Kemacetan lalu lintas yang terjadi di kawasan pariwisata di Bali sejak menjelang Natal hingga tahun baru patut disyukuri, karena menunjukkan sektor pariwisata cukup menggairahkan. "Kemacetan lalu lintas terutama di kawasan Kuta, Nusa Dua dan sekitarnya dipicu dengan banyaknya kendaraan dari luar Bali yang digunakan wisatawan," kata Kepala Dinas Perhubungan Informasi dan Komunikasi Provinsi Bali Ir Ida Bagus Made Parsa MM kepada Antara di Denpasar, Rabu (31/12).
Wisatawan yang datang dengan kendaraan pribadi dari berbagai kota di Pulau Jawa diperkirakan akan menikmati liburan di Bali hingga tanggal 2 atau 3 Januari 2009. Kendaraan dalam berbagai jenis dari luar daerah yang masuk ke Bali diperkirakan mencapai 3.700 unit, sehingga menambah kepadatan lalu lintas yang sehari-harinya memang sudah padat.
Hotel Melati Padat
Sementara sejumlah turis domestik kesulitan mendapat tempat menginap di Denpasar untuk menghabiskan libur akhir tahun karena hotel-hotel kelas melati juga ludes dipenuhi turis domestik itu.
Seorang petugas Hotel Warta Sari, di dekat Terminal Ubung, Denpasar, Rabu petang, menyatakan, semua hotel di kawasan ini ludes. "Kami saja harus berkali-kali menolak tamu yang datang dari Jakarta, Surabaya, dan banyak kota lain. Susah cari hotel sekarang-sekarang ini."
Hotel kelas melati itu, katanya, memiliki 30 kamar yang dijual dengan harga Rp100.000 per malam. Saat ditemui, di halaman parkir hotel yang sempit itu, terdapat enam bus besar berisikan rombongan darmawisata sekolah menengah atas dari Cianjur, Jawa Barat. "Semua kamar sudah di-`booking` rombongan ini. Yang tidak tertampung harus rela tidur di hotel tetangga. Kami sudah biasa bekerja sama seperti itu dan pihak rombongan biasanya maklum, toh jaraknya dekat sekali," kata Made Sutrisna, petugas hotel itu.
Bukan cuma di kawasan Ubung saja hotel-hotel kelas melati itu penuh, karena penginapan serupa di pinggiran Kabupaten Tabanan yang berbatasan dengan Kabupaten Badung juga demikian.
Wisma Puri yang terletak di pinggir sawah di kawasan Kapal, sebagai misal, delapan kamar yang dimiliki wisma sederhana seharga Rp30.000 per malam itu juga ludes dipenuhi turis domestik.
Satu mobil Toyota Kijang berpelat nomor Sumatra Utara parkir di dalam halaman wisma itu. "Kami harus menginap di sini karena di Denpasar tidak ada tempat lagi. Untung dapat dua kamar jadi kami sekeluarga bisa nyaman tidur selama enam hari ini," kata Johni Marpaung, warga Medan, Sumatra Utara, yang datang ke Bali sejak tiga hari lalu bersama anak-isteri dan pembantunya. Akhir tahun 2008, terjadi lonjakan jumlah turis domestik menjadi sekitar 9.000 orang per hari dari yang semula cuma 5.000 orang per hari.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Wisatawan yang datang dengan kendaraan pribadi dari berbagai kota di Pulau Jawa diperkirakan akan menikmati liburan di Bali hingga tanggal 2 atau 3 Januari 2009. Kendaraan dalam berbagai jenis dari luar daerah yang masuk ke Bali diperkirakan mencapai 3.700 unit, sehingga menambah kepadatan lalu lintas yang sehari-harinya memang sudah padat.
Hotel Melati Padat
Sementara sejumlah turis domestik kesulitan mendapat tempat menginap di Denpasar untuk menghabiskan libur akhir tahun karena hotel-hotel kelas melati juga ludes dipenuhi turis domestik itu.
Seorang petugas Hotel Warta Sari, di dekat Terminal Ubung, Denpasar, Rabu petang, menyatakan, semua hotel di kawasan ini ludes. "Kami saja harus berkali-kali menolak tamu yang datang dari Jakarta, Surabaya, dan banyak kota lain. Susah cari hotel sekarang-sekarang ini."
Hotel kelas melati itu, katanya, memiliki 30 kamar yang dijual dengan harga Rp100.000 per malam. Saat ditemui, di halaman parkir hotel yang sempit itu, terdapat enam bus besar berisikan rombongan darmawisata sekolah menengah atas dari Cianjur, Jawa Barat. "Semua kamar sudah di-`booking` rombongan ini. Yang tidak tertampung harus rela tidur di hotel tetangga. Kami sudah biasa bekerja sama seperti itu dan pihak rombongan biasanya maklum, toh jaraknya dekat sekali," kata Made Sutrisna, petugas hotel itu.
Bukan cuma di kawasan Ubung saja hotel-hotel kelas melati itu penuh, karena penginapan serupa di pinggiran Kabupaten Tabanan yang berbatasan dengan Kabupaten Badung juga demikian.
Wisma Puri yang terletak di pinggir sawah di kawasan Kapal, sebagai misal, delapan kamar yang dimiliki wisma sederhana seharga Rp30.000 per malam itu juga ludes dipenuhi turis domestik.
Satu mobil Toyota Kijang berpelat nomor Sumatra Utara parkir di dalam halaman wisma itu. "Kami harus menginap di sini karena di Denpasar tidak ada tempat lagi. Untung dapat dua kamar jadi kami sekeluarga bisa nyaman tidur selama enam hari ini," kata Johni Marpaung, warga Medan, Sumatra Utara, yang datang ke Bali sejak tiga hari lalu bersama anak-isteri dan pembantunya. Akhir tahun 2008, terjadi lonjakan jumlah turis domestik menjadi sekitar 9.000 orang per hari dari yang semula cuma 5.000 orang per hari.
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar