Home » » Jangan Tumbangkan Kreatifitas Petani

Jangan Tumbangkan Kreatifitas Petani

Oleh: Suyadi Muhammad*
Kebebasan tidak hanya dibutuhkan oleh seorang mahasiswa dalam mengutarakan pendapatnya. Seorang petani pun butuh ruang kebebasan untuk meningkatkan daya kreatifnya. Namun, lagi-lagi daya kreatif itu dipasung oleh kebijakan yang tidak efektif dan korelatif. Posisi petani Indonesia dalam bahaya besar.
Sejak pemerintah mengadopsi tanaman padi spesies Indika, seperti IR- 64, PB-5, PB-8, dan kini varietas unggul nasional Ciherang, Cisantana, Ciguelis, Cibogo dan lainnya, petani selalu tertekan oleh kebijakan itu. Sebab, petani merasa "dipaksa" untuk menanam spesies padi tersebut. Sehingga varietas padi lokal yang dibanggakan para petani mengalami kepunahan digulung oleh varietas padi baru. Padahal, varietas padi lokal mempunyai karakteristik tertentu pada hasil pertaniannya. Jika disilangkan dengan tepat, berpotensi menghasilkan padi yang bermutu tinggi. Tanpa perlu adanya pemupukan dan pestisida terlalu banyak.
Joharipin (33), petani dari Desa Jengkok, Kabupaten Indramayu mengaku merasa repot dengan pertanian padinya yang mengadopsi varietas padi Indika, yakni IR-64. Menurutnya, biaya produksi terlalu besar, karena padi varietas unggul. Namun, varietas padi Indika tidak tahan hama penyakit, selain boros pupuk, juga boros pestisida (Kompas, 15/9/2008). Senada yang diungkapkan Suryaman (27), petani Jengkok. Menurutnya, meskipun hasil penanaman yang diperoleh banyak, tetapi kalau biaya produksinya besar, keuntungan yang didapat pun sedikit. Tak salah jika para petani menolak keras kebijakan tersebut.
Kebijakan yang seharusnya memberi ruang kreatif para petani, malah tergadaikan dengan hegemoni kebijakan tak menentu. Petani dipaksa oleh pemerintah untuk meninggalkan penanaman padi lokal, seperti varietas Angkong, Bengawan, Engseng, Melati, Markoti, Longong dan lainnya, menggantinya dengan varietas baru. Padahal, varietas yang ditawarkan oleh pemerintah cenderung tak dapat menutupi biaya produksi, dan hasilnyapun mendekati minimal.
Kreatifitas petani tak perlu hilang jika hanya terhempas oleh gelombang yang menghadirkan varietas baru itu. Tetapi bagaimana petani dapat membangun kembali kreatifitas yang dimiliki, sebab dari biaya produksi yang tinggi, petani tergugah untuk menyilangkannya dengan varietas baru yakni "varietas baru berbasis varietas lokal". Seperti yang telah lahir sebelumnya, yaitu varietas Javanika. Di Indramayu misalnya, masyarakat petani di tempat itu menyilangkan kedua varietas itu yang akhirnya menciptakan "Bangong" yang potensi produksinya mencapai 12,8 ton gabah kering panen, lebih tahan pada kekeringan dan hama.
Namun, lagi-lagi petani dipersoalkan oleh pemerintah. Turunnya UU No 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, mengancam petani dengan hukuman pidana selama lima tahun dan membayar denda 250 juta bagi yang melepaskan varietas ke pasar tanpa seizin Menteri Pertanian yang mengatur pelepasan varietas padi.
Ini juga yang menyebabkan sejak tahun 2000 produksi benih padi di Indonesia cenderung stagnan. Yaitu 460.000 ton per tahun. Jumlah ini jauh di bawah Vietnam yang pada tahun 2005 mencapai 1.09 juta ton per tahun. Kenapa ini bisa terjadi?
Daya kreatifitas petani menurun
Dilihat dari kepemilikan plasma nutfah padi, posisi Indonesia juga tidak seaman Amerika Serikat yang memilki 23.097 plasma nutfah padi. Begitu juga Filipina, negara ini mencapai 90.000 plasma nutfah padi. Dibandingkan Indonesia, sangat jauh pencapaiannya yang hanya ada 3.800 plasma nutfah padi yang terdaftar di Balai Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian Departemen Pertanian. Hal ini dipengaruhi kurangnya kreatifitas petani dalam mengolah tanamannya.
Ini juga menunjukkan betapa banyak persoalan yang dihadapi bangsa ini di bidang pertanian, terutama masalah pangan. Padahal bangsa yang makmur dan sejahtera akan tercipta jika masalah pangan di sebuah negara itu terselesaikan.
Solusi membangun kreatifitas petani
Langkah membangun kreatifitas petani dimulai dengan langkah pertama yaitu “merevisi” UU Pelepasan Varietas. Kedua, padi varietas penyilangan masyarakat harus diuji dan diatur lewat mekanisme undang-undang. Tetapi jika varietas lokal itu sudah adaptif, tidak perlu lagi adanya uji multilokasi di 16 tempat yang telah ditentukan oleh pemerintah dengan undang-undangnya.
Ketiga, perlu adanya sekat antara pemerintah dengan petani. Jika petani masih saja dikebiri oleh kebijakan pemerintah yang tidak membangun, maka kreatifitas petani akan mati suri. Petani merasa terkekang pada peraturan penanaman varietas baru yang tak cocok dengan (place it) tempatnya. Keempat, pemerintah hanya sebagai fasilitator. Pemerintah tak perlu terlampau mengurusi pelepasan varietas. Biarlah petani dan swasta nasional yang menciptakan "varietas baru spesifik tempat yang efektif".
Perubahan teknologi pertanian juga sangat urgen untuk dilakukan. Sebab, pada era 1980-an Indonesia yang populer dengan pertumbuhan pertaniannya, tak lepas dari adanya teknologi pertanian. Terutama di Jawa dan sentral produksi pangan lainnya. Namun, setelah itu, Indonesia diganjar dengan lambatnya pertanian sejak awal 1990-an karena kurangnya kematangan perubahan teknologi pertanian. Ketika teknologi dikuasai oleh hegemoni kekuasaan, tidak mungkin tidak akan terus-menerus membuka kran penderitaan pertanian. Apalagi bagi petani, ia tak tahu ke mana akan mencari solusi. Inilah saat petani menunjukkan kemampuannya membangun bangsa lewat sejuta kreatifitasnya.
Perlawananan petani-petani pemulia tanaman di Indramayu patut diapresiasi. Tatkala sebagian besar petani Indonesia terjebak dalam perangkap produsen benih maupun distributor sarana produksi pertanian, mereka membuktikan penyilangan dengan jelas dan mampu meminimalisasi ketergantungan. Para petani pun termotivasi untuk menanam dan mengembangkan varietas padi yang mereka temukan.
Setidaknya, fenomena ini dapat memberi pelajaran berharga bagi petani di wilayah Indonesia lainnya, untuk membangun kreatifitasnya. Introduksi varietas padi "unggul" di negeri ini memang terlanjur mengikis varietas lokal. Tetapi dengan ini petani sendiri telah menjawabnya. Ternyata, varietas padi lokal mempunyai keunggulan yang dapat diandalkan dalam membangun pertanian demi kemandirian di bidang pangan dan memperkuat daya saing bangsa.
*)Peneliti pada Hasyim Asyarie Institute, Yogyakarta.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Thanks for reading Jangan Tumbangkan Kreatifitas Petani

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar