Suatu hari Tomblos termenung membaca kutipan dari sebuah buku kecil nan lusuh. Kutipan dari Lord Thomas Dewan sangat menyentak hatinya. “Pikiran ibarat parasut, hanya berfungsi jika terbuka”. Sikapnya merasa disindir buku itu karena selama ini pikirannya ibarat parasut yang tertutup. Belum terbuka atau mungkin setengah tertutup. Dia menoleh ke kiri-kanan, siapa tahu ada yang melihat perubahan wajahnya, karena hati dicolek buku lusuh itu. Tapi siapa yang peduli dengan orang yang lagi tunduk membaca di emperan kios buku bekas. Tanpa tawar-menawar buku lusuh itu langsung dibeli. Buku itu terlalu murah, tapi di dalamnya ada banyak guru yang bisa ditemui dengan membaca, yang mengajari berbagai makna hidup. Entah mengapa matanya tertarik untuk melirik buku lusuh itu. Dia langsung membukanya pada halaman yang tepat, membaca kutipan Lord Thomas Dewar tentang pikiran.
Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir kecil maka hasilnya kecil. Sebaliknya, jika pikiran kita besar, maka hasilnya besar. Begitu hebatnya kekuatan pikiran. Untuk itu harus berhati-hati dengan pikiran karena dapat menentukan hasil akhir dari suatu pekerjaan. Dengan pikiran yang baik kita bisa menghasilkan karya dan wacana yang baik. Pikiran adalah embrio perkataan dan perbuatan. Untuk itu kita harus bisa melatih dan mengendalikan pikiran agar tetap fokus, semangat dan penuh cinta kasih. Hanya dengan demikian kita bisa mewujudkan hasil karya yang optimal dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Pikiran perlu diasah dan diberi makanan dengan ilmu pengetahuan agar tetap tajam dan terbuka. Pikiran yang tajam, -- yang menganalisa dengan logika, bertanya dan mencari jawaban, mencerna untuk memilih dan memilah berbagai permasalahan dan mencari jalan keluar, serta mengambil keputusan yang tepat dari berbagai alternatif pemecahan. Betapa pentingnya ketajaman pikiran, sehingga harus terus diasah agar bermanfaat.
Pikiran yang terbuka, --yang selalu memberi kesempatan untuk diperkaya dengan berbagai disiplin ilmu. Pikiran yang terbuka, --pikiran yang siap menerima berbagai informasi yang diperlukan untuk meningkatkan ketajaman berpikir. Pikiran yang terbuka, --yang terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan dan informasi untuk membuka wawasan dan visi, sehingga bisa jelas dan tegas menetapkan tujuan hidup. Dengan begitu kita tetap teguh berprinsip, tekun berkarya dan bisa memetik pelajaran dan manfaat dari setiap kejadian.
Pikiran ibarat parasut, hanya berfungsi jika terbuka. Parasut yang tidak terbuka ibarat benda berat yang harus digendong dan tidak berfungsi karena belum terbuka. Jika parasut terbuka dia bisa berfungsi untuk terjun payung menyelamatkan nyawa sang penerjun. Demikian juga pikiran. Jika pikiran terbuka, sangat berguna untuk kesejahteraan pemiliknya dan masyarakat sekitar. Jika pikiran tidak terbuka, sangat tidak bermanfaat dan bisa menjadi beban pemiliknya, bahkan menyengsarakan kehidupan masyarakat sekitar.
Bagaimana cara membuka pikiran? Dengan belajar dan berkarya, dengan melatih pikiran agar fokus dan melatih hati agar lunak. Pikiran kita bisa terbuka dengan berbagai kemungkinan dan kesempatan baru agar hidup menjadi lebih maju dan bermanfaat. Bila pikiran sudah tertutup, tidak mau belajar dan malas berkarya, berarti kemajuan hidup sudah berhenti. Hati-hati dengan pikiran karena pengaruhnya sangat kuat bagi hidup.
Perlu lebih banyak membaca buku yang tepat dan bermanfaat karena di dalamnya banyak ide dan pikiran. Kita bisa mengenali pikiran orang dari tulisan dan omongan. Tulisan dan omongan yang tidak runut dan kacau menandakan pikiran yang amburadul. Pikiran orang yang tidak jelas juga membuat tulisan dan omongan tidak jelas. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orang yang pikirannya tidak jelas? Tentu sulit. Membaca sangat bermanfaat untuk menajam dan memperluas pikiran. Pikiran yang tajam dan luas ibarat parasut terbuka, dan berguna untuk menyelamatkan hidup. Pikiran yang tumpul dan sempit ibarat parasut yang tertutup dan dapat memperpendek hidup bahkan mematikan.
Kebanyakan dari kita belum bisa memilih teman bergaul. Dia terseret dalam kebiasaan buruk akibat salah pergaulan. Mungkin karena tenggang rasa atau kurang tegas dalam bersikap, maka teman yang tidak tepat dan tidak bermanfaat mempengaruhi hidupnya. Pikirannya rusak, sikap hidupnya kacau. Pikirannya menjadi tertutup dari berbagai kemungkinan, ragu dan lemah. Akhirnya kualitas hidupnya luntur, karena pikirannya dipengaruhi oleh teman-temannya yang tidak berkualitas.
Buku yang tepat dan teman yang berkualitas adalah kunci membuka pikiran. Tanpa kunci tersebut, pikiran akan tetap tertutup. Tentu dengan pikiran tertutup akibatnya bisa fatal. Masalah demi masalah rajin datang bertubi-tubi dengan tanpa penyelesaian yang berarti. Karena masalah adalah guru yang datang agar kita bisa lebih banyak belajar. Dengan tidak mau belajar, pikiran kita tertutup, dan guru itu rajin datang membawa berbagai mata pelajaran hidup yang harus dipelajari berupa pil pahit yang harus ditelan, agar pikiran kita sehat.
Buku lusuh tipis itu banyak memberi pelajaran pada Tomblos. Pikirannya sudah sedikit lebih terbuka karena sebuah kutipan yang bermanfaat. Kadang-kadang hidup kita bisa berubah karena kita bisa menangkap makna yang bisa diambil dari berbagai fenomena. Bahkan kejadian kecilpun bisa menyadarkan kita dari keteledoran. Itu tentu jauh lebih baik, daripada berbagai kejadian besar telah merampas hidup kita, tapi kita tidak pernah sadar sampai hidup kita apes berat, karena pikiran kita tertutup.
Bahkan di saat jatuh tertimpa tanggapun, kita belum mau menyalahkan diri sendiri untuk harus belajar. Kita hanya menyalahkan tangganya atau lantainya yang licin. Kadang-kadang, kita masih berani meyalahkan Tuhan. Semua itu karena pikiran kita yang tertutup. Siapkah kita membuka pikiran dengan lebih banyak belajar tentang hal yang bermanfaat dan lebih banyak bergaul dengan teman-teman yang berkualitas. Semua itu tergantung dari sikap kita untuk memutuskan, yang hasilnya bisa kita nikmati sebagai hal yang bermanfaat atau mudarat.
Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika kita berpikir kecil maka hasilnya kecil. Sebaliknya, jika pikiran kita besar, maka hasilnya besar. Begitu hebatnya kekuatan pikiran. Untuk itu harus berhati-hati dengan pikiran karena dapat menentukan hasil akhir dari suatu pekerjaan. Dengan pikiran yang baik kita bisa menghasilkan karya dan wacana yang baik. Pikiran adalah embrio perkataan dan perbuatan. Untuk itu kita harus bisa melatih dan mengendalikan pikiran agar tetap fokus, semangat dan penuh cinta kasih. Hanya dengan demikian kita bisa mewujudkan hasil karya yang optimal dan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas.
Pikiran perlu diasah dan diberi makanan dengan ilmu pengetahuan agar tetap tajam dan terbuka. Pikiran yang tajam, -- yang menganalisa dengan logika, bertanya dan mencari jawaban, mencerna untuk memilih dan memilah berbagai permasalahan dan mencari jalan keluar, serta mengambil keputusan yang tepat dari berbagai alternatif pemecahan. Betapa pentingnya ketajaman pikiran, sehingga harus terus diasah agar bermanfaat.
Pikiran yang terbuka, --yang selalu memberi kesempatan untuk diperkaya dengan berbagai disiplin ilmu. Pikiran yang terbuka, --pikiran yang siap menerima berbagai informasi yang diperlukan untuk meningkatkan ketajaman berpikir. Pikiran yang terbuka, --yang terus belajar dan mencari ilmu pengetahuan dan informasi untuk membuka wawasan dan visi, sehingga bisa jelas dan tegas menetapkan tujuan hidup. Dengan begitu kita tetap teguh berprinsip, tekun berkarya dan bisa memetik pelajaran dan manfaat dari setiap kejadian.
Pikiran ibarat parasut, hanya berfungsi jika terbuka. Parasut yang tidak terbuka ibarat benda berat yang harus digendong dan tidak berfungsi karena belum terbuka. Jika parasut terbuka dia bisa berfungsi untuk terjun payung menyelamatkan nyawa sang penerjun. Demikian juga pikiran. Jika pikiran terbuka, sangat berguna untuk kesejahteraan pemiliknya dan masyarakat sekitar. Jika pikiran tidak terbuka, sangat tidak bermanfaat dan bisa menjadi beban pemiliknya, bahkan menyengsarakan kehidupan masyarakat sekitar.
Bagaimana cara membuka pikiran? Dengan belajar dan berkarya, dengan melatih pikiran agar fokus dan melatih hati agar lunak. Pikiran kita bisa terbuka dengan berbagai kemungkinan dan kesempatan baru agar hidup menjadi lebih maju dan bermanfaat. Bila pikiran sudah tertutup, tidak mau belajar dan malas berkarya, berarti kemajuan hidup sudah berhenti. Hati-hati dengan pikiran karena pengaruhnya sangat kuat bagi hidup.
Perlu lebih banyak membaca buku yang tepat dan bermanfaat karena di dalamnya banyak ide dan pikiran. Kita bisa mengenali pikiran orang dari tulisan dan omongan. Tulisan dan omongan yang tidak runut dan kacau menandakan pikiran yang amburadul. Pikiran orang yang tidak jelas juga membuat tulisan dan omongan tidak jelas. Bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan orang yang pikirannya tidak jelas? Tentu sulit. Membaca sangat bermanfaat untuk menajam dan memperluas pikiran. Pikiran yang tajam dan luas ibarat parasut terbuka, dan berguna untuk menyelamatkan hidup. Pikiran yang tumpul dan sempit ibarat parasut yang tertutup dan dapat memperpendek hidup bahkan mematikan.
Kebanyakan dari kita belum bisa memilih teman bergaul. Dia terseret dalam kebiasaan buruk akibat salah pergaulan. Mungkin karena tenggang rasa atau kurang tegas dalam bersikap, maka teman yang tidak tepat dan tidak bermanfaat mempengaruhi hidupnya. Pikirannya rusak, sikap hidupnya kacau. Pikirannya menjadi tertutup dari berbagai kemungkinan, ragu dan lemah. Akhirnya kualitas hidupnya luntur, karena pikirannya dipengaruhi oleh teman-temannya yang tidak berkualitas.
Buku yang tepat dan teman yang berkualitas adalah kunci membuka pikiran. Tanpa kunci tersebut, pikiran akan tetap tertutup. Tentu dengan pikiran tertutup akibatnya bisa fatal. Masalah demi masalah rajin datang bertubi-tubi dengan tanpa penyelesaian yang berarti. Karena masalah adalah guru yang datang agar kita bisa lebih banyak belajar. Dengan tidak mau belajar, pikiran kita tertutup, dan guru itu rajin datang membawa berbagai mata pelajaran hidup yang harus dipelajari berupa pil pahit yang harus ditelan, agar pikiran kita sehat.
Buku lusuh tipis itu banyak memberi pelajaran pada Tomblos. Pikirannya sudah sedikit lebih terbuka karena sebuah kutipan yang bermanfaat. Kadang-kadang hidup kita bisa berubah karena kita bisa menangkap makna yang bisa diambil dari berbagai fenomena. Bahkan kejadian kecilpun bisa menyadarkan kita dari keteledoran. Itu tentu jauh lebih baik, daripada berbagai kejadian besar telah merampas hidup kita, tapi kita tidak pernah sadar sampai hidup kita apes berat, karena pikiran kita tertutup.
Bahkan di saat jatuh tertimpa tanggapun, kita belum mau menyalahkan diri sendiri untuk harus belajar. Kita hanya menyalahkan tangganya atau lantainya yang licin. Kadang-kadang, kita masih berani meyalahkan Tuhan. Semua itu karena pikiran kita yang tertutup. Siapkah kita membuka pikiran dengan lebih banyak belajar tentang hal yang bermanfaat dan lebih banyak bergaul dengan teman-teman yang berkualitas. Semua itu tergantung dari sikap kita untuk memutuskan, yang hasilnya bisa kita nikmati sebagai hal yang bermanfaat atau mudarat.


0 komentar:
Posting Komentar