Home » » KPA Akui Gagal Atasi AIDS

KPA Akui Gagal Atasi AIDS

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Nafsiah Mboi mengakui bahwa upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS di Indonesia sudah gagal. Kegagalan KPA itu lebih pada tindakan pencegahan lewat seks karena ternyata perilaku beresiko tinggi masih tetap sama. ‘’Upaya pencegahan kita sudah gagal karena terbukti perilaku seksual masyarakat kita masih saja menghindari kondom. Itu sebabnya prevalensi HIV terus naik,’’ kata Nafsiah Mboi dalam peluncuran Survei Terpadu Biologi dan Perilaku (STBP) tahun 2007 di Jakarta, Senin (13/10). "Kita harus akui bahwa kita telah gagal mencegah laju prevalensi HIV, tapi kita bisa perbaiki itu," katanya.
Berdasarkan perkiraan Departemen Kesehatan, pada tahun 2002 total pengidap HIV di Indonesia sebanyak 110.000 orang, naik menjadi 193.000 orang (2006) dan sudah sekitar 270.000 orang per tahun 2007-2008 atau sekitar 0,16% dari populasi nasional.
Data secara nasional menyebut, tingkat prevalensi kasus AIDS mencapai rata-rata 5,59. Tingkat prevalensi (temuan penularan AIDS) yang paling tinggi ada di Provinsi Papua (81,02), disusul DKI Jakarta (34,27), Bali (25,49), Kepulauan Riau (20,53), Kalbar (18,76), Maluku (12,02), Papua Barat (10,24), Bangka Belitung (7,27), Sulawesi Utara (6,30) dan Jawa Barat (5,22), Sulawesi Barat (0,00), Sulawesi Tengah (0,09), Jawa Tengah (1,15), Jawa Timur (3,30), Sumbar (4,81) dan Jambi (4,93).
Tapi secara nasional, temuan kasus AIDS yang dilaporkan itu hingga Juni 2008, paling tinggi ada di DKI Jakarta dengan 3.123 kasus, disusul Jabar (2.042 kasus), Papua (1.492), Jatim (1.225), Bali (889), Kalbar (765), Sumut (426), Jateng (451), Sulsel (298), Kepulauan Riau (246), Sumbar (219), Riau (171), Maluku (160), Lampung (147), Sulut (136), DIY (129), Sumsel (134) dan Jambi (133). Sementara NTB (93), NTT (92), Bangka Belitung (74), Papua Barat (58), Banten (58), Bengkulu (37), Kalsel (23), NAD (22), Kaltim dan Sulawesi Tenggara (12), Kalteng dan Maluku Utara (7), Gorontalo (3), Sulteng (2) dan Sulbar (0).
Menurut Nafsiah, bila pencegahan pertumbuhan angka pengidap HIV gagal, biaya penyembuhan tentu membengkak. "Tahun 2008 saja pemerintah menganggarkan sekitar 70 miliar rupiah untuk pengidap HIV. Kita harus bisa mengubah norma yang berlaku umum di masyarakat tentang bagaimana lelaki jantan itu. Lelaki jantan seharusnya bisa menjaga kesehatan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya,’’ tegasnya.
Selain perubahan norma, Nafsiah juga mendesak agar program-program penanggulangan AIDS lebih mengutamakan pendekatan ke generasi muda. Sebab, fakta menunjukkan 38% lelaki penyuka lelaki adalah mereka yang berusia di bawah 25 tahun. Waria juga 30% berusia 15-24 tahun. Prosentase yang sama untuk pengguna napza (narkotika, psikotropika dan zat aditif) suntik atau yang disingkat penasun. Artinya, pencegahan bahaya ini harus dari generasi muda, oleh generasi muda dan untuk generasi muda.
Sejak kasus pertama HIV/AIDS ditemukan tahun 1987, jumlah mereka yang terjangkit terus meningkat. "Bahkan lima tahun terakhir ini kenaikannya sangat tajam. Walau secara keseluruhan Indonesia masih merupakan negara dengan prevalensi rendah, tetapi mempunyai potensi menjadi epidemi karena faktor risiko tinggi," kata Budi Laksono, Medical Doctor, Master Of Reproductive Health President Rotary Club Semarang di Semarang seperti dilansir Antara pada September lalu.
UNDP merilis, sebut Laksono, per tahun 2003, di Indonesia terdapat 190 ribu sampai 270 ribu pekerja seksual komersial (PSK). Total pelanggan berkisar 7-10 juta orang, dengan sangat rendah kesadaran untuk memakai kondom (5,8%). Pusat Penelitian Badan Narkotika Nasional dan Puslitkes UI (2004) mencatat 3,2 juta masyarakat Indonesia menggunakan narkoba. Dari jumlah ini kelompok pecandu dan penggunaan heroin suntik tercatat 62%. Kematian akibat HIV/AIDS per 2004 sekitar 5.500 orang, dengan kematian diderita pada usia produktif dan keluarga yang mulai dibangun.
Penularan HIV/AIDS sangat rawan terhadap pasangan hidup dan anak. Selain memunculkan problem sosial keluarga baru, kondisi ini menyebabkan penurunan produktivitas bangsa secara umum. Sejak penyakit HIV/AIDS diidentifikasikan pada tahun 1983, HIV/AIDS telah menjadi pandemi dan problem kesehatan utama di dunia hingga saat ini.
WHO pada tahun 2003 mengestimasi 37,8 juta orang terinfeksi HIV/AIDS. Pada tahun 2005 akhir estimasi menjadi 53,6 juta (UNAIDS report 2006), dan tahun 2007 estimasi menggunakan perhitungan baru dengan jumlah 33 juta tetapi yang sudah meninggal 23 juta orang (UNAIDS report 2008). Tentang infeksi baru per tahun meningkat drastis dari 4 juta ke 8 juta. Angka kesakitan tidak pernah menurun karena tidak ada penyembuhan. Khusus Indonesia, WHO menyatakan penularannya masih dalam kriteria Not Under Control karena kampanye perubahan perilaku mencegah HIV/AIDS belum signifikan.
KPO/EDISI 161/OKTOBER 2008
Thanks for reading KPA Akui Gagal Atasi AIDS

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar