Jalan beraspal itu tampak tidak begitu mulus dan tidak cukup lebar. Hanya pas untuk satu kendaraan roda empat. Sepanjang tepi jalan mengikuti alur selokan tertata apik, meski tidak seperti proyek trotoar di daerah perkotaan. Air irigasi pertanian tradisional (subak) yang mengalir di selokan cukup jernih, menggenangi sawah dan kolam ikan yang terbentang di hilir Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, 27 km barat laut Kota Denpasar.
Jaringan jalan sempit sekitar 2 km membelah areal pertanian Subak Mole dan Subak Sengawang dengan hamparan sawah seluas 50 hektar, meski sebelumnya hanya jalan setapak. Pelebaran jalan secara gotong royong di tahun 1996 lalu diaspal Pemkab Tabanan dengan harapan bisa menghubungkan Taman Makam Pahlawan (TMP) Pujaan Bangsa Margarana dengan obyek wisata Alas Kedaton, --tempat ratusan ekor kera dan kelelawar besar.
Jalan aspal yang dihubungkan dengan jembatan darurat (titi) dari bambu khusus pejalan kaki jadi rute Lintas Alam dan Pedusunan (LAD) ratusan peserta dalam memeriahkan peringatan HUT PWI, RRI, TVRI dan LKBN ANTARA, hari Minggu (21/12). Lintas alam dan pedusunan sejauh 7 km dengan start dan finish di depan candi TMP Margarana.
Rute yang dijajal sekitar sejam itu, para peserta harus melewati Banjar Kelaci, Subak Babakan dan Banjar Adeng serta meniti jembatan tradisional dari bambu yang melintang di atas aliran sungai kecil sebelum mendaki tebing terjal diapit jurang curam, lalu memasuki hamparan padi menguning di areal Subak Sengawang, Banjar Ole. Uniknya, Asisten Teritorial Kasdam IX/Udayana Kol Inf Sudiarja dan para peserta dikadoi cinderamata berupa secekal sayuran dalam ikatan merah putih dari petani yang sedang panen.
I Nyoman Sada (35), petani sayur-mayur menghadiahkan hasil panenan kepada setiap peserta lintas alam pedusunan. Kol Sudiarja mengaku terharu dan bangga ketika disodori seikat sayuran dengan tali pita merah putih. Seikat sayuran daun gonda dan bayam dengan pita merah putih dipersembahkan petani Desa Adat Ole, Marga.
Kawasan Desa Adat Ole dikenal sebagai daerah gerilya pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai dalam merebut kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah. Di depan Pura Dalem Basa Ole yang kerap dipakai tempat bersemedi oleh I Gusti Ngurah Rai, Aster dan peserta gerak jalan LAD lainnya tiba-tiba disodori seikat sayuran berpita merah putih hasil pertanian masyarakat setempat. ‘’Wah, berpita merah putih. Ini benar-benar desa pahlawan,’’ ujar Sudiarja.
Rute yang dilalui peserta Lintas Alam dan Pedusunan menyimpan kisah heroik karena pernah dilewati pasukan Ciung Wanara pimpinan Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai (pahlawan nasional) ketika merampas sanjata NICA di Tabanan, 19 Nopember 1946. Senjata hasil rampasan lalu digunakan untuk perang habis-habisan (puputan) melawan penjajah Jepang di subak Umakaang, yang kini dikenal Puputan Margarana, yang diperingati per 20 Nopember.
Di lokasi bekas perang itu kini berdiri sebuah candi dan 1.371 tugu kecil di atas areal 10 hektar, berkait erat dengan kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pimpinan I Gusti Ngurah Rai (almarhum), pahlawan nasional asal Bali. Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana memiliki nilai historis, mengingat kesaksikan secara kasat mata, warga Bali memberi tempat yang sangat istimewa bagi Sang Tokoh. Hingga nama I Gusti Ngurah Rai diabadikan menjadii nama jalan, bangunan dan Bandara Internasional di Tuban, patung Ngurah Rai di pertigaan Jl Bandara arteri Tuban-Sanur-Nusa Dua, di samping nama sebuah perguruan tinggi swasta di kota Denpasar.
Masyarakat Bali memberikan tempat instimewa bagi sang tokoh, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai yang tidak bisa dipisahkan dengan Desa Marga. Bangsa Indonesia secara resmi telah memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Namun kolonial Belanda masih belum rela melepaskan wilayah jajahannya. Pertempuran berdarah habis-habisan termasuk di Desa Marga, 20 Nopember tahun 1946.
I Gusti Ngurah Rai dipercayakan memimpin pasukan tempur melawan NICA Belanda. Menurut kisahnya, lebih dari 1.000 prajurit pimpinannya memilih Banjar Ole, Desa Marga sebagai markasnya. Mereka tersebar di sejumlah rumah penduduk, sedangkan I Gusti Ngurah Rai memilih kediaman Wayan Pasek (almarhum). Arena pertempuran di lokasi lain di seberang sungai, yang kini menjadi kawasan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana. Pertempuran berlangsung sengit. Ngurah Rai bersama pasukan dengan dukungan masyarakat tidak pernah surut semangat mengusir penjajah. Bahkan nyaris menaklukkan pasukan NICA. Ketika kemenangan hendak digapai, pasukan udara NICA datang. Mereka menjatuhkan bom dari udara dan Marga hancur berantakan. Akibatnya, Kapten Ngurah Rai bersama sekitar 1.370 anggota pasukan pendukung gugur dalam medan laga.
Menelusuri tebing yang terjal dengan semak belukar sebelum melewati jalan subak yang beraspal seakan-akan menggapai kedamaian dan keheningan khas pedesaan, lengang dari bising mesin kendaraan bermotor. Kotek dan kokok ayam bersautan di pagi hari, seirama embusan angin serta mengikuti gesekan daun dan ranting bambu.
Di sini, dari kaki kampung, antara tegakan rumpun bambu, terdengar riakan air mengalir. Dingin dan bening, nyaris tidak dibiarkan mengalir leluasa karena terus dialirkan untuk genangi hamparan sawah, tambak, sawah dan kebun sayuran. Banjar berpenduduk 345 kepala keluarga (KK) atau 1.200 jiwa, memiliki lahan subur yang ditopang debit air yang besar sebagai karunia bagi para petani desa ‘pahlawan’ itu. Dari bentangan lahan sawah, tidak sejengkalpun dibiarkan telantar.
Klian Banjar Adat Ole, Pan Rasta mengaku, mayoritas warga bergantung dari sawah beternak sapi, babi, ayam, menanam sayuran dan memelihara ikan. Khusus beternak sapi, sistim pemeliharaan diikat di bawah pondok sederhana (kandang), yang terlihat menyebar di sejumlah titik di tepi sawah. Pakan cukup diambil dari pematang sawah atau sekitar selokan di tepi jalan yang ditanami rumput gajah. ‘’Beternak sapi di sini cukup menjanjikan. Pemeliharaan tidak banyak menyita waktu atau tidak merepotkan, harganya baik,’’ jelas petani I Wayan Karya (39) yang sehari-hari diakrabi Pan Angga.
Bagi warga petani di Banjar Ole, memelihara sapi ibarat menabung dengan bunga menjanjikan. Mengikuti musim, para petani larut dalam kesibukan rutinitas. Ada sekelompok petani sedang membenahi petak sawah jadi tambak udang atau kolam air tawar, yang lain sibuk menanam benih padi yang sempat jadi pusat perhatian peserta lintas alam pedusunan. (Ketut Sutika dan Yanes Setat/Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Jaringan jalan sempit sekitar 2 km membelah areal pertanian Subak Mole dan Subak Sengawang dengan hamparan sawah seluas 50 hektar, meski sebelumnya hanya jalan setapak. Pelebaran jalan secara gotong royong di tahun 1996 lalu diaspal Pemkab Tabanan dengan harapan bisa menghubungkan Taman Makam Pahlawan (TMP) Pujaan Bangsa Margarana dengan obyek wisata Alas Kedaton, --tempat ratusan ekor kera dan kelelawar besar.
Jalan aspal yang dihubungkan dengan jembatan darurat (titi) dari bambu khusus pejalan kaki jadi rute Lintas Alam dan Pedusunan (LAD) ratusan peserta dalam memeriahkan peringatan HUT PWI, RRI, TVRI dan LKBN ANTARA, hari Minggu (21/12). Lintas alam dan pedusunan sejauh 7 km dengan start dan finish di depan candi TMP Margarana.
Rute yang dijajal sekitar sejam itu, para peserta harus melewati Banjar Kelaci, Subak Babakan dan Banjar Adeng serta meniti jembatan tradisional dari bambu yang melintang di atas aliran sungai kecil sebelum mendaki tebing terjal diapit jurang curam, lalu memasuki hamparan padi menguning di areal Subak Sengawang, Banjar Ole. Uniknya, Asisten Teritorial Kasdam IX/Udayana Kol Inf Sudiarja dan para peserta dikadoi cinderamata berupa secekal sayuran dalam ikatan merah putih dari petani yang sedang panen.
I Nyoman Sada (35), petani sayur-mayur menghadiahkan hasil panenan kepada setiap peserta lintas alam pedusunan. Kol Sudiarja mengaku terharu dan bangga ketika disodori seikat sayuran dengan tali pita merah putih. Seikat sayuran daun gonda dan bayam dengan pita merah putih dipersembahkan petani Desa Adat Ole, Marga.
Kawasan Desa Adat Ole dikenal sebagai daerah gerilya pahlawan nasional I Gusti Ngurah Rai dalam merebut kemerdekaan bangsa dari tangan penjajah. Di depan Pura Dalem Basa Ole yang kerap dipakai tempat bersemedi oleh I Gusti Ngurah Rai, Aster dan peserta gerak jalan LAD lainnya tiba-tiba disodori seikat sayuran berpita merah putih hasil pertanian masyarakat setempat. ‘’Wah, berpita merah putih. Ini benar-benar desa pahlawan,’’ ujar Sudiarja.
Rute yang dilalui peserta Lintas Alam dan Pedusunan menyimpan kisah heroik karena pernah dilewati pasukan Ciung Wanara pimpinan Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai (pahlawan nasional) ketika merampas sanjata NICA di Tabanan, 19 Nopember 1946. Senjata hasil rampasan lalu digunakan untuk perang habis-habisan (puputan) melawan penjajah Jepang di subak Umakaang, yang kini dikenal Puputan Margarana, yang diperingati per 20 Nopember.
Di lokasi bekas perang itu kini berdiri sebuah candi dan 1.371 tugu kecil di atas areal 10 hektar, berkait erat dengan kiprah perjuangan mempertahankan kemerdekaan RI pimpinan I Gusti Ngurah Rai (almarhum), pahlawan nasional asal Bali. Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana memiliki nilai historis, mengingat kesaksikan secara kasat mata, warga Bali memberi tempat yang sangat istimewa bagi Sang Tokoh. Hingga nama I Gusti Ngurah Rai diabadikan menjadii nama jalan, bangunan dan Bandara Internasional di Tuban, patung Ngurah Rai di pertigaan Jl Bandara arteri Tuban-Sanur-Nusa Dua, di samping nama sebuah perguruan tinggi swasta di kota Denpasar.
Masyarakat Bali memberikan tempat instimewa bagi sang tokoh, Brigjen Anumerta I Gusti Ngurah Rai yang tidak bisa dipisahkan dengan Desa Marga. Bangsa Indonesia secara resmi telah memproklamasikan kemerdekaannya tanggal 17 Agustus 1945. Namun kolonial Belanda masih belum rela melepaskan wilayah jajahannya. Pertempuran berdarah habis-habisan termasuk di Desa Marga, 20 Nopember tahun 1946.
I Gusti Ngurah Rai dipercayakan memimpin pasukan tempur melawan NICA Belanda. Menurut kisahnya, lebih dari 1.000 prajurit pimpinannya memilih Banjar Ole, Desa Marga sebagai markasnya. Mereka tersebar di sejumlah rumah penduduk, sedangkan I Gusti Ngurah Rai memilih kediaman Wayan Pasek (almarhum). Arena pertempuran di lokasi lain di seberang sungai, yang kini menjadi kawasan Candi Pahlawan Taman Pujaan Bangsa Margarana. Pertempuran berlangsung sengit. Ngurah Rai bersama pasukan dengan dukungan masyarakat tidak pernah surut semangat mengusir penjajah. Bahkan nyaris menaklukkan pasukan NICA. Ketika kemenangan hendak digapai, pasukan udara NICA datang. Mereka menjatuhkan bom dari udara dan Marga hancur berantakan. Akibatnya, Kapten Ngurah Rai bersama sekitar 1.370 anggota pasukan pendukung gugur dalam medan laga.
Menelusuri tebing yang terjal dengan semak belukar sebelum melewati jalan subak yang beraspal seakan-akan menggapai kedamaian dan keheningan khas pedesaan, lengang dari bising mesin kendaraan bermotor. Kotek dan kokok ayam bersautan di pagi hari, seirama embusan angin serta mengikuti gesekan daun dan ranting bambu.
Di sini, dari kaki kampung, antara tegakan rumpun bambu, terdengar riakan air mengalir. Dingin dan bening, nyaris tidak dibiarkan mengalir leluasa karena terus dialirkan untuk genangi hamparan sawah, tambak, sawah dan kebun sayuran. Banjar berpenduduk 345 kepala keluarga (KK) atau 1.200 jiwa, memiliki lahan subur yang ditopang debit air yang besar sebagai karunia bagi para petani desa ‘pahlawan’ itu. Dari bentangan lahan sawah, tidak sejengkalpun dibiarkan telantar.
Klian Banjar Adat Ole, Pan Rasta mengaku, mayoritas warga bergantung dari sawah beternak sapi, babi, ayam, menanam sayuran dan memelihara ikan. Khusus beternak sapi, sistim pemeliharaan diikat di bawah pondok sederhana (kandang), yang terlihat menyebar di sejumlah titik di tepi sawah. Pakan cukup diambil dari pematang sawah atau sekitar selokan di tepi jalan yang ditanami rumput gajah. ‘’Beternak sapi di sini cukup menjanjikan. Pemeliharaan tidak banyak menyita waktu atau tidak merepotkan, harganya baik,’’ jelas petani I Wayan Karya (39) yang sehari-hari diakrabi Pan Angga.
Bagi warga petani di Banjar Ole, memelihara sapi ibarat menabung dengan bunga menjanjikan. Mengikuti musim, para petani larut dalam kesibukan rutinitas. Ada sekelompok petani sedang membenahi petak sawah jadi tambak udang atau kolam air tawar, yang lain sibuk menanam benih padi yang sempat jadi pusat perhatian peserta lintas alam pedusunan. (Ketut Sutika dan Yanes Setat/Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar