Oleh: Heni Kurniawati
Kanker leher rahim (kanker servik) merupakan pembunuh perempuan terbanyak. Meski ragam sosialisasi seputar penyakit ini kerap digelar berbagai pihak, namun angka kematian dan jumlah penderita masih sulit dibendung. Selain itu penanganan dini terhadap kanker leher rahim belum menjadi prioritas.
Selama tahun 2007, tercatat 128 penderita kanker leher rahim di Bali. Bahkan pada tahun 1999, RS Sanglah menangani 156 kasus (79,59%). Sedangkan di Indonesia, setiap tahun terdapat 180 ribu kasus. Potret ini terjadi karena kurangnya kepekaan kaum wanita untuk memeriksakan rahim sejak dini, dan akibatnya bisa fatal.
Pada dasarnya, kanker leher rahim bisa diatasi 100% jika terdeteksi lebih awal. Kanker leher rahim stadium dini tidak menampakkan gejala penyakit, karena biasanya hanya keputihan dan pendarahan. Biasanya, para pasien baru mendapat pelayanan medis pada stadium lanjut.
“Pemeriksaan pap smear ataupun colposcopi yang dapat mendeteksi kanker servik pada stadium awal sangat diperlukan. Penyakit ini dapat diobati 100 persen jika dalam stadium awal. Minimnya pengetahuan dan rasa takut kerap membuat pasien datang pada stadium akhir dan sel kanker sudah menyebar sehingga sulit ditanggani. Hampir 75 persen penderita baru memeriksakan diri setelah stadium akhir,” kata dr Wayan Kesumadana, SpOG dalam seminar Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Leher Rahim yang diadakan Koran Tokoh bekerja sama RS Kasih Ibu dan Raffles Hospital Singapore di Hotel Nikki Denpasar, Minggu (16/3).
Penyakit kanker leher rahim lebih banyak menyerang wanita berusia 40 tahun ke atas. Di kalangan rema, karena perubahan prilaku, penyakit ini mengintai mereka yang berusia 20-30 tahun. Penyebab dari penyakit para wanita ini disebabkan pemakaian bahan kimia, virus human paviloma, radiology dan biology agent. Juga disebabkan operasi caesar, keguguran, susah saat melahirkan atau waktu kelahiran diperpanjang sehingga merusak vagina, di samping pemberian gurah.
“Prilaku seks dengan multiplel mitra seks, pemakaian bahan kimia dan virus human paviloma menjadi faktor resiko terjadinya kanker servik. Agar terhindar dari kanker servik harus menjauhi faktor resiko itu. Pemeriksaan kandungan sejak dini justru mencegah tumbuhnya kanker leher rahim,” tandas Kesumadana.
Pemeriksaan pap smear dapat dilakukan oleh semua wanita yang sudah pernah berhubungan seks. Biasanya, dilakukan 10 hari setelah haid dan saat melakukan pap smear 24 jam tidak boleh berhubungan terlebih dahulu. Dengan deteksi dini, harapan hidup penderita kanker leher rahim atau pra kanker (stadium 0) adalah 100%.
“Harapan hidup untuk penderita tingkat satu mencapai 75 persen, tingkat dua 50 persen, tingkat tiga 30 persen dan 7 persen stadium akut. Jika terdeteksi sejak awal ada gangguan di dalam vagina atau rahim maka harapan hidup lima tahun dapat dicapai 100 persen,” urai Direktur RS Kasih Ibu Denpasar itu.
Kanker leher rahim (kanker servik) merupakan pembunuh perempuan terbanyak. Meski ragam sosialisasi seputar penyakit ini kerap digelar berbagai pihak, namun angka kematian dan jumlah penderita masih sulit dibendung. Selain itu penanganan dini terhadap kanker leher rahim belum menjadi prioritas.
Selama tahun 2007, tercatat 128 penderita kanker leher rahim di Bali. Bahkan pada tahun 1999, RS Sanglah menangani 156 kasus (79,59%). Sedangkan di Indonesia, setiap tahun terdapat 180 ribu kasus. Potret ini terjadi karena kurangnya kepekaan kaum wanita untuk memeriksakan rahim sejak dini, dan akibatnya bisa fatal.
Pada dasarnya, kanker leher rahim bisa diatasi 100% jika terdeteksi lebih awal. Kanker leher rahim stadium dini tidak menampakkan gejala penyakit, karena biasanya hanya keputihan dan pendarahan. Biasanya, para pasien baru mendapat pelayanan medis pada stadium lanjut.
“Pemeriksaan pap smear ataupun colposcopi yang dapat mendeteksi kanker servik pada stadium awal sangat diperlukan. Penyakit ini dapat diobati 100 persen jika dalam stadium awal. Minimnya pengetahuan dan rasa takut kerap membuat pasien datang pada stadium akhir dan sel kanker sudah menyebar sehingga sulit ditanggani. Hampir 75 persen penderita baru memeriksakan diri setelah stadium akhir,” kata dr Wayan Kesumadana, SpOG dalam seminar Deteksi Dini dan Pencegahan Kanker Leher Rahim yang diadakan Koran Tokoh bekerja sama RS Kasih Ibu dan Raffles Hospital Singapore di Hotel Nikki Denpasar, Minggu (16/3).
Penyakit kanker leher rahim lebih banyak menyerang wanita berusia 40 tahun ke atas. Di kalangan rema, karena perubahan prilaku, penyakit ini mengintai mereka yang berusia 20-30 tahun. Penyebab dari penyakit para wanita ini disebabkan pemakaian bahan kimia, virus human paviloma, radiology dan biology agent. Juga disebabkan operasi caesar, keguguran, susah saat melahirkan atau waktu kelahiran diperpanjang sehingga merusak vagina, di samping pemberian gurah.
“Prilaku seks dengan multiplel mitra seks, pemakaian bahan kimia dan virus human paviloma menjadi faktor resiko terjadinya kanker servik. Agar terhindar dari kanker servik harus menjauhi faktor resiko itu. Pemeriksaan kandungan sejak dini justru mencegah tumbuhnya kanker leher rahim,” tandas Kesumadana.
Pemeriksaan pap smear dapat dilakukan oleh semua wanita yang sudah pernah berhubungan seks. Biasanya, dilakukan 10 hari setelah haid dan saat melakukan pap smear 24 jam tidak boleh berhubungan terlebih dahulu. Dengan deteksi dini, harapan hidup penderita kanker leher rahim atau pra kanker (stadium 0) adalah 100%.
“Harapan hidup untuk penderita tingkat satu mencapai 75 persen, tingkat dua 50 persen, tingkat tiga 30 persen dan 7 persen stadium akut. Jika terdeteksi sejak awal ada gangguan di dalam vagina atau rahim maka harapan hidup lima tahun dapat dicapai 100 persen,” urai Direktur RS Kasih Ibu Denpasar itu.


0 komentar:
Posting Komentar