Home » » Bokashi Kotaku Banjir Order

Bokashi Kotaku Banjir Order

OLEH: MADE SUIARTANA
Di Indonesia, sektor pertanian memiliki ketergantungan besar pada iklim. Curah hujan sebagai salah satu komponen iklim menentukan aspek teknis budidaya tanaman, baik waktu tanam, jenis tanaman, pola tanam, pemupukan maupun pemberantasan hama. Pengaruhnya terletak pada efektifitas tindakan dan penentu keberhasilan usaha tani.
Memasuki musim hujan, petani dengan sigap turun ke lahan untuk menanam bibit. Air hujan menyusup ke dalam pori-pori kapiler tanah, yang kembali dimanfaatkan untuk pertumbuhan tanaman. Air itu juga yang berperan melarutkan unsur hara di dalam pupuk agar bisa diserap akar tanaman. Karena itu, menanam bibit dan memupuk di musim hujan menjadi rutinitas petani. Aktivitas pemupukan bisa diketahui dari peningkatan permintaan pupuk seperti yang dialami produsen pupuk organik Bokashi Kotaku di Denpasar. Hujan yang mengguyur Bali awal November 2007, membawa berkah dengan banjir orderan Bokashi Kotaku dari para petani.
Bagian pemasaran sempat kewalahan melayani pesanan pelanggan. Jadwal distribusi sedikit terganggu karena PT Karya Pak Oles Tokcer sebagai distributor pupuk Bokashi Kotaku harus bagi armada transportasi dengan PT Songgolangit Persada, yang juga mengalami lonjakan permintaan EM4 dari Surabaya. Pesanan serentak dengan lokasi pengiriman hingga ke pelosok desa menyebabkan belum semua pesanan bisa terkirim. Pada November saja, volume pupuk yang sudah dikirim ke petani sebanyak 271,9 ton. Dari jumlah itu, sebagian besar diserap sektor perkebunan seperti cengkeh, kakao, kopi dan mete.
Pesanan paling banyak datang dari petani kabupaten Buleleng dan Jembrana yang dikenal sebagai sentra penghasil cengkeh, menyusul petani cengkeh asal Desa Satra, kabupaten Bangli. Setelah itu, kabupaten Tabanan dengan komoditi unggulan kopi dan kakao. Di kabupaten Karangasem, Bokashi Kotaku digunakan sebagai pupuk tanaman mete. Permintaan pupuk Bokashi Kotaku diprediksi terus meningkat sampai akhir musim hujan, Maret 2008.
Sentra perkebunan cengkeh yang rutin memakai pupuk Bokashi Kotaku proses panennya belum kelar. Sebab, musim panen tahun ini mundur 1-2 bulan akibat perubahan iklim yang berdampak pada keterlambatan pembentukan primordia bunga. Berdasarkan pantauan media ini, dangul (peralatan panen semacam tangga dari bambu-Red) masih bersandar pada pohon cengkeh. Pemandangan itu bisa disaksikan di sekitar Desa Munduk, Gobleg dan Pedawa, serta Desa Tajun yang berbatasan dengan Kabupaten Bangli. Selain itu, petani juga dihadapkan pada kendala kelangkaan tenaga pemetik.
Animo petani untuk memakai pupuk yang diproduksi melalui proses fermentasi Teknologi EM (Effective Microorganisms) itu karena banyak petani yang sudah merasakan manfaatnya. Ada petani yang sudah tikali menerapkan pemupukan dengan Bokashi Kotaku. Pupuk yang dibuat dari beragam bahan organik ini tidak hanya mendongkrak produksi tanaman tetapi berdampak positif bagi tanah; tanah lebih gembur dan subur, asalkan dipupuk secara rutin dan teratur. Membaiknya harga cengkeh kering juga memacu gairah petani untuk membeli pupuk Bokashi Kotaku. Jelang akhir 2007 harga “emas hitam” di tingkat petani sudah mencapai Rp 50 ribu per kg.
Thanks for reading Bokashi Kotaku Banjir Order

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar