Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dr Bondan Agus Suryanto mengatakan pihaknya menyiapkan satu ton abate untuk membasmi jentik nyamuk aedes aegypti yang menyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). "Selain itu kami juga menyiapkan mesin `fogging` (pengasapan), uji resistensi dan mengintensifkan juru pemantau jentik (jumantik)," katanya di Yogyakarta, Senin (13/10).
Menurut dr Suryanto, untuk mengantisipasi demam berdarah Dinkes DIY juga menyediakan anggaran Rp 600 juta dari APBD DIY. Dana itu untuk penanggulangan penyakit termasuk biaya operasional. "Saat ini sudah terjadi pergantian musim dari kemarau ke penghujan atau setidaknya memasuki musim pancaroba, dan ini rawan penyebaran penyakit DBD sehingga masyarakat harus waspada," katanya. Sejak Januari hingga September 2008 di DIY tercatat 1.768 penderita DBD, dengan rincian 15 orang meninggal, 2007 tercatat 2.462 penderita dengan korban meninggal 26 orang..
Sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman per November 2008 siap menggelar Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) untuk mengantisipasi berbagai penyakit menular di kalangan anak-anak. Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman dr Mafilindati Nuraini, MKes menyatakan, BIAS yang rutin diadakan setiap tahun bermanfaat untuk memberi kekebalan kepada seseorang terhadap penyakit. "Banyak penyakit menular yang dapat ditanggulangi dengan cara diimunisasi, seperti campak, Tetanus Toksoid (TT) maupun Defteri Tetanus (DT). Kami secara rutin melakukan imunisasi massal dengan gratis," katanya.
Ia mengatakan kegiatan imunisasi juga untuk pencegahan penyakit Hepatitis A, Influensa dan TBC. Namun, karena masih terkendala masalah dana, maka untuk imunisasi Hepatitis, influensa dan TBC belum bisa kami lakukan secara massal. BIAS bertujuan untuk mempertahankan pencapaian Eliminasi Tetanus Neonaterum (ETN) dan mempercepat tercapainya reduksi campak, serta menghilangkan dan mencegah akumulasi kelompok rentan, dan sebagai `booster` atau dosis kedua untuk mendapatkan masa perlindungan yang lebih lama terhadap penyakit campak. "BIAS sudah berjalan 11 tahun sejak 1997 dengan sasaran siswa SD dan sederajat. Siswa kelas I mendapat imunisasi campak, siswa kelas II imunisasi DT, kelas III dan IV mendapatkan imunisasi TT, dan khusus kelas IV yang sudah mendapat imunisasi TT diberi kartu TT5 (Long Card). Artinya dia telah mendapat TT lengkap," katanya.
Dengan mendapatkan kartu TT5 itu, bagi wanita kalau akan menikah nanti tidak perlu lagi mendapatkan imunisasi TT, dengan menunjukkan kartu TT5 tersebut. "Mereka yang mendapatkan kartu TT5 berarti mempunyai kekebalan TT selama 25 tahun," katanya.
Pelaksanaan BIAS 2008 melibatkan 24 puskesmas se Kabupaten Sleman dengan sasaran 549 SD/MI/SLB dengan jumlah siswa sebanyak 60.853 orang. Para petugas diwajibkan untuk selalu memperhatikan protap (prosedur tetap) dalam melakukan imunisasi, di antaranya petugas harus membawa surat tugas serta obat-obatan sebagai antisipasi shock anapylaktis. Sedangkan spuit (bekas suntikan) dan botol vaksin, diamankan dengan dimasukkan ke dalam safety box untuk dimusnahkan dengan incenerator.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Menurut dr Suryanto, untuk mengantisipasi demam berdarah Dinkes DIY juga menyediakan anggaran Rp 600 juta dari APBD DIY. Dana itu untuk penanggulangan penyakit termasuk biaya operasional. "Saat ini sudah terjadi pergantian musim dari kemarau ke penghujan atau setidaknya memasuki musim pancaroba, dan ini rawan penyebaran penyakit DBD sehingga masyarakat harus waspada," katanya. Sejak Januari hingga September 2008 di DIY tercatat 1.768 penderita DBD, dengan rincian 15 orang meninggal, 2007 tercatat 2.462 penderita dengan korban meninggal 26 orang..
Sementara Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman per November 2008 siap menggelar Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) untuk mengantisipasi berbagai penyakit menular di kalangan anak-anak. Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Sleman dr Mafilindati Nuraini, MKes menyatakan, BIAS yang rutin diadakan setiap tahun bermanfaat untuk memberi kekebalan kepada seseorang terhadap penyakit. "Banyak penyakit menular yang dapat ditanggulangi dengan cara diimunisasi, seperti campak, Tetanus Toksoid (TT) maupun Defteri Tetanus (DT). Kami secara rutin melakukan imunisasi massal dengan gratis," katanya.
Ia mengatakan kegiatan imunisasi juga untuk pencegahan penyakit Hepatitis A, Influensa dan TBC. Namun, karena masih terkendala masalah dana, maka untuk imunisasi Hepatitis, influensa dan TBC belum bisa kami lakukan secara massal. BIAS bertujuan untuk mempertahankan pencapaian Eliminasi Tetanus Neonaterum (ETN) dan mempercepat tercapainya reduksi campak, serta menghilangkan dan mencegah akumulasi kelompok rentan, dan sebagai `booster` atau dosis kedua untuk mendapatkan masa perlindungan yang lebih lama terhadap penyakit campak. "BIAS sudah berjalan 11 tahun sejak 1997 dengan sasaran siswa SD dan sederajat. Siswa kelas I mendapat imunisasi campak, siswa kelas II imunisasi DT, kelas III dan IV mendapatkan imunisasi TT, dan khusus kelas IV yang sudah mendapat imunisasi TT diberi kartu TT5 (Long Card). Artinya dia telah mendapat TT lengkap," katanya.
Dengan mendapatkan kartu TT5 itu, bagi wanita kalau akan menikah nanti tidak perlu lagi mendapatkan imunisasi TT, dengan menunjukkan kartu TT5 tersebut. "Mereka yang mendapatkan kartu TT5 berarti mempunyai kekebalan TT selama 25 tahun," katanya.
Pelaksanaan BIAS 2008 melibatkan 24 puskesmas se Kabupaten Sleman dengan sasaran 549 SD/MI/SLB dengan jumlah siswa sebanyak 60.853 orang. Para petugas diwajibkan untuk selalu memperhatikan protap (prosedur tetap) dalam melakukan imunisasi, di antaranya petugas harus membawa surat tugas serta obat-obatan sebagai antisipasi shock anapylaktis. Sedangkan spuit (bekas suntikan) dan botol vaksin, diamankan dengan dimasukkan ke dalam safety box untuk dimusnahkan dengan incenerator.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar