dia bisa mendapatkan Rp 10 juta per proyek. "Kadang-kadang dalam sebulan bisa dapat dua proyek pembuatan taman. Bahkan saya pernah dapat proyek taman di kantor Badan Pembekalan TNI yang nilainya Rp 70 juta," katanya.
Proyek taman yang pernah dikerjakan Sadiyo adalah Kawasan Periket Nusantara Jakarta, Universitas Indonesia (UI) Salemba, Gerakan Pramuka, Gambir, Markas Armada Barat, dan Lantamal. Dia mengaku rata-rata dalam sebulan mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 juta untuk menggaji pekerja, membeli pupuk, dan lain-lain.
Sadiyo mengatakan tanaman hias yang diminati pembeli adalah jenis kamboja jepang (adenium) yang dijual antara Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per batang. Tanaman lainnya adalah Anthurium jenis gelombang cinta ukuran besar seharga Rp5 juta per tanaman. "Pada umumnya pembeli datang dari Kelapa Gading, dan Bekasi," kata bapak satu anak ini.
Suami dari Dewi ini mengatakan saat ini banyak melayani permintaan konsumen dari kalangan perkantoran. Sementara konsumen pribadi sudah mulai berkurang. "Mungkin karena pengaruh krisis moneter yang menyebabkan masyarakat menahan membeli kebutuhan lain di luar kebutuhan pokok," katanya.
Dia mengatakan masyarakat perlu diberi pemahaman tentang pentingnya tanaman hias di lingkungan mereka. Menurut Sadiyo, tanaman hias berfungsi untuk penghijauan, menyebabkan lingkungan segar, dan membuat penghuni rumah jadi nyaman.
Dia mengatakan bisnis tanaman hias sangat menjanjikan bila ditekuni secara serius. “Namun kadang-kadang yang jadi masalah adalah keberanian memulai usaha, apalagi di saat pembeli sedang turun. Selain itu terkait dengan modal usaha,"katanya.
Sadiyo mengatakan saat ini membutuhkan tambahan modal untuk mengembangkan usaha. "Saya ingin menambah koleksi tanaman dari jenis bonsai antik. Selain itu, saya juga ingin membeli satu unit mobil `pick up` untuk keperluan pengangkutan tanaman hias kepada konsumen," ujarnya.
Dia mengaku bersyukur selama ini sudah mendapatkan pinjaman laham dari Pemda DKI Jakarta. "Lahan ini gratis, dan Pemda DKi juga menegaskan tidak boleh ada pungutan. Pemda menganggap keberadaan tanaman hias di sini membuat lingkungan menjadi lebih indah," katanya.
Namun demikian, Sadiyo tetap berharap mendapat pinjaman modal dari Pemda. Sementara penjual tanaman hias lainnya, Titik (38), mengatakan berpenghasilan rata-rata satu bulan Rp 3 juta. "Setahun lalu pendapatan saya antara Rp 5 juta hingga Rp 8 juta. Sekarang memang agak menurun," katanya.
Titik mengatakan dari usaha tanaman hias, dia bisa membangun rumah sendiri di kampungnya, Sukabumi, Jawa Barat. "Alhamdulilah rumah saya di atas tanah seluas 100 m2 sudah rampung," katanya, bersyukur.
Dia juga mengaku gembira, suaminya Udin (40), kini bekerja menangani taman Grand Cempaka. "Suami saya kerja dikontrak selama delapan bulan," katanya.
Titik kini mengelola usaha tanaman hias bersama adik laki-lakinya. "Usaha ini dirintis suami saya sejak 1982," katanya.
Titik mengatakan modal awal usaha ini sebesar Rp 10 juta. Kini asetnya berkembang menjadi lebih kurang Rp 20 juta. Dari usaha ini, katanya, dapur keluarganya berasap, dan tiga anak-anaknya bisa sekolah.
Titik menjual sekitar 250 jenis tanaman hias dengan harga bervariasi mulai dari lilik paris seharga Rp 1.000 hingga bonsai yang berharga Rp 1,5 juta. Hanya saja, sama seperti Sadiyo, Lilik juga membutuhkan tambahan modal. "Saya sangat memerlukan pinjaman modal untuk membeli bibit, dan mengembangkan usaha," katanya.
Banyak pelaku usaha kecil seperti Sadiyo dan Lilik. Mereka membutuhkan modal. Selama ini mereka tidak bisa meminjam ke bank karena tidak bisa melengkapi persyaratan yang dibutuhkan bank seperti sertifikat, Izin Mendirikan Bangunan, atau Surat Izin Tempat Usaha, dan lain sebagainya. "Saya tidak punya persyaratan yang diminta bank. Kalau sudah begitu bagaimana bisa mendapat pinjaman," aku Lilik.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

"Berdakwah" Melalui Kaos Styles Dan Unik

thumbnail
Banyak cara dilakukan untuk menyampaikan seruan kebaikan atau berdakwah, salah satunya melalui bisnis distro Kaos Dakwah Ihaqi yang styles dan unik. Pemilik Distro Kaos Dakwah "Ihaqi", Eric Yusuf, kepada ANTARA mengatakan, ide awal membuat kaos dakwah ini bermula dari konsep `integrated human qoutient`, yang mengajak kaum muslim untuk lebih cerdas dalam bertindak.
"Secara pribadi, saya sangat prihatin melihat desain kaos anak muda sekarang, tulisan atau desain kaosnya tak ayal suka provokatif dan tidak edukatif," kata Eric, yang ditemui di Distro Kaos Dakwah Ihaqi, Jalan Trunojoyo, Kota Bandung.
"Adab, Pelihara Budi Pekerti", "Jagalah Hati", "J`lek & Bathil, Dosa No Brandy Quality, Satan`s Whisper IL, Dosa 100 Persen Haram, Tidak Untuk Diminum Kaum Muslim, kapan dan di mana pun", begitulah tulisan sejumlah jargon yang tertera pada Kaos Dakwah Ihaqi.
Selain ada tulisan atau jargon yang unik nan Islami, desain atau model Kaos Dakwah Iqahi juga tidak kalah modis dengan produk kaos distro yang ada di Kota Bandung.
Meski jargon atau kalimat yang tertera di Kaos Dakwah Ihaqi terkesan jenaka, namun jika diresapi secara mendalam akan menginspirasi pemakainya dalam berpikir dan merenungi hidup, kata Eric.
Ia menyatakan, penyampaian pesan dakwah kepada umat muslim, dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya lewat Kaos Dakwah Ihaqi produksinya.
Dikatakannya, agar pesan dakwah tersebut dapat lebih diterima atau mengena kepada umatnya, khususnya anak muda, maka pesan dakwah tersebut ia tuangkan dalam media yang lebih kreatif yakni bisnis distro Kaos Dakwah Ihaqi.
Tujuannya membuka usaha Kaos Dakwah Ihaqi sangat sederhana, yakni kaos buatannya mencoba mengajak kaum muslim, khususnya anak muda untuk mengawal hidupnya sesuai petunjuk Alquran dan hadist melalui desain kalimat atau gambar yang tertera di kaos produksinya.
Untuk urusan harga, Kaos Dakwah Ihaqi dijual dengan harga yang cukup terjangkau, yakni antara Rp80 ribu untuk kaos lengan pendek dan Rp90 ribu untuk kaos lengan panjang.
Selain menyediakan kaos, Distro Kaos Dakwah Ihaqi juga menjual tas khusus wanita, pin, topi serta mug lucu dengan yang didesain nyentik namun islami.
Meski baru berdiri sekitar 1,5 tahun lalu, namun peminat Kaos Dakwah Ihaqi buatan Eric, bukan hanya dari Kota Bandung melainkan dari luar Bandung seperti Jakarta, Bogor dan sekitarnya. "Biasanya kalau `long week end`, banyak orang luar Bandung yang datang ke toko kami," katanya.
Saat ini, dirinya sedang mencoba memasarkan produknya ke seluruh lapisan masyarakat, dengan cara memasarkan melalui dunia internet seperti blogs atau situs jejaring yang sedang membumi saat ini yakni facebook. "Sekali lagi saya yakin bahwa, dakwah itu bisa dilakukan dengan berbagai cara dan media, salah satunya dengan Kaos Dakwah Ihaqi yang juga dipasarkan lewat dunia maya," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Bibit Tanaman Obat Jadi Trend Bisnis

thumbnail
Aneka bibit tanaman obat dan tanaman buah khususnya yang ditanam pada pot, kini menjadi trend bagi penggemar tanaman hias, sehingga banyak `diburu` terutama setelah bisnis tanaman hias mulai lesu. ‘’Permintaan berbagai jenis bibit tanaman obat dan tanaman buah cenderung meningkat. Bahkan tidak saja dari kalangan penggemar tanaman hias di Yogyakarta, juga dari luar daerah ini,’’ kata M Nasir, petani dan pedagang tanaman hias asal Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Kamis (7/5).
Menghadapi trend tersebut, umumnya pedagang tanaman hias menambah stoknya dengan bibit tanaman obat dan tanaman buah yang diperkirakan menjadi unggulan. ‘’Bibit tanaman buah dan tanaman obat itu kami datangkan langsung dari berbagai daerah asalnya,’’ katanya.
Selain diserbu pedagang tanaman hias dari luar daerah, pembeli tanaman hias juga datang dari berbagai kota di luar DIY. Nasir mengatakan, menghadapi trend tersebut umumnya para pedagang tanaman hias menambah stoknya dengan bibit tanaman buah dan tanaman obat yang dianggap menjadi unggulan yang didatangkan langsung dari berbagai daerah asalnya.
Bibit tanaman buah unggulan terutama yang berkhasiat obat sehingga banyak diburu para penggemar tanaman hias. Pertimbangan mereka, bibit tanaman buah mengandung obat, disamping memiliki nilai lebih sebagai tanaman hias. ‘’Jenis tanaman itu memang harus didatangkan dari pelosok desa di berbagai daerah di luar Yogyakarta, sebab di wilayah kota sudah jarang ditemui tanaman buah berkhasiat obat,’’ katanya.
Soal prospek bisnis tanaman hias di Provinsi DIY, ia mengatakan saat ini makin merebak karena banyak `pemain` baru, baik dari dalam maupun luar daerah yang terjun ke bisnis itu. Setiap hari selalu ada penyelenggaraan pameran dan bursa tanaman hias, bahkan tidak hanya di satu tempat, namun di beberapa tempat secara bersamaan.
Bahkan, tempat itu menjadi pasar tanaman hias yang permanen. Nasir yang memiliki kios tanaman hias yang cukup banyak di Yogyakarta ini mengatakan, dampak makin merebaknya bisnis tanaman hias menyebabkan perdagangan cenderung lesu karena pasar menjadi sepi pembeli. Kondisinya memang pasang surut, dan sulit diprediksi, tergantung situasi. Yang pasti, pelaku bisnis tanaman hias di Yogyakarta kini banyak mengeluh akibat sepi pembeli.
Pedagang tanaman hias asal Kabupaten Bantul mengatakan hingga kini, Bantul masih jadi pasar potensial untuk bisnis tanaman hias dan menjadi tujuan utama para pedagang tanaman dari berbagai daerah untuk memasarkan dagangan. Sebagai pasar potensial, Yogyakarta belum tertandingi dibanding provinsi lain di Indonesia. Sebab, hampir setiap hari ada pameran dan bursa tanaman hias dan tidak hanya di satu tempat tetapi di banyak tempat.
Selain diserbu pedagang tanaman hias dari luar daerah, pembeli tanaman hias juga datang dari berbagai kota di luar DIY. Produk tanaman hias yang dipasarkan selain dari hasil budidaya petani daerah ini, juga dari petani di berbagai daerah lain seperti Wonosobo, Kopeng dan Tawangmangu (Jawa Tengah) maupun Tulungangung dan Blitar (Jawa Timur). Saat ini pasar tanaman hias di Yogyakarta tampak lesu, dan bibit tanaman buah berkhasiat obat justru cenderung menjadi alternatif untuk mendongkrak bisnis tanaman hias.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pasar Kosmetik Siap Tumbuh 30 Persen

thumbnail
Pasar kosmetik pada semester kedua tahun ini akan mengalami pertumbuhan 30 persen, indikasi ini tampak dari besarnya permintaan pasar lokal dan luar negeri terhadap produk kosmetik asal Sidoarjo, Jawa Timur, PT Sekawan. "Meski sampai kuartal I 2009 pertumbuhan di pasar cenderung stabil, kami optimistis hingga akhir tahun akan terlihat peningkatan sekitar 20-30 persen,’’ kata Manajer Marketing PT Sekawan, Fitri Irawan, di Surabaya, Senin (11/5).
Ia meyakini, target tersebut dapat tercapai karena permintaan pasar hingga akhir tahun diperkirakan meningkat. Salah satu alasan, karena pihaknya akan meluncurkan beragam varian baru yang akan dilepas ke pasar ritel dalam waktu dekat. ‘’Faktor lain yang mempengaruhi, misalnya kondisi keamanan yang kondusif dan membaiknya perekonomian menjelang pemilihan presiden,’’ katanya.
Ia optimis, tahun 2009 dapat bertahan di tengah krisis ekonomi global, karena pasar ekspornya selama ini adalah pasar yang potensial dan tidak terimbas situasi tersebut. Dalam kondisi perekonomian yang belum membaik, pihaknya yakin perusahaan yang memproduksi barang-barang konsumen tetap menjaga eksistensi. Sebab, produk barang-barang konsumen selalu dibutuhkan. Selain itu karena dukungan pangsa pasar ekspor kami yang justru menjangkau kawasan Timur Tengah, beberapa negara di Benua Asia, dan beberapa negara di Benua Afrika.
Berkat penguasaan pasar itu, konstribusi omzet dari ekspor ke total pendapatan perusahaan menyumbang sebesar 40 persen. Apalagi, selama ini kondisi perekonomian pasar Timur Tengah, Asia, dan Benua Afrika hampir tidak tergoyahkan oleh krisis ekonomi global. Namun, bagi produsen kosmetik lain yang membidik Amerika Serikat tentu akan berpengaruh. Sementara sisa 60% dari total omzet perusahaan ini menyebar ke pasar local, dan sekitar 50% dikontribusi dari Pulau Jawa dan 50% di luar Pulau Jawa.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pengrajin Makanan Khas Bekasi Berkurang

thumbnail
Jumlah pengrajin makanan khas Kota Bekasi seperti bir pletok, keripik emping, keripik jengkol dan minuman jahe, makin berkurang akibat kesulitan mendapatkan bahan baku.
Kepala bidang agribisnis, Dinas Perekonomian Rakyat Kota Bekasi, Dede Rahmat, di Bekasi, mengatakan kepada ANTARA, pasokan dari petani emping, jengkol dan jahe sudah sangat minim, hingga pengrajin mendapatkan bahan baku dari pasar.
Jumlah pengrajin juga terus menyusut dari sebelumnya lebih seratusan orang kini hanya tinggal sepertiganya.
Pasar untuk makanan khas tersebut cukup besar, bahkan permintaan dari pedagang, rumah makan hingga mal masih rutin, namun pengrajin kesulitan memenuhinya.
Dede mengatakan, pengrajin yang masih bertahan menghadapi kesulitan untuk mengembangkan usaha akibat minimnya modal kerja, namun dengan adanya program pemerintah dalam bentuk pinjaman lunak dari BUMN, kredit usaha rakyat dan sebagainya sebagian pengrajin bisa meningkatkan volume usahanya.
Dalam meningkatkan kualitas produk pengrajin, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi telah memberikan bantuan berupa kemasan serta mendorong pengrajin mencantumkan merek, tanggal kadaluarsa serta jaminan kualitas produk dari Depkes serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Seorang pengrajin emping di kawasan Pekayon Kota Bekasi, Badri, mengatakan, harus berebut dengan pedagang lain dalam mendapatkan bahan baku emping di pasar seperti Jati Asih dan Pondok Gede.
Ia mengatakan, tidak lagi mendapat pasokan bahan baku dari petani, karena hasil produksinya makin sedikit sementara ketika bahan baku emping siap panen sudah ada pedagang penampung yang datang.
Setiap hari, ia bisa menghabiskan bahan baku emping sebanyak 50 kg dan produknya dipasarkan ke pelanggan rumah makan, warung hingga toko-toko di seputar Bekasi Barat dan Bekasi Selatan. "Penjualan emping cukup lancar. Sering kali kita ditelpon pemilik rumah makan dan toko minta diantarkan barang namun akibat sulitnya bahan baku, tidak semua pesanan bisa dipenuhi," ujarnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Seniman Golek Betawi Jual Wayang “Bule”

thumbnail
Seniman wayang golek Betawi, Tizar Purbaya mempromosikan seni ciptaannya dengan membuat dan menjual wayang berkarakter orang "bule" di Pasar Barang Antik, jalan Surabaya, Jakarta. "Banyak turis asing yang minta dibuatkan wayang golek yang mirip dengan aslinya," kata Tizar di Jakarta.
Ia memasang tarif Rp 2 juta untuk setiap karakter wajah dan akan diselesaikan dalam waktu kurang lebih 10 hari. "Saya pernah membuat wayang berwajah George HW. Bush, mantan presiden Amerika Serikat ke-41," kata Tizar, yang mempelajari keterampilan itu di Jepang.
Wayang golek itu, kata dia, kemudian diberikan kepada Bush usai pementasan wayang saat berkunjung ke Indonesia. "Saya menggunakan kayu pule sebagai bahan pembuatan wayang golek," kata Tizar.
Kelebihan kayu tersebut, kata dia, tidak banyak serat dan mudah untuk diukir. Namun ia juga menggunakan kayu lame untuk membuat wayang untuk pementasan. "Jika gagal atau wajah tidak mirip, saya mengulang pembuatan dari awal," kata pria yang menurunkan keahlian itu kepada anaknya, Riki. "Untuk pemesanan mereka tinggal memberi foto wajah yang tampak depan dan samping," katanya kepada ANTARA.
Tizar mengakui awal mula pembuatan wayang golek "bule" itu dilakukannya secara tidak sengaja. Pertengahan tahun 1998, kata dia menerima pesanan wayang golek yang mirip wajah sepasang turis asal Eropa. Kemudian karena Jakarta dilanda kerusuhan, kedua turis itu kembali ke negara asalnya dan tidak mengambil wayang sudah dipesan dari Tizar. "Sepasang wayang golek berwajah "bule" itu sekarang menjadi media promosi bagi turis asing yang datang ke kios saya," kata Tizar sambil menunjuk wayang golek yang ada di dalam lemari kaca.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Stok Buah Pasar Induk Jakarta 100 Ton

thumbnail
Stok buah segar yang didistribusikan petani dari beberapa daerah di Indonesia ke Pasar Induk Buah Kramat Jati Jakarta mencapai 1000 ton setiap hari. Jumlah tersebut didominasi 16 jenis buah, antara lain jeruk yang mencapai 400 ton setiap hari.
Kepada Antara, Asisten Operasi PD Pasar Jaya Kramat Jati, Suminto, di Jakarta, Kamis (15/5) menyatakan, buah terbanyak dipasok ke pasar induk buah adalah melon, tercatat berkisar 150-200 ton diterima pedagang setiap hari. ‘’Kedua jenis buah tersebut paling banyak dipasok karena kebetulan sedang panen di beberapa sentra produksi," kata Kepala Pedagang Buah Kramat Jati, Margono.
Pasar induk buah ini, lanjut Margono sebenarnya lebih dikenal sebagai pusat buah mangga dan duku, namun karena dua jenis itu tidak sedang panen, jumlah relatif terbatas. Ke-16 jenis buah yang saat ini banyak dipasok petani yakni pisang, nenas, jeruk, pepaya, alpukat, apel, semangka, salak, kedondong, durian, dukuh, mangga, anggur lokal, markisah, melon dan manggis.
Agus, pedagang buah di pasar itu, mengatakan, dalam kondisi panen raya pasokan buah melon segar bisa mencapai 50 truk atau 300 ton setiap hari. Buah yang dijual kepada konsumen ada yang didatangkan langsung dari petani namun sebagian melalui pedagang perantara. Data PD Pasar Jaya Kramat Jati, pasokan buah selama sepekan ini, di antaranya, jeruk 1.768 ton, melon 1.093 ton, semangka 608 ton, pepaya 336 ton, nenas 268 ton, pisang 254 ton, alpukat 201 ton, salak 178 ton, apel 156 ton, kedondong 113 ton, mangga 87 ton, markisah 78 ton dan anggur lokal 13 ton.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Bisnis Kuliner Makin Moncer

thumbnail
Bisnis kuliner di tengah krisis ekonomi saat ini kian moncer. Sebagai salah satu usaha kecil dan menengah (UKM), bisnis kuliner masih menjanjikan untuk dikembangkan. "Asalkan dikerjakan dengan tekun dan sabar usaha ini cukup menjanjikan meskipun dalam kondisi krisis," kata Astuti Manikoro, salah satu peserta Festival Makanan Warisan Enak, di UKM Gallery, Smesco Indonesia, Jakarta.
Kegiatan tersebut akan berlangsung hingga 16 Mei dan diikuti 30 peserta dari berbagai pelaku kuliner. Ragam makanan khas nusantara dipamerkan dalam kegiatan itu.
Astuti dalam festival tersebut memamerkan makanan khas tradisional asal Jogyakarta `jadah manten`. Jadah manten adalah makanan khas dengan bahan baku daging, ketan, santan kental, lalu dibakar. "Usaha ini sudah turun temurun dari nenek kami. Sekarang saya bersama saudara mengembangkannya di Jakarta," kata Astuti yang mengaku mempekerjakan 10 karyawan.
Menurut dia, usaha `home industry` ini cukup menggembirakan karena selalu mendapat pesanan dari kantor maupun usaha `catering`. "Dalam satu minggu pasti ada pesanan," kata Astuti yang membuka usahanya di Jalan Wijayakusuma Raya, Cilandak, Jakarta Selatan.
Meskipun usaha ini menjanjikan, sambungnya, ia kerap terkendala oleh naiknya bahan baku di pasaran. Dia mencontohkan, daging cincang yang sebelumnya berharga hanya Rp 60 ribu per kilogram, sekarang naik menjadi Rp 67 ribu per kilogram. Demikian pula dengan harga beras ketan dari Rp 8.000 naik menjadi Rp 9.000 per kilogram. "Kenaikan harga-harga bahan baku kue sudah berlangsung dua bulan terakhir," katanya.
Akibat naiknya harga bahan baku, menurut Astuti, ia juga ikut menaikkan harga produksinya dengan tetap menjaga kualitas produksi, baik cita rasa maupun ukurannya.
"Jadah manten ini dulunya kami jual Rp 4.500 satu buah, sekarang kami naikkan harganya menjadi Rp 5.000," kata Astuti merinci.
Selain jadah manten, dia juga memproduksi kue tradisional seperti mentho, HK pisang, HK jagung dan mendut. Semua makanan khas Jogyakarta etrsebut dibandrol dengan harga Rp 2.000 per buah.
Tira, pelaku usaha kuliner lainnya yang juga ikut dalam Festival Makanan Warisan Enak, di UKM Gallery, Smesco Indonesia tersebut, mengaku bisnis makanan yang ia geluti berupa `bebek ireng Suroboyo` cukup diminati warga Jakarta. "Permintaan layanan antar belakangan ini naik. Hampir setiap hari ada pengiriman," katanya.
Tira membuka usahanya di Jalan Kapten Tendean dengan beberapa menu antara lain paket bebek super yang dihargai Rp 25 ribu per porsi. Ia juga menyediakan paket bebek Peking dengan harga per porsi Rp 30 ribu.
Kendati permintaan relatif meningkat, Tira juga diperhadapkan dengan naiknya harga bahan baku. Harga bebek misalnya, yang semula hanya Rp 32 ribu per ekor, sekarang naik menjadi Rp35 ribu per ekor. "Kami juga ikut menyesuaikan harga, sebab kalau bahan baku sudah naik, pasti sangat sulit untuk turun," katanya menambahkan.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Patung Kepala Monyet Tembus Pasar Turki

thumbnail
Kerajinan patung kepala monyet yang terbuat dari kelapa kering hasil karya Jumari warga dusun Jethak, Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berhasil menembus pasar di Turki. "Hingga saat ini kami sudah tiga kali mengirimkan kerajinan patung kepala monyet ke ke Turki," kata Jumari saat ditemui ANTARA di arena Pameran Potensi Daerah Kabupaten Sleman.
Menurut dia, rata-rata dalam sekali pengiriman mencapai 750 hingga 1.500 buah patung kepala monyet dari bahan kelapa kering. "Untuk pasaran lokal kami bisa memasarkan di seputar Malioboro Yogyakarta dan beberapa objek wisata lainnya," katanya.
Kelapa kering yang selama ini hanya dibuang, ditangan Jumari, warga Jethak I, Kecamatan Godeandapat diubah menjadi menjadi barang kerajinan yang menarik dan memiliki nilai ekonomi."Saya sudah memulai usahanya sejak 25 tahun yang lalu. Ide pembuatan patung kepala monyet diperoleh saat berziarah ke Gunung Kawi, Jawa Timur," katanya.
Ia mengatakan, di wilayah tersebut banyak perajin yang membuat patung wajah manusia dari buah kelapa yang sudah kering. "Namun karena proses pembuatan patung kepala manusia dari kelapa tersebut cukup rumit, maka saya memutuskan membuat patung kepala monyet," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, proses pembuatan kerajinan patung kepala monyet dari buah kelapa kering ini cukup mudah dan tidak memerlukan waktu yang lama. "Alat yang dipergunakan pun cukup sederhana, yakni hanya mempergunakan pisau cutter," katanya.
Buah kelapa yang sudah kering, dilubagi untuk mengeluarkan airnya, setelah itu sabut yang masih menempel pada buah kelapa kering tersebut siap diukir menjadi berbagai patung kepala monyet. "Bahan baku kelapa kering ini diperoleh dari wilayah Godean dan sekitarnya serta dari wilayah kabupaten Kulonprogo," katanya.
Menurut dia, buah kelapa dibeli seharga Rpv500 per buah. Apabila sudah menjadi produk kerajinan, sebuah patung kepala monyet dihargai antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000 tergantung besar kecilnya. "Kendala kerajinan ini pada masalah pengeringan terutama pada musim hujan, karena untuk mendapatkan hasil sempurna pengeringan memakan waktu satu bulan," katanya.
Ia menambahkan, dalam seharinya rata-rata mampu memproduksi 10 buah patung kepala monyet dari kelapa kering. "Apabila sedang mendapatkan pesanan dalam jumlah yang banyak saya dibantu seluruh anggota keluarga," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Membangun Merek Indonesia

thumbnail
Oleh: Eko Listiyorini
Sungguh ironis, saat peluncuran kampanye "100% Cinta Indonesia" di Balai Sidang Senayan Jakarta, di sisi lain ratusan orang antri mengular untuk membeli sepatu "Crocs" merek Amerika Serikat, buatan Cina yang sedang dijual sepertiga harga normalnya.
Mungkin benar yang dikatakan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu beberapa waktu lalu, masyarakat kelas menengah atas perlu dicuci otak agar mulai cinta produk dalam negeri. "Hasil pembicaraan dengan pelaku ritel menyimpulkan memang konsumen kita masih `import minded`," ujar Mari.
Itulah agaknya yang menyebabkan produsen garmen lokal mengambil nama-nama berbahasa asing untuk menarik minat konsumen lokal. The Executive, Hammer, Nail merupakan beberapa merek lokal yang cukup dikenal di Indonesia.
Merek-merek berbahasa asing itu mungkin juga diambil agar mempermudah penetrasinya ke pasar Internasional. Tapi, sebelum bisa merajai dunia, pasar domestik haruslah dikuasai.
Dan di saat pasar ekspor menurunkan permintaannya, pasar domestiklah yang diharapkan menyerap hasil produksi agar sektor industri tetap bisa bergerak dan PHK terhindarkan.
Dengan tujuan itulah pemerintah menggiatkan kembali kampanye cinta produk dalam negeri akhir-akhir ini. Tak tanggung-tanggung, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menjadi bintang iklannya.
Dalam iklan cinta produk Indonesia itu Presiden SBY dengan bangganya memamerkan dasi batik sutra Pekalongan sementara Wakil Presiden JK menunjukkan sepatu kulit dari Cibaduyut.
Perlu dukungan
Kualitas produk Indonesia tak perlu diragukan lagi. Itulah sebabnya banyak produk Indonesia yang diekspor dan diberi merek oleh sang pembelinya. Contohnya, sepatu merek Nike dan Adidas yang diproduksi beberapa pabrik di Tangerang.
Tak mengherankan pula jika pameran kerajinan Indonesia seperti Inacraft selalu dinanti-nanti dan dikunjungi puluhan ribu orang. Tapi pameran dan promosi saja tak akan cukup menanamkan kecintaan pada produk dalam negeri.
Perlu dukungan lebih bagi produk lokal yang sudah dikenal masyarakat maupun yang potensial untuk menjadi kebanggaan bangsa. Awal 2009 ini, Depdag menerbitkan Permendag 56/2008 terkait pengetatan impor lima produk termasuk garmen. Aturan itu dinilai cukup membantu di saat krisis. Sayangnya, aturan itu hanya berlaku sementara saja.
Masyarakat selama ini lebih mudah mendapatkan barang impor baik yang mahal maupun murah dari pada produk lokal. Hal itu disebabkan karena beberapa mal dan toserba lebih memprioritaskan produk impor dari pada merek lokal.
Pembangunan merek lokal harus didukung kebijakan pemerintah dari hulu hingga ke hilir. Mulai dari produksi hingga pemasaran.
Pengembangan merek
Bukan hanya pengusaha besar yang mulai sadar akan pentingnya sebuah merek atas produk yang dijualnya. Usaha Kecil Menengah (UKM) pun menyadarinya.
Makanan ringan yang dijual asongan di KRL dan bis kota seperti kacang telur, kerupuk kulit, bahkan permen jahe ada mereknya. Memang masih sederhana, hanya selembar kertas bertuliskan nama produsen dan alamatnya. Tapi cukup untuk konsumen mengenali produk yang dipilihnya.
Merek tak hanya menjadi alat promosi produk namun juga menjadi jaminan bagi konsumen atas kualitas produk yang dibelinya. Untuk itulah, Departemen Perdagangan menargetkan 60 merek produk UKM lokal tercipta setiap tahunnya. "Pengusaha menengah pasti mampu membuat merek sendiri. Porsi pemerintah adalah membantu UKM," ujar Sekjen Depdag, Ardiansyah Parman.
Direktur Bina Usaha, Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag, Dede Hidayat mengatakan pihaknya bersedia membantu UKM memberikan konsultasi terkait pembuatan merek atau kemasan. "Kami bersedia memberikan pendampingan saat bernegosiasi dengan peritel modern dalam rangka pemasaran dan menghubungkan UKM dengan produsen kemasan berskala kecil sekitar 5.000-10.000 unit," kata Dede.
Saat ini juga, Depdag sedang melakukan inventaris terhadap produk-produk lokal unggulan yang pantas untuk dikembangkan mereknya dan dipromosikan ke dunia internasional.
Depdag menargetkan bisa membawa 200 merek produk Indonesia untuk dipromosikan di pasar regional maupun internasional. Salah satunya dengan memasukkannya ke gerai-gerai ritel moderen internasional dan membawanya ke pameran-pameran di luar negeri.
Pembangunan merek Indonesia memang tak bisa dilakukan dalam satu atau dua tahun saja. Promosi dan kampanye harus dilakukan secara kontinyu, kalau tidak maka semua upaya hanya akan sia-sia. Siapa lagi yang akan cinta produk Indonesia kalau bukan bangsanya sendiri? (Anspek)
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pembeli Asing Jenuh Dengan Desain Bali

thumbnail
Pembeli di luar negeri saat ini dinilai sudah merasa jenuh dengan hasil berbagai jenis kerajinan di Bali yang dari tahun ke tahun tidak ada perubahan desain. "Pada era global sekarang ini, desain merupakan keunggulan. Produk kerajinan Bali ini harus menganut desain plus, yakni yang sesuai dengan kebutuhan pasar," kata Direktur Mitra Bali, Agung Alit.
Lelaki yang banyak membina ribuan perajin di Pulau Dewata ini mengatakan, kalau masalah desain ini tidak segera dipikirkan, dikhawatirkan akan berdampak pada produk kerajinan dari Bali yang tidak laku di pasaran. "Sekarang di Bali ini membutuhkan pusat desain. Mungkin ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar bisa memikirkan masalah ini, sehingga hasil kerajinan dari Bali tetap memiliki daya tarik di masyarakat luar," ujarnya.
Menurut dia, sebagai salah satu pusat kerajinan yang sudah dikenal di dunia, Bali seharusnya sudah memiliki pusat desain, seperti di Filipina. Peran itu dikembangkan oleh pemerintah maupun oleh perguruan tinggi seni.
Pengusaha yang dikenal peduli dengan lingkungan sehingga perajin binaannya diajak menggunakan bahan yang ramah alam itu mengemukakan bahwa perkembangan desain produk kerajinan memang tidak secepat dunia "fashion". "Mengenai desain ini, kita tidak bisa berharap banyak pada para perajin. Demikian juga juga pemasaran. Di Mitra Bali, kami sudah mulai membangun pusat desain yang idenya bisa dari permintaan pembeli, dari kami sendiri dan dari perajin. Cuma dari perajin tidak bisa banyak yang diharapkan," ujarnya.
Ia seringkali mengingatkan kepada perajin binaannya agar betul-betul memperhatikan permintaan desain dari pembeli luar negeri karena hal itu merupakan peluang pasar yang berdampak pada pembelian berikutnya. "Di Mitra Bali, kami selalu berimprovisasi jika ada permintaan desain dari pembeli. Kami mencoba memberikan desain yang lebih baik dari pada permintaan pembeli itu sendiri," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kebijakan Sentralistik Gagal Berantas Kemiskinan

thumbnail
Kebijakan yang sentralistik sudah tidak cocok lagi diterapkan untuk menanggulangi kemiskinan karena kompleksnya akar masalah kemiskinan di Indonesia.
"Kebijakan penanggulangan kemiskinan sudah seharusnya dilakukan secara desentralisasi dengan menguatkan peran pemerintah daerah," kata Wakil Direktur Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Pande Made Kutanegara dalam seminar kebijakan penanggulangan kemiskinan, di Yogyakarta.
Menurut dia, beberapa program penanggulangan kemiskinan yang masih sentralistik di antaranya beras untuk warga miskin (raskin) serta bantuan langsung tunai (BLT).
Sistem penanggulangan kemiskinan yang bersifat sentralistik seperti yang dilakukan sekarang, katanya, akan berakibat negatif, yaitu hilangnya kreativitas dari pemerintah daerah untuk membuat sebuah kebijakan penanggulangan kemiskinan yang sesuai dengan karakter wilayahnya. "Basis penanggulangan kemiskinan seharusnya berada di wilayah, karena wilayah adalah pihak yang paling mengerti kebutuhan wilayahnya. Prosesnya harus "bottom up"," ujarnya.
Kebijakan yang sentralistik untuk menanggulangi kemiskinan dikhawatirkan tidak akan tepat sasaran sehingga tidak akan memberikan manfaat maksimal, padahal dana yang digulirkan cukup banyak.
Menurut dia, salah satu daerah yang sudah melakukan penanggulangan kemiskinan dengan berbasiskan pada unsur kewilayahan adalah Kota Yogyakarta. Hal tersebut tercermin dari kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta dalam menentukan parameter warga miskin yang berbeda dengan kriteria yang dibuat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) serta beberapa program yang berbeda lainnya seperti kartu menuju sejahtera (KMS).
Tim koordinasi penanggulangan kemiskinan yang biasanya hanya bergerak di tingkat kota/kabupaten, kata dia, kini juga bergerak aktif di tingkat kelurahan di Kota Yogyakarta. "Adanya peran nyata tim di tingkat kelurahan akan mempercepat mengurai masalah kemiskinan, tetapi dengan tetap melibatkan unsur masyarakat," ujarnya.
Ia juga menekankan pada penguatan keterlibatan perempuan dalam program penanggulangan kemiskinan mengingat beberapa sifat dasar yang dimiliki kaum perempuan. "Kaum perempuan lebih bisa mengatakan tidak dari pada kaum laki-laki, dan biasanya di rumah tangga perempuan bertindak sebagai pengelola dan mengetahui kondisi kesejahteraan rumah tangganya," kata dia.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009