Batik tulis khas Mojokerto, tidak terpengaruh krisis ekonomi global, dan bahkan omzetnya terus merangkak naik. "Kerajinan batik yang kami takuni ini memang tidak begitu terpengaruh dengan terpaan krisis ekonomi global yang terjadi. Pasalnya, usaha batik yang kami geluti ini tidak mengerahkan banyak tenaga kerja dan lebih banyak ditangani sendiri," kata Hindun, salah seorang perajin batik tulis khas Mojokerto.
Ia mengatakan, rahasia lain kenapa usaha batiknya itu tidak terkena imbas krisis ekonomi global, karena wilayah pemasarannya masih berada di dalam negeri saja. "Usaha kami ini memang masih bersifat lokal. Hanya melayani permintaan dalam negeri saja sehingga tidak begitu terpengaruh terpaan krisis ekonomi global yang saat ini banyak melanda industri dengan orientasi pasar ekspor," katanya.
Diakuinya, mulai dari proses desain, membatik hingga memasarkan hasil karyanya semuanya ditangani sendiri. "Mungkin karyawan saya hanya membantu pada proses `finishing`, seperti penjemuran dan pencucian batik. Sementara untuk proses yang lain banyak yang saya lakukan sendiri," katanya.
Lebih lanjut Hindun mengatakan, usaha batik tulis yang ditekuni lebih dari 10 tahun itu omzet penjualannya terus naik. "Jika dalam satu bulan saya bisa menjual sebanyak tiga lembar kain, kini bisa mencapai puluhan lembar,” katanya seperti dikutip Antara.
Saat ini, karyawan yang bekerja di usaha kerajinan batik miliknya berjumlah 10 orang yang rata- rata berasal dari lingkungan sekitar. "Harga jual batik saya pun bervariasi, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp350 ribu perlembarnya," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009
Ia mengatakan, rahasia lain kenapa usaha batiknya itu tidak terkena imbas krisis ekonomi global, karena wilayah pemasarannya masih berada di dalam negeri saja. "Usaha kami ini memang masih bersifat lokal. Hanya melayani permintaan dalam negeri saja sehingga tidak begitu terpengaruh terpaan krisis ekonomi global yang saat ini banyak melanda industri dengan orientasi pasar ekspor," katanya.
Diakuinya, mulai dari proses desain, membatik hingga memasarkan hasil karyanya semuanya ditangani sendiri. "Mungkin karyawan saya hanya membantu pada proses `finishing`, seperti penjemuran dan pencucian batik. Sementara untuk proses yang lain banyak yang saya lakukan sendiri," katanya.
Lebih lanjut Hindun mengatakan, usaha batik tulis yang ditekuni lebih dari 10 tahun itu omzet penjualannya terus naik. "Jika dalam satu bulan saya bisa menjual sebanyak tiga lembar kain, kini bisa mencapai puluhan lembar,” katanya seperti dikutip Antara.
Saat ini, karyawan yang bekerja di usaha kerajinan batik miliknya berjumlah 10 orang yang rata- rata berasal dari lingkungan sekitar. "Harga jual batik saya pun bervariasi, mulai dari Rp150 ribu hingga Rp350 ribu perlembarnya," katanya.
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar