Home » » Jurnalisme Advertorial

Jurnalisme Advertorial

Sebuah Langkah Mundur Pekerja Pers
OLEH: BENY ULEANDER

Dunia pers kini diramaikan dengan penayangan berita-berita yang dirilis humas pemerintahan. Uniknya, berita-berita humas tersebut tidak diklasifikasikan tegas sebagai berita advertorial dengan keterangan adv atau iklan. Fenomena ini merupakan sebuah langkah mundur bagi mutu pekerja pers Indonesia. Jurnalisme Advetorial, itulah trend baru di dunia pers yang dikecam wartawan senior LKBN Antara, Pande Komang Janes Stat dalam pelatihan jurnalistik bagi calon wartawan Koran Pak Oles dan Tabloid MONTORKU di Denpasar, Rabu (6/6).
Menurut Janes, demikian sapaan akrab mantan Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Denpasar ini, tugas utama seorang wartawan adalah mencari, mengumpulkan, mengolah dan menyebarkan data berupa fakta empiris dan opini menjadi sebuah berita. Sedangkan staf humas tidak menjalankan profesi jurnalis. ‘’Ada sebuah kekeliruan yang dianggap benar. Humas bukan wartawan. Humas seharusnya menjadi nara sumber dalam memberikan informasi dan data yang dibutuhkan wartawan. Sungguh, sangat disayangkan sekali,” ujarnya.
Media cetak masa lalu, jelas Janes, sangat ketat memilah mana berita dan mana advertorial. Tulisan advertorial selalu diberi banner atau ditaruh dalam kotak yang tegas sehingga kelihatan bukan sebagai berita tulisan wartawan. ‘’Tapi sekarang saya benar-benar kecewa melihat berita-berita advertorial disamakan dengan berita olahan wartawan. Tentu saja hal ini akan merugikan para pekerja pers yang sungguh-sungguh mencari berita di lapangan,” tandasnya.
Sedangkan Ketut Sutika, wartawan senior LKBN Antara Denpasar mengkritik trend liputan wartawan yang sepenuhnya mengolah press release yang disodorkan humas. “Wartawan muda sekarang memang sangat gesit dalam menulis straight news tapi mereka tidak ada minat untuk menulis bentuk tulisan berupa pumpunan atau spektrum. Pekerjaan kita sebagai wartawan tidak sia-sia, sebab sebuah features yang menarik pasti akan dibaca orang kapan saja,” ujar Sutika.
Sementara Pemimpin Redaksi KPO dan MONTORKU, Albert Kin Ose M menilai, trend baru jurnalisme advertorial itu layak ditelaah secara lebih mendalam. Dan selama ini, belum dibahas secara serius oleh para pengamat dan praktisi pers di Indonesia. ‘’Bagi saya, kritikan Komang Janes Stat tentang jurnalisme advertorial bisa dibahas lebih serius dalam worksop atau diskusi-diskusi terbatas pada kesempatan lain,’’ pinta pria asal Atambua itu.
Thanks for reading Jurnalisme Advertorial

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar