Negeri bertahtakan kutukan! Itulah profil pilu yang sempat menyambangi perjalanan bangsa ini. Berkah kesuburan alam dan penduduk yang tumpah ruah dilihat sebagai kemalangan. Bentangan gugusan pulau-pulau yang dibalut nyiur hijau hanya menjadi beban bagi keuangan negara. Suara-suara pesimisme akan kejayaan negeri pusaka ini terus berdentang di ruang publik dalam era reformasi. Apa yang salah dengan negeri kita?
Gaung optimisme menata citra Indonesia Jaya tidak dirintis dengan parade wacana. Sederet aksi nyata menjadi orbit baru garis edar negeri ini. Presiden terpilih diusung partai kecil. Sungguh sebuah “loncatan demokrasi” yang menakjubkan masyarakat internasional. Remaja-remaja muda menoreh prestasi prestisius dalam ajang olimpiade fisika. Sebuah pencapaian karya yang menghapus rasa minder dalam pergaulan antar bangsa. Di beberapa negara, banyak tenaga kerja Indonesia –TKI maupun TKW- yang berkiprah di landasan profesional. Di sisi lain, ruang keberagaman dan kebhinekaan suku, agama, budaya dan ras kian dimatangkan setelah berbagai aksi monokulturalisme ternyata memproduksi perangkat aksi primitif: kekerasan, kebencian, primordialisme dan perpecahan sosial.
Ruang kehidupan di negeri ini menjadi enteng, enak dan nyaman ketika setiap tokoh, pemimpin, elite politik dan pemuka agama menyodorkan rasa hormat sebagai konstruksi kebersamaan. Pintu dialog antara agama dan budaya pun sudah tidak dimulai dengan mempertemukan “benang merah” universalitas. Sebaliknya, pilar-pilar perbedaan keyakinan, pandangan hidup dan aktualitas budaya dipertajam untuk menegaskan keunikan. Itulah yang terjadi saat ini, kala RUU Pornografi dilihat sebagai perangkat hukum formal yang bakal menyemaikan perangkat sikap kekerasan, saling rajam, saling hujat, fitnah dan aksi main hakim di tengah masyarakat.
Penolakan RUU Pornografi di berbagai daerah adalah ekspresi jeritan tali temali ke-Indonesia-an yang dipanggang di atas bara pemaksaan cara pandang privat di ruang publik. Sudut tercecer ini memberikan pelajaran berharga bahwa “kedewasaan” manusia lebih bernilai di tengah hujan emas kekayaan negeri ini.
Dalam relung kesadaran sosial, dasar kemajuan sebuah bangsa tidak bertumpu semata pada kebanggaan akan kekayaan sumber daya alam. Fondasi membangun bangsa yang maju digarap dengan program pembangunan karakter manusia Indonesia yang unggul. Anak-anak bangsa didoktrin untuk mengukir prestasi besar di berbagai bidang. Kalaupun gagal, setidaknya putra-putri pertiwi tidak mungkin gagal dalam membesut “karya-karya kecil”.
Demikian pula, dalam merajut ruang kebersamaan sosial, perlu ditonjolkan spirit eksistensi mayoritas mengayomi minoritas. Di bidang ekonomi, karya-karya manufaktur raksasa menciptakan pasar riil. Dan, dukungan fasilitas maupun program pembangunan pemerintah membuka ruang kreatifitas warga masyarakat. Itulah sketsa sejati membangun ke-Indonesia-an yang tangguh di bidang karakter maupun pemberdayaan potensi masyarakat mandiri.
Kesempatan untuk menjadi bangsa yang besar tidak pernah kabur di tengah kata-kata kutukan terhadap berbagai deviasi sosial maupun mental yang selalu disuguhkan media massa. Entah tawuran pelajaran, aksi mutilasi, pelacuran, korupsi, kekerasan atas nama Allah, kemiskinan, perceraian, dan termasuk aksi bunuh diri. Merajut kebersamaan, kebaikan dan keindahan hidup di alam negeri ini menjadi mungkin ketika perbedaan, keunikan dan kelemahan diketahui. Saatnya kita menjadi bangsa yang tak lupa belajar mengenal kelemahan untuk memperkuat kekuatan tanpa ada dusta dan saling khianat. Cukup sudah kita didustai penjajahan kaum kapitalis neoliberalisme. Cukup sudah bangsa ini dicederai pengkhianatan aksi-aksi primitif berlabel agama, budaya dan golongan.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Gaung optimisme menata citra Indonesia Jaya tidak dirintis dengan parade wacana. Sederet aksi nyata menjadi orbit baru garis edar negeri ini. Presiden terpilih diusung partai kecil. Sungguh sebuah “loncatan demokrasi” yang menakjubkan masyarakat internasional. Remaja-remaja muda menoreh prestasi prestisius dalam ajang olimpiade fisika. Sebuah pencapaian karya yang menghapus rasa minder dalam pergaulan antar bangsa. Di beberapa negara, banyak tenaga kerja Indonesia –TKI maupun TKW- yang berkiprah di landasan profesional. Di sisi lain, ruang keberagaman dan kebhinekaan suku, agama, budaya dan ras kian dimatangkan setelah berbagai aksi monokulturalisme ternyata memproduksi perangkat aksi primitif: kekerasan, kebencian, primordialisme dan perpecahan sosial.
Ruang kehidupan di negeri ini menjadi enteng, enak dan nyaman ketika setiap tokoh, pemimpin, elite politik dan pemuka agama menyodorkan rasa hormat sebagai konstruksi kebersamaan. Pintu dialog antara agama dan budaya pun sudah tidak dimulai dengan mempertemukan “benang merah” universalitas. Sebaliknya, pilar-pilar perbedaan keyakinan, pandangan hidup dan aktualitas budaya dipertajam untuk menegaskan keunikan. Itulah yang terjadi saat ini, kala RUU Pornografi dilihat sebagai perangkat hukum formal yang bakal menyemaikan perangkat sikap kekerasan, saling rajam, saling hujat, fitnah dan aksi main hakim di tengah masyarakat.
Penolakan RUU Pornografi di berbagai daerah adalah ekspresi jeritan tali temali ke-Indonesia-an yang dipanggang di atas bara pemaksaan cara pandang privat di ruang publik. Sudut tercecer ini memberikan pelajaran berharga bahwa “kedewasaan” manusia lebih bernilai di tengah hujan emas kekayaan negeri ini.
Dalam relung kesadaran sosial, dasar kemajuan sebuah bangsa tidak bertumpu semata pada kebanggaan akan kekayaan sumber daya alam. Fondasi membangun bangsa yang maju digarap dengan program pembangunan karakter manusia Indonesia yang unggul. Anak-anak bangsa didoktrin untuk mengukir prestasi besar di berbagai bidang. Kalaupun gagal, setidaknya putra-putri pertiwi tidak mungkin gagal dalam membesut “karya-karya kecil”.
Demikian pula, dalam merajut ruang kebersamaan sosial, perlu ditonjolkan spirit eksistensi mayoritas mengayomi minoritas. Di bidang ekonomi, karya-karya manufaktur raksasa menciptakan pasar riil. Dan, dukungan fasilitas maupun program pembangunan pemerintah membuka ruang kreatifitas warga masyarakat. Itulah sketsa sejati membangun ke-Indonesia-an yang tangguh di bidang karakter maupun pemberdayaan potensi masyarakat mandiri.
Kesempatan untuk menjadi bangsa yang besar tidak pernah kabur di tengah kata-kata kutukan terhadap berbagai deviasi sosial maupun mental yang selalu disuguhkan media massa. Entah tawuran pelajaran, aksi mutilasi, pelacuran, korupsi, kekerasan atas nama Allah, kemiskinan, perceraian, dan termasuk aksi bunuh diri. Merajut kebersamaan, kebaikan dan keindahan hidup di alam negeri ini menjadi mungkin ketika perbedaan, keunikan dan kelemahan diketahui. Saatnya kita menjadi bangsa yang tak lupa belajar mengenal kelemahan untuk memperkuat kekuatan tanpa ada dusta dan saling khianat. Cukup sudah kita didustai penjajahan kaum kapitalis neoliberalisme. Cukup sudah bangsa ini dicederai pengkhianatan aksi-aksi primitif berlabel agama, budaya dan golongan.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar