Warung Kecil Terancam Bangkrut
Awalnya hanya kelangkaan minyak tanah saja yang menjadi masalah. Tapi seiring dengan bertambahnya hari, bertambah pula jenis sembako yang harganya melambung. Sebut saja minyak goreng, tepung terigu, bawang merah hingga cabai. Coba bayangkan, kami yang hanya menggantungkan nafkah dari menjual siomay dan mie ayam bakso sangat tergantung dengan bahan sembako.
Jika mengurangi porsi terasa sangat kurang pantas. Tapi kalau menaikan harga, banyak pelanggan yang protes. Apalagi kondisi keuangan masyarakat sekarang ini juga seret sehingga pelanggan sudah banyak berkurang. Keuntungan juga menjadi sangat berkurang dan sangat sulit rasanya untuk memutarkan uang lagi untuk jualan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja masih sangat terbatas.
Belum lagi kami harus membiayai sekolah anak-anak yang sedang membutuhkan banyak biaya. Sewa lahan yang turut naik tiap bulannya menjadi penderitaan pelengkap buat kami. Entah apa yang harus kami lakukan jika semua harga terus menerus naik sedangkan pelanggan semakin berkurang. Saya dan istri selama ini hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan mie bakso dan siomay. Tak ada keahlian lain yang bisa saya jadikan tambang uang. Usia juga semakin menua dan tenaga tidak sekuat dulu lagi.
Kalau bisa memohon pada pemerintah yang menentukan kebijakan harga di pasar, tolong turunkan harga sembako. Agar kami tetap bisa bertahan menjalankan warung kami yang sangat sederhana ini dan anak-anak tetap bisa melanjutkan sekolahnya.
Komentar: Kartono dan Sulastri, penjual siomay dan mie ayam bakso di Jl Tohpati, tinggal di Jl Drupadi Gg. Dewi Uma No 57A Denpasar.
Awalnya hanya kelangkaan minyak tanah saja yang menjadi masalah. Tapi seiring dengan bertambahnya hari, bertambah pula jenis sembako yang harganya melambung. Sebut saja minyak goreng, tepung terigu, bawang merah hingga cabai. Coba bayangkan, kami yang hanya menggantungkan nafkah dari menjual siomay dan mie ayam bakso sangat tergantung dengan bahan sembako.
Jika mengurangi porsi terasa sangat kurang pantas. Tapi kalau menaikan harga, banyak pelanggan yang protes. Apalagi kondisi keuangan masyarakat sekarang ini juga seret sehingga pelanggan sudah banyak berkurang. Keuntungan juga menjadi sangat berkurang dan sangat sulit rasanya untuk memutarkan uang lagi untuk jualan. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja masih sangat terbatas.
Belum lagi kami harus membiayai sekolah anak-anak yang sedang membutuhkan banyak biaya. Sewa lahan yang turut naik tiap bulannya menjadi penderitaan pelengkap buat kami. Entah apa yang harus kami lakukan jika semua harga terus menerus naik sedangkan pelanggan semakin berkurang. Saya dan istri selama ini hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan mie bakso dan siomay. Tak ada keahlian lain yang bisa saya jadikan tambang uang. Usia juga semakin menua dan tenaga tidak sekuat dulu lagi.
Kalau bisa memohon pada pemerintah yang menentukan kebijakan harga di pasar, tolong turunkan harga sembako. Agar kami tetap bisa bertahan menjalankan warung kami yang sangat sederhana ini dan anak-anak tetap bisa melanjutkan sekolahnya.
Komentar: Kartono dan Sulastri, penjual siomay dan mie ayam bakso di Jl Tohpati, tinggal di Jl Drupadi Gg. Dewi Uma No 57A Denpasar.


0 komentar:
Posting Komentar