Oleh: Wayan Nita
Masih minimnya pemahaman para orang tua tentang pemenuhan gizi yang seimbang menyebabkan banyak balita menderita gizi buruk. Pemicu lain, rendahnya tingkat pendidikan dan sosial ekonomi. Pemenuhan gizi yang seimbang pada ibu hamil maupun balita sangat diperlukan untuk menekan bertambahnya penderita gizi buruk.
Mengapa balita yang paling banyak terserang gizi buruk? Menurut dr I Kompiang Gede Suandi, SpA, fenomena ini terjadi karena kurangnya perhatian orang tua. Padahal, seorang balita sangat membutuhkan perhatian orang tua, terutama umur 3-5 tahun sebagai masa aktif pertumbuhan fisik dan mental. Pada usia tersebut, membutuhkan banyak makanan yang bergizi.
Dokter spesialis gizi anak di RSUP Sanglah Denpasar itu menegaskan, gizi buruk (marasmus) dan busung lapar (kwashiorkor) merupakan satu kesatuan. Kedua ’’penyakit’’ tersebut diakibatkan oleh kurangnya kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh seseorang. Bedanya, gizi buruk terjadi karena faktor kekurangan kalori atau terserang penyakit, sedangkan busung lapar akibat kekurangan protein.
Pemenuhan gizi seorang balita yang tidak sempurna, jelas mempengaruhi daya tahan tubuh sehingga rentan terserang penyakit. Orang tua kaya yang sibuk atau mereka yang memiliki banyak anak namun diliputi kemiskinan tidak sempat memperhatikan kondisi balitanya.
Jika anak sudah terkena gizi buruk, banyak penyakit siap menyerang, karena daya tahan tubuh yang sudah relatif menurun dan melemah. Biasnya, badan jadi kurus, tulang-tulang menonjol, rambut putih, pantat keriput dan wajah terlihat tua. Sedangkan penderita busung lapar sebagian badan membengkak berisi timbunan air. “Jika bagian itu dipencet akan timbul cekungan. Kembali seperti semula membutuhkan waktu lama,” ujar dokter yang membuka praktek di Apotek Kimia Farma Jl Imam Bonjol 66 Denpasar.
Penderita gizi buruk dan busung lapar sulit untuk disembuhkan, membutuhkan kesabaran dan waktu lama. Bagi orang tua yang sangat miskin, jelas sang anak hanya dibiarkan tanpa perawatan, dan bisa meninggal karena daya tahan tubuh yang sudah semakin lemah. Sebagai tindakan pencegahan, perlu diperhatikan kandungan gizi yang diberikan kepada anak. “Gizi seimbang itu meliputi karbohidrat 55 persen, lemak 35 persen dan protein 15 persen,” tambah dr Suandi.
Masih minimnya pemahaman para orang tua tentang pemenuhan gizi yang seimbang menyebabkan banyak balita menderita gizi buruk. Pemicu lain, rendahnya tingkat pendidikan dan sosial ekonomi. Pemenuhan gizi yang seimbang pada ibu hamil maupun balita sangat diperlukan untuk menekan bertambahnya penderita gizi buruk.
Mengapa balita yang paling banyak terserang gizi buruk? Menurut dr I Kompiang Gede Suandi, SpA, fenomena ini terjadi karena kurangnya perhatian orang tua. Padahal, seorang balita sangat membutuhkan perhatian orang tua, terutama umur 3-5 tahun sebagai masa aktif pertumbuhan fisik dan mental. Pada usia tersebut, membutuhkan banyak makanan yang bergizi.
Dokter spesialis gizi anak di RSUP Sanglah Denpasar itu menegaskan, gizi buruk (marasmus) dan busung lapar (kwashiorkor) merupakan satu kesatuan. Kedua ’’penyakit’’ tersebut diakibatkan oleh kurangnya kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh seseorang. Bedanya, gizi buruk terjadi karena faktor kekurangan kalori atau terserang penyakit, sedangkan busung lapar akibat kekurangan protein.
Pemenuhan gizi seorang balita yang tidak sempurna, jelas mempengaruhi daya tahan tubuh sehingga rentan terserang penyakit. Orang tua kaya yang sibuk atau mereka yang memiliki banyak anak namun diliputi kemiskinan tidak sempat memperhatikan kondisi balitanya.
Jika anak sudah terkena gizi buruk, banyak penyakit siap menyerang, karena daya tahan tubuh yang sudah relatif menurun dan melemah. Biasnya, badan jadi kurus, tulang-tulang menonjol, rambut putih, pantat keriput dan wajah terlihat tua. Sedangkan penderita busung lapar sebagian badan membengkak berisi timbunan air. “Jika bagian itu dipencet akan timbul cekungan. Kembali seperti semula membutuhkan waktu lama,” ujar dokter yang membuka praktek di Apotek Kimia Farma Jl Imam Bonjol 66 Denpasar.
Penderita gizi buruk dan busung lapar sulit untuk disembuhkan, membutuhkan kesabaran dan waktu lama. Bagi orang tua yang sangat miskin, jelas sang anak hanya dibiarkan tanpa perawatan, dan bisa meninggal karena daya tahan tubuh yang sudah semakin lemah. Sebagai tindakan pencegahan, perlu diperhatikan kandungan gizi yang diberikan kepada anak. “Gizi seimbang itu meliputi karbohidrat 55 persen, lemak 35 persen dan protein 15 persen,” tambah dr Suandi.


0 komentar:
Posting Komentar