Judul : Neo Imperialisme Amerika Serikat
Penulis : Noam Chomsky
Penerbit : Resist Book, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : xxiii + 238 halaman
Peresensi : A. Zaenurrofik*
Sebagai seorang intelektual yang kritis terhadap pemerintahannya (Amerika Serikat), nama Noam Chomsky tak mungkin dapat dilupakan karena kian melejit dan kontroversial ketika suatu kali dalam sidang di PBB, Presiden Venezuela Hugo Chavez mengangkat salah satu karya Chomsky dan menganjurkan pada hadirin sidang untuk membaca. Apalagi maksud Chavez kalau bukan untuk menunjukkan bahwa berbagai tindakan AS di dunia layak untuk menyebut negara besar ini sebagai negara imperialis.
Membaca buku Noam Chomsky Neo-Imperialisme Amerika Serikat ini kita dibawa untuk memahami bagaimana AS melakukan dominasi imperialistik ke berbagai belahan dunia, dalam aneka bentuk operasi berdarah, manipulasi media hingga hegemoni terhadap dunia intelektual akademik.
Ketika suatu rezim tidak mendukung kepentingan korporasi bisnis AS, rezim itu harus dihalangi untuk membangun negara sesuai jalan yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Upaya menyingkirkan rezim melalui kudeta militer, biasanya dimulai dengan mengkondisikan konstelasi politik suatu negara, dan terjadi di banyak Negara. Di Indonesia misalnya, penggulingan Soekarno tahun 1966, penggulingan Salvador Allende di Chile, sandi bertajuk Operasi Jakarta tahun 1971, Venezuela yang menggulingkan Hugo Chavez tahun 2001 (yang akhirnya gagal) dan sebagainya.
CIA mengorganisir dan membiayai pasukan paramiliter seperti di kelompok pemberontak Contra di Nikaragua untuk melawan pemerintah Sandinista, --yang meskipun pemberontakan ini tak mampu merebut kekuasaan tetapi membawa efek untuk mendeligitimasi pembangunan ekonomi karena serangan Contra dan embargo AS yang berujung pada kalahnya Sandinista dalam Pemilu tahun 1990. Dari tahun 1945 sampai akhir abad XX, AS coba menggulingkan lebih dari 40 pemerintahan asing, dan menghancurkan lebih dari 30 gerakan populis nasionalis yang berjuang melawan rezim yang tak tertahankan. Dalam prosesnya, AS telah menyebabkan kematian beberapa juta orang, dan menghukum berjuta orang lagi dalam kehidupan yang penuh penderitaan dan keputusasaan.
Tanpa mengabaikan analisa Chomsky terhadap media sebagai bagian dari upaya AS mencapai tujuan, atau apa yang disebut Chomsky sebagai upaya merekayasa sejarah (historical engineering) itu. Teori media Chomsky membawanya pada upaya menyibak peran-peran tersembunyi CIA di negara-negara ketiga yang diiringi aksi kejam tanpa dibuka media massa.
Chomsky mengamati, media terlibat dalam merekayasa sejarah (historical engineering) kala ia melihat CIA dengan orang-orangnya mengendalikan media AS pada kasus kekerasan dan konflik di Amerika Tengah (yang melibarkan Nikaragua, Honduras, El Salvador dan Costa Rica ). Media yang dikontrol CIA secara intensif terlibat dalam proyek CIA yang melakukan tindakan ‘pengiblisan kaum Sandinista’ (demonizing Sandinista) dan membela negara-negara terror ciptaan Washington (Hal 77-78).
‘’Selama enam bulan pertama setelah penandatanganan kesepakatan, tak satupun artikel mengenai kasus Guatemala yang dimuat di New York Time [media andalan CIA!], dan nyaris tak ada satupun dimuat dalam media utama AS lainnya,’’’ demikian hasil penemuan yang disampaikan seorang perempuan ahli Amerika Latin, Susannhe Jonas.
Dalam sebuah ulasan mengenai media yang terdiri dari Times, Christian Science Monitor, Miami Herald dan Wall Street Journal sejak Oktober 1987 sampai Maret 1988, Alexander Cockburn menemukan sedikit komentar tentang Guatemala dan tak ada satupun yang menyebut kian meningkatnya kekerasan politik selama November (Hal 99). Mungkin itulah yang dinamakan Chomsky sebagai aksi ‘penyaringan’ berita, demi melolos-luluskan kepentingan kekuasaan.
*) Peneliti CSSR (Center for Social Science and Religion) Jawa Timur & penulis buku: Cina, Naga Raksasa Asia.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008
Penulis : Noam Chomsky
Penerbit : Resist Book, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, November 2008
Tebal : xxiii + 238 halaman
Peresensi : A. Zaenurrofik*
Sebagai seorang intelektual yang kritis terhadap pemerintahannya (Amerika Serikat), nama Noam Chomsky tak mungkin dapat dilupakan karena kian melejit dan kontroversial ketika suatu kali dalam sidang di PBB, Presiden Venezuela Hugo Chavez mengangkat salah satu karya Chomsky dan menganjurkan pada hadirin sidang untuk membaca. Apalagi maksud Chavez kalau bukan untuk menunjukkan bahwa berbagai tindakan AS di dunia layak untuk menyebut negara besar ini sebagai negara imperialis.
Membaca buku Noam Chomsky Neo-Imperialisme Amerika Serikat ini kita dibawa untuk memahami bagaimana AS melakukan dominasi imperialistik ke berbagai belahan dunia, dalam aneka bentuk operasi berdarah, manipulasi media hingga hegemoni terhadap dunia intelektual akademik.
Ketika suatu rezim tidak mendukung kepentingan korporasi bisnis AS, rezim itu harus dihalangi untuk membangun negara sesuai jalan yang tidak sejalan dengan kepentingan AS. Upaya menyingkirkan rezim melalui kudeta militer, biasanya dimulai dengan mengkondisikan konstelasi politik suatu negara, dan terjadi di banyak Negara. Di Indonesia misalnya, penggulingan Soekarno tahun 1966, penggulingan Salvador Allende di Chile, sandi bertajuk Operasi Jakarta tahun 1971, Venezuela yang menggulingkan Hugo Chavez tahun 2001 (yang akhirnya gagal) dan sebagainya.
CIA mengorganisir dan membiayai pasukan paramiliter seperti di kelompok pemberontak Contra di Nikaragua untuk melawan pemerintah Sandinista, --yang meskipun pemberontakan ini tak mampu merebut kekuasaan tetapi membawa efek untuk mendeligitimasi pembangunan ekonomi karena serangan Contra dan embargo AS yang berujung pada kalahnya Sandinista dalam Pemilu tahun 1990. Dari tahun 1945 sampai akhir abad XX, AS coba menggulingkan lebih dari 40 pemerintahan asing, dan menghancurkan lebih dari 30 gerakan populis nasionalis yang berjuang melawan rezim yang tak tertahankan. Dalam prosesnya, AS telah menyebabkan kematian beberapa juta orang, dan menghukum berjuta orang lagi dalam kehidupan yang penuh penderitaan dan keputusasaan.
Tanpa mengabaikan analisa Chomsky terhadap media sebagai bagian dari upaya AS mencapai tujuan, atau apa yang disebut Chomsky sebagai upaya merekayasa sejarah (historical engineering) itu. Teori media Chomsky membawanya pada upaya menyibak peran-peran tersembunyi CIA di negara-negara ketiga yang diiringi aksi kejam tanpa dibuka media massa.
Chomsky mengamati, media terlibat dalam merekayasa sejarah (historical engineering) kala ia melihat CIA dengan orang-orangnya mengendalikan media AS pada kasus kekerasan dan konflik di Amerika Tengah (yang melibarkan Nikaragua, Honduras, El Salvador dan Costa Rica ). Media yang dikontrol CIA secara intensif terlibat dalam proyek CIA yang melakukan tindakan ‘pengiblisan kaum Sandinista’ (demonizing Sandinista) dan membela negara-negara terror ciptaan Washington (Hal 77-78).
‘’Selama enam bulan pertama setelah penandatanganan kesepakatan, tak satupun artikel mengenai kasus Guatemala yang dimuat di New York Time [media andalan CIA!], dan nyaris tak ada satupun dimuat dalam media utama AS lainnya,’’’ demikian hasil penemuan yang disampaikan seorang perempuan ahli Amerika Latin, Susannhe Jonas.
Dalam sebuah ulasan mengenai media yang terdiri dari Times, Christian Science Monitor, Miami Herald dan Wall Street Journal sejak Oktober 1987 sampai Maret 1988, Alexander Cockburn menemukan sedikit komentar tentang Guatemala dan tak ada satupun yang menyebut kian meningkatnya kekerasan politik selama November (Hal 99). Mungkin itulah yang dinamakan Chomsky sebagai aksi ‘penyaringan’ berita, demi melolos-luluskan kepentingan kekuasaan.
*) Peneliti CSSR (Center for Social Science and Religion) Jawa Timur & penulis buku: Cina, Naga Raksasa Asia.
KPO/EDISI 163/NOVEMBER 2008


0 komentar:
Posting Komentar