Oleh: Wayan Nita
Salak Bali menjadi primadona para pelancong dan tak pernah ketinggalan untuk jadi oleh-oleh. Pusat oleh-oleh selain memberikan menu jajanan khas Bali juga tak ketinggalan salak Bali.
Tak banyak masyarakat luar Bali yang mengetahui ada jenis salak lain, yait
u salak gula pasir. Salak yang sangat manis seperti gula pasir, tidak ada rasa asamnya sama sekali. Juga tidak hambar seperti salak pondoh khas Jogjakarta. Masyarakat Bali sendiri sangat mengidolakan salak gula pasir ini. Harganya yang lebih mahal dibanding salak Bali tak menggoyahkan kenikmatan pecinta salak gula pasir.
Harga yang mahal, menurut Ayu Anggraeni, pemilik toko oleh-oleh khas Bali, karena sulitnya membudidayakan salak gula pasir. Dan salak gula pasir di tokonya khusus didatangkan dari Sibetan, Karangasem. Uniknya, salak gula pasir hanya dapat tumbuh di Karangasem dan sudah menjadi ciri khas. Harga salak tidak stabil, satu kilo salak gula pasir jika musimnya seharga Rp 15.000 - Rp 20.000. Tapi jika tidak musim bisa mencapai Rp 30.000 - Rp 40.000. Meskipun mahal tapi tokonya selalu ramai didatangi konsumen pecinta salak gula pasir. Tempat yang jauh di dalam dan jauh dari pusat kota tak membuat pelanggan menjauh.
Kebanyakan pelanggan toko oleh-oleh khas Bali milik Ayu ini adalah pegawai kantor-kantor pemerintahan. Seperti dinas perhubungan, kantor kejaksaan dan kantor samsat. Tak hanya itu, masyarakat di sekitar toko maupun pelanggan dari toko ibunya yang juga menjual salak gula pasir. Bahkan banyak juga wisatawan yang menggunakan travel maupun bis mengunjunginya. Tak di pungkiri, salak gula pasir yang paling dicari. “Mereka biasanya membeli dalam jumlah banyak. Ya minimal mereka membeli lima kilo plus jajanan khas Bali lainnya seperti aneka kacang,” ungkap Ayu yang membuka tokonya di Jl Tukad Musi No 53 Renon, Denpasar ini bangga.
Selain salak gula pasir, masih banyak lagi jenis jajanan khas bali. Seperti kue gambir, dodol, brem Bali, kacang disco, kacang asin, kacang koro, krupuk ceker ayam juga aneka buah-buahan. Ayu juga menerima pesanan oleh-oleh dalam bentuk parcel yang terdiri dari aneka macam buah, kacang dan dodol. Semua produk yang dijual, menurut Ayu tak perlu waktu lama untuk laku. Salak gula pasir sendiri, lanjut Ayu sebanyak 50-70 kg bisa habis dalam waktu seminggu. “Harga di sini lebih murah dibanding pusat oleh-oleh lain. Untuk jajanan anda hanya perlu merogoh kocek dari Rp 11.000-Rp 20.000,” pungkas Ayu yang tinggal di seputaran Kampus Ngurah Rai Gg. Mawar No. 8.
Salak Bali menjadi primadona para pelancong dan tak pernah ketinggalan untuk jadi oleh-oleh. Pusat oleh-oleh selain memberikan menu jajanan khas Bali juga tak ketinggalan salak Bali.
Tak banyak masyarakat luar Bali yang mengetahui ada jenis salak lain, yait
u salak gula pasir. Salak yang sangat manis seperti gula pasir, tidak ada rasa asamnya sama sekali. Juga tidak hambar seperti salak pondoh khas Jogjakarta. Masyarakat Bali sendiri sangat mengidolakan salak gula pasir ini. Harganya yang lebih mahal dibanding salak Bali tak menggoyahkan kenikmatan pecinta salak gula pasir.Harga yang mahal, menurut Ayu Anggraeni, pemilik toko oleh-oleh khas Bali, karena sulitnya membudidayakan salak gula pasir. Dan salak gula pasir di tokonya khusus didatangkan dari Sibetan, Karangasem. Uniknya, salak gula pasir hanya dapat tumbuh di Karangasem dan sudah menjadi ciri khas. Harga salak tidak stabil, satu kilo salak gula pasir jika musimnya seharga Rp 15.000 - Rp 20.000. Tapi jika tidak musim bisa mencapai Rp 30.000 - Rp 40.000. Meskipun mahal tapi tokonya selalu ramai didatangi konsumen pecinta salak gula pasir. Tempat yang jauh di dalam dan jauh dari pusat kota tak membuat pelanggan menjauh.
Kebanyakan pelanggan toko oleh-oleh khas Bali milik Ayu ini adalah pegawai kantor-kantor pemerintahan. Seperti dinas perhubungan, kantor kejaksaan dan kantor samsat. Tak hanya itu, masyarakat di sekitar toko maupun pelanggan dari toko ibunya yang juga menjual salak gula pasir. Bahkan banyak juga wisatawan yang menggunakan travel maupun bis mengunjunginya. Tak di pungkiri, salak gula pasir yang paling dicari. “Mereka biasanya membeli dalam jumlah banyak. Ya minimal mereka membeli lima kilo plus jajanan khas Bali lainnya seperti aneka kacang,” ungkap Ayu yang membuka tokonya di Jl Tukad Musi No 53 Renon, Denpasar ini bangga.
Selain salak gula pasir, masih banyak lagi jenis jajanan khas bali. Seperti kue gambir, dodol, brem Bali, kacang disco, kacang asin, kacang koro, krupuk ceker ayam juga aneka buah-buahan. Ayu juga menerima pesanan oleh-oleh dalam bentuk parcel yang terdiri dari aneka macam buah, kacang dan dodol. Semua produk yang dijual, menurut Ayu tak perlu waktu lama untuk laku. Salak gula pasir sendiri, lanjut Ayu sebanyak 50-70 kg bisa habis dalam waktu seminggu. “Harga di sini lebih murah dibanding pusat oleh-oleh lain. Untuk jajanan anda hanya perlu merogoh kocek dari Rp 11.000-Rp 20.000,” pungkas Ayu yang tinggal di seputaran Kampus Ngurah Rai Gg. Mawar No. 8.


0 komentar:
Posting Komentar