Home » » Bodoh Jika Berharap Impor Pangan

Bodoh Jika Berharap Impor Pangan

OLEH: AGUS SALAM
Kepala Badan Ketahanan Pangan Departemen Pertanian yang juga Sekretaris Dewan Ketahanan Pangan Nasional, Dr. Ir. Kaman Nainggolan MS mengatakan ketahanan pangan nasional sampai saat ini tidak bermasalah. Masyarakat tak perlu khawatir tentang persoalan ini. ‘’Bicara tentang ketahanan pangan nasional itu tidak semata-mata ngomong soal beras. Pangan itu bukan beras saja. Kita punya bermacam-macam umbi-umbian, bahkan sampai puluhan jenis. Kita juga punya thiwul, sagu dan jagung yang merupakan sumber karbohidrat. Ini yang perlu diluruskan agar masyarakat tidak panik,’’ katanya dalam sebuah talkshow di Jakarta.
Jika bicara angka, sentra-sentra padi yang terkena banjir baru-baru ini di seluruh Indonesia mencapai 160 ribu hektar dan yang puso 60 ribu hektar. Jadi masih banyak yang bisa diselamatkan oleh petani secara mandiri. Yang perlu diingat hambatan pertanian bukan hanya banjir. Gangguan juga terjadi saat kemarau. Juga ada serangan hama serta penyakit. Untuk mengantisipasi berbagai hambatan tersebut Departemen Pertanian telah merencanakan luas tanam padi kita sebanyak 12.240.000 hektar. Dengan hambatan banjir, kemarau dan hama penyakit diperkirakan maksimal hanya 12 juta hektar saja yang bisa dipanen bersih. Lalu sisanya dipenuhi dengan impor. ’’Dengan angka-angka tersebut secara umum ketahanan pangan kita baik-baik saja,’’katanya.
Bicara ketahanan pangan, jelas Kaman, jangan dipersempit dengan mengharamkan impor. Memang Indonesia impor beras, tetapi Indonesia juga ekspor bahan pangan lainnya. ‘’Kita ini eksportir minyak sawit, ikan laut, sayur-sayuran untuk Singapura, singkong dalam bentuk gaplek, kopi dan banyak lagi. Indonesia tidak boleh tergantung impor, karena kita mempunyai keunggulan komparatif sebagai negara agraris yang alamnya juga mendukung untuk pertanian. Karena itu, kita dianggap bodoh sekali jika tergantung impor. Jadi yang dianggap swasembada pangan itu bukan berarti tidak ada impor sama sekali,’’ jelasnya.
Dalam rencana pembangunan jangka menengah, maksimal 10 persen impor beras itu sudah termasuk swasembada pangan. Pada tahun 2007 lalu, Indonesia impor 1,3 juta ton yang masuk untuk mengisi stok. Mungkin ini untuk mengamankan 2008 dari berbagai gejolak. ‘’Yang jelas, ketahanan pangan itu meliputi dimensi ketersediaan pangan, dimensi distribusi dan yang ketiga adalah faktor konsumsi yaitu asupan gizi bagi masyarakat. Ketersediaan pangan sebenarnya tidak bermasalah, karena kita impor beras hanya sebagian,’’lanjutnya.
Isu beras sering juga dipolitisasi sehingga masyarakat mendapatkan gambaran yang tak proporsional tentang kondisi pangan di tanah air. Karena itulah, Kaman Nainggolan meminta masyarakat agar tidak terlalu pesimistik mengenai keadaan stok pangan nasional.
Thanks for reading Bodoh Jika Berharap Impor Pangan

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar