Kerja Tangan

thumbnail
KONSULTASI SEKS
Tanya: Waduh...! Suami saya kuat sekali, selalu minta jatah hampir setiap hari, bahkan sering minta tambah bonus ekstra. Memang hot dan nikmat...! tapi kadang-kadang saya capek melayaninya. Mungkin ini lagi suasana pengantin baru atau karena suami saya sering minum jamu kuat, saya tidak tahu pasti. Saya ingin menolak ajakannya, tapi tidak tega. Kadang-kadang saya merana, meringis kesakitan dalam kegelapan. Dia tidak tahu, karena hanya bunyi desah dan rintihan saya yang didengarnya. Tolong dong...Pak...!
Dari: Erika, Jember

Jawab: Waduh... Ini namanya neraka dalam sorga. Mungkin dosis jamunya perlu diperkendor, agar tidak terlalu kenceng, sampai anda kesakitan. Tidak semua ajakannya mesti dilayani dengan alat normal. Pentongnya yang liar bisa anda jinakkan dengan tangan. Cukup dielus dan digosok dengan lembut pakai tangan. Dengan gerakan perlahan atau dengan hentakan lembut sesuai kebutuhan, pastilah pentongnya menjadi jinak setelah muntah. Saya yakin anda akan terbebas dari derita. Jurus ini bisa digunakan sewaktu-waktu, untuk menjinakkan si kuda binal. Itulah kehebatan tangan wanita, bisa mengeraskan daging yang empuk dan sekaligus bisa mengempukkan daging yang keras....!

Bahan Organik Mengurangi Pencemaran Lingkungan

thumbnail
OLEH: WAYAN NITA
tha_1709@yahoo.co.id
Peran ibu dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah tangga sangat berarti. Ibu yang bijaksana pasti tidak sembarang memilih produk pembersih rumah tangga demi kesehatan keluarga dan lingkungannya. Produk itu harus berupa bahan organik.
Seperti yang dilakukan Janet Molloy, pemilik CV Jani Silver Ubud, Gianyar. Sejak mendirikan perusahaan yang bergerak dalam pembuatan kerajinan perak ini sudah mengajari karyawan untuk tidak menggunakan bahan kimia dalam membersihkan lingkungan. Agar lebih meyakinkan karyawan tentang pentingnya penggunaan bahan organik untuk menjaga kebersihan perusahaan dan lingkungan, Janet mengirim team kebersihan lingkungan perusahaan untuk belajar teknologi EM.
Menurut Sugiartana, Operational Manager CV Jani Silver, pelatihan dimaksudkan untuk menunjukkan pada karyawan bahwa apa yang dilakukan tidak sia-sia. Dengan tidak menggunakan bahan kimia untuk menangani sampah maupun kebersihan lingkungan, karyawan ikut sudah menjaga kelestarian alam dan menghindarkan masyarakat sekitar perusahaan dari residu kimia.
Karyawan tersebut belajar teknologi EM di kebun produksi dan percontohan di Jl Pulau Roti Denpasar. Dengan tekun, mereka menyimak materi pelatihan, yang diselingi tanya jawab dengan I Gusti Ketut Riksa, instruktur pelatihan yang berkisar cara pengolahan sampah, pembersihan got pembuangan limbah sampai ruangan. Meski penanganan sampah berupa daun-daunan sudah dikomposkan dan digunakan kembali untuk memupuk tanaman, tapi belum maksimal.

Bokashi Kotaku Banjir Order

thumbnail
OLEH: MADE SUIARTANA
Di Indonesia, sektor pertanian memiliki ketergantungan besar pada iklim. Curah hujan sebagai salah satu komponen iklim menentukan aspek teknis budidaya tanaman, baik waktu tanam, jenis tanaman, pola tanam, pemupukan maupun pemberantasan hama. Pengaruhnya terletak pada efektifitas tindakan dan penentu keberhasilan usaha tani.
Memasuki musim hujan, petani dengan sigap turun ke lahan untuk menanam bibit. Air hujan menyusup ke dalam pori-pori kapiler tanah, yang kembali dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman. Air itu juga yang berperan melarutkan unsur hara di dalam pupuk agar bisa diserap akar tanaman. Karena itu, menanam bibit dan memupuk di musim hujan menjadi rutinitas petani. Aktivitas pemupukan bisa diketahui dari peningkatan permintaan pupuk seperti yang dialami produsen pupuk organik Bokashi Kotaku di Denpasar. Hujan yang mengguyur Bali awal November 2007, membawa berkah dengan banjir orderan Bokashi Kotaku dari para petani.
Bagian pemasaran sempat kewalahan melayani pesanan pelanggan. Jadwal distribusi sedikit terganggu karena PT Karya Pak Oles Tokcer sebagai distributor pupuk Bokashi Kotaku harus bagi armada transportasi dengan PT Songgolangit Persada, yang juga mengalami lonjakan permintaan EM4 dari Surabaya. Pesanan serentak dengan lokasi pengiriman hingga ke pelosok desa menyebabkan belum semua pesanan bisa terkirim. Pada November saja, volume pupuk yang sudah dikirim ke petani sebanyak 271,9 ton. Dari jumlah itu, sebagian besar diserap sektor perkebunan seperti cengkeh, kakao, kopi dan mete.
Pesanan paling banyak datang dari petani kabupaten Buleleng dan Jembrana yang dikenal sebagai sentra penghasil cengkeh, menyusul petani cengkeh asal Desa Satra, kabupaten Bangli. Setelah itu, kabupaten Tabanan dengan komoditi unggulan kopi dan kakao. Di kabupaten Karangasem, Bokashi Kotaku digunakan sebagai pupuk tanaman mete. Permintaan pupuk Bokashi Kotaku diprediksi terus meningkat sampai akhir musim hujan, Maret 2008.
Sentra perkebunan cengkeh yang rutin memakai pupuk Bokashi Kotaku proses panennya belum kelar. Sebab, musim panen tahun ini mundur 1-2 bulan akibat perubahan iklim yang berdampak pada keterlambatan pembentukan primordia bunga. Berdasarkan pantauan media ini, dangul (peralatan panen semacam tangga dari bambu-Red) masih bersandar pada pohon cengkeh. Pemandangan itu bisa disaksikan di sekitar Desa Munduk, Gobleg dan Pedawa, serta Desa Tajun yang berbatasan dengan Kabupaten Bangli. Selain itu, petani juga dihadapkan pada kendala kelangkaan tenaga pemetik.
Animo petani untuk memakai pupuk yang diproduksi melalui proses fermentasi Teknologi EM (Effective Microorganisms) itu karena banyak petani yang sudah merasakan manfaatnya. Ada petani yang sudah tikali menerapkan pemupukan dengan Bokashi Kotaku. Pupuk yang dibuat dari beragam bahan organik ini tidak hanya mendongkrak produksi tanaman tetapi berdampak positif bagi tanah; tanah lebih gembur dan subur, asalkan dipupuk secara rutin dan teratur. Membaiknya harga cengkeh kering juga memacu gairah petani untuk membeli pupuk Bokashi Kotaku. Jelang akhir 2007 harga “emas hitam” di tingkat petani sudah mencapai Rp 50 ribu per kg.

IPDC Bekali Karyawan Di Kebun Organik

thumbnail
OLEH: WAYAN NITA
Enam karyawan pra purna bakti dari perusahaan IPDC (Indonesia Professional Development Center) menempah diri dengan menambah ilmu seputar aplikasi pupuk organik berbasis teknologi EM, terutama untuk aplikasi ke lingkungan sekitar. Menurut Yuna Ariyanthi, in-house training speciallist, tujuan diadakan training untuk membuka pikiran dan mengenalkan pada karyawan bahwa masih ada kegiatan yang bisa dilakukan setelah memasuki masa pensiun.
Soal kehadiran karyawan yang disertai istri, lanjut Yuna, hanya untuk mensinergikan pendapat suami dan istri dalam menghadapi masa pensiun dan apa yang dapat mereka lakukan untuk mengisi masa pensiun itu. Pelatihan beserta istri ini juga diharapkan bisa membuka jalan untuk usaha nantinya. Koordinasi suami istri perlu dalam pemanfaatan ilmu yang diperoleh setelah mereka kembali kerumah apakah setelah diaplikasikan bisa mendatangkan keuntungan atau hanya sekedar pengisi waktu luang.
Karyawan yang memasuki masa pensiun memang banyak yang lantas patah arang alam menghadapi hidup. Padahal masih banyak potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk mengisi kekosongan setelah tidak bekerja. Dengan mengikuti pelatihan diharapkan karyawan dapat mengambil celah dan mengaplikasikan ilmu yang dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa bahan organik bisa dimanfaatkan dan mendatangkan keuntungan jika ditekuni secara serius.
Pemanfaatan sampah dapur organik maupun sampah daun bila ditambahkan dengan teknologi EM bisa menjadi pupuk untuk tanaman di pekarangan rumah. Pupuk organik yang dihasilkan bisa juga dijual pada tetangga maupun teman kantor. Bisa pula digunakan untuk memupuk tanaman hias yang kemudian kita jual. Tanpa disadari banyak order tanaman hias mengalir karena melihat kelebihan tanaman hias dengan pupuk EM dibanding pupuk kimia lain.

Konsumen Harus Dilindungi Hukum

thumbnail
OLEH: RORO SAWITA
rsawita_82@yahoo.co.id
Revolusi hijau dari bahan makanan berbasis kimia ke bahan organik belum teresoalisasi dengan baik. Masyarakat memang memiliki hak memilih, namun ditengarai langkanya produk dan harga tinggi menjadi kendala pemasaran. Pemerintah cenderung mengabaikan masalah-masalah yang timbul oleh proses kimiawi. Mereka baru tergugah bila telah menemukan korban, sementara saat ini berbagai penyakit menghantui masyarakat kita bila tetap menjalankan gaya konsumsi yang sama.
Undang-undang kesahatan, pangan dan perlindungan konsumen sebenarnya telah mengatur tentang bahan pangan yang layak dikonsumsi masyarakat. Produk-produk tersebut harus mampu menjaga kesehatan dan keamanan konsumen. Ketut Udi Prayudi, SE, SH, Ketua Lembaga Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) Yayasan Konsumen Bali menyatakan, UU ini selama tidak dapat menjamin keselamatan masyarakat. Masih banyak ditemukan bahan makanan berformalin atau mengandung pestisida tinggi. Sayangnya, orang cenderung melihat tampilan cantik tanpa memperhatikan kandungan di dalamnya. ”Masyarakat kita merasa bangga bila membeli produk impor atau yang terlihat bagus tanpa mengetahui kadar komposisi di dalamnya,” tegas Prayudi.
Untuk menghindari kerusakan yang fatal, LPKSM Bali bekerja sama BP POM dan Dinas Kesehatan Bali melakukan proses monitoring peredaran barang dan jasa. Upaya monitoring dilakukan dari tanggal 1 Januari sampai 31 Desember. Pengawasan lebih ditingkatkan jelang hari-hari besar keagamaan. Upaya lebih lanjut LPKSM Bali turut mensosialisasikan Undang-Undang perlindungan konsumen agar masyarakat mengetahui keberadaan mereka yang dilindungi hukum. Program edukasi dijalankan lewat seminar, penyuluhan dan penyebaran famlet supaya masyarakat berhati-hati dalam membeli sebuah produk makanan.
Apabila telah menjadi korban atau mendapati hal-hal yang menghawatirkan, Prayudi mengharapkan masyarakat untuk melapor ke dinas kesehatan, BPPOM atau LSM perlindungan konsumen. Bahkan ada kasus bernuansa yuridis, korban harus melapor ke polisi agar cepat ditangani. “kalau ada seseorang yang pingsan atau mungkin meninggal yang diyakini setelah mengkonsumsi sesuatu maka wajib melapor pada polisi,” ungkap Udi.

Ada Tokek Di Pintu Belakang

thumbnail

KONSULTASI SEKS

Tanya: Terus terang, saya memang hobi gituan, bahkan hampir setiap malam. Maklum umur saya baru 30 tahun. Suami saya juga sangat prima. Tentu, saya juga harus rajin merawat diri dan menjaga kebugaran tubuh. Mungkin saking nafsunya, kadang-kadang saat bercinta ada bunyi tokek. Atau kayak bunyi kentut saat si dia getol memompa. Saat itu saya jadi malu. Soalnya saya tidak kentut koq!

Dari : Lestari, Yogjakarta.

Jawab: Itu namanya angin terjebak, yang dipaksa keluar dalam jepitan yang mepet. Karena ada benda bodong masuk ke dalam rongga. Bunyinya bervariasi tergantung hentakan dan volume udara yang keluar-masuk. Bisa keras, sedang dan lemah. Atau kayak tokek kejepit pintu. Asal Anda benar tidak kentut, itu tidak masalah. Anggaplah bunyi itu sebagai bunyi yang tidak lucu, tapi harus ditertawai. Kan bisa menambah serunya adegan. Cabut benda bodong dan ubah posisi, jelasbunyinya bisa mereda.

Pak Kades Apes

thumbnail

SOKSIOLOGI

Sejak Pak Gentong terpilih menjadi kepala desa, dia sangat dihormati warga dan dipanggil dengan nama baru Pak Kades. Gerakan menjadi tampil berwibawa sejak menyandang nama baru itu. Dengan lebih tegak dan tenang, rajin tersenyum dan mencakupkan kedua telapak tangan saat bertemu, jelas gembira wargapun minta ampun. Setelah menjalani proses sosialisasi diri jadi kades dan merasa diterima di hati masyarakat, Pak Kades mulai menata organisasi desa, membuat program kerja dan merealisasikan secara bertahap. Masyarakat desa berharap banyak kemajuan pembangunan desa yang dicapai selama masa jabatan. Karena desa itu termasuk tertinggal dengan kemiskinan yang menghimpit.

Bukit Lor. Itulah nama desa yang berarti bukit utara itu. Letaknya di kaki bukit pantai utara. Tanah terjal berbatu dan di daerah yang landai ada lahan pertanian padi dan palawija, serta di pesisir masyarakatnya hidup dari nelayan. Petani juga memelihara ternak sapi, kerbau, kambing, ayam dan itik untuk dimakan sendiri, sebagai tabungan tahunan dan sumber pupuk kandang. Warga Bukit Lor tergolong miskin, karena sumber daya yang terbatas dan pendidikan yang rendah. Meski begitu, masyarakat masih tetap tersenyum dan bergembira, terutama saat ada kenduri dan hari raya. Pada saat itu mereka bisa berbaju baru dan mencicipi makanan enak ala Bukit Lor.

Karena kemiskinan yang menghimpit, sebagian warga Bukit Lor bermigrasi ke kota jadi buruh bangunan, kuli, pedagang kaki lima, tukang parkir liar, peminta-minta, pemulung, preman atau WTS. Mereka termasuk manusia pekerja keras, tahan banting dan tahan lapar, karena sudah terbiasa dengan kehidupan yang miskin dan keras. Ada yang berhasil menjalani hidup di kota dan sukses, bahkan banyak yang hidupnya kurang dan pas-pasan. Karena warga Bukit Lor hidup dalam berbagai profesi, nama Bukit Lor jadi semacam legenda di masyarakat kota. Banyak warga kota yang tahu namanya, tapi sangat jarang untuk berkunjung ke sana. Warga Bukit Lor yang sudah pernah hidup di kota juga jarang mau pindah lagi ke desanya. Mereka gigih berjuang hidup di kota, larut dalam perjalanan zaman.

Pak Gentong mendapat tugas berat sebagai kepala desa baru, --membangun desa miskin jadi makmur. Tidak semudah membalik telapak tangan, memang. Mereka harus saling membahu membangun segala potensi desa. Itulah yang membuat Pak Gentong pusing tujuh keliling karena saat pilkades dia terlanjur sesumbar untuk siap membuat perubahan pembangunan di desa dalam berbagai bidang guna mengantar masyarakatnya menjadi sejahtera. Nyatanya, setelah dua tahun perubahan pembangunan apapun belum sempat dilakukan, kecuali pungutan dan sumbangan kepada warga. Itupun terus meningkat dan lebih ketat, serta kewajiban dan sumbangan lain kepada warga pendatang dan perantau yang lebih berat untuk meningkatkan pendapatan desa. Untuk urusan pungutan tentu sebagian besar warga menjadi gondok.

Apa yang membuat Pak Gentong jadi semakin keki sejak menyandang gelar Pak Kades, --sejak warganya menambah satu gelar di belakang gelar lama, yaitu Pak Kades Apes. Entah sejak kapan nyantol gelar itu, Pak Gentong tidak tahu pasti. Awalnya memang samara, sayup terdengar dan tidak masuk akal, tapi setelah itu gelar konyol pas benar nyantol melengkapi nama Pak Kades. Jika ada warga yang menyinggung nama Pak Kades, pasti diidentikkan dengan nasibnya yang lagi apes. Kalau ada warga yang nasibnya apes, pasti dihubungkan dengan keapesan Pak Kades.

Saat pelantikan Pak Gentong menjadi kades, Pak Gentong terlalu bernafsu berjalan menuju podium untuk memberikan sambutan. Mungkin karena kurang konsenterasi atau sedikit gugup, Pak Gentong terpleset naik podium, untung saja ajudannya sigap menahan badannya, kalau tidak, mungkin wajahnya sudah nyungsep mencium ubin. Sejak saat itu gelar apes mulai sayup-sayup terdengar.

Gelar apes menjadi semakin menggema seiring dengan perjalanan waktu. Di saat musim kemarau terjadi kebakaran hutan yang hebat di desanya. Banyak ternak dan rumah warga hangus terbakar, tapi masih untung karena tidak ada korban jiwa. Kehidupan warga menjadi bertambah miskin. Saat musim hujan sebagian wilayah desa tertimbun tanah longsor dan rumah warga yang tinggal di pesisir terseret arus pasang. Puluhan jiwa melayang, dan warga menjadi bertambah miskin karena keganasan alam dan ketidak-siapan warga menghindari keganasan alam.

Tukang tenung dan paranormal di desanya menghubungkan kejadian bencana alam dengan nama Gentong sang kepala desa. Karena gentong terbuat dari tanah liat dan mudah pecah, nasibnya akan selalu bikin apes orang banyak. Tentu warga yang pro Gentong membalas dengan berkata, “Yang logis dong, jangan tahyul”. Pak Gentong terlanjur jadi kepala desa. Bencana alam dan kemiskinan terlanjur menghimpit dan menyiksa.

Seorang pemuda desa mencari pawisik di bawah pohon beringin tua. Pawisik datang membisiki telinganya tepat jam dua belas malam. “Memang antara kepala desa dan bencana alam dan kemiskinan tidak ada hubungannya. Tapi alam sudah mengatur hal-hal yang tidak berhubungan menjadi berhubungan. Tinggal kita mau mengakui atau tidak. Tinggal kita mau belajar atau tidak”. Pemuda desa itu mengerti, kalau memang nasib lagi apes, ya diterima saja dengan lapang dada. Bukan kadesnya yang salah, tapi karena kadesnya lagi apes. “Harap maklum! Kalau tidak maklum siapa suruh memilih kades apes.

Diskriminasi ODHA Justru Picu Penularan

thumbnail
PENGANTAR REDAKSI: Penyakit AIDS yang diakibatkan virus HIV hingga kini belum ditemukan obatnya. Dari tahun ke tahun, jumlah pengidapnya terus meningkat tajam baik di negara maju maupun berkembang. HIV telah menulari ibu rumah tangga biasa, anak-anak dan bayi. Dengan mudahnya kita temukan penderita AIDS yang tinggal di pedesaan. Penularan virus HIV ini bisa ditangkal bila masyarakat disadarkan untuk tidak mendiskriminasikan para penderitanya.

Oleh: RORO SAWITA

Benarkah bergaul dengan penderita AIDS atau Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa membuat kita ikut tertular penyakit mematikan tersebut? Lewat mana saja media penyebaran virus tersebut? Menurut Direktur Yayasan Bali Plus Putu Utami Dewi, masyarakat umumnya kurang informasi soal penyebaran virus tersebut. Akibatnya, orang yang positif tertular HIV/AIDS kerap dikucilkan dari pergaulan. Itulah sebabnya Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) jarang mau membuka diri. Perasaan takut dan malu bercampur aduk menambahkan tekanan batin yang kian berat.
Menurut Putu Utami, dalam beraktifitas sosial biasa bersama para ODHA tidak akan menyebabkan penularan. Dengan menjauhi mereka hanya membuat penularan lebih cepat. Penularan virus HIV ini selain lewat hubungan seksual (gonta-ganti pasangan), juga melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian (jarum bekas), donor darah dan ibu yang terinveksi menular kepada anak yang ada dalam kandungannya. “Mereka bisa diberdayakan untuk melakukan pencegahan dengan memberitahu pasangannya atau memeriksakan diri ke dokter untuk meminta alat yang steril,” tegas Putu Utami.
Penderita HIV dapat hidup dengan layak seperti masyarakat biasa tanpa diketahui statusnya sebelum melakukan pengecekan darah. Sedangkan AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang diakibatkan menurunnya kekebalan tubuh. Mulanya virus hadir seperti kawan sel darah putih, lama kelamaan parisit ini berhasil menggerogoti sel darah putih yang berfungsi sebagai antibodi. Umumnya penderita HIV positif berubah menjadi ODHA melalui proses panjang hingga 10 tahun. Berbagai bentuk terapi telah ditemukan salah satunya ARV tapi tidak satupun yang mampu memberantas virus tersebut. ARV hanya manghambat perkembangnya dan memberi kesempatan penderita untuk hidup lebih lama.
Yayasan Bali Plus yang bergerak di bidang pendukungan ODHA memiliki agenda dan program pemberdayaaan terhadap mereka yang hidup dengan AIDS dan orang-orang terdekat di lingkungan tempat tinggal mereka seperti teman, keluarga, pasangan hidup dan anaknya. Sejak 25 Januari 2001 silam, Bali Plus berhasil merangkul 214 penderita AIDS di seputaran Bali. Awalnya diadakan pertemuan silang antar penderita. Mereka saling berbicara, berkeluh kesah, bertukar informasi dan melakukan meditasi bersama sampai dapat mandiri dan berdikari sendiri. Yayasan yang terletak di Jl Kertha Winangun 1A No 12, Denpasar berharap suatu hari para ODHA dapat hidup sejajar dengan masyarakat lainnya.
Lama kelamaan, menurut Putu Utami Dewi, kebutuhan para ODHA makin berkembang. Sebagian besar dari mereka adalah penduduk pendatang dengan tingkat ekonomi lemah sehingga membutuhkan pendampingan saat sakit atau dirawat di rumah sakit. Program pendampingan ini pertama disasarkan pada keluarga penderita. Mereka dididik cara merawat, pola hidup sehat, dan waktu pengobatan. Pendampingan inipun berkembang pada pihak luar yang mau menjadi relawan tanpa gaji untuk merawat para ODHA. “Kalau ada kelurganya kita berdayakan dulu keluarganya untuk dilatih bisa merawat, tapi kalau tidak ada juga kawan-kawan relawan yang bersedia mendampingi,” ungkap Putu Utami. (rsawita_82@yahoo.co.id)

Pasang Perangkap ABCDE & M

thumbnail
LENTERA
OLEH: DIDIK PURWANTO
Karis (27), bukan nama sebenarnya, sudah tiga setengah tahun merantau ke Bali. Memang tujuannya mencari kerja. Apa bisa dikata, ternyata hanya pekerjaan sebagai PSK harus dilakukan oleh warga Banyuwangi ini. Tak ada seorang pun yang tahu bahwa wanita ini mengidap HIV. Keluarga bahkan suaminya pun tidak mengetahui sang istri telah mengidap virus ganas penyebab AIDS tersebut. Tiap kali berhubungan seksual, suami harus menggunakan kondom untuk mencegah tertularnya virus. “Kami berkomitmen untuk tidak memiliki anak karena takut akan tertular HIV pada keturunan kami,” ujarnya sendu.
Untuk membantu perekonomian keluarga, Karis harus tetap bekerja hanya sekadar untuk menambah penghasilan. Walau tidak penuh semalam, upaya ini harus tetap dilakukan demi menyambung hidup di perantauan. “Asal jangan sampai terasa pusing, panas dan kecapekan saja. Saya masih bisa melayani pria hidung belang. Prinsipnya yang mau berkencan dengan saya harus memakai kondom, itu saja,” tambahnya.
Begitu juga dengan Amat (40). Warga Banyuwangi yang telah merantau sembilan tahun di Bali ini telah positif mengidap HIV dua tahun lalu. Kebiasaan “jalan” dengan berganti pasangan tersebut malah membuat tubuhnya terkena herpes. Setelah periksa di rumah sakit, ternyata positif HIV. “Sedih sih tapi saya berusaha menjalani hidup apa adanya,” ungkap Amat yang telah lima tahun menjalani profesi waria.
Keinginan Amat yang belum tercapai adalah membuat usaha sendiri untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Sama dengan Karis, Amat pun masih “jalan” dengan beberapa pasangan demi mempertahankan hidup di surga dunia ini.
Untuk dapat berkomunikasi dengan para ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) tersebut, orang awam harus dapat mengakses konselor atau pendamping ODHA ini. ODHA akan tertutup terhadap rahasia mereka (terkena HIV). Bagaimanapun, ODHA adalah manusia yang ingin hidup normal tanpa ingin diketahui rahasia pribadinya. Kecuali pada orang-orang yang dapat dipercaya untuk diajak ngobrol bersama. “Setelah kenalan dengan konselor (pendamping), kini saya bisa berinteraksi dengan mereka (ODHA),” kata I Gusti Ayu Vidyari yang akrab disapa Awi.
Menurutnya, ODHA mendapat kemudahan untuk mengurus ASKESKIN yang dapat digunakan untuk berobat di RSUP Sanglah atas rekomendasi dari Wakil Gubernur, Alit Kelakan selaku ketua Komisi Penanggulangan AIDS. “Namun entah kenapa, Dinas Kesehatan malah mengurangi jatah obat untuk ODHA yang biasa dibagi gratis. Sisa yang harus dibayar untuk membayar obat, kita cari dari penggalian dana berupa penjualan souvenir dan sumbangan dari donatur,” ungkap Awi, staf Pengembangan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Bali Plus tersebut.
Bagi Opi Sulaiman, koordinator KDS Bali Plus telah menyosialisasikan bahaya HIV/AIDS kepada masyarakat. Cara ini cukup sederhana, yaitu ABCDE dan M. “Abstinence (putus hubungan total dengan HIV), Be Care with Couple (setia dengan pasangan), Condom (pemakaian kondom), Don’t Inject (jangan memakai jarum suntik), Education (penyuluhan, seminar) dan Masturbation (tindakan seks terhadap diri sendiri). Namun tindakan terakhir belum menjadi solusi umum,” terang Opi.(penacinta@yahoo.com)

Wagub NTB Anjurkan PNS Tes Urine

thumbnail
OLEH: Hernawardi
Penderita HIV/ADIS di NTB sejak 1992 sampai 2007 mencapai 162 orang yang tersebar di 9 kabupaten/kota. Ada 107 orang terkena HIV dan sisanya 55 orang bergulat dengan AIDS. Penyakit mematikan ini justru menimpa kalangan usia produktif antara 20-40 tahun. Wagub NTB, Drs HB Thamrin Rayes, yang juga Ketua Komite Penanggulangan AIDS (KPAD) mengaku terkejut dengan peningkatan jumlah penderita tersebut.
Wagub Rayes bahkan menganjurkan agar PNS di lingkup Pemprov NTB melakukan tes urine untuk membuktikan bahwa yang bersangkutan tidak terkena narkoba dan HIV/AIDS. Tes urine ini penting guna meyakinkan masyarakat bahwa PNS yang ada di NTB bersih dari narkoba. “Tes ini bukan mencari-cari kesalahan, tapi lebih pada upaya memberikan citra yang baik bagi masyarakat,” kata Bonyo, panggilan akrab wagub ini.
Menurut Wagub Rayes, sudah saatnya PNS mengambil peran strategis untuk hal-hal yang berhubungan dengan pemberantasan, pencegahan dan peredaran narkoba kendati tidak sedikit PNS yang terlibat dalam kasus narkoba.
Kasie Surveilans Epidemiologi pada Subdin P2P Dinas Kesehatan NTB, dr IK Artastra,MPH, memaparkan saat ini ada tiga klinik VCT yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan konseling dan terapi yakni di RSU Mataram, Klinik VCT ‘’Balai Matahari”RSJ Slagalas dan di RSU Praya. Khusus di Mataram dilakukan pengembangan di Puskesmas Taliwang dan Puskesmas Tanjung Karang.
Kepala Klinik VCT ‘’Balai Matahari” RSJ Slagalas, Mataram, Ns. M. Sunarto,S.Kep menyebutkan selama Januari - Oktober 2007 tercatat 15 klien yang melakukan konseling, 11 laki-laki dan 4 wanita. Penyebabnya sebagian besar pengguna narkoba jarum suntik yang bergantian.(ardi_31@yahoo.com)

Mereka Menulis Dari Pengalaman Keterpurukan

thumbnail
OLEH: DIDIK PURWANTO
Bicara tentang HIV dan AIDS adalah bicara menyangkut masalah sosial, ekonomi, politik, kesejahteraan, pendidikan, komunikasi, pengobatan, dan lainnya. Upaya penyadaran kepada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) maupun non pengguna harus terus dikampanyekan secara terus-menerus pada masyarakat. Menurut Data Dinas Kesehatan Provinsi Bali, pada Oktober 2006 lalu terdapat 1.220 kasus HIV dan AIDS di Bali. Dari jumlah tersebut 44,5 persen berasal dari kalangan injecting drugs user (IDU), bahasa lain penasun. Setelah itu baru dari hetero-seksual (38 persen), homoseksual (9 persen) dan tidak diketahui (8 persen). Begitu juga dengan estimasi Departemen Kesehatan tahun 2006, jumlah penderita ODHA mencapai 11.165 orang dan diyakini masih lebih banyak dari jumlah tersebut. Kebanyakan penderita adalah akibat narkoba suntik dan seks bebas. Usia yang mayoritas paling rentan terkena adalah usia 15-24 tahun dengan 95% pengidap ditemukan di negara berkembang.
Fenomena di atas bukan hanya pantas dilihat dan didiamkan semata namun dituntut peran aktif masyarakat, LSM, media massa, tokoh agama dan tokoh masyarakat dalam menyosialisasikan resiko seks bebas serta narkotika dan obat terlarang (narkoba). Sebagai langkah awal, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Australia Indonesia Partnership (AIP) dan Sloka Institute (lembaga pengembangan media, jurnalisme dan informasi di Denpasar) meluncurkan buku LENTERA (Lembaran tentang Realitas AIDS). Buku yang memuat 87 artikel tentang Acquired Immune Deficiancy Syndrome (AIDS) dan sebelumnya sudah diterbitkan di beberapa media lokal seperti Bali Post, Denpost, Tokoh, dan Sarad ini disusun berdasarkan cerita dari sumber primer yaitu sumber yang mengalaminya langsung. Sebagian besar memuat tulisan dari kelompok-kelompok yang selama ini lebih sering di lapangan dalam penanggulangan AIDS seperti penasun, gay, waria, dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) itu sendiri. “Penulis dalam buku ini tidak lagi monopoli penulis atau jurnalis, tapi lebih pada korban atau pemakai agar lebih mengena dan tidak sekadar omong kosong,” kata Anton Muhajir yang mengedit buku tersebut bersama Mercya Soesanto dan Ni Komang Erviani.
Wakil Gubernur Bali Alit Kesuma Kelakan yang juga Ketua KPA Provinsi Bali menilai pemberitaan tentang AIDS selama ini, aktivis penanggulangan AIDS maupun ODHA lebih sering jadi obyek. Mereka ditulis, bukan menulis. Namun dalam buku Lentera, mereka mengambil peran itu. Mereka kini jadi subyek. “Buku Lentera ini adalah buku kehidupan, karena di dalamnya termuat kisah hidup anak manusia dengan perjuangan dan semangatnya menanggulangi HIV dan AIDS,” ujarnya. (penacinta@yahoo.com)

Minum Madu Setelah Senam Pagi

thumbnail

Nama : Hasan, 46 tahun, notaris PPAT, tinggal di Tuban, Jawa Timur.
Pengalaman :
Setelah mencoba minum berbagai merk madu, saya baru rasa cocok dengan Madu Jamur Ramuan Pak Oles. Rasanya cocok di lidah, tidak kecut dan tidak pahit. Setelah kami campur dengan susu asam (yoghurt) terasa enak sekal. Rasa mual dan perih di perut hilang. Biasanya kami minum setelah senam pagi dan sesudah sarapan. Begitu pula rasa cekot-cekot di kaki, yang merupakan gejala asam urat menjadi sirna dan bisa menurunkan berat badan.

Setelah Nyeri Tulang Sembuh, Keluargaku Ikut Pakai

thumbnail

Nama : Setyowati, 47 tahun, pekerjaan PNS, tinggal di Sleman, Yokyakarta.
Pengalaman :
Sudah lama saya menderita nyeri tulang, kadar gula tinggi, dan juga buang air besar ngak lancar. Atas saran SPG Pak Oles, saya disuruh mengonsumsi Pasta Poleng. Setelah habis dua botol, perlahan kadar gula saya turun, nyeri di tulang sudah tidak terasa lagi dan BAB saya lancar. Sampai sekarang sudah banyak produk Pak Oles yang saya pakai bersama keluarga.

Suamiku Makin Sayang

thumbnail

Nama : Nina A, 23 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Sleman, Yogyakarta
Pengalaman :
Awal mulanya aku kenal Ramuan Pak Oles dari korannya yang dibawa mamaku. Aku tertarik dengan dengan Krim Saribing yang di situ tertulis dapat menghaluskan kulit. Aku memakai ± 4 minggu, hasilnya luar biasa. Selain kulit wajah menjadi halus juga menjadi lebih putih dan kantung mata menjadi hilang. Kini suami juga makin sayang.

Alhamdulillah, Saya Bisa Mengajar Olahraga Lagi

thumbnail

Nama : Abdullah, 38 tahun, pekerjaan guru, tinggal di Desa Sukowono, Jember
Pengalaman :
Saya guru olah raga sering menderita kaki kesemutan. Sakit ini sudah hampir satu setengah tahun belum juga sembuh. Beberapa waktu lalu, SPG Pak Oles datang menawarkan Minyak Oles Bokashi yang dipadukan dengan Madu Jamur. Lalu saya mencoba untuk mengonsumsi secara rutin sesuai aturan. Alhamdulillah kaki saya jadi ringan dan saya bisa mengajar olahraga lagi di sekolah.

Benjolan Makin Kempes

thumbnail

Nama : Miswadi, 70 tahun, pensiunan, tinggal di Banyuwangi.
Pengalaman :
Sejak umur 25 tahun saya mempunyai penyakit benjolan atau uci-uci. Kalau malam rasanya sakit dan makin lama makin membesar sebesar ibu jari kaki. Kebetulan ada SPG Pak Oles memperkenalkan produk Ramuan Pak Oles. Saya coba membeli Minyak Oles Bokashi. Lalu saya oleskan sambil dipijat-pijat dua kali sehari habis mandi pagi dan sore selama kurang lebih satu bulan. Akhirnya makin lama makin kempes dan sembuh total.


Rasa Sakit Di Kaki Reda

thumbnail

Nama : Surahmi, 55 tahun, pekerjaan petani, tinggal di Selompampang, Temanggung, Jawa Tengah.
Pengalaman :
Saya sering mengalami rasa sakit di kaki. Mungkin ini yang dimaksud dengan pegal linu. Sudah berbagai obat saya coba, tapi hanya bisa sembuh sebentar saja. Setelah itu sakitnya kambuh lagi. Beruntung saya mendapat Minyak Oles Bokashi. Setelah saya rutin mengolesi kaki saya dengan Minyak Oles Bokashi. Selang beberapa hari, pegal linu di kaki saya berangsur-angsur sembuh dan sampai sekarang tidak kambuh lagi.

Sakit Gigi Akhirnya Berlalu

thumbnail

Nama : Made Puja Astawa, 25 tahun, pekerjaan swasta, tinggal di Denpasar.
Pengalaman :
Saya menggunakan Ramuan Pak Oles yaitu Minyak Oles Bokashi untuk menyembuhkan luka-luka. Suatu hari saya merasakan sakit gigi dan sariawan. Sebelum pergi ke dokter saya coba menuangkan tiga tetes Minyak Oles Bokashi ke dalam air hangat. Saya minum air hangat bercampur Minyak Oles Bokashi sebanyak tiga kali. Esok harinya, sakit gigi saya mulai berkurang.

Seni Triball Buat Doi

thumbnail
Yamaha Mio 2005, Denpasar
Wah…, unik banget motor Toni Setiawan. Selain ada suguhan audio, juga jejelan airbrus berseni triball alias batik khas Bali. Cinta sama Pulau Dewata, ceritanya. ‘’Harus dong. Gue kan anak Bali asli,” buka cowok yang tinggal di Jl Batur Sari 47 Denpasar. Jadi jangan heran kalo arsitektur yang berbau-bau seni kota budaya ini tergambar di motor kesayangan pemuda yang disapa Onix ini.

Untuk menggeber Mio ini, Onix menguras kocek sampai Rp 10 juta. Soal modifikator, Onix nggak asalan milih. Dia memilih bengkel Bung Darma buat percantik tunggangan cowok yang kini bekerja di Bali Internasional School itu. Dari Audio sampai ngelirin body, Darma sangat lihai ngoprekin motor Onix dan hasilnya indah dipandang. Sayangnya, lansiran 2005 itu tidak bisa dinikmati sama montor mania karena tunggangan yang dimodif mau dipersembahkan buat si doi. (Wiliz Zuraidah)
Data Modifikasi
Aksesoris : Audio Custom Matik
Ban : FDR
Rem : PSM
Warna : Gliter Silver slip Hitam
Lampu Belakang : Variasi Mobil
Lampu Depan : Nouvo

Pakai Spontan Power Irit BBM

thumbnail
APLIKATOR
Nama : Rusman, 31 tahun, pekerjaan ojek, tinggal di Gondang, Gangga Tanjung Utara, Lombok Barat.
Pengalaman :
Motor saya amat boros BBM. Tentu sebagai tukang ojek saya merasa rugi. Apalagi harga BBM tidak lagi seperti dulu. Sehingga saya terus berpikir, kira-kira ada caranya tidak untuk menghemat BBM. Maklum, penghasilan tidak sesuai dengan pengeluaran. Beruntung ada SPG Pak Oles menawarkan Spontan Power produksi Pak Oles & Biotor Technology. Saya langsung memasangkan pada motor saya. Memang awalnya ada rasa ragu. Setelah dipakai beberapa hari saya langsung merasakan manfaatnya. Mmotor saya jadi irit BBM dan suara mesin tambah halus.