Home » » BBM Turun Salah, Naik Juga Salah

BBM Turun Salah, Naik Juga Salah

Oleh: Panca Hari Prabowo
Beberapa hari ini masyarakat mulai menikmati harga jual baru premium dan solar yang lebih murah, -- Rp 500 dan Rp 700 dari harga sebelumnya. Meski muncul pro kontra, pemerintah memiliki alasan terkait penurunan harga jual kedua jenis bahan bakar itu. ‘’Terkait inflasi pemerintah memutuskan berapa harga BBM yang tepat dan pantas. Saya sudah mengambil keputusan untuk menurunkan harga premium dan solar,’’ kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla di Jakarta, Minggu (16/12).
Ada pergeseran harga minyak mentah dunia yang terus turun, meski sulit diprediksi. Keputusan untuk menurunkan harga premium dan solar selain didasari harga minyak dunia yang turun, juga dilandasi pertimbangan untuk menekan inflasi sehingga daya beli masyarakat dan kemampuan sektor riil bisa terjaga. Penurunan harga premium dan solar yang diumumkan Presiden lebih dilatari pada komitmen untuk meningkatkan daya beli, menggerakkan sektor riil, menjaga aspek psikologis masyarakat dan kemampuan APBN 2009 untuk menopang perekonomian.
Pembangunan infrastruktur diharapkan dapat menyerap tenaga kerja dan terus mendorong pertumbuhan ekonomi. Inti dari masalah yang dihadapi Indonesia akibat krisis keuangan global adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi. ‘’Hampir dapat dipastikan pertumbuhan ekonomi kita turun dibandingkan rata-rata dua tahun terakhir ini yang di atas enam persen dan berpengaruh pada pengangguran yang mengemuka serta pada ekspor,’’ katanya.
Usaha pemerintah untuk menciptakan lapangan pekerjaan melalui pembangunan infrastruktur, kata Presiden Yudhoyono, akan terbatas. Karena itu diperlukan peran serta dari pihak swasta termasuk pembiayaan. Tentu ada batas lapangan pekerjaan yang dapat diciptakan dari dana pemerintah, dank arena itu penting didorong adanya public partnership sehingga lebih banyak infrastruktur yang dibangun dan lebih banyak angkatan kerja yang terserap.
Kebijakan pemerintah untuk menurunkan harga jual premium dan solar mendapat tanggapan beragam baik dari masyarakat, pengusaha SPBU maupun kalangan politisi. Dari kalangan pengusaha SPBU mengeluh karena menderita kerugian. Terkait keluhan pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) soal margin harga pembelian premium dan solar sebelum dan setelah penurunan harga, Sri Mulyani mengatakan Menneg BUMN bersama Pertamina siap membahas kompensasi untuk kalangan pengusaha itu karena ada masalah dalam ongkos. Karena itu, perlu digulirkan ada kompensasi yang seimbang dan wajar kepada pengusaha SPBU demi mencegah terjadinya kelangkaan BBM. Per 1 Desember, kompensasi yang diminta SPBU sebesar Rp 27 miliar dengan asumsi sehari penjualan 54 kilo liter.
Dari kalangan politisi, kebijakan yang diambil Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla dinilai sebagai salah satu usaha meningkatkan popularitas. Menteri Komunikasi dan Informatika M. Nuh mengatakan, penurunan harga premium dan solar tidak ada kaitannya dengan isu politik termasuk untuk menaikkan popularitas. ‘’Jangan dipandang bahwa penurunan BBM ini berkaitan dengan kebijakan politik praktis yang arahnya ke 2009 tetapi ini kebijakan publik yang tujuannya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,’’ tegas Nuh.
Penurunan harga premium Rp 5000 per liter dan solar Rp 4800 per liter karena harga minyak di pasar dunia memang turun. Harga komoditas hampir selalu bersifat situasional dan sangat tergantung variabel-variabel termasuk penawaran dan permintaan. Saat menaikan harga BBM 24 Mei 2008 untuk mengurangi beban masyarakat, pemerintah menyuntikkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sebagai subsidi langsung.
Karena itu, saat ini pihaknya mengajak seluruh masyarakat untuk tidak menggunakan pendekataan curiga secara politik. ‘’Kondisinya saat ini BBM dinaikkan salah, diturunkan salah, dibiarkan juga salah. Jadi siapapun pemerintahnya berhak menentukan kebijakan maka selama kebijakan itu bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat mohon dilihat secara jernih. Ini tidak ada kaitannya dengan politik praktis atau pilpres,’’ katanya.
Penurunan harga BBM merupakan bentuk konsistensi pemerintah yang sebelumnya sudah menaikkan harga BBM karena harga minyak dunia naik. Dengan demikian konsekuensinya adalah menurunkan harga BBM saat harga minyak dunia turun. ‘’Sangat tidak konsekuen namanya kalau saat kita menaikkan BBM karena harga minyak dunia naik. Saat ini turun ya memang sudah seharusnya turun,’’ katanya. (Anspek)
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Thanks for reading BBM Turun Salah, Naik Juga Salah

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar