Home » » Pahlawan Yang Tersingkirkan Oleh Sejarah

Pahlawan Yang Tersingkirkan Oleh Sejarah

Judul : Achmad Yani, Anak Emas Yang Terhempas
Penulis : Yayuk R. Sutodiwiryo
Penerbit : Galang Press, Yogyakarta
Cetakan : Agustus 2008
Tebal : 350 halaman
Peresensi : Miftahul A'la*
Sebelum Indonesia meraih kemerdekaannya, hampir seluruh masyarakatnya tanpa terkecuali berjuang serta mempertaruhkan jiwa dan raga untuk membebaskan Nusantara ini dari cengkraman kolonialisme dan imprealisme Belanda. Sebagian berjuang dengan menggunakan gencatan senjata/secara fisik, namun ada pula yang berjuang dengan menyumbangkan harta benda serta pemikiran-pemikirannya. Berbagai jalan ditempuh oleh rakyat Indonesia, meskipun nyawa menjadi taruhan utama. Mereka para pahlawan bangsa berjuang tanpa menginginkan pamrih sedikitpun, murni dari pangggilan jiwa nasionalisme yang sudah terbangun dalam diri mereka akibat kesamaan nasib yang dialami yakni ingin mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan serta terbebas dari imperealisme-kolonialisme.
Dalam perjuangannya meraih kemerdekaan tersebut, banyak pahlawan revolusioner yang menghiasi kancah dunia perjuangan Indonesia. Achmad Yani merupakan salah satu pahlawan revolusi Indonesia yang terdepan dan secara totalitas mempertaruhkan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Dalam menjalankan aksinya ia tidak menginginkan pamrih sama sekali. Semua yang dilakukannya murni merupakan ekspresi rasa nasionalismenya yang tinggi.
Buku karangan Yayuk R. Sutodiwiryo ini merupakan salah satu ijtihad penulis untuk mengenalkan Achmad Yani dalam pandangan masyarakat Indonesia. Sebab bagaimanapun juga, Achmad Yani merupakan pahlawan nasional yang telah banyak menyumbangkan dan banyak berkorban demi dan untuk kemerdekaan dan kemajuan Indonesia. Di dalamnya dikisahkan mulai dari sejak awal dilahirkannya, perjalanan perjuangannya hingga akhir hayatnya yang begitu tragis.
Sangat menarik sekali apa yang dituangkan dalam karya ini. Hal ini dikarenakan yang menulis buku ini merupakan orang yang sangat dekat dengan kehidupan Achmad Yani sendiri semasa masih hidup. Bahkan dapat dikatakan setiap jengkal kehidupan penulis buku ini dihabiskan dan dilalui dengan Achmad Yani. Disuguhkan dengan bahasa yang begitu merakyat dan sistemastis. Sehingga mudah untuk dicerna dan dipahami, baik dari kalangan elit penguasa hingga kalangan grassrott sekalipun. Yayuk R. Sutodiwiryo penulis buku ini merupakan istri tercinta beliau, sehingga apa yang dituangkan dalam buku ini sangat valid dan dapat dipertanggung jawabkan. Sebab apa yang diuliskan Yayuk merupakan kisah kehidupannya bersama sang suami.
Jika dicermati lebih jauh, ternyata Achmad Yani mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi dibandingkan dengan pahlawan semasanya. Jiwa nasionalisme Achmad Yani ini tercermin dari ucapannya yang tertulis dalam catatan hariannya. "Kenapa saya menjadi prajurit? Karena saya seorang patriot. Kenapa saya patriot? Karena saya cinta tanah air. Inilah statement utama yang selalu dijadikan pegangan Achmad Yani dalam melakukan perjuangan semasa hidupnya. Bahkan hampir seluruh kehidupan Achmad Yani dihabiskan untuk memperjuangkan dan membangun bangsa-negara.
Sayang meskipun telah mempertaruhkan jiwa dan raganya untuk dan demi kemajuan Indonesia, ia justru merupakan salah satu pahlawan revolusi yang kurang begitu dikenal dan dihargai jasa-jasanya. Baik oleh para pemimpin maupun masyarakat Indonesia. Seakan-akan Achmad Yani merupakan salah satu pahlawan revolusioner Indonesia yang terbuang dalam sejarah Indonesia.
Jenderal TNI Achmad Yani lahir di Purworejo, 19 Juni 1922–Lubang Buaya, 1 Oktober 1965. Ia merupakan putra pasangan dari Sarjo bin Suharyo dengan Murtini. Achmad Yani seorang pahlawan nasional Indonesia yang banyak memberikan kontribusi dalam memperjuangkan Indonesia. Berbagai aksi, prestasi dan perjuangan ia lakukan dengan jiwa patriotisme. Beliau dikenal sebagai seorang tentara yang sangat teguh dalam pendirian, tegas disiplin dan selalu berseberangan dengan PKI (Partai Komunis Indonesia) pada masa itu.
Ketidaksepahamannya dengan PKI ini terbukti ketika ia menjabat sebagai Menteri/Panglima Angkatan Darat sejak tahun 1962. Dengan tegas ia menolak keinginan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima yang terdiri dari buruh dan tani. Karena itulah ia menjadi salah satu target PKI yang akan diculik dan dibunuh di antara tujuh petinggi TNI AD melalui G30S (Gerakan Tiga Puluh September). Sehingga tidaklah mengherankan jika kehidupan Achmad Yani selalu dibayang-bayangi dan selalu diteror oleh orang-orang komunis.
Berbagai prestasi pernah diraihnya pada masa perang kemerdekaan. Di antaranya keberhasilan Achmad Yani dalam menyita senjata Jepang di Magelang. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk, ia diangkat menjadi Komandan TKR Purwokerto. Ketika Agresi Militer Pertama Belanda terjadi, pasukan Achmad Yani yang beroperasi di daerah Pingit berhasil menahan serangan Belanda di daerah tersebut. Saat Agresi Militer Kedua Belanda terjadi, ia dipercayakan memegang jabatan sebagai Komandan Wehrkreise II yang meliputi daerah pertahanan Kedu. Setelah Indonesia mendapat pengakuan kedaulatan, ia diserahi tugas untuk melawan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang membuat kekacauan di daerah Jawa Tengah. Ketika itu dibentuk pasukan Banteng Raiders yang diberi latihan khusus hingga pasukan DI/TII pun berhasil dikalahkan. Seusai penumpasan DI/TII tersebut, ia kembali ke Staf Angkatan Darat.
Meskipun berseberangan dengan PKI, namun Achmad Yani juga merupakan salah seorang yang sangat dekat dengan Soekarno. Ia merupakan tangan kanan dan orang kepercayaan sang tokoh proklamator ulung. Achmad Yani sangat cinta dan setia terhadap Bung Karno. Bahkan karena kecintaan dan kesetiaannya, ia bahkan pernah mengatakan, "Siapa yang berani menginjak bayang-bayang Bung Karno, maka dia harus terlebih dahulu melangkahi mayat saya." Bahkan ada isu terdengar, bahwa Achmad Yani telah dipersiapkan oleh Bung Karno sebagai calon penggantinya sebagai presiden. Namun meskipun dirinya dekat dengan Presiden Pertama RI, Achmad Yani tidak setuju dengan konsep Nasakom dari Soekarno. Sehingga ia semakin dibenci dan menjadi incaran orang-orang PKI.
Karir dan perjuangan Achmad Yani terhenti pada tanggal 1 Oktober 1965, ketika pada suatu subuh, ia di berondong oleh orang-orang PKI dan dibuang dan dikubur di Lubang Buaya beserta dengan enam jenderal lainnya. Achmad Yanipun gugur dalam rangka membela Pancasila dan UUD 1945 yang menjadi dasar kesucian dan falsafah Negara Indonesia yang berusaha dinodai dan diselewengkan oleh orang-orang komunis. Ia menjadi tumbal dari terbentuknya NKRI yang di proklamasi 17 Agustus 1945. (hal. 27)
*) Pustakawan Al-Kautsar Yogyakarta.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Thanks for reading Pahlawan Yang Tersingkirkan Oleh Sejarah

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar