Home » » Perlu Ditata Pertanian Tradisional

Perlu Ditata Pertanian Tradisional

Oleh: Wayan Nita
Enam peserta pelatihan IPSA (Institut Pelatihan dan Pengembangan Sumber Daya Alam) di Bengkel, Buleleng mengunjungi Kebun Percontohan Tanaman Obat di Jl Pulau Roti Denpasar. Peserta itu dari Poso, Sulawesi Tenggara dengan anggota dari LSM dan perwakilan ketua kelompok tani. Mereka adalah Alfred Gontha (anggota LSM), Rahman, Erik, Hendrik, Bondoke dan Henri.
Dipandu Ir Koentjoro Adhiyanto, instruktur pelatihan di IPSA, para peserta melihat cara pembuatan pupuk Bokashi Kotaku. Pelatihan ini, menurut Alfred Gontha, atas inisiatif pribadi.
Keinginan untuk melihat perkembangan pertanian di kota Poso menjadi lebih baik dan kembali organik. Selama ini, sebut Alfred, pertanian di Poso sangat tergantung dengan pupuk kimia. Pestisida juga menggunakan bahan kimia. Ketergantungan ini sebenarnya jauh dari adat dan kebiasaan masyarakat Poso zaman dulu yang mengandalkan bahan alam untuk pupuk.
Kelangkaan pupuk kimia menyebabkan banyak petani cengkeh, kakao, vanili maupun palawija sengsara. Hasil panen tidak sesuai dengan mahal dan langkanya pupuk kimia. “Karena itu, LSM kami yang bergerak di bidang perkembangan masyarakat, ingin membantu masyarakat tani mendapatkan pupuk untuk tanamannya. Terutama pupuk organik, demi kembalinya lahan pertanian yang subur dan lingkungan yang sehat,” tegas Alfred.
Keinginan itu tidak mustahil, melihat masih banyak limbah-limbah pertanian yang tanpa pengolahan dan belum dimanfaatkan. Sedangkan untuk membuat pupuk organik Bokashi Kotaku hanya perlu modal limbah organik dan tetes tebu. Tentu perlu ditambahkan larutan EM4 untuk proses fermentasi.
Limbah tersebut berasal dari kulit kakao yang dibuang petani begitu saja setelah biji kakao diambil. Jika kita bisa memanfaatkan, lanjut Alfred, tentu akan mengurangi masalah yang timbul akibat penimbunan sampah. Yang sulit dalam pengolahan limbah ini, sebutnya, adalah merubah kebiasaan atau perilaku petani. Seperti, petani yang masih menggembalakan ternaknya secara liar. Untuk mendapatkan kotoran ternaknya tentu harus mengajak petani mengkandangkan ternaknya. Agar kotoran yang diperoleh maksimal dan bisa diawasi.
Perambahan hutan yang dilakukan para petani untuk mendapatkan lahan baru juga menimbulkan masalah. Karena akibat penebangan hutan Danau Poso bisa kering dan siap rusak habitan ikan Sogiri (ikan/belut yang hanya ada di danau Poso). Petani di Poso yang mayoritas bertani secara tradisional sulit mengikuti perubahan itu. Dari anggota LSM siap mencobakan pada lingkungan sendiri terutama pada setiap ketua kelompok tani. “Setelah ada kemajuan, baru ditunjukkan kepada petani. Dengan bukti petani lebih percaya dan mau menggunakan teknologi EM,” ujar Alfred.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Thanks for reading Perlu Ditata Pertanian Tradisional

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar