Home » » Setiap Daerah, Cara Penularan AIDS Berbeda

Setiap Daerah, Cara Penularan AIDS Berbeda

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Prof Dr dr K Tuti Parwati Merati menegaskan, cara penularan virus HIV/AIDS di setiap daerah masih sangat berbeda. Tercatat enam propinsi yang paling menonjol penyebaran HIV/AIDS di Indonesia yakni Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Bali dan Jawa Timur, kata Prof Tuti Parwati pada pidato pengukuhan jabatan sebagai guru besar tetap dalam bidang ilmu penyakit di FK Unud di Kampus Unud Bukit Jimbaran, akhir Maret 2008.
Menurut Prof Tuti Parwati, seperti dilansir Antara, estimasi orang dengan HIV/AIDS (Odha) di Indonesia seperti diungkap WHO hingga akhir 2007 tercatat 175.000 orang. Penderita positif tercatat 17.207 orang, dengan rincian HIV positif (6.066 orang) dan AIDS (11.141 orang).
Prof Tuti Parwati sendirilah yang menangani kasus HIV/AIDS pertama di Indonesia. Saat itu menimpa warga negara Belanda di RSUP Sanglah Denpasar tahun 1987. Bali sendiri menempati urutan kelima dengan total kasus 1.782. Faktor resiko utama penularan HIV/AIDS terdapat perbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Untuk Papua, hampir semua penularan melalui hubungan seksual heteroseks. Di Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali penularan melalui jarum suntik pengguna narkoba maupun seksual hetero seks.
Kepala Divisi Penyakit Tropis dan Infeksi FK Unud/RSUP Sanglah Denpasar ini menyebut, odha dan pengguna narkoba suntik di Bali jumlahnya berimbang antara laki-laki dan perempuan, yakni 613 berbanding 634 kasus. Odha dengan perilaku homo seksual pria 107 kasus, wanita 441 orang, dan 120 orang di antaranya pekerja seks komersial (PSK). Banyak odha wanita yang bukan PSK terjangkit virus HIV/AIDS. "Dari mana wanita-wanita itu tertular, kalau bukan dari pasangan/suaminya. Sebenarnya lebih banyak lagi kasus-kasus HIV/AIDS yang ada, namun tidak tercakup dalam laporan Dinas Kesehatan Bali," ujarnya.
Pecandu narkoba yang mayoritas dari kalangan remaja dan usia dewasa muda memiliki resiko tinggi tertular HIV/AIDS dan penyakit lain yang menular melalui darah, antara lain hepatitis B dan C. Penyebab utama akibat kebiasaan memakai jarum suntik bersama secara bergantian tanpa steril. Penelitian terhadap itu dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan tahun 2000 dengan hasil yang sangat mengejutkan.
Hasil penelitian menunjukkan 53% (35 dari 66 pecandu narkoba) tertular HIV. Di rumah sakit kecanduan obat (RSKO) Jakarta terjadi peningkatan dari 15% (1999) menjadi 40,8% (2000) dan 47,9% (2001). Data di klinik metadon Bali, penderita HIV positif semakin menurun, yakni tahun 2003 tercatat 70,7%, 2004 (60,6%) dan menjadi 58% pada tahun 2005. Selain memberi metadon harian kepada pecandu narkoba, klinik tersebut memberikan konseling perawatan, pengobatan dan pendampingan terhadap para klien.
Penurunan prevalensi tersebut merupakan hasil intervensi dampingan para pecandu narkoba oleh klinik metadon. Hasil survei Dinas Kesehatan Bali tahun 2007 menunjukkan, prevalensi antara 30-63,7% pecandu narkoba yang dijangkau yayasan-yayasan lain.
Secara terpisah, Prof Tuti Parwati menilai. salah satu langkah preventif meredam laju HIV/AIDS, kalangan PSK wajib memakai kondom. "Saatnya wanita PSK yang harus pakai kondom setelah para lelaki hidung belang menolak melakukan itu,’’ kata pemerhati masalah AIDS ini.
Di Thailand, misalnya, pemerintah setempat menetapkan ketentuan kepada siapapun yang akan melakukan kontak seksual dengan PSK, diwajibkan untuk memakai kondom. Ketentuan tersebut diberlakukan sebagai salah satu upaya mencegah penularan virus HIV/AIDS yang mayoritas diketahui lewat hubungan seksual. ‘’Jadi di negeri tetangga itu si pelanggan diharuskan memakai kondom, dengan konsekwensi tidak mendapat pelayanan bagi yang tidak bersedia memakainya,’’ ujarnya.
Di Indonesia, tidak ada ketentuan itu sehingga siapa saja boleh memakai wanita PSK tanpa terlebih dahulu harus memasang sarung pengaman. Karena itu, salah satu cara untuk menekan penularan virus HIV/AIDS ialah dengan mewajibkan wanita PSK memakai kondom. ‘’PSK yang kini harus pakai kondom. Bila tidak, konsekwensinya tidak boleh membuka praktik,’’ tandasnya.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Thanks for reading Setiap Daerah, Cara Penularan AIDS Berbeda

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar