Home » » Meningkat, Resiko Terkena AIDS Di Bantul

Meningkat, Resiko Terkena AIDS Di Bantul

Resiko terkena virus anti kekebalan tubuh atau Human Immunodeficiency Virus (HIV)di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, meningkat hingga 3%, ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul, dr Siti Noor Zaenab di Yogyarkarta. Angka itu cukup memprihatinkan dan dibutuhkan upaya pencegahan serius.
Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan antara lain dengan mensurvai jumlah orang yang terkena virus, meski belum sampai ke tahap mengetahui siapa yang terkena. Setelah itu, melakukan pemindaian terhadap darah yang ada di PMI Kabupaten Bantul, sebelum dibeli dan digunakan masyarakat.
Dinas Kesehatan akan melakukan VCT (Voluntery Consultating and Testing) kepada warga untuk mengetahui apakah mereka tersangkut positif atau negatif HIV/AIDS. ‘’VCT ditawarkan cuma-cuma kepada warga di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi DIY. Jangan khawatir, akan dijamin kerahasiaannya. Hanya pasien dan dokter yang mengetahui hasilnya,’’ janji Siti.
Penyuluhan terus dilakukan seperti menunda hubungan seks sebelum menikah, setia pada pasangan, namun jika terlanjur tidak bisa setia maka gunakan kondom. Pemkab Bantul menyatakan pihahnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi jika pasien sudah positif terkena AIDS. ‘’Di kabupaten Bantul urutan lokasi tertinggi yang rentan HIV atau AIDS adalah Pantai Selatan (Parangtritis, Parangkusumo, dan Samas), panti pijat, salon plus dan rumah tahanan,’’ katanya.
Dari Bandar Lampung, Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Pusat menyebut, kasus AIDS di Indonesia lebih banyak terjadi pada kaum pria. Data PKBI Pusat menyebut, secara kumulatif jumlah warga yang terinfeksi HIV dan kasus AIDS sejak 1 Januari 1987 sampai dengan 30 Juni 2008 mencapai 18.963 kasus. Staf PKBI Pusat, Dony Purwadi kepada Antara, menyampaikan rincian data sebagai berikut. Mereka yang terinfeksi HIV 6.277 kasus dan AIDS 12.686 kasus, dan meninggal dunia sudah 2.479 orang. Dari 12.688 kasus AIDS, lebih banyak terjadi pada kaum pria (9.963 kasus) dan perempuan 2.658 kasus dan 65 kasus tidak diketahui jenis kelamin.
Pada laki-laki, dari 9.963 kasus, terdapat 5.797 kasus terjadi karena penularan akibat penggunaan jarum suntik narkoba (penasun/IDU), dan pada perempuan dari 2.658 kasus terdapat 404 kasus karena IDU. Berdasarkan faktor resiko penularan, kebanyakan terjadi karena penggunaan jarum suntik para pecandu narkoba (IDU/Injection Drugs User) sebanyak 6.237 kasus, disusul hetero seksual 5.438 kasus, homo biseksual 482 kasus, transmisi perinatal/kelahiran 228 kasus, tranfusi darah 10 kasus dan tidak diketahui penyebabnya 291 kasus.
Berdasarkan data Depkes, jumlah kasus baru yang dilaporkan per tahun 2008 hingga akhir Juni, sebanyak 1.758 kasus dari laporan tahun 2007 sebanyak 3.783 kasus HIV/AIDS baru, dan tahun 2006 (3.859 kasus baru). Pada laporan itu, menurut Dony, dalam triwulan April-Juni 2008 terdapat tambahan kasus AIDS (919 kasus) dan pengidap infeksi HIV positif (148 kasus).
Provinsi yang melaporkan kasus baru AIDS itu, di antaranya Sulawesi Selatan sebanyak 155 kasus baru, Papua 110 kasus baru, Bali (90 kasus), Jatim (66), Jateng (33), DKI Jakarta (47), Sumbar (30), Jambi (19), dan beberapa provinsi lainnya (tidak termasuk Lampung) melaporkan kasus baru antara satu hingga lebih lima kasus. Jumlah pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS yang dilaporkan 1 Januari sampai dengan 30 Juni 2008 tercatat 212 (HIV) dan 1.546 (AIDS), dengan total 1.758 kasus baru . Secara kumulatif, dari 1 Juli 1987 sampai dengan 30 Juni 2008, terdapat total 18.963 kasus HIV/AIDS di seluruh Indonesia, dengan 2.479 kasus di antaranya meninggal dunia, dengan rincian 6.277 kasus HIV dan 12.686 AIDS.
Jumlah kumulatif kasus AIDS menurut golongan umur, paling banyak dialami usia 20-29 tahun (6.782 kasus), dan AIDS dialami pengguna narkoba jarum suntik (penasun/IDU) sebanyak 4.217 kasus. Tingkat prevalensi temuan kasus AIDS di Lampung, mencapai 2,05 untuk setiap 100.000 penduduk yang saat ini berkisar 7,4 juta jiwa, berada pada urutan 21 dari 33 provinsi.
Di Bali, 27 anak di bawah usia lima tahun (Balita) terinveksi virus HIV penyebab AIDS. Puluhan Balita tak berdosa itu terinveksi HIV sejak dalam kandungan ibunya atau tertular dari orang tua. Khusus di Kota Denpasar, hingga Juli 2008 total penderita HIV/AIDS tercatat 1.085 orang dari 2.208 kasus di Bali.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Thanks for reading Meningkat, Resiko Terkena AIDS Di Bantul

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar