Rempah Plus Madu Atasi Rematik

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Rematik adalah penyakit yang banyak menyerang bagian persendian. Tak kenal umur, semua usia dapat terserang penyakit ini. Sendi yang lebih banyak terserang adalah bagian lutut. Cara penyembuhannya hanya dengan pengobatan kimia yang teratur. Selain itu, pengobatan dengan cara tradisional pun dapat dilakukan.
Bahan utamanya adalah tanaman rempah. Telah kita ketahui jika bahan rempah berfungi sebagai penghangat tubuh. Untuk dapat menyembuhkan rematik, bahan rempah yang kita gunakan adalah jahe, lengkuas, jintan hitam dan kayu manis. Sedangkan madu yang tepat digunakan sebagai campuran sebaiknya madu mete, madu lanceng atau madu mahoni.
Menurut dr. Adji Suranto dalam bukunya Khasiat dan Manfaat Madu Herbal, madu mete, madu lanceng dan madu mahoni bermafaat untuk menjaga daya tahan tubuh. Lebih spesifikasi lagi, lanjut dr. Adji, madu mahoni yang rasanya pahit cocok untuk menyembuhkan rematik. Madu lancing yang rasanya asam, sekain mengobati rematik juga berkhasiat mengobati tekanan darah tinggi, asma dan menyembuhkan infeksi. Sedangkan madu mete tepat juga untuk mengobati rematik dan juga sariawan.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, campuran bahan rempah plus madu didiamkan selama lima hari dalam suhu ruang. Proses ini sering disebut cara dekok, yang bertujuan untuk mendapatkan proses fermentasi bahan rempah yang sempurna. “Tapi alangkah lebih baiknya jika setelah difermentasi langsung digunakan. Jika tidak dapat disimpan dikulkas dan daya tahannya hingga 2-3 bulan,” terang dr. Adji.
Cara pembuatan bahan rempah cukup mudah, yaitu hanya dengan mengiris atau menghancurkan jahe (100gram) dan lengkuas (75gram). Kemudian direbus dengan api sedang. Setelah mendidih dan air berkurang dari 500cc menjadi 160cc langsung disaring. Ketika rebusan rempah masih panas masukkan bubuk jintan hitam (1 sendok makan) dan bubuk kayu manis (satu sendok teh). Jika rebusan rempah sudah hangat kemudian dimasukkan madu (500gram) sambil diaduk agar rata. Masukkan campuran madu dan rebusan rempah kedalam stoples, kemudian tutup dan biarkan selama lima hari dalam suhu kamar. Setelah itu madu herbal siap digunakan. Untuk penyembuhan, sebaiknya madu herbal ini diminum tiga kali dua sendok makan per hari. Sedangkan untuk perawatan, cukup minum satu kali satu sendok makan setiap hari.

Bermain Adalah Pekerjaan Anak

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Biarkan anak anda menikmati sebuah permainan. Berilah mereka kesempatan untuk mengungkapkan diri lewat aneka permainan. Karena itu orangtua harus memahami permainan sebagai ruang belajar bagi tumbuh kembang anak. Demikian nukilan hikmah dalam seminar bertajuk Bermain Adalah Belajar yang digelar Tumble Tots, sekolah playgroup dan TK bertempat di Hotel Sanur Paradise Palaza, Sanur (5/4).
Menurut Erna Hartanto, S.Kom, salah satu pembicara dalam seminar tersebut, anak perlu menikmati belajarnya. Sesuatu yang nikmat akan terasa mudah dan cepat masuk ke dalam otak. Anak akan cepat memahami segalah sesuatu pelajaran jika disodorkan secara menyenangkan. Cara belajar yang paling efektif untuk anak adalah dengan bermain. Belajar perlu dinikmati oleh anak-anak supaya mereka merasa bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan dan menggembirakan. Dengan perasaan yang gembira, maka waktu belajar bisa lebih lama karena mereka menikmatinya. “Sebaliknya proses belajar akan membosankan dan tidak akan bertahan lama. Belajar dengan bermain membantu anak-anak ingat dan tangkap materi pelajaran. Mereka pun tidak mudah merasa bosan dan ingin mengulangi tanpa dipaksa,” ujarnya.
Semua jenis permainan bisa menjadi proses belajar bagi anak. Dunia dan segala isinya serta aktivitas yang berada di sekeliling anak merupakan hal baru yang wajib untuk dipelajari. Belajar langsung atau praktek lapangan sekarang ini mulai diterapkan. “Anak akan menikmati jika belajar sambil bersenang-senang. Contoh berwisata ke alam bebas dan melihat aneka satwa merupakan proses belajar yang menyenangkan dan menggairahkan,” katanya.
Lanjut Erna Hartanto, anak perlu diarahkan untuk mandiri lewat permainan. Misalnya, anak dibiarkan untuk menikmati makan sendiri. Hasilnya, anak tidak susah makan. Pekerjaan rumah seperti mencuci piring dan menyapu bisa menjadi permainan yang menyenangkan bagi anak. “Secara langsung melatih motorik kasar, halus, empati, disiplin dan tanggung jawab serta kemandirian,” jelasnya.
Sementara Novita Tandry, psikolog anak, mengatakan jika bermain adalah pekerjaan anak-anak dan bagaimana mereka melakukannya melalui bermain. Lewat bermain, anak dapat mengembangkan kemampuan sebagai bekal saat tumbuh dewasa kelak. Meskipun anak suka bermain sendiri, mereka masih tergantung dan membutuhkan kehadiran orangtua. Anak membutuhkan rasa aman. “Bermain bagi anak berfungsi untuk perkembangan mereka seperti perkembangan fisik, kecerdasan intelektual, perkembangan berbahasa, kemampuan bersosialisasi dan perkembangan emosi secara baik,” jelas pemilik Franchise Tumble Tots Indonesia.

Lebah Bisa Berpetualang 13 Km

thumbnail
OLEH : AGUS SALAM
Bisa dibayangkan betapa hebatnya seekor lebah pekerja mampu mencari makanan sejauh 13 kilometer bahkan lebih. Setelah mendapatkan sari bunga (nektar), ia kembali ke sarangnya tanpa tersesat. Berarti pulang pergi bisa mencapai 26 kilometer.
Di Inggris ada sekelompok peneliti dari Universitas Newcastle yang melakukan uji coba kepada 100 lebah pekerja. Masing masing lebah diberi label bernomor. Lebah-lebah yang berasal dari satu koloni tersebut diletakkan di berbagai lokasi yang tersebar di sekitar timur laut Inggris dan dibiarkan agar kembali ke sarangnya. Satu kamera dipasang di dekat sarang untuk mengamati lebah-lebah yang berhasil kembali.
Dari hasil pengamatan awal menunjukan lebah mencari makan hingga radius 5 kilometer dari sarangnya dengan jalur berbeda-beda. Namun, beberapa ekor lebah yang diletakkan di pusat taman Heddon On The Wall di Tyne Valley, berjarak sekitar 13 kilometer dari sarang dapat kembali ke sarang.
Dalam literatur ilmiah yang ada menunjukkan bahwa lebah pekerja mencari makan hingga radius 5 kilometer dari sarangnya dan pada penelitian ini ia bisa mencapai 13 kilometer. Memang hanya sekitar 20 hingga 30 persen lebah yang berhasil kembali ke sarangnya. Namun, penelitian Mark O’Neill mengatakan bisa jadi lebah-lebah yang tidak kembali mati karena dimakan predator atau menabrak kaca mobil di jalan dan mati.
Meski masih belum dipastikan bagaimana serangga tersebut mengatur arah terbangnya, Namun sistem penglihatannya sepertinya paling berperan terutama untuk mengenali bentuk benda-benda di sekitarnya. Sistem pemetaan ini juga melibatkan bau meskipun hanya berguna jika jaraknya kurang dari 2 meter. Misalnya, saat lebah telah menghisap habis nektar dari satu kuntum bunga, ia akan meninggalkan zat kimia yang baunya dapat memberitahukan lebah lain untuk tidak menghisapnya kembali.
Saat ini peneliti di Inggris sedang mengamati jalur terbang lebah saat kembali ke sarang untuk memastikan seberapa besar pengaruh sistem penglihatan dan penciumannya. Sebab, di wilayah timur laut Inggris, variasi bau relatif lebih dominan dari pada veriasi bentuk bangunan dan lahan. ‘’Kami yakin daya jelajah lebah sangat sensitif terpengaruh banyak perubahan, misalnya pembangunan perumahan. Dengan penelitian ini, kami ingin mengetahui apakah lebah lebih mudah mencari sumber makanannya pada kondisi lingkungan seperti ini,’’ kata O’Neill.
Saat ini ada sekitar 25 spesies lebah asli Inggris dan Irlandia, namun jumlahnya menurun drastis dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, 5 di antaranya terancam punah.
thumbnail

Hutan, Tuhan, Dan Hantu

thumbnail
Oleh: Abby Triatmoko*
Sudah sejak lama terdapat korelasi yang erat antara hutan, Tuhan, dan hantu. Mengapa? Karena hutan diciptakan Tuhan untuk kebaikan seluruh umat manusia, namun hutan sudah terlalu banyak dicuri oleh “hantu-hantu” pembalakan liar. Para pembalak liar itu jelas tidak mau menebang kayu secara terang-terangan atau legal, karena sifat hantu memang paling suka di tempat gelap. Sosok mereka memang berwujud manusia, namun berjiwa hantu karena tergoda bisikan setan. Bersyukurlah bahwa sebagian hantu-hantu tersebut sudah berhasil ditangkap pihak berwajib.
Keberhasilan Tim Mabes Polri dalam membongkar penyelundupan kayu di Kalimantan Barat ke Malaysia belum lama ini, patut diapresiasi. Dalam operasi tersebut, telah disita tidak kurang dari 12 ribu meter kubik kayu jenis bengkirai senilai sekitar Rp 208 miliar bersama 19 kapal layar motor dan 3 kapal motor. Kayu-kayu itu telah dipotong menjadi papan dan balok.
Kasus besar tersebut membuktikan bahwa jaringan penyelundupan kayu di daerah perbatasan merupakan “lingkaran hantu” yang sulit diberantas karena melibatkan aparat dan penduduk setempat. Kasus penyelundupan ini juga dirangsang oleh perbedaan mata uang yang lebih besar, apalagi kayu dari hutan Indonesia memiliki kualitas yang baik sehingga penadah internasional mampu membayar mahal setiba di wilayah Malaysia.
Kayu-kayu tersebut biasanya akan diekspor ke negara yang banyak memerlukan kayu seperti Jepang, Korea, Cina, bahkan sampai ke Eropa. Keberhasilan Tim Mabes Polri sebagai “Tim Pemburu Hantu” menjadi kado manis bagi Departemen Kehutanan yang kini genap berusia 25 tahun. Sebab, jika setiap jamnya hutan seluas 300 kali lapangan sepak bola saja terus dirusak hantu-hantu pemakan kayu, maka kelak kita mempunyai Departemen Kehutanan yang tidak memiliki hutan.
Anehnya dalam tahun-tahun terakhir ini, penyelundupan kayu dianggap seperti persoalan biasa. Padahal, jika ditambah kasus-kasus serupa di kawasan lain, seperti Sumatera, Papua dan Maluku, kita mungkin baru sadar bahwa kasus itu bukan persoalan biasa lagi. Kasus tersebut jelas merupakan tindak kejahatan yang merongrong kedaulatan NKRI.
Kawasan hutan lindung
Dalam UU Pokok Kehutanan No 41/1999 Bab 1 pasal 8 disebutkan bahwa hutan lindung adalah kawasan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah. Tidak ada sama sekali frasa yang menyatakan hutan lindung adalah hutan untuk kegiatan pertambangan. Namun kini faktanya ada 13 perusahaan tambang yang beroperasi di hutan lindung.
PP No 2/2008 berbicara tentang jenis dan tarif pendapatan negara bukan pajak (PNBP) dari penggunaan kawasan hutan lindung untuk kepentingan pembangunan di luar kegiatan kehutanan. Variabel L1, L2, dan L3 adalah area yang terganggu karena penggunaan kawasan tersebut. Baik yang bersifat permanen dan bukan tambang selama jangka waktu penggunaan kawasan hutan (L1), atau yang sifatnya temporer dan secara teknis dapat dilakukan reklamasi (L2), maupun bersifat permanen dan secara teknis tidak dapat direklamasi (L3).
Tarif yang dikenakan bergantung pada jenis PNBP, namun kisarannya Rp 1,2 juta -- Rp 3 juta per hektare per tahun. Itu setara dengan Rp 300,-- per meter persegi per tahun. Itu terlalu murah. Tetapi sulit menghitung biaya sewa pengelolaan hutan lindung, apalagi untuk pertambangan. Perlu banyak variabel yang harus dimasukkan sebagai item nilai tarif yang harus dibayarkan. Apalagi kegiatan sewa itu bisa menimbulkan kerusakan fatal atas hutan.
Aktivitas pertambangan terbuka akan menghancurkan segala jenis pepohonan. Mulai sumber plasma nutfah, jenis-jenis tanaman langka yang belum pernah diketahui fungsi dan manfaatnya, mikro dan makrofauna tanah, hingga habitat segala hewan penghuni hutan. Semua kerusakan itu tidak pernah dihitung dan dimasukkan dalam variabel biaya yang harus dibayarkan.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mengestimasi kerugian negara mencapai Rp 70 triliun per tahun. Itu berarti 2.500 persen dari potensi PNBP yang diperoleh (Rp 2,78 triliun per tahun). Angka tersebut fantastis bila kita menghitung untung-ruginya. Sebab, jasa lingkungan dari hutan dan proses pedologi yang membutuhkan waktu ribuan tahun tidak bisa dinilai dengan materi.
Belum lagi dampak buruk lingkungan akibat hilangnya penutupan vegetasi suatu kawasan. Bahaya banjir, erosi, tanah longsor, dan pemanasan global membutuhkan lebih banyak biaya, baik untuk penanggulangan bencana maupun dana recovery. Setelah bencana terjadi, berapa biaya sosial yang harus ditanggung pemerintah? Penderitaan jutaan rakyat, rumah-rumah yang porak-poranda, serta air mata dan kesedihan harus dibayar akibat kebijakan yang destruktif itu.
Kedaulatan Tuhan
Dari segi teologi lingkungan, hutan yang disewakan sebenarnya bukanlah milik kita. Hutan itu milik Tuhan. Yang ada hak guna pakai, manusia bukan pemilik mutlak. Tuhan yang menumbuhkan hutan. Sebab Dia yang menabur benih-benihnya serta dengan sabar memelihara hingga dewasa. Sudahkah kita minta izin kepada Tuhan untuk menyewakan hutan-Nya?
Penyewaan hutan lindung ini menunjukkan sikap pemerintah yang tidak mau belajar dari alam. Agaknya ribuan bencana seperti banjir dan tanah longsor tidak sungguh-sungguh menyadarkan pola pikir para pengambil keputusan.
Dalam PP No 2/2008 orientasi pemerintah hanya keuntungan belaka. Padahal keuntungannya tidak sebanding dengan bencana yang bisa terjadi. Dalam Webs of Life, F Capra mengungkapkan bahwa alam tidak mungkin menghancurkan hidup manusia secara sengaja. Tetapi alam yang teraniaya oleh ulah manusia bisa menimbulkan beragam bencana.
Dalam bukunya Global Responsibility untuk pertemuan Parlemen Agama-agama Dunia tahun 1993 yang melahirkan konsensus Etik Global, Hans Kung mengingatkan manusia untuk tidak sewenang-wenang atau menganiaya alam, seperti membabat hutan.
Hans Kung prihatin melihat data yang menunjukkan betapa seriusnya persoalan ekologis global. Antara lain, setiap tahun, sebuah wilayah hutan tropis seluas tiga perempat ukuran Korea dihancurkan dan lenyap. Akibatnya, setiap dasawarsa, suhu atmosfer meningkat drastis 1,5 -- 4,5 derajat Celsius sehingga permukaan air laut naik. Hal ini pasti membawa resiko bencana besar bagi wilayah-wilayah pantai di seluruh muka bumi.
Seperti di negeri kita ini, air bah dari sungai dan laut meluap seakan tak kenal ampun menggenangi berbagai daerah, termasuk di wilayah Ibu Kota. Tidak ketinggalan kaum petani dan nelayan menjadi semakin miskin karena mata pencaharian mereka sangat ditentukan oleh perubahan iklim tersebut. Kerugian materi, bahkan nyawa dan semangat hidup menjadi bayarannya.
Karena itu, Hans Kung mengajak umat beragama untuk kembali mengakui kedaulatan Tuhan atas alam, termasuk atas hutan kita. Pengakuan atas kedaulatan itu harus tampak pada segala bentuk kebijakan dan perilaku yang memelihara alam. Segala bentuk penebangan liar atau menyewakan hutan lindung mestinya dihentikan. Jangan baru sadar, saat bencana datang.
*) Aktivis lingkungan hidup, alumnus Fakultas Kehutanan IPB, Bogor, tinggal di Jakarta Selatan.

SUARA REDAKSI: Revolusi Hasrat

thumbnail
Kita menjejak kaki di sebuah jaman yang penuh ketakmengertian dengan rombongan manusia yang menapak pasti ruang-ruang kegilaan. Demikian teropong kegelisahan para pengamat postmodernisme yang berupaya meretas batas-batas kesadaran baru. Kultur sosial yang serba anyar terbangun cepat. Gaya hidup yang semula asing begitu mudah diserap golongan muda yang paling dinamis. Dan, jejak langkah perangkat digital terutama televisi menjadi matahari yang berputar mengeliling tata peradaban baru. Serta merta, terciptalah generasi bermental instan yang terperangkap dalam kerapuhan hedonistik dan terpasung mental konsumtif.
Ketika televisi ditemukan sebagai kotak ajaib, manusia kian sadar bahwa masih banyak kejutan potensial dalam rahasia semesta yang belum terungkap. Alam masih menyimpan berbagai penemuan untuk masa depan, tinggal manusia yang berupaya keras mendalami ilmu pengetahuan dan merakit teknologi untuk mendapatkannya. Kini, televisi telah menjadi industri hiburan dan informasi yang menyerap angkatan kerja yang amat besar.
Di ranah media massa pun telah terjadi pergeseran. Era media cetak memasuki fase buram. Masyarakat digital lebih suka menikmati berita daripada membaca berita. Gambar yang bergerak jauh lebih menyapa daripada gambar mati –hitam putih.
Masyarakat juga lebih merasa terbangun empati dan simpati dengan musibah tokoh publik yang disiarkan di televisi. Pemirsa melihat langsung air mata dan tangis sedih selebritis pujaannya. Sekelebat, televisi menjadi jembatan temu kangen dan tali kasih yang efektif tanpa komunitas face to face. Lantas demam publisitas pun dikemas dalam berbagai audisi yang menawarkan glamoritas hidup menjadi bintang selebritis dadakan. Tidak sedikit remaja muda yang terjerat rayuan dan sihir ingin menjadi artis instan. Gairah kompetisi lewat polling SMS terbukti cuma kedok bisnis perjudian terselubung. Banyak di antara mereka menjadi bintang lalu menjadi buntung. Jatuh miskin dan hidup terlunta-lunta di ibu kota Jakarta.
Publisitas televisi direfleksikan sebagai kejahatan terkini “dunia baru” bagi tegaknya nilai-nilai humaniora. Dalam lorong-lorong penalaran yang merdeka, industri televisi saat ini berarak menuju gerakan pembebasan diri –khususnya “pembebasan hasrat”- dari berbagai kungkungan keluarga, masyarakat, negara. Bahkan agama dianggap menghalangi “kebebasan total” manusia.
Itulah “revolusi hasrat” yang menggiring generasi tua muda menapak tangga-tangga pembebasan hasrat, sebagaimana dikatakan Felix Guattari, berarti “…menghancurkan segala bentuk penekanan dan setiap model normalitas (normality) yang ada di dalam masyarakat.” Dan, tanpa kita sadari program-program acara yang ditayangkan di televisi menghipnotis penonton untuk melawan realitas-realitas terberi. Contohnya, sinetron remaja didesain apik menonjolkan kemewahan dan kekayaan. Dunia kampus yang seharusnya menjadi laboratorium penelitian ilmiah menjadi laboratorium cinta eros dan narsisme. Virus-virus false love -cinta yang memberi dampak negatif dalam hidup seseorang- seperti jadi penipu demi cinta, seks karena cinta, putus sekolah karena cinta dianggap sebuah sikap satria. Padahal jenis cinta ini (false love) selalu berakhir dengan kehancuran. Ada juga pemuda yang mengagungkan captive love, yaitu cinta yang membelenggu seseorang, sehingga tidak ada hal lain yang dipikirkan dan dikerjakan kecuali cinta. Akhir bagi pemuda digital membagi cinta adalah sebuah seni mengantar kekasih ke lembah kekecewaan. Toh jatuh cinta adalah sebuah petualangan untuk mencari cinta sejati.
Itulah aksi-aksi kriminal kebudayaan yang secara langsung menyuntik kultur baru bagi generasi muda. Tak heran bila etos kerja keras disertai keuletan dianggap sebagai “kebudayaan kolot” masa lalu. Padahal bagi bangsa Jepang dan Cina, kerja keras dengan pikiran fokus penuh dedikasi adalah kunci peradaban super modern. Jangan heran bila perilaku korupsi susah diberangus di Indonesia karena budaya kerja keras telah luntur.
Dalam perspektif teologis, manusia adalah tuan atas ciptaan. Ia diberi kekuasaan untuk menggunakan “ciptaan” (termasuk televisi) untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik. Tapi di jaman komputerisasi ini, ciptaan-ciptaan (produksi) sosial adalah semata produksi hasrat itu sendiri. Itulah sebabnya, setiap industri televisi secara piawai mengeksplorasi dan mengeksploitasi hasrat demi hasrat terpendam dalam diri manusia dalam rupa-rupa program tayangan. Ditambah lagi dengan iklim kompetisi pertelivisian yang “saling sikat” merebut rating dan kue iklan, membutakan mata “tim kreatif”. Mereka kadang membiarkan berbagai ketidakpantasan terpampang di layar kaca demi rating. Dan, tentu saja memuaskan hasrat pemirsa. Siapa yang salah? Benarkah hidup kita mengalir mengikuti energinya sendiri? Hidup kita dikondisikan di dalam keadaan “keseketikaan” dan “kesesaatan” (temporality) yang terus-menerus, menurut Yasraf Amir Piliang, tanpa ada konsistensi menuju tujuan yang pasti, misalnya “apa kehendak” Tuhan. Semoga kiprah televisi swasta lokal kian arif menghindarkan diri dari pusaran hasrat televisi swasta nasional yang terlanjur mengorbit dalam lintasan kapitalistik-hedonistik.

Gerakan Peduli Krisis Nasional

thumbnail
Oleh: Gede Sandra*
Rasa-rasanya tidak perlu diulas lagi tentang seberapa parah krisis ekonomi terjadi di Indonesia. Kasus berulangnya pembunuhan balita oleh ibu kandungnya –kali ini terjadi di Pekalongan- akibat kemiskinan (Kompas, 27/03/08), ataupun kasus sekeluarga mati kelaparan di Makassar juga akibat kemiskinan (Tribun Timur, 02/03/2008), seharusnya telah cukup untuk membuka mata seluruh politisi dan ekonom nasional akan situasi ekonomi riil yang terjadi di negara kita.
Benar kiranya komentar salah seorang aktivis kolega saya belum lama ini, “Selisih angka kemiskinan ataupun kebangkrutan ekonomi tak usah terus diperdebatkan. Sekarang riil saja: harga naik di mana-mana dan lapangan kerja langka. Bagaimana mengatasi kedua problem pokok rakyat itu?”
Ngevoor sampai 2009
Kemungkinan besar pertanyaan barusan tak akan terjawab dengan baik oleh pemerintah. Apalagi oleh sebagian besar politisi tanah air yang semakin ‘sibuk sendiri’ saja menjelang ajang politik di 2009. Di saat pemerintah kalang kabut (kalut) mengendalikan situasi; di saat rakyat bergelimpangan kelaparan; kebanyakan dari mereka yang tergabung di partai politik ini hanya sibuk mencitrakan diri sekaligus ‘memutar duit’ untuk modal 2009.
Rasionalisasinya: para politisi menganggap krisis ekonomi yang dialami negara dan rakyat masih berstatus dapat tertahankan (bearable), bukan sebagai sesuatu yang medesak (urgent), atau bahkan tidak tertahankan (unbearable) lagi. Sehingga, bagi mereka tidaklah salah secara politik jika saat ini tidak (atau belum) turun tangan membantu mengeluarkan bangsa dari krisis.
Tapi jika dipikir-pikir, di setiap partai pastilah ada ahli ekonomi bertitelnya masing-masing. Tidak mungkin mereka (baca: ekonom partai) tidak melihat antrian pengangguran berbaris memasuki perkotaan, yang menambah panjang daftar tunggu (waiting list) pekerjaan di puing-puing reruntuhan industri nasional. Atau tidak mungkin juga mereka tidak mendengar bagaimana anggaran seluruh lembaga negara dipotong hingga 15%, sedangkan pada saat bersamaan mayoritas kekayaan alam Indonesia berada di bawah kendali perusahaan multinasional asal Amerika, Australia dan Eropa.
Tidak mungkin mereka tidak mendengar dan melihat perkembangan situasi. Atau jangan-jangan partai-partai politik sedang me-ngevoor rakyat Indonesia dalam derita, setidaknya sampai selesai pemilu 2009. Jika memang masih ngevoor, akan cukup lama kiranya rakyat harus bertempat di gubuk derita.
Apatisme = Ngalih
Di lapisan bawah situasinya mayoritas rakyat Indonesia telah kehilangan harapan akan perubahan. Jangan bertindak politis, untuk berpikir politis saja mereka sudah malas. Apatisme politik di tengah liberalisasi politik semacam sekarang ini telah semakin meluas. Tesis tersebut dibuktikan dengan hasil survei tentang meningkatnya angka golput rata-rata selama pilkada hingga mencapai 27,9% (Kajian Bulanan LSI Edisi 05, September 2007). Dan dapat dipastikan jumlahnya akan lebih besar lagi saat 2009 jika trend situasi tidak berubah.
Apatisme massa, yang dahulu dipaksakan (dengan represif) oleh Orde Baru, kini menggejala dengan ‘ikhlas’ akibat buruknya tata cara berpolitik elit-elit paska reformasi. Apalagi, seiring dengan kebebasan pers, budaya yang diasupkan oleh media massa ke kepala rakyat hanyalah berkisar pada hedonisme, konsumtivisme, mistisme, dan fatalisme. Bukan produktif, progresif, dan ilmiah. Dan sayangnya, semua –isme itu juga telah merasuki kesedaran umum kaum muda terpelajar kita. Para calon pemegang tongkat estafet negara di masa datang.
Apatisme memiliki padanan dalam istilah falsafah Jawa, yaitu ‘ngalih’. ‘Ngalih’ dapat diartikan sebagai menghindar (beralih). Sebenarnya istilah ini tidak berdiri sendirian, tetapi diikuti dengan istilah ‘ngalah’ (pasrah), ‘ngelih (lapar)’, dan ‘ngamuk’ (amuk). Berikut ini ada beberapa baris kalimat -dari buku Ngalah Ngalih Ngelih Ngamuk, Protes Sosial Ala Wong Jawa karangan H.M. Nasruddin Anshory- yang dapat menjelaskan kaitan keempatnya: “Jika para pemegang amanah kekuasaan tidak hati-hati, maka rakyat kecil yang hidupnya selalu “ngalah” akan berikhtiar untuk “ngalih”. Tapi jika para penguasa terus saja matirasa, maka rakyat sudah lama “ngelih” itu hanya tinggal punya satu pilihan, yaitu: “ngamuk!”.
Menjadi jelas bahwa situasi kesadaran mayoritas rakyat saat ini sedang ‘ngalih’, sedangkan sebagiannya -yang berada pada lapisan ekonomi lemah- sedang ‘ngelih’. Lalu, kapan ‘ngamuk’—nya? Kemungkinan besar itu akan terjadi saat ke-’ngelih’-an (baca: kelaparan) telah merajarela. Jangan sampai deh.
Gerakan Peduli Krisis Nasional
Sebelum situasi ‘amuk’ berulang untuk kesekian kalinya di bumi Nusantara, kemiskinan dan kelaparan harus segera ditanggulangi. Hanya ada satu manuver politik akbar yang tepat untuk dilakukan pemerintahan SBY untuk ini, yaitu: Program Gerakan Peduli Krisis Nasional. Secara bentuk (context), gerakan ini haruslah adaptif. Ia dapat berupa badan ad-hoc atau apa saja yang sesuai. Tulisan ini lebih fokus pada isinya (content), itupun secara umum saja.
Pada prinsipnya, karena merupakan gerakan nasional, seluruh spektrum sosial politik (partai politik, lembaga negara, lembaga pendidikan, tokoh-tokoh masyarakat, aktivis LSM, dsb) haruslah terlibat aktif di dalam gerakan ini, termasuk itu media-media massa. Agar mereka tidak hanya ngurusin rumah tangga artis (baca: infoteimen) saja setiap hari kerjanya.
Bahkan, Gerakan Peduli Krisis Nasional harus lebih meriah dari semaraknya program MDG’s nya PBB. Semua orang harus diajak untuk peduli pada situasi bangsa Indonesia. Tidak hanya mereka yang berbangsa Indonesia, tapi juga bangsa asing, atau dalam hal ini adalah lembaga-lembaga ekonomi mereka, termasuk itu perusahaan multinasional harus juga diajak untuk peduli.
Program-program kerja gerakan akan secara tegas membahas dan mencari jalan keluar bersama-sama terhadap setiap jenis krisis. Pasti akan ada jalan keluar bersama nantinya. Tidak masalah jika semisal: program Peduli Krisis Energi menghasilkan rekomendasi peninjauan ulang kontrak pertambangan atau membatasi ekspor batubara dan gas alam; Program Krisis Utang menghasilkan rekomendasi pengunduran jadwal pembayaran (moratorium) utang untuk menutup kekurangan anggaran seluruh departemen; Program Peduli Krisis Pangan menghasilan rekomendasi impor beras dan menasionalisasi perusahaan-perusahaan eksportir CPO asal Malaysia dan Singapura demi ketersediaan minyak goreng bagi rakyat. Karena bagaimanapun semua itu adalah pilihan politik yang kita percayai sebagai jalan keluar bagi rakyat Indonesia dari gelapnya krisis. Saat ini politik harus dikembalikan menjadi panglima. Jangan hanya diperdagangkan.
*) Peneliti utama di Lembaga Pembebasan Media dan Ilmu Sosial (LPMIS-) dan koordinator Litbang DPP-PAPERNAS, tinggal di Bekasi.

SUARA WARGA: BBM Seret, Usaha Jalan Terus

thumbnail
Semua juga tahu kalau akhir-akhir ini harga barang melambung tinggi. Katanya pemerintah mengganti minyak tanah ke gas. Tapi di lapangan semua itu tak ada realisasinya. Gas LPG yang seharusnya banyak ditemukan tapi ternyata hilang. Minyak tanah pun tak diketahui rimbanya. Bagi pengusaha kecil hal ini tentu dapat membunuh mereka.
Tapi saya bersyukur, karena meskipun harus berkejaran dengan waktu dan harga yang semakin mahal. Tapi saya tetap bertahan untuk keliling membawa donat ke warung-warung. Memang, bukan saya yang membuat donat itu, tapi secara tidak langsung saya ikut terlibat. Karena pembuatan donat itu kerjasama dengan teman yang pintar membuat donat. Saya hanya mengedarkan donat saja. Ya, meskipun hanya seputaran Kapten Japa, Letda Reta dan Kreneng saja tapi rupiah terus mengalir.
Kita tidak boleh mengeluhkan harga yang semakin melambung. Karena dengan kita mengeluh, harga tidak akan turun. Sama seperti ketika saya harus keliling mengantarkan donat sedangkan bensin tipis. Meskipun harus mengejar waktu dan ikut mengantri bensin tapi itu tetap saya lakukan. Demi mengepulnya asap dapur yang tidak boleh seharipun berhenti. Tapi saya beruntung tidak pernah sampai dorong motor. Meskipun harus antre dan mencari hingga daerah pelosok. Beruntung bensin saya dapatkan jadi saya tetap bisa kerja.
Pekerjaan mengantarkan donat tidak saya anggap remeh. Karena dari sana saya bisa membantu keuangan suami. Meskipun gaji suami cukup untuk makan sehari-hari tapi kami harus tetap punya tabungan. Untuk kelanjutan sekolah anak kami yang sekarang sudah kelas 5 SD. Dan sedikit membenahi rumah agar tetap nyaman untuk kami tinggalin. Saya berharap suplai bensin tetap lancar. Karena dari bensin saya menggantungkan hidup. Tanpa bensin saya tentu tak bisa mengantarkan donat ke warung langganan.
Komentar: Ibu Wiwik, pedagang kue keliling, Jl Kapten Japa No 6 (belakang asrama tentara Yang Batu). Denpasar.


Suka Yang Mungil

thumbnail
Tri Purnama Dewi
Rambut hitam terurai saat diterpa angin sepoi-sepoi. Panas mentari dibiarkan dengan leluasa menyentuh kulit kuning langsat dara manis ini ketika kilatan kamera mengabadikan pose-posenya di atas tunggangan motor gede (moge). Tampak sesekali jari tangannya mengusap kerigat tipis yang menempel di kening. Itulah sekelumit gerak yang dilakukan Tri Purnama Dewi.
Pengalaman bergelut dalam dunia model sejak duduk di bangku SMP menjadikan mahasiswi semester V Fakultas Ekonomi UNUD ini fasih dalam berbagai gaya di depan kamera. Bahkan agar mencapai hasil jepretan sempurna, putri pasangan Aow King Bar dan Siti Nunaeni ini sama sekali tidak menghiraukan sang raja siang yang membakar kulit mulusnya. ''Sejak kecil saya memang mempunyai angan-angan untuk bisa menjadi model profesional,'' urai dara manis kelahiran 1989 itu.
Sebagai seorang model dengan aktivitas tinggi, tentu sarana transportasi menjadi hal yang paling penting untuk mendukung mobilitas. Berbicara soal tunggangan, bajang yang kini menetap di Jl Bukit Tunggal 2 Denpasar itu mengaku, begitu kesengsem sama kendaraan matic. Simpel dan fitur yang manis jadi alasan utama bagi pemilik wajah oriental itu menentukan pilihan. ''Saya memang lebih doyan sama motor mungil ketimbang motor dengan perawakan besar,'' tegasnya sambil melirik sejumlah moge yang berjajar dalam stan pemotretan. (JULI ARSANA)

BIODATA
Nama Lengkap : Tri Purnama Dewi
Panggilan : Dewi
TTL : 22 Februari 1989
Pendidikan : UNUD Fakultas Ekonomi semester V
Agency : Profile Art Agency
Orang Tua : Aow King Bar & Siti Nunaeni
Alamat Rumah : Jl Bukit Tunggal 2 Denpasar
Motor Favorite : Yamaha Mio
Lokasi pemotretan : Jak Resto Handle Bar & Grill, Sunset Road Kuta
Fotografer : Gede Sustrawan/Putu Wirnata.
KPO/EDISI 150/APRIL 2008

APLIKASI: Instalasi SP Pada Toyota Hartop

thumbnail
Spontan Power (SP) adalah produk otomotif dengan teknologi EM Keramik untuk menghemat BBM dan merawat mesin. Spontan Power ciptaan Pak Oles ini bisa digunakan untuk semua jenis kendaraan roda empat, termasuk Toyota Hartop. Alat-alat yang perlu disiapkan: selang bensin ± 50 cm, klem bensin dua buah dan tali krek 2 buah plus plat penyangga Spontan Power.
Berikut langkah instalasi/pemasangan Spontan Power pada Toyota Hardtop. Buka kap mesin, perhatikan jalur sirkulasi BBM dari tangki menuju karburator. Selang bensin atau pipa dari tangki menuju filter bensin dan dari filter bensin menuju pompa bensin dan dari pompa bensin menuju karburator (lihat gbr I).
Lepaskan selang bensin pada nepel in filter bensin dan hubungkan dengan nepel in Spontan Power. Pada nepel out Spontan Power, pasang selang yang telah disiapkan tadi. Lalu ujung selang yang satunya dihubungkan dengan nepel in filter bensin. Setiap sambungan selang dikeraskan dengan klem bensin yang telah tersedia. Letakkan Spontan Power pada posisi yang aman, (lihat gbr II). Hidupkan kendaraan dan cek ada dan tidaknya kebocoran BBM. Jika sambungannya aman, Spontan Power siap digunakan. Selamat mencoba!

KONSULTASI: Kudo Dan Hexon Memang Beda

thumbnail
Rubrik ini diasuh oleh Drs Yunus Sugianto, staf ahli produk PT Pak Oles & Biotor Technology. Pembaca dapat mengirim pertanyaan soal kinerja dan aplikasi Spontan Power, Hexon dan Kudo ke email yunus_biotor@yahoo.com atau sms ke Tlp 08873852310 atau datang ke Bengkel Pak Oles Jl. Pulau Kawe, Gang II, No 7, Denpasar.
Tanya:
Pak Yunus yang terhormat
Sekarang ini banyak sekali vitamin-vitamin BBM maupun oli yang beredar di pasaran. Apakah sama dengan Vitamin BBM (Kudo) dan Vitamin Oli (Hexon) yang diproduksi PT Pak Oles & Biotor Technology? Kalaupun tidak sama, apa yang membedakannya dengan produk luar dan apakah tidak merusak mesin?
Dari: Wayan Sunarta, Denpasar.

Jawab:
Produk-produk otomotif yang dikeluarkan PT Pak Oles & Biotor Technology ada 3 yaitu: Spontan Power, Hexon dan Kudo. Ketiga produk tersebut menggunakan bahan baku alami dan tidak dicampur dengan bahan kimia. Hexon (vitamin oli) dan Kudo (vitamin BBM) tidak beracun dan tidak merusak komponen mesin. Kami pun sudah melakukan percobaan terhadap 2 ribu kendaraan roda empat. Hasilnya tidak ada kerusakan pada komponen mesin. Bahkan sebaliknya, kinerja mesin meningkat, hemat BBM sampai 20%, tarikan jadi ringan, dan suara mesin jadi halus. Kami juga melakukan percobaan dengan cara menghidupkan mesin kendaraan selama 120 jam (18-23 Juli 2006). Hasil yang diperoleh, penghematan BBM rata-rata 20% dengan kondisi suhu mesin stabil. Uniknya, knalpot kendaraan dapat dipegang (kondisi knalpot dingin -Red).
Berkat pemakaian Hexon, umur oli bertambah. Pada sepeda motor dari 1500 km menjadi 2000 km. Sedangkan pada mobil dari 2500 km bisa mencapai 3500 km (oli standar). Terima kasih.

APLIKATOR: Pakai SP, Tarikan Motor Jadi Ringan

thumbnail
Nama : Suparto
Umur : 40 Tahun
Alamat : Pasir Biru, Cibiru, Bandung
Kesan :
Saat saya sedang bekerja, ada SPG Pak Oles datang dan menawari saya Spontan Power untuk motor. SPG itu menjelaskan secara rinci kegunaan Spontan Power tersebut. Terus saya coba membeli dan memasang pada sepeda motor saya. Ternyata Spontan Power memang membawa perubahan pada motor saya. Kini motor saya jadi irit BBM, tarikan mesin menjadi ringan dan suaranya makin halus.

Menor Berpadu Striping

thumbnail
Timor DOHC 1997, Denpasar
Menyulap tunggangan jadi lebih ekstrim dan garang jagonya Central Body Work (CBW). Sentuhan tangan modifikator asal Gatsu 6 E/ VI, Denpasar ini banyak digaet pecinta modif di Denpasar. Lihat tongkrongan Timor DOHC lansiran ‘97 ini. Film Fast and Furious berikan inspirasi konsep sang owner, Andi, yang tinggal di bilangan Jl Pulau Komodo, Denpasar.
Futuristik dan menarik, mobil modif olahan CBW ini kental dengan aura racing. Meski siraman warna menor paduan magenta dan hijau menutupi jubah asli plus striping membuat Timor lebih eye cathing. Sebagai aliran racing, penopang kaki velg merit racing balutan Nankang jadi kekuatan. Ditunjang kapasitas mesin yang diperbesar agar bisa digeber kencang.
Merambah interior, jejalan semi kulit menutupi jog seat. Tak luput piranti lain seperti setir, shift knop, speedo dan tachometer terangkai apik bubuhi DOHC. ‘’Luar dalam terlihat asoy kan,” ujar Andi bangga. Rangkaian pemanja telinga hasil kreatifitas Made Pingky kian menyenangkan si pemilik mobil ini. Merek Kiekers pun dominasi audio, didukung head unit pioneer, power Symbion berkapasitor 1,0 fahrad. Kelar ngurusin modif, Andi keranjingan pamer tunggangan di jalanan kota. (WILIZ ZURAIDAH)

Data Modifikasi
Kapasitas Mesin : 1800 cc
Body Kit : Fiber Glass
Kap Mesin : Fiber
GT Wing : G O
Velg : Merit Racing
Ban : Nankang
Body : Full Body Kit
Cat : Blinken
Warna : Hijau slip Merah Muda
Jog Seat : Semi Kulit
Setir : Racing
Shift Knop : R1
Speedo : PDO
Tachometer : RTM
Head Unit : Pioner
Sub Woofer, Midlle, Tweeter, Crossover : Kiekers
Power : Symbion
Kapasitor : 1,0 fahrad
KPO/EDISI 150/APRIL 2008

Sukses Gunakan Jurus ‘Bodol Dan Botol’

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Ingin jadi pengusaha yang handal dan sukses dibutuhkan keberanian dalam merintis peluang usaha. Modal paling utama adalah keberanian, keyakinan dan kegigihan. Setelah itu baru modal uang. Keberanian merupakan cermin kesuksesan. Sukses berhubungan dengan tindakan. Tanpa tindakan, orang akan tetap di posisinya semula alias stagnan. Dalam seminar ‘Tujuh Jurus Jadi Pengusaha Sukses’ di Gedung Kelapa Gading Gatsu, Denpasar, Purdi E. Chandra, Presdir Primagama Group, membagi pengalaman meraih kesuksesan di dunia wirausaha kepada para pengusaha muda.
Menurut Purdi E. Chandra setiap orang memiliki kesempatan untuk sukses asal tahu caranya. Dengan keberanian atau tindakan orang akan dapat sukses. Sebab sukses selalu berhubungan dengan tindakan. Tidak jarang orang yang berani maju tersandung kerikil atau gagal. Tetapi kegagalan bukanlah suatu hambatan yang menjadikan orang berputus asa. Purdi E. Chandra pun berbagi ilmu suksesnya. Melalui tujuh jurus gilanya ia memberi wawasan dan keberanian pada orang lain untuk berkembang. “Sukses berhubungan dengan tindakan atau keberanian. Untuk itu orang yang sukses terus bergerak tanpa henti. Sukses tidak menjamin orang tidak berbuat banyak kesalahan, tetapi kesalahan atau kegagalan tidak pernah menghentikan langkah mereka. Dengan optimis orang akan mencapai kemakmuran dan kesuksesan menjadi milik diri kita,” katanya.
Dengan menerapkan jurus Bodol (Berani Optimis Duit Orang Lain), Botol (Berani Optimis Tenaga Orang Lain), Bobol (Berani Optimis Bisnis Orang Lain) dan boOol (Berani Optimis Otak Orang Lain) yang diterapkan di Entrepreneur University (EU) merupakan cermin sikap optimis. Masyarakat yang mengikuti seminar dan workshop diberi bekal agar selalu optimis dalam setiap tindakan yang diambil. “Di dalam Entrepreneur University, bagi mereka yang mengikuti seminar ataupun workshop kami ajarkan untuk Bodol, Botol, Bobol dan BoOol. Keempat hal ini saya terapkan agar masyarakat dan anak didik saya yang tergabung dalam EU mampu berpikir optimis,” ujarnya.
Lanjut Purdi, membuka usaha yang utama adalah optimis untuk meraih sukses. Tidak memiliki uang pun harus tetap berani buka usaha, dengan Bodol tadi. Modal uang belakangan karena dapat dipinjam dari bank atau sumber yang lain. “Tidak hanya berani dalam hal itu saja, jika merasa diri tidak mampu maka dibutuhkan untuk memakai otak orang lain, mengikuti bisnis orang lain dan juga optimis memakai tenaga orang,” jelasnya.
Selain optimis, merubah cara pikir pun dibutuhkan. Dengan mengubah mindset dari otak kanan ke otak kiri dapat menjadikan orang untuk selalu bersikap optimis dan berani. Sebab otak kanan merupakan aksi dari otak kiri. “Perubahan mindset otak kiri ke kanan dapat mengasah kecerdasan emosional, kecerdasan adversity, kecerdasan financial, spritual, dapat mempertajam kretifitas dan intuisi. Otak kiri berisikan logika dan rasional sementara otak kanan berisi kreatifitas dan intuitif,” imbuh motivator asal Yogyakarta ini.

30 Manula Disantuni Laqzis

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Pagi itu (25/3), pukul 08.00 Wita, sekelompok wanita tua berjalan menuju sebuah rumah yang dijadikan tempat pertemuan di jalan Letda Reta no 3, Renon, Denpasar. Langkah mereka nampak tertatih-tatih dengan tubuh kurus terbungkus kulit keriput. Rona kehidupan masih berbinar di bola mata mereka. Ada asa yang menggelayut di kalbu meski tubuh telah renta digilas roda waktu.
Ya hari itu sedikitnya 30 orang manula asal Denpasar yang kurang mampu (dhuafa) menerima uluran bantuan dari Badan Amal Zakat Nasional, Lagzis. Sebuah lembaga donatur yang memperhatikan nasib para manula dan berbagi kasih dengan kaum jompo. Mereka menerima santunan sebesar Rp 100 ribu per kepala.
Margiyanto salah satu donatur Laqzis dengan terharu menyerahkan bantuan kepada para manula tersebut. Ia pun terkenang akan masa kecilnya yang bertabur kasih sayang ibunya. Keikhlasan yang ditunjukan seorang ibu membuatnya tergerak menyisihkan sebagian harta untuk para manula yang tidak memiliki anak selayaknya diri. ”Masih tergiang dalam ingatan ketika ibu saya tanpa pamrih melahirkan dan membesarkan kita hingga sekarang. Apa yang saya lakukan untuk ibu sekarang tidaklah cukup untuk membalas semua yang telah diberikannya,” ujar staf pemasaran Multimedia Metropolitan.
Bagi Margiyanto, berbagi dengan para manula salah satu bakti pada sesama yang kekurangan. Secara tidak langsung pula tanda bakti kepada orangtua sendiri. “Para jompo secara finansial dan fisik sudah tidak mampu untuk menghidupi dirinya. Kita harus ikhlas untuk membantu seperti yang diajarkan orangtua kita,” katanya.
Sementara Ida Aliyah, ketua programmer Laqzis pusat Surabaya, mengatakan helatan acara berbagi kasih dengan kaum jompo mengingat mereka (orang tua) yang tidak memiliki anak atau memiliki anak tetapi tidak dapat mengubah nasibnya. Mereka mendapat perhatian para donatur (komunitas peduli) dan laqzis. Santunan yang diberikan Rp 100 ribu, yang terbagi Rp 50 ribu berupa sembako dan sisanya dalam bentuk uang tunai.
Menurut Ida Alilyah, pihaknya menyeleksi kaum jompo yang benar-benar berasal dari penduduk tidak mampu. Orang tua merupakan cerminan kehidupan kita kelak di hari tua. Untuk itu, Laqzis ingin para donatur berinteraksi secara langsung dengan para jompo. Semua ide datang dari komunitas peduli. Karena Laqzis ingin agar para donatur dapat terjun langsung ke masyarakat dan merangsang donatur untuk terus berbagi dengan kaum dhuafa. “Laqzis hanya sebagai fasilitator donatur dengan kaum dhuafa. Bantuan yang diberikan merupakan bantuan aktif dan pasif. Untuk para dhuafa yang masih aktif diberi bantuan modal usaha. Sementara bagi para manula yang pasif hanya sesekali diberi sumbangan,” bebernya.

BIDIK: Membordir Demi Uang Sekolah

thumbnail
Bekerja apa saja yang penting halal pasti mendapatkan hasil yang memuaskan. Itulah moto yang dipegang oleh para pekerja yang tekun, ulet dan gigih tanpa mengenal lelah demi kelangsungan hidupnya. Salah seorang dari mereka adalah Ketut Yuniani yang tekun bekerja sebagai tukang bordir. Bermodalkan mesin border, gadis asal Karangasem ini menyelesaikan pesanan dari langganannya. Dengan membordir, gadis yang bermukim di kawasan Buluh Indah, Denpasar ini bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Yuniani tak hanya tekun bekerja, namun juga giat menuntut ilmu. Ia menyisihkan pendapatannya untuk biaya sekolah. Terbukti kini Ketut Yuniani tercatat sebagai siswi kelas 1 salah satu SMU swasta di Denpasar. (Foto Putu Wirnata)

Rano Karno Buat Kompos

thumbnail
“Buang Sampah, Buang Uang”
OLEH: AGUS SALAM

‘’Saya ingin mengubah cara berpikir bahwa sampah tidaklah identik dengan bau atau penyakit. Membuang sampah berarti membuang uang’’. Ini ungkapan Wakil Bupati Tangerang terpilih masa periode 2008-2013, H. Rano Karno soal sampah.
“Si Doel Anak Betawi” kini berupaya menyadarkan masyarakat akan nilai ekonomis di balik sampah. Beda dengan para birokrat lainnya, aktor film yang menjadi wakil Bupati Tangerang ini mengajak masyarakat untuk berbisnis sampah. Rano Karno melihat sampah sebagai peluang bisnis yang belum dimanfaatkan.
‘’Sayang dong sampah yang sebenarnya menghasilkan uang jangan dibuang atau bakar, kumpulkan, pisahkan antara yang organik dengan yang anorganik. Anorganik bisa dikiloin dan yang organik bisa dibuat kompos,’’ katanya.
Ajakan Rano disampaikan pada kunjungan kerja pertama setelah terpilih sebagai Wakil Bupati Tangerang di Perumahan Vila Bintaro Indah (VBI), Kelurahan Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangerang.
‘’Sudah saatnya kita ubah mindset kita bahwa sampah tidaklah identik dengan ’bau’ atau ’penyakit’. Sampah adalah uang dan bersih jika kita mampu mengelolanya dengan tepat, dengan menjadikannya sebagai kompos,’’ kata Rano yang memberi penyuluhan selama 1,5 jam kepada sekitar 1.000 keluarga, lengkap dengan mesin penghancur sampah organik.
Wabup Rano juga meminta ibu-ibu rumah tangga yang disebutnya sebagai ‘manajer’ dalam urusan sampah, memilah-milah sampah terlebih dahulu sebelum dibuang, yakni sampah organik berupa limbah makanan dan tanaman serta limbah anorganik berupa plastik. Limbah organik diolah sendiri menjadi kompos, sedangkan yang anorganik dikumpulkan untuk dijual kepada pengepul.
Menurut Rano, jika sampah dikelola dengan baik, bisa mendatangkan penghasilan yang cukup lumayan.‘’Saya sendiri memiliki usaha ini, satu kantong pelastik kecil dijual Rp 7500. Siapa sangka bisnis yang dipandang sebelah mata ini per bulannya bisa menghasilkan jutaan rupiah,’’ katanya bangga.
Karena itu, ia mengangkat para pemulung yang biasa mengangkat sampah di perumahan itu sebagai ”pengurus sampah”, yang bisa memperoleh tambahan dengan bekerja sama dengan warga. Ia juga meminta Paguyuban VBI menyediakan lahan 200 meter persegi untuk dijadikan pusat pengelolaan sampah menjadi kompos, sementara alat-alat penghancur sampah organik diupayakan secara swadaya.
Dan, atas nama Pemda Kota Tanggerang, Rano siap menampung kompos yang dibuat masyarakat Tangerang untuk menghijaukan kota Tangerang. ’’Saya akan merekomendasikan kepada Kepala Pertamanan Kota Tanggerang untuk memampung usaha kompos untuk penghijauan kota Tangerang,’’katanya.
Menyangkut program lingkungan hidup, orang nonor dua di Kota Tangerang ini akan berusaha untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan yang telah melebihi kapasitas yang ada di wilayah ini agar udara bersih dapat dihirup penduduk. ‘’Nanti kita buat proyek percontohan kompos untuk dijadikan pupuk sehingga petani tidak tergantung pada bahan penyubur tanaman yang mengandung kimia,’’ kata Duta Lingkungan Hidup yang ditetapkan PBB itu.

Bidik Omzet 3 Triliun

thumbnail
HUT 107 Perum Pegadaian
OLEH: INDAH WULANDARI
hadni_wulan@yahoo.co.id

Usia sebuah institusi usaha yang melampaui satu abad tujuh tahun menjadi cermin kekuatan visi dan kematangan pengalaman. Perum Pegadaian Kanwil Utama Denpasar yang meliputi 3 provinsi Bali, NTT, dan NTB suguhkan rangkaian acara HUT ke-107 dengan mengangkat ide melestarikan budaya lokal setempat yang mulai ditinggalkan masyarakat dan peningkatan pendidikan secara nasional.
Rampung mengadakan syukuran dan donor darah pada tanggal 1 April 2008, panitia HUT Perum Pegadaian gelar pertunjukan Wayang Joblar sebagai realisasinya. Pelataran depan mal Ramayana Denpasar, Sabtu malam (5/4) disulap jadi panggung lengkap dengan layar pertunjukan wayang. Sebelum memulai aksinya, dalang Wayang Joblar Tumbag Bayuh Ketut Nuada menerima sebuah wayang secara simbolis dari panitia. Tak lama, para penonton nampak asyik dengan cerita yang dibawakan selama 2,5 jam. Menurut Agung, salah seorang panitia, pilihan menampilkan Wayang Joblar karena jenis pertunjukan rakyat ini disukai sebagian besar warga Bali. Pasalnya, cerita dan penokohannya tidak monoton serta telah dimodifikasi. Misalnya, sebut pria penggemar wayang ini, Wayang Joblar ditampilkan di hajatan Perum Pegadaian, maka ceritanya bisa disesuaikan dengan tema acara yaitu Perum Pegadaian Peduli Pendidikan.
Ngadenan, SE, MM, Manajer Operasional dan Pengembangan Perum Pegadaian Kanwil Denpasar menambahkan jika program perusahaannya telah direalisasikan dengan memberikan sumbangan pembangunan gedung sekolah sebagai bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) bagi masyarakat. ‘’Plafon anggaran dana pendidikan senilai Rp 20 miliar untuk membantu perbaikan dan pembangunan gedung-gedung sekolah skala nasional. Sedangkan untuk wilayah Bali telah terealisasi Rp 200 juta,” terang pria asal Solo ini. Sementara ini, wilayah yang telah dijangkau program ini meliputi pembangunan sekolah di Nusa Penida, Pemogan, Pekutatan senilai Rp 100 juta.
Kepedulian perusahaan bermotto Mengatasi Masalah Tanpa Masalah ini pada kepentingan fasilitas umum agar masyarakat merasa dekat dan memanfaatkan produk-produknya. Tawaran pemberian kredit cepat dan aman dengan berbagai syarat tertentu. Misalnya produk KREASI dengan jaminan BPKB berbunga 0,9%/bulan, ada pula kredit bagi pengusaha UKM serta Gadai Efek (sistem gadai dengan jaminan saham dan ORI/Obligasi. Sedangkan KUCICA (Kiriman Uang Cara Instan Cepat Aman), jadi produk terbaru yang dijalin bersama Western Union untuk jasa pengiriman uang ke seluruh dunia. Kepercayaan masyarakat merupakan modal Kanwil Denpasar meraup omzet besar tahun lalu senilai Rp 2,8 triliun. ‘’Tahun ini kita targetkan nilai omzet Rp 3,1 triliun,” pungkas Ngadenan.

Dewata TV Hadir Dengan Tontonan Alternatif

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Seiring dengan denyut nadi pembangunan Bali yang kian berkembang pesat, daerah yang sering mengoleksi julukan dalam bidang kepariwisataan, baik di dalam maupun luar negeri itu, sudah memiliki empat stasiun televisi. Selain TVRI dan Bali TV, sejak November 2007, masyarakat pemirsa televisi sudah dapat menonton suguhan tayangan baru dari Jimbarwana TV dan Dewata TV. Seperti program televisi pada umumnya, Dewata TV hadir dengan sejumlah menu tontonan alternatif.
Direktur Utama Dewata TV, I Nyoman Artha mengaku, televisi yang resmi ditonton masyarakat pemirsa di Pulau Dewata sejak November 2007 tersebut lebih memprioritaskan suguhan tayangan spesifik dan alternatif. ‘’Banyak budaya lokal Bali yang menarik dan bisa dijadikan menu unggulan. Seperti tari, musik dan berbagai kesenian kontemporer lain. Kami membuka ruang bagi seniman untuk mengapresiasikan kreativitasnya,’’ kata Artha.
Selama ini, Artha menilai seniman sepertinya kurang memiliki ruang untuk menggelar kreativitasnya sehingga tidak banyak masyarakat yang mengetahui aktivitas seni mereka. Untuk itulah, disuguhkan program Pentas Dewata di Dewata TV.
Pada sisi lain, meski Dewata TV baru menggelontor jam tayang selama lima jam, tetapi kualitas program yang ditayangkan tidak sembarangan. Setidaknya ada 13 program dengan durasi 5-48 menit untuk setiap program. Dalam program Pentas Dewata, sebut Artha, seniman atau banjar-banjar yang sedang menggelar upacara dan menampilkan kesenian Bali dapat diliput wartawan Dewata TV untuk kemudian diedit dan ditayangkan. “Ini yang menjadikan televisi kami lain dari TV lokal yang sudah ada. Dan dari masyarakat sendiri juga memberikan dukungan dan apresiasi positif,” tegas Artha.
‘’Keberadaan kami, layaknya obat di pasaran. Semakin banyak jenis obat maka masyarakat akan lebih selektif dalam memilih obat sesuai kebutuhan. Kami hadir untuk memberikan tontonan alternatif dan melengkapi televisi lokal yang sudah ada sebelumnya. Dengan maksud dan tujuan memberikan alternatif tontonan yang berkualitas dan memberikan wahana bagi masyarakat Bali untuk berkreasi. Rating tinggi atau tidak, sekarang ini belum diperhitungkan, yang penting masyarakat merasa terhibur,’’ ujarnya.
Pria asli Gianyar ini menyadari betul soal perbedaan pangsa pasar dari setiap televisi. Kesadaran itu pula yang ikut melecutkan nyalinya untuk lebih fokus dan intens mengangkat dan memelihara warisan budaya Bali dengan secara kontinyu menayangkan seni budaya Bali itu sendiri.
Pernyataan Artha tersebut nampaknya tidak berlebihan bila merunut pada program tayangan yang dibangun hamper setengah semester ini. Ada kesan yang cukup memasyarakat, program siaran Dewata TV cukup menyatu dengan moto ‘’Dewata TV, TV-nya Bali’’.
Meski tanpa menyuguhkan siaran berita-berita nasional, semua tentang Bali seakan menjadi lahan garapan yang layak disuguhkan kepada publik. Itu semua dapat disaksikan melalui program Lintas Dewata, Pregina, Pelangi Dewata, Banjar Girang, Ekspresi Remaja, Gaya Hidup, Sport, Bija Kusuma, Widya Kumara, Pentas Dewata, Lensa Dewata, Prasasti Dewata hingga Film Kartun. “Dengan dibukanya Dewata TV diharapkan bisa membuka lapangan kerja baru. Karena kita ketahui pariwisata Bali dan perekonomian sedang terpuruk,” tambah Artha.
Sementara itu, TVRI Bali yang sebelumnya menyandang sebutan TVRI Denpasar, terus melakukan modifikasi siaran demi mempertahankan pemirsa fanatiknya. Seperti diungkap Produser Weekend on TV, Firdaus Surudji kepada pers di Denpasar, pihaknya tetap bersaing secara sehat dengan televisi swasta.
Semua itu dibuktikan dengan menghelat Weekend on TV, -- sebuah program hiburan off air yang digelar setiap akhir pekan, persis di halaman timur kantor TVRI Bali, Renon, Denpasar. Acara yang biasanya cukup menyita perhatian masyarakat itu lebih menampilkan musisi Bali dengan tujuan agar para musisi Bali memiliki tempat berkreasi dan lebih cepat dikenal. Untuk acara Weekend on TV, sebut Surudji, pihaknya menggandeng Focus Production, --sebuah perusahaan penyedia fasilitas entertainment.

KPI Tetap Membahas Klasifikasi Tayangan TV

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) tetap berusaha untuk melakukan pengelompokan sejumlah tayangan televisi yang dinilai mendidik dan tidak mendidik. Pasalnya, KPI akan membuat kategorisasi program tayangan televisi yang wajib ditonton karena cukup baik dan mendidik jika disaksikan bersama oleh seluruh anggota keluarga. Sejak April 2008, para orang tua di rumah boleh bernapas lega dengan program televisi untuk anak-anak.
Ketua KPI, Prof Sasa Djuarsa Sendjaya mengatakan, hingga kini KPI sedang membahas kategorisasi dan klasifikasi program tayangan televisi yang disiarkan ke masyarakat oleh 11 stasiun televisi. ’’Isi siaran yang banyak dikeluhkan masyarakat adalah seks dan porno, kekerasan serta mistik,’’ katanya.
Karena itu KPI menawarkan tiga langkah untuk mencegah dampak buruk tayangan TV. Pertama, memberi kesadaran kepada masyarakat untuk melaporkan tayangan yang dinilai tidak baik atau tidak pantas kepada KPI. Kedua, melakukan upaya preventif dengan tidak menonton program TV yang tidak mendidik. Ketiga, memberikan pendidikan kepada masyarakat agar melek media (literasi media). ‘’Bisa saja sebuah program tayangan itu mempunyai rating yang tinggi, tetapi KPI akan menempatkan tayangan tersebut untuk tidak ditonton karena kurang baik bagi keluarga,’’ katanya.
KPI, lanjutnya, membentuk tim panelis yang bertugas untuk melakukan penilaian atas seluruh program tayangan televisi. Tim panelis terdiri atas pakar pendidikan, Arief Rahman, sutradara dan mantan aktor, Slamet Rahardjo serta pakar pendidikan anak, Seto Mulyadi.
Menyoal pihak yang masih berkeberatan, Prof Sasa menyatakan, sudah pasti bakal banyak yang keberatan, termasuk pengelola televisi swasta. Sebab, selama ini mereka mengkaut keuntungan besar dari tayangan sampah, semata-mata karena masyarakat terpukau dengan tayangan hiburan yang menampilkan bintang-bintang yang sedang populer, cerita yang cenderung sadis, porno, hura-hura dan foya-foya.
Selama ini, pengelola TV swasta mengacu pada rating, namun film yang terkategori bagus masih tetap ditolak bila rendah ratingnya. Sinetron yang dinilai bagus pun masih berpeluang untuk dikembalikan bila rendah ratingnya, sementara tayangan mistik dan tayangan tidak mendidik menjadi prioritas karena ratingnya tinggi. Sebab, rating menentukan iklan. Bagi TV swasta, iklan merupakan nyawa. Tanpa iklan pasti mereka mati alias tutup karena itu wajar bila ada penolakan dari para pengelola TV swasta.
Soal sanksi, KPI memiliki kewenangan yang terbatas, baik memperingatkan atau memberikan sanksi kepada stasiun televisi yang nakal. Sementara persoalan yang dihadapi terlalu besar dan tidak bisa dilakukan sendiri. ‘’Dalam Undang-undang (UU) Penyiaran nomor 32 tahun 2002 KPI bisa memberikan sanksi pidana 5 tahun kurungan kepada pihak televisi atau pencabutan izin. Yang menjadi masalah, justru adanya inkonsistensi UU dengan Peraturan Pemerintah,’’ katanya.
Koordinator Bidang Penyiaran KPI, Yasirwan Uyun menyebut, selama tahun 2007 tercatat 1.408 keluhan dari masyarakat yang sampai ke meja KPI. Pada Januari hingga Maret 2008, sudah ada 270 keluhan dari masyarakat.

Erna Hartanto; ‘’Anak Boleh Nonton TV Dua Kali Sehari’’

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Di samping informasi dan pendidikan, sejumlah televisi terus menyajikan tayangan yang menarik dan menghibur kepada para pemirsa. Sinetron dan reality show misalnya, senantiasa menghiasi layar kaca setiap televisi karena memiliki banyak penggemar. Namun banyak masyarakat belum mengetahui atau memang sudah mengetahui tetapi tidak menghiraukan dampak negatif dari sebuah tayangan, baik bagi anak (remaja) maupun bagi dirinya sendiri.
Erna Hartanto, S.Kom, sebagai praktisi pendidikan anak menilai, televisi merupakan salah satu pemicu anak untuk meniru sebuah adegan yang ditayangkan di sebuah TV. ‘’Sebab anak usia 0 hingga usia remaja merupakan pribadi yang labil dan suka meniru. Selain itu, tayangan TV juga berdampak pada pembentukan pribadi anak menjadi malas. Dampak terbesar dari siaran televisi kepada masyarakat terutama pada anak dan remaja kita adalah malas. Selain itu meniru adegan atau tokoh dalam film pun menjadi pengaruh,” katanya.
Meski begitu, meniru, jelas Erna Hartanto, merupakan hal yang wajar dan pasti dilakukan oleh anak karena sebagai sebuah proses belajar yang paling mudah dilakukan oleh anak-anak. Hanya saja, sangat dibutuhkan pendampingan orang tua, minimal memberikan pengertian dan penjelasan, serta menanamkan nilai moral pada diri anak sejak dini. Pendampingan itu dapat memberi rangsangan pada anak untuk memahami dan mengetahui tayangan yang baik dan mendidik mereka sendiri.
”Meniru dan mengidolakan seseorang tokoh dalam TV kerap kali terjadi. Kecenderungan anak untuk meniru tidak perlu dihindari. Di sinilah diperlukan peran aktif orang tua untuk menjelaskan film yang bagus dan tidak bagus kepada anaknya. Melalui pemberian pengertian dan penjelasan, penanaman nilai-nilai moral yang positif serta dibekali ilmu pengetahuan yang baik maka anak dapat mengerti dan memilah sendiri tayangan yang mendidik itu bagi dirinya. Sehingga orang tua tidak perlu lagi untuk mendampingi anak saat nonton TV karena anak telah mengerti dengan sendirinya tayangan yang bermutu,” jelasnya.
Untuk mengurangi efek buruk dari tayangan televisi, Erna Hartanto menganjurkan agar anak diperbolehkan menonton televisi dalam sehari hanya satu sampai dua kali. ‘’Dalam durasi waktu satu hingga dua jam sekali menonton. Hal ini untuk menghindari efek malas dari dampak sebuah tayangan TV. Anak yang gemar menonton TV harus dibatasi dan ditentukan waktunya agar tidak sampai malam. Sebab dari televisi banyak efek yang ditimbulkan,” pesan Erna Hartanto.

Nyoman Parsua; Pemirsa Miliki Hak Mengadu

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Televisi telah menjadi industri hiburan dan informasi yang menerobos ruang privat. Dan tidak dipungkiri melalui ”si kotak ajaib” ini, masyarakat menimba perkembangan ilmu pengetahuan dan aplikasi teknologi yang bermanfaat bagi kehidupan. Tetapi ada sisi buram dari kehadiran TV. Program hiburan dan informasi yang disiarkan kerap berdampak buruk bagi mental dan psikologi masyarakat, terutama anak-anak dan remaja.
Dua golongan ini rentan terpengaruh oleh tayangan yang berisi kekerasan maupun mengandung unsur pornografi. Masih segar di ingatan kita heboh anak-anak memukuli dan menyiksa temannya gara-gara terinspirasi tayangan adu jotos smack down. Selain itu, sinetron remaja yang hidup glamour dan jauh dari aktivitas intelektual ikut mendukung gaya hidup hedonis dan konsumtif. Untuk itu, orang tua memiliki hak melakukan pengaduan kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) ketika menonton sebuah tayangan yang terkategori tidak bermutu dan tidak mendidik.
Menurut Nyoman Parsua, anggota KPI Daerah Bali, pemirsa memiliki hak untuk mengadu kepada KPID jika mendapati tayangan yang menyesatkan ataupun tidak mendidik, terutama berakibat pada berkembangan prilaku anak. Tayangan televisi harus memiliki unsur mendidik, menghibur dan memberi informasi. Untuk standar atau durasi penayangan antara mendidik dan informasi harus seimbang. Sementara untuk waktu tayangan hiburan harus tepat. Artinya waktu siaran harus disesuaikan dan dibedakan untuk kalangan anak, remaja dan orang dewasa.
‘’Sering kita jumpai banyak sinetron di televisi swasta yang tidak mendidik masyarakat kita. Contohnya sinetron Bunga. Sinetron ini jauh dari kenyataan. Masyarakat diajari jika ada kejadian serupa tidak menggunakan supremasi hukum. Reality show seperti mama mia super mama dan mama mia selep show memberi contoh jika mengumpat atau berkata jorok adalah hal biasa. Di sinilah peran orang tua atau masyarakat untuk tanggap dan melaporkan tayangan yang dianggap tidak mendidik,” jelas Nyoman Parsua.
Pemberian surat peringatan dan teguran diberikan KPI kepada pihak TV yang tayangannya mendapat pengaduan dari masyarakat. KPI, kanjut Nyoman Parsua, merupakan corong masyarakat. ”Menanggapi aduan masyarakat tentang siaran TV, KPI mempelajari terlebih dulu dan memberikan surat teguran serta melakukan penyegelan sementara. Jika pihak yang terkait tidak mengindahkan peringatan KPI, maka sanksi penutupan stasiun pun dilakukan. Sebab KPI merupakan penjelmaan masyarakat,” ujar Staf Bidang Kelembagaan KPID Bali.
Keberadaan TV swasta lokal yang kian menjamur, menurut Nyoman Parsua, bisa memberikan alternatif tayangan yang lebih berbobot. Konten lokal yang positif bisa dikelola dengan kreatif sehingga masyarakat lebih terdidik dan bertambah pengetahuan tentang budaya lokal.
“TV swasta lokal di Bali sampai saat ini lebih banyak menayangkan konten lokal yang menghidupkan budaya Bali. Budaya lama yang sudah hampir punah disiarkan kembali misalnya Jaya Prana. Masyarakat yang tidak tahu atau sudah lupa dan anak jaman sekarang ikut mengenal kembali budaya yang dimiliki masyarakat Bali pada jaman dulu,” tandasnya.

TV Lokal; Lebih Kreatif Angkat Citra Bali

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Keberadaan televisi menjadi hiburan murah di tengah kenaikan semua harga barang. Dampak yang ditimbulkan dari keberadaan televisi ini pun sangat beragam. Terutama dengan adanya program sinetron instan untuk generasi muda. Tapi di samping merebaknya program instan, banyak pula televisi lokal yang bermunculan. Tayangan yang disajikan pun beragam, dari masalah sosial, budaya hingga politik.
Merebaknya TV lokal tidak lepas dari peranan otonomi daerah. Kebebasan tiap daerah untuk mengembangkan kekayaan daerahnya diakui. Menurut Drs I Nyoman Sama, M.Hum, ketua Jurusan Antropologi UNUD, peranan otonomi daerah ikut mengembangkan potensi masyarakat Bali.
Dengan munculnya TV lokal seperti Bali TV, Jimbarwana TV dan Dewata TV banyak memberikan kontribusi positif untuk masyarakat Bali. Karena sebagian besar yang ditayangkan TV lokal tersebut adalah masalah budaya, adat istiadat dan pariwisata Bali. Sehingga ikut menaikkan nilai-nilai luhur yang ada di Bali. TV lokal tersebut juga membantu memperkenalkan Bali kepada wisatawan yang berkunjung ke Bali.
Sedikit banyak pandangan warga Bali terhadap lingkungan di sekitarnya ikut berubah. Perubahan positif dengan adanya TV lokal ini membuka cara berpikir sebagian masyarakat Bali yang awalnya tertutup. Perlahan tapi pasti cara berpikir masyarakat Bali ikut terbuka.
Hanya saja, di sinilah, lanjut Drs Nyoman Sama, peranan TV lokal harus tetap memberikan pencerahan kepada masyarakat Bali. Agar lebih terbuka dan mau menerima perubahan dunia. Munculnya artis lokal dan pembawa berita adalah salah satu bibit bagus yang kita miliki. Dengan munculnya mereka, dapat membuka lapangan pekerjaan baru. Dan membangun generasi muda untuk memanfaatkan energi mereka di bidang-bidang yang lebih positif. “Karena selain menghasilkan uang, juga memberikan pengalaman baru untuk terlibat aktif membangun bangsa ini,” harap Drs Nyoman Sama.
Program pesona Bali yang banyak ditampilkan mampu membangkitkan rasa cinta kepada Bali terutama bagi generasi muda agar lebih mencintai budaya Bali dan tetap menjaga keharmonisannya. Diharapkan kepada pemilik TV lokal Bali agar tetap menjaga filosofi Bali dalam setiap tayangan. Acara budaya dan adat istiadat Bali yang ditayangkan, menurut Drs Nyoman Sama, hendaknya makna filosofis dari sebuah tayangan seperti tari barong harus diangkat. Agar semua pemirsa TV dapat mengetahui jalan cerita dan arti sesungguhnya dari tarian itu.
Konsep acara yang ditayangkan, lanjut Nyoman Sama, harus menyesuaikan dengan norma yang berlaku di masyarakat Bali. Agar tidak menjadikan perpecahan dan peperangan antar masyarakat di Bali. Apalagi kearifan budaya daerah sangat beragam yang harus dijaga sebagai kekayaan budaya bangsa. Pemilik TV lokal diharapkan mengedit setiap tayangan agar menjadi berita yang lebih santun. ”Pengeditan diharapkan agar tayangan yang ditampilkan lebih menonjolkan nilai-nilai pendidikan dan kesopanan sehingga tidak menimbulkan perpecahan,” pungkas Nyoman Sama.

Televisi, Guru Moral Bangsa

thumbnail
Oleh: M Husnaini*
Ada yang menarik saat mengamati dunia pertelevisian kita. Majalah Nahdlatul Ulama Jawa Timur, Aula, edisi April 2008, mengangkat wacana perseteruan antara Masyarakat Film Indonesia (MFI) versus Lembaga Sensor Film (LSF). MFI yang dimotori oleh Mira Lesmana, Riri Riza, Nia Dinata, dan Dian Sastro Wardoyo, awal Mei 2007, mendatangi Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Prof. Dr. Jimly Assiddiqie, SH. untuk mengajukan gugatan atas Undang-Undang (UU) No 8 Tahun 1992 tentang perfilman.
Mereka menilai UU tersebut memasung kreativitas dan melanggar Hak Asasi Manusia (HAM). Intinya, mereka menuntut agar segala kelembagaan perfilman Indonesia seperti, LSF, BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional), dan segala organisasi yang bernaung di bawahnya dibubarkan.
Harus diakui, kinerja LSF untuk saat ini memang belum ideal. Lembaga itu masih terlihat kedodoran, terutama saat menghadapi stasiun-stasiun televisi yang terus bermunculan. Belum lagi beberapa tayangan berkategori "kejar tayang" yang baru disetor ke LSF tiga hari sebelum ditayangkan. Tak ayal, membuat kinerja LSF jauh dari maksimal, mengingat singkatnya waktu yang disediakan untuk melakukan penyensoran. Namun, kalau kemudian lembaga tersebut terancam dibubarkan, apakah kita akan tinggal diam?
"The Second God" to "The First God"
Televisi memang bukan sembarang media. Pengaruhnya sungguh luar biasa. George Gerbner, pakar komunikasi Amerika Serikat, menyebut televisi sebagai agama masyarakat industri. Kedudukan televisi mampu menggeser agama-agama konvensional. Jika khotbah agama mampu menyedot ribuan jamaah, maka khotbah (budaya) televisi lebih hebat lagi. Tidak jarang ritus-ritusnya diikuti dengan penuh khidmat, dan boleh jadi lebih banyak menggetarkan dan mempengaruhi bawah sadar manusia daripada ibadat agama manapun yang pernah ada (Jalaluddin Rakhmat: 1992).
Kini, televisi telah benar-benar menjadi agama masyarakat industri. Masyarakat sekarang sudah belajar (gaya) hidup dari televisi. Bahkan, di Amerika, televisi pernah menjadi "the second god". Cara dan gaya hidup anak-anak, seperti berpakaian dan berjalan dipengaruhi oleh televisi. Sekarang, televisi bahkan mungkin sudah menjadi "the first god" (Jalaluddin Rakhmat: 1998).
Di Indonesia, saat kehadiran televisi hanya terbatas pada televisi pemerintah (TVRI) saja, efeknya tidaklah terlalu besar. Itu dikarenakan waktu tayangnya terbatas hanya pada malam hari saja. Di samping juga acaranya pun tidak begitu menarik. Namun, setelah kehadiran beberapa televisi swasta, efek televisi menjadi sangat sukar diterka. Karena selain terjadinya penjadwalan ulang kegiatan sehari-hari, juga terjadi apa yang oleh pakar komunikasi disebut displacement effect. Artinya, orang kini mengganti beberapa kegiatan dengan menonton televisi.
Sayangnya, industri pertelevisian hingga detik ini masih bersifat bisnis secara murni (bussines oriented). Kalaupun ada informasi, itupun lebih bersifat bisnis. Akibatnya, informasi yang bersifat ilmiah, memperluas wawasan masyarakat, dan bersifat mendidik, tak banyak diharapkan dari media jenis ini. Karena untuk kepentingan bisnis, maka informasi yang disajikan pun cenderung instan, sederhana, dan tidak terlalu sulit, sehingga mengandung human interest.
Menghibur Diri Sampai Mati
Kenyataan tersebut sungguh amat memprihatinkan. Di tengah kelimpahruahan informasi, masyarakat digairahkan dengan ekstasi memandang, menonton, dan mendengar. Yang ditawarkan justru lebih banyak kekosongan dan kehampaan. Publik disuguhi aneka macam bujukan, rayuan, kesenangan, dan kepuasan, padahal itu semua tidak lebih hanya ketidakpuasan belaka.
Neil Postman, Guru Besar Ilmu Komunikasi, New York University, menyebut situasi demikian sebagai tindakan "menghibur diri sampai mati". Sebagian orang boleh saja berdalih bahwa masyarakat kita toh oke-oke saja dengan tayangan yang disuguhkan televisi. Namun, perlu diingat bahwa tindakan menghibur diri sampai mati seperti yang dikatakan Postman di atas, adalah satu ciri bangsa yang sedang larut dalam pembodohan. Dengan mengonsumsi tayangan-tayangan (sampah) yang merusak akal sehat semacam itu, masyarakat sesungguhnya telah melakukan bunuh diri secara tidak disadari.
Tantangan Pendidikan
Di sinilah peran dunia pendidikan sebagai media komunikasi yang secara teoritis diharapkan mampu menjawab tantangan di atas. Dalam bukunya berjudul Amusing Ourselves to Death, Postman mengingatkan kita semua akan bahaya televisi yang sedemikian kasat mata. Media telah menjadi semacam panyakit kanker yang jika dibiarkan bisa mambunuh fondasi masyarakat kita sebagai bangsa. Karenanya diperlukan penanganan yang tepat dan akurat. Jika tidak, bukan tidak mungkin, bangsa ini akan terperosok ke lubang kehancuran (moral).
Akan tetapi, mampukah pendidikan kita menjawab anjuran Postman di atas? Pada kenyataannya, kualitas pendidikan nasional kita secara umum amat payah. Jika dibandingkan dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia (SDM) dan infrastruktur pendidikan kita, keberhasilan segelintir siswa di ajang Olimpiade Fisika dan Kimia Internasional menjadi tiada artinya.
Menangkal "Tayangan Setan"
Setidaknya beberapa langkah praktis dapat diajukan di sini. Pertama, peran kedua orangtua dalam keluarga. Mereka, secara moral, bertanggungjawab dalam membendung "tayangan setan" yang bergentayangan. Seiring derasnya arus informasi yang mengglobal, tugas keluarga semakin berat. Melalui jalinan komunikasi yang baik, saling pengertian, rendah hati, serta keteladanan moral, kiranya pengaruh jahat televisi bukan sesuatu yang mustahil dikikis.
Kedua, peran lembaga pemantau televisi semacam LSF dan BP2N. Lembaga ini harus lebih getol lagi dalam melaksanakan tugasnya. Kita tentu tidak ingin, jika atas nama kebebasan berekspresi tetapi justru moral bangsa menjadi taruhannya. Karena itu, kelompok apapun yang menginginkan pembubaran segala sistem kelembagaan ini, secara tegas, harus kita tolak. Alih-alih memajukan, kelompok semacam ini malah akan menghancurkan (baca: moral).
Ketiga, peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan organisasi sosial keagamaan. Peran mereka pun tak kalah penting mengingat industri pertelevisian negeri ini yang menjadi sedemikian komersil dan menonjolkan sisi hiburan tanpa memedulikan sisi edukatifnya.
Singkatnya, televisi haruslah menjadi media yang menyehatkan serta mencerdaskan dengan sajian informasi dan hiburan yang mendidik. Sudah selayaknya televisi tidak sekedar sebagai pekerja kapitalisme informasi belaka, yang memanjakan pemirsa dengan melulu hiburan dan kontestasi gaya hidup. Aspek pandidikan dan moral selayaknya pula dipertimbangkan. Jika demikian, televisi tidak akan sekedar menjadi media biasa. Lebih penting dari itu, televisi dapat menempatkan posisinya sebagai pembentuk dan penjaga moral bangsa.
*) Kontributor Jaringan Islam Kultural (JIK), tinggal di Surabaya.

MUTIARA KEHIDUPAN

thumbnail
  • Pessimum inimicorum genus, laudantes (Jenis musuh yang paling jahat adalah mereka yang memuji kita). Tacitus.
  • Hostis est quisquis mihi non monstrat hostem (Musuh adalah orang yang tidak mau menunjukkan lawanku). Seneca.
  • Qui vult dare parva non debet magna rogare (Yang ingin memberi sedikit jangan meminta banyak). Anonim
  • Nullus est locus domestica sede jucundior (Tidak ada tempat yang lebih nyaman dibanding rumah tinggal sendiri). Cicero.
thumbnail

Bensin Lebih Irit Pakai Spontan Power

thumbnail
Nama : HM Kasmuji, 48 tahun, PNS, tinggal di Desa Gumelar, Balung, Jember.
Pengalaman :
Awalnya saya mengenal produk Biotor yaitu Spontan Power mobil dan motor lewat sebuah brosur. Saya langsung kontak no HP yang ada pada brosur tersebut. Lalu sepeda motor saya dipasangi Spontan Power. Saya langsung merasakan hasilnya. Bensin menjadi lebih irit, suara mesin tetap terasa halus, karburator tidak mudah kotor, tarikannya tetap kencang dan enteng. Pokoknya sejak saya memakai Spontan Power, motor saya tetap lancar-lancar saja.

Minum Madu Resi Menjaga Stamina

thumbnail
Nama : Erna Indarti, 42 tahun, PNS, tinggal di Solo.
Pengalaman :
Saya menjadi mudah capek karena aktifitasyang padat. Beruntung dengan rajin minum Madu Resi, stamina saya cepat kembali pulih. Sebelumnya, saya orang yang tidak percaya dengan khasiat produk-produk herbal. Saya juga memakai Minyak Oles Bokashi untuk menyembuhkan alergi kulit karena efek udara dingin.

Madu Jamur Keluarkan Racun Tubuh

thumbnail
Nama : Hernaliani, 38 tahun, ibu rumah tangga, tinggal di Cibinong, Bogor.
Pengalaman :
Mata saya sering terasa gatal-gatal dan perih. Rasa sakitnya terasa sampai kepala. Saya pernah menggunakan obat tetes mata, tetapi besoknya rasa perih dan gatal itu kembali terasa. Lalu saya mencoba Madu Jamur untuk menghilangkan racun-racun dari dalam tubuh. Kini setiap kali bangun tidur banyak sekali kotoran yang keluar dari mata. Seiring dengan itu rasa gatal dan perih pada mata hilang. Sekarang saya tidak memerlukan lagi obat mata.

Tarikan Motor Lebih Jos

thumbnail
Nama : Mamad Irama, 35 tahun, karyawan swasta, tinggal di Kaliurang Timur, Yogyakarta.
Pengalaman :
Sebelum pakai Kudo (Vitamin BBM) yang diproduksi PT Pak Oles & Biotor Technology, motor saya tarikannya kurang bagus dan sering terjadi pengendapan pada tangki bensin. Mungkin itu yang menyebabkan kendaraan saya sering tersendat saat berjalan. Setelah memakai Kudo, tarikan motor saya jadi lebih jossss. Sekarang saya tidak perlu kwatir lagi dengan kondisi motor saya.

Luka Di Kaki Mengering

thumbnail
Nama : Ny Hj Ika Wati Noor, pedagang, tinggal di Malang.
Pengalaman :
Suami saya menderita diabetes dari tahun 2005 sampai sekarang. Luka di kakinya tak kunjung sembuh, malah makin membesar. Luka tersebut bisa mongering setelah menggunakan Minyak Oles Bokashi. Setiap hari dia rajin mengoleskan Minyak Oles Bokashi di bagian kaki yang luka. Pernah juga kakinya berdarah kena linggis. Tanpa pikir panjang saya obati dengan Minyak Oles Bokashi. Alhamdulillah, darahnya langsung berhenti. Sekitar dua hari lukanya sudah mulai kering.

Alergi Sabun Berakhir

thumbnail
Nama : Iskandar Karim, 46 tahun, PNS, tinggal di Mandai Maros, Sulsel.
Pengalaman :
Jari-jari tangan kiri saya alergi gatal bila kena sabun. Saya pernah coba menggunakan salep, tapi belum ada yang cocok. Memang ada perubahan. Sayangnya kambuh lagi bila kena sabun. Saya pilih untuk mencoba Minyak Oles Bokashi dan Gelang EM Keramik. Selama tiga minggu berturut-turut saya oleskan Minyak Oles Bokashi dan memakai Gelang EM Keramik. Hasilnya jari-jari tangan kiri saya sembuh dan sampai sekarang alergi itu tidak kambuh lagi walaupun kena sabun.

Minyak Oles Bokashi Sembuhkan Kutu Air

thumbnail
Nama : Muti'ah, 40 tahun, pedagang, tinggal di Bantul, Yogyakarta.
Pengalaman :
Saya sering menderita gatal-gatal di sela-sela jari kaki bila jalan berlumpur dan pulang dari sawah. Setelah saya pakai Minyak Oles Bokashi, penyakit yang saya alami itu sembuh sampai sekarang. Saya juga konsumsi Madu Jamur untuk menjaga kesehatan. Terima kasih Pak Oles.

Saya Dapat Berjalan Kembali

thumbnail
Nama : Marzulia Wati, 22 tahun, swasta, tinggal di Gonoharjo, Kendal, Semarang.
Pengalaman :
Salah satu kaki saya tidak dapat berjalan kurang lebih satu tahun. Akhirnya sempat terjadi pengeroposan tulang/osteoporosis. Lalu saya dapat informasi tentang Ramuan Pak Oles. Saya langsung menggunakan Pasta Polleng dan Minyak Oles Bokashi. Baru seminggu saya mengonsumsi kedua produk tersebut langsung ada perubahan berarti. Kaki saya mulai dapat digerakkan. Sekarang saya sudah dapat berjalan seperti sediakala. Terima kasih Pak Oles.

Pertanian Perlu Didukung Kebijakan Strategis

thumbnail
Studi Banding

OLEH: INDAH WULANDARI
hadni_wulan@yahoo.co.id

Beberapa instansi pemerintah dan BUMN sangat serius membekali para karyawan untuk menggeluti salah satu jenis keterampilan agar lebih mandiri secara ekonomis. Wapres Jusuf Kalla bahkan meminta para pemuda untuk tidak semata-mata memancang harapan menjadi PNS.
PT PLN (Persero), selama ini getol memberikan peluang bagi karyawan yang sudah memasuki masa purna tugas untuk menekuni salah satu jenis usaha. Mereka diberi tiga solusi dalam bidang otomotif, boga, katering dan pertanian. Untuk bidang pertanian, BUMN pemasok listrik ini sudah menjalin kerja sama dengan Institut Pengembangan Sumber Daya Alam (IPSA) di desa Bengkel, Busungbiu, Buleleng, Bali sudah hampir dua tahun.
Pada medio Maret (12-14/3) PLN Jakarta kembali mengirim 16 orang karyawan/i untuk mengikuti pelatihan tentang pertanian terpadu yang rutin digelar IPSA di Bali. Dengan begitu, PT PLN Jakarta tercatat sebagai angkatan XII (khusus karyawan PT PLN) atau angkatan 131 (reguler) yang digelar IPSA.
Dalam pelatihan kali ini, peserta ternyata berhasil ’’memaksa’’ sang pendiri, Dr Ir GN Wididana, M.Agr untuk langsung memberikan materi sesuai rencana mereka sebelumnya. Upaya tersebut cukup berhasil. ‘’Pembelajaran di IPSA bagus karena kita bisa mengetahui bagaimana menerapkan pertanian organik secara baik dan benar. Ya, cara tersebut secara filosofis berarti berasal dari alam dan prosesnya tanpa reduksi,” tegas Ketua Rombongan Pelatihan karyawan PLN angkatan XII, Trijogo Djati Pantoro, PhD saat ditemui di Rumah Madu Alam Pak Oles Denpasar.
Pantoro yakin bahwa siklus kehidupan dengan pertanian organik akan menyegarkan tanah dan menghasilkan makanan sehat. ’’Tentunya ini menjadi sebuah peluang yang menantang karena produk organik di Asia bakal menjadi pelopor pasar,’’ ujarnya.
Secara bisnis diperlukan standarisasi ISO dan manajemen pengelolaan yang sistematis untuk mengembangkan sektor pertanian. Pantoro menyayangkan kurangya dukungan pemerintah untuk menelurkan kebijakan pertanian seperti Thailand yang bisa memajukan kesejahteraan para petani. ‘’Kita perlu membentuk jaringan simbiosis mutualisme. Jaringan tersebut secara bertahap menerapkan cara alami untuk mengembangkan pertanian organik,’’ tambah Pantoro.