Oleh: Nurani Soyomukti*
Ancaman krisis kapitalisme global telah datang, tepat di depan mata kita. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Di antaranya kenaikan harga minyak yang menyebabkan naiknya harga makanan di seluruh dunia, krisis kredit dan bangkrutnya berbagai investor bank, meningkatnya pengangguran sehingga menyebabkan inflasi global. Bursa saham di beberapa negara terpaksa ditutup beberapa hari termasuk di Indonesia, harga-harga saham juga turut anjlok. Diperkirakan depresi ekonomi kali ini separah atau lebih parah dari depresi besar ekonomi 1929.
Kalau kita amati sejarah perkembangan ekonomi kapitalisme, krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998-2001. Krisis itu terjadi baik di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Latin, dan terparah di Asia.
Buku Fukuyama, The End of History, sebagai tulisan provokatif yang banyak dipercayai oleh para akademisi, politisi, dan bahkan sebagian aktivis kini nampaknya perlu dievaluasi. Setidaknya, tesis intelektual Washington ini telah terbantahkan oleh banyak fakta dan kejadian politik global.
Ramalan Fukuyama yang dilontarkan sejak hampir 20 tahun itu adalah kisah tentang “kemenangan abadi” demokrasi-liberal (kapitalisme neoliberal) berangkat dari fakta bahwa ekonomi-politik free market telah diterima secara meluas oleh mayoritas pemerintahan di dunia waktu itu. Artikel Fukuyama yang diterbitkan pada musim panas tahun 1989 itu menelaah kemungkinan-kemungkinan yang optimis dari tesisnya itu. Fukuyama mengatakan bahwa kemenangan ekonomi politik liberalisme dari semua pesaingnya tidak hanya berarti telah mengakhiri perang dingin, atau melewati periode sejarah tertentu, tapi juga akhir dari sejarah itu sendiri: yaitu, titik akhir evolusi ideologis umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk final dari pengaturan manusia. Kata Fukuyama: “… the unbashed victory of economic and political liberalism not just the end of the cold war, or the passing of a particular period of history, but the end of history as such: that is, the end-point of mankind’s ideological evolution and the universalisation of Western liberal democracy as the final form of human government.
Sebenarnya sanggahan terhadap tesis utopis itu bukan hanya terbantahkan dengan fakta sejarah. Secara teoritik dan akademik sendiri juga telah banyak yang melontarkan kritik dan ‘kutukan’. Misalnya, dalam sebuah esai dalam bukunya Specters of Marx (1994), ‘Conjuring-Marxism’, bahkan intelektual Prancis Jacques Derrida merontokkan buku Fukuyama dengan penuh semangat, mendakwanya penuh dengan berbagai kekeliruan, mulai dari kenaifan filsafat hingga niat durjana Fukuyama dalam “End of History”. Kritik yang terpenting adalah bahwa Fukuyama menyamaratakan perbedaan besar antara yang ideal dan yang real dalam kaitannya dengan demokrasi liberal. Pernyataan yang gegabah Fukuyama dalam pengantar bukunya yang terkenal itu berbunyi: “Sementara sejumlah negara saat ini mungkin gagal menciptakan demokrasi liberal yang stabil, dan negara-negara lain mungkin justru merosot ke dalam bentuk-bentuk pemerintahan yang lain yang lebih primitif seperti teokrasi atau kediktatoran militer, sedangkan idealitas dari demokrasi liberal tak dapat lebih disempurnakan lagi.”
Sedangkan Derrida tak ragu untuk mengemukakan pernyataan bahwa realitas demokrasi liberal tak lebih daripada penyimpangan idealitas-idealitasnya itu, yang selanjutnya dijelaskan oleh Derrida: “Terlampau mudah untuk menunjukkan bahwa, jika diukur berdasarkan kegagalannya untuk menciptakan demokrasi liberal, kesenjangan antara fakta dan esensi ideal tidak hanya muncul dalam apa yang disebut bentuk-bentuk pemerintahan primitif, teokrasi, dan kediktatoran militer… kegagalan dan kesenjangan ini juga merupakan ciri, secara apriori dan berdasarkan definisi, dari semua demokrasi, termasuk yang dikatakan demokrasi-demokrasi Barat yang paling lama dan stabil.”
Dengan metode dekonstruksi yang digelutinya, nampaknya ia memperlihatkan adanya kesenjangan dalam sistem-sistem pemikiran yang senantiasa merupakan salah satu perhatiannya. Pembacaan Fukuyama yang keliru akan situasi politik global juga dituduhkan oleh Derrida. Kalau Fukuyama membaca bahwa penerimaan terhadap ideologi liberalisme berhembus sangat kuat dalam angin ‘konsensus sangat luas’, Derrida justru melihat bahwa liberalisme berada dalam keadaan terkepung. Masih diperlukan lebih dari sekedar penjelasan berupa perkembangan sosial yang tak setara dan penyimpangan manusia yang masih terjadi untuk menunjukkan alasan-alasan kegagalan-kegagalan demokrasi liberal. Bahkan Derrida berhasil menyebutkan satu persatu kegagalan demokrasi liberal sesuai dengan penglihatannya, sehingga seolah menghasilkan serangkaian katalog mulai dari pengangguran massal dan meluasnya tunawisma yang memprihatinkan, hingga dioperasikannya industri militer serta manipulasi atas Amerika Serikat (juga sebagian besar lembaga internasional lain) oleh kekuatan-kekuatan adidaya Barat (baca: kapitalis global).
Di tahun ini, krisis global ini bisa jadi merupakan bencana bagi para pialang saham dan pemilik modal raksasa dunia yang telah lama mengobok-obok ekonomi untuk kepentingannya sendiri. Tetapi bagi sebagian kalangan, krisis ekonomi dunia saat ini bukan untuk ditangisi, tetapi adalah peluang bagi bangsa-bangsa di dunia untuk memilih, runtuh bersama imperilasime Amerika Serikat atau merebut kemerdekaannya dari cengkeraman negara adidaya tersebut.
*)Penulis buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Aruzzmedia, Yogyakarta 2008); peraih penghargaan penulis muda dan Juara Umum I Lomba Esai Pemuda Tingkat Nasional Menpora tahun ini (2007)
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Ancaman krisis kapitalisme global telah datang, tepat di depan mata kita. Hal ini disebabkan beberapa faktor. Di antaranya kenaikan harga minyak yang menyebabkan naiknya harga makanan di seluruh dunia, krisis kredit dan bangkrutnya berbagai investor bank, meningkatnya pengangguran sehingga menyebabkan inflasi global. Bursa saham di beberapa negara terpaksa ditutup beberapa hari termasuk di Indonesia, harga-harga saham juga turut anjlok. Diperkirakan depresi ekonomi kali ini separah atau lebih parah dari depresi besar ekonomi 1929.
Kalau kita amati sejarah perkembangan ekonomi kapitalisme, krisis demi krisis ekonomi terus berulang tiada henti, sejak tahun 1923, 1930, 1940, 1970, 1980, 1990, dan 1998-2001. Krisis itu terjadi baik di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Latin, dan terparah di Asia.
Buku Fukuyama, The End of History, sebagai tulisan provokatif yang banyak dipercayai oleh para akademisi, politisi, dan bahkan sebagian aktivis kini nampaknya perlu dievaluasi. Setidaknya, tesis intelektual Washington ini telah terbantahkan oleh banyak fakta dan kejadian politik global.
Ramalan Fukuyama yang dilontarkan sejak hampir 20 tahun itu adalah kisah tentang “kemenangan abadi” demokrasi-liberal (kapitalisme neoliberal) berangkat dari fakta bahwa ekonomi-politik free market telah diterima secara meluas oleh mayoritas pemerintahan di dunia waktu itu. Artikel Fukuyama yang diterbitkan pada musim panas tahun 1989 itu menelaah kemungkinan-kemungkinan yang optimis dari tesisnya itu. Fukuyama mengatakan bahwa kemenangan ekonomi politik liberalisme dari semua pesaingnya tidak hanya berarti telah mengakhiri perang dingin, atau melewati periode sejarah tertentu, tapi juga akhir dari sejarah itu sendiri: yaitu, titik akhir evolusi ideologis umat manusia dan universalisasi demokrasi liberal Barat sebagai bentuk final dari pengaturan manusia. Kata Fukuyama: “… the unbashed victory of economic and political liberalism not just the end of the cold war, or the passing of a particular period of history, but the end of history as such: that is, the end-point of mankind’s ideological evolution and the universalisation of Western liberal democracy as the final form of human government.
Sebenarnya sanggahan terhadap tesis utopis itu bukan hanya terbantahkan dengan fakta sejarah. Secara teoritik dan akademik sendiri juga telah banyak yang melontarkan kritik dan ‘kutukan’. Misalnya, dalam sebuah esai dalam bukunya Specters of Marx (1994), ‘Conjuring-Marxism’, bahkan intelektual Prancis Jacques Derrida merontokkan buku Fukuyama dengan penuh semangat, mendakwanya penuh dengan berbagai kekeliruan, mulai dari kenaifan filsafat hingga niat durjana Fukuyama dalam “End of History”. Kritik yang terpenting adalah bahwa Fukuyama menyamaratakan perbedaan besar antara yang ideal dan yang real dalam kaitannya dengan demokrasi liberal. Pernyataan yang gegabah Fukuyama dalam pengantar bukunya yang terkenal itu berbunyi: “Sementara sejumlah negara saat ini mungkin gagal menciptakan demokrasi liberal yang stabil, dan negara-negara lain mungkin justru merosot ke dalam bentuk-bentuk pemerintahan yang lain yang lebih primitif seperti teokrasi atau kediktatoran militer, sedangkan idealitas dari demokrasi liberal tak dapat lebih disempurnakan lagi.”
Sedangkan Derrida tak ragu untuk mengemukakan pernyataan bahwa realitas demokrasi liberal tak lebih daripada penyimpangan idealitas-idealitasnya itu, yang selanjutnya dijelaskan oleh Derrida: “Terlampau mudah untuk menunjukkan bahwa, jika diukur berdasarkan kegagalannya untuk menciptakan demokrasi liberal, kesenjangan antara fakta dan esensi ideal tidak hanya muncul dalam apa yang disebut bentuk-bentuk pemerintahan primitif, teokrasi, dan kediktatoran militer… kegagalan dan kesenjangan ini juga merupakan ciri, secara apriori dan berdasarkan definisi, dari semua demokrasi, termasuk yang dikatakan demokrasi-demokrasi Barat yang paling lama dan stabil.”
Dengan metode dekonstruksi yang digelutinya, nampaknya ia memperlihatkan adanya kesenjangan dalam sistem-sistem pemikiran yang senantiasa merupakan salah satu perhatiannya. Pembacaan Fukuyama yang keliru akan situasi politik global juga dituduhkan oleh Derrida. Kalau Fukuyama membaca bahwa penerimaan terhadap ideologi liberalisme berhembus sangat kuat dalam angin ‘konsensus sangat luas’, Derrida justru melihat bahwa liberalisme berada dalam keadaan terkepung. Masih diperlukan lebih dari sekedar penjelasan berupa perkembangan sosial yang tak setara dan penyimpangan manusia yang masih terjadi untuk menunjukkan alasan-alasan kegagalan-kegagalan demokrasi liberal. Bahkan Derrida berhasil menyebutkan satu persatu kegagalan demokrasi liberal sesuai dengan penglihatannya, sehingga seolah menghasilkan serangkaian katalog mulai dari pengangguran massal dan meluasnya tunawisma yang memprihatinkan, hingga dioperasikannya industri militer serta manipulasi atas Amerika Serikat (juga sebagian besar lembaga internasional lain) oleh kekuatan-kekuatan adidaya Barat (baca: kapitalis global).
Di tahun ini, krisis global ini bisa jadi merupakan bencana bagi para pialang saham dan pemilik modal raksasa dunia yang telah lama mengobok-obok ekonomi untuk kepentingannya sendiri. Tetapi bagi sebagian kalangan, krisis ekonomi dunia saat ini bukan untuk ditangisi, tetapi adalah peluang bagi bangsa-bangsa di dunia untuk memilih, runtuh bersama imperilasime Amerika Serikat atau merebut kemerdekaannya dari cengkeraman negara adidaya tersebut.
*)Penulis buku “Pendidikan Berperspektif Globalisasi” (Aruzzmedia, Yogyakarta 2008); peraih penghargaan penulis muda dan Juara Umum I Lomba Esai Pemuda Tingkat Nasional Menpora tahun ini (2007)
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar