Program tayangan televisi berupa berita dan talk show lebih diapresiasi masyarakat ketimbang program hiburan. Program berita dan talkshow lebih dibutuhkan masyarakat karena berkualitas. Hasil penelitian Yayasan Sains, Estetika, dan Teknologi (SET) yang bekerjasama dengan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Yayasan Tifa, dan Jaringan Masyarakat Pemerhati Televisi yang dilakukan pada Desember 2008 lalu meruntuhkan anggapan bahwa program berita tidak menarik, bahkan merugi.
Menurut Koordinator Pelaksana Yayasan SET Agus Sudibyo, program informasi dan berita lebih diapresiasi disebabkan beberapa hal. Pertama, dianggap lebih pantas memberikan informasi yang relevan bagi masyarakat. Kedua, memberikan model perilaku yang baik dibandingkan program hiburan. Ketiga, meningkatkan daya kritis, fungsi pengawasan, dan memberikan sesuatu yang relevan buat masyarakat. Dibandingkan program sinetron, program informasi dan berita memiliki nilai lebih. Program sinetron cenderung tidak mendidik, tidak memberikan informasi, tidak memberikan perilaku yang baik, mengandung muatan pornografi, dan kurang sensitif pada gender. Adapun program bermuatan kriminalitas dan hiburan, kuantitasnya besar, tapi kualitasnya buruk. Beda dengan tayangan sosial politik dan ekonomi yang kuantitasnya banyak, tetapi juga kualitasnya cukup memadai.
Penelitian yang melibatkan 220 kalangan terdidik di 11 kota dengan 20 orang di setiap kota ini tentu saja mengandung pesan penting bahwa menilai tayangan televisi jangan hanya dari aspek kuantitas semata, tapi hendaknya juga dari aspek kualitas. Rating yang dikeluarkan AGB-Nielsen yang umumnya berdasarkan aspek kuantitas tidak mutlak dijadikan pegangan dalam menentukan program televisi. Program televisi seyogianya mampu memadukan rating kuantitas dan juga kualitas. Dengan kata lain, pihak industri televisi jangan sekadar ”mendewakan” rating kuantitas dan alpa terhadap kualitas tayangan. Ditinjau lebih jauh, hasil penelitian ini juga menunjukkan fakta bahwa tingkat pendidikan menentukan kecerdasan masyarakat dalam memilih program televisi. Disebutkan bahwa responden penelitian ini berasal dari kalangan terpelajar dan terdidik dengan pendidikan minimal SMA di mana 70 persen adalah lulusan perguruan tinggi, yakni D3 dan S1.
Pastinya, pihak pengelola televisi diharapkan bisa mengambil pelajaran penting dengan adanya hasil penelitian tersebut. Pihak pengelola televisi perlu melakukan refleksi bahwa peran media massa bukan sekadar menghibur, apalagi mengutamakan bisnis semata, tetapi ada peran lain yang tak boleh dilupakan, yakni sebagai sumber informasi yang bermanfaat dan memberikan edukasi kepada masyarakat (Rofiqoh Hadiyati:2007). Memang sejak lama dikeluhkan bahwa tayangan televisi di negeri ini ternyata belum cukup mampu mengedukasi publik. Wallahu a’lam.
(Komentara: Hendra Sugiantoro, Pegiat Profetik Student Center UNY, Karangmalang Yogyakarta).
Menurut Koordinator Pelaksana Yayasan SET Agus Sudibyo, program informasi dan berita lebih diapresiasi disebabkan beberapa hal. Pertama, dianggap lebih pantas memberikan informasi yang relevan bagi masyarakat. Kedua, memberikan model perilaku yang baik dibandingkan program hiburan. Ketiga, meningkatkan daya kritis, fungsi pengawasan, dan memberikan sesuatu yang relevan buat masyarakat. Dibandingkan program sinetron, program informasi dan berita memiliki nilai lebih. Program sinetron cenderung tidak mendidik, tidak memberikan informasi, tidak memberikan perilaku yang baik, mengandung muatan pornografi, dan kurang sensitif pada gender. Adapun program bermuatan kriminalitas dan hiburan, kuantitasnya besar, tapi kualitasnya buruk. Beda dengan tayangan sosial politik dan ekonomi yang kuantitasnya banyak, tetapi juga kualitasnya cukup memadai.
Penelitian yang melibatkan 220 kalangan terdidik di 11 kota dengan 20 orang di setiap kota ini tentu saja mengandung pesan penting bahwa menilai tayangan televisi jangan hanya dari aspek kuantitas semata, tapi hendaknya juga dari aspek kualitas. Rating yang dikeluarkan AGB-Nielsen yang umumnya berdasarkan aspek kuantitas tidak mutlak dijadikan pegangan dalam menentukan program televisi. Program televisi seyogianya mampu memadukan rating kuantitas dan juga kualitas. Dengan kata lain, pihak industri televisi jangan sekadar ”mendewakan” rating kuantitas dan alpa terhadap kualitas tayangan. Ditinjau lebih jauh, hasil penelitian ini juga menunjukkan fakta bahwa tingkat pendidikan menentukan kecerdasan masyarakat dalam memilih program televisi. Disebutkan bahwa responden penelitian ini berasal dari kalangan terpelajar dan terdidik dengan pendidikan minimal SMA di mana 70 persen adalah lulusan perguruan tinggi, yakni D3 dan S1.
Pastinya, pihak pengelola televisi diharapkan bisa mengambil pelajaran penting dengan adanya hasil penelitian tersebut. Pihak pengelola televisi perlu melakukan refleksi bahwa peran media massa bukan sekadar menghibur, apalagi mengutamakan bisnis semata, tetapi ada peran lain yang tak boleh dilupakan, yakni sebagai sumber informasi yang bermanfaat dan memberikan edukasi kepada masyarakat (Rofiqoh Hadiyati:2007). Memang sejak lama dikeluhkan bahwa tayangan televisi di negeri ini ternyata belum cukup mampu mengedukasi publik. Wallahu a’lam.
(Komentara: Hendra Sugiantoro, Pegiat Profetik Student Center UNY, Karangmalang Yogyakarta).
Koran Pak Oles/Edisi 167/16-31 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar