Oleh: Pak Oles
Tujuan hidup adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan di bumi dan di akhirat. Jika kita merasa bahagia hidup di bumi, maka kita juga akan mampu meraih kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya, jika kita tidak merasakan kebahagiaan di bumi, maka mustahil kita mampu meraih kebahagiaan di akhirat.
Bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di bumi? Ada banyak caranya. Dengan bersyukur, ikhlas, sabar dan menikmati hidup apa adanya. Salah satu cara hidup bahagia yang diusulkan oleh Mark Twain adalah dengan menjadikan pekerjaan kita sebagai liburan. Bukankah yang diusulkan tersebut bersifat kontradiktif? Antara bekerja dan berlibur susah disatukan. Bekerja membutuhkan keseriusan untuk menghasilkan uang, sedangkan berlibur diperlukan santai untuk menghabiskan uang.
Menjadikan pekerjaan sebagai liburan berarti di dalam bekerja kita harus merasakan kegembiraan, kesenangan dan tidak memiliki beban yang memberatkan hati dan pikiran. Dengan kegembiraan dalam bekerja kita akan merasakan kesenangan dan ketenangan. Pada saat kita berhasil, kita mendapatkan kegairahan yang luar biasa atas prestasi yang dicapai. Pada saat kita gagal kita merasa dipacu dan ditantang untuk mampu berprestasi lebih baik.
Apakah kita telah menjadikan pekerjaan kita sebagai liburan? Atau kita telah menjadikan pekerjaan sebagai tugas berat yang harus diselesaikan? Cintailah pekerjaan anda dan lakukanlah sepenuh hati. Niscaya, dengan mencintai pekerjaan, kita akan merasakan pekerjaan sebagai liburan yang sangat menyenangkan, bukan sebagai tugas yang semakin memberatkan.
Saya berkenalan dengan seorang petani muda dari sebuah desa di Bali. Namanya Ketut, yang biasa dipanggil Nyamprut. Dia bekerja giat di sawah, membajak, meratakan tanah, membersihkan gundukan, mengairi sawah, menanam padi, dan merawatnya setiap hari sampai panen. Selanjutnya gabah yang dipanen dijemur sampai kering, kemudian digiling. Dari hasil pekerjaannya tersebut jika dihitung dari nilai rupiah yang didapat mungkin tidak seberapa. Dengan kreativitasnya dia merasakan kegembiraan yang sangat tinggi dalam bekerja. Pagi hari saat berangkat ke sawah dia merasakan kesegaran udara dan indahnya pemandangan dengan panorama matahari terbit. Sambil bersenandung dia bekerja di sawah. Sore hari dia mandi dipancuran yang jernih. Dia merasakan nikmatnya kucuran air seperti turis mandi di SPA hotel berbintang.
Dari rumahnya yang sederhana, lahan sawah Nyamprut sangat indah dipandang. Di pinggiran bagian atas petakan sawah dibuat kolam ikan yang dikelilingi bunga-bungaan. Di dalam kolam ditanam berbagai jenis bunga teratai dan ikan hias berwarna-warni. Kebunnya ditata sedemikian rupa, walaupun dengan bahan-bahan sederhana, tetapi sangat indah dipandang. Lahan sawahnya tertata rapi, sangat indah dipandang, apalagi saat tanaman padi menguning. Lahan pertaniannya dimanfaatkan dengan sangat produktif. Lahan tersebut bisa menghasilkan padi, sayur, bunga, ikan, sapi dan ayam. Di antara petani lainnya, Nyamprut termasuk petani yang paling berprestasi. Dengan berkembangnya pariwisata, lahan Nyamprut sering dikunjungi turis. Dengan senang hati Nyamprut mengantar dan menjelaskan turis keliling kebunnya. Sekali kunjungan, turis diwajibkan membayar sumbangan sukarela yang dimasukkan ke dalam kotak sumbangan. Dengan cara itu, Nyamprut mendapatkan tambahan penghasilan hampir dua kali lipat hasil tanaman padinya.
Ketika saya tanya, apa resepnya bekerja sebagai petani sehingga bisa berhasil dengan baik. Dia mengatakan tidak mempunyai resep khusus, bahkan dia mengatakan tidak pernah merasa bekerja sebagai petani. Dia sedang menyalurkan hobinya menanam tanaman dan membuat indah lahan pertaniannya, seperti taman di sorga. Dan di dalam taman yang indah itu, dia bisa menikmati keindahan tamannya sepuas-puasnya, sambil bekerja, sambil berwisata.
Seorang penjual yang berhasil sangat menikmati pekerjaannya, terutama pekerjaan saat bertemu dengan orang, melobi orang, memberikan servis dan melakukan transaksi. Penjual yang berhasil melakukan kunjungan lapangan, atau kunjungan ke daerah-daerah seperti sedang melakukan kunjungan wisata. Mereka yang menikmati pekerjaannya sebagai penjual, tidak pernah merasakan bekerja, tidak pernah merasakan lelah dan penat, karena dia telah menyatukan pekerjaannya dalam bermain. Penjual seperti ini mampu melampaui target penjualan di atas batas yang ditentukan. Sebaliknya penjual yang selalu mengeluh dan merasakan beban berat saat melakukan kunjungan lapangan atau kunjungan ke daerah selalu merasakan pekerjaan menjualnya sebagai tugas yang harus diselesaikan dan menjadi tugas yang maha berat. Hasil penjualan yang dicapai dari penjual yang terlalu serius itu sangatlah jeblok, karena hidupnya terlalu tegang dan kurang bermain.
Kebanyakan pengusaha yang berhasil mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukannya selama menjadi pengusaha adalah serangkaian permainan yang tidak pernah melelahkan, bahkan selalu membikin hidupnya tambah bergairah. Dalam sebuah permainannya dalam bekerja melahirkan kreativitas, inovasi (memperkenalkan sesuatu yang baru) dan invensi (menemukan sesuatu yang baru). Kreativitas lahir dari ide-ide baru, gabungan dari berbagai perbedaan, dan melihat perbedaan untuk memperkaya ide kreatif. Kreativitas muncul dari pemikiran yang tidak tegang, tidak stres dan tanpa beban. Itu berarti haya pada orang yang bisa menempatkan pekerjaannya sebagai liburan baru bisa memunculkan ide kreatif, inovasi dan invensi. Kalau tidak, maka setiap pekerjaan yang dilaluinya menjadi selaksa beban.
Pegawai atau karyawan yang berhasil dan berprestasi adalah mereka yang menikmati pekerjaannya. Prestasinya ditunjukkan dengan kemampuan dan loyalitas. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, karyawan yang mampu dan loyal menunjukkan prestasi yang lebih tinggi daripada karyawan yang bekerja asal-asalan. Kenyataan menunjukkan bahwa, karyawan yang berprestasi bekerja dengan otak dan hatinya, sedangkan karyawan yang asal-asalan hanya bekerja dengan otaknya saja. Jika kita bekerja dengan otak dan hati, maka badan kita merasa relaks. Jika kita bekerja hanya dengan otak saja, maka badan kita merasakan ketegangan yang luar biasa.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Tujuan hidup adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, kebahagiaan di bumi dan di akhirat. Jika kita merasa bahagia hidup di bumi, maka kita juga akan mampu meraih kebahagiaan di akhirat. Sebaliknya, jika kita tidak merasakan kebahagiaan di bumi, maka mustahil kita mampu meraih kebahagiaan di akhirat.
Bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan kebahagiaan di bumi? Ada banyak caranya. Dengan bersyukur, ikhlas, sabar dan menikmati hidup apa adanya. Salah satu cara hidup bahagia yang diusulkan oleh Mark Twain adalah dengan menjadikan pekerjaan kita sebagai liburan. Bukankah yang diusulkan tersebut bersifat kontradiktif? Antara bekerja dan berlibur susah disatukan. Bekerja membutuhkan keseriusan untuk menghasilkan uang, sedangkan berlibur diperlukan santai untuk menghabiskan uang.
Menjadikan pekerjaan sebagai liburan berarti di dalam bekerja kita harus merasakan kegembiraan, kesenangan dan tidak memiliki beban yang memberatkan hati dan pikiran. Dengan kegembiraan dalam bekerja kita akan merasakan kesenangan dan ketenangan. Pada saat kita berhasil, kita mendapatkan kegairahan yang luar biasa atas prestasi yang dicapai. Pada saat kita gagal kita merasa dipacu dan ditantang untuk mampu berprestasi lebih baik.
Apakah kita telah menjadikan pekerjaan kita sebagai liburan? Atau kita telah menjadikan pekerjaan sebagai tugas berat yang harus diselesaikan? Cintailah pekerjaan anda dan lakukanlah sepenuh hati. Niscaya, dengan mencintai pekerjaan, kita akan merasakan pekerjaan sebagai liburan yang sangat menyenangkan, bukan sebagai tugas yang semakin memberatkan.
Saya berkenalan dengan seorang petani muda dari sebuah desa di Bali. Namanya Ketut, yang biasa dipanggil Nyamprut. Dia bekerja giat di sawah, membajak, meratakan tanah, membersihkan gundukan, mengairi sawah, menanam padi, dan merawatnya setiap hari sampai panen. Selanjutnya gabah yang dipanen dijemur sampai kering, kemudian digiling. Dari hasil pekerjaannya tersebut jika dihitung dari nilai rupiah yang didapat mungkin tidak seberapa. Dengan kreativitasnya dia merasakan kegembiraan yang sangat tinggi dalam bekerja. Pagi hari saat berangkat ke sawah dia merasakan kesegaran udara dan indahnya pemandangan dengan panorama matahari terbit. Sambil bersenandung dia bekerja di sawah. Sore hari dia mandi dipancuran yang jernih. Dia merasakan nikmatnya kucuran air seperti turis mandi di SPA hotel berbintang.
Dari rumahnya yang sederhana, lahan sawah Nyamprut sangat indah dipandang. Di pinggiran bagian atas petakan sawah dibuat kolam ikan yang dikelilingi bunga-bungaan. Di dalam kolam ditanam berbagai jenis bunga teratai dan ikan hias berwarna-warni. Kebunnya ditata sedemikian rupa, walaupun dengan bahan-bahan sederhana, tetapi sangat indah dipandang. Lahan sawahnya tertata rapi, sangat indah dipandang, apalagi saat tanaman padi menguning. Lahan pertaniannya dimanfaatkan dengan sangat produktif. Lahan tersebut bisa menghasilkan padi, sayur, bunga, ikan, sapi dan ayam. Di antara petani lainnya, Nyamprut termasuk petani yang paling berprestasi. Dengan berkembangnya pariwisata, lahan Nyamprut sering dikunjungi turis. Dengan senang hati Nyamprut mengantar dan menjelaskan turis keliling kebunnya. Sekali kunjungan, turis diwajibkan membayar sumbangan sukarela yang dimasukkan ke dalam kotak sumbangan. Dengan cara itu, Nyamprut mendapatkan tambahan penghasilan hampir dua kali lipat hasil tanaman padinya.
Ketika saya tanya, apa resepnya bekerja sebagai petani sehingga bisa berhasil dengan baik. Dia mengatakan tidak mempunyai resep khusus, bahkan dia mengatakan tidak pernah merasa bekerja sebagai petani. Dia sedang menyalurkan hobinya menanam tanaman dan membuat indah lahan pertaniannya, seperti taman di sorga. Dan di dalam taman yang indah itu, dia bisa menikmati keindahan tamannya sepuas-puasnya, sambil bekerja, sambil berwisata.
Seorang penjual yang berhasil sangat menikmati pekerjaannya, terutama pekerjaan saat bertemu dengan orang, melobi orang, memberikan servis dan melakukan transaksi. Penjual yang berhasil melakukan kunjungan lapangan, atau kunjungan ke daerah-daerah seperti sedang melakukan kunjungan wisata. Mereka yang menikmati pekerjaannya sebagai penjual, tidak pernah merasakan bekerja, tidak pernah merasakan lelah dan penat, karena dia telah menyatukan pekerjaannya dalam bermain. Penjual seperti ini mampu melampaui target penjualan di atas batas yang ditentukan. Sebaliknya penjual yang selalu mengeluh dan merasakan beban berat saat melakukan kunjungan lapangan atau kunjungan ke daerah selalu merasakan pekerjaan menjualnya sebagai tugas yang harus diselesaikan dan menjadi tugas yang maha berat. Hasil penjualan yang dicapai dari penjual yang terlalu serius itu sangatlah jeblok, karena hidupnya terlalu tegang dan kurang bermain.
Kebanyakan pengusaha yang berhasil mengatakan bahwa pekerjaan yang dilakukannya selama menjadi pengusaha adalah serangkaian permainan yang tidak pernah melelahkan, bahkan selalu membikin hidupnya tambah bergairah. Dalam sebuah permainannya dalam bekerja melahirkan kreativitas, inovasi (memperkenalkan sesuatu yang baru) dan invensi (menemukan sesuatu yang baru). Kreativitas lahir dari ide-ide baru, gabungan dari berbagai perbedaan, dan melihat perbedaan untuk memperkaya ide kreatif. Kreativitas muncul dari pemikiran yang tidak tegang, tidak stres dan tanpa beban. Itu berarti haya pada orang yang bisa menempatkan pekerjaannya sebagai liburan baru bisa memunculkan ide kreatif, inovasi dan invensi. Kalau tidak, maka setiap pekerjaan yang dilaluinya menjadi selaksa beban.
Pegawai atau karyawan yang berhasil dan berprestasi adalah mereka yang menikmati pekerjaannya. Prestasinya ditunjukkan dengan kemampuan dan loyalitas. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, karyawan yang mampu dan loyal menunjukkan prestasi yang lebih tinggi daripada karyawan yang bekerja asal-asalan. Kenyataan menunjukkan bahwa, karyawan yang berprestasi bekerja dengan otak dan hatinya, sedangkan karyawan yang asal-asalan hanya bekerja dengan otaknya saja. Jika kita bekerja dengan otak dan hati, maka badan kita merasa relaks. Jika kita bekerja hanya dengan otak saja, maka badan kita merasakan ketegangan yang luar biasa.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar