Home » » Kesehatan Jadi Prioritas Bali 2009

Kesehatan Jadi Prioritas Bali 2009

Oleh: I Ketut Sutika
I Nyoman Pugur (53), pria kelahiran Banjar Ole, Desa Marga Dauh Puri, Kabupaten Tabanan, menanggung beban utang sebesar Rp15 juta untuk membiayai operasi payudara istrinya Men Santi (49) di sebuah rumah sakit swasta di kota Tabanan. Ayah dari dua putri itu bekerja sebagai buruh bangunan dengan pendapatan yang tidak menentu, sehingga untuk ‘’menebus’’ istrinya dari rumah sakit itu dia harus pinjam sana-sini. ‘’Awalnya saya mau berobat ke rumah sakit umum Tabanan dengan membawa surat miskin, agar biayanya dapat ditekan sekecil mungkin,’’ tutur kakek seorang cucu dari seorang putrinya yang telah membentuk rumah tangga.
Bintang keberuntungan itu rupanya tidak berpihak pada Ketua (Kelian) Pura Dalem Base Desa Adat Ole, karena surat keterangan miskin tidak berhasil diperolehnya dari kelian banjar (kepala dusun) setempat dengan berbagai alasan. Penyakit Men Santi semakin parah, dan surat keterangan miskin yang dinanti-nati dari kepala dusun tidak kunjung datang. Dalam kondisi demikian, ia mengantar istrinya berobat ke RSU Tabanan. Setelah diperiksa laboratorium, Men Santi dirujuk ke rumah sakit swasta di Kota Tabanan untuk menjalani operasi. Tim dokter berhasil melakukan operasi payudara pada diri Men Santi. Namun, pasien harus membayar sekitar Rp15 juta, dana yang cukup bagi sosok seorang buruh tani I Nyoman Pugur.
Sosok I Nyoman Pugur merupakan seorang contoh dari ribuan orang kurang mampu di Pulau Bali yang menghadapi masalah menyangkut biaya pelayanan bidang kesehatan. Apakah masalah serupa akan terus berlanjut? Gubernur Bali Made Mangku Pastika, yang dipercaya "mengendalikan" Pulau Dewata yang berpenghuni 3,5 juta jiwa sejak 28 Agustus 2008, memprioritaskan bidang kesehatan dan pendidikan pada 2009, tanpa mengenyampingkan aspek pembangunan lainnya. Berbagai program dengan dukungan dana APBD Bali 2009 sebesar Rp 1,6 triliun itu telah dirancang guna meringankan beban penderitaan masyarakat, sekaligus meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan. ‘’Sejumlah kegiatan menyangkut pelayanan kesehatan masyarakat secara cuma-cuma telah dirancang, termasuk tidak ada lagi masyarakat miskin yang batal mendapat perawatan akibat tidak memiliki dana,’’ tutur Gubernur Pastika pada temu wicara dengan masyarakat dari berbagai lapisan.
Pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pelosokan pedesaan Pulau Bali dilakukan oleh satu tim terpadu dengan sasaran melakukan 600 kali kunjungan selama tahun 2009. Tim medis yang beranggotakan sejumlah dokter ahli, dokter umum, dan perawat dengan bekal peralatan medis dan obat-obatan yang memadai itu akan memberikan pelayanan secara cuma-cuma.
Pelayanan kesehatan dalam ratusan kali kunjungan ke desa-desa di delapan kabupaten dan satu kota di Bali mengutamakan masyarakat yang membutuhkan, sehingga warga dapat merasakan manfaatnya. Pelayanan kesehatan keliling desa didukung dengan peralatan canggih bidang kedokteran, termasuk melakukan operasi katarak dengan sasaran menjangkau 1.000 pasien.
Pelayanan kesehatan secara cuma-cuma langsung ke tempat pemukiman masyarakat juga disertai dengan upaya meningkatkan penanganan pasien, terutama untuk orang kurang mampu di masing-masing rumah sakit kabupaten dan RSUP Sanglah Denpasar. Sekretaris Pemerintah Propinsi Bali I Nyoman Yasa awal tahun 2009 telah menyerahkan bantuan Rp 5 miliar untuk menangani pasien miskin di RSUP Sanglah dari sekitar Rp 10 miliar hingga Rp 15 miliar yang dibutuhkan untuk setahun.
Upaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat tersebut akan disertai dengan membangun empat pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) rawat inap di empat kecamatan yang lokasinya cukup jauh dari rumah sakit kabupaten maupun RSUP Sanglah. Keempat puskesmas yang akan ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas rawat inap terdiri atas Puskesmas Kubu (Karangasem), Kintamani (Bangli), Grokgak (Buleleng), dan Nusa Penida (Klungkung) dengan alokasi dana sebesar Rp13,71 miliar.
Peningkatan status tersebut disertai dengan peralatan medis, tenaga dokter dan para medis dalam jumlah memadai, sebagai upaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, tanpa terlalu membebankan biaya kepada warga masyarakat. ‘’Menteri Kesehatan Dr Siti Fadillah Soepari diharapkan bisa membantu tambahan tenaga medis guna meningkatkan pelayanan rawat inap pada empat puskesmas yang ditingkatkan statusnya, terutama dokter ahli kandungan,’’ kata Pastika.
Upaya meningkatkan pelayanan kesehatan itu juga disertai dengan bedah rumah, yakni memperbaiki 1000 unit rumah milik masyarakat miskin dengan alokasi dana Rp 3,5 miliar.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Thanks for reading Kesehatan Jadi Prioritas Bali 2009

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar