Oleh: Syarif Hidayat Santoso*
Masyarakat dunia ingin sekali melihat perubahan dalam tubuh Amerika setelah terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden baru Amerika. Namun apakah harapan itu akan terwujud serta merta? Begitu banyak harapan yang ingin diwujudkan pasca terpilihnya Obama, namun sejak akhir Desember, dunia dikejutkan oleh serangan militer Israel ke Gaza, wilayah Palestina yang terkenal sebagai basis kelompok Hamas.
Gaza dan juga kepemimpinan Amerika nampaknya memiliki élan vital yang mendalam. Sejak dulu, Israel merupakan negara yang menjadi anak emas Amerika Serikat. Dari periode ke periode, pergantian rezim yang silih berganti antara Republik dan Demokrat tetap saja menyisakan kekecewaan bagi masyarakat muslim dan dunia Arab pada umumnya jika berkaitan dengan Palestina. Siapapun presiden Amerika, keputusan untuk menegur Israel selalu kandas di tengah jalan. Masyarakat muslim, dunia Arab dan kecenderungan dunia ketiga pada umumnya selalu melihat persoalan Arab-Israel merupakan problem serba sulit bagi Amerika. Negeri yang hampir segala infrastruktur demokrasinya dikuasai oleh lobi Yahudi.
Tentunya bagi Obama sendiri, persoalan Palestina membutuhkan satu pendekatan sendiri yang sangat tidak simplistis. Bukan tidak mungkin, kalau Obama yang diidentikkan dengan nilai-nilai persahabatan dengan pluralisme dunia serta juga akar keislaman yang dimiliki ayahnya harus juga berhadapan dengan lobi Yahudi yang demikian kuat. Apalagi sudah menjadi kebenaran publik, bahwa setiap presiden yang terpilih di Amerika Serikat sudah pasti juga mendapat dukungan Yahudi. Data web Ynet sesaat menjelang pemilu Presiden di AS menunjukkan besarnya dukungan Yahudi (70% lebih) kepada Obama. Meskipun di satu sisi, dukungan masyarakat muslim AS juga besar kepada Obama. Persoalan lobi Yahudi ini menjadi sangat penting karena berkaitan dengan sektor-sektor penting dalam kehidupan politik AS.
Pertama, jelas bahwa dukungan Yahudi bagi setiap kandidat tidaklah gratis. Setiap pemimpin baru AS harus memahami satu prinsip penting dalam politik luar negeri AS yaitu Israel First. Orientasi Israel First ini sedikit banyak telah memacu lahirnya kebijakan standar ganda terhadap lawan-lawan Israel seperti Palestina, Irak dan Iran. AS selalu memveto apapun keputusan DK PBB yang berkaitan dengan Israel. Kekuatan lobi Yahudi ini secara mutual simbiosis berkorelasi dengan kelompok neocons (neo konservatif) yaitu sebuah kelompok yang pandangan politiknya selalu paralel dengan Israel. Pada masa Bush Jr sekarang, kelompok ini terdiri dari tokoh-tokoh seperti Dick Cheney, Wolfowitz, Rumsfeld, Richard Perle dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh Neocons ini sangat erat sekali dengan kelompok Yahudi yang tergabung dalam JINSA ( Jewish Institute For National Security Affairs). Bagi Obama, mendepak kelompok ini sama sulitnya dengan mendepak Yahudi dari pemerintahan AS. Bukan saja karena kekuatan mereka yang sulit dipisahkan dengan lobi Yahudi di AS, tapi juga bahwa kelompok Neocons ini memiliki kaitan dengan mesin uang AS. Kalangan Yahudi sangat dominan dalam menguasai institusi demokrasi massif seperti media massa di AS. Kekuatan opini selalu dibangun untuk membendung stigmaisasi terhadap kelompok Yahudi dan Israel. Kelompok Neocons ini juga berkaitan dengan Military Industrial Complex, kelompok militer Amerika yang haus perang dan berupaya mendapatkan profit sebesar-besarnya dari berbagai konflik di penjuru dunia.
Kedua, bahwa kekuatan lobi Yahudi ini sejujurnya tidak mendapat lawan yang seimbang satupun, termasuk juga masyarakat muslim AS. Meskipun secara kuantitas, masyarakat muslim AS melampaui jumlah total kaum Yahudi AS, tetap saja kekuatan ini tak dapat diandalkan. Selain karena persoalan soliditas, persoalan media sebagai corong kebijakan dalam skala luas dan juga akses ekonomi tidak dimiliki oleh kelompok muslim. Rezim politik Timur Tengahpun, kecuali Iran adalah rezim yang lemah dan secara nyata sebenarnya menguntungkan Israel. Hampir seluruh Rezim Arab Teluk yang kaya minyak dan juga negara-negara demokrasi di Timur Tengah ditopang stabilitas politiknya oleh AS. Itulah sebabnya, jika berkaitan dengan Israel, pemerintahan Timur Tengah utamanya negara-negara Teluk selalu lemah.
Krisis Gaza seakan menunjukkan satu ujian bagi kepemimpinan Amerika. Bagi AS sendiri, hal tersulit yang harus disampaikan pada masyarakat dunia adalah bahwa kepemimpinan Amerika bukanlah kepemimpinan yang berada pada otoritas individu. Lebih daripada itu, kepemimpinan AS adalah sebuah kepemimpinan berorientasi rezim yang sulit sekali untuk mendepak kolektifitas Israel di dalamnya. Sejarah politik AS membuktikan bahwa presiden dari partai Demokratpun juga tidak memberi kepuasan kepada masyarakat muslim dan juga Arab. Lihatlah di masa Clinton, meskipun berasal dari partai demokrat, sama dengan Obama, namun, kebijakan Amerika tentang Somalia, Bosnia, Rezim Taliban, Sudan dan juga Palestina dianggap minor oleh masyarakat muslim dunia. Krisis Gaza akan menjadi taruhan bagi kepemimpinan baru AS, apakah akan melanjutkan citra politik ala Bush yang Hawkish ataukah lembek seperti Clinton. Ataukah ada alternatif lain yang akan disuguhkan Obama dan partai Demokratnya bagi publik dunia?
*) Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ, tinggal di Sumenep, Madura.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Masyarakat dunia ingin sekali melihat perubahan dalam tubuh Amerika setelah terpilihnya Barack Husein Obama sebagai presiden baru Amerika. Namun apakah harapan itu akan terwujud serta merta? Begitu banyak harapan yang ingin diwujudkan pasca terpilihnya Obama, namun sejak akhir Desember, dunia dikejutkan oleh serangan militer Israel ke Gaza, wilayah Palestina yang terkenal sebagai basis kelompok Hamas.
Gaza dan juga kepemimpinan Amerika nampaknya memiliki élan vital yang mendalam. Sejak dulu, Israel merupakan negara yang menjadi anak emas Amerika Serikat. Dari periode ke periode, pergantian rezim yang silih berganti antara Republik dan Demokrat tetap saja menyisakan kekecewaan bagi masyarakat muslim dan dunia Arab pada umumnya jika berkaitan dengan Palestina. Siapapun presiden Amerika, keputusan untuk menegur Israel selalu kandas di tengah jalan. Masyarakat muslim, dunia Arab dan kecenderungan dunia ketiga pada umumnya selalu melihat persoalan Arab-Israel merupakan problem serba sulit bagi Amerika. Negeri yang hampir segala infrastruktur demokrasinya dikuasai oleh lobi Yahudi.
Tentunya bagi Obama sendiri, persoalan Palestina membutuhkan satu pendekatan sendiri yang sangat tidak simplistis. Bukan tidak mungkin, kalau Obama yang diidentikkan dengan nilai-nilai persahabatan dengan pluralisme dunia serta juga akar keislaman yang dimiliki ayahnya harus juga berhadapan dengan lobi Yahudi yang demikian kuat. Apalagi sudah menjadi kebenaran publik, bahwa setiap presiden yang terpilih di Amerika Serikat sudah pasti juga mendapat dukungan Yahudi. Data web Ynet sesaat menjelang pemilu Presiden di AS menunjukkan besarnya dukungan Yahudi (70% lebih) kepada Obama. Meskipun di satu sisi, dukungan masyarakat muslim AS juga besar kepada Obama. Persoalan lobi Yahudi ini menjadi sangat penting karena berkaitan dengan sektor-sektor penting dalam kehidupan politik AS.
Pertama, jelas bahwa dukungan Yahudi bagi setiap kandidat tidaklah gratis. Setiap pemimpin baru AS harus memahami satu prinsip penting dalam politik luar negeri AS yaitu Israel First. Orientasi Israel First ini sedikit banyak telah memacu lahirnya kebijakan standar ganda terhadap lawan-lawan Israel seperti Palestina, Irak dan Iran. AS selalu memveto apapun keputusan DK PBB yang berkaitan dengan Israel. Kekuatan lobi Yahudi ini secara mutual simbiosis berkorelasi dengan kelompok neocons (neo konservatif) yaitu sebuah kelompok yang pandangan politiknya selalu paralel dengan Israel. Pada masa Bush Jr sekarang, kelompok ini terdiri dari tokoh-tokoh seperti Dick Cheney, Wolfowitz, Rumsfeld, Richard Perle dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh Neocons ini sangat erat sekali dengan kelompok Yahudi yang tergabung dalam JINSA ( Jewish Institute For National Security Affairs). Bagi Obama, mendepak kelompok ini sama sulitnya dengan mendepak Yahudi dari pemerintahan AS. Bukan saja karena kekuatan mereka yang sulit dipisahkan dengan lobi Yahudi di AS, tapi juga bahwa kelompok Neocons ini memiliki kaitan dengan mesin uang AS. Kalangan Yahudi sangat dominan dalam menguasai institusi demokrasi massif seperti media massa di AS. Kekuatan opini selalu dibangun untuk membendung stigmaisasi terhadap kelompok Yahudi dan Israel. Kelompok Neocons ini juga berkaitan dengan Military Industrial Complex, kelompok militer Amerika yang haus perang dan berupaya mendapatkan profit sebesar-besarnya dari berbagai konflik di penjuru dunia.
Kedua, bahwa kekuatan lobi Yahudi ini sejujurnya tidak mendapat lawan yang seimbang satupun, termasuk juga masyarakat muslim AS. Meskipun secara kuantitas, masyarakat muslim AS melampaui jumlah total kaum Yahudi AS, tetap saja kekuatan ini tak dapat diandalkan. Selain karena persoalan soliditas, persoalan media sebagai corong kebijakan dalam skala luas dan juga akses ekonomi tidak dimiliki oleh kelompok muslim. Rezim politik Timur Tengahpun, kecuali Iran adalah rezim yang lemah dan secara nyata sebenarnya menguntungkan Israel. Hampir seluruh Rezim Arab Teluk yang kaya minyak dan juga negara-negara demokrasi di Timur Tengah ditopang stabilitas politiknya oleh AS. Itulah sebabnya, jika berkaitan dengan Israel, pemerintahan Timur Tengah utamanya negara-negara Teluk selalu lemah.
Krisis Gaza seakan menunjukkan satu ujian bagi kepemimpinan Amerika. Bagi AS sendiri, hal tersulit yang harus disampaikan pada masyarakat dunia adalah bahwa kepemimpinan Amerika bukanlah kepemimpinan yang berada pada otoritas individu. Lebih daripada itu, kepemimpinan AS adalah sebuah kepemimpinan berorientasi rezim yang sulit sekali untuk mendepak kolektifitas Israel di dalamnya. Sejarah politik AS membuktikan bahwa presiden dari partai Demokratpun juga tidak memberi kepuasan kepada masyarakat muslim dan juga Arab. Lihatlah di masa Clinton, meskipun berasal dari partai demokrat, sama dengan Obama, namun, kebijakan Amerika tentang Somalia, Bosnia, Rezim Taliban, Sudan dan juga Palestina dianggap minor oleh masyarakat muslim dunia. Krisis Gaza akan menjadi taruhan bagi kepemimpinan baru AS, apakah akan melanjutkan citra politik ala Bush yang Hawkish ataukah lembek seperti Clinton. Ataukah ada alternatif lain yang akan disuguhkan Obama dan partai Demokratnya bagi publik dunia?
*) Alumnus Hubungan Internasional FISIP UNEJ, tinggal di Sumenep, Madura.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar