Kurikulum Wajib Toga

thumbnail
Membangun budaya dan hidup sehat secara alami. Itulah salah satu kesadaran global yang tumbuh di berbagai belahan dunia saat ini. Bahkan masyarakat di negara Eropa –pusat penelitian dan pengembangan obat-obatan kimia- mulai menoleh warisan dan budaya hidup sehat yang terpendam dalam peradaban dunia timur.
Yoga misalnya, mulai dipelajari orang Amerika dan Eropa karena konsep yoga yang memadukan gerak tubuh dan pernapasan ternyata efektif menyehatkan tubuh dan berpengaruh lurus terhadap pengembangan sikap moral. Seorang yang tekun mempelajari yoga akan diperciki kesadaran diri untuk hidup menyatu dengan alam, mencintai lingkungan hidup dan hidup selaras dengan alam semesta.
Selain yoga, pusat-pusat pengobatan alternatif berbasis obat-obat herbal mulai dikembangkan. Proses pengobatan atas suatu penyakit kini tidak sepenuhnya menjadi “wewenang mutlak” paramedis modern. Masyarakat di negara maju rupanya sadar bahwa pola hidup sehat sebenarnya sudah diwariskan sejak ribuan tahun lalu. Ada berbagai rahasia pengobatan kuno yang belum terungkap. Juga ada ribuan obat herbal berkhasiat yang belum dipopulerkan atau dikembangkan.
Pemerintah Indonesia tidak perlu malu meniru Cina dalam pengembangan pengobatan tradisional. Seorang siswa kedokteran sejak awal ditawarkan untuk memilih spesialisasi pengobatan medis barat atau menekuni warisan pengobatan tradisional khas Cina. Ini berarti, eksistensi pengobatan tradisional diakui, dikembangkan dan dilindungi oleh pemerintah.
Belum ada kata terlambat bagi pemerintah Indonesia mencantumkan materi tentang pengenalan tanaman obat keluarga (toga) dan pengetahuan manfaat jamu dalam kurikulum wajib di lembaga pendidikan. Terutama pada lembaga pendidikan yang dikelola Departemen Kesehatan seperti Akademi Perawat dan Akademi Kesehatan.
Kurikulum wajib tersebut diharapkan pula diisi penjelasan tentang berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai instansi penelitian. Dengan begitu siswa atau mahasiswa di sekolah atau akademi tersebut dapat mengikuti perkembangan dunia usaha jamu, terutama di Indonesia.
Selain itu, pemerintah terus mendorong rakyat untuk memanfaatkan pekarangan rumah menjadi apotek hidup. Lingkungang menjadi asri dan penghuninya pun memperoleh manfaat kesehatan. Semoga!
KORAN PAK OLES/EDISI 177/15-30 JUNI 2009

Citra Jamu Lokal

thumbnail
Dr Somvir, seorang praktisi yoga asal India yang menetap di Bali senantiasa menyerukan kepada masyarakat modern agar kembali menggunakan obat-obatan herbal yang ada di alam. Apalagi leluhur bangsa Indonesia mewariskan tradisi minuman jamu yang sudah amat populer. Ia amat kagum dengan warisan obat-obatan herbal dari leluhur bangsa Indonesia.
Apalagi menurut Direktur Utama PT Sido Muncul, Irwan Hidayat, tanaman obat di Indonesia saat ada sekitar 30.000 jenis. Hanya sekitar 1.475 jenis yang baru dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan jejamuan. Selain itu, jumlah industri jamu di Indonesia masih sedikit, padahal permintaan cukup besar. Celah pasar ini memungkinkan masuknya obat-obatan herbal dari luar negeri seperti Cina, Korea, dan Arab.
Di sisi lain, beberapa tahun terakhir ini masyarakat negara maju lebih menyukai pengobatan tradisional yang menggunakan bahan dari tumbuh-tumbuhan. Padahal kita ketahui sebelumnya mereka amat fanatik menggunakan obat bahan sintetik. Inilah trend "gelombang hijau baru" (new green wave) yang amat menguntungkan pengembangan industri jamu di tanah air. Kesadaran masyarakat dunia mulai meningkat bahwa pemanfaatan bahan yang bersifat alami lebih aman dari bahan yang mengandung zat kimia.
Sayang kesadaran itu mulai terkontaminasi dengan praktek produksi jamu illegal yang marak di Indonesia. Belakangan ini publik mulai membatasi kebiasaan mengonsumsi jamu tradisional. Alasannya sangat sederhana. Bukan karena mereka tidak tahu khasiat alami jamu tradisional. Tapi lebih karena rasa takut jikalau jamu yang dikonsumsi adalah jamu oplosan yang mengandung obat-obatan kimia berbahaya.
Bahaya jamu oplosan memang telah menyurutkan minat masyarakat untuk membangun gaya hidup sehat berbasis herbal. Tapi industri jamu tak bisa dibiarkan mati suri, terutama industri jamu rumahan. Karena itu, peran pemerintah bisa ditunjukkan dengan kampanye dan iklan layanan masyarakat berupa seruan agar masyarakat Indonesia lebih mencintai jamu dalam negeri. Tentu saja upaya memperbaiki citra jamu lokal ini perlu didukung dengan ijin farmasi yang telah menjalani uji laboratorium.
Perhatian pemerintah, menurut Ketua Umum Gabungan Perusahaan (GP) Jamu Charles Saerang, dalam hal penelitian dan pengembangan industri jamu nasional perlu direvisi. Peran penelitian Departemen Kesehatan dan Departemen Perindustrian kerap tumpang tindih. Karena penelitiannya tumpang tindih, hasilnya juga tidak seperti yang diharapkan. Saat ini sebanyak 30 ribu spesies tanaman potensial di Indonesia yang belum diteliti. Sebanyak 300 spesies sudah dinyatakan sebagai tanaman obat yang memiliki benefit dan baru 100 spesies yang sudah diolah menjadi jamu. Sedangkan lima spesies tanaman obat yang jadi unggulan dan perlu diperhatikan pemerintah dalam pengembangan risetnya adalah jahe, temu lawak, pegagan, sambiloto dan kencur.
Penelitian dan dukungan terpadu dari pemerintah tentunya bakal menghapus kesan bahwa industri jamu berjalan sendirian. Mengingat di bidang ini ada 3 juta tenaga kerja yang terserap. Kalau pengusaha jamu dan pemerintah mendukung penuh pengembangan jamu lokal bukan tidak mungkin tenaga kerja yang terserap bisa mencapai kisaran belasan juta. Semoga.
KORAN PAK OLES/EDISI 176/1-15 JUNI 2009

Demokrasi & Perut Lapar

thumbnail
Demokrasi tidak pernah lahir di tempat penduduk desa yang perutnya lapar. Sebaliknya budaya demokrasi mudah bertumbuh di saat perut “wong cilik” kenyang. Hubungan demokrasi sebagai sistem politik dengan kemakmuran rakyat tak dapat dipisahkan. Tak heran Amartya Sen, mantan guru besar Universitas Harvard, AS, seorang pemenang Nobel di bidang ekonomi, menyebut peristiwa terpenting yang mendominasi kehidupan manusia abad 20 silam adalah demokrasi!
Kekuasaan monarki absolut tumbang ketika rakyat menuntut persamaan hak & kewajiban, kebebasan dan kemerdekaan pribadi. Sejarah demokrasi amat panjang dan penuh kisah yang tertulis maupun terpahat di hati manusia. Pada tahun 1215 di Inggris, eksistensi demokrasi dipertegas dalam Magna Charta Libertatum, disertai penegakan dengan pertumpahan darah dan taruhan nyawa dalam revolusi Amerika dan Perancis pada abad ke-18. Kekuasaan kerajaan tumbang dan diganti oleh pemerintahan republik. Kemudian sistem demokrasi itu diimplementasikan di Eropa dan Amerika Utara pada abad ke-19 dalam bentuk pemungutan suara.
Baru pada abad 20, demokrasi diterima di mana-mana sebagai sistem politik yang normal. Meski terjadi tarik menarik wewenang antara hak pemerintah dan hak rakyat, namun demokrasi paling tidak menjadi model terbaik membangun sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.
Pengakuan Amartya bukan sekedar cuap-cuap teoretis tetapi ilmuwan kesohor ini telah membuka landskap pemahaman komprehensif bahwa ada korelasi kuat antara demokrasi dan kelaparan rakyat di suatu negara, antara kemacetan nilai-nilai demokrasi dan menurunnya kesejahteraan masyarakat, dan atau antara pengekangan kehidupan demokrasi dan kemelaratan nelayan di sebuah negara maritim.
Sejarah pertumbuhan dan perkembangan bangsa dan negara Indonesia menjadi miniatur pelajaran historis kebenaran pendapat Amartya. Cornelis de Houtman asal negeri Kincir Angin, Belanda berulang kali menelan air liur melihat lezatnya kekayaan alam bumi Nusantara. Apalagi Kerajaan Ternate dan Tidore di Maluku kala itu benar-benar bertumpu pada hasil bumi.
Pada tahun 1945, Indonesia memproklamirkan diri sebagai negara merdeka secara de fakto dan de jure. Namun Belanda dan sekutunya kembali melakukan invansi militer untuk menguasai kembali negeri kolam susu dan madu ini. Mereka sudah merasakan sendiri bahwa hasil perkebunan dan pertanian di Indonesia telah mendatangkan keuntungan berjuta-juta golden bagi APBD Belanda yang sempat defisit.
Fakta historis di atas seharusnya menjadi suatu kebanggaan bagi ratusan juta manusia yang lahir di Republik ini bahwa mereka menjadi penduduk di wilayah yang kaya akan sumber daya alam. Apalagi sebagai negara kepulauan, luas lautan melebihi 70% dari luas daratan ini. Ini berarti masa depan rakyat ini ada di laut.
Namun sebuah perasaan sedih dan duka yang menyayat hati sekaligus rasa malu tak terkira bahwa penduduk negeri ini hidup melarat. Bahkan untuk membangun negaranya saja terpaksa menjadi bangsa pengemis dan peminta-minta di mata donatur internasional. Lebih melukai perasaan kemanusiaan, ratusan ribu warga negara ini terpaksa menyambung hidup di negeri lain. Ada yang diperkosa, dianiaya dan mati terbunuh. Sebegitu rendahkah harga diri manusia Indoneia. Apa yang salah di negeri tercinta ini. Pemerintah, pendidikan, tentara, wakil rakyat atau kita mendapat kutukan penguasa semesta menjadi ‘ayam yang kelaparan di atas tumpukan jerami’? Kutukan itu membuat mata hati kita buta untuk melihat kemampuan dan potensi diri yang luar biasa hebat.
Seacara tegas harus dikatakan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan penduduk negeri ini akibat pemasungan dan pengkhianatan penguasa terhadap pertumbuhan nilai-nilai demokrasi. Sejak awal pendiriannya, para founding fathers telah meletakan dasar negara Republik sebagai bentuk negara ideal yang mendekati negara demokrasi.
Ternyata kapitalisme global yang menjadi “racun demokrasi” ditambah dengan pemerintah yang korup telah memberikan bencana yang maha dahsyat bagi semua generasi di Indonesia. Kita berharap ekonomi kerakyatan yang diusung setiap capres dan cawapres kita tidak sebatas materi kampanye merebut mandat rakyat pada pilpres Juni 2009.
KORAN PAK OLES/EDISI 175/16-31 MEI 2009

Ironi Dialog Kepentingan

thumbnail
Kegelisahan dasariah yang bersemayam di dada penguasa bukan soal suksesi. Bayang-bayang kecurigaan adalah hantu yang senantiasa menghampiri setiap pemimpin. Tidaklah mengherankan bila Nero yang bingung membakar sendiri kota Roma yang menjadi simbol kemegahan Kekaisaran Romawi.
Sejarah kekuasaan adalah kisah yang selalu terkejut. Ceritera hidup yang kerap terpenggal tanpa ending. Selalu mulai lagi dari penuturan awal dengan latar kisah, alur dan kehadiran tokoh yang baru. Itulah kisah hidup yang kini tengah terjadi di negeri ini.
Meski filosofi kekuasaan sering dihiasi bunga-bunga pengabdian demi rakyat maupun negara, tapi karakter kekuasaan adalah kecurigaan itu sendiri.
Sematang apapun kepribadian seorang raja, ratu, perdana menteri, presiden tetap saja ia tertular “virus” kecurigaan. Sebab kekuasaan selalu memberi wewenang, otoritas, mandat dan hak prerogatif pada seseorang. Dan, setiap wewenang yang diemban tak pernah lepas dari “kepentingan”. Pengembangan ilmu apa saya tidak pernal lepas dari sebuah kepentingan. Penyebaran agama pun lahir dari sebuah kepentingan. Bantuan kemanusiaan juga bergulir dari sebuah kepentingan. Begitu juga politik tidak pernah netral di hadapan kepentingan. Hal inilah yang membuat setiap penguasa selalu curiga kepada lawan dan kawan!
Bukan hal mengagetkan bila gerbong demokrasi ditarik oleh “kepentingan diri” yang didukung oleh mayoritas rakyat. Mazhab demokrasi adalah panggung sandiwara. Meski manusia modern mengagungkan demokrasi sebagai “ideologi” persamaan hak dan kewajiban yang cemerlang, tetapi demokrasi bukanlah akhir.
Demokrasi diidealkan sebagai ruang dialog kepentingan. Sampai saat ini, sekat-sekat dialog yang memungkinkan “harapan” rakyat bersemi belum sepenuhnya terwujud. DPR masih menjadi ladang pekerjaan yang diburu para pengangguran. Para pemimpin negara kerap dipilih bukan karena programnya tetapi karena rasa kasihan. Akrobat politik yang cantik dipamerkan para calon presiden. Konstituen terbuai dan memilih atas dasar “kepentingan” yang lahir dari rasa iba! Itulah kenapa calon pemimpin independen tidak menemukan ruang tumbuh di negara demokrasi seperti Indonesia.
Tidak apa-apa. Demokrasi adalah sejarah dialog yang panjang. Kita juga tidak akan menyangka kalau di pilpres 2014, setiap kandidat capres/cawapres diuji oleh tim panelis. Atau di tahun 2045, lahir pemimpin bermental kapitalis nasionalis. Semua gerak pembangunan demi kesejahteraan rakyat bukan demi kelanggengan kekuasaan. Semoga rasa cinta, sayang dan harapan suci di hati petani, nelayan, pemulung yang terbangun di pinggiran kota dan setiap pojok desa dihargai. Mereka hanya ingin anak, isteri, suami dan orang terkasih tidak mati kelaparan di Republik ini.
KORAN PAK OLES/EDISI 174/1-15 MEI 2009

Belajar Dari Caleg Stres

thumbnail
Pasca pemilu legislatif 9 April lalu, calon legislatif (caleg) yang gagal meraih suara menjadi perhatian public. Ada yang kaget lalu jantungan dan meninggal. Ada yang depresi berat, murung dan bertingkah laku aneh. Beberapa di antaranya diantar keluarga ke rumah sakit atau klinik alternatif untuk mendapatkan perawatan intensif.
Rata-rata para caleg yang stres tersebut kecewa karena sudah banyak uang yang mereka keluarkan selama kampanye, membiayai tim sukses, membuat poster atau baliho yang terpampang di setiap sudut kota. Sebuah sinyal bahwa kursi dewan legislatif bukan lagi menjadi kursi pelayanan tetapi kursi basah bergelimang rupiah. Menjadi anggota dewan bagi sebagian caleg berarti: Kesempatan Untuk Mengembalikan Pengeluaran. Mungkin terkesan berlebihan, tapi jawaban ini kita maknai sebagai suatu awasan. Tentang kiprah politisi pasca pemilu ini.
Masih segar dalam ingatan publik, pengakuan pengalaman sekelompok masyarakat (bisa mewakili sebagian besar masyarakat). “…sebelum pemilu, banyak sekali orang dan partai datang kepada kami. Mereka memberi ini dan itu. Mereka begitu murah hati. Tapi setelah pemilu, tidak ada satu pun yang datang, berpapasan pun tidak menegur..?”.
Bagi kita, ini sebuah pengakuan yang tulus dan jujur sekaligus mendefenisikan siapa dan apa kiprah politisi pra dan pasca pemilu. Lebih dari itu, mengekspresikan sebuah harapan tak kunjung henti, kerinduan yang tak bertepi, untuk dikunjungi dan diperhatikan. Sebuah kerinduan yang sebenarnya ironis.
Memang, apa sesungguhnya politik dan politisi serta kiprahnya agak sulit dirumuskan. Hal ini dilatarbelakangi oleh luasnya bidang cakupan politik. Luasnya cakupan politik telah melahirkan aneka ragam deskripsi tentang politik. Politik menjadi diskursus yang hangat di setiap tempat dan waktu, menjelang dan sesudah Pemilu. Sebagian besar orang misalnya, memberi batasan politik sebagai”tipu”. Politik itu tipu. Ini bisa dibenarkan karena pengetahuan dan pengalaman politik konkret mereka lebih diwarnai dengan janji. Politik sama dengan janji, dan janji sering tinggal janji. Makanya mereka melihat politik dengan tipu. Politik juga disamakan dengan tipu karena politik lebih merupakan suatu kebijakan yang tidak dapat dipercaya untuk menggapai tujuan-tujuan tertentu. Suatu kebijaksanaan yang tidak bijaksana. Artinya, politik merupakan kemampuan para politisi untuk menggunakan kesempatan, menangkap peluang dan kemauan berbuat lebih demi memperkaya diri dan golongan.
Terlepas dari beragamnya rumusan politik, stereotip negatif tentang politik tetapi terdapat suatu esensi yang pasti dan sebenarnya akan hakikat politik itu. Politik yang benar harus bisa membebaskan dan memerdekakan. Membebaskan dan memerdekakan manusia dari kesewenangan, kebohongan dan ketidakadilan. Berdasarkan artian ini, politik memiliki makna esensial, mengemban sebuah misi kemanusiaan. Memperjuangkan pemanusiaan manusia. Itulah hakekat politik yang sebenarnya. Karena peran etis dan mulia inilah, maka dituntut politisi yang berwatak, berkepribadian, menjunjung tinggi harkat dan mertabat manusia. Dan ditolak habis-habisan politisi busuk. Tapi apakah benar, politisi busuk benar-benar telah dibebaskan dari arena politik pasca pemilu? Semoga!
KORAN PAK OLES/EDISI 173/16-30 APRIL 2009

Pembudayaan Kemiskinan

thumbnail
Potret kemiskinan di berbagai daerah di Indonesia nampaknya terus menampilkan panorama yang kian tak berubah dari peluncuran program demi program bermerek dagang kemiskinan. Kian terpuruk wajahnya pasca krisis multidimensi yang melanda Indonesia bahkan sebelum terjadinya krisis ekonomi sejak 1997. Di balik realita-realita kemiskinan yang terkesan terus tercecer, keseriusan pemerintah pun tampak ke permukaan global, masih kalah ngetop untuk meretas realita yang menghimpit setiap anak negeri yang hidup di kolong langit bumi Katulistiwa.
Sebagai sampel, kita semua bisa beranjak dari data hasil rangkuman penelitian dari Kantor Statistik Nasional tahun 1996 dan 1999. Disebutkan, secara matematis, prosentase kelompok yang dianggap miskin kronis, --rumah tangga yang akan dianggap tetap miskin selamanya-- bertambah (bukan berkurang dan berkurang) dari 20% hingga 35%. Proporsi kelompok ini dikategorikan sangat memiliki tingkat kerentanan yang tinggi (high vulnerability) hingga miskin berlipat dari 6,8% menjadi 18,4%. Diperkirakan, total rumah tangga Indonesia yang akan tetap miskin di masa datang dapat melonjak dari 16,4% menjadi 27,2%. Inilah realita, sekalipun masih bisa dipercayai sebagai sebuah penelitian tercecer, tidak menyeluruh atau menasional.
Juga realita lain yang ''meng-ada'' atas nama kemiskinan, justru tak terbilang jumlahnya. Tentu semua kita belum mau merasa bosan-bosan tentang beragam program, bila enggan mengatakan proyek tentang pengentasan kemiskinan. Hampir setiap tahun, tetap saja ada program mementingkan pengentasan kemiskinan di Indonesia, tetapi seakan tidak pernah ditemukan adanya perbedaan mengemas program-program kemiskinan tersebut.
Secara santun, kapan kemiskinan bisa berlalu dari tanah tumpah darah tercinta ini? Bila belum ada jawaban yang serius dan praktis, maka benar bahwa definisi yang digariskan pemerintah terkait kemiskinan didasarkan pada indikator-indikator realitas kaum-kaum latah yang miskin secara fisik yakni dilihat dari lensa teknokrat dan utilitarian. Karenanya, didefinisikan dengan indikator-indikator yang tidak mencukupi. Buktinya, jenis tembok rumah atau lantai sebagai salah satu indikator dimaksud.
Harus diakui, indikator kemiskinan seperti itu, bisa diperoleh melalui transaksi jual beli di toko, super market, kios-kios bangunan di sekitar kita. Karena semua bahan bisa dibeli. Benarlah pernyataan bahwa petani di Indonesia tetap menjadi makhluk yang sangat lemah daya saingnya, tertindas, terbelakang dan tetap termiskin. Bahkan anak-anak petani tidak sudi lagi menjadi petani karena masa depan yang suram, kotor dan miskin.
Di lain pihak, para elite politik, pejabat dan pengambil keputusan, masih menganggap dirinya sebagai dewa penyelamat petani. Mereka mencoba selamatkan nasib petani melalui bantuan dan proyek, untuk meningkatkan taraf hidup petani. Bantuan dan proyek terus mengalir setiap tahun atas nama petani dan kesejahteraan, tetapi petani tetap saja miskin. Sebaliknya pejabat dan konsultannya semakin makmur.
Tentu proyek itu tidak ingin diselesaikan segera. Artinya, kemiskinan petani dapat dijual dengan harga tinggi, menjadi proyek-proyek bahkan proyek tak berkesudahan per tahun anggaran. Ada semacam program pembudayaan kemiskinan. Semoga rakyat tidak tertipu caleg-caleg pengangguran yang miskin visi dan misi pembangunan kerakyatan.
KORAN PAK OLES/EDISI 172/1-15 APRIL 2009

Kelelahan Orientasi Pers

thumbnail
Kemiskinan terdahsyat bukanlah kemiskinan material, tetapi kemiskinan akan mental dan ideologi. Kenyataan ini menjadi inspirasi bagi insan dan praktisi pers dalam memaknai perguliran industri pers di era kapitalisme global.
Idealisme pers Indonesia dipatenkan sebagai jiwa yang menentukan bobot eksistensi pers di tengah masyarakat. Menyuarakan suara nurani rakyat dan bergerak menjadi guru bangsa adalah cerminan ideologi pers yang tak tergusur sekalipun oleh intervensi pemilik modal.
Visi dan misi pers lahir dari sebuah spiritualitas yang menjadi sumber inspirasi, kekuatan dan pembentukan karakter pribadi maupun perusahaan. Kata spiritual berasal dari bahasa Latin yakni spiritum yang berarti hembusan napas atau roh dan semangat. Spiritualitas adalah suatu semangat, cita-cita bersama yang menjadi landasan berpijak setiap individu maupun kelompok organisasi dalam melakukan suatu pekerjaan.
Maju mundurnya sebuah lembaga pers sangat tergantung pada kekuatan spiritualitas yang membentuk karakter dan kualitas sumber daya manusia yang dimilikinya. Aspek ini meliputi ethos yaitu karakter moral yang menjadi dasar bagi kemampuan melakukan pendekatan (sejati, baik dan sabar), pathos kemampuan untuk menyentuh perasaan guna menggerakkan orang secara emosional dan logos kemampuan untuk memberikan alasan yang meyakinkan atas sebuah tindakan, guna menggerakkan orang secara intelektual.
Karena itu rekrutmen SDM tetap didasarkan pada kualitas intelektual dan integritas pribadi menghidupi hakekat pers sebagai suluh informasi bukan sebagai mesin uang.
Di sinilah letak tantangan bagi insan pers Indonesia untuk mengasah insting jurnalistik dengan membangun habitus: menulis dan terus menulis sebagai roh eksistensi. Menulis menjadi gerak batin untuk berbagi fakta dalam sekat kejujuran. Menulis menjadi ruang dialog yang terbuka bagi pluralitas nilai, kemanusiaan, dan eko-teologi yang memandang alam sebagai sebuah keutuhan.
Insan pers dikatakan miskin ideologi bila orientasi pembangunan pers dikerdilkan semata-mata sebagai “penciptaan pasar” bukan bergerak menuju institusi “penciptaan nilai”. Tinggal sekarang kesetiaan pelaku pers untuk terus bergerak memberi nilai dari peliputan dan sasaran berita yang ditebar di ranah publik.
Di sisi lain, pekerja pers bukanlah anjing penjaga eksistensi pendirian sebuah lembaga pers. Pekerja pers adalah pribadi yang diundang untuk berbagi nilai dan mencurahkan benih refleksi sesuai visi dan misi pers yang dibangun.
Sayang banyak lembaga pers berguguran dan mati bukan karena pemilik dan pengelolanya kehilangan orientasi ideologis atau “kehabisan uang”. Tetapi mereka terjebak akut dalam kelelahan orientasi. Situasi ini kerap terjadi saat jurnalis menjadi mesin pekerja bukan individu pencipta nilai. Dan, pemilik media lalai menetapkan tapal batas penjelajahan informasi itu sendiri. Dengan kata lain, rubrikasi/bidang liputan yang melenceng dari “sejarah awali” pendirian pers adalah kematian bagi pers itu sendiri. Betapa banyak insan pers yang tak menyadari media informasi yang susah payah dibangun tengah mati suri. Bravo Pers Indonesia!
Koran Pak Oles/Edisi 169/16-28 Februari 2009

Sekat Kebersamaan

thumbnail
Abad 21 disebut-sebut sebagai abad perayaan nilai-nilai demokrasi yang sudah diretas sejak zaman Yunani klasik. Memang benar. Institusi monarkhi dengan kekuasaan absolut di tangan raja atau kaisar mulai bertumbangan. Eksistensi kerajaan tetap dipertahankan sebagai warisan kebudayaan bukan lagi sebagai estafet kekuasaan.
Satu spirit demokrasi yang unggul ialah kebersamaan di atas perbedaan. Ada interaksi lintas kebudayaan tanpa topeng dominasi atau hegemoni mayoritas terhadap minoritas. Namun keagungan demokrasi mulai ternoda oleh arus globalisasi yang ikut menularkan benih-benih kapitalisasi raya. Kebersamaan dan pertemanan lintas negara dibangun erat hanya bila ada persamaan kepentingan. Negara-negara Timur Tengah misalnya, membiarkan kejahatan kemanusiaan terjadi di negeri Palestina. Kepentingan ekonomi atau kenyamanan dalam “perlindungan sayap” Amerika Serikat menjadi target kebijakan politik luar negeri mereka.
Di sisi lain, berbagai media massa di Indonesia berlomba-lomba membangkitkan sentiman keagamaan atas tragedi agresi militer terhadap Palestina. Konflik perebutan tanah digiring menjadi konflik agama. Padahal rakyat Palestina ada yang Islam, Katolik, atau Kristen Maronit. Selain itu, ada sebagian warga dan tentara Israel yang menolak aksi kekerasan militer Israel jarang dipublikasikan. Sebuah bukti nyata bahwa kebersamaan masih dibangun dalam sekat-sekat keagamaan, kepentingan dan kesukuan.
Tantangan para pemimpin bangsa saat ini adalah merekatkan kebersamaan di atas perbedaan. Memang sulit. Tapi setidak-tidaknya kesadaran ini menjadi visi yang hidup di benak penghuni bumi ini. Tanpa paradigma baru “sekat kebersamaan” yang sejati, kita akan terus menyaksikan ketakutan primitif yang memborbardir manusia modern. Yaitu: ketakutan akan ancaman pembunuhan, pembantaian massal (genocide), bom bunuh diri, perampokan dan perang nuklir.
Beribu sayang, ketakutan massal yang kini mencengkram benak manusia modern tidak dapat dihapus dengan siraman rohani ataupun khotbah moral yang berapi-api. Toh, perangkat moral dan tatanan agama pun dieksploitasi dan diekplorasi sekehendak hati menjadi benteng pembenar rangkaian aksi brutal. Bagaimana, mantan Presiden AS George W Bush mengklaim dirinya ditempatkan Yesus Kristus di Gedung Putih. Lalu, ekspansi brutal ke Irak atas kehendak Tuhan? Kekerasan dan kebiadaban diciptakan manusia tetapi Tuhan ‘dipaksa’ untuk ikut bertanggung jawab? Apakah trend pigura 21 mencatat nafsu suci manusia menjadikan Tuhan sebagai manusia berbudi, karsa dan karya? Ataukah, manusia modern memformulasikan secara baru ke-tuhan-an versi Friedrich Nietzsche: Tuhan adalah Aku (Übermensch). Untuk konteks ter(aktual)isasikan: Bush menjadi tuhan dan Amerika adalah surganya??? Lembaga PBB adalah bala malaekatnya dan Israel (termasuk sekutu AS) adalah nabi yang diberi misi khusus menjaga ‘kehendak kudus’ tuhan Amerika di Bumi Timur Tengah dan Negara-negara miskin, termasuk Indonesia!?
Kita berdoa semoga Presiden AS yang baru Barack Obama yang disebut sebagai “orang baik” oleh Presiden Venezuela Hugo Chaves dapat memercikkan api kebersamaan di atas perbedaan. Obama tidak lagi mengulang kezaliman Bush di atas muka bumi ini. Dan, jangan lagi kita meletupkan kebersamaan dan persaudaraan hanya karena seiman, seagama atau sepersekutuan doa. Agama adalah inspirasi bagi manusia untuk hidup seturut kehendak Pencipta bukan alat untuk membangun kebersamaan politik semata.
Koran Pak Oles/Edisi 168/1-15 Februari 2009

Dewa Aristokrat Mati

thumbnail
Dunia memasuki malam gelap! Hitam dan gulita. Akhir tahun 2008 telah dikenang sebagai tahun kematian dewa kapitalis. Perusahaan-perusahaan raksasa sekelas Google yang menjadi simbol harta karun investasi masa kini kelimpungan. Sergey Brin dan Larry Page yang piawai mengasah naluri bisnis di ladang maya telah mem-PHK 100 karyawan di awal tahun 2009.
Jauh sebelumnya, perusahaan-perusahaan tua hingga medioker berlomba-lomba merumahkan karyawan. Semburat duka, kesedihan, dan kekalahan terpantul di setiap wajah penyembah dewa pencitraan kaum aristokrat Eropa itu. Pengusaha-pengusaha super kaya sekaliber Roman Abramovich menderita “virus migraine”. Was-was memikirkan pertumbuhan ekonomi yang melambat, lonjakan bunga bank dan beban utang yang bertambah.
Kematian dewa kapitalis di abad 21 ini diiringi suara tangisan yang membahana dari manusia-manusia lintas benua. Dukacita massal terjadi karena kemajuan ilmu dan teknologi membuat penghuni bumi akrab dalam mobilitas maupun interaksi. Dan, kematian itu menimpa dewa yang dikejar-kejar berkatnya oleh miliaran manusia.
Mistikus Spanyol Juan de la Cruz (24 Juni 1542 – 14 Desember 1591) dari desa kecil Fontiveros, menulis dengan rasa eksotik pengalaman malam gelap jiwa. Moment spiritual yang menghampiri setiap manusia yang merasakan Allah dekat namun jauh. Sangat jauh tapi amat dekat! Perasaan tersiksa di sekujur tulang jiwa menyadari Allah “seakan” telah mati. Harapannya sirna. Tonggak-tonggak keyakinannya roboh. Ia tak berdaya. Semua keindahan spiritual yang dikejar seperti menjadi fantasi kosong di siang bolong. Pengorbanan waktu, terutama hasrat batin sia-sia belaka. Itukah kado indah bagi mereka yang mengarahkan energi rohani untuk menyatu dalam sembah dan doa kepada Yang Kuasa?
De la Cruz dan para mistikus mewariskan satu kata hiburan untuk setiap manusia yang mengalami “malam gelap-pahit getir-duka nestapa” kehidupan: CINTA! Semua boleh hilang dalam kehidupan ini. Harta ludes tak masalah. Emas dan uang lenyap bukan persoalan berat. Sahabat, anak dan kekasih silahkan berlalu. Tapi gerak batin untuk terus mencintai tak boleh pudar.
Cinta adalah suara nurani yang terus berdetak lintas generasi. Ia tak pisah dipadamkan apalagi ditumpas oleh rudal rezim. Cinta adalah suara kebenaran yang bergema dalam relung sukma. Ia terus hidup meski berbagai peradaban tumbang dan tumbuh. Cinta adalah kendaraan terakhir sekaligus harta jiwa.
Ideologi kapitalis awalnya mengagungkan cinta sebagai “élan vital”; daya hidup untuk berkreasi. Manusia berlomba-lomba dengan gairah pengabdian kepada ilmu pengetahuan untuk mengungkap rahasia-rahasia alam. Dogma “cinta” inilah yang dijadikan senjata negara-negara kapitalis untuk memberangus komunisme dalam segala alirannya.
Sayang, kapitalisme pongah karena “cinta” hanya menjadi mesin raksasa penyedot kenikmatan badani. Kompetisi didewakan. Daya saing menjadi kredo iman kaum kapitalis. Wabah kerakusan adalah tipikal manusia yang sudah terjangkiti virus kapitalis. Kekuasaan dikejar dan dipertahankan dengan seribu satu cara. Tentunya menghalalkan segala jalan. Tak heran, penduduk-penduduk lemah hanya jadi penonton “ketidakadilan” hidup di alam yang satu, sama dan seudara.
Kita bersyukur dewa kapitalis telah terjungkal dari singgasananya. Meski kita harus melewati “malam gelap-krisis ekonomi” mahadashyat di tahun 2009, namun biarkan suara-suara cinta terdengar merdu dalam batin. Alam dalam segala kelimpahannya akan tetap memberi kecukupan untuk manusia, tapi tidak cukup untuk keserakahan! Dan, kekuatan alam pun akan melindungi cinta sejati yang tumbuh dalam jiwa yang berani berkorban dan memberi dengan tulus.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009

Menapaki 365 Hari Di Tahun 2009

thumbnail
Inspirasi selalu bernyanyi; karena inspirasi tidak pernah menjelaskan! (Paul Amalo).
Waktu dalam ruang imajinasi adalah gudang yang setia menampung barisan ide. Serba luas, tanpa kapasitas dan setiap orang bebas menghapusnya hanya dengan lupa.
Di sana juga kita dimanjakan untuk menyimpan bayang-bayang kelepasan hidup. Impian kesuksesan dipahat dengan semangat kerdil yang tertatih-tatih. Setiap kita bebas menabur mimpi-mimpi “terkotor” hingga “tersuci” di alam khayal. Mungkin tentang sekeping keenakan hidup tanpa ternoda keringat susah payah. Atau harapan yang membara meraba-raba kerinduan hati yang tak pernah terpenuhi di ruang kesadaran.
Waktu dalam bilik imajinasi selalu penuh dengan ekspresi instant diri ideal. Itulah sisi lain “waktu” sebagai “bintik-bintik sejarah” yang menguap tanpa menjelma jadi fakta. Kekecewaan mencengkram pribadi-pribadi yang menganggap barisan impian tak lebih dari dongeng.
Ketidakmengertian misteri waktu menyeruak hadir saat kita coba mengartikan waktu sebagai perjalanan hidup. Waktu adalah kesadaran! Hidup menjadi berarti ketika manusia sadar “orgasme spiritual” adalah penemuan indah jati diri manusia. Gairah mengumbar hawa nafsu badani hanyalah mengotori waktu hidup yang amat pendek. Bahkan merusak waktu hidup yang indah. Sayang semua orang perlu waktu untuk menyadari hidup adalah berbagi hati, empati dan kasih.
Spirit memaknai waktu inilah yang kerap hilang saat warga dunia merayakan pergantian tahun. Waktu dengan amat rendah disanding dengan keinginan manusiawi. Padahal hasrat insani dimatangkan dalam parade waktu. Semoga kita tidak terbuai dalam kemeriahan pesta tahun baru tanpa meluangkan waktu merefleksikan tujuan hidup hakiki.
Manusia lahir dan bertumbuh dalam waktu. Kitapun jatuh cinta dan merasakan kehangatan pelukan penuh kasih sayang tidak setiap waktu! Sewaktu-waktu kegelisahan dan rintihan batin dalam pagutan kepahitan hidup akrab menghampiri manusia.
Makna waktu hanya ditemukan mereka yang membiarkan inspirasi selalu bernyanyi, karena inspirasi tidak pernah menjelaskan. Kita menyanyikan syair Indonesia yang makmur. Umat Allah menapak tangga kuil dengan perut terisi. Saudara kita sujud bersyukur dengan badan bugar. Dan, teman terdekat duduk bersila dengan wajah tenang karena isteri anaknya hidup sejahtera.
Mari kita gunakan waktu hidup yang terus bergulir untuk membuat hidup jadi makin bermakna. Karya jadi amal dan doa jalan penuntun hidup kita. Selamat menempuh hidup baru di tahun 2009!
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009

Kita Perlu Jalan Baru

thumbnail
Untuk menjadi bangsa yang maju dan memiliki daya saing global, pembangunan di Indonesia memerlukan jalan baru! Carut-marut wajah reformasi selama 10 tahun terakhir menjadi bukti bahwa spirit menuju Indonesia baru masih sebatas wacana.
Agenda reformasi berantakan karena pergesekan kepentingan politik dan hegemoni kelompok aliran. Nilai-nilai Pancasila yang mengakomodir kebhinekaan dicampakkan. Perbedaan agama, budaya, adat istiadat, maupun suku kerap diperdebatkan dengan sikap batin yang jauh dari kematangan dan prinsip-prinsip kemanusiaan. Akibatnya bangsa ini mengalami kemunduran dalam menata misi kebudayaan dan kemanusiaan.
Saatnya, negara membentuk ‘dewan reformasi’ yang beranggotakan kelompok kecil lintas agama, suku dan tidak mewakili kepentingan politik partai tertentu. Mereka adalah budayawan dan filsuf yang berdiam di setiap kota/kabupaten.
Peran dewan reformasi ibarat nabi yang terus “berteriak-teriak” di jalan-jalan kebenaran. Artinya, agenda-agenda dasar reformasi di bidang pendidikan, hukum, ekonomi, politik dan pertahanan negara perlu dirumuskan dan dikawal secara strategis. Mana substansi permasalahan dari setiap bidang yang mendesak untuk diperbaharui. Mana hal-hal ideal masa lalu yang harus dipertahankan demi kemajuan bangsa.
Di bidang politik, harus diakui bahwa ada perubahan dan perbaikan amat mencengangkan di ranah demokrasi. Bila dibandingkan dengan negeri tetangga seperti Thailand dan Myanmar, kita bersyukur masih unggul dalam kematangan berdemokrasi. Namun biaya politik saat ini sangat menguras keuangan negara. Kita gagal membangun fondasi kepartaian yang kuat. Ini karena akrobat politisi di Senayan yang kerap terjebak dalam kepentingan politik temporer. Rakyat kini bingung menjatuhkan pilihan pada partai yang berjumlah puluhan itu. Bisa-bisa, pilihan rakyat pada partai tertentu karena terjebak pada “kamuflase iklan” untuk pencitraan partai.
Di bidang pendidikan selama era reformasi terjadi kemerosotan mutu pendidikan yang luar biasa. Siswa sekolah tidak terpacu lagi untuk belajar lebih gigih. Contohnya, saat ujian tiba, siswa-siswa sekolah tidak “jatuh-bangun” mempersiapkan diri. Sebaliknya, kepala sekolah dan para guru yang “pontang-panting” berpikir bagaimana agar anak didik mereka lulus ujian. Hal yang amat lucu, usai ujian kita mendengar ada kepala sekolah atau oknum guru yang dijemput polisi karena dugaan pembocoran soal ujian.
Di bidang sejarah bangsa terjadi kemunduran mahadashyat. Politik rekonsiliasi tidak berjalan lancar. Padahal sejarah masa lalu yang jelas dan terang adalah harta karun untuk membangun masa depan. Kita gagal memetakan mana sejarah kelam yang perlu diluruskan. Contohnya, generasi muda masih bingung soal fakta kelam 30 September 1965: apakah PKI sebuah partai politik saat itu punya senjata dan strategi militer untuk membunuh pucuk pimpinan militer angkatan darat yang berpengaruh saat itu? Demikian juga dosa-dosa kebijakan rezim Sukarno sampai Suharto perlu diungkapkan secara hukum, lalu dimaafkan sebagai bagian dari persoalan masa lalu. Sayang spirit reformasi ini hilang ditelan akrobat kepentingan politik. Generasi mendatang yang amat dirugikan!
Demikian pula di bidang pertahanan dan keamanan negara masih mengikuti “strategi kependudukan” militer penjajah dengan membangun pangkalan militer di Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Padahal negeri ini adalah negeri kepulauan yang membutuhkan visi baru pertahanan regional. Basis-basis pertahanan militer apa salahnya ditempatkan di setiap pulau terluar di negeri ini. Dengan demikian, migrasi lokal ke pulau-pulau yang masih kosong disenergiskan dengan kebijakan transmigrasi. Rakyat merasa aman bermigrasi karena dilindungi oleh pertahanan militer.
Sementara bidang pertanian dan agroindustri yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan tidak menjadi lokomotif perekonomian negara. Padahal dari sektor pertanianlah kita berharap tumbuh industri-industri lokal berskala nasional. Yang terjadi selama ini, Indonesia menjadi pasar produk-produk jadi pertanian dari negara lain. Ironisnya, bahan bakunya berasal dari Indonesia.
Dari catatan di atas yang masih jauh dari lengkap, agenda reformasi perlu dikawal budayawan dan filsuf, termasuk mahasiswa dan duta-duta kemanusiaan yang tersebar di berbagai kampus dan daerah! Mereka akan selalu menjaga “jalan baru” kebangkitan Indonesia.
Koran Pak Oles/Edisi 165/16-31 Desember 2008

Revolusi Akbar Konvergensi Media

thumbnail
Gelanggang dunia “online” saat ini menoreh sensasi dan kejutan historis yang membawa perubahan serba baru, cepat dan simultan melintasi batas-batas negara maupun benua. Situs-situs berita dan jejaring sosial membentuk tali temali informasi yang melampaui kecepatan media-media konvensional. Daya jelajah berita ibarat virus yang mudah berjangkit dengan sekali klik mouse. Hemat biaya, waktu dan tenaga (gampang)!
Kiprah dan eksistensi media “online” dengan daya jangkau yang luas, efektif dan mudah diakses penghuni jagat raya ini serta merta melahirkan “revolusi konvergensi media” yang tak terhindarkan lagi. Konvergensi (penggabungan massal) merupakan reposisi eksistensi media massa di awal abad 21 yang elegan tanpa terjebak dalam bentrokan paradigma media konvensional vs progresif.
Presiden terpilih Amerika Serikat Barack Obama sukses melangkah ke Gedung Putih karena efektif memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook, My Space, Linkedin, You Tube, Friendster, hingga Twitter untuk menghimpun dana kampanye sekaligus membangun lingkaran “pertemanan” maya.
Sebuah contoh bahwa kehadiran internet tidak bisa disepelekan lagi. Ditambah lagi media online (situs-situs berita) dengan cepat memberitakan berbagai peristiwa yang terjadi dalam hitungan detik. Demikian pula kiprah para blogger yang kian kreatif menyampaikan buah pikiran maupun pengamatan terkini di lapangan. Sesuatu yang tidak kita temukan di media cetak sebelumnya. Sebuah peristiwa hari ini baru bisa dibaca khalayak pada keesokan harinya. Tentunya peramu warta media cetak tidak lagi mengklaim diri sebagai pembawa berita aktual.
Media konvensional seperti media cetak, televisi dan radio mulai meretas konvergensi media dalam bentuk portal berita. Publik dapat mengakses dengan cepat dari berbagai tempat soal berita, audio, gambar dan rekaman atas sebuah kejadian. Portal-portal berita seperti compas.com atau detik.com mulai terbuka mengakomodir suara warga untuk turut berpartisipasi menyumbang “kepingan” opini publik melalui blog. Nah, inilah tantangan bagi para blogger untuk mempertajam konten. Sementara media-media cetak lokal tinggal menunggu waktu ditinggalkan pembaca (terutama kaum muda) bila terus menutup mata terhadap arus suara warga.
Tak heran bila CEO MNC Sky Vision Handhi S Kentjono mengatakan pertumbuhan iklan di media internet dalam kurun 2007-2010 akan tumbuh 23 persen. Dari semua media yang ada, media berbasis internetlah yang terus mengalami pertumbuhan. Sedangkan perkembangan media cetak akan turun. Jumlah pengguna internet dunia dalam delapan tahun terakhir, sebut Handhi, melonjak tajam 305 persen. Catatan saja, pada tahun 2000, jumlah pengguna internet dunia hanya sekitar 360,9 juta. Namun, tahun ini, jumlahnya sudah mencapai 1,4 miliar orang.
Sementara prosentase iklan menurut Handhi merujuk pada data tahun 2006 menunjukkan bahwa iklan di koran sebesar 28,4 persen. Angka ini diprediksi akan mengalami penurunan sampai di tahun 2010 menjadi 23,3 persen. Internet yang tahun 2006 pemasukan iklannya hanya 6,8 persen akan berkembang dalam empat tahun yang akan datang. Perlahan tapi pasti angka itu akan semakin naik, kata Handhi dalam seminar nasional bertajuk "New Media: Akhir Media Konvensional?" yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Sanur Beach Paradise Hotel, Bali, Kamis (27/11).
Sementara CEO Kompas Gramedia Group Agung Adiprasetyo melihat era konvergensi media sebagai pilihan strategis untuk menjangkau konsumen lebih luas. Saatnya bagi media cetak berpikir untuk menggabungkan diri dengan dunia online agar tetap bisa bertahan.
Agung menambahkan, internet juga memiliki beberapa keunggulan dibanding media lain. Beberapa di antaranya target audience yang luas, segmen audience yang beragam, hingga dapat diakses seharian penuh.Faktor-faktor tersebut membuat peluang iklan di internet terbuka lebar. Tinggal bagaimana seseorang melihat potensi itu dan memanfaatkannya dengan baik.
Hal ini dilakukan setelah melihat mahalnya biaya cetak dan peminat untuk membaca koran yang sudah mulai berkurang. Meski begitu kehadiran media online tidak serta merta mematikan eksistensi media konvensional. Tantangan inilah, ujar Agung, yang membuat Kompas mulai aktif menggabungkan dengan online.
Pandangan CEO MNC Sky Vision Handhi S Kentjono dan CEO Kompas Gramedia Group Agung Adiprasetyo melecut para pramu warta (jurnalis) untuk tidak berhenti berkarya sebatas pemburu berita yang “gaptek” (gagap teknologi). Demikian pula pemilik (investor) dan pengelola media cetak harus cerdas “membaca” tanda-tanda zaman agar butiran informasi yang terus dirakit, diramu dan dipercantik dalam media konvergensi “suatu saat” menjadi mutiara-mutiara informasi yang mengendap di alam bawah sadar konsumen media “online”. Apa yang tertulis akan terus tertulis selama perangkat digital mengabadi dalam perguliran perbadaban. Tulisan di kertas koran akan punah dan dilupakan. Tapi barisan tulisan, foto, gambar dan rekaman di media “online” akan terus menyapa setiap pribadi baru, termasuk generasi baru, para remaja muda dan cucu kita. Dari liang lahat kita akan terus menyebar virus informasi yang tersimpan dalam server-server jejaring sosial.
Koran Pak Oles/Edisi 164/Desember 2008

Menjadi Generasi Pembaca

thumbnail
Mana yang lebih penting di jaman ini: bekerja tekun mencari uang atau menghabiskan banyak waktu produktif untuk membaca? Benarkah seorang kutu buku yang duduk diam menikmati bacaannya selama berjam-jam bisa menghasilkan uang? Dengan kata lain, apa manfaat langsung yang bisa kita timba dari kegiatan membaca? Rentetan pertanyaan di atas amat sederhana, namun mengguncang daya nalar dan membongkar konstruksi budaya instan.
Membangun kebiasaan membaca setiap hari tidaklah mudah. Memang untuk membaca membutuhkan sebuah komitmen yang lahir dari hasrat untuk mengisi, menambah, memperdalam dan memperluas pengetahuan. Semakin seseorang keranjingan membaca, semakin dia sadar banyak hal yang belum diketahuinya. Kehausan intelektual hanya menimpa pribadi-pribadi yang gemar membaca bacaan bermutu!
Secara tidak langsung kebiasaan membaca membuat seseorang semakin rendah hati. Daya refleksinya kian tajam. Ia mulai melihat hidup dari berbagai sisi. Sebuah keputusan yang akan diambil biasanya telah dipertimbangkan dengan matang. Ia sudah memperhitungkan untung rugi. Atau setidaknya, ia mampu memilah mana yang baik dan mana yang harus dihindari.
Demikian pula berbagai fenomena kehidupan dan persoalan kemanusiaan mudah dikupas, ditelaah dan diambil hikmahnya. Ia mudah merancang rekayasa sistem yang absurd menjadi sebuah ornamen kehidupan organisasi, keluarga, masyarakat, dan termasuk bangsa. Orang yang rajin membaca biasanya mulai mengkonstruksi budaya pikirnya, meretas filsafat hidup yang dianutnya dan mulai merumuskan tujuan hidupnya. Jangan kaget, rancang bangun peradaban kerap dimulai dengan tumbuhnya sebuah paradigma pemikiran baru. Semuanya diawali dengan kebiasaan membaca bacaan bermutu!
Sebaliknya, orang yang jarang membaca akan kehilangan daya imajinasi. Daya pikirnya kerdil, sempit dan terbatas. Sebab berbagai kategori pengetahuan dasar di bidang tertentu tidak “singgah” di benaknya. Meski banyak berbicara atau bercuap-cuap, jalan pikiran orang yang malas membaca sering meloncat-loncat dan tidak “berisi”. Alur bicaranya serampangan, tidak teratur dan membosankan lawan bicara. Karena topik pembicaraannya kerap tidak terarah. Bahkan, pengetahuan yang terbatas kerap membuat orang itu dengan amat mudah melihat kehidupan dalam dua pilihan: hitam atau putih. Padahal ada warna: hijau, merah, kuning, coklat, jingga, oranye, biru, abu-abu, dll.
Orang yang berjuang keras untuk selalu membaca setiap hari, setiap saat, atau setiap ada waktu luang, lebih mudah menulis dan menerangkan jalan pikirannya. Orang lain yang membacanya amat mudah menangkap isi hati atau pikiran terdalam si penulis. Bahkan, pembaca yang rajin menulis, lama-kelamaan akan menjadi seniman kata yang bisa menggugah perasaan pembaca lewat karya tulisnya.
Memang benar bahwa aktivitas membaca tidak serta merta mendatangkan uang dalam waktu sekejab. Sejarah telah menggariskan kebenarannya. Hanya orang yang rajin membacalah yang bisa menjadi pemimpin. Setidaknya kehadiran orang itu di sebuah lingkungan tempat tinggal “terlihat” berbeda. Tak heran, orang kaya sering menggaji orang yang gemar membaca untuk menjadi guru, tutor, pendamping bagi anak-anak mereka dalam mendalami bidang pengetahuan tertentu. Contoh terkini adalah figur Barack Obama yang gemar membaca dan menulis untuk menuangkan gagasannya sejak remaja.
Kisah-kisah hebat dan menakjubkan di masa lalu diketahui dan dipelajari lewat warisan naskah-naskah kuno yang ditemukan. Bahkan, ayat-ayat suci buku keagamaan yang diwariskan lintas generasi berasal dari papirus, lontar, atau prasasti. Begitu juga berbagai kearifan leluhur dan warisan pengetahuan pengobatan tradisional banyak dipelajari dari lontar-lontar tua. Sebuah bukti bahwa aktivitas menulis dan membaca adalah tiang penyangga peradaban sebuah masyarakat maupun eksistensi suatu institusi keagamaan.
Di negeri ini, aktivitas membaca sering dianggap sebagai aktivitas pengisi waktu kosong. Setidaknya hal ini bisa kita jumpai di ruang tunggu rumah sakit, loket terminal bus, atau di ruang tunggu bandar udara. Begitu juga di rumah, budaya membaca tergusur oleh budaya menonton sinetron.
Hal yang sungguh disayangkan minat membaca remaja kian menurun. Padahal, prasyarat dasar untuk meraih prestasi atau mencetak kualitas SDM mumpuni dimulai dengan kebiasaan membaca. Kita melihat cara berbahasa kaum remaja amat dipengaruhi oleh bahasa-bahasa iklan maupun sinetron.
Spirit baru kepahlawanan diretas dengan kesadaran menjadi bagian dari generasi pembaca. Membaca itu penting untuk makanan jiwa (otak). Membaca sebagai pengabdian kepada bangsa karena bagian dari proses menuju generasi yang cerdas dan berkualitas. Dan, membaca adalah ibadah karena karya-karya ilahi dikerjakan dengan penuh kesadaran oleh mereka yang tahu untuk apa mereka bernapas; bangun pagi-pagi dan tidur larut malam. Hidup harus berguna untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa. Hanya orang yang gemar membaca mudah menyerap saripati kehidupan yang tersembunyi.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008

Menanti Visi Kebangsaan Capres

thumbnail
Suhu politik di negeri ini memanas. Elite-elite politik mulai memproklamirkan kesiapan diri mereka untuk menjadi calon presiden. Dalam ruang demokrasi, setiap individu memiliki hak untuk memilih dan dipilih. Siapa saja yang saat ini telah menyatakan diri siap bertarung dalam pilpres 2009 patut diapresiasi dengan rasa hormat yang tinggi.
Presiden incumbent Susilo Bambang Yudhoyono kembali ingin memimpin bangsa ini untuk periode kedua. Sebelumnya, beberapa aktivis dan tokoh muda secara terang-terangan mengungkapkan hasrat menjadi calon presiden alternatif dari jalur independen. Dari “markas aktivis” ada nama Fajroel Rahman. Seniman panggung Ratna Sarumpaet pun mengaku siap menjadi presiden. Ada juga kaum muda yang terkesan “mendadak” menyapa publik lewat kampanye iklan bertubi-tubi seperti Rizal Mallarangeng yang tampil dengan visi alternatif. Tak ketinggalan elite politik sekelas Soetrisno Bachir, Ketua Umum PAN yang gencar mengiklan diri dengan slogan “Hidup adalah Perbuatan”.
Sementara beberapa mantan jenderal dengan terbuka menyatakan diri siap membidik kursi RI 1. Ada nama Wiranto, Sutiyoso, atau Prabowo Subianto. Nama terakhir ini paling sering beriklan di televisi setiap hari. Sedangkan partai besar dengan segudang pengalaman sekelas Golkar piawai menyembunyikan calon presiden mereka. Namun langkah mereka amat sistematis untuk mengulangi kesuksesan sebagai pemenang pemilu legislatif seperti pemilu 2004. Dan, bila nanti Golkar mayoritas menguasai parlemen, tentunya mereka amat mudah mendudukkan capres dan cawapres, termasuk juga punya “power” dalam berkoalisi kelak.
Meski Golkar belum terbuka menyatakan siapa capres dan cawapres yang akan diusung pada pilpres 2009 mendatang, beberapa tokoh Golkar sudah mengaku siap menjadi calon alternatif selain Ketua Umum Muhammad Yusuf Kalla. Ada nama Sri Sultan Hamengkubuwono X yang sudah mengumumkan kesiapannya menjadi presiden. Dari kalangan muda ada figur Fadel Muhammad dan Yuddy Chrisnandi.
Dari parade nama calon presiden masa depan Indonesia, kita melihat fenomena baru bahwa pendeklarasian diri menjadi calon presiden ataupun wakil presiden bukan lagi menjadi hal yang tabu di ruang publik. Yang pasti, negeri ini tengah menjalani masa transisi dari periode otoriter menuju era demokratisasi. Karena itu, kita mengapresiasi denga rasa hormat figur-figur tua dan muda yang telah menyatakan diri siap menjadi presiden.
Namun saat ini, Indonesia membutuhkan sosok pemimpin yang bersikap tegas untuk berdiri di atas semua kelompok agama. Sebab konflik agama ataupun pemaksaan pandangan hidup privat di ruang publik sudah begitu akut di negeri ini. Parahnya lagi, negara menjadi perpanjangan tangan yang digunakan kelompok tertentu untuk mengekspresikan pandangan hidup mereka.
Karena itu, saatnya rakyat harus meminta pemaparan setiap calon presiden tentang visi kebangsaan, konsep multikulturalisme dan implementasi eksistensi kebhinekaan suku, agama, ras, golongan di panggung demokrasi. Hal ini amat penting karena negeri ini dihuni oleh beragam penduduk dari Sabang sampai Merauke dengan berbagai agama yang dianut. Perpecahan dan konflik di masyarakat kerap dipicu oleh hegemoni mayoritas terhadap minoritas. Pemimpin yang sejati tidak membiarkan dirinya searus dengan kepongahan mayoritas yang kerap memangkas hak-hak dasar kemanusiaan. Bangsa ini pernah dipimpin Soekarno dan Gus Dur yang meninggalkan jejak nan kuat arti kebangsaan dalam kebhinekaan.
KPO/EDISI 162/NOVEMBER 2008

Keunikan Menuju Keunggulan

thumbnail
Negeri bertahtakan kutukan! Itulah profil pilu yang sempat menyambangi perjalanan bangsa ini. Berkah kesuburan alam dan penduduk yang tumpah ruah dilihat sebagai kemalangan. Bentangan gugusan pulau-pulau yang dibalut nyiur hijau hanya menjadi beban bagi keuangan negara. Suara-suara pesimisme akan kejayaan negeri pusaka ini terus berdentang di ruang publik dalam era reformasi. Apa yang salah dengan negeri kita?
Gaung optimisme menata citra Indonesia Jaya tidak dirintis dengan parade wacana. Sederet aksi nyata menjadi orbit baru garis edar negeri ini. Presiden terpilih diusung partai kecil. Sungguh sebuah “loncatan demokrasi” yang menakjubkan masyarakat internasional. Remaja-remaja muda menoreh prestasi prestisius dalam ajang olimpiade fisika. Sebuah pencapaian karya yang menghapus rasa minder dalam pergaulan antar bangsa. Di beberapa negara, banyak tenaga kerja Indonesia –TKI maupun TKW- yang berkiprah di landasan profesional. Di sisi lain, ruang keberagaman dan kebhinekaan suku, agama, budaya dan ras kian dimatangkan setelah berbagai aksi monokulturalisme ternyata memproduksi perangkat aksi primitif: kekerasan, kebencian, primordialisme dan perpecahan sosial.
Ruang kehidupan di negeri ini menjadi enteng, enak dan nyaman ketika setiap tokoh, pemimpin, elite politik dan pemuka agama menyodorkan rasa hormat sebagai konstruksi kebersamaan. Pintu dialog antara agama dan budaya pun sudah tidak dimulai dengan mempertemukan “benang merah” universalitas. Sebaliknya, pilar-pilar perbedaan keyakinan, pandangan hidup dan aktualitas budaya dipertajam untuk menegaskan keunikan. Itulah yang terjadi saat ini, kala RUU Pornografi dilihat sebagai perangkat hukum formal yang bakal menyemaikan perangkat sikap kekerasan, saling rajam, saling hujat, fitnah dan aksi main hakim di tengah masyarakat.
Penolakan RUU Pornografi di berbagai daerah adalah ekspresi jeritan tali temali ke-Indonesia-an yang dipanggang di atas bara pemaksaan cara pandang privat di ruang publik. Sudut tercecer ini memberikan pelajaran berharga bahwa “kedewasaan” manusia lebih bernilai di tengah hujan emas kekayaan negeri ini.
Dalam relung kesadaran sosial, dasar kemajuan sebuah bangsa tidak bertumpu semata pada kebanggaan akan kekayaan sumber daya alam. Fondasi membangun bangsa yang maju digarap dengan program pembangunan karakter manusia Indonesia yang unggul. Anak-anak bangsa didoktrin untuk mengukir prestasi besar di berbagai bidang. Kalaupun gagal, setidaknya putra-putri pertiwi tidak mungkin gagal dalam membesut “karya-karya kecil”.
Demikian pula, dalam merajut ruang kebersamaan sosial, perlu ditonjolkan spirit eksistensi mayoritas mengayomi minoritas. Di bidang ekonomi, karya-karya manufaktur raksasa menciptakan pasar riil. Dan, dukungan fasilitas maupun program pembangunan pemerintah membuka ruang kreatifitas warga masyarakat. Itulah sketsa sejati membangun ke-Indonesia-an yang tangguh di bidang karakter maupun pemberdayaan potensi masyarakat mandiri.
Kesempatan untuk menjadi bangsa yang besar tidak pernah kabur di tengah kata-kata kutukan terhadap berbagai deviasi sosial maupun mental yang selalu disuguhkan media massa. Entah tawuran pelajaran, aksi mutilasi, pelacuran, korupsi, kekerasan atas nama Allah, kemiskinan, perceraian, dan termasuk aksi bunuh diri. Merajut kebersamaan, kebaikan dan keindahan hidup di alam negeri ini menjadi mungkin ketika perbedaan, keunikan dan kelemahan diketahui. Saatnya kita menjadi bangsa yang tak lupa belajar mengenal kelemahan untuk memperkuat kekuatan tanpa ada dusta dan saling khianat. Cukup sudah kita didustai penjajahan kaum kapitalis neoliberalisme. Cukup sudah bangsa ini dicederai pengkhianatan aksi-aksi primitif berlabel agama, budaya dan golongan.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008

Gelombang Industri Pertanian

thumbnail
Era marketing baru di tengah proses digitalisasi bidang-bidang kehidupan, bangsa Indonesia belum tuntas merumuskan jati dirinya. Setidaknya, belum ada “gelombang industri” yang serius digarap dari hulu hingga hilir dalam bidang tertentu secara nasional dan massal.
Anak-anak muda India mulai merumuskan masa depan mereka ada di pengembangan perangkat digital komputerisasi. Remaja-remaja Cina sejak kecil digembleng menjadi profesional dengan menekuni bakat dan hobi mereka. Entah di bidang olahraga, pendidikan akademis maupun usaha tertentu. Terbukti, prestasi Cina menjulang di bidang olahraga, ekspansi bisnis maupun penelitian ilmiah. Pusaran peradaban dunia pun mulai bergeser dari Washington dan New York menuju Beijing dan Hongkong, termasuk Singapura!

Tetangga terdekat di kawasan Asia Tenggara, Vietnam gencar mengembangkan produk-produk pertanian unggulan. Ternyata, bidang-bidang industri lain bertumbuh cepat. Hal ini menjadi sebuah catatan kecil, bahwa keseriusan sebuah negara menggarap “potensi unggulan” akan berdampak pada pengembangan industri di bidang lain.
Bangsa Indonesia sebenarnya tidak gagap mendeklarasikan potensi unggulannya. Apalagi kalau bukang dunia pertanian. Lahan pertanian masih terhampar luas dari Sabang sampai Merauke. Lahan tidur pun masih banyak dibiarkan terlantar di berbagai daerah hingga pelosok desa. Suasana iklim pun merupakan karunia Allah yang patut kita syukuri. Di negeri ini tidak ada musim salju atau diterpa badai angin topan yang selalu ganas memporak-porandakan negeri Amerika Serikat.
Mengapa bangsa Indonesia tertatih-tatih menapak tangga kemandirian di bidang pangan? Ada apa dengan dunia pertanian di negeri ini? Nyatanya, pemerintah terus menggulirkan dana bantuan maupun program pengembangan sub-sub sektor pertanian.
Visi menata grand desain pembangunan dunia pertanian Indonesia seperti sebuah jalan sunyi nan lengang. Penyair Cina, Lu Hsun pernah berkata, harapan itu seperti jalan setapak yang sepi, Tapi, ketika ada orang yang mulai melintasi dan membabat belukarnya, mulailah yang lain mengikuti.
Sangat sederhana untuk kembali merumuskan jalan sunyi menuju kemandirian pangan. Pertama, program pengembangan potensi produk pertanian tidak boleh seragam. Tugas pemerintah adalah mendukung produk unggulan yang sudah dikembangkan masyarakat di sebuah daerah. Bentuk dukungan itu disertai dengan perbaikan etos kinerja birokrat yang bermental wirausaha. Pejabat birokrat harus diberi target hasil dalam periode tertentu. Jika gagal harus mundur menjadi PNS biasa.
Kedua, pemerintah fokus mengembangkan jaringan pasar dengan investor dalam dan luar negeri. Petani akan serius menanam produk tertentu jika mereka tahu ada yang membeli produk mereka.
Ketiga, komponen pertanian saatnya meninggalkan praktek pertanian berbasis kimiawi dan pestisida. Trend pertanian organik bukan sedekar kampanye ambisius, tapi telah terbukti bahwa manajemen pengolahan dan distribusi pupuk kimia bersubsidi selama ini “mempermainkan” nasib petani; penyebab utama lahan pertanian yang subur menjadi tandus; menciptakan ketergantungan dalam setiap periode tanam; dan merusakkan ekosistem lingkungan termasuk unsur hara dalam tanah.
Jati diri potensi negeri ini ada di medan agraris. Jika dunia pertanian menjadi fokus utama pembangunan di negeri ini, tak lama lagi Indonesia akan menjadi lumbung produk pangan dan nabati dunia. Generasi muda pun kembali tertarik terjun ke industri pertanian terpadu. Sayang, para elite politik yang menjadi pejabat maupun wakil rakyat memandang potensi pertanian secara “Jakartasentris”. Padahal pasar horizontal secara global mendorong pemerintah dan komponen masyarakat menemukan identitas produk yang khas, lalu digarap menjadi produk berkualitas lewat inovasi dan kreativitas di tengah pasar kompetisi.
KPO/EDISI 160/16-30 SEPTEMBER 2008

Selebritas Pemberitaan

thumbnail
Setiap insan dalam segala keelokan talenta menyisir alur kehidupan terberi. Jejak fase kehidupan menghidangkan kerumitan dari masa kana-kanak, remaja hingga dewasa. Di belahan pengalaman kegembiraan maupun semburat duka bercampur tangis bersemi sinar harapan. Ya…manusia mencari dan terus mencari hari demi hari sebuah alasan eksistensial. “Untuk apa saya hidup dan ke mana saya akan melangkah!”
Kegamangan yang amat mendalam ini kerap mendorong manusia masuk dalam alam refleksi. Ada saat di mana seseorang diam hening berbincang intens dengan dirinya. Ia mematangkan pandangan hidupnya secara rohaniah dengan menekuni kitab-kitab keagamaan yang diyakini. Ia menenangkan kegelisahan nurani dengan menyerap butir-butir kebijaksanaan dari orangtua, guru, sahabat dan teman hidup yang dijumpai. Muara penemuan diri berujung pada kerendahan hati: setiap insan –yang berbeda ras, agama dan budaya—adalah duta-duta kehidupan.
Keajaiban terjadi kala seseorang menyadari dirinya sebagai pribadi yang mandiri, bebas dan otonom. Pribadi yang memiliki potensi pengembangan diri dan aktualisasi karakter. Hanya ada satu Barack Obama. Cuma ada satu Sheila Marcia. Juga Osama Bin Laden berbeda dengan Mike Tyson. Setiap pribadi mengukir kisah hidupnya sendiri. Kita tidak ditugaskan untuk bertanggung jawab atas kehidupan orang lain. Namun kesadaran kita akan benih-benih kebaikan membuat kita lebih awas untuk tidak melukai kehidupan dengan amarah, dendam dan iri hati.
Saat ini gendang pengungkapan korupsi terdengar ramai. Silat lidah politikus muda dan tua seperti sebuah ketoprak humor. Pengurus partai maupun tokoh independen gencar mengiklankan diri. Sementara rombongan aktor dan artis yang terlanjur tersohor mencoba peruntungan di panggung politik maupun kekuasaan. Koruptor, aktivis, penjahat sekelas Verry Idam Henyansyah alias Ryan hingga elite politik di negeri ini menjadi “tokoh publik”. Itulah kekuatan selebritas pemberitaan maupun parade iklan yang berlangsung kontinyu.
Setiap saat selalu ada wajah baru maupun lama yang nongol di layar kaca menyapa kita lewat akrobat peran mereka dalam kisah tertentu. Wajah Artalyta Suryani begitu familiar bak artis dadakan. Sosok Roy Surya sang pengamat IT dengan suara analisis terekam akrab di telinga pemirsa. Tawa renyah Oprah Winfrey menyapa bintang tamu sudah seperti suara orang terdekat di hati kita.
Selebritas pemberitaan membuat obyek pemberitaan menjadi subyek tontonan mengasyikkan. Tragedi maupun bencana seperti pentas kolosal di sebuah tempat. Masyarakat digital kerap tak peduli dengan masalah-masalah krusial kemanusiaan dan kehidupan itu sendiri.
Demikian pula di pentas politik, rakyat digiring mendewakan tokoh-tokoh muda yang dicitrakan dinamis dan penuh daya dobrak. Tapi, perangkat-perangkat pencitraan “lupa” bahwa yang tersajikan adalah selebritas wacana, opini, asumsi dan prediksi. Bukan selebritas aksi.
Itulah kelemahan krusial yang membuat kita lupa bahwa setiap kita adalah duta kehidupan. Pribadi-pribadi yang menjadi khalifah Allah di muka bumi ini. Karya kita adalah eksistensi kita. Bakti kita adalah kualitas kemanusiaan kita. Itulah yang tidak tertanam sebagai gerak kesadaran untuk membangun bangsa dengan kerja keras dan karya cerdas. Akibatnya kita (bangsa Indonesia) lamban membaca peluang-peluang usaha. Saatnya kita meneladani bangsa Cina dan India yang mulai menawarkan kejayaan peradaban baru di tengah pudarnya dominasi “peradaban Amerika”. Mereka bangsa yang tekun dan pekerja keras. Apakah manusia Indonesia jarang berkomunikasi dengan dirinya, memasuki alam refleksi sehingga tidak mau tahu bahwa hidup adalah berkarya bukan bermimpi. KPO/EDISI 158/AGUSTUS 2008

Kalkulasi Kenikmatan

thumbnail
SUARA REDAKSI
Dua goresan hitam menyilang tebal pada wajah peradaban negeri ini. Dua guratan duka mengawali kematian sebuah negeri. Pertama, mega skandal korupsi massal legislatif, eksekutif dan yudikatif. Kedua, rentetan eksekusi mati para terpidana mati yang melakukan aksi kriminal karena motif ekonomi.
Dari kedua pahatan peristiwa historis itu, bergulir topik debat publik nan hangat. Bagaimana kalau para koruptor digiring ke tiang pancung -hukuman mati. Alasannya, uang negara yang dicuri selama ini menjadi biang keladi kemiskinan yang menggurita dan membelit rakyat negeri yang kaya sumber daya alam ini. Sedangkan para pelaku kriminal yang ditembak mati hanya menghilangkan nyawa segelintir orang. Sementara kerakusan para koruptor membuat jutaan rakyat hidup terlunta-lunta di medan kemiskinan.
Montesquieu dengan cemerlang menggagas trias politika sebagai pilar-pilar penyangga eksistensi rakyat dan negara. Sebuah cetusan ide yang progresif dalam tataran sistem. Tapi apakah pernah terlintas dalam benak Montesquieu pada tahun 1748 bahwa tiga pilar demokrasi itu pada moment tertentu akan “berselingkuh ria” menghancurkan negara. Ya fakta telanjang “perselingkuhan” terpampang setiap hari di layar kaca dan kertas koran di negeri ini. DPR telah menjadi mafia korupsi uang negara. Kejaksaan diobok-obok karena sudah dari dulu tidak dipercaya kredibilitasnya. Setali tiga uang, aparat birokrat, termasuk mantan pejabat banyak yang dicokok KPK karena ada dugaan mark up tender dan proyek pembangunan.
“Permainan kotor” tiga tiang penyimbang kekuasaan itu menyebabkan angka golput terus meningkat secara signifikan dalam beberapa event pilkada gubernur maupun bupati yang dilakukan secara langsung di berbagai daerah. Meski begitu, negeri ini belum mati. Itu karena masih ada laskar-laskar mandiri yang tidak mau mencicipi sensasi kenikmatan hidup dengan uang haram. Mereka bukan pengikut setia Epikuros (342-271 SM) yang menganjurkan agar orang menjauhkan diri dari kesibukan ber-polis karena kegiatan itu berisiko tinggi terhadap ketenangan jiwa. Mereka juga bukan pengusung idealisme Kantian dan Fichte yang tidak mau menaklukkan diri kepada benda-benda berharga yang ada di alam ini. Siapa mereka?
Para laskar mandiri tidak lain adalah pribadi-pribadi yang tidak mau menjadi budak harta. Tujuan hidup tertinggi bukan pada kepuasan hidup bertabur emas dan dollar. Kalkulasi kenikmatan tertinggi ada pada kebebasan dan kreasi untuk menghasilkan karya berharga lewat sketsa pekerjaan. Kehidupan adalah ruang berbagi cinta, perlindungan, penghargaan, ketulusan dan gairah untuk menciptakan surga damai di dunia. Kru legislatif boleh serakah! Tim Yudikatif silahkan menebar jurus-jurus pemerasan! Grup eksekutif bebas menilep uang proyek! Tapi selama kebeningan nurani belum punah dari bumi pertiwi, detak jantung Republik ini akan terus berdenyut.
Kebahagiaan sejati ditakdirkan menjadi milik pribadi-pribadi yang bukan “tukang-tukang” kekuasaan. Juga kedamaian bersemayam dalam batin yang puas menikmati kehidupan dengan hasil karya. Mereka tidak membunuh karena kemiskinan dan mereka tidak merampok uang negara karena tahu letak sesungguhnya sumber-sumber kenikmatan batin. Karya agung hanya lahir dari jiwa yang setia menatap keluhuran kemanusiaan. Kemalangan selalu menghampiri pribadi yang bersandar pada kekuatan sihir kuasa dan uang.

Etos Pribadi

thumbnail
Sulit dipungkiri bahwa sebuah tantangan -apapun bentuknya- adalah bagian dari proses perkembangan diri, keluarga, organisasi maupun bangsa. Mengubah tantangan menjadi peluang membutuhkan kreativitas dan kesabaran. Dalam dunia kerja, tantangan dan kesulitan datang ketika kita dituntut untuk meningkatkan daya saing. Hanya ada dua pilihan: menghadapi tantangan dengan penuh strategi cerdas atau takluk pasrah pada tantangan yang ada.
Di saat partai politik (parpol) peserta pemilu 2009 mencapai 34 konstituen, menjadi tantangan untuk mencetak pemimpin bangsa yang berkualitas. Bila berkaca pada sejarah, jumlah parpol yang banyak perlahan namun pasti akan berkurang seiring dengan kematangan demokrasi sebuah bangsa. Kita hendaknya melihat bahwa kiprah 34 parpol adalah proses kecil dari sejarah perpolitikan bangsa ini. Lahir dan tumbuhnya berbagai partai baru memang tidak bisa dilepaskan dari celah-celah politik pemberdayaan masyarakat yang belum berjalan maksimal. Setiap individu atau kelompok masyarakat masih melihat ada peran maksimal yang bisa mereka berikan bagi kemajuan bangsa ini.
Memang kehadiran banyak parpol belum menjadi jaminan bakal lahir pemimpin bangsa sejati yang karya-karyanya mampu memberi pedoman perkembangan jangka panjang. Negeri ini kaya parpol, tetapi masih miskin pemimpin sejati pro rakyat. Karena itu masa kampanye yang panjang –meski kontra produktif- memberi waktu yang panjang kepada masyarakat untuk memilih mana “domba atau singa berbulu domba”.
Lebih jauh lagi, perubahan dan perbaikan kualitas hidup berbangsa dan bernegara tidak semata-mata menjadi tugas elite politik atau wakil rakyat. Maraknya pengungkapan kasus korupsi di DPR kian memberi sinyal bahwa masa depan bangsa ada di bahu pribadi-pribadi berwatak pekerja yang jujur, cerdas, ikhlas dan tulus. Sebab nilai ketulusan saat ini sudah tergencet oleh arus kapitalisme.
Perilaku korupsi kian marak di negara miskin dan berkembang karena penduduknya terjebak pada budaya kapitalis yang angkuh dan serakah. Uang, harta dan kekuasaan dilihat sebagai tujuan hidup yang tunggal. Demikian pula, jumlah parpol yang banyak semoga tidak melahirkan politikus searus dengan gebyar kapitalis. Pemimpin atau politikus ksatria mengedepankan tindakan rasional, disiplin tinggi, kerja keras, hemat bersahaja, tidak berfoya-foya, menabung dan investasi sebagai budaya pribadi. Pada akhirnya, nilai budaya (etos) itu ditularkan sebagai pengembangan karakter diri manusia Indonesia di tengah sikap anggap remeh masyarakat internasional terhadap bangsa kita.
KPO/EDISI 156/JULI 2008

Bandit Kapitalis

thumbnail
Kesejahteraan tidak selalu dipungut dari perut bumi. Kesejahteraan juga bukan hujan yang meluncur turun dari langit. Itulah sebabnya, bangsa-bangsa Eropa pada abad pertengahan berkelana ke setiap jengkal benua baru. Segala hasil alam yang ada di perut bumi dilihat sebagai sumber-sumber kesejahteraan baru.
Namun catatan sejarah membagi pengalaman berharga. Bukan perkara gampang memungut bulir-bulir kesejahteraan. Perebutan kekayaan alam antar bangsa melahirkan penjajahan dan perang. Itulah awal kesadaran setiap komunitas membangun pertahanan diri. Sebuah visi baru bahwa kehidupan adalah hak setiap manusia. Demikian pula kekayaan alam adalah anugerah bukan kutukan. Dalam perspektif yang lugas, pengkhiatan terhadap ruang-ruang kehidupan dan kemanusiaan adalah awal kemiskinan.
Gairah mengumpulkan hasil-hasil alam akan berbeda di tangan kapitalis maupun humanis. Penyembah kapitalis terpesona penuh takjub melihat sumber-sumber kekayaan alam sebagai harta karun tak bertuan. Di mata batin kaum humanis, alam dan segala isinya adalah anugerah kehidupan. Alam adalah bentangan ladang kesejahteraan.
Mosaik kemiskinan, kemelaratan dan keterbelakangan sudah bergulir sejak era kekaisaran klasik hingga kepresidenan konstitusional modern. Siapakah yang menyalakan lentera kemiskinan di muka bumi ini? Mengapa kemiskinan yang diperangi setiap zaman selalu tampil lagi dengan potret yang lebih memilukan hati? Kemiskinan selalu terlahir di tengah komunitas yang sebagian warganya melihat kekayaan alam sebagai harta karun tak bertuan. Rona kemelaratan adalah buah sejati dari upaya sistematis dan strategis mengusir yang kecil tak berdaya menikmati kekayaan alam.
Di medan perang, prajurit-prajurit kapitalis adalah serdadu barbar yang menyebar virus-virus kematian. Mereka menertawakan Republik Ide yang dibangun Plato sebagai khayalan akan hadirnya surga dunia. Bagi mereka, De Civitate Dei yang dirindukan filsuf Agustinus pada abad ke-5 adalah tiran baru anti kedai anggur dan rumah bordir. Itu berarti, tak ada kesempatan buat merayu, tak ada tempat pertemuan rahasia yang selama ini dinikmati penyembah kapitalis.
Mereka juga mengejek kisah perjalanan Raphael Hythlodaeus, satu dari 24 orang yang dibawa sang penjelajah termashur, Amerigo Verpucci, dalam perjalanan dan ditinggal di Cabo Frio, Brazil. Bagi dedengkot kapitalis, penemuan pulau utopia oleh Raphael Hythlodaeus -tokoh rekaan- Sir Thomas More pada tahun 1515 itu tak lebih dari ungkapan frustrasi “orang-orang saleh”.
Kehidupan adalah sebuah petualangan sekaligus pertarungan. Memang benar adanya. Petualangan untuk mencari dan mengusahakan merekahnya keadilan, kebaikan dan keluhuran dari rahim bumi. Bukanlah hal yang mustahil untuk terwujud selama kita percaya pada pengembangan dan penemuan terdalam kemanusiaan itu sendiri. Hanya pribadi-pribadi yang sudah mencapai “pencerahan humanis” yang berani tampil sebagai pemimpin yang menghancurkan benteng-benteng kapitalis. Hak-hak rakyat harus dilindungi di tengah pasar bebas yang sangat menguntungkan para tengkulak. Negara dan pemerintah belum berani melakukan intervensi terbatas kebijakan harga sembako dan produk pertanian yang selama ini tidak bersahabat dengan rakyat kebanyakan. Tapi apa yang mau dikata, negeri ini masih dipadati pemimpin-pemimpin karbitan yang dibesarkan kampanye media massa dan iklan.
Bisakah kesejahteraan bersemi di negeri kita? Bila ditanya dari mana datangnya kesejahteraan, maka jawaban historis amat panjang mengurai debat ideologi. Setiap ideologi pembangunan berlomba-lomba menawarkan kesejahteraan kepada para penganutnya. Yang pasti, jalan menuju kesejahteraan akan dipandu oleh pemimpin yang melihat kekayaan alam sebagai rahmat bukan kutukan. Hatinya sakit dan menderita melihat rakyat agraris hidup miskin di tanah pertanian.
Tak ada salahnya di tengah pertarungan iklan calon pemimpin bangsa jelang pilpres 2009, kita terus berdoa lahir tokoh pemimpin yang mendesain sketsa besar tapi membumi bagaimana dengan cara-cara singkat membuat rakyat di pedesaan sejahtera.
Karena itu, seorang pemimpin sejati adalah pribadi yang terus-menerus menerapkan ideologi kesejahteraan yang diyakini membawa kemaslahatan bagi bangsa.
Ideologi bukan sekedar kumpulan ide atau gagasan yang dipahami Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 sebagai "sains tentang ide". Ideologi adalah perbuatan yang membangkitkan rasa percaya rakyat. Sehingga rakyat pun terdorong untuk bekerja lebih keras. Karena rakyat tahu buah hasil kerja keras mereka akan mendatangkan peningkatan pendapatan.
Saat ini, rakyat terus diteror dengan kanaikan-kenaikan harga. Pelaku pasar bebas dengan santai berujar pada akhirnya rakyat akan menyesuaikan daya belinya. Wahhh…kasihan, rakyat miskin-papa-hina-dina-lemah- dibantai serdadu-serdadu kapitalis yang berpikir Jakarta adalah Indonesia. Mereka tak peduli menajamkan ideologi dan visi bagaimana 70 persen uang yang beredar di ibukota negara itu terdistribusi juga ke daerah-daerah. Bangsa kaya raya, tapi pemimpinnya idiot ataukah bandit-bandit kapitalis baru? Sejarah yang akan bercerita lagi kepada anak cucu kita, siapa itu pemimpin sejati di negeri ini.
KPO/EDISI 155/JULI 2008