Banyaknya kasus kebutaan yang terjadi di sebagian kecil masyarakat Indonesia memancing banyaknya permintaan donor mata namun hal itu tidak diiringi dengan ketersediaan pendonor mata akibat terkendala persetujuan keluarga pendonor.
Dirut RS Mata Cicendo Bandung, Kautsar Boesoirie di Bandung, Kamis (15/1) menyatakan, permintaan donor mata setiap bulan melebihi ketersediaan pendonor yang hanya dua sampai tiga orang meski dalam catatan rumah sakit jumlah pendonor sangat panjang. ‘’Ini disebabkan pihak keluarga tidak mengijinkan tim dokter untuk melakukan operasi setelah pendonor meninggal dunia sedangkan penerima donor telah siap untuk menerima cangkokan mata,’’ katanya.
Realitas yang terjadi disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mendonorkan sebagian tubuhnya meski fatwa Majelis Ulama Indonesia telah membolehkan. Kautsar mengatakan, sekitar 1980-an Indonesia menerima ratusan donor mata dari Srilanka dan peminatnya sangat banyak hingga masyarakat berebut. ‘’Inilah cerminan bagaimana masyarakat Indonesia begitu membutuhkan donor mata,’’ katanya.
Saat ini di Indonesia tercatat 3.5 juta penduduk mengalami kebutaan atau kerusakan pada kornea mata yang dalam jarak pandang 3 meter sudah tidak dapat melihat sebuah benda secara.
Cangkok kornea dibutuhkan para penerima donor agar penglihatan dapat kembali normal namun dokter tetap memeriksa kecocokan antara mata penerima donor dan pendonor. Ketika ditanya biaya yang dibutuhkan untuk sebuah operasi pencangkokan atau pendonoran, Kautsar menjawab seharga melakukan operasi katarak. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pencangkokan Rp 3 juta, ujarnya.
RS Mata Cicendo merupakan satu-satunya rumah sakit mata milik pemerintah yang setiap bulan melakukan operasi pencangkokan mata 2-3 kali. Hingga medio Januari 2009 ini RS Mata Cicendo sudah dua kali melakukan cangkok mata.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Dirut RS Mata Cicendo Bandung, Kautsar Boesoirie di Bandung, Kamis (15/1) menyatakan, permintaan donor mata setiap bulan melebihi ketersediaan pendonor yang hanya dua sampai tiga orang meski dalam catatan rumah sakit jumlah pendonor sangat panjang. ‘’Ini disebabkan pihak keluarga tidak mengijinkan tim dokter untuk melakukan operasi setelah pendonor meninggal dunia sedangkan penerima donor telah siap untuk menerima cangkokan mata,’’ katanya.
Realitas yang terjadi disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mendonorkan sebagian tubuhnya meski fatwa Majelis Ulama Indonesia telah membolehkan. Kautsar mengatakan, sekitar 1980-an Indonesia menerima ratusan donor mata dari Srilanka dan peminatnya sangat banyak hingga masyarakat berebut. ‘’Inilah cerminan bagaimana masyarakat Indonesia begitu membutuhkan donor mata,’’ katanya.
Saat ini di Indonesia tercatat 3.5 juta penduduk mengalami kebutaan atau kerusakan pada kornea mata yang dalam jarak pandang 3 meter sudah tidak dapat melihat sebuah benda secara.
Cangkok kornea dibutuhkan para penerima donor agar penglihatan dapat kembali normal namun dokter tetap memeriksa kecocokan antara mata penerima donor dan pendonor. Ketika ditanya biaya yang dibutuhkan untuk sebuah operasi pencangkokan atau pendonoran, Kautsar menjawab seharga melakukan operasi katarak. Biaya yang harus dikeluarkan untuk pencangkokan Rp 3 juta, ujarnya.
RS Mata Cicendo merupakan satu-satunya rumah sakit mata milik pemerintah yang setiap bulan melakukan operasi pencangkokan mata 2-3 kali. Hingga medio Januari 2009 ini RS Mata Cicendo sudah dua kali melakukan cangkok mata.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar