Pemerintah Nusa Tenggara Barat (NTB) terus berupaya mengoptimalkan fungsi klinik Voluntary Conselling and Testing (VCT) untuk menanggulangi penyebaran virus HIV/AIDS yang kian meresahkan masyarakat. ‘’Klinik VCT yang sudah terbentuk dioptimalkan, tim VCT tidak hanya menunggu pemeriksaan kesehatan tetapi terjun ke lapangan ketika menerima laporan kasus baru,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan NTB, dr Baiq Magdalena, di Mataram. Data versi Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) NTB, sampai Agustus 2008 HIV/AIDS di wilayah itu sudah 201 kasus.
Pengidap HIV pada 2006 sebanyak 15 orang dan AIDS sebanyak 36 orang, meningkat menjadi 21 orang HIV dan 57 orang AIDS pada 2007. Pada 2008, pengidap HIV terdata 15 orang dan AIDS bertambah jadi 72 orang, termasuk 6 orang yang semula hanya terindikasi HIV. Sekarang, pengidap HIV 129 orang dan AIDS 72 orang sehingga total pengidap HIV/AIDS sebanyak 201 orang. Dari 72 orang pengidap AIDS, 42 orang sudah meninggal, 30 orang sedang sekarat. Pengidap HIV/AIDS di NTB terbanyak berusia 25-29 tahun (65 orang), 30-34 tahun (47 orang) dan 20-24 tahun (44 orang). Pengidap HIV/AIDS yang berusia 40 tahun ke atas (17 orang).
Pengidap HIV/AIDS yang belum berusia 1-19 tahun tercatat 12 orang, 6 orang di antaranya balita. Tercatat 98 pengidap HIV/AIDS berdomisili di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Timur (35 orang), Sumbawa Barat (22 orang), Lombok Barat (21 orang), Lombok Tengah (16 orang), Sumbawa (4 orang), Dompu (3 orang, Bima dan Kota Bima masing-masing 1 orang.
Menurut Magdalena, Dinas Kesehatan NTB sudah membentuk tim khusus untuk mengoptimalkan fungsi klinik VCT di RSU Mataram, RS Jiwa Mataram dan RSU Praya Lombok Tengah. ‘’Tim VCT itu ditugaskan untuk mencari kasus-kasus baru secara dini kemudian ditangani secara maksimal. Anggotanya terdiri dari sejumlah dokter ahli penyakit dalam, dokter umum selaku penanggung jawab dan tenaga konseling,’’ ujarnya.
Tim VCT dibantu tim penjangkau kasus-kasus baru yang ditemukan di suatu daerah seperti ibu melahirkan yang terdeteksi mengidap HIV di awal tahun 2008. Untuk memaksimalkan monitoring kewilayahan penyebaran HIV/AIDS, tim VCT meningkatkan koordinasi dengan forum komunikasi masyarakat. ‘’Ke depan, pembentukan klinik VCT harus dilakukan di setiap rumah sakit agar dapat memberikan pelayanan dan penanganan secara cepat,’’ ujarnya.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Pengidap HIV pada 2006 sebanyak 15 orang dan AIDS sebanyak 36 orang, meningkat menjadi 21 orang HIV dan 57 orang AIDS pada 2007. Pada 2008, pengidap HIV terdata 15 orang dan AIDS bertambah jadi 72 orang, termasuk 6 orang yang semula hanya terindikasi HIV. Sekarang, pengidap HIV 129 orang dan AIDS 72 orang sehingga total pengidap HIV/AIDS sebanyak 201 orang. Dari 72 orang pengidap AIDS, 42 orang sudah meninggal, 30 orang sedang sekarat. Pengidap HIV/AIDS di NTB terbanyak berusia 25-29 tahun (65 orang), 30-34 tahun (47 orang) dan 20-24 tahun (44 orang). Pengidap HIV/AIDS yang berusia 40 tahun ke atas (17 orang).
Pengidap HIV/AIDS yang belum berusia 1-19 tahun tercatat 12 orang, 6 orang di antaranya balita. Tercatat 98 pengidap HIV/AIDS berdomisili di Kota Mataram, Kabupaten Lombok Timur (35 orang), Sumbawa Barat (22 orang), Lombok Barat (21 orang), Lombok Tengah (16 orang), Sumbawa (4 orang), Dompu (3 orang, Bima dan Kota Bima masing-masing 1 orang.
Menurut Magdalena, Dinas Kesehatan NTB sudah membentuk tim khusus untuk mengoptimalkan fungsi klinik VCT di RSU Mataram, RS Jiwa Mataram dan RSU Praya Lombok Tengah. ‘’Tim VCT itu ditugaskan untuk mencari kasus-kasus baru secara dini kemudian ditangani secara maksimal. Anggotanya terdiri dari sejumlah dokter ahli penyakit dalam, dokter umum selaku penanggung jawab dan tenaga konseling,’’ ujarnya.
Tim VCT dibantu tim penjangkau kasus-kasus baru yang ditemukan di suatu daerah seperti ibu melahirkan yang terdeteksi mengidap HIV di awal tahun 2008. Untuk memaksimalkan monitoring kewilayahan penyebaran HIV/AIDS, tim VCT meningkatkan koordinasi dengan forum komunikasi masyarakat. ‘’Ke depan, pembentukan klinik VCT harus dilakukan di setiap rumah sakit agar dapat memberikan pelayanan dan penanganan secara cepat,’’ ujarnya.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar