PKB Ke-31: Spirit Memuliakan Jati Diri

thumbnail
Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-31 diawali pawai budaya yang ikuti 3.500 seniman dari berbagai daerah di Pulau Dewata serta sejumlah provinsi lain di Denpasar, Sabtu sore (13/6). Atraksi budaya yang mencerminkan sebuah garapan kolosal melibatkan ribuan seniman dari delapan kabupaten dan satu kota di Bali itu, dirancang khusus dengan konsep tradisi dan inovasi, tetap mengusung kekhasan seni budaya masing-masing.
Percikan air suci (tirta) dan penaburan beras putih kuning (bija), menandai pelepasan parade kesenian akbar tersebut oleh Gubernur Bali I Made Mangku Pastika. Atraksi seni rakyat Bali tahunan kali ini bertemakan Mulat Sarira, kembali ke jati diri menuju kemuliaan berbangsa dan bernegara.
Lalu Gubernur Pastika juga memutar cakra yang diusung sejumlah seniman, menandai digelarnya aktivitas seni tahunan yang pada malam harinya dibuka secara resmi oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Budaya Denpasar.
Pawai budaya yang disaksikan ribuan masyarakat yang memadati jalur sepanjang 1,5 km dari depan bangsal Jaya Sabha hingga Taman Budaya, diawali dengan penampilan puluhan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Mereka membawakan tari Ciwa Nataraja yang menggambarkan manifestasi Dewa Ciwa sebagai raja diraja yang menciptakan dunia lewat seni. Sebagai dewanya seni Ciwa Nataraja secara terus menerus berkarya, sehingga mampu menciptakan ritme dan keteraturan dalam kosmos.
Pancaran energi suci Ciwa itu kemudian bersatu dan terciptalah alam semesta beserta isinya. Tari Ciwa Nataraja yang ditampilkan melewati tiga panggung kehormatan yang diperuntukkan bagi pejabat dan undangan itu dilengkapi dengan kober (bendera) payung dan Dewata Nawasanga beserta senjatanya.
Penampilan pertama yang mampu menarik perhatian pengunjung itu merupakan visualisasi warna dan posisi sesuai arah mata angin. Kekuatan energi suci Dewa Ciwa itu digarap dengan menampilkan 32 penari, yang diiringi dengan drumband tradisional "Adi Merdangga" serta beberapa alat musik tradisionil lainnya.
PKB akan berlangsung selama 13 Juni hingga 11 Juli dan melibatkan sekitar 14.000 seniman dari berbagai usia. Enam negara sahabat turut serta memeriahkan PKB yaitu Amerika Serikat, India,Taiwan, Jepang, Thailand, dan Mexico. Peserta dari Negeri Sakura misalnya, menampilkan budaya asli mereka yaitu samurai yang memperagakan teknik gerakan memainkan pedang
Sementara dalam negeri sebanyak 19 provinsi seperti Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, Yogyakarta, dan Lombok Barat. Pegelaran seni ini menelan biaya sekitar Rp 3,9 miliar. Rencananya tahun depan dianggarkan sekitar Rp 5 miliar. (Nia/Ant)
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Remaja Kurang Minati Tari Betawi

thumbnail
Para remaja kebanyakan kurang berminat pada tari-tarian tradisional Betawi, kata Iyoh, salah seorang penari dari Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan Jakarta.
Dia mengatakan saat ini terlihat tidak terlalu banyak remaja mau berlatih tari tradisional ini. "Tari tradisional sudah tersisih karena banyak remaja lebih menggemari tarian serta musik dari luar negeri," ujarnya saat ditemui ANTARA.
Menurut dia, tari-tarian tradisional Betawi saat ini agak kurang dipertunjukkan di khalayak ramai, biasanya hanya waktu-waktu tertentu seperti Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Jakarta. "Ada juga sih yang mengelar tari-tarian Betawi, tetapi kebanyakan asal menari saja dan tidak memperlihatkan bentuk suatu tarian," ujarnya.
Maksud dari bentuk suatu tarian menurut, perempuan berusia 22 tahun ini adalah saat melakukan gerakan tarian Betawi yang kebanyakan harus posisi kuda-kuda merendah ini tidak dilakukan dengan benar oleh banyak penari. "Termasuk juga tangan harus lentik dan gemulai, serta sesuai dengan irama musik yang mengiringi," ujar Iyoh.
Iyoh menekuni tari-tarian Betawi ini sejak tujuh tahun lalu dan pertama kali berlatih di sanggar Setu Babakan Perkampungan Budaya Betawi, yang kebetulan bersebelahan dengan tempat tinggalnya.
Beberapa gerakan tarian tradisional dan modern Betawi telah dikuasainya, antara lain tari Sirih Kuning, Topeng, Ganjen, Ngarojeng dan Akang Haji.
Selain berlatih tari setiap minggu sekali dia juga mengajar tari tradisional Betawi pada beberapa anak-anak Sekolah Dasar (SD) di sanggar Setra Kirana. "Meskipun baru setahun ini sanggar tari dibuka, saya harap dapat berkembang dan banyak peminat," katanya.
Cara inilah Iyoh katakan yang baru dapat dilakukan untuk melestarikan budaya nenek moyang ini agar tetap lestari. "Saya menyukai tari Betawi ini sebagai bentuk ekspresi diri serta dapat membuahkan gerakan tarian Betawi yang modern," ujar Iyoh.
Selain kebahagiaan batin yang diperolehnya dari menari, Iyoh juga memperoleh hasil jerih payahnya dari menari berupa honor setiap kali mempertunjukkan tariannya. Bersama teman-temannya dalam satu kali pertunjukan Iyoh memperoleh honor antara Rp 100 ribu-Rp 250 ribu.
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Banyak Membaca Cara Membebaskan Imajinasi

thumbnail
Terpaan modernitas membuat banyak orang tidak lagi memiliki waktu luang untuk membaca, padahal membaca merupakan salah satu cara menambah wawasan dan cara efektif membebaskan serta mengembangkan imajinasi.
"Godaan untuk jarang membaca terlalu banyak akibat cafe, komik, facebook, dan lain-lain," kata pimpinan Teater Mandiri, Putu Wijaya saat berbicara di aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Rabu (27/5).
Dikatakan dengan membaca, orang-orang mendapatkan referensi serta memperkaya ide untuk berkarya. Termasuk berkarya dalam bidang sastra.
Merujuk pada pernyataan Albert Einstein "Imagination is more important than knowledge", yaitu imajinasi lebih penting ketimbang pengetahuan.
Putu melihat generasi sekarang harusnya bersyukur dengan massalnya produksi buku dan karya sastra. Dia melihat prospek Indonesia untuk bersaing dengan negara lain dalam bidang pengetahuan dan sastra amat positif. Tahun lima puluhan susah betul baca buku. Sekarang banyak, bahkan sampai tak terkendali, ujarnya.
Di samping itu, seniman senior Putu Wijaya menyayangkan sikap pemerintah yang kurang memerhatikan kemajuan dalam bidang sastra. "Mereka baru mempedulikan dan membaca sastra saat berkampanye untuk menarik perhatian khalayak," katanya.
Putu Wijaya juga menilai sastra berperan penting dalam pengembangan industri kreatif nasional dewasa ini. "Tidak satu orang dan satu bidang pun bisa lepas dari sastra," katanya.
Menurut sastrawan Putu Wijaya, sastra mengambil bagian dalam seluruh aspek kehidupan. Tidak ada yang terpisah dari sastra karena sastra sebagai seluruh bentuk ekspresi dengan bahasa sebagai basisnya. "Agama, sains, medis, industri kreatif, dan banyak lagi," katanya seraya mengatakan sastra memberi nilai tambah dalam industri kreatif yang memainkan emosi.
Masyarakat dapat melihat karya-karya, misalnya novel yang dijadikan film seperti "Ayat-ayat Cinta" dan "Laskar Pelangi". Sementara itu sebaliknya seperti film yang dijadikan novel seperti "Biola Tak Berdawai" yang diubah oleh sastrawan Seno Gumira Ajidarma.
Dalam novel itu, banyak hal yang tidak sama dengan filmnya dan banyak penambahan, kata Ketua Forum Lingkar Pena M Irfan Hidayatullah yang juga salah satu pembicara.
Pengubahan cerita dalam karya sastra yang berbeda format dizinkan asal tidak menghilangkan substansi. Industri kreatif pun tidak boleh membatasi imajinasi masyarakat. "Kita bisa lihat bagaimana bagusnya apresiasi masyarakat terhadap karya sastra yang diolah oleh industri kreatif kini," ucap Irfan.
Masyarakat tidak dapat membendung sastra sebagai suatu teks transformasi. Dan, itulah yang sedang tren dalam industri kreatif, kata Irfan. Hal yang harus dicermati ialah jangan sampai peran sastra direduksi oleh industri yang hanya berorientasi laba sebesar-besarnya.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Seni Tradisional Efektif Menyapa Masyarakat

thumbnail
Seni tradisional dianggap mampu menyampaikan pesan kepada masyarakat secara lebih efektif, dibandingkan dengan seni modern. "Namun, keberadaan seni tradisional saat ini justru terpinggirkan," kata Wakil Ketua Umum Pengurus Nasional Forum Komunikasi (FK) Media Tradisional (METRA), Huala Siregar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang, Rabu (27/5).
Menurut dia, seni tradisional efektif untuk menyampaikan pesan berupa pembangunan, kemasyarakatan, dan pemerintahan kepada masyarakat.
Seni tradisional tampil dengan menggunakan identitas dan kemasan budaya setempat, sehingga dapat lebih dikenal dan diterima oleh masyarakat, kata dia. "Tontonan yang dikemas secara lebih merakyat, tentunya sangat mudah untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat, karena menggunakan media bahasa daerah," katanya.
Ia mencontohkan, apabila digelar sebuah pertunjukan tradisional di suatu daerah pasti masyarakat akan antusias untuk menontonnya. "Rencananya, FK METRA akan menggelar pertunjukan wayang orang untuk sosialisasi untuk Pemilu Presiden (Pilpres) 2009 pada tanggal 29-31 Mei mendatang di Malang," katanya.
Sementara itu, Ketua FK METRA Jawa Tengah (Jateng), Sutrisno juga mengungkapkan hal senada bahwa seni tradisional sarat dengan pesan yang membangun.
Sehingga, kata dia, seni tradisional tidak boleh ditinggalkan karena seni tradisional tidak hanya bersifat komunikatif yang mampu menghibur masyarakat. "Namun, seni tradisional juga dapat memberikan pencerahan kepada masyarakat, karena dapat dijadikan sebagai media untuk menyampaikan informasi, termasuk mengkritik kebijakan pemerintah," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap seni tradisional dapat tetap eksis di tengah gempuran modernitas seperti sekarang ini. Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) saat ini sedang menggiatkan pembentukan FK METRA di seluruh kabupaten/kota di Jateng. "Harapannya, setiap daerah nantinya mampu menghidupkan dan melestarikan seni tradisional yang dimilikinya agar seni tradisional tidak lagi terpinggirkan," katanya dilansir ANTARA.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Sentuhan Genre Pop

thumbnail
Audisi Nasyid Zona 5 Bali
Perjalanan kreatif seni musik Islam atau yang lebih dikenal dengan ‘nasyid’ sangatlah panjang. Di Indonesia, perkembangan nasyid mulai tampak cemerlang sejak era 1980-an. Bisa dibilang gaung seni musik Islami terbantu oleh penggiat nasyid negeri jiran, Malaysia. Awalnya pemusik tanah air memang lebih banyak membawakan nasyid berbahasa Arab atau nasyid Malaysia. Tetapi fenomena yang berkembang saat ini mursyid (guru spiritual) di tanah air mulai banyak menciptakan lagu bernuansa dan berlirik Indonesia.
Perkembangan nasyid di Indonesia masih terbilang belia. Namun tema-tema yang dihadirkan sangatlah beragam mulai permasalahan jihad, sosial, pernikahan, rumah tangga hingga persoalan aktual yang terjadi di tanah air maupun dunia (Islam) secara luas. Sambutan antusiasme pecinta musik Islami ini boleh jadi karena makin meningkatnya kesadaran di kalangan remaja muslim yang diejawantahkan ke dalam seni nasyid. Hingga bermuncullah kelompok-kelompok baru pengusung nama nasyid seperti, Snada, Justice Voice, Izis, Gondes, Gradasi dan lainnya yang cukup dikenal di telinga pecinta nasyid.
Kehadiran nasyid rupanya memberikan kontribusi grup-grup pemusik lokal seperti di kalangan remaja masjid, rohis sekolah (SMP/SMU) atau kampus untuk bersaing dalam pemilihan grup nasyid muda berbakat yang diselenggarakan Asosiasi Nasyid Nusantara bekerjasama dengan Kementrian Pemuda dan Olah Raga. Festival Nasyid Nusantara memilih 5 daerah audisi yaitu Riau, Banten, Cianjur, Semarang dan Bali.
Ajang Festival Nasyid Nusatara rupanya memacu kreatifitas pemuda muslim di Zona 5 Bali. Audisi yang dilaksanakan di Gedung Olah Raga Al Banna School, Jl Tukad Yeh Ho Renon, Denpasar, Minggu (17/05), menampilkan perform 7 grup nasyid yaitu Neo Ababil Foice (Bali), Bali Moeslim Voice (Bali), EL-Fariq (Bali), As-syifa (Bali), Group Nasyid Lovina (Bali), Eiksis (Bali) dan Javana Voice (NTB).
‘’Hadirnya festival nasyid di zona 5 Bali diharapkan mampu membangun mood nasyid Bali dan membuka jalan bibit-bibit nasyid kreatif yang cinta seni dan budaya Indonesia,” ungkap Ahmad Rosadi Lubis, SH, Ketua Panitia sekaligus Ketua DPW ANN Bali.
Performa setiap nasyid mendapat sambutan luar biasa dari penonton. Setiap grup menciptakan kreasi aliran musik acapella dengan sentuhan musik bergenre pop. Kemampuan beraransemen, vokal, penghayatan, performa mursyid apalagi yang membawa spirit menjadi nilai plus dewan juri yang dikomandoi Ramadhan Wahyudi (ANN Pusat), Andre Wijaya (Personil Faith One) dan Andreas Sugeng Br (Pengamat musik Bali). (Wilis)
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Prosesi Ritual Jadi Inspirasi Seni

thumbnail
Prosesi ritual keagamaan yang dilakoni masyarakat di Pulau Dewata secara turun temurun, memberikan inspirasi dalam menciptakan karya seni maupun tabuh dan tari yang dapat memperkaya seni budaya Bali.
"Setiap ritus yang dilakoni itu selalu memberikan arti penting dalam setiap relung kehidupan yang sudah membudaya dalam masyarakat Bali," kata I Gusti Bagus Sukma Adi Oka, mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.
Salah seorang dari 47 mahasiswa yang mengikuti ujian tugas akhir dalam menyelesaikan program S-1 di lembaga pendidikan tinggi seni itu mengaku, dalam menciptakan karya kerawitan yang diberi judul "Mider gita" mendapat inspirasi dari aktifitas ritual. "Mider Gita" merupakan karya karawitan terinspirasi dari prosesi ritual, sebuah bentuk "ritus" yang telah mentradisi dalam kehidupan Pulau Dewata.
Hampir semua jenis kesenian Bali mengandung tendensi untuk menunjang dan mengabdikan kehidupan keagamaan umat Hindu.
Bagus Sukma dalam mempertanggungjawabkan karya kerawitan "Mider Gita" di hadapan tim dosen penguji didukung Sanggar Tari Seni Triitaka Desa Munduk, Kabupaten Buleleng.
Penampilan karya seni ujian tugas akhir mahasiswa ISI Denpasar sarat dengan nilai kolaborasi, namun tetap berakar pada nilai-nilai tradisi.
Seniman muda itu umumnya mempunyai keberanian dan kemampuan memadukan dua unsur atau lebih ke dalam satu garapan karya seni, sehingga penyuguhannya lebih unik dan menarik.
I Wayan Sudarsana mahasiswa lainnya dalam ujian tugas akhir menyuguhkan karya ciptaan yang diberi judul "Sandhu Winangun".
Karya cipta baru itu dengan mengkolaborasikan atau menata dua perangkat gamelan Pedro dan selonding, keduanya merupakan alat musik tradisional Bali.
Perpaduan kedua jenis alat musik tersebut mampu menciptakan alunan musik yang menyejukkan hati dan kedamaian dalam batin.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Berbahasa Jawa Mulai Dari Lingkup Keluarga

thumbnail
Bahasa Jawa hendaknya mulai diperkenalkan kepada anak dari lingkungan keluarga, kemudian di lingkungan masyarakat maupun sekolah, sehingga anak akhirnya mampu berbahasa Jawa secara benar dan baik. "Memang umumnya lingkungan keluarga pasif terhadap penggunaan Bahasa Jawa, terutama keluarga yang orangtuanya tidak menguasai bahasa ini secara luas, sehingga kemampuan anak dalam berbahasa Jawa juga terbatas," kata staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) RS Subalidinata di Yogyakarta, Sabtu (23/5).
Ia mengatakan apabila di lingkungan masyarakat banyak kegiatan yang orientasinya ke budaya Jawa, ini akan menunjang upaya pembelajaran dan penguasaan berbahasa Jawa.
Menurut dia, masing-masing lingkungan, baik keluarga, masyarakat maupun lingkungan sekolah, memiliki sistem dan tujuan sendiri-sendiri dalam mengenalkan Bahasa Jawa kepada anak.
Misalnya di lingkungan keluarga, pengenalan terhadap Bahasa Jawa dimaksudkan agar anak mengenal dan bisa berbahasa Jawa dengan baik.
"Atau lebih jauh lagi agar anak mengenal budaya Jawa secara luas, sehingga anak bisa mengenal budi pekerti yang sifatnya `njawani`," katanya.
Sedangkan di lingkungan sekolah, tujuan mempelajari Bahasa Jawa agar anak didik mengenal, mengerti dan menguasai penggunaaan bahasa ini.
Selain itu, diharapkan pula siswa bisa memperoleh dan memahami ilmu pengetahuan yang terkandung dalan bahasa dan budaya Jawa.
"Untuk itu, rencana pengajaran Bahasa Jawa di sekolah perlu disiapkan kurikulum dan silabusnya sesuai dengan tujuannya," katanya.
Menurut dia, pelajaran Bahasa Jawa hendaknya diberikan sejak tingkat SD hingga SMA.
Kemudian di lingkungan masyarakat, menurut Subalidinata yang menulis buku pelajaran Bahasa Jawa ini, pembelajarannya bisa dilakukan melalui organisasi atau perkumpulan maupun lembaga yang menggunakan Bahasa Jawa sebagai sarana pembentukan perkumpulan atau organisasi itu.
"Misalnya perkumpulan yang mengelola pertunjukan kesenian tradisional seperti ketoprak, ludruk, wayang, sanggar budaya, maupun sandiwara yang menggunakan Bahasa Jawa," katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Yogyakarta Tirto Suwondo mengatakan pihaknya sampai sekarang masih meneliti keberadaan bahasa dan sastra Jawa yang ada di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebagai upaya melestarikan bahasa dan sastra Jawa.
Upaya tersebut merupakan bagian dari tugas balai bahasa ini, yang antara lain melakukan pengkajian, pengembangan serta pembinaan bahasa daerah, disamping bahasa dan sastra Indonesia. "Meskipun Bahasa Jawa masih digunakan oleh masyarakat di DIY dan sekitarnya sebagai bahasa percakapan sehari-hari, namun kami masih perlu melakukan penelitian mengenai keberadaan bahasa daerah ini," katanya.
Ia mengatakan Balai Bahasa Yogyakarta sejak lama sudah melakukan penelitian dalam upaya melestarikan bahasa dan sastra Jawa di wilayah DIY dan sekitarnya.
Berbagai aspek bahasa Jawa termasuk pengajarannya yang telah diteliti meliputi morfologi, sintaksis, sosiolinguistik, semantik, dan wacana.
Sementara itu, berbagai aspek sastra Jawa termasuk pengajarannya yang telah diteliti mencakup periodisasi (sejarah) sastra, jenis-jenis (genre) sastra (guritan, cerkak, cerbung, novel dan drama), sistem pengarang, sistem pembaca, sistem kritik, dan lainnya.
"Sebagian besar hasil penelitian tersebut telah diterbitkan dan disebarluaskan kepada masyarakat, dan dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan studi," katanya.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Benarkah Sekularisme Mulai Goyah

thumbnail
Oleh: Azhari
Meski pendapat dan pemahaman tentang sekulerisme itu berbeda-beda, namun secara umum diartikan bahwa sekuler adalah pemisahan antara agama dengan urusan dunia termasuk bidang pemerintahan.
Pada awalnya, pandangan hidup sekuler dan materialistik itu berkembang pesat di dunia barat, namun secara perlahan "menyebar" di belahan dunia meski masih ada segelintir orang yang menyatakan "selamat" dari pandangan tersebut.
Seseorang berproduktif, taat hukum, bayar pajak dan tidak kolusi dan korupsi dalam pandangan sekuler itu dimasukkan sebagai warga negara yang baik meski bagian dari hidupnya kerap dalam maksiat.
Jika dilihat dari pandangan Islam dengan gambaran seseorang yang baik dan taat itu tidak sebatas menghormati hukum produk manusia (negara) namun juga tingkat ketaatan terhadap perintah Allah SWT .
Berabad-abad lamanya paham sekuler dan materialistik dianut masyarakat yang memberi penghargaan terbesar kepada waktu dan uang, sehingga melenturnya nilai-nilai sosial dalam masyarakatnya. Namun kini, paham sekulerisme dan materialistik dari kalangan masyarakat barat dinilai mulai goyah.
Pandangan hidup sekuler dan materialistik di kalangan masyarakat barat mulai goyah, sehingga kecenderungan mereka tertarik mendalami tentang Islam. "Kecenderungan masyarakat barat mempelajari Islam dari sumber pertama itu karena nilai-nilai kehidupan materialistiknya mulai goyah," katanya pada seminar peradaban Islam di Jakarta, Rabu (20/5).
Apabila gelombang masyarakat barat masuk Islam bertambah besar, maka itu berarti mereka meragukan nilai-nilai materialistik sehingga cepat atau lambat peradaban barat akan runtuh. Karena itu, dengan mamahami peta persoalan tersebut, maka kunci utama membangun peradaban Islam saat ini adalah dengan mengembangkan superioritas.
"Itu penting agar kesempurnaan ajaran Islam dalam segala aspek kehidupan manusia mendapatkan orang-orang terpilih dan representatif untuk mempresentasikan di hadapan seluruh umat manusia," ujarnya.
Abdul Mannan, menyatakan seperioritas itu terletak pada kesempurnaan spritual dan intelektual seseorang yang tentunya akan memanifestasikan pada akhlak dan prilaku serta sikap hidup yang Islami.
Kunci utama dalam membangun superioritas adalah dengan mempertajam dan memperkaya intelektualitas. "Yang diperlukan dalam konteks ini adalah berinteraksi dengan Al-Quran," jelasnya menambahkan.
Oleh karenanya, ia berpendapat untuk membangun peradaban Islam berarti "mengislamkan" seluruh dunia dalam setiap aspek dan tingkatannya. Untuk itu, misi-misi Islam harus dijelaskan dengan pola logika dan kerangka berpikir Islami. "Tentu saja, itu pekerjaan besar yang membutuhkan kesabaran untuk mewujudkannya," kata Abdul Mannan.
Syariah
Ketua Umum Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), Didin Hafidhuddin berpendapat, untuk membangun peradaban Islam yang ada di dunia perlu dibangun secara bersama-sama kegiatan ekonomi syariah. "Diantara pilar-pilar peradaban Islam yang harus dibangun secara bersama-sama adalah kegiatan ekonomi syariah yang berlandaskan pada nilai-nilai Islam, keadilan dan pro kaum dhu`afa serta berorientasi pada sektor ril," katanya.
Pasalnya, ekonomi konvensional yang selama ini dilakukan telah gagal karena tidak bisa membangun kesejahteraan dan mengatasi kemiskinan.
Hal itu, kata dia, dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh KA Ishak (2003) dari Oregon University, AS, yang menyebutkan lembaga pembangunan internasional telah gagal memerangi kemiskinan.
Dengan menggunakan sistem ekonomi berbasis bunga atau riba tidak menguntungkan bagi suatu perekonomian negara, terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia dan sistem bunga hanya mengakibatkan membesarnya kesenjangan pendapatan negara maju dan berkembang. "Sistem perekonomian dunia saat ini sudah mulai mengarah pada ekonomi syari`ah., sehingga perlu ditingkatkan lagi guna memberikan kesejahteraan bagi penduduknya," ujarnya.
Menurut dia, pembangunan ekonomi syariah juga berkorelasi positif dengan aqidah, syariah dan akhlak yang merupakan inti dari ajaran Islam, sekaligus inti dari peradaban Islam.
Pembangunan ekonomi syariah yang dilakukan bersama-sama harus dalam bentuk gerakan, antara lain, didukung oleh bidang keilmuan, institusi keuangan (Bank, asuransi dan lainnya), membangun sumber daya manusia yang handal, permodalan, net working, dan lainnya. "Hal ini perlu dilakukan agar pembangunan ekonomi syariah dapat tercapai dengan baik," ujarnya.
Perkembangan Islam di dunia saat ini tumbuh pesat yang jumlahnya mencapai sekitar 1,4 miliar jiwa. Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsudin menilai meski jumlahnya cukup besar, namun jika umat Islam tidak siap menghadapi kemajuan peradaban maka akan mengakibatkan kejayaan Islam menurun. "Sudah cukup banyak orang Amerika, Eropa dan lainnya memeluk agama Islam. Namun, sayangnya penambahan umat Islam ini tidak dibarengi kesiapan konsep dalam kemajuan peradaban Islam itu sendiri," katanya.
Kejayaan Islam tidak seperti zaman dahulu yang memiliki sumber daya keilmuan, teknologi dan lainnya, sehingga menjadi acuan bagi orang-orang barat. Oleh karenanya, kunci utama membangun peradaban Islam masa ini melalui pengembangan superioritas dan intelektualitas umat muslim dengan tidak berpaling dari Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Museum Ranggawarsita Gelar Pameran Wayang Sambut Wisatawan Asing

thumbnail
Museum Jawa Tengah Ranggawarsita di Semarang menggelar pameran wayang bertajuk "The Wayang: Special Exhibition Days", 13-15 Mei untuk menyambut kedatangan wisatawan asing.
Kepala seksi Pelayanan dan Tata Usaha Pameran Museum Ranggawarsita Semarang, PS Indiah, Kamis (14/5), mengatakan pihaknya sering menyelenggarakan berbagai kegiatan yang berbeda untuk menyambut kedatangan wisatawan asing, antara lain peragaan batik, pertunjukan barongsai dan kesenian tradisional lainnya. "Kali ini kami sengaja memilih menggelar pameran wayang, karena koleksi wayang yang kami miliki cukup lengkap, dan ini kesempatan yang baik bagi kami untuk memamerkannya," katanya.
Selain itu, menurut dia, wayang merupakan potensi daya tarik wisata yang dimiliki masyarakat Jawa, tetapi kurang dimanfaatkan hingga optimal.
Ia mengatakan Museum Ranggawarsita sudah beberapa kali dikunjungi wisatawan asing dari berbagai negara sejak Desember 2008. "Mereka sengaja diajak singgah di Semarang, dan ini dimanfaatkan untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Kota Semarang, salah satunya Museum Ranggawarsita," katanya.
Namun, ia mengakui tidak semua wisatawan asing singgah di Semarang, karena setelah kapal pesiar yang ditumpanginya berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, ada wisatawan asing yang langsung menuju Candi Borobudur atau ke Yogyakarta.
Ia menyebutkan rombongan wisatawan asing kali ini berasal dari Jerman. Mereka menggunakan kapal pesiar "Hanseatic", yang Kamis (14/5) berlabuh di Semarang. "Jumlahnya sekitar 100 wisatawan, 10 orang di antaranya singgah terlebih dahulu di museum ini, dan lainnya memilih langsung ke Candi Borobudur," katanya.
Dalam pameran tersebut ditampilkan 11 jenis wayang antara lain wayang beber, wayang kulit purwa, wayang golek menak, wayang kancil, wayang sadat, wayang klithik, wayang kaper, wayang suket, dan wayang potehi.
Menurut dia, semua jenis wayang yang dipamerkan merupakan koleksi museum, namun tidak semuanya dipajang pada hari-hari biasa. "Sebagian sengaja disimpan, dan baru dipajang saat ada pameran seperti ini," katanya.
Secara terpisah, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Museum Ranggawarsita Gunarso mengatakan pihaknya memiliki koleksi berbagai jenis wayang. "Melalui pameran ini, kami ingin mempublikasikan bahwa Museum Ranggawarsita memiliki koleksi wayang yang cukup lengkap, sekaligus mengenalkan jenis-jenis wayang yang ada kepada mereka (wisatawan asing, red.)," katanya kepada ANTARA.
Ia berharap dengan adanya pameran ini para wisatawan asing menjadi tertarik, dan selanjutnya sepulang mereka ke negara asalnya dapat mengenalkan serta mempromosikan potensi wisata yang dimiliki Jateng.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Bali Punya Konsep Pertahanan Budaya

thumbnail
Leluhur orang Bali mempunyai konsep dalam upaya mempertahankan, melestarikan dan menjaga keutuhan seni budaya dari pengaruh budaya luar. "Konsep pertahanan itu dengan tetap membuka diri, termasuk di era globalisasi sekarang, tanpa harus menutup diri dari pengaruh dunia luar," kata Guru Besar Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha, MSi.
Gunadha yang juga Direktur Program Pascasarjana UNHI mengatakan, dengan konsep pertahankan itu orang Bali mampu menyeleksi pengaruh seni budaya luar yang positif, yang kemudian dipadukan dengan budaya setempat dengan tetap menekankan aspek estetika dan keindahan. "Sedangkan nilai-nilai budaya luar yang tidak cocok dengan kondisi di Bali ditolak sehingga seni budaya Bali tetap mencerminkan keindahan, keunikan dan kelestarian yang mampu menjadi salah satu daya tarik wisatawan mancanegara," ujarnya.
Ia menilai, konsep mempertahankan diri tersebut dalam beberapa tahun belakangan mengalami pemudaran, bahkan manusia Bali sedang mengalami kegamangan dan kebingungan identitas sosial budaya di tengah gelombang perubahan yang begitu cepat.
"Bahkan ketegangan semakin memuncak ketika penduduk lokal dan kebudayaannya semakin terpinggirkan oleh derasnya arus globalisasi yang berujung pada perubahan karakter orang Bali," katanya.
Untuk itu, menurut dia, diperlukan penguatan identitas sebagai upaya mempertahankan jati diri dan manusia Bali dari penetrasi budaya global.
Menurut dia, upaya tersebut perlu dilakukan mendesak dengan membangkitkan kembali kesadaran manusia Bali yang berkarakter kritis dan selektif terhadap pengaruh budaya asing yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Dikatakannya, upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan karakter kebudayaan Bali semakin mapan sekaligus menjadi panduan sikap dan perilaku masyarakat dalam aktifitas desa pekrama (desa adat).
Dengan demikian, katanya, karakter kehidupan di desa pekraman dengan segala aktivitasnya mampu menjadi identitas manusia Bali, yakni manusia yang religius, menghargai persaudaraan dan kebersamaan dalam konteks persaudaraan (menyama braya). "Manusia Bali senantiasa berupaya mewujudkan kehidupan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, lingkungan dan Tuhan Yang Maha Esa (Tri Hita Karana) yang menjadi komitmen sekaligus tujuan hidup," ujar Gunadha.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Pemda Jatim Minim Perhatian Terhadap Budaya

thumbnail
Pengamat budaya Universitas Jember, Ayu Sutarto, menilai Pemerintah Jawa Timur kurang serius memperhatikan kesenian dan budaya padahal peranan pusaka budaya cukup penting dalam kehidupan masyarakat.
"Ada niat baik pemerintah Provinsi Jatim untuk memperhatikan budaya Indonesia, namun dalam pelaksanaannya sangat minim," kata Ayu Sutarto dalam seminar nasional dengan tema "Pemetaan dan Pembacaan Budaya di Provinsi Jawa Timur Dalam Kaitannya Dengan Industri Kreatif" di Fakultas Sastra Unej, dalam rangka Pekan Chairil Anwar 2009.
Menurut dia, produk-produk kebudayaan dapat memberi harapan bagi kesejahteraan masyarakat, namun Pemprov Jatim dan masyarakat kurang kreatif dalam mengemas produk kebudayaan sebagai komoditi.
"Produk kebudayaan bisa menjadi komoditi berupa benda-benda budaya dan kreativitas individu untuk menghasilkan sesuatu yang berharga," katanya menerangkan.
Ia menjelaskan, banyak budaya Indonesia yang bisa dikemas dengan industri kreatif sehingga menghasilkan uang, tanpa harus menjual budaya Indonesia kepada negara lain.
"Banyak negara yang sukses mengembangkan kebudayaan yang didukung penuh oleh pemerintah, seperti Jepang, Malaysia dan Amerika Serikat.
Peranan pemerintah, kata dia, sangat minim untuk mengembangkan budaya sehingga terkesan budaya Indonesia hanya sebagai simbol dan tidak bisa menjadi lahan kreativitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Saya berharap, ada perhatian pemerintah terhadap nilai budaya agar budaya Indonesia tidak punah," katanya berharap.
Pada tataran konsep, kata dia, Pemprov Jatim sudah memberikan perhatian terhadap pusaka budaya, namun belum ada manfaat yang bisa dirasakan nyata oleh masyarakat, baik melalui aspek politis maupun aspek ekonomis.
"Kesenian tradisional hanya nampak besar pada gelombang semangat untuk bangkit, sedangkan usulan program yang nyata untuk membangun kesenian tersebut tidak ada," tuturnya.
Ia menegaskan, ada tiga hal yang harus dilakukan Pemprov Jatim yakni membangun keyakinan bahwa pusaka budaya bisa memberikan manfaat sosial-ekonomi, para pelaku budaya harus melakukan inovasi kreatif untuk merespons zaman dan menumbuhkan partisipasi di kalangan investor dan lembaga pendidikan formal atau non-formal.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Kelestarian Budaya Jawa Tergantung Peran Generasi Tua

thumbnail
Kelestarian budaya Jawa tergantung peran dari generasi tua, sebab banyak generasi tua yang sudah tidak peduli dengan budaya Jawa. "Generasi tua saja sudah seperti itu, apalagi generasi muda," kata Ketua Yayasan Studi Budaya Jawa (YSBJ) Kanthil, Prof Soetomo WE, seperti dilansir ANTARA.
Ia mengatakan, kalau generasi tua aktif mengajarkan tentang keluhuran budaya Jawa, maka generasi muda pasti akan mengikuti dan melestarikannya. "Pemerintah, sebagai bagian dari generasi tua juga terkesan menganggap budaya sebagai bidang yang kalah penting dibandingkan dengan bidang yang lain, misalnya olahraga," kata dosen Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata (STIEPARI) Semarang tersebut.
Ia melihat terdapat perbedaan yang sangat mencolok antara anggaran untuk kelestarian budaya dengan anggaran di bidang olahraga. Buktinya, kata Soetomo, anggaran yang diberikan untuk bidang olah raga mencapai sekitar Rp 22 miliar, sementara untuk pelestarian kebudayaan Jawa hanya mendapat alokasi dana Rp 50 juta per tahun. "Dengan anggaran hanya sebesar Rp 50 juta per tahun, upaya pelestarian kebudayaan Jawa tidak mungkin berjalan maksimal," tegasnya.
Ia mengaku, untuk sekali menyelenggarakan kegiatan minimal dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta, sehingga dengan dana Rp 50 juta, paling hanya cukup untuk menyelenggarakan kegiatan sekitar 10 kali. "Dengan menyelenggarakan kegiatan sebanyak 10 kali dalam setahun, rasanya sulit untuk mendukung pelestarian budaya Jawa," kata Soetomo.
Oleh karena itu, ia mengharapkan, pemerintah hendaknya ikut mendukung usaha pelestarian kebudayaan Jawa, salah satunya dengan mengalokasikan dana yang mencukupi. "Seandainya, kami diberikan anggaran sebesar Rp 22 miliar untuk dialokasikan di bidang budaya, setiap sekolah akan diupayakan memiliki perangkat gamelan dan tenaga pengajar yang berkualitas di bidang kebudayaan Jawa," katanya.
Sebab, lanjutnya, kendala lain di bidang ini adalah minimnya sarana serta banyak para guru yang kurang memahami budaya Jawa, sehingga bagaimana akan mengajarkan pada muridnya. "Sementara, untuk mengadakan sarana dan melatih para guru menguasai kebudayaan Jawa tentunya juga membutuhkan banyak dana," katanya.
Ia menambahkan, untuk membahas pelestarian budaya Jawa tersebut, pihaknya akan mengundang pemerhati budaya dari berbagai daerah di Jateng. "Rencananya, kami akan mengadakan pertemuan pada bulan Mei mendatang," katanya.
Pihaknya juga akan membentuk dewan penyelamat dan penjaga budaya yang bertugas merevitalisasi nilai-nilai budaya Jawa dan akan selalu pro aktif, misalnya, dengan mengusulkan hak paten batik Semarangan. "Kalaupun nanti upaya mematenkan batik Semarangan membutuhkan dana yang sangat besar, bisa dilakukan alternatif lain dengan menerapkan peraturan daerah (Perda) yang mengaturnya," kata Soetomo.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

TV Swasta Surutkan Kesenian Tradisional

thumbnail
Pelawak asal Jawa Timur, Kirun menyatakan, stasiun televisi swasta nasional memberi andil dalam menyurutkan kesenian tradisional, seperti ketoprak dan ludruk, dengan tidak menyiarkan pentas seni itu di layar kaca.
"Mereka tidak peduli lagi terhadap kesenian tradisional," kata Kirun saat ditemui ANTARA usai tampil dalam ketoprak jenaka di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin malam (21/4), untuk mengenang pelawak Timbul Suhadi (alm).
Menurut dia, tayangan kesenian tradisional di stasiun tv swasta, sekarang, sedikit. "Padahal TV menjadi benteng terakhir kesenian," kata Kirun
Dia mengatakan, stasiun TV swasta jangan hanya mencari untung, tetapi juga harus peduli terhadap kesenian tradisional. "Kesenian tradisional bukan hanya tanggung jawab seniman, tetapi juga tv swasta, jurnalis, dan masyarakat," katanya.
Meskipun saat ini tidak lagi tampil di TV swasta nasional, Kirun mengatakan dirinya masih bisa tampil di salah satu stasiun TV lokal di Jawa Timur. "Saya sekarang ada di acara Bakiak, Bareng Kirun Ayo Ngakak, tiap Sabtu malam jam 21.00 di JTV," katanya.
Selain manggung di tv lokal, Kirun mengatakan, dirinya masih sibuk menerima panggilan melawak di berbagai daerah di sekitar Jawa Timur. "Urusan pekerjaan melawak di daerah itu sudah jadi kebutuhan. Bahkan acara buka pengolahan pabrik gula juga dengan mendatangkan pelawak," katanya.
Senada dengan Kirun, pelawak Topan juga mengatakan dirinya masih aktif melawak dan menerima order di daerah-daerah di Jawa Timur.
Timbul
Kirun dan Topan, bersama dengan sekitar 120 pelawak dan artis yang sebagian besar merupakan pelawak eks Srimulat, menggelar pentas ketoprak jenaka di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Senin malam, untuk mengenang Timbul Suhadi.
Para pelawak yang tergabung dalam Himpunan Seniman Panggung Wayang Orang dan Ketoprak Jakarta "Adhi Budaya" menggelar ketoprak jenaka dengan judul "Mustika Dewandaru".
Sebelum pentas dimulai, Indro Warkop mewakili para pelawak Adhi Budaya mengatakan, Timbul merupakan pemain Srimulat yang berdedikasi tinggi untuk seni komedi Indonesia. Indro mengatakan, pementasan ketoprak tersebut sedianya digelar untuk menggalang dana guna membantu pengobatan Timbul, tetapi Tuhan berkehendak lain dengan memanggil pulang pelawak kelahiran 1942 tersebut sebelum acara itu dimulai. "Atas kesepakatan teman-teman seniman, pentas tetap digelar untuk memberikan empati kepada almarhum dan berapapun dana yang terkumpul akan diserahkan kepada keluarga almarhum Timbul," katanya.
Pentas ketoprak jenaka pun dimulai dengan para pemain, antara lain Tukul Arwana, Topan, Eko DJ, Kirun, Kadir, Doyok, Misye Arsita, Nunung, Yati Pesek, Mamiek Prakoso, Marwoto, Tessy, Rohanna, Polo, Ribut, Dudung, Yety Betet, Ali Nurdin, George Sapulete sampai dengan Mamiek Kies.
Selain itu juga terdapat bintang tamu yang ikut bermain yaitu dalang Ki Manteb Sudarsono, Staf Ahli Ekonomis Presiden RI Sutan Remy Sjahdeini, Direktur BRI Bambang Soepeno, dan Komisaris Bank Danamon Krisna Wijaya.
Pada jajaran penonton tampak Penasehat Persatuan Artis Seniman Komedi Indonesia Agum Gumelar beserta istri, Farhan, dan grup komedi P Project. Usai pementasan, pelawak Eko DJ mewakili rekan-rekannya memberikan uang sebesar Rp 40 juta, hasil penjualan tiket ketoprak jenaka, kepada Sukarti Timbul.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Memasyarakatkan (Kembali) Wayang

thumbnail
Oleh: A. Zaenurrofik*
Wayang, pernah begitu akrab dan membumi di masyarakat kita. Era sebelum tahun 70-an, kejayaan wayang masih bisa dirasakan. Begitu banyak orang punya hajat menyajikan wayang. Upacara-upacara adat juga banyak menampilkan wayang. Bahkan kegiatan penyuluhan juga banyak menggunakan wayang, sehingga lahirlah Wayang Suluh, yang diciptakan oleh Sukemi dari Madiun. Namun kini situasi telah berbalik. Wayang tak lagi akrab dengan masyarakat. Bahkan generasi muda sekarang mayoritas tak begitu mengenal tokoh seperti Subali, Gunawan Wibisono, Bisma, Kresna, Werkudara, Karna, dan tokoh pewayangan lainnya. Mereka lebih mengenal artis-selebritis dan tokoh komik dan kartun rekaan Jepang.
Bisa jadi, popularitas wayang Indonesia lebih populer di luar negeri daripada di dalam negeri sendiri. Kala Ki Ledjar Soebroto menggelar petunjukan Wayang Kancil di Belanda, Jerman dan Prancis, ia menjumpai banyak kartu pos dengan gambar Wayang Kancil bermotif batik. Apresiasi warga Eropa sangat besar terhadap budaya Indonesia. Suatu hal yang berkebalikan di negeri kita sendiri. Apresiasi serupa ditunjukkan oleh Tibor Weiner Sennyey, seorang penyair Hungaria, dalam acara bedah buku Ezster Tari, (seniman asal Hungaria yang mendapat beasiswa dari Pemerintah RI) berjudul “Wayang Jawa”, juga melayangkan pujian kepada budaya wayang Indonesia.
Eksistensi wayang semakin terdesak. Bahkan beberapa jenis wayang terancam keberadaannya, karena hampir-hampir tidak lagi bisa diketemukan wujud fisiknya ataupun pementasannya. Wayang Beber, yang dikreasi oleh Prabu Mahesa Tandreman, Raja Pajajaran misalnya, sudah sangat sulit dijumpai pertunjukan dan bentuk fisiknya. Begitu pula dengan Wayang Kidang Kencono. Wayang hasil kreasi Sunan Giri ini juga tidak bisa ditemui lagi. Keberadaannya yang tercatat dan terawat hanya bisa ditemukan di Museum Wayang Sendang Mas di Banyumas.
Sangat disayangkan bahwa budaya yang turut membentuk identitas nasional kita tersebut keberadaannya semakin terpinggirkan. Padahal budaya kita tersebut merupakan salah satu warisan budaya yang keberadaannya ditetapkan oleh UNESCO sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Non Bendawi Manusia (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity) yakni bentuk penghargaan badan dunia PBB (UNESCO) bagi karya budaya yang dianggap bernilai tinggi bagi peradaban umat manusia.
Upaya Memasyarakatkan
Banyak kalangan menyatakan bahwa petunjukan wayang dinilai menjemukan. Sedikit sekali kreasi yang dilakukan oleh dalang dalam penyampaian cerita. Pakem wayang yang kaku seperti alur cerita yang dianggap monoton dan berputar pada itu-itu saja dianggap menjadi mandeknya proses kreasi baru terhadap wayang. Tertutup dan mandeknya kreasi justru akan menjadi salah satu faktor pemercepat punahnya wayang dan dijauhi oleh masyarakat. Karenanya, kreasi, inovasi, terbuka pada perubahan, sangat penting agar wayang bisa diterima secara luas oleh masyarakat, sehingga ancaman kepunahan dapat ditangkal.
Kalau kita melihat kembali ke belakang, sebenarnya kreasi wayang bukan sesuatu yang ditabukan. Justru dengan mengkreasi, akan melahirkan dialektika sehingga tercipta keragaman jenis wayang dengan alur cerita yang sesuai dengan jamannya. Adalah Prabu Mahesa Tandreman Raja Pajajaran pada tahun 1350, yang memerintahkan untuk merubah dan memperbesar “gambar Wayang Purwo”. Sunan Bonang juga memperbarui Wayang Karucil atau Klitik yang sebelumnya diciptakan oleh Raja Brawijaya V. Beliau menambah cerita dengan memasukkan Damarwulan dan Ratu Ayu dari Majapahit. Wayang Keling di Pekalongan pun juga mengalami perubahan. Pementasan yang dulunya dilakukan hanya dengan menggunakan bahasa tutur dari dalang saja tanpa disertai dengan peralatan musik, dalam perkembangannya disertai dengan beragam perangkat musik dan diiringi dengan gending-gending.
Pada saat ini, muncul dalang-dalang yang secara cerdas mengkreasi wayang. Salah satunya adalah dalang Ki Enthus Susmono yang telah menciptakan Wayang Rai Wong atau Wayang Berwajah Manusia. Wayang Rai Wong hanya salah satu dari delapan jenis wayang ciptaannya. Ciptaannya yang lain adalah Wayang Ramayana Pesisiran, Wayang Planet Kombinasi, Wayang Wali dan tokoh terkenal, Wayang Prayungan (campuran gaya Solo dan Cirebon), Wayang Golek Purwa Rai Wong, Wayang Golek Cepak Rai Wong, Wayang Klasik Gubahan dan Aneka Gunungan. Koleksi Wayang Rai Wong ciptaan Enthus kini menjadi salah satu koleksi Museum of Folk Art di New Mexico (Amerika Serikat) dan MuseumTropen (Belanda).
Asep Sunarya, yang menciptakan tokoh Si Cepot, yakni wayang golek yang rahangnya bisa bergerak-gerak dan menarik busur panah tanpa bantuan dalang, juga telah melampaui pakem wayang golek. Kresinya ini membuahkan dianugerahinya gelar Professor oleh Institute International De La Marionnette di Charleville, Prancis.
Ki Mantep dan Ki Anom Suroto, juga kerap mengajak para pelawak, penyanyi dangdut dan campur sari dalam pementasannya. I Made Sidia bahkan mengombinasikan antara musik tradisional dengan musik kontemporer modern yang dimainkan oleh orang Amerika Serikat, tatkala menggelar pertunjukan bertajuk &idquo: Balinese Shadow Pupperty- Spring 2009&rdquo, di gedung Konsulet Jenderal Republik Indonesia, New York.
Penyampaian dalang dengan menggunakan bahasa yang tidak lagi akrab dengan khalayak, menyulitkan penyampaian cerita dan pesan yang disampaikan. Karenanya, tak ada salahnya menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh khalayak. Maharsi, dalang asal Semarang saat menggelar petunjukan di Hannover, Jerman, juga banyak menggunakan bahasa Jerman, meskipun terbata-bata. Dalang Ki Mantep Sudarsono juga tak menabukan penggunaan bahasa asing. I Made Sidia, dalang asal Bali juga tak alergi dengan penggnaan bahasa asing dalam pementasan wayang. Unsur yang terpenting adalah bagaimana agar gagasan dan pesan bisa dipahami secara luas oleh masayarakat.
Institusi pendidikan mengemban pula visi memasyarakatkan wayang. Nilai-nilai dan ajaran moral yang terkandung dalam wayang, merupakan nilai universal. Karenanya, sangat layak, wayang dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Wayang melalui tokoh-tokoh sentral dari lakon-lakon tertentu mengajarkan nilai-nilai yang secara dogmatis tidak sebagai suatu indoktrinisasi, tetapi ia menawarkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai kepada siswa dan guru pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya. Jika di Inggris wayang telah di masukkan dalam kurikulum pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga lanjutan tingkat atas, di Indonesia pun sebenarnya bisa karena ragam wayang kita jauh lebih banyak dan terkandung nilai moral dan filosofis di dalamnya. Pelajaran moral yang bisa dipetik dari tokoh Bisma misalnya, adalah pentingnya kerjasama dan persatuan. Dalam nasehatnya kepada Raja Drestareta, ia mengatakan “Semut saja bisa bersatu, mengapa manusia tidak?”. Pernyataannya tersebut dilatar belakangi oleh ketidak setujuannya dalam mengatasi konflik antara pandawa dan kurawa dengan membagi negara Hastina menjadi dua. Resi Wyasa dalam tokoh Mahabarata, juga mengajarkan bagaiamana berbuat tulus dan ikhlas, mensyukuri anugerahNya, tidak berbuat aniaya terhadap orang lain meskipun telah menyakitinya.
Ikhtiar untuk memasyarakatkan wayang dengan kreasi dan inovasi, hendaknya jangan dianggap sebagai upaya subversi terhadap pakem. Namun sebagai bagian dari gerak maju wayang itu sendiri. Perkembangan masyarakat dengan budayanya semakin dinamis. Jika para pelaku dan pecinta wayang tak mampu mendinamisasikan wayang, bisa dipastikan bahwa wayang akan semakin dilupakan oleh masyatrakat. Dibutuhkan sinergi antara kreasi dari pecinta wayang dengan semua pihak seperti lembaga pendidikan, guna memasyarakatkan wayang.
*) Peneliti Center for Social Science and Religion( CSSR), Surabaya.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Sanggar Gong Murmas Tetap Eksis

thumbnail
Oleh : Putu Sugih Arta*
Perjalanan seni tradisi di pulau Lombok bisa dibilang belum terkontaminasi budaya asing. Kemurniannya ditunjukkan dengan model lakon pentas yang masih ketat menjunjung pakem.
Seperti halnya, Sanggar Gong Murmas Desa Gondang Kabupaten Lombok Utara yang mempertunjukkan kebolehannya di gedung open stage Taman Budaya NTB, 4 April 2009 lalu.
Sanggar Gong Murmas yang mementaskan lakon Cupak Gurantang ini ternyata mempunyai keunikan sekeha/anggotanya yang rata-rata berumur lebih dari 60 tahunan. Namun, semangat pentas yang ditunjukkannya itu ternyata sempat mempesona ratusan penonton yang di antaranya beberapa tamu mancanegara.
Menurut penuturan Amaq Jamisah (75 thn) sanggar teater tradisi ini didirikan oleh Amaq Dawi dan Amaq Narsi (alm) sebelum penjajah Belanda masuk ke Lombok yakni sekitar tahun 1800an. Kemudian, pada zaman Jepang kerapkali dipesan untuk menghibur serdadu Kempetai yang baru turun istirahat akibat kelelahan ikut perang melawan Belanda di laut Jawa. “Sedangkan pada masa kemerdekaan, pengkaderan terus dilakukan untuk menghibur masyarakat yang melakukan syukuran. Hasil pengkaderan, belum sepenuhnya berhasil sehingga beberapa tokoh inti seperti putri Daha yang diperankan oleh Inaq Sidah, Gurantang oleh Amaq Hartadi dan Pengatur lakunya yang berusia sembilan puluh lima tahun merupakan sisa seniman-seniman pada zaman Jepang,” ujar Jamisah, yang sampai saat ini adalah Bendahara Sanggar Gong Murmas.
Cerita Cupak Gurantang yang berkiblat pada cerita panji zaman kerajaan Kediri (Jayabaya ) ini mengisahkan tentang Putri Daha yang cantik jelita diculik oleh Daitya, raksasa yang sangat ditakuti oleh golongan manusia. Dua orang menteri yang ditugaskan menjaga sang putri ternyata tak mampu berbuat banyak. Raksasa itu kebal oleh tusukan senjata mereka. Saking sayangnya, Raja Daha pada putrinya maka disayembarakanlah pada semua orang, dengan hadiah siapapun yang berhasil mengembalikan putrinya akan dihadiahi putri Daha dan diangkat menjadi putra mahkota.
Suatu hari datanglah Cupak dan Gurantang yang mengikuti sayembara itu. Mereka berhasil. Namun, sepulang mereka berdua, mereka berpikir tak mungkin keduanya akan menjadi pemenang. Maka Cupak yang menggunakan muslihat akhirnya menjerumuskan Gurantang. Tapi, akhir cerita perbuatan Cupak yang jahat akhirnya ketahuan. Cerita ditutup hapy ending antara Gurantang dan Putri Daha.
Penampilan kelompok seni bisa dikatakan datar saja, masih perlu menyesuaikan dengan panggung yang didesain secara modern. Buktinya, pentas mereka selalu mengabaikan bloking sehingga kesannya alergi dilihat penonton langsung.“Hal tak lepas dari umur mereka, secara rasional tentunya sudah pada lupa pada naskah, maka kesannya tidak menarik, harus secepatnya dikadernisasi,” ujar Rusmadi, S.Sn.
Sedangkan menurut budayawan Djalaludin Arzaki ( 70 thn) , pemerintah dalam hal ini Dinas kebudayaan dan Pariwisata hendaknya respon terhadap penyediaan fasilitas pentas berupa open stage di daerah asalnya yakni di Kecamatan Gondang. Mengingat wilayah Gondang yang memungkinkan, tepat berada di lereng Gunung Rinjani. Kenapa? Berkaitan dengan Visit Indonesia Year, Nusa Tenggara Barat bisa menjual destinasi budaya dan alam Gunung Rinjani sekaligus. Sebelum tamu mau mendaki gunung, disuguhi dulu kesenian tradisi berupa pentas Cupak Gurantang.“Kondisi ini kalau saya bandingkan dengan negeri Jepang yang pernah saya kunjungi. Sebelum naik puncak Fujiyama, banyak atraksi bisa kita nikmati. Sebagai tamu saya sangat puas tatkala itu,” lanjutnya sembari mengingat kejadian yang pernah dialaminya tempo hari.
*)Budayawan, tinggal di Mataram.KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Perkembangan Bahasa Indonesia Di Tangan Masyarakat

thumbnail
Guru besar Linguistik Fakultas Bahasa dan Seni Unversitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Kisyani Laksono, mengatakan, perkembangan Bahasa Indonesia berada di tangan masyarakat.
"Perkembangan Bahasa Indonesia itu berada di tangan masyarakat, bukan Pusat Bahasa atau lembaga lainnya," kata anggota Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa itu.
Menurut dia, masyarakat berhak menentukan sebuah kosakata layak digunakan sebagai bahasa sehari-hari atau tidak. "Termasuk kosakata yang bisa dimasukkan ke dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), juga berdasarkan perkembangan yang terjadi di masyarakat," katanya menegaskan.
Ia mencontohkan kata "radar", yang merupakan singkatan dari kata asing "Radio and Range" telah diterima sebagai sebuah kosakata di dalam KBBI. "Apalagi kalau sekadar kata `differential abilities` yang disingkat menjadi `difabel`, sebagai pengganti kata penyandang cacat, sangat bisa diterima di dalam KBBI. Sebenarnya kata ini sudah lama ada," kata Kisyani.
Namun menurut dia, kata itu baru dimasukkan dalam KBBI Edisi Keempat, setelah kosakata "difabel" semakin banyak digunakan masyarakat, terutama kalangan media massa. "Tapi yang perlu diingat, penentu akhir dari sebuah kosakata itu adalah masyarakat dan tidak tertutup kemungkinan sebuah kosakata baru itu akan mati, karena tidak banyak digunakan oleh masyarakat," katanya menjelaskan.
Kemudian dia mencontohkan kata "sangkil" yang biasa digunakan untuk menyebutkan sesuatu berdaya guna atau efisien dan kata "mangkus" yang memiliki arti mujarab atau mustajab. "Dua kosakata ini dulu sering dimunculkan oleh surat kabar nasional. Tapi apa yang terjadi? Kedua kosakata ini tidak banyak dikenal dan dipergunakan masyarakat, dan akhirnya kedua kosakata ini mati," katanya mengungkapkan.
Kisyani Laksono yang juga anggota Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa, mengatakan ratusan bahasa daerah di Indonesia, keberadaannya hingga saat ini terancam punah karena sudah jarang sekali digunakan. "Ada ratusan bahasa daerah yang sebelumnya berkembang di sejumlah wilayah di Indonesia, kini keberadaannya terancam punah," kata Kisyani Laksono yang juga anggota Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa.
Pada bulan Oktober 2008, Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa telah berhasil memetakan 442 bahasa daerah. "Namun ratusan yang lain, sampai sekarang susah dipetakan," katanya.
Ratusan bahasa daerah yang terancam punah itu, kebanyakan berada di Papua dan Maluku, sebagaimana hasil pemetaan Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa selama tahun 2008. “Beberapa bahasa daerah yang mendekati kepunahan itu, rata-rata penuturnya tinggal satu hingga dua orang. Itu pun sudah berusia lanjut, sehingga susah sekali untuk dikembangkan," katanya.
Meskipun demikian, lanjut Kisyani, Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa masih akan melakukan pemetaan lagi untuk mendapatkan kemungkinan bahasa daerah yang mendekati kepunahan itu bisa dikembangkan lagi. "Tentu saja, kami juga akan melibatkan tokoh masyarakat untuk mendorong perkembangan bahasa daerah itu," kata Guru Besar Linguistik Fakultas Bahasa dan Seni di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu.
Sebelum terjun ke lapangan, Tim Pemetaan Bahasa Daerah Pusat Bahasa telah mempelajari beberapa literatur sejarah dan cerita rakyat sebagai referensi keberadaan sebuah bahasa daerah. Di dunia, ribuan bahasa juga terancam punah, baik di negara berkembangan maupun di negara maju, karena pengguna bahasa itu menurun.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Pembuatan Film Indie Harus Peka

thumbnail
Para pembuat film indie harus peka dalam melihat realitas yang terjadi di masyarakat agar film memiliki unsur menghibur dan mendidik. "Peran komunitas film indie untuk mendidik penonton melalui film agaknya sudan terlupakan akhir-akhir ini," kata pembuat Fim indie yang tergabung dalam film `9 matahari` dalam diskusi terbuka bertajuk `Kreatif dengan Film Indie,` di Unisba Bandung, Rabu pekan lalu.
Dikatakannya hal itu merupakan dampak karena putusnya mata rantai antargenerasi dalam komunitas film indie. “Banyak anggota komunitas film indie yang kemudian tiba-tiba menghilang. Ini membuat anggota yang baru masuk ke dalam komunitas indie memulai dari nol lagi, karena tidak adanya transfer ilmu dan wawasan dari generasi yang sebelumnya,” terang Danny.
Ikatan dalam komunitas film indie tidak solid. Inilah kemudian yang menjadi penyebab banyaknya komunitas-komunitas film indie yang potensial di Bandung kemudian bubar.
Menurutnya, saat ini hanya sedikit komunitas film indie yang masih bertahan, itu pun hanya komunitas film indie di kampus.
Dikatakannya, saat ini ada empat tema yang mendominasi cerita film indie. Empat tema tersebut adalah percintaan, seksualitas, kekerasan, dan narkoba.
Ia sangat menyayangkan hal tersebut, karena film merupakan media propaganda gagasan yang paling efektif, jadi sangat disayangkan jika tidak dipergunakan untuk menyampaikan pesan yang baik kepada masyarakat. “Lagipula, masalah di masyarakat bukan hanya empat hal itu saja. Masih banyak masalah lain yang mungkin jauh lebih menarik jika diangkat dalam film,” tutur Danny.
Pengkayaan gagasan dalam film indie saat ini sangat jarang terjadi. Dikatakannya, sekarang semakin sulit menemukan pembuat film indie yang berpikir “out of box” atau “di luar kotak”.
Hal yang sama juga terjadi pada produksi film-film layar lebar. “Lihat saja, film-film di bioskop itu didominasi oleh film horror. Masyarakat pasti jenuh dan bosan melihat film dengan tema seperti itu terus menerus. Inilah kesempatan bagi pembuat film indie untuk menampilkan tontonan alternatif bagi masyarakat,” katanya dilansir Antara.
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Yang Penting Love Peace

thumbnail



Anedda Sindy Pandini
Dara manis blasteran Indo Italia ini tampak begitu terpesona saat berdampingan dengan moge HD. Menurutnya, sang legenda Harley Davidson dengan kegagahan dan stylistnya memiliki daya pikat luar biasa baik bagi kaum adam maupun kaum hawa. Namun di balik itu, pemilik hidung bangir ini mengaku prihatin dengan pembesut HD yang kerap arogan. ‘’Suara motor gahar, tampang sih boleh apalagi saat konvoi yang dikawal polisi. Kadang mereka jadi arogan di jalan. Kalo udah kayak gitu, aku jadi kurang respek,’’ sebut pecinta hitam putih ini.
Berbeda dengan rekan sejawat HD yakni Vespa. Menurut gadis yang doyan turing ini, kehadiran skuter di belahan dunia manapun tetap melegenda, hanya para pembesut Vespa lebih kalem. Dengan menyelami kisah kendaraan berteknologi sederhana yang memiliki bentuk unik bagai binatang penyengat (lebah), menjadikan putri kedua dari tiga bersaudara ini mulai melirik kendaraan dengan bagian belakang membulat ini sebagai rujukan jalan-jalan sore. ‘’Kesannya klasik aja gitu. Salam ya untuk si pantat seksi. Kapan-kapan aku mau turing bareng klub Vespa deh,’’ ujarya mengumbar senyum nan manis.
Pemeran video klip Ready to Fly dari Rio Febrian duet bareng Ammy Pearson ini menilai, HD dan Skuter sama-sama miliki keunikan dan fans. ‘’Aku sih cinta damai aja. Baik HD atau skuter, yang penting nggak arogan and love peace,’’ tambah Sindy. (YUNI)

Biodata
Nama : Anedda Sindy Intan Pandini
Panggilan : Sindy
Tempat Tanggal Lahir : Denpasar, 23 Desember 1989
Tinggi/Berat Badan : 167 cm/45 kg
Pendidikan : New Media (Desain Grafis)
Orang Tua : Anedda Alessandro (Ayah)
Ni Nyoman Sari (Ibu)
Alamat : Batubulan, Gianyar
Prestasi :
- Fashion Show Cok Abi
- FTV (Janji Si Cantik) di Kuta (2008)
- Main Video Clip Rio Febrian (duet sama Ammy Pearson) Ready To Fly Kuta (2008)
Motor Favorit : HD, Vespa
Agency : Belby Enterprise
Jl Bhineka Nusa Kauh I Blok P/119
Telp (0361) 7430478 Dalung Permai, Badung-Bali
Lokasi Pemotretan : Chopper Heaven
Jl Melasti 71X Kuta, Bali
Fotografer : Gede Sustrawan & Putu Wirnata

KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Serial Winnetou Kembali Hadir

thumbnail
Lima buku seri Winnetou untuk remaja karya penulis Jerman legendaris Karl May, yakni "Anak Pemburu Beruang", "Hantu Llano Estacado", "Harta di Danau Perak", "Raja Minyak" dan "Mustang Hitam" kembali diterbitkan.
"Saya menganjurkan remaja untuk membaca buku-buku ini. Winnetou dan kawan-kawan tidak hanya memenuhi rasa ingin tahu soal petualangan mereka, tetapi lebih dari sekedar itu, memberi teladan akan keberanian, kepahlawanan, dan kemanusiaan," kata Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UI Prof Riris Sarumpaet MSc Phd yang membahas mengenai lima buku tersebut di Wisma Antara Jakarta, Selasa (31/3).
Ia menyayangkan, generasi sekarang tidak membaca buku yang baik, misalnya membaca buku-buku komik seperti Vagabond, Manga serta buku-buku Chicklit yang tidak mendidik. Generasi muda sangat menentukan masa depan bangsa Indonesia, karena itu jika mereka salah memilih buku maka akan suramlah masa depan bangsa.
Sementara itu, Ketua Paguyuban Karl May Indonesia (PKMI) Pandu Ganesa yang menerbitkan kelima buku itu bersama Pustaka Primatama mengatakan, sebagian dari buku-buku yang sama itu, pernah terbit di Indonesia pada tahun 1960-an dari naskah Belanda. "Buku-buku yang terbit sekarang diterjemahkan langsung dari naskah aslinya yang berbahasa Jerman," kata pecinta Karl May itu.
Buku-buku Karl May yang diterbitkannya di Indonesia selain buku-buku serial untuk remaja tersebut, juga serial "Winnetou I: Kepala Suku Apache", "Winnetou II: Si Pencari Jejak", "Winnetou III: Winnetou Gugur", "Winnetou IV Ahli Waris Winnetou", "Old Surehand I: Oase di Llano Estacado", "Old Surehand II: Jefferson City".
Juga buku serial "Kara Ben Nemsi I: Menjelajah Gurun", "Kara Ben Nemsi II: Penyembah Setan", "Kara Ben Nemsi III Petualangan di Kurdistan", "Kara Ben Nemsi IV: Kafilah Maut", "Kara Ben Nemsi V: Dari Bagdad ke Stambul", serta komik-komik Winnetou dan Old Shatterhand serta buku "Dan Damai di Bumi".
Winnetou, ujar Pandu, meski berkisah tentang petualangan di negeri "wild west" namun tidak bernuansa pertumpahan darah. Kemenangan Winnetou dan Old Shatterhand selalu bernuansa kecerdasan, kebijakan serta dipenuhi pesan kemanusiaan. "Ia hidup seratus tahun lalu, namun pemikirannya sudah sangat maju dengan pernyataannya bahwa bangsa Eropa merupakan bangsa pencuri tanah, kolonialisme sama dengan terorisme, dan bagaimana Barat berutang budi pada dunia Timur," katanya seraya menambahkan bahwa Karl May yang kontroversial ini sempat dimusuhi karena pendapatnya itu.
Buku-buku karya Karl May sedikitnya terdiri dari 80 judul buku dan terjual hingga lebih dari 125 juta eksemplar, belum termasuk edisi bahasa asing yang tak kurang diterjemahkan dalam 39 bahasa dunia.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Optimalisasi Pendidikan Lewat Angklung

thumbnail
Optimalisasi peran angklung sebagai media pendidikan untuk membentuk karakter bangsa yang berbudaya menjadi perhatian utama Saung Angklung Udjo (SAU).
Sam Udjo mangatakan apresiasi angklung di dunia pendidikan Indonesia baru sebatas program ektrakulikuler sedangkan di sekolah-sekolah asing sudah mengembangkannya menjadi salah satu kurikulum kesenian. "SK dari Depateman Pendidikan sudah ada soal angklung dalam pendidikan di Indonesia namun yang terjadi sekarang malah sekolah-sekolah asing yang mengembangkan angklung," kata Sam Ujdo saat dalam seminar "Pendidikan dan Bisnis Angklung di kawasan wisata budaya SAU Bandung.
Ia menambahkan dengan bermain angklung bisa mengasah otak manusia sehingga menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan. Oleh karena itu, pendidikan angklung lebih menekankan pada anak-anak pra sekolah dan sekolah dasar karena pada usia ini otak manusia dalam masa perkembangan atau "golden age". "Apabila anak bisa memainkan satu not saja dengan benar maka kemampuan seninya akan meningkat," kata Sam.
Senada dengan Sam Udjo, Biakman Irbansyah, staff pengajar Program Magister Universitas Indonesia mengatakan tujuan strategis dari pendidikan seni dan budaya adalah untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing dengan bangsa lain. "Pendidikan seni harus menjadi stimulus dan akselilator pelajaran untuk meningkatkan daya saing bangsa Indonesia di dunia," tegas Biakman.
Selain itu, Biakman berpendapat bahwa seniman di Indonesia masih takut mengkomersialkan kebudayaanya ditambah kurangnya peran aktif pemerintah untuk mengapresiasi seni sehingga kesenian di Indonesia tidak berkembang. "Kita akan kebakaran jenggot jika pihak asing sudah mengklaim kesenian kita," katanya dilansir Antara.
Seni dan budaya dapat menstimulus perekonomian dan geliat ekonomi Indonesia dapat di tingkatkan, katanya menambahkan.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009