Home » » SUARA WARGA: Miskin Tapi Boros

SUARA WARGA: Miskin Tapi Boros

Masyarakat dan negara kita merasa miskin. Keadaan ekonomi dikabarkan terpuruk. Kemiskinan diberitakan terus bertambah. Namun, kenyataannya setiap hari ratusan mobil baru terjual. Ribuan barang luks dan puluhan rumah mewah terjual. Lihatlah mal-mal yang dipenuhi orang-orang hilir mudik berbelanja dengan keranjang berlimpah barang. Lihatlah restoran mahal penuh dengan kenikmatan konsumen dan betapa banyak motor gede dan mobil mewah berseliweran memacetkan jalanan.
Begitulah paradokisme mudah ditemui sehari-hari. APBN sebagian besar dihabiskan untuk membiayai belanja rutin, membuat gedung-gedung perkantoran pemerintah yang sebenarnya sudah megah dibuat makin mewah. Sementara rakyat kecil semakin susah, jalan-jalan banyak yang berlobang, sekolah-sekolah rakyat di daerah terpencil makin banyak yang roboh. Pendidikan yang seharusnya membuat pandai dan bermoral telah berubah menjadi teror bagi murid, guru, dan orangtua hanya karena ritual rutin bernama ujian nasional. Pemerintah yang semestinya menampung aspirasi dan keluhan rakyat tentang pendidikan yang sulit, mahal, dan tidak menjamin masa depan, justru tampil seperti sosok yang kurang peduli, kurang mendengar keluhan guru, orangtua siswa, dan pengamat pendidikan sehingga memaksakan kebijakan yang membuat sekolah makin mahal.
Paradoks lainnya bertebaran di mana-mana. Rakyat kita yang miskin tapi borosnya luar biasa. Baru dapat BLT saja langsung beli HP atau VCD. Padahal buat makan atau bayar sekolah saja tidak bisa. Akibatnya telepon seluler menghasilkan 40-50 miliar ton sampah setiap harinya. Belum lagi sampah janji yang dibuat para calon pemimpin. Begitulah kenyataan yang makin memiriskan hati.
(Komentar: Rosi Sugiarto, Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen, Semarang).

Rentetan Kekalahan Golkar Dalam Pilkada
Kekalahan demi kekalahan terus menimpa Partai Golkar. Jago Golkar dalam pilkada Jateng pasangan Agus Soeyitno-Kholiq Arif terjungkal. Bahkan dalam pilkada Bali, pasangan Cok Budi Suryawan dan Gede Suweta juga diprediksi harus puas di urutan kedua. Peristiwa di Jateng dan Bali itu tentu saja menjadi lampu merah bagi jajaran petinggi Golkar untuk membenahi partainya jika ingin memenangkan pemilihan umum (Pemilu) 2009 nanti.
Sebelum pilkada Jateng, Jusuf Kalla selaku Ketua Umum Golkar masih bisa berkilah bahwa Golkar tidak kalah dalam setiap pemilihan gubernur, karena yang menang tetap kader Golkar seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan. Namun tak bisa dipungkiri jika tetap saja Golkar menderita banyak kekalahan dalam pemilihan calon gubernur, seperti yang terjadi di Jateng.
Golkar yang menjadi pemenang Pemilu 2004 lalu harus berpikir ulang jika menargetkan kembali meraih suara terbanyak dalam Pemilu 2009 nanti. Indikator bahwa Golkar akan mengalami keterpurukan dalam Pemilu 2009 adalah kekalahan beruntun yang menimpa Golkar. Pilkada yang telah berlangsung di Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Bali adalah buktinya. Ambisi Golkar yang ingin menjadi pemenang dalam Pemilu 2009 dan menguasai mayoritas kursi DPR hanya tinggal angan-angan belaka jika mulai sekarang jajaran petinggi Golkar tidak melakukan langkah luar biasa guna menyelamatkan muka Golkar dalam percaturan politik di Indonesia.
Terpuruknya jagoan partai berlambang beringin itu dalam setiap pilkada bisa jadi karena tidak solidnya tim sukses Golkar dalam menghadapi persaingan dengan kader lain. Bisa juga karena jajaran petinggi Golkar yang ’kurang serius’ mengupayakan kemenangan jagoannya.
Jika dalam setiap pilkada, kader Golkar tidak pernah menang menjadi kepala daerah, tentu dalam Pemilu 2009 Golkar akan kesulitan mendulang suara karena mesin penggerak partai tidak duduk di pemerintahan. Sudah jelas bila kepala daerah bisa diandalkan menjadi mesin pendulang suara masyarakat dalam pemilu. Tak ada kata terlambat bagi petinggi Golkar untuk mengevaluasi diri guna meningkatkan kinerja partai. Kekalahan demi kekalahan yang dialami Golkar menandakan ada yang tak beres dengan internal Golkar.
(Komentar: Erik Purnama Putra, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang,
Gedung Student Center Lt.1 Bestari UMM Jl Raya Tlogomas No 246 Malang 65144).
Thanks for reading SUARA WARGA: Miskin Tapi Boros

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar