Oleh: Pak Oles
Hidup ini misteri? Ya. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita tidak mengetahui kapan berakhir. Itulah rahasianya. Apakah setiap kematian ada awal kehidupan baru? Itulah misteri. Semuanya menjadi rahasia hidup. Saat kita miskin atau jatuh, kita tidak tahu apa bisa kembali berjaya atau tidak. Di saat kita berjaya, kita juga tidak tahu kapan jatuh, jatuh secara perlahan-lahan, jatuh mendadak atau terperosok ke jurang. Itulah yang kita tidak tahu. Karena tidak tahu, maka tetaplah waspadalah, selalulah siaga.
Untuk berbuat baik susahnya minta ampun. Tetapi untuk berbuat jahat semudah membalik telapak tangan. Perbuatan baik ibarat menabung, jika dikumpulkan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perbuatan jahat ibarat menggali lubang, jika rajin dilakukan, lama-lama menjadi jurang. Menabung diperlukan komitmen dan disiplin. Mengutang dapat dilakukan secara serampangan. Jika masih ada asset yang bisa digade, hutang dipersilahkan. Jika asset sudah habis, siapa sudi berurusan dengan pengemplang?
Budha Gautama mengatakan, ada dua belas jalan kemerosotan. Yang pertama, siapa yang mencintai agama (dhamma), dialah jaya. Siapa yang membenci agama, dialah merosot. Ibarat bangunan, Agama adalah dasar yang sangat penting untuk menjaga agar bangunan menjadi kokoh. Agama itu harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar diucapkan, diplesetkan, bahkan dijadikan bahan guyon. Lemahnya praktek agama dalam kehidupan sehari-hari bisa direkam dari plesetan singkatan dan akronim yang ada di masyarakat, seperti: TTM (Teman Tapi Mesra) untuk selingkuh; STMJ (Sembahyang Terus Maksiat Jalan) untuk orang munafik; Selingkuh (Selingan indah keluarga utuh); BBS (Bobo-Bobo Siang) untuk selingkuh; SAL (Sex After Lunch) untuk selingkuh setelah makan siang; Muda kaya raya mati masuk sorga (untuk pencinta narkoba, pemabuk dan pemalas); Munafik (muka nabi fikiran kotor); dan masih banyak lagi contoh kata-kata baru di masyarakat yang menyiratkan bahwa kita sudah menjauhi jalan agama. Itulah jalan kemerosotan.
Yang kedua, gemar berbuat buruk, berteman dengan orang buruk adalah sebab kemerosotan. Teman yang buruk adalah ia yang mendorong kita berbuat buruk, ia yang menggerogoti, ia yang mengangguk di depan tetapi menunggingi dari belakang, ia yang benalu dan ia yang tidak membantu saat dibutuhkan.
Yang ketiga, hidup boros, malas, dan mudah marah. Membuang waktu dan uang untuk hal-hal yang tidak penting adalah sebab kemerosotan. Hidup boros dan malas menyebabkan kemiskinan. Orang malas tidak memiliki semangat. Semangat memble menutup kesempatan baik. Mudah marah adalah penyebab perpecahan, rezeki menjauh dan kehilangan banyak hal.
Yang keempat, tidak menghormati dan tidak membantu ayah dan ibu. Durhaka dan tidak meghiraukan orang tua akan menutup pintu rezeki. Doa dan harapan orang tua sangat mustajab untuk keberhasilan anaknya. Tunjukkan sikap hormat dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, niscaya hidup bisa dihadapi dengan lebih mudah.
Yang kelima, menipu dan berdusta. Dengan menipu dan berdusta menumbuhkan kecurigaan dan ketidak-percayaan orang lain kepada kita. Apalagi yang kita tipu adalah orang suci, pemimpin agama atau rohaniawan. Dengan menipu hidup kita merosot. Penipu dan pengemplang sudah masuk daftar hitam, sehingga susah untuk bisa berkembang.
Jalan keenam, menggunakan kekayaan hanya untuk diri sendiri. Kekikiran dan egoisme menjauhkan persahabatan. Bersedekah bertujuan untuk memuliakan harta. Kekayaan yang hanya digunakan untuk diri sendiri tidak akan banyak manfaatnya, tetapi jika digunakan untuk meningkatkan kehidupan orang lain dan masyarakat luas akan meningkatkan kehidupan kita sendiri.
Jalan ketujuh, sombong dan takabur karena keturunannya, kekayaannya dan kesukuannya, bahkan merendahkan sanak saudaranya sendiri. Orang yang sombong dan takabur pasti jatuh. Kerendahan hati menjaga kejayaan.
Jalan kedelapan, menyerahkan diri pada wanita rendah, mabuk, suka minum keras, judi, menghamburkan apa yang telah dapat dicarinya. Jika salah satu dari hal tersebut sedang kita lakukan, maka lebih baik dihentikan, karena itu jalan menuju kebangkrutan. Jika belum percaya, karena lagi asyik, silakan teruskan, pasti hasilnya tinggal kolor saja.
Jalan kesembilan, selingkuh. Barang siapa yang tidak puas dengan istrinya sendiri, memelihara wanita/pria lacur, sering terlihat bersama istri/suami orang lain, itulah sebab kemerosotan. Ternyata kehidupan seks yang bebas menyebabkan kebangrutan. Karena daging seuprit hidup kita bisa terperosok. Memang kenikmatan liar harganya mahal dan berisiko tinggi.
Jalan kesepuluh. Barang siapa yang sudah lewat masa mudanya, lalu memperistri wanita remaja yang cantik, istri itu selalu membuatnya cemburu dan selalu dijaga, itulah sebab kemerosotan. Setiap hari hidupnya penuh was-was, cemburu, dan berkerja keras untuk menafkahi istrinya lahir batin, padahal tubuhnya sudah tidak mampu. Mana tahan..! Yang ini benar-benar keterlaluan. Mobil tua dipaksa ngebut oleh supir muda. Mesin bisa meledak.
Jalan kesebelas, Barang siapa memberi kekuasaan melewati batas, baik kepada seorang wanita atau pria, yang kedua-duanya bersifat pemboros, itulah sebab kemerosotan. Ibarat menyerahkan senjata tajam kepada pemabuk, tentu senjata itu bisa melukai, bahkan membunuh pemiliknya.
Jalan kedua belas. Barang siapa yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk memimpin, karena keinginannya besar menginginkan kekuasaan, inilah jalan kemerosotan. Peringatan keras bagi caleg, cabup, cagub dan capres, tolong ukur-ukur dulu kemampuannya, sebelum stress dan bangkrut, jangan terlalu diporsir, karena banyak jalan menuju kejatuhan, melalui politik uang, tim sukses yang morotin, dan sumbangan-sumbangan yang ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Membeli suara ibarat membeli togel, lebih banyak membangkrutkan daripada memenangkan.
Jika kedua belas jalan kemerosotan itu dijadikan kompas hidup, mudah-mudahan kebangkrutan bisa dihindari. Karena sifat manusia selalu lupa dan tidak sadar saat berjaya, saat susah baru menyesal. Eling….Eling…. Eling..!
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009
Hidup ini misteri? Ya. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita tidak mengetahui kapan berakhir. Itulah rahasianya. Apakah setiap kematian ada awal kehidupan baru? Itulah misteri. Semuanya menjadi rahasia hidup. Saat kita miskin atau jatuh, kita tidak tahu apa bisa kembali berjaya atau tidak. Di saat kita berjaya, kita juga tidak tahu kapan jatuh, jatuh secara perlahan-lahan, jatuh mendadak atau terperosok ke jurang. Itulah yang kita tidak tahu. Karena tidak tahu, maka tetaplah waspadalah, selalulah siaga.
Untuk berbuat baik susahnya minta ampun. Tetapi untuk berbuat jahat semudah membalik telapak tangan. Perbuatan baik ibarat menabung, jika dikumpulkan sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Perbuatan jahat ibarat menggali lubang, jika rajin dilakukan, lama-lama menjadi jurang. Menabung diperlukan komitmen dan disiplin. Mengutang dapat dilakukan secara serampangan. Jika masih ada asset yang bisa digade, hutang dipersilahkan. Jika asset sudah habis, siapa sudi berurusan dengan pengemplang?
Budha Gautama mengatakan, ada dua belas jalan kemerosotan. Yang pertama, siapa yang mencintai agama (dhamma), dialah jaya. Siapa yang membenci agama, dialah merosot. Ibarat bangunan, Agama adalah dasar yang sangat penting untuk menjaga agar bangunan menjadi kokoh. Agama itu harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar diucapkan, diplesetkan, bahkan dijadikan bahan guyon. Lemahnya praktek agama dalam kehidupan sehari-hari bisa direkam dari plesetan singkatan dan akronim yang ada di masyarakat, seperti: TTM (Teman Tapi Mesra) untuk selingkuh; STMJ (Sembahyang Terus Maksiat Jalan) untuk orang munafik; Selingkuh (Selingan indah keluarga utuh); BBS (Bobo-Bobo Siang) untuk selingkuh; SAL (Sex After Lunch) untuk selingkuh setelah makan siang; Muda kaya raya mati masuk sorga (untuk pencinta narkoba, pemabuk dan pemalas); Munafik (muka nabi fikiran kotor); dan masih banyak lagi contoh kata-kata baru di masyarakat yang menyiratkan bahwa kita sudah menjauhi jalan agama. Itulah jalan kemerosotan.
Yang kedua, gemar berbuat buruk, berteman dengan orang buruk adalah sebab kemerosotan. Teman yang buruk adalah ia yang mendorong kita berbuat buruk, ia yang menggerogoti, ia yang mengangguk di depan tetapi menunggingi dari belakang, ia yang benalu dan ia yang tidak membantu saat dibutuhkan.
Yang ketiga, hidup boros, malas, dan mudah marah. Membuang waktu dan uang untuk hal-hal yang tidak penting adalah sebab kemerosotan. Hidup boros dan malas menyebabkan kemiskinan. Orang malas tidak memiliki semangat. Semangat memble menutup kesempatan baik. Mudah marah adalah penyebab perpecahan, rezeki menjauh dan kehilangan banyak hal.
Yang keempat, tidak menghormati dan tidak membantu ayah dan ibu. Durhaka dan tidak meghiraukan orang tua akan menutup pintu rezeki. Doa dan harapan orang tua sangat mustajab untuk keberhasilan anaknya. Tunjukkan sikap hormat dengan perbuatan, perkataan dan pikiran yang baik, niscaya hidup bisa dihadapi dengan lebih mudah.
Yang kelima, menipu dan berdusta. Dengan menipu dan berdusta menumbuhkan kecurigaan dan ketidak-percayaan orang lain kepada kita. Apalagi yang kita tipu adalah orang suci, pemimpin agama atau rohaniawan. Dengan menipu hidup kita merosot. Penipu dan pengemplang sudah masuk daftar hitam, sehingga susah untuk bisa berkembang.
Jalan keenam, menggunakan kekayaan hanya untuk diri sendiri. Kekikiran dan egoisme menjauhkan persahabatan. Bersedekah bertujuan untuk memuliakan harta. Kekayaan yang hanya digunakan untuk diri sendiri tidak akan banyak manfaatnya, tetapi jika digunakan untuk meningkatkan kehidupan orang lain dan masyarakat luas akan meningkatkan kehidupan kita sendiri.
Jalan ketujuh, sombong dan takabur karena keturunannya, kekayaannya dan kesukuannya, bahkan merendahkan sanak saudaranya sendiri. Orang yang sombong dan takabur pasti jatuh. Kerendahan hati menjaga kejayaan.
Jalan kedelapan, menyerahkan diri pada wanita rendah, mabuk, suka minum keras, judi, menghamburkan apa yang telah dapat dicarinya. Jika salah satu dari hal tersebut sedang kita lakukan, maka lebih baik dihentikan, karena itu jalan menuju kebangkrutan. Jika belum percaya, karena lagi asyik, silakan teruskan, pasti hasilnya tinggal kolor saja.
Jalan kesembilan, selingkuh. Barang siapa yang tidak puas dengan istrinya sendiri, memelihara wanita/pria lacur, sering terlihat bersama istri/suami orang lain, itulah sebab kemerosotan. Ternyata kehidupan seks yang bebas menyebabkan kebangrutan. Karena daging seuprit hidup kita bisa terperosok. Memang kenikmatan liar harganya mahal dan berisiko tinggi.
Jalan kesepuluh. Barang siapa yang sudah lewat masa mudanya, lalu memperistri wanita remaja yang cantik, istri itu selalu membuatnya cemburu dan selalu dijaga, itulah sebab kemerosotan. Setiap hari hidupnya penuh was-was, cemburu, dan berkerja keras untuk menafkahi istrinya lahir batin, padahal tubuhnya sudah tidak mampu. Mana tahan..! Yang ini benar-benar keterlaluan. Mobil tua dipaksa ngebut oleh supir muda. Mesin bisa meledak.
Jalan kesebelas, Barang siapa memberi kekuasaan melewati batas, baik kepada seorang wanita atau pria, yang kedua-duanya bersifat pemboros, itulah sebab kemerosotan. Ibarat menyerahkan senjata tajam kepada pemabuk, tentu senjata itu bisa melukai, bahkan membunuh pemiliknya.
Jalan kedua belas. Barang siapa yang ingin menjadi pemimpin, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk memimpin, karena keinginannya besar menginginkan kekuasaan, inilah jalan kemerosotan. Peringatan keras bagi caleg, cabup, cagub dan capres, tolong ukur-ukur dulu kemampuannya, sebelum stress dan bangkrut, jangan terlalu diporsir, karena banyak jalan menuju kejatuhan, melalui politik uang, tim sukses yang morotin, dan sumbangan-sumbangan yang ingin memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Membeli suara ibarat membeli togel, lebih banyak membangkrutkan daripada memenangkan.
Jika kedua belas jalan kemerosotan itu dijadikan kompas hidup, mudah-mudahan kebangkrutan bisa dihindari. Karena sifat manusia selalu lupa dan tidak sadar saat berjaya, saat susah baru menyesal. Eling….Eling…. Eling..!
Koran Pak Oles/Edisi 166/1-15 Januari 2009


0 komentar:
Posting Komentar