Mio Sporty 2007, Jakarta

thumbnail
Nuansa Fresh Retro Strawbery
Meski peminat aliran retro sangat terbatas, namun tetap menebar pesona virus ke komunitas bikers di Indonesia. Model yang klasik, sederhana dan unik, menonjolkan tampang jadul jadi warna baru di dunia modifikasi. Aliran ini menjadi prestise dan kebanggaan tersendiri bagi para pengikutnya. Seperti matik yang tampak di halaman media ini, menurut si pemilik, Halimah, aliran retro dapat membangkitkan kenangan tempo dulu, tampilan simpel dan unik, tetapi miliki unsur seni tinggi.
Hal seperti ini yang membuat dirinya kesemsen sama aliran retro. Suami tercinta yang mengetahui hal itu menghadiahi matik untuk kendaraan harian, tapi bukan seperti kebanyakan matik yang berseliweran di jalan tapi begitu spesial, tampilan retro. ‘’Ini kado spesial buat aku. Selain retro, motif strawberinya aku suka, terlihat lebih fiminim dan very-very cute,’’ ujar ibu muda yang mengaku terpesona ketika pertama kali melihat Mio spesial pemberian sang pangeran.
Ubahan produk geberan tahun 2007 itu berkat bantuan Topo Goedel Atmojo, modifikator dari Tauco Custom yang berada di balik layar. Aura retro dibangkitkan Topo melalui Winsheld, velg jari-jari, ban White Wall dan spion aksesoris model klasik. Agar nuansa rentro lebih kental, Topo menambahkan keranjang di belakang kemudi dan spion di bodi depan. Untuk motif buah strawberry, Topo menggandeng airbrush kondang di bilangan Cimanggis, Jakarta Timur, JJ Airbrush. ‘’Sebenarnya retro bukan spesialis bengkel Tauco Custom, yang condong ke motor sport, bergaya Street Fighter. Tapi gimana, wong tetangga sendiri kok,’’ ujar Topo yang mengaku dapat pertentangan dari sohib-sohibnya saat pengerjaan modifikasi aliran ini.
Mio Retro Sporty Strowberi, kini selalu temani rutinitas warga yang tinggal di seputar Jagakarsa, Jakarta Selatan ini sebagai ibu rumah tangga. Bahkan Halimah berniat menambahkan bagasi di belakang Mio. ‘’Keranjangnya sama, tetapi yang di belakang bisa dibuka tutup dan dikunci,’’ sebut Halimah. (DEDI/dedi_montorku@yahoo.com)

Data modifikasi:
Sockbreaker Dpn : Std
Sockbreaker Blk : YSS
Velg Dpn/Blk : Jari2 Rapat ukuran 14�
Ban Dpn/Blk : Std plus White Wall
Spion : Aksesoris model klasik
Aksesoris : Pasang Windshield, keranjang, spion tambahan
Bordes : Plat
Knalpot : Crom
Bodi : Airbrus Strober, JJ Cimanggis
Installer : Tauco Custom, Kebagusan, Jakarta Selatan.
KPO/EDISI 147/MARET 2008

APLIKASI: Instalasi Spontan Power Pada Yamaha Majesti

thumbnail
Spontan Power dapat digunakan pada segala jenis kendaraan dan mesin yang berbahan bakar bensin atau solar. Yamaha Majesti adalah kendaraan matic ber-cc besar yang dapat pula menggunakan Spontan Power. Berikut langkah instalasi (pemasangan) Spontan Power.
Pertama, buka/lepas jok dan penutup tangki, lihat Gambar 1. Perhatikan pada bagian bawah tangki terdapat membran bensin. Pada membran tersebut ada tiga macam selang, dua selang berbentuk (berdiameter) kecil dan yang satunya berdiameter besar. Selang yang besar sirkulasinya ke karburator terlihat pada Gambar II.
Kedua, pemasangan Spontan Power dilakukan pada selang berdiameter besar dengan cara tambahkan selang kurang lebih 10 cm dan hubungkan dengan Spontan Power terlihat pada Gambar III. Spontan Power siap digunakan.

KONSULTASI: Mesin Padi Bisa Pakai SP

thumbnail
Rubrik ini diasuh oleh Drs Yunus Sugianto, staf ahli produk PT Pak Oles & Biotor Technology. Pembaca dapat mengirim pertanyaan soal kinerja dan aplikasi Spontan Power, Hexon dan Kudo ke email yunus_biotor@yahoo.com atau sms ke Tlp Flexi (0361) 7982045, HP 08873852310 atau datang ke Bengkel Pak Oles Jl. Pulau Kawe, Gang II, No 7, Denpasar.

Tanya:
Yth Pak Yunus
Saya pelanggan setia produk Pak Oles terutama `Biotor`. Saya ingin tanyakan bisakah Spontan Power (SP) dipasangi pada mesin slep padi? Apakah setelah memasang SP tidak ada pengaruhnya terhadap tenaga mesin dan bagaimana cara memasangnya?
Dari: Pak Aling, Jl Srandil No 2 Kroya, Cilacap Jateng.

Jawab :
Terima kasih Pak Aling telah menjadi pelanggan dan pemakai produk Pak Oles, terutama Biotor. Produk Biotor yang beredar di pasar ada tiga macam: Spontan Power, Hexon (Vitamin Oli) dan Kudo (Vitamin BBM). Ketiga macam produk Biotor tersebut telah diuji coba kinerjanya pada mesin kendaraan roda dua dan empat serta mesin genset.
Untuk Spontan Power dapat digunakan di segala jenis mesin, baik mesin yang menggunakan bahan bakar bensin maupun solar. Untuk mesin slep padi dapat juga digunakan Spontan Power dengan cara pemasangan sebagai berikut:
Perhatikan tangki bahan bakar pada mesin slep padi. Pada bagian bawah tangki ada selang solar menuju filter solar dan dari filter solar menuju bush pump. Spontan Power dapat dipasang pada selang solar dari tangki menuju filter solar. Usai pemasangan Spontan Power, tenaga mesin (power) akan meningkat dan konsumsi BBM bisa dihemat sampai 20%. Terima kasih. Selamat mencoba.

APLIKATOR: Pakai SP, Suara Mesin Jadi Halus

thumbnail
Nama : Lalu Muslihin, wirausaha, tinggal di Lombok Timur, NTB.
Pengalaman :
Awalnya saya tidak berani memasang Spontan Power (SP) pada motor Honda Supra 2005 karena anggapan saya suplai BBM akan terganggu akibat pengiritan yang dilakukan SP. Keraguan saya musnah saat membaca bukti dan pengakuan para pemakai SP yang dimuat di Koran Pak Oles dan Tabloid Montorku. Akhirnya saya pasang SP pada sepeda motor saya. Hasilnya luar biasa suara mesin halus, irit BBM serta tarikannya lebih kencang.

Biasa Dengan Yang Besar

thumbnail
Dewa Ayu Sinta
’’Kalau dengan yang besar, saya sih sudah biasa. Jangan ditanya lagi,’’ cerocos Dewa Ayu Sinta. Wah, asyik juga obral bicara dengan guru Bahasa Inggris di salah satu SD Monang Maning Denpasar ini. Maklum bagi gadis yang akrab disapa Ayu ini, dunia motor besar sudah jadi hal biasa bagi dirinya. Ia pernah menjadi model Harley Chopper, modifikasi anak-anak Brotherhood Bandung, Jawa Barat. Penggemar dance modern dan kontemporer ini pun sering potret berlatar kendaraan jip di Bursa Bisnis.
Di mata Ayu, seorang model harus membawakan visualisasi keindahan motor besar. ‘’Jangan jadikan motor besar sebagai sebuah benda mati. Tapi di dalam motor besar itu ada jiwa kita. Nah, tinggal bagaimana model itu harus menyatu dengan jiwanya,’’ itulah filosofi cewek yang suka membuat tabrakan warna pakaian hitam, oranye dan hijau.
Soal cita-cita, perempuan yang sempat berkarir di bisnis surfing ini ingin membuka international school di Bali. ‘’Ya, berkat kerja di usaha surfing dulu, saya kenal banyak orang termasuk bule. Jadi pinginnya sih buka sekolah internasional,’’ ujar Ayu yang baru menapaki dunia model pada tahun 2006 itu. (BENY/beny_uleander@yahoo.com)

BIODATA
Nama Lengkap : Dewa Ayu Sinta
Panggilan : Ayu
TTL : Denpasar, 17 Februari 1979
Tinggi/berat badan : 170 cm/47 kg
Pendidikan terakhir : Mahasiswa Akuntasi Univ Udayana, 2000
Prestasi :
- Additional MC Guiness 9 Ball Tour International – Nusa Dua with ESPN and Star Sport 2007
- Finalis Putri Mio 2006
- Feature Model Suzuki Spin 2006
- Model Motomania ANTV 2006
Orangtua : Dewa Putu Ardika & Ni Ketut Murniasih
Alamat : Jl Nusa Indah, Gang III/ 2, Sumerta, Denpasar
Agency : Profile Art Entertainment, Jl Hayam Wuruk,
Lokasi Pemotretan : Jak Resto Handle Bar & Grill, Jl Sunset Road 135, Kuta
Fotografer : Putu Wirnata, Gede Sustrawan & Ario Agung
KPO/EDISI 147/MARET 2008

Pilot, Dokter Dan Guru

thumbnail
Oleh: AJ Susmana*
Aku lebih mempercayai ilmu pengetahuan, akal. Setidak-tidaknya padanya ada kepastian-kepastian yang bisa dipegang.
(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia)
Beruntunnya pesawat jatuh di negeri ini beberapa waktu lalu sungguh memprihatinkan kita semua. Kelaparan yang sistematis akibat dari kemiskinan struktural, bencana alam dan musibah pun tak ikut berhenti menghukum. Apa yang salah dengan negeri ini?
Apapun yang berhubungan dengan alat modern, teknik, termasuk di bidang kedirgantaraan, kedokteran, dan pendidikan selalu berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan begitu kita dapat menjadi manusia yang modern yang memahami nilai-nilai “... semangat, sikap, pandangan, yang mengutamakan syarat keilmuan, estetika dan efisiensi.” Begitu setidaknya makna modern yang diungkapkan Pramoedya Ananta Toer melalui tokoh Minke yang mendapatkan pengajaran dari guru yang luar biasa: Juffrow Magda Peters. (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, Lentera Dipantara, Jakarta, cet. I 2005;211-214) Di bidang ini kita jelas ketinggalan jauh dari bangsa-bangsa lain karena pendidikan sebagai hak warganegara tidak diberikan sepenuhnya dan pada seluruh warganegara.
Kita lihat jutaan rakyat yang putus sekolah ataupun lulus dengan kemampuan yang minim sehingga tak siap untuk memasuki dunia kerja atau dunia ilmu pengetahuan tingkat lanjut dan berguna untuk kemajuan kemanusiaan. Tampak jelas di mata kita ratusan ribu anak tak melanjutkan sekolah karena kemiskinan dan ketiadaan biaya. Setiap hari kita memikirkan jalan keluarnya: Mungkinkah pendidikan gratis untuk memajukan sumberdaya nasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi?
Masih ingat pertanyaan guru ketika kita masih kecil? “Apa cita-citamu?” Jawaban yang terkenal ada tiga: Pilot, Dokter dan Guru. Ini menunjukkan bahwa harapan rakyat di ketiga bidang tersebut sungguh besar. Ketiga cita-cita itu menunjukkan harapan bangsa akan keunggulan di bidang teknologi, kesehatan dan pendidikan. Kita pun dapat menunjukkan kemajuan bidang kedokteran dan peranannya dalam gerakan kemerdekaan Indonesia. Cipto Mangun Kusumo boleh kita sebut sebagai orang besar yang memajukan kesehatan rakyat Hindia Belanda yang dicintainya sebagai satu bangsa yang dicita-citakan: anti feodalisme dan kolonialisme. Ia terkenal atas keberhasilannya memberantas wabah pes di Malang. Karena itu ia dihormati termasuk oleh pemerintah Hindia Belanda. Untuk kerja rela dan keberaniannya di Malang itu, Cipto telah dianugerahi penghargaan terhormat bintang Orde Van Orange Nassau dari Pemerintah Hindia Belanda. Di saat-saat terakhir dari hidupnya pun ia masih sanggup memfasilitasi pemuda-pemuda Indonesia menghadapi fasisme Jepang.
Di masa Orde Lama masih terngiang di telinga rakyat kecil ketangguhan pertahanan dan keamanan rakyat Indonesia yang disegani di Asia pada Angkatan Laut dan Udara. Angkatan Laut lebih-lebih memberikan kebanggaan masa lalu yang tercermin pada cerita besar Kerajaan Majapahit dengan peristiwa-peristiwa tragis dan tragedi di dalamnya. Kita pun mengenal Empu Nala yang mengerti arah angin. Yang tak mengerti arah angin berarti tak menguasai dunia. (Baca: Arus Balik, Pramoedya Ananta Toer).
Apakah kecelakaan pesawat dan alat-alat transportasi lainnya: kapal laut, kereta api, bus dan bisa ditambahkan sendiri merupakan kemunduran kita yang jauh sebagai bangsa maritim yang pernah jaya?
Jelas jawabannya adalah ya. Kita sebagai bangsa benar-benar terpuruk di mata dunia. Tanah Air Indonesia penuh dengan kekayaan alam tak bisa dipungkiri. Tapi Rakyat Indonesia hidup miskin dan sengsara tentu tak bisa dipahami dan dibenarkan. Salah satu sebab pokok yang membuat Indonesia terus miskin adalah keuntungan sumber daya alam yang tak ternilai: minyak, gas, emas, nikel, selama ini dikuasai dan dimonopoli perusahaan-perusahaan asing. Dari daftar yang dikeluarkan BP-Migas sendiri terlihat: penguasaan 56 kontrak kerjasama minyak dan gas di Indonesia, mayoritasnya adalah asing (bpmigas.com). Dengan alasan modal, pemerintah leluasa memberi izin kepada perusahaan asing untuk menggali minyak dan sumber mineral lainnya lalu menerima pembayaran bagi hasil dengan persentase yang kecil untuk negara bahkan pemerintah pun hendak menjamin: tak akan ada nasionalisasi bagi perusahaan-perusahaan asing seperti itu.
Meskipun Indonesia menempati posisi produsen terbesar kedua untuk komoditas timah, keempat untuk komoditas tembaga, kelima untuk komoditas nikel, ketujuh untuk komoditas emas, dan kedelapan untuk komoditas batu bara, tetap saja terbelit beban utang yang tidak sedikit. Model demikian inilah yang diterapkan kaum imperialis di berbagai negara dengan dukungan pemerintahan setempat: memberi utang sebanyak-banyaknya, menanamkan modal untuk menjarah potensi ekonominya serta mengontrol kebijakannya. Wajar saja perusahaan seperti ExxonMobil (pemegang berbagai kontrak migas di Indonesia) bisa mendapatkan keuntungan total dari penjarahan di berbagai negeri hingga $36,1 milyar pada tahun 2005. BP-Amoco yang memproduksi 10 persen gas nasional Indonesia bisa mengeruk keuntungan US $1,3 miliar per tahun dan PT Freeport McMoran mendapatkan keuntungan $ 934 juta untuk tahun 2004. Dan bayangkan saja! Para direktur tambang perusahaan imperialis (MNCs/TNCs) umumnya menerima gaji antara $200,000–$300,000 per bulannya sementara penduduk-penduduk sekitar tambang dan negara jarahan hidup dengan penghasilan di bawah $1/hari.
Kekayaan tambang Indonesia tidak membawa kemakmuran dan kesejahteraan rakyatnya karena sebagian besar industri tambang itu telah digadaikan pemerintah pada perusahaan-perusahaan asing. Keuntungannya pun menjadi keuntungan asing. Karena itu meskipun saat ini industri tambang menikmati rezeki nomplok dari kenaikan harga produk pertambangan, industri manufaktur ataupun sektor lain di Indonesia yang mengandalkan bahan baku tambang justru menghadapi masalah kekurangan pasokan. Misalnya, industri semen, logam, aluminium, timah, batu bara, dan gas.
Terbukti pula sejak berdirinya Orde Baru hingga pemerintahan SBY-Kalla, kebijakan ekonomi-politik yang menempatkan keuntungan bagi pihak pemodal asing terbukti gagal. Dan gagal pula menjadi pilot, dokter dan guru yang dibanggakan dan diandalkan sebagai bunga-bunga bangsa, sekaligus cita-cita kebanggaan waktu kecil itu.
*) Wasekjen Bidang Kaderisasi dan Komunikasi Massa DPP Papernas, tinggal di Jakarta.

Petaka Jurus Mabuk

thumbnail
SUARA REDAKSI
Kelaparan adalah tragedi kutukan mengerikan bagi negeri yang subur dan kaya sumber daya alam. Kelaparan itu adalah murni kebijakan politik strategis! Mengapa demikian? Demokrasi tidak bisa bertumbuh ideal saat perut rakyat kosong. Urusan perut harus ditahtakan kembali pada kursi peradaban. Seperti kata pepatah Yunani kuno, engkau tidak dapat berpikir dengan perut yang lapar, karena perut tidak punya telinga. Padahal salah satu sendi demokrasi adalah terbangunnya ruang dialog dan pemahaman sinergis kepentingan pribadi dan umum, keberimbangan simbiosis urusan privat dan ruang kekuasaan negara.
Derita balita busung lapar, bocah-bocah polos kurang gizi, ibu hamil dan anaknya yang mati kelaparan di sebuah kamar kos menjadi ironi di tengah gegap gempita uang miliaran untuk dana kampanye dan pilkada. Seuntai kesadaran mengalir dari kejernihan nurani bahwa wajah kelaparan tengah tergolek bonyok di tangan-tangan kekar kekuasaan. Mulai dari kepala desa hingga presiden, dari pengurus anak ranting partai hingga elite politik di lingkup DPP, dari kemewahan kursi DPRD hingga kemegahan Senayan. Ya, kelaparan adalah buah sistematis dari tumbuh kokoh-kuat-jaya pilar-pilar kekuasaan. Aneh untuk dinalar sekedar dengan minum secangkir kopi di pagi hari.
Di balik awan yang pekat, matahari terus bersinar menerangi bumi. Sebuah contoh alam yang indah untuk dikalungkan pada loh hati. Bahwa serunyam apapun kehidupan, kemerdekaan berpikir dan perpendapat harus terus diperjuangkan dan dipertahankan. Layak bila dikedepankan lagi kebeningan nurani tanpa kebohongan. Sudah banyak litani dusta yang ditebar partai-partai politik dan pemimpin pilihan rakyat. Seorang pemimpin setelah berkuasa –banyak diberitakan media massa—didemo konstituennya karena mereka lupa merealisasikan janji-janji manis saat kampanye. Pendidikan gratis, kesehatan gratis adalah hiburan bagi rakyat dengan perut lapar yang masih ingin anak-anak mereka cerdas, yang masih berharap buah hati mereka tidak kekurangan gizi. Kog tega ya, rakyat miskin terus-menerus dikibuli demi menapaki tangga-tangga kekuasaan!
Bencana kelaparan dan nafsu kekuasaan seperti dua sisi mata uang. Siapa yang mencintai rakyat negeri ini, yang tulus dan suci hatinya, pasti mengamini bahwa kelaparan bukan kutukan alam! Kelaparan dan kemiskinan bukan semata-mata karena kebodohan. Sebab kemegahan masa lalu telah mewariskan kebanggaan bahwa kita adalah keturunan dari para leluhur yang berbudaya dan berkepribadian adiluhung. Kearifan etis mereka bisa kita temukan dalam lontar dan naskah kuno. Rasa estetis mereka bisa kita nikmati dalam warisan megah Borobudur yang menjadi keajaiban dunia. Kerja akur dan kompak secara organisatoris dalam komunitas dan paguyuban dibangun nenek moyang kita dengan mata rantai gotong-royong, dedikasi, pengabdian dan pengorbanan. Betapa kaya norma-norma sosial yang hidup di berbagai suku dan etnik di negeri ini. Sebuah bukti unggul bahwa kelaparan dan kemiskinan terjadi akibat negeri ini salah diurus.
Kerumitan hidup rakyat negeri ini tidak dilihat sebagai tanda kekalahan. Seting kisah kelaparan massal adalah kisah miris zaman digital. Kebrutalan kapitalistik adalah “jenderal besar” yang otoriter dan anti demokrasi. Pemberdayaan potensi rakyat dan menggali keunggulan lokalitas agar memiliki daya saing di dunia usaha adalah musuh terbesar “jenderal besar kapitalistik”. Upaya melibatkan peran rakyat dalam berbagai kebijakan publik adalah rintangan sebesar pegunungan Jaya Wijaya yang bakal menghambat laju eksploitasi kekayaan alam. Itulah sebabnya tidak ada wakil rakyat di Senayan yang gigih berani memperjuangkan nasib rakyat korban lumpur Lapindo. Sebagian wakil rakyat telah menjadi boneka-boneka kekuasaan rezim kapitalistik yang angkuh, picik, licik dan kejam.
Kebiadaban rezim kapitalistik tidak bisa ditudingkan kepada negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan negara Eropa lainnya. Dalam ranah otonomi dan keberdikarian, kita masih berharap terbitnya wakil rakyat dan pemimpin negeri yang berani memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Satria yang berani melawan tekanan rezim kapitalistik. Kita meyakini, bila tampil pemimpin demikian, ia akan populer karena dicintai rakyatnya. Lebih dari itu, pemimpin sejati adalah insan yang merayakan kemanusiaan manusia di segala bidang. Itu bukan hal yang mustahil. Gandhi telah membuktikannya. “Luhurlah manusia itu. Baik hati dan suka menolong! Inilah yang membedakannya dari segala makhluk yang kita kenal,” kata Goethe. Dalam humanitas yang terwujud secara nyata inilah, kealamiahan dan kerohanian bersatu. Hugo Chaves telah merintis jalan ke sana. Evo Morales pun demikian, dan masih banyak lagi pemimpin di belahan negara lain yang telah sadar akan penjajahan modern.
Itulah sebabnya Wilhem von Humboldt (1767-1835) menekankan bahwa manusia etis-estetis bukan matematis rasional. Perbaikan mutu batiniah perlu didorong menjadi proyek bersama semua penghuni negara demokratis. Begitu juga di Indonesia. Agar para pemimpin kita berhenti saling mengolok dan menebar jurus mabuk. Agar rakyat tidak terus turun berdemo di jalanan kota hanya karena menagih janji-janji palsu! Semoga!!!

Kita (tidak) Bisa Mengakhiri Kemiskinan

thumbnail
OLEH: Abd. Sidiq Notonegoro*
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Juli 2007, jumlah masyarakat miskin di Indonesia mencapai 37,17 juta jiwa. Namun bila mengacu pada standar Bank Dunia, bisa jadi masyarakat miskin di Indonesia lebih dari apa yang dilaporkan BPS. Hal ini karena yang dikategorikan sebagai orang miskin ialah mereka yang berpenghasilan di bawah 2 (dua) dolar per hari. Padahal sungguh tidak terkira jumlahnya di Indonesia ini orang yang berpenghasilan kurang dari Rp 10 ribu per hari.
Fakta lain tentang kemiskinan di Indonesia ditunjukkan dengan kian meningkatnya laju migrasi tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri, ironisnya pada umumnya hanya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (PRT) ataupun buruh di perkebunan. Di sisi lain-- seperti misalnya menjelang Idul Fitri --di dalam negeri tampak begitu maraknya “parade orang miskin” yang antri-- mempertontonkan kemiskinannya ----untuk mendapatkan giliran pembagian zakat atau sadaqoh dari orang-orang yang tergolong kaya.
Karena itu, apapun alasannya kemiskinan di Indonesia merupakan masalah yang amat serius. Selain komitmen dan kemauan yang keras untuk membantu masyarakat miskin tersebut dari keterpurukannya, juga dibutuhkan kecerdasan --moral maupun intelektual-- yang tinggi. Sebab cara-cara penanganan terhadap masyarakat yang miskin tanpa diimbangi dengan kecerdasan yang baik hanya akan menambah deretan derita dan jumlah orang miskin sekaligus menjerumuskannya ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam. Akibatnya, kemiskinan menjadi tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan dan politik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor budaya atau mentalitas.
Kita memang harus memotivasi dan sekaligus menekan pemerintah untuk secara serius menuntaskan masalah kemiskinan hingga tahun 2015. Minimal agar pemerintah --mulai dari tingkat pusat sampai daerah --tidak hanya terjebak pada gincu politiknya saja, sehingga gerakan penuntasan masalah kemiskinan tidak hanya berkutat pada persoalan slogan, simbol atau janji-janji ‘kosong’ semata. Diakui atau tidak selama ini isu penuntasan masalah kemiskinan --dan segala yang mengiringinya-- hanya menjadi amunisi kampanye politik untuk meraih kekuasaan semata.
Paling tidak dengan mengacu pada 8 (delapan) Tujuan Pembangunan Millenium (MDGs) --yang telah digagas oleh 189 kepala pemerintahan pada pertemuan Millenium bulan September tahun 2000 lalu yang meliputi pemberantasan kemiskinan dan kelaparan, pendidikan dasar untuk semua, kesetaraan gender, menurunkan angka kematian anak, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyakit menular, meningkatkan kelestarian lingkungan hidup, dan mengembangkan kemitraan global-- pemerintah memiliki pedoman kerja yang jelas berkaitan dengan penuntasan masalah kemiskinan.
Cobalah kita simak, entah sudah berapa kali para pejabat kita --baik yang ada di pusat sampai daerah-- membanggakan diri dengan klaim-klaimnya bahwa kemiskinan di wilayah kekuasaannya cenderung relatif berkurang. Namun di sisi lain fakta yang ada di depan mata menunjukkan berbagai derita --kebodohan, penyakit menular dan kematian-- masyarakat yang diakibatkan oleh faktor kemiskinan tidak terelakkan.
Grand Strategy
Sesungguhnya pemerintah sudah cukup banyak memiliki perhatian terhadap nasib kaum miskin. Entah itu berkaitan dengan komitmen moral sebagai manajer negara atau sekedar tebar pesona untuk merenggut simpati massa. Hanya saja apa yang telah dilakukan pemerintah tersebut masih kerap tidak terarah. Tampak nyata pemerintah belum memiliki grand strategy yang tepat. Perhatian pemerintah terhadap orang miskin lebih condong menempatkan orang miskin sebagai “obyek” daripada sebagai “subyek”. Akibatnya, meskipun telah milyaran rupiah dikucurkan untuk orang miskin, akan tetapi belum memberikan dampak yang signifikan berkaitan dengan terangkatnya nasib dan derajat orang miskin tersebut untuk sedikit lebih tinggi.
Karena itu, diperlukan grand strategy yang tepat agar anggaran-anggaran untuk orang miskin --yang diprogramkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)-- dapat difungsikan secara efektif, terukur dan tepat sasaran serta tujuan. Tepat sasaran dan tujuan tersebut maksudnya ialah anggaran yang dapat memberdayakan orang miskin untuk menjadi manusia yang produktif --dan bukan konsumtif-fatalis. Jangan sampai dengan adanya anggaran untuk orang miskin dalam APBN justru menjadikan orang miskin ‘ternina-bobokan’ dalam kemiskinannya.
Untuk itu, pemerintah perlu belajar dari negara-negara maju berkaitan dengan program pengentasan kemiskinan. Sebagaimana telah menjadi di beberapa negara maju, program pengentasan kemiskinan dikemas dalam satu paket dengan program pendidikan dan kesehatan. Memang kini pemerintah telah mengalokasikan anggaran pendidikan dalam bentuk bantuan operasional sekolah (BOS) untuk meringankan biaya pendidikan --dan bahkan menggratiskan-- bagi orang miskin. Sayangnya, hal tersebut hanya berlaku pada sekolah-sekolah yang tidak berani memberikan jaminan “mutu pendidikan” yang baik. Untuk sekolah-sekolah yang berani memberikan tawaran kualitas unggul, mereka mematok “harga” yang sangat tidak mungkin dijangkau oleh masyarakat yang berpenghasilan di bawah 20 ribu rupiah per hari.
Meski bukan tergolong negara miskin, Indonesia juga bukanlah negara kaya. Kalau dikaitkan dengan kekayaan sumber daya alam, ada yang mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara terkaya ketiga di dunia --setelah Amerika Serikat dan Rusia. Tetapi kalau dikaitkan dengan tingkat kemakmuran masyarakatnya, tentunya rakyat Indonesia bukan tergolong masyarakat termakmur ketiga di dunia. Tetapi sebaliknya, masyarakat Indonesia tergolong bangsa miskin dan terbelakang di dunia.
Pro Orang Miskin
Teori apapun pasti akan mengatakan bahwa kucuran anggaran (melalui APBN) untuk orang miskin tak akan berpengaruh signifikan terhadap pemberantasan kemiskinan, bila tidak diimbangi dengan keberpihakan yang nyata terhadap masyarakat miskin. Karena itu, gerakan melawan kemiskinan oleh negara harus dibarengi dengan gerakan melawan mental serakah dan rakus di kalangan (oknum?) pejabat negara --baik eksekutif maupun legislatif-- serta orang-orang kaya.
Tidak dipungkiri bahwa salah satu penyebab kemiskinan masyarakat ialah munculnya mental-mental kapitalistik-materialistik di kalangan ‘elit’ bangsa ini. Harus diakui, di balik isu-isu dan wacana tentang “pemihakan terhadap kaum miskin” ada beberapa gelintir elit yang memanfaatkan kesempatan ini --dengan mengeksploitasi orang miskin-- untuk merengkuh kekayaan secara ilegal. Beberapa kasus membuktikan tentang adanya “pengemplangan” bantuan dana untuk orang miskin oleh beberapa ‘pejabat’, selain juga sebagian orang berkecukupan yang pura-pura miskin demi untuk mendapatkan bagian dari jatah orang miskin.
Minimal ada 3 langkah untuk mendukung gerakan melawan kemiskinan. Pertama, meningkatkan kepedulian terhadap orang miskin. Bila kaum konservatif semisal Auguste Comte maupun Emile Durkheim mengatakan bahwa kemiskinan terjadi akibat kultur dan mentalitas orang miskin yang tidak bisa beradaptasi dengan tatanan sosial yang ada, maka kita perlu mengadopsi pendapat kaum liberal yang dimotori oleh Fredrich August von Hayek bahwa kultur orang miskin tersebut harus diubah melalui pendidikan yang bermutu yang pembiayaannya sepenuhnya ditanggung negara. Kedua, mengeliminasi diskriminasi terhadap orang miskin, yaitu memandang kesejajaran antara pejabat (dan kaya) dengan orang miskin berkaitan dengan hak dan kewajiban sebagai masyarakat bangsa. Dengan kata lain, orang miskin pun layak dan harus diposisikan sebagai “subyek pembangunan” (dan bukan obyek pembangunan). Dan ketiga, mengikis habis perilaku-perilaku koruptif di kalangan elit kekuasaan. Dalam hal ini para koruptor harus benar-benar menjalani proses hukum secara adil.
Tanpa memperhatikan ketiga hal di atas, terasa dan tampak absurd bahwa gerakan melawan kemiskinan akan sukses di negeri ini meski diberi tenggang waktu sampai tahun 2015. Karena itu, meski sesungguhnya kita bisa mengakhiri kemiskinan di negeri ini --tetapi kita [mungkin juga] tidak bisa mengakhiri, bila (minimal) ketiga langkah di atas diabaikan begitu saja.
*) Staf Pengajar FAI Univ. Muhammadiyah Gresik dan Ketua LPAM Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur.

Kenaikan Harga Barang Mencekik Leher

thumbnail
SUARA WARGA
Tahun baru tidak hanya semangat saja yang baru. Semua harga barang pun ikut berubah naik secara drastis. Tak hanya sedikit kenaikan itu, sudah dirasakan mencekik leher bagi masyarakat ekonomi bawah dan menengah. Apalagi untuk saya, yang mencari uang dengan menjual sayuran keliling.
Belum lagi harga bensin yang dibilang segera naik dan dibatasi. Derita semakin terasa karena saya harus keliling kompleks perumahan Drupadi dan Renon untuk menjual sayuran. Semua pelanggan sayuran protes dengan harga yang saya naikkan. Padahal saya hanya mengikuti harga di pasar dengan mengambil untung sedikit saja untuk ongkos bensin agar bisa tetap keliling. Karena ibu-ibu yang jadi langganan tentu juga mengalami kesulitan keuangan seperti saya. Saya hanya bisa membatasi jumlah sayuran yang saya jual sesuai dengan permintaan pembeli. Dengan memberikan harga yang tidak terlalu tinggi, standar saja.
Kalau berhenti jualan tentu dapur tidak bisa mengepul. Dan di jaman sulit mencari pekerjaan ini tidak ada yang bisa saya lakukan, karena hanya tamatan SMA. Saat ini saya tetap berjuang menjual sayuran keliling selama pelanggan membutuhkan. Dan terus berharap agar suatu saat nanti harga dapat kembali stabil.
Komentar: Udin Mansyur, penjual sayur keliling, tinggal di Jl. Drupadi, Denpasar. (Diungkapkan kepada Wayan Nita).

Ideal Pembatasan BBM 10 Liter
Sudah menjadi tugas dan kerja pemerintah membuat kebijakan-kebijakan yang tujuannya mensejahterakan negara dan bangsanya. Ketika mendengar ada kebijakan pembatasan BBM, saya merasa kebijakan itu semakin menyusahkan warga masyarakat. Apalagi masyarakat kita tidak hanya hidup pada sektor pemerintahan tetapi juga pada sektor swasta yang memiliki tingkat aktivitas tinggi.
Dari segi positif, saya lihat mungkin maksud kebijakan ini untuk mengurangi dana subsidi pemerintah untuk BBM sehingga bisa digunakan sebagai dana alokasi untuk yang lain. Dengan pembatasan BBM, orang juga akan berpikir dua kali untuk pergi tanpa tujuan atau lebih mengutamakan yang penting saja.
Namun kita tidak harus melihat dari satu sisi saja. Dengan kebijakan pembatasan BBM 5 liter/hari akan menimbulkan dampak sosial yang besar. Dari segi bisnis, kebijakan itu dirasa memberatkan masyarakat pekerja. Bagaimana kita bisa bekerja bila per harinya membutuhkan BBM lebih dari lima liter dan kita disuruh hanya mengisi 5 liter saja. Hal itu akan menghambat sistem kerja. Saya sendiri setiap hari harus pulang pergi bekerja dari Tabanan ke Nusa Dua. Selain itu dengan kebijakan pembatasan minyak akan mendidik masyarakat kita berbudaya curang. Karena merasa kebutuhannya terpasung, mereka mencoba mencari segala cara untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Karena itu saya menyarankan pembatasan BBM menjadi 10 liter per hari.
Komentar: Wayan Suarta, tinggal di Tabanan (Diungkapkan kepada Heni Kurniawati).

Hendy Setiyono Buka Lapangan Kerja

thumbnail
Franchise Kebab Turki Baba Rafi
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH

Bagi mereka penyuka makanan Timur Tengah, pasti tidak asing lagi dengan makanan kebab. Makanan asli negara Turki ini, sekarang banyak ditemui di Indonesia. Terutama kebab dengan nama Kebab Turki Baba Rafi. Pemilik franchise makanan yang rasanya sudah diadaptasikan dengan lidah orang Indonesia ini, adalah seorang anak muda asal Surabaya. Dialah Hendy Setiyono (24). Saat ini, paling tidak sudah 300 cabang tersebar di 40 kota di Pulau Jawa, Medan, Lampung, Makassar, Padang, Balikpapan, Banjarmasin, Pontianak, Bali dan Mataram. Sedangkan karyawannya berjumlah 650 orang. Dan omzetnya mencapai Rp 3,75 miliar setiap bulannya. Berbagai penghargaanpun telah diterima anak pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Hj Endah Setyowati ini.
Bisnis makanan asal Turki ini, diawali dengan kesukaan Handy mencoba berbagai macam jenis makanan. Kebetulan saat itu, empat tahun lalu, ketika masih kuliah di ITS, ia sempat berkunjung ke Turki dan mencoba makanan yang namanya kebab. Maklum saja, ayahnya memang bekerja di Turki. ”Setelah mencoba, ternyata rasanya enak dan terpikir oleh saya untuk berjualan kebab di Indonesia. Pertama kali, saya membuka dengan menggunakan gerobak dengan satu teman saya yang pandai masak. Tepatnya di depan kuburan Nginden Semolowaru. Modal awal kita dahulu Rp 4 juta,” cerita bapak tiga anak ini.
Karena ia sadar lidah orang Indonesia berbeda dengan lidah orang Timur Tengah, otomatis bumbunya pun disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Misalnya kalau kebab asli Turki sangat terasa rasa lada kapulaga, untuk adonan Indonesia dikurangi. Demikian juga dengan daging. Kalau kebab dari negara asalnya menggunakan daging kambing, sedangkan di Indonesia menggunakan daging sapi. Berawal dari gerobak kebab yang dibuka di depan kuburan itulah, bisnis Hendy berkembang pesat.
Sejak bisnis makanan Timur Tengahnya maju, ia memutuskan meninggalkan bangku kuliah di Teknik Informatika ITS yang baru dilakoninya dua tahun. Kemudian ia mengolah secara serius dan profesional Kebab Turki Baba Rafi ini. Untuk mengembangkan bisnis, ia pilih franchise, karena bila dilihat dari sisi ekonomi, resikonya tidak besar dan modal cepat balik. ”Selain itu juga membuka lapangan kerja bagi anak muda. Sehingga bukan hanya mencari kerjaan,” tambah Hendy.
Kebab Turki Baba Rafi membuka kesempatan bagi mereka yang memiliki modal antara Rp 50 juta – Rp 80 juta untuk bergabung dengan franchise ini. Berbagai fasilitas diberikan oleh perusahaan. Di antaranya adalah gerobak beserta isinya. Mulai alat memasak sampai perlengkapan lainnya. Kemudian training karyawan dan manajemen juga diberikan perusahaan. Untuk pengolahan selanjutnya, diserahkan pada pemilik franchise.

Unggul Dengan Kaos Sendiri

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Tidak semua orang dikaruniai kejelian membaca peluang usaha. Sikap dasar kreativitas dan inovasi adalah kunci awal mengembangkan usaha tertentu. Lalu dipupuk kerja keras, ketekunan dan kesabaran.
Gusti Ngurah Anom salah satu putera daerah yang jeli memanfaatkan arus wisatawan yang berkunjung ke Bali. Dalam benaknya tergambar bisnis cinderamata alias oleh-oleh khas Bali. Setelah puas menikmati keindahan alam dan pesona budaya Bali, wisatawan akan mencari oleh-oleh untuk sanak keluarga, sahabat maupun teman-teman.
Lalu pria yang akrab dipanggil Pak Cok mulai menggarap segmen oleh-oleh berupa baju kaos khas Bali. Pemilik KRISNA Oleh-Oleh ini, awalnya belum terpikirkan membuat pusat oleh-oleh di Denpasar. Sebelumnya ia hanya mempunyai pusat konveksi yang juga beralamat di Jl. Nusa Indah No 77 Denpasar. Berdasarkan pengalaman banyaknya wisatawan yang membeli oleh-oleh berupa baju kaos malah terpikir oleh Pak Cok untuk membuat pusat oleh-oleh. “Yang membedakannya dengan pusat oleh-oleh lainnya adalah dengan adanya kaos buatan Cok Konveksi milik kami. Dan kaos tersebut lebih main ke karikatur,” ungkap Pak Cok.
Pernak-pernik khas Bali tersedia di KRISNA, seperti aneka camilan, kaos anak-anak dan dewasa, batik, tas kreasi, alat musik klasik, aksesoris pria dan wanita, bedcover, lukisan, kain pantai, layang-layang, pernik kayu, sandal sepatu hingga frame foto. Harga pun bervariasi mulai dari seribuan hingga ratusan ribu. Meskipun harganya murah, lanjut Cok, tapi barangnya berkualitas karena diambil langsung dari produsennya di Gianyar. Pusat oleh-oleh yang mulai buka pukul 09.00-22.00 WITA ini sangat mengedepankan kualitas barang dan servis pelayanannya. Hal tersebut terlihat dari kerapian tempat yang disusun beraturan juga karyawannya yang menggunakan seragam. Pemakaian seragam ini, tegas Cok, adalah untuk membedakan antara tamu dengan karyawan dan agar terlihat lebih rapi.
Tempat yang nyaman namun jauh dari keramaian tak membuat KRISNA kekurangan pengunjung. Banyak wisatawan yang berdatangan untuk membeli oleh-oleh atau sekedar jalan-jalan. Meskipun di Bali sendiri sudah ada pusat oleh-oleh terkenal yaitu Sukawati bukan berarti dengan didirikannya KRISNA bisa mengurangi omset penjualan barang di Sukawati. Karena menurut Cok, pasar wisatawan sudah terbagi-bagi dan semua kembali ke wisatawannya sendiri mau belanja oleh-oleh di mana.

Gelar Karya PKBL Libatkan 350 UKM

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Pameran Gelar Karya Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) BUMN 2008 melibatkan 350 UKM binaan badan usaha milik negara (BUMN), adalah bentuk kepedulian BUMN kepada para UKM.
‘’BUMN wajib menyisihkan 2% dari proyeksi laba bersih untuk Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) 2008. Kalau dulu dana PKBL itu 2% dari net profit, sekarang dana PKBL ditetapkan 2% dari proyeksi net profit-nya,’’ kata Meneg BUMN Sofyan Djalil saat membuka Gelar Karya PKBL BUMN 2008 di Jakarta.
Menurut Sofyan, hingga akhir 2007, dana kemitraan yang digulirkan BUMN mencapai Rp 6,2 triliun. Dana tersebut digunakan untuk pinjaman bagi usaha kecil menengah (UKM) agar bisa meningkatkan kapasitas usahanya. ‘’Dana tersebut berasal dari penyisihan laba bersih sebesar Rp 4,1 triliun ditambah dana kumulatif tahun sebelumnya. Tercatat sekitar 483 ribu UKM yang telah menikmati bantuan pinjaman dana tersebut,’’ katanya.
Tahun ini, sebagian dana PKBL yang terkumpul akan disisihkan untuk mendukung program diversifikasi konsumsi pangan dan membantu masyarakat kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan pokok. Nilai komitmen yang telah diberikan sebesar Rp 1,3 triliun.
‘’Dengan mempertajam sasaran PKBL, diharapkan usaha kecil dapat meningkatkan kinerja usahanya. Masyarakat juga akan terbantu, karena pasti bisa menciptakan lapangan kerja. Usaha kecil di Indonesia mencapai puluhan juta unit. Kalau semua dibantu dan difasilitasi untuk meningkatkan kinerja usahanya, tentunya banyak lapangan kerja yang tercipta,’’ kata Sofyan.
Selain bisa memetakan sasaran penyaluran, program kemitraan BUMN tidak hanya sekadar menyediakan dana untuk pinjaman, dana bergulir maupun hibah. PKBL BUMN harus juga mampu melakukan pendampingan, bimbingan manajemen maupun peluang pemasaran. Sementara dalam bina lingkungan, BUMN juga memberi perhatian dengan membantu pembangunan sarana maupun prasarana untuk masyarakat
Pameran bertema ‘Sinergi dalam Kerja Menuju Era Pasar Global’ ini, memamerkan beragam produk UKM seperti furnitur, batik, kerajinan tangan, perhiasan, aksesori, tekstil, makanan dan minuman dari seluruh Indonesia.
‘’Pameran ini diharapkan bisa berjalan setiap tahun dan berkembang ke tingkat internasional, seperti Inacraft,’’ kata Presdir PT Mediatama Binakreasi Bramantyo W, sebagai penanggung jawab pameran.

Giatkan Amal, Mental, Dan Intelektualitas

thumbnail
OLEH: INDAH WULANDARI
hadni_wulan@yahoo.co.id
Saling bantulah kamu dalam hal kebaikan. Petikan terjemahan dari sebuah surat dalam kitab suci Al-Qur’an tersebut sangat menginspirasi gerak langkah Dompet Sosial Madani Bali (DSMB).
Biaya pendidikan yang kian mahal jadi salah satu alasan DSMB untuk mengembangkan program-program berbasis pendidikan gratis. Diawali program Rumah Asuh Madani (RAM) dengan anak asuh sekitar 62 orang di kisaran Denpasar dan Negara. Kemudian, DSMB kembali menghaturkan sebuah program sarana belajar gratis bagi anak-anak yang tinggal di sekitar Jl Padang Lalang (depan RS Medistra), Denpasar. Tempatnya pun dinamakan Taman Belajar Padang Lalang.
Bimbingan membaca Al Qur’an bagi anak usia 5-15 tahun menjadi salah satu materi awal Taman Belajar Padang Lalang. ‘’Nantinya Taman Belajar ini juga akan dilengkapi perpustakaan anak dan ada penambahan materi bahasa Inggris dan ketrampilan lain serta ilmu-ilmu umum lainnya,” jelas Akhmad Alim Mahdi, Direktur DSM Bali saat ditemui di soft launching DD Travel perwakilan Bali dan Taman Belajar Padang Lalang (17/2). Taman Belajar ini akan mulai beroperasi 1 Maret 2008. Selain meningkatkan intelektualitas anak didiknya, program belajar gratis ini berupaya mendekatkan serta mensinergikan kiprah pelayanan DSM kepada masyarakat di Bali.
Sambutan masyarakat ternyata cukup positif. Program tersebut dirasa tepat sasaran. Menurut Ketut Adnyana, kelian dinas Banjar Mekar Buana, terdapat sekitar 1200 jiwa yang kebanyakan berstatus pendatang membutuhkan sarana pendidikan. Kepedulian sosial lembaga amil zakat DSM juga diwujudkan dengan pembagian paket sembako dan pelayanan pemeriksaan kesehatan cuma-cuma kepada sekitar 300 KK di banjar tersebut.

Jaket Gigi; Untuk Merawat Gigi Bermasalah

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Banyak jalan untuk tampil cantik dan menarik. Selain perawatan wajah atau tubuh, masyarakat yang hidup di kota-kota besar mulai memperhatikan penampilan gigi mereka. Gigi seperti bagian dari tubuh yang lain membutuhkan perhatian ekstra. Untuk gigi gigi berlubang atau kelainan, dapat diatasi dengan pemberian jaket gigi untuk gigi lubang dan behel untuk gigi yang berantakan (tidak rata). Selain itu behel gigi digunakan untuk fashion atau gaya hidup masa kini.
Menurut drg Cinthia Hutomo, Ort, behel atau breket gigi berfungsi untuk mengatur bentuk gigi agar lebih teratur, lebih rapi, dan mengembalikan bentuk gigi secara fungsional. ‘’Jadi bukan digunakan untuk bergaya atau diet. “Pada awal pemakaian breket gigi memang mengalami rasa sakit karena rahang-rahang gigi menyesuaikan dengan behel yang ada, sehingga sulit dan sakit ketika mengunyah makanan. Namun hal itu hanya berlangsung selama satu minggu, dan setelah itu kembali seperti biasa,” jelas drg Cinthia Hutomo.
Perawatan gigi yang menggunakan behel gigi plus pemeriksaan dokter, perlu dilakukan intensif selama sekitar sebulan. Waktu untuk menyikat gigi pun lebih lama agar kotoran di balik kawat gigi bisa terangkat. Sebab bila pemakaian behel gigi tidak dibersihkan secara benar, dapat berdampak pada berlubangnya gigi yang sehat.
”Dengan breket gigi kotoran sisa makanan mudah menempel pada celah-celah gigi dan behel. Hal ini yang dapat mengakibatkan terjadinya karang gigi dan flak gigi serta membuka potensi bagi terjadinya gigi berlubang. Untuk menggosok gigi yang berbehel harus pelan agar kotoran yang terselip pada kawat bisa hilang,” ujar dokter kelahiran Solo, Jawa Tengah ini.
Bagi gigi yang berlubang dibutuhkan jaket gigi untuk perawatannya dan bukan hanya tembel gigi seperti yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Kriteria untuk melakukan jaket gigi, jaringan gigi berlubang (besar atau kecil lubang) dibersihkan dan lubang gigi yang lebar dirawat terlebih dahulu. Bila pemasangan jaket gigi pada gigi berlubang yang dekat saraf gigi (gigi mati) perlu perawatan lebih serius termasuk preparasi perawatan gigi dan pembentukan jaket gigi harus berkualitas.

Tips Merawat Kesehatan Gigi

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Banyak faktor yang menyebabkan gigi menjadi kuning dan berubah warna (kuning, coklat atau abu-abu). Nyatanya, gigi orang Indonesia dan Asia memang kuning daripada bule. Meski begitu, faktor kebersihan mulut menjadi penyebab gigi berubah warna terutama gigi kuning.
Gigi berwarna yang disebabkan oleh faktor genetik (keturunan), jelas tidak bisa dibersihkan (bleching). Faktor kedua, benci gigi. Faktor ini dipicu oleh, pada masa hamil ibu over konsumsi obat antibiotik sehingga pengaruh pada warna gigi janin. Antibiotik pada anak usia di bawah 9 tahun berpengaruh pada perubahan warna estetika gigi.
Menurut drg Stefanus Agung Tri Wibowo, SP.BM, ahli bedah mulut RSUP Sanglah Denpasar, terjadinya gigi kuning karena kebersihan gigi tidak bagus. Sisa makanan menempel pada dinding gigi yang memacu percepatan terjadinya gigi berwarna kuning, flak dan karang gigi. Berikut Tips perawatan gigi agar tetap sehat, bersih dan indah.
Pertama; Menggosok gigi dengan cara yang benar, yaitu menyikatnya agak memutar sehingga semua bagian gigi terkena sikat gigi.
Kedua; Menggosok gigi setiap habis makan dan sebelum tidur atau minimal dua kali sehari, sehabis makan dan sebelum tidur.
Ketiga; Jika telah menggosok gigi pada waktu sebelum tidur dan mengonsumsi makanan ringan atau minuman manis, dianjurkan untuk berkumur kembali. Agar kuman sisa makan tidak berupa asam sehingga berakibat buruk pada kesehatan dan keindahan gigi.
Keempat; Menganti sikat gigi maksimal 6 bulan sekali atau tergantung kondisi dari sikat tersebut, apabila sebelum 6 bulan sudah buruk perlu untuk diganti.
Kelima; Melakukan pemeriksaan secara rutin setiap 6 bulan sekali. Pemeriksaan guna untuk mengatasi permasalahan gigi.
Keenam; Untuk gigi yang dalam perawatan behel atau kawat gigi dibutuhkan pemeriksaan setiap 2 minggu atau satu bulan sekali untuk menganti karet gigi serta memeriksa bila ada kerusakan akibat behel gigi.
Ketujuh; Bagi gigi yang terlanjur berwarna kuning akibat kurang terjaganya kebersihan mulut dan gigi dapat kembali putih dengan finering (porselin) atau blicing. Sementara bagi gigi yang berwarna akibat geneti atau terkena efek samping dari antibiotik tidak dapat berwarna putih bersih layaknya gigi normal.

Meski Ompong Tetap PD

thumbnail
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH
Ompong atau orang yang tidak punya gigi, hampir dialami setiap manusia seiring dengan bertambahnya umur. Ompong lebih awal bisa terjadi jika mereka kurang menjaga kesehatan gigi. Apalagi gigi yang dimiliki tergolong gigi keropos. Dapat dipastikan, sebelum memasuki umur 50 tahun, gigi mulai lepas dan menggunakan gigi palsu. Seperti yang dialami Soeparman (67).
Menurut pengakuan kakek dua cucu ini, giginya mulai tanggal sejak umur 25 tahun yang berawal dari gigi berlubang. Daripada harus terus-terusan menahan sakit, ia memutuskan untuk mencabut giginya. Sejak satu gigi dicabut, hampir setiap tahun ada saja gigi yang dicabut. “Saya paling tidak tahan kalau sakit gigi. Zaman dahulu kan belum populer gigi berlubang ditambal. Ya jalan satu-satunya dicabut saja,” ceritanya.
Setelah dicabut beberapa kali, jelang usia 40 tahun, ia coba memasang gigi palsu yang tidak permanen. Karena setelah membersihkan gigi palsunya ia lupa menaruh, empat gigi palsu pun hilang. Hingga akhirnya ayah tiga anak ini memutuskan untuk hidup tanpa menggunakan gigi palsu. Ia membiarkan sisa-sisa gigi menghilang sendiri, meski akar gigi masih terdapat di dalam gusi.
Hidup tanpa gigi lengkap dilakoni pensiunan TNI-AU ini selama bertahun-tahun. Selama itu pula ia merasa tidak mindrr. Soeparman menganggap wajar karena tidak perlu malu atau tidak percaya diri tampil di depan orang tanpa ada gigi lengkap. Saat ini, hampir semua gigi geraham habis dicabut, tinggal gigi bagian depan.
Dibanding ketika semua gigi masih utuh, bila menikmati makanan pasti berbeda dengan sekarang. “Dulu makan jagung atau kacang bisa cepat. Tapi kalau sekarang tetap bisa makan, tapi memerlukan waktu lama. Karena umumnya dikunyah di dalam, sedangkan sekarang dikunyah gigi depan. Pokoknya harus sabar dan perlu waktu lama kalau makan sesuatu,” jelasnya.
Dari hasil konsultasi dengan dokter gigi, gigi miliknya termasuk keropos karena terkait genetik. Jika memiliki gigi keropos, otomatis merawatnya harus lebih. Misalnya tidak makan panas dan dingin hampir bersamaan, menggosok gigi dengan sempurna secara rutin setelah makan dan akan tidur malam. Karena gigi keropos mudah terkena kuman-kuman penyakit dibanding gigi normal. Perilaku yang tidak baik merawat gigi selama masa muda itulah yang menyebabkan giginya habis seperti sekarang itu.
Pada dua tahun silam, ia mengeluh sakit kepala dan sakit gigi. Setelah menjalani pemeriksaan intensif, dokter mengatakan, sakit kepalanya dipicu oleh sisa akar gigi yang terinfeksi. Solusinya, jelas mencabut semua akar gigi agar tidak terus menerus menderita sakit.

Rawat Gigi Anak Sejak Dalam Kandungan

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Merawat gigi merupakan suatu keharusan, karena kebersihan gigi menunjang aktivitas kita. Selain orang gigi dewasa, gigi bayi dan anak-anak pun perlu mendapatkan perhatian. Bahkan ibu hamil juga perlu memperhatikan makanan yang dikonsumsi agar pertumbuhan janin maksimal. Ibu hamil juga tidak boleh mengkonsumsi antibiotik terlalu banyak tanpa pengawasan dokter. Karena perawatan gigi yang benar sejak bayi akan memberikan dampak kesehatan gigi setelah dewasa.
Perawatan gigi anak tidak jauh beda dengan orang dewasa. Hanya saja, orang tua terutama ibu harus berperan aktif, disiplin dan konsisten. Meskipun anak sudah dalam pengawasan pengasuh tapi ibu harus mengontrol.
Menurut Drg L Wayan Ayu Rahaswanti, SpKGA, yang bekerja di poli gigi dan mulut RSUP Sanglah Denpasar ini, pola sikat gigi anak sama dengan pola sikat gigi orang dewasa. Meskipun anak sudah bisa menyikat gigi sendiri atau dalam pengawasan pengasuh tapi ibu harus tetap mengontrolnya. Sesibuk apapun ibu, lanjut drg Ayu, harus tetap mengawasi dan mengontrol kebersihan gigi anak. Ibu juga harus telaten membersihkan gigi anak. Misalnya setelah anak makan permen, camilan, coklat ataupun susu hendaknya ibu menggosok gigi sang anak. Agar gula yang terkandung dalam makanan, tidak menempel di gigi dan menimbulkan lubang. “Tapi bila situasi tidak memungkinkan, seperti waktu bepergian jauh, cukup memberikan air putih untuk berkumur,” ungkap drg Ayu yang buka praktek di RSIA Puri Bunda, Denpasar.
Orang tua yang rajin menerapkan pola sikat gigi yang benar akan menurun pada si anak. Minimal dua kali sehari, sehabis sarapan dan sebelum tidur malam harus menggosok gigi. Tapi alangkah baiknya jika menggosok gigi dilakukan setiap sehabis makan dan sebelum tidur.
Menurut drg Ayu, bayi yang baru lahir gusinya perlu dirawat, apalagi bagi bayi yang sudah diberikan makanan tambahan atau susu formula. Karena kandungan gula dalam makanan atau susu tambahan akan melekat dalam gusi. Bila tidak dibersihkan akan berdampak buruk pada pertumbuhan giginya. Ada produk bayi yang menyediakan jenis-jenis sikat gigi untuk masing-masing tingkatan umur sekaligus pastagiginya. Jadi, lanjut drg Ayu, ibu tidak perlu lagi pusing dengan pilihan sikat gigi untuk bayi dan balitanya.
Balita yang mempunyai gigi berlubang atau berwarna coklat dan habis terkikis adalah akibat dari ketidak telatenan ibu. Jika ada pendapat bahwa gigi balita yang rusak akibat penggunaan botol susu itu tidak benar. Yang benar karena setelah minum susu biasanya anak langsung tidur dan ibu tidak mungkin membangunkan anaknya untuk sikat gigi. Padahal sewaktu tidur air ludah yang berperan dalam membersihkan mulut tidak aktif. Akibatnya gula yang terkandung dalam susu menempel dalam gigi. “Untuk mengatasi hal itu, ibu cukup membasahi kasa steril dengan air hangat kemudian digosokkan ke gigi anak secara perlahan. Tindakan ini sedikit membantu mlindungi gigi anak,” jelas drg Ayu.

MUTIARA KEHIDUPAN

thumbnail
Membaca & Menulis

* Nullus est liber tam malus, ut non aliqua parte prosit (Tidak ada buku yang begitu jelek, yang sedikit pun tidak dapat diambil pelajarannya). Plinius Jr
* Nulla aetas ad discendum sera (Tidak ada umur yang terlambat untuk belajar) . Seneca
* Palma non sine pulvire (Tidak kemenangan tanpa jerih payah). Horat
* Qui scribit, bis legit (Siapa yang menulis, dia itu sudah membaca dua kali) Pepatah Latin

Nginang Yang Berujung Kanker

thumbnail
OLEH: WURI WIGUNANINGSIH
Sebelum ditemukan pasta dan sikat gigi, untuk merawat dan menjaga kesehatan gigi, nenek moyang bangsa ini menggunakan campuran kapur dan pinang. Caranya, mengunyah campuran secara bergantian di dalam mulut. Orang Jawa biasa menyebut nyusur atau nginang. Budaya nyusur atau nginang cukup akrab dengan masyarakat Indonesia, baik yang tinggal di kota-kota besar hingga dusun-dusun.
Menurut drg Elly Munadzirah MS, dosen FKG Unair, ada baik dan buruknya orang yang mengunyah campuran kapur dan pinang. Konon orang yang suka menginang dipercaya, giginya akan kuat dan tidak akan berlubang. “Tidak salah jika orang yang suka nginang giginya akan kuat dan sehat. Karena hasil penelitian membuktikan, kalau kapur yang dikunyah mengandung kalsium yang bermanfaat untuk memperkuat gigi. Sedangkan pinang atau jambe, mengandung zat antiseptik yang mampu mencegah terjadinya infeksi dan membunuh mikroba,” katanya.
Sedangkan akibat buruk dari nginang, bisa menyebabkan kanker mulut. Ini bisa terjadi, jika campuran kapur dan pinang tersebut berdiam terlalu lama di dalam mulut. Misalnya hanya berdiam lama di mulut sisi mulut bagian kanan atau kiri saja. Bila diletakkan lama di satu tempat, bisa menyebabkan iritasi di dalam mulut. Jika iritasi dibiarkan terus menerus tentu akan bercampur dengan kuman-kuman penyakit. Hal inilah yang bisa memunculkan berbagai macam penyakit. Salah satu diantaranya adalah kanker mulut.
Seiring dengan waktu dan perkembangan tehnologi, budaya nyusur mulai ditinggalkan oleh generasi muda. Sehingga ada pandangan di kalangan anak muda, kalau nyusur seperti ketinggalan zaman. Budaya mengunyah kapur dan pinang itu, lama kelamaan digeser fungsinya oleh pasta gigi. Cara merawat dan menjaga kesehatan gigi, tidak lagi menggunakan kapur dan pinang. Tapi menggosok gigi menggunakan sikat gigi yang diberi pasta gigi. Selain itu, nginang mulai ditinggalkan, karena secara estetika juga kurang baik. Karena setelah menyusur, biasanya mulut akan berubah berwarna merah.
Manfaat nyusur sendiri, sesungguhnya sama dengan pasta gigi. Zaman dahulu, bila rutin dan rajin mengunyah kapur dan pinang, dapat dipastikan gigi akan terawat dan sehat. Demikian juga zaman sekarang, bila rajin menggosok gigi dengan pasta gigi, pasti gigi juga akan menjadi sehat.
“Tapi disarankan untuk menggunakan pasta gigi berganti-ganti. Karena masing-masing pasta gigi mempunyai keunggulan. Ada yang dibuat khusus untuk memperkuat gigi. Ada juga yang dibuat untuk memutihkan gigi saja. Sekarang ini, banyak pasata gigi dibuat untuk memenuhi kebutuhan gigi,” lanjut Elly.

Kawat Gigi; Kesehatan Vs Gaya Hidup

thumbnail
OLEH: HERNAWARDI
Struktur gigi yang tidak teratur dan menonjol secara psikologis memunculkan rasa bimbang, was-was dan tidak percaya diri (PD) atas penampilan seseorang dalam komunikasi maupun pergaulan. Ditinjau dari aspek kesehatan, bentuk gigi yang berantakan tidak terlampau dipersoalkan. Hanya saja, ketika si pemilik gigi berantakan dalam pergaulan sering minder. Untuk itu, solusi pintas ditempuh, yakni adanya pola merubah penampilan gigi. Caranya, pasang kawat gigi dengan aneka aksesoris yang menyiratkan keindahan.
Psikolog Mataram, Drs Syamsul Buhari, M.Kes, PSI menyebut, dua fungsi kawat gigi. Pertama secara medis, jelas mengubah gigi yang tidak biasa jadi gigi yang rata (tidak teratur). Fungsi kedua lebih percantik diri agar tampil lebih memikat.
Pada sisi lain, seseorang yang memakai kawat gigi cenderung mengikuti mode atau trend orang-orang sekelas artis. “Ada yang mengikuti untuk gaya hidup agar sama dengan tokoh atau orang yang ditiru. Namun perlu dicatat kawat gigi sudah melalui proses, tapi tidak sembarang kawat yang ditaruh di mulut, karena ada standartnya secara mesis,” ungkap Buhari.
Buhari menekankan, pemakaian kawat gigi hendaknya dilihat dari fungsi, yakni memperbaiki letak gigi, dan bukan bentuk. Sebab kalau orang sekedar pasang kawat gigi dengan tujuan penampilan beda dari orang lain dan orang lainpun bisa memberi perhatian dan lebih menjadi percaya diri, tidaklah masalah.
Dalam pergaulan sosial kemasyarakatan pemasangan kawat gigi di mata Buharimerupakan salah satu cara menumbuhkan rasa percaya diri. Karena ada kesan jika seseorang memakai kawat gigi akan terlihat manis, cantik dan menarik. “Bisa jadi orang lain memperhatikannya, karena ada yang berbeda. Dia mencari sesuatu yang berbeda, sehingga menjadi pusat perhatian sehingga orang lebih memperhatikan,” ujar Syamsul.
Pada dasarnya, orang yang memakai kawat gigi merupakan orang yang rajin, teliti dan bersih. Karena bagaimanapun juga kalau dia makan, mau tidak mau makanan masuk ke dalam gigi sehingga butuh perawatan. Artinya bukan sekedar terlihat cantik. Tapi kalau tidak teliti dapat menimbulkan penyakit baru.
Guna mengatasi kurang PD akibat gigi yang lebih menonjol, sangat tergantung pada pola sikap. Batas waktu pemasangan gigi biasanya berkisar satu sampai enam bulan, baru dilepas. Jika cocok bisa tetap dilanjutkan, dan saat tulang kembali halus dan normal, kawat bisa dilepas. “Pasang gigi sebenarnya bukan untuk kesehatan semata, tetapi lebih pada upaya mempercantik diri dan merubah penampilan. Ada model bunga dan intan, ada juga yang suka emas dan perak guna menarik perhatian lawan bicara,’’ tegas Buhari.

Setahun, Kanker Mulut Renggut 700 Ribu Jiwa

thumbnail

OLEH : AGUS SALAM
Sebuah Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tentang kondisi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia menunjukkan, penyakit gigi dan mulut menempati urutan keenam yang paling banyak dikeluhkan di Indonesia. Meski berdampak negatif bagi kesehatan tubuh secara menyeluruh, namun hingga kini mayoritas masyarakat belum menyadari betul pentingnya kesehatan gigi dan mulut.
Meski tidak berakibat pada kematian, penyakit gigi dan mulut dapat menurunkan produktivitas, sumber infeksi dan memperparah beberapa penyakit sistemik. Kuman penyebab penyakit gigi dan mulut, bisa menyebar dan mengganggu fungsi organ tubuh lain seperti ginjal dan jantung. Bahkan dapat menimbulkan penyakit yang lebih serius seperti kanker mulut. Data PDGI menyebut, kanker mulut sudah merenggut 700.000 nyawa per tahun
Menteri Kesehatan Dr dr Siti Fadillah Supari, Sp.JP(K) dalam sebuah kesempatan di Jakarta meminta masyarakat memperhatikan kesehatan gigi dan mulut. ‘’Perilaku hidup bersih dan sehat dalam kesehatan gigi dan mulut sangat penting bagi masyarakat. Gigi dan mulut yang sehat akan meningkatkan produktivitas kehidupan, menghangatkan pergaulan dan menjaga keindahan,’’ katanya.
Perawatan gigi sejak dini sangat penting untuk menghindari proses kerusakan gigi. Antara lain gigi berlubang, keropos dan pembengkakan gusi. Untuk itu, perlu adanya pemberdayaan masyarakat Indonesia guna mencegah, merawat dan memelihara kesehatan gigi. Itulah yang menjadi perhatian Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).
Dr drg Tri Errie Astoeti, MKes, selaku pengurus PDGI menyatakan, kesehatan mulut dan gigi berpotensi memberi dampak besar bagi kesehatan tubuh. Masalah kesehatan gigi dan mulut sebenarnya bisa diatasi dengan mengintensifkan penyuluhan dan pelayanan kesehatan gigi kepada masyarakat. Hanya saja, hingga kini upaya tersebut belum dilakukan secara optimal karena jumlah dokter gigi di Indonesia masih jauh dari kebutuhan ideal.
Idealnya, sebut drg Astoeti, sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), perbandingan jumlah dokter gigi dan populasi 1:10 ribu. Sedangkan di Indonesia baru 1:17 ribu. Distribusi dokter gigi dan perawat gigi, juga belum merata di semua daerah karena mayoritas terkonsentrasi di daerah perkotaan.
’’Sikap kemandirian itu perlu didorong terus-menerus melalui berbagai upaya dan kegiatan yang berkesinambungan. Namun, upaya itu tidak saja oleh pihak organisasi profesi tetapi akan lebih optimal jika melibatkan pihak-pihak lain yang mempunyai kompetensi dan kepentingan yang sama dalam hal peningkatan derajat kesehatan gigi dan mulut di Indonesia,’’ katanya.
Errie juga mengatakan, pelayanan kesehatan gigi baru ditangani pada kondisi penyakit yang sudah dalam keadaan parah. Hal itu disebabkan, antara lain masih kurangnya kesadaran masyarakat mengenai arti penting menjaga kesehatan gigi dan mulut, ketidaktahuan, mahalnya biaya. ‘’Serta yang perlu diperhatikan oleh PDGI, adalah banyaknya dokter gigi yang cenderung pasif serta masih memberikan porsi yang besar pada tindakan kuratif,’’ katanya.

Tradisi Potong Gigi Masyarakat Bali

thumbnail
Simbol Menaklukan Musuh Jiwa
Oleh: Wayan Nita

Bagi sebagian orang, gigi menjadi bagian terpenting untuk menunjang penampilan. Saking pentingnya, banyak orang tua zaman dahulu makan sirih pinang dan isap tembakau sebagai pengganti sikat gigi, dan konon gigi tetap tampak indah dan menarik. Pada era modern terkini, ada yang sengaja menambah ornamen gigi sampai memutihkan gigi dengan laser.
Bagi masyarakat Bali yang mayoritas menganut agama Hindu, ada tradisi khusus untuk potong gigi. Ketua Jurusan Antropologi Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar, Drs I Nyoman Sama, M.Hum menyatakan, potong gigi (mesangih atau metatah), secara harfiah merupakan memotong (meratakan) enam gigi bagian atas.
Upacara itu menjadi tradisi yang dilakukan secara turun temurun dengan lebih menekankan pada aspek Yasa Kerti, --wajib hukumnya bagi orang tua untuk menyelesaikan hutang kepada seorang anak. Dalam Hindu, sudah diajarkan adanya lima hutang yang wajib dibayar seorang manusia, antara lain Manusia Yadnya (hutang orang tua kepada anak).
Makna estetika dari peristiwa metatah, agar gigi terlihat lebih rata. Secara religius, menundukkan Sad Ripu (enam musuh) dalam setiap umat Hindu. Usai upacara itu, diharapkan pikiran-pikiran manusia lebih jernih dan bisa memilah perbuatan baik dan buruk. Mereka menjalani upacara inipun harus dipilih, terutama mereka yang sudah melewati masa akil balik (pubertas) atau orang dewasa. Bagi mereka yang sudah dewasa, perlu pengendalian hawa nafsu untuk menapaki masa depan yang lebih baik.
Dari awal hingga selesai, upacara potong dilakukan dalam suasana yang penuh religius dan diliputi rasa mistik. Karena saat seseorang dalam posisi tidur sebagai tanda siap dipotong giginya, jiwa manusia itu sedang dalam kondisi yang sangat lemah dan sangat mudah bagi manusia untuk melakukan tindak kejahatan.
Untuk itu, ungkap Nyoman Sana, Sangging (seorang yang bertugas memotong gigi) terlebih dulu merajah (menuliskan aksara suci) kasur, tikar dan bantal guling yang digunakan untuk tidur. Selain itu, orang yang siap dipotong giginya dirajah oleh Sanggih di bagian dahi, gigi, lidah dan dada sebagai simbol membentengi diri agar dapat terhindar dari pengaruh buruk.
Dalam posisi tidur, orang yang siap disangih membuka mulut dan diberi potongan kayu dadap agar mulut tetap terbuka sehingga memudahkan Sangging mengasah gigi. “Tapi saat ini, dengan persetujuan dua belah pihak, gigi hanya sekedar digosokkan pada kikir. Untuk melindungi agar email gigi tidak rusak terkena gesekan,” jelasnya ana.
Setelah dikikir, orang yang dipotong giginya harus membuang air kelapa gading yang dipakai untuk kumur dan ludah ke dalam kelapa gading yang telah dirajah. Kemudian, kelapa gading harus ditanam atau dibuang sesuai adat setiap desa adat sehingga tidak disalahgunakan baik oleh orang yang dipotong giginya maupun orang lain untuk melakukan aksi-aksi kejahatan.
Setelah itu, mereka yang dipotong giginya diberi cermin agar melihat apakah gigi sudah rata, kelihatan cantik dan manis. Jika orang tua dan sanak saudara yang menyaksikan mengatakan sudah rata dan cantik, maka proses mesangih dianggap selesai. Jika belum, siap-siap lagi diratakan. Bila dianggap selesai, Sanggih segera menutup upacara dengan serangkaian doa.

Sekeluarga Pakai Ramuan Pak Oles

thumbnail
Nama: H. Nipan, umur 54 tahun, pekerjaan guru, tinggal di Lumajang, Jatim.
Pengalaman:
Sejak ada SPG Pak Oles datang ke kantor, kami sekeluarga mengonsumsi Madu Jamur dan Minyak Oles Bokashi untuk menjaga kesehatan. Keluarga kami selalu mencampur Minyak Oles Bokashi dengan baby oil untuk pijat. Alhamdulillah, pegal-pegalpun langsung hilang. Cucu kami juga kena diare bisa dibantu dengan minum Madu Jamur dan diolesi Minyak Anget Rare. Saya juga minum Madu Resi untuk menambah tenaga.