Home » » Etos Pribadi

Etos Pribadi

Sulit dipungkiri bahwa sebuah tantangan -apapun bentuknya- adalah bagian dari proses perkembangan diri, keluarga, organisasi maupun bangsa. Mengubah tantangan menjadi peluang membutuhkan kreativitas dan kesabaran. Dalam dunia kerja, tantangan dan kesulitan datang ketika kita dituntut untuk meningkatkan daya saing. Hanya ada dua pilihan: menghadapi tantangan dengan penuh strategi cerdas atau takluk pasrah pada tantangan yang ada.
Di saat partai politik (parpol) peserta pemilu 2009 mencapai 34 konstituen, menjadi tantangan untuk mencetak pemimpin bangsa yang berkualitas. Bila berkaca pada sejarah, jumlah parpol yang banyak perlahan namun pasti akan berkurang seiring dengan kematangan demokrasi sebuah bangsa. Kita hendaknya melihat bahwa kiprah 34 parpol adalah proses kecil dari sejarah perpolitikan bangsa ini. Lahir dan tumbuhnya berbagai partai baru memang tidak bisa dilepaskan dari celah-celah politik pemberdayaan masyarakat yang belum berjalan maksimal. Setiap individu atau kelompok masyarakat masih melihat ada peran maksimal yang bisa mereka berikan bagi kemajuan bangsa ini.
Memang kehadiran banyak parpol belum menjadi jaminan bakal lahir pemimpin bangsa sejati yang karya-karyanya mampu memberi pedoman perkembangan jangka panjang. Negeri ini kaya parpol, tetapi masih miskin pemimpin sejati pro rakyat. Karena itu masa kampanye yang panjang –meski kontra produktif- memberi waktu yang panjang kepada masyarakat untuk memilih mana “domba atau singa berbulu domba”.
Lebih jauh lagi, perubahan dan perbaikan kualitas hidup berbangsa dan bernegara tidak semata-mata menjadi tugas elite politik atau wakil rakyat. Maraknya pengungkapan kasus korupsi di DPR kian memberi sinyal bahwa masa depan bangsa ada di bahu pribadi-pribadi berwatak pekerja yang jujur, cerdas, ikhlas dan tulus. Sebab nilai ketulusan saat ini sudah tergencet oleh arus kapitalisme.
Perilaku korupsi kian marak di negara miskin dan berkembang karena penduduknya terjebak pada budaya kapitalis yang angkuh dan serakah. Uang, harta dan kekuasaan dilihat sebagai tujuan hidup yang tunggal. Demikian pula, jumlah parpol yang banyak semoga tidak melahirkan politikus searus dengan gebyar kapitalis. Pemimpin atau politikus ksatria mengedepankan tindakan rasional, disiplin tinggi, kerja keras, hemat bersahaja, tidak berfoya-foya, menabung dan investasi sebagai budaya pribadi. Pada akhirnya, nilai budaya (etos) itu ditularkan sebagai pengembangan karakter diri manusia Indonesia di tengah sikap anggap remeh masyarakat internasional terhadap bangsa kita.
KPO/EDISI 156/JULI 2008
Thanks for reading Etos Pribadi

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar