Bidik Pengalaman Mandiri

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Outbound, wow sekarang sedang tren. Outbound adalah wisata alam yang menggabungkan kegiatan rekreasi yang menyenangkan dan permainan yang memacu adrenalin serta penuh tantangan. Sekolah-sekolah tertentu mulai dari tingkat TK, SD hingga SMU bahkan juga perguruan tinggi selalu mengikutsertakan kegiatan ini pada program-program yang mereka buat. Tak hanya di sekolah, beberapa perusahaan atau di lingkungan perkantoran ada juga yang menjadwalkan untuk ber-outbound ria.
Outbound sekarang ini menjadi rekreasi yang sangat menyenangkan. Tak hanya sekolah atau lembaga tertentu yang tertarik dengan wisata outbound, banyak keluarga memutuskan liburan akhir pekannya ke tempat wisata dengan fasilitas outbound-nya.
Di Jakarta banyak tempat menarik untuk wisata outbound, salah satunya ada di pinggiran Kota Jakarta bernama Taman Wisata Situ Gintung D’Palma Cireundeu Ciputat. Terdapat udara yang sejuk, suasana yang tenang, dan lengkap dengan fasilitas rekreasi keluarga termasuk sarana outbound.
Taman wisata ini tersembunyi di balik keramaian Kota Ciputat yang lalu lintasnya macet saban hari itu. Dari luar, tempatnya kelihatan lebih mirip hutan kecil. Tapi begitu kaki melangkah ke dalam, pohon-pohon pinus besar itu seakan membawa kita ke suasana pegunungan. Bila tak hujan, kesejukan udara di bawah pepohonan membuat pengunjung lupa masih ada hutan di tengah sebuah kota.
Kawasan wisata ini didominasi oleh danau kecil atau situ yang cukup luas berbentuk tapal kuda. Luasnya mencapai 21 hektare, terhampar tepat di belakang kampus baru Universitas Islam Negeri Jakarta.
Menurut Syarif Hidayatullah, salah satu pelatih dan juga instruktur outbound di Situ Ginting ini, kegiatan outbound meningkatkan rasa percaya diri, membuka wawasan baru dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial, dan bekerjasama dengan orang lain serta meningkatkan kemampuan kreatif dalam memecahkan masalah.
‘’Memang outbound memberikan pengalaman untuk mandiri, dan diharapkan terbiasa untuk menyelesaikan masalah serumit apapun, sehingga anak tidak cepat menyerah atau ‘cengeng’, sebentar-bentar panggil papa atau mama,’’ katanya.
Sedang kegiatan outbound pada masing-masing tempat rata-rata hampir sama misalnya melakukan perkenalan, membuat group, pokoknya melakukan aktivitas yang ditujukan untuk memecah kekakuan sehingga dapat mempersatukan peserta dalam satu suasana sebelum memulai aktivitas lainnya. Biasanya aktivitas dalam sesi ini merupakan aktivitas yang menyenangkan.
Sesi selanjutnya adalah memberikan motivasi yang bertujuan membentuk kepercayaan dalam kelompok. Sesi ini merupakan sesi paling penting. Jika sesi ini sukses, maka sesi lainnya kemungkinan besar akan sukses.
Terakhir, sesi inti dengan mengarungi rintangan dalam permainan. Sesi ini merupakan sesi yang paling panjang. Karena sesi ini dimaksudkan untuk melihat kualitas seseorang. Pada sesi ini, akan terlihat karakter asli masing-masing orang. Pada sesi ini juga konflik antar peserta akan muncul. Kegiatan untuk sesi ini biasanya bukan kegiatan yang terlalu berat. Meskipun begitu, kegiatannya sangat menguras energi. Karena tiap peserta diharuskan untuk berpikir.
Kegiatan di tiap sesi pun beragam. Mulai dari permainan, kegiatan kelompok, individu, kegiatan yang dilakukan di atas tanah hingga kegiatan ketinggian yang dilakukan di atas tanah. ‘’Ada ratusan permainan yang dapat digunakan. Bahkan, dari satu alat saja bisa muncul berbagai macam permainan,’’ kata Syarif.
KPO/EDISI 151/MEI 2008

Keras Itu Enak

thumbnail
Tanya:
Akhir-akhir ini suami saya lembek dan loyo. Mungkin capek, kurang gizi atau apalah namanya, yang jelas pisangnya lembek seperti pisang rebus. Saya jadi mangkel. Karena untuk tembus saja susah. Perlu dibantu dan dituntun. Dan setelah masuk, dia tidak tahan alias peltu (nempel metu). Saya sering ngambek. Mohon saran.
Dari: Ayu Wati, Denpasar.

Jawab:
Memang masalah gituan keras itu enak. Lain dengan ketupat. Ketupat yang keras tidak enak, tapi ketupat yang lembek enak rasanya. Saya sarankan suami anda minum madu royal jelly, perlu istirahat dan relaks. Jika gagal jangan diledek. Perlu dorongan moral untuk membangkitkan kepercayaan diri. Kalau masih lembek jangan dipaksakan berlaga. Biarkan sidia mengeras alami. Mungkin perlu dielus-elus agar jinak. Seperti burung perkutut, yang rajin dielus dan diceteti, akan rajin manggung lama, meski tidak disuruh. Ya, karena sudah percaya diri. Saat itulah mata ibu bisa merem -melek, karena si perkutut yang jinak, rajin manggung keras-keras. Memang keras itu enak. Tapi jangan terlalu keras dan bermain keras. Nanti bisa berdarah. Haaa...!
KPO/EDISI 151/MEI 2008

JPS Stop, Rumah Gaul YPI Jalan Terus

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Sejak dana jaring pengaman sosial (JPS) dinyatakan berakhir di tahun 2002 silam, banyak program rumah singgah terpaksa ikut-ikutan berhenti dan bubar, baik yang dibentuk di kota propinsi maupun kabupaten. Di Jakarta juga demikian. Hanya saja, khusus rumah singgah untuk anak jalanan (Anjal), Jakarta masih bernapas lega karena ada rumah singgah yang terus menancapkan misinya untuk membantu kaum Anjal. Yayasan Pelita Ilmu (YPI), yang berada di jalan Kebon Baru IV Tebet, Jakarta Selatan hingga kini masih konsen dengan anak jalanan yang sudah sampai menyeberang hingga ke penyalahgunaan narkoba dan penyakit HIV.
Fokus kepedulian yang dibidik YPI dengan mendirikan rumah singgah ini tidak terlepas dari adanya pengamatan bahwa Anjal merupakan kelompok masyarakat yang sangat rawan terhadap bahaya narkoba dan seks bebas. Karena itu, kepada mereka (Anjal, --Red) wajib diberikan edukasi dini tentang kedua masalah tersebut.
Djadjat Sudradjat, salah satu koordinator program YPI menjelaskan, sejak didirikan tahun 1989, YPI sudah konsen terhadap pendidikan dan kesehatan masyarakat khususnya kaum remaja. Berbagai penyuluhan tentang Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV masih gencar dilakukan hingga kini dengan menyasar kaum pelajar.
Sejalan dengan waktu, YPI menambah program layanannya dengan berperan aktif menekan masalah-masalah narkoba di kalangan remaja, --kelompok masyarakat di perkotaan yang cukup rentan terpengaruh terhadap barang haram tersebut. Upaya penyadaran dini terhadap remaja diawali dengan bekerja sama sekolah-sekolah dan melebar ke remaja-remaja yang suka nongrong di mall-mall serta berkembang kepada anak jalanan yang identik dengan nyamen, dagang dan lain-lain.
‘’Misi inilah yang mendorong kami untuk terus berkiprah di rumah singgah YPI. Sebagaimana kita ketahui anak jalanan ini sangat rawan dengan narkoba dan HIV karena kehidupan mereka cukup bebas di jalanan. Karena itu kita fokus melakukan edukasi kepada mereka melalui rumah singgah ini. Tapi kita menyebutnya rumah gaul. Istilah ini untuk menggugah mereka datang dan kita dapat memberikan edukasi tentang bahaya narkoba dan HIV atau AIDS. Mereka juga diberikan berbagai keterampilan sesuai kesukaan mereka,’’ katanya.
Menurut pengamatan tim YPI, sebut Sudrajad, awal mula anak jalanan tertarik untuk mencoba konsumsi narkoba dipicu oleh keseringan mereka merokok dan coba-coba campur narkoba, minum-minuman keras hingga sampai pergaulan bebas. Bahkan beberapa kasus yang dialami Anjal di bawah umur, mereka justru dijadikan kurir perdagangan narkoba. ‘’Ini lebih berbahaya lagi. Karena itu di rumah singah ini kita memberikan pengetahuan tentang dampak buruk narkoba dan meminta mereka untuk tidak terlibat dalam jalur perdagangan narkoba,’’ katanya.
Selain itu, YPI juga memberikan aneka pelatihan seperti komputer bagi mereka yang pernah putus sekolah, bermain musik, band dan teater. Sedangkan bagi mereka yang masih di bawah umur diikutkan ke dalam program Calistung (baca, tulis dan berhitung).
Dari beberapa program yang dimiliki Rumah Gaul YPI, olah vokal dan kursus musik banyak yang mendapat respon dari para pengamen. ‘’Mereka butuh wadah untuk mengekspresikan darah seni mereka. Rencananya, kita juga memberikan bantuan modal kepada mereka yang benar-benar berprestasi. Walau tidak berupa uang tetapi dengan kebutuhan peralatan yang mereka butuhkan Misalnya yang melirik usaha sablon, kita berikan cat dan alat menyablon. Begitu juga mereka yang suka musik atau membuat kue,’’ ujar Sudrajad.

SOKSIOLOGI: Sekali Lagi, Fokus

thumbnail
Oleh: Pak Oles
Kita harus banyak belajar dari ilmu fotografi, yang sering dipraktekkan para tukang foto. Dia selalu gesit dan sigap mengejar dan menangkap momen-momen untuk dibidik. Jika terlambat atau lebih awal menjepret, jelas tidak pas momennya. Jika orang cantik seperti bidadari difoto saat menguap, kecantikannya tidak terlihat di foto hasil jepretan karena bibirnya dower, lubang hidungnya mengembang, mulutnya menganga dan mata menyipit. Jika orang kurang cantik dengan hidung agak pesek difoto saat tersenyum, dengan mata mengerling manja, tentu hasilnya akan lain, lebih cantik dari aslinya.
lmu yang patut dipelajari dari tukang foto itu adalah fokus, --fokus pada objek, cepat, tepat dan pas. Cepat gerakan untuk merespon dan mengumpan, tepat sasaran sesuai tujuan, dan pas waktu sesuai kebutuhan. Dari tukang fotolah kita harus belajar bekerja karena jika salah satu dari ketiga factor --cepat, tepat dan pas-- tidak dipenuhi, akan sia-sia sebuah pekerjaan. Di zaman kompetisi yang serba cepat, segala hal yang berbau lambat pasti ketinggalan jaman dan kereta. Zaman efisiensi mengharuskan serba tepat pasti segala hal yang bersifat tidak pasti dan ragu-ragu akan bangkrut. Karena di zaman yang mengenal waktu adalah uang dan kesempatan, jika tidak pas, pasti akan kehilangan momentum, energi pun habis percuma.
Sama halnya dengan tukang foto yang memiliki kamera bermasalah seperti lensa tidak bisa fokus, hasil foto jelas kabur dan buram. Meski tukang fotonya canggih dan sigap, jika lensa kamera tidak fokus, hasilnya pasti tidak berguna. Dari tukang fotolah kita belajar bahwa bekerja dengan fokus itu penting, untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat.
Kalau demikian penting dan mudah berpikir dan bertindak fokus untuk suatu keberhasilan, mungkin perlu bertanya dari mana datangnya fokus dan bagaimana caranya fokus. Sama halnya dengan kamera, --fokus kamera datang dari kamera itu sendiri, dari pabriknya. Caranya agar kamera bisa tetap fokus, tentu dirawat, jangan kena benturan, hindari debu dan lembab. Jadi bertindak dan berpikir fokus itu sudah ada di dalam diri, bukan dari orang lain, sekalipun lingkungan mempengaruhi. Yang terpenting adalah fokus bersumber dari dalam diri dan cara agar tetap fokus merupakan tugas setiap kita untuk mengasah setiap hari, -- belajar, bekerja dan berdoa merajut satu tujuan.
Sebuah prestasi yang tinggi pasti dilandasi pikiran, perkataan dan perbuatan yang fokus. Sebaliknya prestasi yang biasa-biasa dan jeblok, pasti juga dilandasi pikiran, perkataan dan perbuatan yang tidak fokus. Jadi sumber fokus adalah pikiran, yang menuntun perkataan dan perbuatan menuju fokus. Bila pikiran tidak fokus, pasti pekerjaan yang dihasilkan juga tidak fokus alias kurang maksimal (gagal). Orang yang paling tahu apakah pikirannya fokus atau tidak adalah dirinya sendiri, bukan orang lain. Orang lain hanya bisa melihat penampilan luar dan hasil akhir. Bisa saja penampilan luar seseorang kurang meyakinkan, tapi jika hasil akhirnya meyakinkan, pasti dia fokus. Bisa saja jika hasil akhir mengecewakan, tapi jika dalam proses ada perbaikan menuju kesempurnaan, pasti dia fokus.
Sebaliknya jika hasil sebuah karya secara kontinyu mengecewakan, berada di ambang batas, menyerah, pasrah dan ngedumel atau cenderung menuduh lingkungan sebagai penyebab ketidak-berhasilan, pasti tidak fokus. Ibarat pepatah, dalamnya laut bisa diduga, tetapi dalam pikiran siapa yang tahu. Marilah kita belajar dari sinar laser. Dengan kekuatan listrik yang sangat rendah bisa memotong baja. Tanya Kenapa?
Jawabannya karena fokus. Kekuatan fokus tidak bisa dianggap remeh. Dia bisa memindahkan gunung, menguatkan mental, menahan sakit, mengalahkan musuh atau mencapai target. Jika tidak fokus, tenaga dan mental jadi lemah, cengeng menahan sakit, dikalahkan pesaing atau target tidak pernah tercapai. Bila tidak mencapai target, bukan targetnya yang salah, tapi karena pikiran tidak fokus pada target. Ibarat pemburu menembak burung, target adalah objek burung. Bagaimanapun dekatnya burung, jika si pemburu tidak fokus, peluru pasti melenceng. Ya, yang terjadi justru menembak angin.
Pikiran fokus hendaknya dipraktekkan setiap individu untuk mengasah diri mencapai keberhasilan. Karena apapun yang dikerjakan, jika tidak dilandasi pikiran fokus pasti hasilnya tetap mengecewakan. Di sini, pikir hanya pada satu objek, jangan melirik-lirik. Tentu objek yang dipikirkan adalah yang diyakini secara lahir dan batin.
Cukup satu objek tapi objek yang mantap. Untuk bisa menetapkan satu objek yang mantap diperlukan perenungan dan perdebatan batin. Di ujung serangkaian perenungan ada jawaban dari suara hati untuk menerima atau menolak objek itu. Keyakinan akan tujuan merupakan syarat berpikir fokus. Kita harus cepat berpikir tapi lambat bertindak. Karena tindakan yang dilakukan jika diawali pikiran yang matang akan menghasilkan tujuan dan motivasi yang kuat. Jangan lakukan terbalik. Cepat bertindak, lambat berpikir. Tentu akan menghasilkan penyesalan karena masalah akan datang bertubi-tubi, akibat tindakan lambat berpikir dan cepat bertindak. Itulah salah satu ciri orang tidak fokus.
Apa yang membedakan artis yang karirnya melejit dan terus menanjak dengan artis yang merangkak, jatuh bangun, kawin-cerai? Jawabannya ada pada fokus. Orang yang fokus akan tumbuh dan berkembang. Sebaliknya orang yang tidak fokus akan jatuh bangun. Dalam bidang pekerjaan apa saja yang ditekuni, harus fokus. Seorang pemimpin keluarga, pemimpin perusahaan, pemimpin spiritual, menteri atau presiden akan jatuh terjerembab jika tidak fokus. Hanya saja dirinya yang bisa mengetahui penyebab tidak bisa fokus. Apakah karena uang, seks, jabatan atau faktor lain. Skandal korupsi, perselingkuhan atau intrik jabatan sering menjebloskan karir seseorang ke pintu lain karena tidak fokus pada pekerjaan.
Adanya doa di dalam kerja memperkuat fokus. Hanya saja, apakah setiap kita sudah memberikan kekuatan doa di dalam kerja? Kalau kurang atau belum, fokus kita mudah goyah. Berdoalah kepada Tuhan, untuk memohon keteguhan hati agar pikiran tidak mudah goyah ke kiri atau ke kanan agar segala tugas yang dilakukan selalu berada dalam jalanNya. Agar hati siap, bisa menyanyi dan menari sambil bekerja, tidak menangis, miris dan meringis. Agar hati siap setia dalam bekerja, menghadapi tantangan, maju menyelesaikan masalah, bukan lari dari masalah, lempar handuk atau lempar batu sembunyi tangan. Seperti Yesus pernah berkata dalam Lukas 9:62, Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk kerajaan Allah. Untuk itulah kita harus fokus. Maju terus pantang mundur. Selalu siap tunaikan tugas dalam jalanNya.

Di Dunia; 40 Persen Wanita Alami Gangguan Orgasme

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Tahukah anda jika aktivitas seks dapat memicu terjadinya ketidaksuburan pada pria dan wanita? Kebanyakan dari kita hanya mengetahui jika penyebab ketidaksuburan, datang dari zat kimia atau kondisi dalam tubuh yang bermasalah. Nyatanya, aktivitas seksual dapat mengantar masyarakat menjadi infertile (tidak Subur). Dalam seminar Hubungan Aktifitas Seksual Dengan Infertilitas, yang diadakan RSIA Puri Bunda di Hotel Nikki baru-baru ini, terungkap adanya korelasi antara aktivitas seksual dengan infertilitas seseorang.
Menurut dr Made Suyasa Jaya, SpOG, penyebab terjadinya ketidaksuburan seseorang dipicu oleh banyak faktor. Pada esensinya, sehatnya fungsi seksual menyangkut 3 tahapan primer antara lain hasrat, ereksi dan orgasme. Disfungsi seksual terjadi jika mengalami gangguan pada salah satunya. “Faktor utama penyebab disfungsi seksual dikarenakan psikologis pasien atau pikiran pasien dan bukan alat vital. Sekitar 40 persen wanita di dunia mengalami gangguan orgasme. Kegagalan untuk berhubungan seksual, hubungan seksual yang jarang, disfungsi ereksi atau ejakulasi baik dini maupun lambat dan vaginismus atau dyspareunia pertanda adanya gangguan kesuburan pasutri,” jelas dokter spesialis kandugan RSIA Puri Bunda Denpasar ini.
Adanya gangguan orgasme dan ejakulasi dini ditengarai dapat menimbulkan infertile. Namun banyak dokter yang memeriksa pasien lebih pada penyebab penyakit yang diderita. Jarang dokter menelusuri penyebab timbulnya penyakit lebih lanjut. ”Biasanya kami sering memeriksa permasalahan infertile pasien hanya dengan mencari tahu melalui kandungan atau penyebab tidak suburnya seseorang dari segi medik. Kita sering lupa jika masih ada faktor penentu terjadi infertile yang lain. Kebiasaan seseorang dalam melakukan hubungan seksual merupakan salah satunya,” ujarnya
Selain hubungan seksual, pemeriksaan infertilitas dapat mempengaruhi seksualitas. Perasaan malu dan takut kerap mendera seorang pasien untuk memeriksakan kandungan. Rasa marah, takut, panik, putus asa dan sedih justru lebih berdampak buruk pada aktivitas seksual. Pemeriksaan PCT (tes kualitas sperma untuk penetrasi ke leher rahim) dan Pengulangan SA (cek sperma) dapat berakibat pada kemampuan seorang pria untuk melakukan ereksi atau ejakulasi jika berada di bawah tekanan.
“Disfungsi seksual dapat diakibatkan oleh pemeriksaan kesuburan. Sebab ketika diperiksa cenderung merasa panik dan takut. Rasa marah, takut, panik, stres dapat menimbulkan dampak pada kualitas seksual. Hal ini kian memicu infertilitas,” jelas pria asal Singaraja.
Untuk mengatasi permasalahan disfungsi yang kerap mendera pasutri, bisa melalui latihan otot dan terapi psikis. Senam kebugaran untuk terapi pada pria dengan melatih otot alat vital. Merubah cara berpikir atau berpikir positif dapat membantu menumbuhkan fungsi seksual dengan baik.

Kecantikan Wanita Harus Luar Dalam

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Cantik dan menarik merupakan impian setiap wanita. Karena itu, berbagai cara dilakukan hanya untuk tampil cantik meski tidak sebatas tampak dari luar belaka, tetapi harus terpancar dari dalam dan luar. Kecantikan sejati wanita meliputi dimensi fisik, psikis, sosial dan spiritual. Keempat dimensi tersebut harus terintergrasi secara seimbang. Belum banyak wanita yang menyadari pentingnya mengembangkan empat faktor itu untuk tampil cantik.
Mantan model Indonesia, Dra Okky Asokawati, Psi dalam seminar yang diadakan Salon Talita, “Wanita, Etika dan Cantik Sepanjang Hari” di Hotel Nikki, coba memberi pemahaman tentang kecantikan wanita secara hakiki.
Asokawati mengatakan, cantik tidak harus identik dengan penampilan luar seperti mulus, putih dan tanpa keriput. Kecantikan yang sempurna terlahir dari pengembangan faktor psikis, pikiran positif, sosial dan spiritual yang bagus. Seorang wanita yang lebih mengutamakan fisik, cenderung bersifat negatif terhadap orang lain.
“Tampil cantik harus memenuhi empat kriteria kecantikan yaitu fisik, psikis, sosial dan spiritual. Sehingga dapat membawa diri dalam setiap pergaulan dengan orang lain. Wanita yang mengutamakan kecantikan luar cenderung hidup dalam ketidaknyamanan. Sebab pergaulan mereka dibatasi dengan melihat sebatas penampilan orang lain, sepadan atau tidak dengan dirinya,” kata Direktur OQ Modeling ini.
Cermin kecantikan wanita, antara lain dapat dilihat dari cara berinteraksi dengan orang lain. Asokawati menjelaskan tampil cantik harus memperhatikan hal relasi dengan orang lain. Sebab saat berhadapan dengan orang lain, baik atau buruknya seseorang dapat terlihat. “Hal yang perlu dilakukan dalam berhubungan dengan masyarakat yaitu dengan menganggap semua manusia egois, semua lebih tertarik kepada kepentingan sendiri, setiap orang merasa penting dan setiap manusia ingin mendapatkan persetujuan dari orang lain. Untuk itu kita perlu berada di tengah-tengah. Bila hal itu diterapkan maka dalam berhubungan dengan orang lain lebih muda bergaul dan mendapat respon positif dalam bergaul. Hal itu sudah mencerminkan pribadi yang cantik dan beretika,” tegasnya.
Tampil cantik juga harus memiliki rasa percaya diri. Banyak wanita, khusunya ibu-ibu merasa tidak yakin dengan penampilannya sehingga merasa kurang percaya diri di mata keluarga maupun di dalam masyarakat. Untuk menjadi pribadi yang percaya diri dibutuhkan pemikiran positif terhadap diri sendiri dan orang lain.
“Rahasia untuk tampil dengan percaya diri harus mengetahui jika selalu dicintai dan hidup dengan bergelimang cinta, menolak untuk hidup dengan rasa takut, berpikir positif, segera pulih dari keterpurukan, menghindari untuk membandingkan diri dengan orang lain dan tidak memperpanjang angan-angan. Bertindak dengan mempertebal iman dan percaya dengan kuasa Tuhan maka kebahagiaan dan kecantikan diri akan terpancar,” jelas presenter kondang ini.

Madu Plus Ramuan Herbal Sembuhkan Diare

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Diare dapat menyerang siapa saja. Penyakit yang diakibatkan karena kurangnya menjaga kebersihan ini bisa mematikan. Tak kenal umur, jenis kelamin dan strata sosial bisa meninggal akibat diare. Selain wajib menjaga kebersihan, penanganan pertama jika terserang diare juga perlu diperhatikan. Karena diare yang terus menerus dapat mengakibatkan hilangnya cairan tubuh.
Tak perlu menggunakan obat kimia, obat herbal yang aman dan mudah bisa kita buat sendiri. Bahan yang paling utama adalah daun jambu kluthuk (jambu biji). Telah kita ketahui bersama khasiat dari daun jambu biji ini. Yaitu membantu membersihkan bakteri penyebab diare. Dan juga membantu menghentikan diare. Untuk lebih mendapatkan hasil yang maksimal, dibutuhkan juga madu, kunyit segar dan daun meniran.
Menurut dr Adji Suranto, SpA., dalam bukunya Khasiat dan Manfaat Madu Herbal, tidak semua madu bisa digunakan. Madu yang cocok digunakan sebagai campuran ramuan ini, lanjut dr. Adji adalah madu lengkeng, karet atau kapuk. Karena madu tersebut berwarna pekat. Dan mengandung senyawa yang dapat meningkatkan nafsu makan. Daun meniran berfungsi sebagai penambah nafsu makan. Sedangkan kunyit yang mengandung minyak atsiri juga mampu mengatasi gangguan pencernaan.
Semua tanaman herbal tersebut dapat kita jumpai disekitar kita. Sehingga memudahkan dalam membuat ramuan saat kita terserang diare. Bahan yang dibutuhkan pun jumlahnya tak terlalu banyak. Cukup dengan 2 ibu jari kunyit, 20 lembar daun jambu kluthuk, 50 gram daun meniran segar dan ½ gelas madu. “Sebisa mungkin daun jambu kluthuk maupun daun meniran dipilih yang segar. Tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua,” ungkap dr. Adji.
Pembuatannya relatif mudah dan tidak butuh waktu lama. Daun jambu kluthuk, daun meniran dan kunyit dicuci bersih lalu dihancurkan. Cukup dipukul-pukul menggunakan martil, tak perlu sampai halus. Setelah itu direbus dalam 500cc air hingga volumenya menjadi satu gelas. Setelah matang, air rebusannya disaring dan diambil airnya. Tunggu hingga air rebusan sedikit hangat baru ditambahkan ½ gelas madu dan diaduk hingga rata. “Ramuan ini dapat diminum kapan saja dan sesering apapun. Tergantung dari kondisi tubuh,”pungkas dr. Adji.

Pohon Sialang Jadi Istana Lebah

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Pernah dengar madu sialang atau madu hutan sialang? Madu sialang adalah madu yang dihasilkan lebah yang menghuni pohon sialang. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang dimaksud dengan pohon sialang itu? Pohon Sialang adalah sebutan bagi pohon tinggi besar yang dihuni oleh puluhan sarang lebah.
Seperti yang dilihat media ini ketika kunjungan ke hutan Muara Enin di Palembang Sumatera Selatan, tinggi pohon sialang ini rata-rata 50 m atau lebih dengan garis tengah batang 2 m atau lebih. Kebanyakan berdaun kecil sehingga kalau angin bertiup, tak gampang tumbang oleh topan badai.
Beberapa contoh pohon sialang adalah pohon Benuwang Octomeles Sumatrana, Cempedak air Artocarpus Maingayi, pohon tualang Koompassia Parvifalia, Menggeris, jenis Kedundung, Batu, Balau, Kruing, Ara dan lain-lain yang bila disarangi lebah hutan (apis dorsata), masyarakat di Sumatera menyebut pohon Sialang. Di Kalimantan jenis ini terkenal sebagai pohon Tapang (penduduk menyebutnya pohon istana lebah)
Satu dahan bisa ditempati 20 sarang lebah. Pada satu pohon kadang bisa ditemukan 100-200 sarang dan menghasilkan 50 kg madu hutan. Biasanya, lebah hutan memilih cabang yang terbuka, bebas dedaunan, di daerah atasan pohon, tinggi dan besar.
Penduduk pinggir hutan selalu melestarikan pohon sialang yang tinggi besar tersebut. Bukan karena percaya bahwa pohon itu dihuni oleh roh halus, tetapi karena sarang lebah yang bergantungan pada dahannya bisa menghasilkan tambahan pendapatan. Karena itu, tidak ada orang yang dengan sengaja menebang sumber penghasilan semacam itu.
Di Palembang, pohon Sialang merupakan milik masyarakat secara bersama sesuai hukum adat. Panen madu hasil lebah dilakukan sesuai hukum adat dengan bagi hasil secara adil dan merata. Masyarakat Pangkalankuras (Jambi) misalnya, hasil madu dibagi porsi 20% untuk pekerja yang mengambil madu, 20% untuk kepala suku dan 60% dibagi kepada setiap anggota suku. Di Palembang biasanya dikuasai kelompok tani.
Keberadaan pohon Sialang adalah sumber daya alam untuk masyarakat lokal yang hidup di sekitar hutan. Pengelolaan hutan alam berkelanjutan yang dilakukan masyarakat dicerminkan dalam pemanfaatan potensi pohon Sialang. Pohon Sialang dan hutan-hutan tidak boleh diganggu atau dirusak siapapun. Kalau ini terjadi, adat setempat mempunyai aturan tak terulis yang memberlakukan sanksi. Sayangnya kebijakan ini mulai menghilang karena mendahulukan kepentingan yang lain.
Di Palembang, madu dari pohon Sialang dipatenkan oleh salah satu pengusaha perlebahan, Holda Herman dengan merek madu nasional Sialang, Produksi Billy Onyx Palembang-Indonesia. Produksi madu Sialang Palembang ini sudah menembus manca negara.

Paling Banter 10 Menit

thumbnail
Putu Sri Cahyati
Macet merupakan pemandangan yang terus menghantui lalu lintas di kota-kota besar, termasuk Denpasar. Selain hiruk pikuk di jalan-jalan protokol, ruas jalan umum juga tidak luput dari ancaman salah satu penyakit lalu lintas. Biasanya, banyak warga yang tidak ingin menanggung derita pada jam-jam itu dengan memilih diam di rumah. Apalagi pada jam-jam sibuk, seperti pulang sekolah atau pulang kantor.
Bagi yang berstatus pelajar SMP, SMU sampai perguruan tinggi, jelas dituntut tepat waktu, agar terhindar dari hukuman yang diterapkan di setiap sekolah. Seperti yang dialami model cantik Putu Sri Cahyati. Karena rumahnya tergolong jauh dari sekolah, bajang kelahiran 31 Oktober 1992 ini sering kena sanksi karena terlambat masuk kelas. ‘’Bukannya sih malas. Namun kemacetan yang berulang-ulang terjadi membuat aku terlambat. Ya, tidak ada cara lain selain terlambat tiba di sekolah. Terlambatnya tidak sampai lama kok, paling banter hanya 10 menit saja,'' buka salah alumnus SMA Dwijendra Denpasar itu.
Minimnya sarana transportasi, menurut Cahya begitu dia akrab disapa jadi penyebab utama kemacetan di kota Denpasar. Bahkan Cahya menilai, program pedestrian jalan yang dilakukan pemerintah di sekitar areal sekolah kurang memperhatikan kondisi riil yang terjadi. Menurutnya kondisi jalan di Denpasar sekarang ini sudah sangat sempit sehingga bila dirombak dengan pelebaran trotoar tentu lebih mempersempit lagi ruas jalan yang ada.
(JULI ARSANA)

BIODATA:
Nama Lengkap : Putu Sri Cahyati
Panggilan : Cahya
TTL : 31 Oktober 1992
Pendidikan : Fakultas Ekonomi Univ Udayana, Smt I
Agency : C & C Agency
Orang Tua : Nengah Waskita & Ni Nyoman Seruti
Alamat Rumah : Jl Tukad Yeh Aya Gg. 9 H1/27
Motor Favorite : Yamaha Mio
Lokasi pemotretan : Jak Resto Handle Bar & Grill, Sunset Road Kuta
Fotografer : Gede Sustrawan/Putu Wirnata.
KPO/EDISI 151/MEI 2008







Instalasi Spontan Power Pada Mazda E 2000

thumbnail
Pemasangan Spontan Power pada Mazda E 2000 hampir mirip dengan pemasangan Spontan Power pada kendaraan Suzuki (Katana, Escudo, Vitara & Sidekick) yaitu pemasangan sebelum filter bensin yang terletak di bagian bawah dekat dengan chasis (bagian kanan belakang).
Alat-alat yang perlu disiapkan: Spontan Power jenis bensin, klem bensin dua buah dan tali krek plastik dua buah.
Langkah-langkah pemasangan.
Naikkan kendaraan di jembatan penggantian oli atau kar life. Perhatikan instalasi BBM. Pada kendaraan Mazda E 2000 yang dari tangki menuju filter bensin. Dari filter bensin menuju karburator (Gambar I). Selang dari tangki menuju filter bensin in. Potong selang sesuai panjang bodi Spontan Power kira-kira 12 cm.
Sisakan selang kira-kira 5 cm pada ujung nepel in filter bensin. Hubungkan dengan Spontan Power (Gambar II). Setiap sambungan dikeraskan dengan klem bensin, ikatkan Spontan Power pada chasis. Spontan Power siap digunakan.
KPO/EDISI 151/MEI 2008

Kang Mas Bak HD Choppers

thumbnail
Honda Tiger ‘2003, Jakarta
Modifikasi Honda Tiger, umumnya bergaya Street Fighter atau tampilan motor sport. Namun di tangan Robert, si Tigi dibuat lebih tinggi derajatnya – tampil ala HD Choppers. Walhasil, gubahan builder bengkel Dejavu Cyles ini sengaja dibuat untuk mengikis idiom Tigi yang selalu identik dengan model sport.
Untuk ubahan kali ini Robert tak main-main. Referensi digodok dari berbagai majalah terbitan luar negeri, internet, sampai berdiskusi dengan pakar moge custom tanah air – Bingky Ignatius builder Bikers Station. Hal tersebut terlakon guna menghadirkan hasil yang sempurna, baik dari segi keamanan, kenyamanan serta keindahan motor yang dirakit. ‘’Gue cari referensi dari banyak sumber, agar aman saat digunakan. Gue nggak mau nantinya terjadi apa-apa pada motor yang dibangun,’’ terang Robert dengan nada serius.
Melalui ilmu yang diperoleh, badan si macan dirombak ulang. Mulai dari rangka utama, tangki, jok, stang, sparboart, serta suspensi rigid di belakang dipermak ala chopper. Kesempunaan modifikasi adalah obsesinya. Operan gigi dibuat model tangan dan transmisi menggunakan system Shifter. Buritan tak lupa disentuh. Selain moulding spartboart tampilan buritan diperkuat Exhaust handmade kreasi bengkel Dejavu Cycles. Untuk putaran roda, Robert cukup mengaplikasikan ban Metzler, yang mengawal pelek standart Tigi di depan dan pelek ZX 400 dengan dimensi lebar di belakang. Tampilan depan cukup diperkuat lampu pasing lamp HD.
emas. ‘’Motor ini memiliki nama Kang Mas, karena ada ornamen warna emas. Inilah modifikasi untuk mem Sebagai tahap akhir, seluruh bodi dilabur cat merah maron, sedangkan stang warna gelap dan kaki-kaki disemprot warnaupus Honda Tiger yang imejnya selalu identik tampilan sport,’’ pungkas pentolan Dejavu Cyles ini.
(DEDI PRIYONO)

Data Modifikasi:
Shock blkng : Rigid Hand made “Dejavu Cycles”
Pelek blkng : ZX 400
Ban dpn/blkng : Metzler

Lampu depan : Pasing lamp ko
Lampu blkng : Variasi
Rangka : Hand made “Dejavu Cycles”
Pustep depan : Yoshimura
Knalpot : Hand made “Dejavu Cycles”

Tangki : Hand made “Dejavu Cycles”
Stang : Hand made “Dejavu Cycles”
Rake : 52 derajat
Cakram blkng : Zx 400
Trasmisi : Shifter

Pengerjaan : Bengkel “Dejavu Cycles” Tanggerang 021 98766993
KPO/EDISI 151/MEI 2008

APLIKATOR: Irit BBM Pakai Spontan Power

thumbnail
Nama : Tatik
Umur : 20 Tahun
Pekerjaan : Karyawan
Alamat : Tuban, Denpasar
Kesan :
Motor saya Suzuki Smash lumayan boros bensin, terutama untuk perjalanan jauh. Kebetulan tetangga saya bekerja di Pak Oles menawari Spontan Power untuk motor. Saya coba memasangnya pada motor Smash saya. Hasilnya luar biasa. Motor saya jadi lebih irit, handal dan mesinnya gak cepat rusak. Saya juga memakai Hexon vitamin oli mesin untuk perawatan kendaraan agar lebih awet.

KONSULTASI: Beda Cara Kerja SP & Kudo

thumbnail
Rubrik ini diasuh oleh Drs Yunus Sugianto, staf ahli produk PT Pak Oles & Biotor Technology. Pembaca dapat mengirim pertanyaan soal kinerja dan aplikasi Spontan Power, Hexon dan Kudo ke email yunus_biotor@yahoo.com atau sms ke Tlp 08873852310 atau datang ke Bengkel Pak Oles Jl. Pulau Kawe, Gang II, No 7, Denpasar.

TANYA:
Pak Yunus baru-baru ini saya membaca Tabloid Montorku dan saya tertarik dengan Produk Biotor. Hanya saya masih bingung tentang kesamaan fungsi Spontan Power & Kudo dalam hal pengiritan BBM. Bagaimana cara kerjanya? Tolong dijelaskan.
Dari: Bapak Suyanto, Jl Gajah Mada, Semarang, Jateng

JAWAB:
Terima kasih atas pertanyaan dari Bapak Suyanto di Semarang. PT Pak Oles & Biotor Technology memproduksi tiga produk yang berhubungan langsung dengan otomotif:
1. Spontan Power
2. Kudo (Vitamin BBM)
3. Hexon ( Vitamil Oli Mesin)
Ketiga jenis produk di atas yang mempunyai fungsi yang sangat mirip adalah spontan Power dan Kudo (vitamin BBM). Kedua produk tersebut sama-sama dapat memurnikan bensin maupun solar dengan memecah molekul-molekul BBM menjadi lebih kecil sehingga proses pembakaran menjadi lebih sempurna.
Perbedaan kedua Spontan Power & Kudo terletak pada cara kerja. Spontan Power memurnikan BBM melalui sistem getar gelombang elektromagnetik dan filter keramik dengan jangka pemakaian 5 tahun (450 ribu) km. Sedangkan Kudo memurnikan BBM dengan cara memberikan vitamin antioksidan untuk BBM yang bermanfaat untuk menghemat BBM, menjaga karburator, injektor dan bosch pump tetap bersih, serta mencegah pembentukan kerak, korosi, dan karat pada aliran BBM. Pemakaian Kudo harus sesuai takaran yang telah ditentukan dan pencampuran Kudo dengan BBM harus merata. Sebagai vitamin BBM, Kudo menjadi produk alternatif bagi kendaraan produksi Eropa yang tidak bisa menggunakan Spontan Power karena selang BBM terbuat dari pipa (patent) yang tidak memunginkan untuk dipotong.

Antrean Minyak Tanah

thumbnail

KPO/EDISI 151/MEI 2008

Fenomena Album Kondom

thumbnail
Oleh: Saiful Amin Ghofur*
Setelah ribut-ribut album Slank dengan lagu “Gosip Jalanan” yang dinilai Badan Kehormatan (BK) DPR melecehkan anggota dewan yang terhormat mulai mereda, kini blantika industri musik kita kembali diguncang prahara. Album Julia Perez bertajuk “Kamasutra” yang disertai kondom sebagai bonusnya telah menuai kontroversi. Menteri Negara Pemberdayaan Wanita, Meutia Hatta, dan Lembaga Sensor Film (LSF) yang diketuai Titi Said, tak urung kebakaran jenggot. Perseteruan kian memanas hingga bergulir wacana pencekalan dan penarikan album “Kamasutra” dari pasar.
Baik Meutia Hatta maupun Titi Said menuduh Jupe, demikian ia akrab disapa, tengah membangun kampanye seks bebas dengan atraksi penyertaan kondom dalam penjualan albumnya. Tentu tuduhan tersebut cukup masuk akal sebab karet pelindung elastis seukuran ibu jari orang dewasa itu menjadi kian mudah didapat. Siapapun yang membeli album, tak pandang usia maupun status sosialnya, praktis mendapatkan kondom. Jika sudah begitu, tak ada ada mekanisme kontrol yang akurat terhadap penggunaan kondom. Di sinilah kekhawatiran legalisasi seks bebas menemukan relevansinya.
Namun tidak demikian dengan asumsi Jupe. Artis sensual yang sempat disebut-sebut sebagai ikon bom seks nasional itu justru berdalih bonus kondom di albumnya sebagai bagian partisipasi aktif terhadap gerakan kesadaran seks-aman (safety sex) sekaligus mematok target perlindungan dari penyakit kelamin menular terutama HIV/AIDS. Menurutnya, tak ada yang istimewa dengan langkah tersebut sebab grup musik Slank juga pernah melakukan hal serupa beberapa waktu silam.
Misinterpretasi
Kontroversi album “Kamasutra” Jupe sebenarnya berpangkal pada misinterpretasi. Langkah taktis Jupe dimaknai berbeda oleh pemerintah yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Meutia Hatta dan Titi Said. Terlepas dari kemungkinan adanya niat terselubung Jupe untuk mengerek popularitas dengan bonus kondom pada sistem pemasaran albumnya, iktikad baik Jupe perlu diapresiasi. Sebab fakta menunjukkan tingkat penyebaran HIV/AIDS, di mana perilaku seks bebas diindikasikan sebagai faktor penyebab utamanya, terus menanjak.
Menurut catatan Ditjen PPM&PL, Depkes, pada akhir Juni 2006 secara komulatif telah mencapai angka 10.859 kasus derngan rincian 6.332 penderita AIDS dan 4.527pengidap HIV. Yang lebih memprihatinkan adalah tingginya persentase penderita pada usia produktif (53,% kelompok usia 20-29 tahun dan sekitar 25,% pada kelompok usia 30-39 tahun).
Sejak lima tahun terakhir, jumlah penderita AIDS memang meningkat cukup tajam. Data yang dihimpun Asmuni (2006) menyebutkan bahwa jumlah kasus selama tahun 2005 hampir sama dengan total kumulatif kasus AIDS selama 17 tahun sejak 1987. Kasus AIDS sejak 1987 sampai dengan 2004 mencapai 2683 orang, sedangkan pada tahun 2005 jumlah penderita AIDS tercatat sekitar 2638 orang. Setahun berikutnya, jumlah itu membengkak empat kali lipat menjadi 10.859 orang. Angka ini diperkirakan meningkat drastis di tahun berikutnya. Sungguh, jumlah yang amat fantastis.
Di Jawa Tengah sendiri selama lima tahun terakhir jumlah pengidap AIDS mencapai 275 orang. 251 orang positif terjangkit virus HIV dan selebihnya, 24 orang, dipastikan terserang AIDS. Dari 24 orang pengidap AIDS, 17 orang di antaranya telah meninggal dunia. Penderita AIDS ini tersebar sekurang-kurangnya di 10 kapubaten/kota di Jawa Tengah.
Semua data di atas menunjukkan bahwa, pertama, penyebaran HIV/AIDS berkembang dengan pesat dan meluas. Desa-desa yang seringkali diyakini steril dari virus tersebut, kini mulai merebak. Kedua, data di atas hanyalah jumlah orang yang teridentifikasi sebagai pengidap HIV/AIDS. Tentu saja, masih banyak jumlah orang yang terinfeksi virus ini di luar identifikasi pemerintah dan lembaga yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Data pengidap HIV/AIDS ibarat gunung es, yang tampak di permukaan hanyalah secuil namun di dasarnya begitu besar.
Mitra kerja
Fakta pilu tentang HIV/AIDS tersebut mesti diinsafi bersama. Karena itu, langkah Jupe tak semestinya disambut dengan geram. Fenomena Jupe sepatutnya ditangkap sebagai peluang menciptakan agenda bersama untuk meredam laju HIV/AIDS.
Jupe adalah representasi musisi yang juga terlanjur menjadi figur publik di dunia hiburan (entertainment). Dan, lazimnya musisi bisa diterima oleh publik terutama dari kalangan muda. Dengan mempertimbangkan fakta mayoritas penderita HIV/AIDS adalah kalangan muda, maka Jupe dan juga para musisi lainnya layak digandeng sebagai mitra kerja dalam perang melawan HIV/AIDS.
Para musisi kerap diidolakan oleh kalangan muda. Maka tak heran jika setiap kali konser musik digelar, pengunjung fanatik yang membludak kebanyakan adalah kalangan muda. Oleh sebab itulah, para musisi perlu dirangkul sekaligus terus dilibatkan dalam setiap kegiatan kampanye anti-seks bebas melawan HIV/AIDS dan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja.
Benang kusut kontroversi Jupe mesti segera diurai. Masing-masing pihak sepantasnya duduk berdampingan demi mengobarkan semangat perang terhadap HIV/AIDS, bukan terus berpolemik yang justru kontra-produktif.
*) Direktur Eksekutif Carpediem Institute Yogyakarta, tinggal di Bantul.

Proses Pemiskinan Dalam Pendidikan

thumbnail
OLEH: AHMAD FATONI*
Sejak dulu, para orang tua menganggap pendidikan sebagai sarana untuk meraih kepintaran dan kemandirian. Ini tercermin, di antaranya, pada wasiat kebanyakan orang tua di Jawa kepada anak-anak mereka: kabeh kuwe kudu sekolah ben pinter. Yen pinter iso golek pangan dewe (kalian semua harus bersekolah, biar pintar. Kalau pintar nanti kalian bisa hidup mandiri).
Tak heran, mulai pertama kali mahasiswa duduk di bangku kuliah, misalnya, di benaknya sudah tertanam niat untuk mencari kerja. Meminjam gagasan Paulo Freire, tokoh pendidikan asal Brasil, fungsi pendidikan senyatanya membebaskan manusia dari kebodohan dan kemiskinan. Namun di Indonesia, pendidikan yang selama ini diidealkan dengan upaya-upaya pembebasan manusia dari kebodohan dan kemiskinan, masih jauh panggang dari api.
Data terakhir menunjukkan, jumlah sarjana pengangguran di negeri ini melonjak dari 183.629 (2006) menjadi 409.890 (2007). Lantas, di manakah manfaat pendidikan? Mengutip penyair WS Rendra dalam sajak “Seonggok Jagung di Kamar”: Apakah gunanya seseorang/ belajar filsafat, sastra, teknologi, kedokteran, atau apa saja, bila pada akhirnya/ ketika pulang ke daerahnya,/ lalu berkata:/ “Di sini aku merasa asing dan sepi!”.
Saya tidak tahu apakah konsep deschooling society dari Ivan Illich juga merupakan jawaban atas apa yang ditanyakan Rendra itu? Apakah juga karena pertanyaan serupa, sehingga seorang Mahatma Gandhi memutuskan untuk tidak menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah formal, dan memilih mengajar anak-anaknya sendiri? Begitu burukkah makna pendidikan lewat proses sekolahan yang mereka tangkap, sehingga Gandhi pun kemudian merasa sedih ketika salah satu anaknya nekat masuk sekolah formal?
Mismatch Pendidikan
“Iki le wis bapak dolke sawah nggo kuliah, sik pinter, ben ndang lulus, nkuk gole’ gawean” (Ini nak sudah bapak jualkan sawah untuk biaya kuliah, yang pinter biar cepat lulus, lalu cari kerja), ujar seorang ayah kepada sang anak. Begitu si anak diterima di perguruan tinggi, maka mulailah proses “upacara” penjualan aset keluarga yang sangat berharga, seperti sawah, hewan ternak dan sebagainya demi membiayai kebutuhan pendidikan sang anak.
Sebagaimana mayoritas persepsi kultural para orang tua, si anak yang berpendidikan tinggi itu harus jadi pegawai negeri. Apa pun instansi pemerintah dan kedudukan apa yang bisa menerimanya dan berapa gajinya, bukan hal yang harus ditimbang-timbang. Yang penting adalah menjadi ambtenaar dan ke mana-mana berpakaian safari.
Harapan orang tua selanjutnya, tentu saja, dengan pendidikan tinggi dan berstatus pegawai negeri, bisa menjadi tiket masuk menjadi warga lingkungan sosial bergengsi di tengah masyarakat. Bersamaan dengan itu pula, keluarganya juga ikut terkatrol oleh status sosial yang menaik tersebut.
Celakanya, lonjakan jumlah sarjana menganggur terus-menerus meningkat, ditambah dari program diploma I, II, III, total penganggur hingga Februari 2007 mencapai 740.206 orang (Kompas, 16/2/2008). Data ini mengukuhkan masalah mismatch pendidikan di Indonesia, dalam arti tidak bertemunya dunia kerja dan dunia pendidikan.
Kian menganganya jurang mismatch tersebut setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, jumlah lapangan pekerjaan belum memadai sehingga tidak sanggup menyerap seluruh lulusan pelbagai perguruan tinggi di Indonesia. Kedua, pola pikir para sarjana yang cenderung klasik, yakni setelah lulus lalu langsung dapat pekerjaan. Pola pikir tersebut harusnya diubah dengan pola pikir lulus lalu menciptakan pekerjaan. Pernahkah terlintas di benak para sarjana itu untuk berwiraswasta secara mendiri? Pikiran semacam ini perlu dimunculkan jauh-jauh hari sebelum menduduki bangku kuliah, sehingga lapangan pekerjaan yang dibayangkan betul-betul dipersiapkan sejak awal.
Memiskinkan
Kita perlu mengkritisi manfaat pendidikan formal bagi peningkatan jaminan sosial. Fakta berbicara bahwa proses pendidikan formal yang ditempuh seorang anak petani di desa, ternyata justru memiskinkan keluarganya. Sebab, sejak awal anak itu memasuki perguruan tinggi di kota besar hingga lulus sampai bekerja sebagai pegawai negeri, ia tetap saja menggerogoti kemampuan ekonomi keluarganya.
Seharusnya, secara teoretis, bila si anak sudah meraih gelar sarjana dan memperoleh pekerjaan, maka suplai dana operasional dari keluarga di desa untuk si anak akan berhenti. Tetapi tidak demikian realitasnya. Semua orang tahu bahwa gaji pegawai negeri, apalagi golongan III ke bawah, sangat minim untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Semua fakta sosial ini sebagai proses pemiskinan keluarga melalui proses pendidikan formal. Pemiskinan? Mungkin terlalu kasar menggunakan kata ini, namun demikianlah kenyataannya. Sejatinya aktivitas pendidikan untuk mencerdaskan, menyadarkan, dan mengembangkan kemampuan kemanusiaan.
“Apakah untuk menyadarkan dan mengembangkan kemampuan seseorang itu, mesti lewat proses sekolah formal yang membutuhkan biaya besar, yang toh pada akhirnya membuat miskin keluarga di desa?” Tampaknya dunia pendidikan di Indonesia memang tidak menukik kepada persoalan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan.
Terbukti para sarjana yang menganggur itu kebanyakan adalah lulusan program studi non-eksakta (ilmu sosial, hukum, pendidikan dan politik). Menurut data, dari 2,2 juta mahasiswa Indonesia (1,6 juta di PTS, sisanya di PTN), 78% di antaranya menempuh kuliah di bidang studi pendidikan dan ilmu-ilmu sosial, sedang 12% di bidang teknologi dan hanya 10% yang menempuh kuliah di bidang eksakta.
Proporsi di atas rupanya terbalik. Beberapa pakar bersepakat, program studi yang ditawarkan terkait dengan sains dan teknologi harus jauh lebih besar dibanding dengan program studi pendidikan dan sosial. Sebab demi mendorong pertumbuhan ekonomi yang pesat dibutuhkan pengembangan ilmu-ilmu eksakta, terutama bidang-bidang yang mampu menjawab tantangan industrialisasi.
Untuk mengatasi pengangguran kaum terpelajar mutlak diperlukan reformasi di bidang pendidikan, antara lain, melalui pendekatan kultural, yaitu pendekatan yang dapat menumbuhkan sikap kemandirian, kepercayaan diri, jiwa kepemimpinan serta kepekaan peserta didik terhadap lingkungan. Jika hal ini tidak segera dilakukan, di masa mendatang problem kemiskinan akan semakin berat, bahkan bukan mustahil keberadaan institusi-institusi pendidikan akan terus-menerus membengkakkan jumlah orang miskin di Indonesia.
*) Bergiat pada Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM dan staf Laboratorium Bahasa Arab Universitas Muhammadiyah Malang.

SUARA REDAKSI: Virus Kutukan Klasik

thumbnail
Peluang pasar dan kunci sukses. Itulah dua topik hangat bidang ekonomi yang kini tengah tren di kalangan tua dan muda. Banyak buku telah beredar yang berupaya mengupas tuntas dari berbagai sudut pandang tentang rahasia sukses, kiat-kiat bisnis dan meretas manajemen usaha yang sehat, kokoh, dan dinamis. Perusahaan-perusahaan papan atas hingga kelas “sandal jepit” mengirim calon-calon manajernya mengikuti seminar-seminar smart yang membahas konsep manajer dan kepemimpinan yang tangguh di era global.
Ternyata di dalam lalu lintas literatur dan seminar yang menggodok ilmu kesuksesan maupun seni menjual terdapat satu virus kutukan klasik. Apalagi kalau bukan “omelan” tentang rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di saat “peradaban marketing kapitalisme” membutuhkan tenaga kerja outsourching yang handal, lagi-lagi SDM Indonesia selalu kalah masuk bursa kerja internasional. Itulah sebabnya mengapa kini manufaktur raksasa dengan brand mashyur membangun offshoring –pembukaan pabrik-pabrik perwakilan sebuah produk— jarang melirik Indonesia. Sebaliknya produsen hanya membidik potensi pasar Indonesia sebagai lahan empuk perdagangan produk mereka. Selain pertumbuhan penduduk yang mencengangkan, mental dan budaya konsumsi orang Indonesia amat menggiurkan.
Bukan berarti manusia Indonesia bodoh dan pandir. Kita adalah cucu dari leluhur terhormat yang telah menghidupi peradaban gemilang masa lalu. Warisan nilai-nilai adat yang imanen (luhur, satria, suci, manusiawi) hingga artefak kebudayaan amat mengagumkan. Dan, ada segelintir anak-anak genius dari rahim bumi pertiwi yang tersebar di berbagai kolong langit dengan keahlian di bidang tertentu. Sungguh sayang rezim yang berkuasa tidak memiliki komitmen merekrut ataupun mengundang mereka berbagai ilmu di kampung halamannya. Mereka lebih merasa nyaman dan cocok mengeksplorasi bakat dan talentanya di negeri orang. Itu berarti ada peluang bagi generasi mendatang menjadi angkatan pembaharuan yang superhebat bagi Republik ini. Asalkan, atribut-atribut pendidikan yang sudah kedaluwarsa dicopot dari kurikulum maupun “mainstream” pendidikan nasional.
Tiang-tiang pendidikan formal di negeri ini kerap dituding turut memperkeruh kompetisi kualitas SDM. Pertumbuhan ekonomi maupun daya saing kita terpuruk di kancah internasional. Pola-pola pengajaran sekolah yang “mencuci otak” siswa untuk melihat dunia selebar ruang kelas sudah saatnya tinggalkan. Padahal anak bisa menimba hikmah kehidupan dari realitas alam yang terberi. Demikian pula jurus-jurus menghafal teori dan kunci-kunci jawaban soal ujian nasional harus dilihat sebagai tragedi kecelakaan intelektualitas. Ruang kecerdasan dan kemandirian dalam berpikir untuk memecahkan sebuah persoalan telah hilang dari ‘sel-sel otak’ anak didik. Sebab sejak pendidikan dasar daya nalar siswa telah dibekukan dengan kebiasaan menghafal rumus-rumus mati. Kesuksesan pendidikan dikerdilkan dengan glamoritas gelar akademik ketimbang kehebatan otak kanan dan kiri membedah persoalan hidup, menata kepribadian dan merumuskan masa depan diri.
Harapan akan perubahan arah hidup bangsa ini tidak dimulai dengan melontarkan kutukan demi kutukan kepada generasi tua dari Orde Lama hingga Reformasi. Setiap generasi ditakdirkan oleh hukum sejarah untuk menulis kisahnya sendiri. Itulah hukum perubahan (the law of change) yang tidak dapat dibantah. Dan, skenario membantah maupun menolak perubahan adalah bagian dari perubahan itu sendiri. Tentunya kita berubah menjadi makin terbelakang atau makin progresif. Amatlah tepat bila generasi tua untuk belajar kembali kepada generasi muda yang dinamis. Atau sekurang-kurangnya, salah satu kunci berubah menuju istana kesuksesan adalah belajar memikirkan masa depan. Bukanlah saatnya lagi generasi tua mendikte generasi muda. Zaman telah berubah, termasuk di panggung perpolitikan nasional. Calon-calon pemimpin tua yang direstui DPP yang dihuni kalangan tua kalah telak dalam pemilihan langsung gubernur maupun bupati/walikota di beberapa daerah.
Pada tepian fakta lain, calon-calon manajer yang sukses adalah kalangan yang selalu merasa gelisah akan kemapanan status sosial dan ekonomi. Sehingga gairah dan nafsu belajar merupakan menu harian. Entah belajar menciptakan sesuatu yang baru ataupun belar dari jalan-jalan sukses perusahaan tertentu. Pemimpin harus bisa menciptakan sesuatu yang baru di jaman yang baru dan dengan semangat yang baru (the law of cause and effect).
Akhirnya kita berharap tokoh-tokoh pemimpin maupun manajer muda tidak terperosok dalam ketidakfokusan generasi sebelumnya (the law of justice). Dan, para pemimpin tua entah di organisasi swasta maupun birokrasi tak ada salahnya untuk terus memimpin asalkan memiliki semangat muda dan peka membaca perubahan zaman. Tantangan dan cobaan hanya bisa dilalui oleh perusahaan maupun negara yang cermat mengantisipasi perubahan itu sendiri. Musuh hanya bisa dikalahkan dengan belajar mengenal seluk beluk kelemahannya. Sudahkah kita mengindentifikasi “musuh-musuh sosial” yang bersemayam di dalam diri, organisasi, institusi, masyarakat dan negara? Saatnya kita depak virus klasik: lari dari tugas dan tantangan hanya karena tidak mau belajar dan merasa sudah pandai.

SUARA WARGA: Sekolah Alam Itu Murah

thumbnail
Kualitas pendidikan tidak selalu berjalan linier dengan fasilitas yang memadai. Sekolah alam buktinya. Pendidikan bermutu bisa didapat dari alam. Alam adalah sumber pengetahuan yang luas dan berlimpah. Beberapa penemu terkenal di dunia mampu menghasilkan karya-karya fenomenal lantaran memanfaatkan alam. Lihat saja Isaac Newton yang berhasil menemukan ide tentang teori gravitasi hanya karena duduk di bawah pohon apel yang buahnya terjatuh di dekatnya.Berkaca dari hal tersebut, kini banyak sekolah mempunyai konsep kembali KE ALAM dan pemanfaatan alam sebagai bagian dari metode pembelajaran. Begitu memasuki sekolah alam, jangan heran karena Anda tidak akan menemukan bangunan permanen layaknya gedung sekolah pada umumnya. Sebagai gantinya, berbagai ruangan yang ada seperti ruang guru dan kepala sekolah hanya menempati rumah kayu. Tidak ada bangku atau meja di ruangan-ruangan tersebut. Ruang kelasnya juga tak kalah natural, alih-alih belajar di ruang berdinding dan berkaca, para murid malah semakin menyatu dengan alam dalam ruung kelas. Sama dengan ruangan lain, di kelas juga tidak ada bangku dan meja. Semua serba lesehan, untuk keperluan menulis setiap anak memiliki meja lipat sendiri. Perpustakaan juga sama, di sini berbagai buku disusun dengan rapi di rak atau lemari kaca. Para siswa yang ingin membaca buku di perpustakaan harus melepas alas kaki dan duduk dengan manis di sehelai tikar rotan.Sekolah alam bukan hanya mencoba mengajak murid lebih dekat dengan alam. Lebih dari itu, sekolah yang turut menyukseskan program wajib belajar sembilan tahun ini berusaha memanfaatkan alam sebagai media murah untuk mentransfer ilmu kepada para murid secara optimal. Alam memberi banyak inspirasi dan mengajak berpikir realistis. Kami percaya semakin dekat anak dengan alam, ia akan tumbuh menjadi seorang yang bijaksana. Di sekolah ini kami menggunakan alam sebagai fasilitas belajar.Selama ini orang sering salah kaprah dalam memaknai kualitas pendidikan. Banyak orang menganggap kualitas pendidikan berjalan linier dengan fasilitas yang memadai. Padahal, hal tersebut tidak selamanya benar.
Komentar: Rosi Sugiarto
Pondok TK Al Firdaus BSB Jatisari Mijen, Semarang.

Batik Menuju Industri Kreatif

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Batik, salah satu warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Batik juga mampu menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan seiring kecenderungan global yang kembali kepada keunikan etnik. Inilah yang diharapkan dari penyelenggaraan pameran Adi Wastra Nusantara, 20 April lalu di Jakarta Convention Center.
Pameran kain unggulan tradisional nusantara tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Pecinta Kain Adati Wastraprema, dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan Visit Indonesia Year 2008. Menurut Ketua Umum Wastraprema, Adiati Arifin Siregar, adanya pameran ini dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif di Indonesia dengan memberi tempat bagi lahirnya karya cipta dan kreativitas yang bersumber dari kekayaan intelektual individu.
Pameran ini, selain menampilkan kain tenun, batik, sulaman, dan kain adati unggulan dari berbagai daerah Nusantara, pameran juga menampilkan kain dari negara anggota ASEAN, Jepang, dan Cina, seminar, peragaan busana, dan memberi tempat untuk perajin dan pengusaha kain tradisional.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sudah sejak lama khususnya di Jawa. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya ‘Batik Cap’ yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. ‘’Dengan bangkitnya industri kreatif, pada gilirannya akan menjadi lokomotif bagi ekonomi rakyat menyangkut ribuan perajin kain di seluruh Nusantara yang melibatkan jutaan tenaga kerja tersebut,’’ katanya.
Pada pemeran itu ditampilkan sejarah kebudayaan kain Indonesia melalui lebih dari 100 helai kain langka dan kuno antara lain tais dari Tanimbar, hinggi kawaru dari Sumba, songket dari Kerajaan Siak Indrapura, tais feto dari Timor, ulos Tumtung dari abad ke-19. Untuk memasyarakatkan pemakaian kain, beberapa perancang busana juga berkreasi dengan menggunakan kain tradisional. Mereka adalah Stephanus Hamy, Didi Budiardjo, Tuty Cholid, Deny Wirawan, Oscar Lawalata, Carmanita, Ghea Panggabean dan Guruh Sukarno Putra.
Keindahan batik selalu mengundang inspirasi perancang tanah air untuk mengekplorasinya menjadi karya seni yang memikat. Tak sedikit perancang yang memutuskan menekuni batik sebagai ciri khas rancangannya. Sebut saja nama Iwan Tirta, mendiang Prajudi, dan sederet nama lainnya. Banyak pula perancang muda yang memutuskan serius menekuni batik. ‘’Untuk mengembangkan dan melestarikan kain adati, Ibu Ani Bambang Yudhoyono yang membuka pameran tersebut berharap para perancang ikut berbartisipasi agar kain adati tidak hanya dipakai pada acara adat saja tapi dipakai untuk sehari-hari,’’ katanya.

Guruh Soekarno Putra Bidik “Pasar Gaul”

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Obsesi Guruh Soekarno Putra untuk menggali budaya leluhur seperti membatik, tak perlu diragukan lagi. Seniman serba bisa dan memiliki segudang prestasi ini, terobsesi ingin mendesain batik untuk kalangan anak muda.
Melalui tangannya, ia ingin merubah batik menjadi modern dan ‘gaul’. Bertahun-tahun Guruh mempelajari keunggulan apa yang bisa ditawarkan batik, yang kesannya konservatif. Keindahan batik selalu mengundang inspirasi perancang tanah air untuk mengekplorasinya menjadi karya seni yang memikat.
‘’Saya sudah mempopularkan batik sejak tahun 80-an dan terus dikembangkan agar dicintai oleh anak-anak muda,’’ katanya ketika mengadakan gelar fashion hasil karyanya di pameran kain unggulan tradisional nusantara di Jakarta.
Guruh juga lebih memilih pasar anak muda, yang amat dekat dengannya, bukan tanpa tujuan. ‘’Saya ingin menunjukkan pada anak muda bahwa memakai batik sudah dilakukan sejak lama oleh leluhur kita dan anak muda tak perlu merasa asing dengan budaya batik,’’ ujarnya.
Pasar anak muda itu pula yang mendorong Guruh untuk menggali dan mencipta desain yang berbeda dengan desain batik umumnya. Ia juga rajin bereksperimen dengan bahan. Koleksi terbarunya, stola, terbuat dari sutera Thailand. Di atas kain sutera tersebut Guruh memadukan motif kuno dan modern yang halus, cantik, dan mewah.
Kesabaran dan kecintaan Guruh yang dalam pada batik juga tampak dari desainnya yang rapi, teratur dan tak jarang dibuat dalam ukuran desain yang sangat kecil. Rumitnya rancangan Guruh membuat batiknya terkesan eksklusif. Guruh tak menampik hal itu. ‘’Kalau rancangan saya dibilang mahal, itu relatif,’’ katanya. Guruh menunjuk kalangan atas yang mampu merogoh kocek puluhan juta rupiah untuk rancangan Gianni Versace.
‘’Saya hendak menekankan, hasil perancang kita belum tentu kalah bagus. Saya ingin perancang busana kita juga punya wibawa di mata internasional,’’ katanya lagi.
Guruh menyebut, harga rancangannya bervariasi untuk menjangkau semua lapisan. Mulai dari hanya Rp 50 ribu untuk produk massal hingga puluhan juta rupiah untuk satu set rancangan yang terdiri dari tiga setel pakaian. Selain batik-batik eksklusif, Guruh juga membuat produk second line atau produk untuk massal. Biasanya, yang membedakan harga adalah bahan rancangan. Batik dengan cap ‘Dewangga’ dibuat dengan bahan campuran polyester dan rayon. Label ‘Guruh Soekarno’ dibuat dari bahan alami sutera.
Hasil produksi tersebut dipasarkan di Jalan Sriwijaya Raya 26, Jakarta Selatan, di jalan Teluk Betung 22, Menteng, dan Melawai X/9 Kebayoran Baru. Semuanya bernaung di bawah PT Guruh Sukarno Persada. Di samping memproduksi busana batik, PT Guruh Sukarno Persada juga memproduksi tekstil, jumputan, prada, ikat, songket, bordir, dan renda. Ia juga membuat perabotan seperti lemari, meja tulis, tempat tidur, perangkat kursi, dan kebutuhan ruang tidur seperti spresi, sarung bantal, handuk, hingga taplak meja.

Perumahan Pak Lebah: Murah, Terjangkau Dan Strategis

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
Sulitnya sarana perumahan di Jadebotabek yang layak membuat H. Wawan Darmawan atau yang populer dipanggil ‘Pak Lebah’ terpanggil untuk membuat perumahan yang murah dengan harga terjangkau, layak huni dan strategis. Pria yang bertutur sapa lembut itu berupaya menawarkan kapling Perumahan Pak Lebah ke karyawan perusahaan swasta, termasuk karyawan Pak Oles Cabang Jakarta.
‘’Saya berinisiatif membantu karyawan swasta dan masyarakat luas yang ingin memiliki rumah dengan harga yang terjangkau. Kebetulan di Sukatani masih ada lahan kosong yang murah dan akan menjadi jalan terbesar kedua setelah jalan Margonda city. Maklumlah Jakarta atau kawasan Jabodetabek merupakan kawasan yang mahal untuk rumah tinggal, tetapi saya menyediakan perumahan yang benar-benar strategis, murah dan juga dapat berkembang. Maka itu, saya mencoba menawarkan perumahan Pak Pak Lebah untuk karyawan swasta termasuk karyawan Pak Oles ini,’’ katanya.
Menurut Pak Haji Wawan, rumah yang lengkap dengan surat-surat bersertifikat ini, disediakan dengan tipe 21 dan tipe 31. Sedang pembayarannya bisa cash atau diansur lima tahun, 10 atau 15 tahun. “Sedang harganya kisaran 70 jutaan hingga 80 jutaan, pokoknya murahlah,’’ kata Pak Lebah yang juga Ketua Asosiasi Perlebahan Indonesia (API).
Sedang lokasi perumahan sangat strategis dekat dengan gerbang tol Cibubur atau Cimanggis. Lokasi ini juga sudah sangat ramai bahkan ke kota Depok dapat ditempuh hanya 15 menit saja.’’Bagi masyarakat dan juga karyawan Pak Oles yang kesulitan mencari lokasi datang saja ke perumahan Pak Lebah dijamin tertarik,’’katanya menantang.
Memang perumahan Pak Lebah masih sangat asri. sehingga sangat cocok untuk sebuah perumahan. ‘’Walau masih perawan, bukan berarti jauh dari keramaian atau sulit menuju akses ke kota, tetapi sangat mudah, apalagi untuk mencapai sekolah, rumah sakit, mall dan lain-lain. Di tempat kami fasilitas seperti listrik, telepon, air besih juga mudah didapat. Pokoknya mereka yang tertarik dengan perumahan Pak Lebah tidak akan menyesal,’’ ujar Pak Lebah setengah berpromosi.
Setelah melakukan survei langsung ke lokasi, Dirut PT Karya Pak Oles Tokcer GN Wididana, bersedia memfasilitasi bagi karyawan yang tertarik mengambil rumah dengan cara mencicil. Sedang mekanismenya diatur kemudian.

PKS Bagi Migor Bersubsidi

thumbnail
Oleh: Heni Kurniawati
Minggu (27/4) sekitar pukul sembilan pagi, kantor DPW PKS Bali jalan Tukad Yeh Ho III/1, Denpasar ramai dikunjungi warga. Sekitar 450 kepala keluarga sumringah menunggu pembagian minyak goreng (migor) murah bersubsidi PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Kenaikan harga migor sejak Februari menyisakan kepedihan bagi masyarakat kecil. Alasan ini sebagai dasar PKS membagikan minyak goreng murah.
Menurut Ketua DPW (Dewan Pimpinan Daerah) PKS Bali, Djoko Wahyono, daya beli masyarakat kian hari kian menurun. Keresahan penduduk pun memuncak, melihat harga minyak goreng curah yang melambung tinggi sekitar 12-13 ribu. Hal ini membuat PKS, sebagai partai yang menjunjung kesejahteraan, menggelar bakti sosial dengan membagi migor bersubsidi di empat DPC (Dewan Pimpinan Kecamatan) di Denpasar. Sebanyak 2400 paket migor dibagi ke seluruh kota Denpasar. Masing-masing DPC membagikan 450 paket migor curah ke kaum yang kurang mampu. Setiap kepala keluarga yang hadir mendapat satu liter migor. Masyarakat mendapat migor dengan hanya mengeluarkan uang sebesar Rp. 5000 ribu rupiah. ”PKS Bali khususnya DPC se kota Denpasar membagikan migor bersubsidi. Hal ini diharapkan untuk mengurangi kegelisahan masyarakat kecil. Dengan adanya migor murah, masyarakat dapat mengeluarkan uang sebesar lima ribu rupiah,” katanya.
Syarat untuk mendapatkan migor, selain mengeluarkan uang sebesar lima ribu rupiah. Masyarakat harus memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Bali dan KTA (kartu tanda anggota) PKS. Namun bagi masyarakat umum yang tidak memiliki KTA tetap bisa mendapat migor murah asal memiliki KTP Bali. “Kepala keluarga yang mendapat migor bersubsidi merupakan kader anggota PKS yang memiliki KTA yang ber-KTP. Hal ini sebagai usaha agar masyarakat tertib administrasi dengan memiliki KTP Bali,” jelas pria asal Blitar, Jawa Timur.
Ketua DPC Denpasar Timur, Darta Iskandar A.Ma.Pd, mengamini hal tersebut. Tujuan pembagian migor bersubsidi tidak lain adalah tanggap pangan. Selain itu, bakti sosial dilakukan dalam rangka memperingati 10 tahun PKS. Di usia yang kesepuluh PKS ingin lebih peduli dengan nasib masyarakat kecil. ”Mengingat begitu banyaknya permasalahan yang dihadapi masyarakat Indonesia, PKS mencoba lebih peduli dan memberikan perhatian serius terhadap pemasalahan pangan yang mendera masyarakat. Kami harap dengan perbuatan yang kecil ini dapat bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Banyak RS Diskriminatif Terhadap Penderita HIV/AIDS

thumbnail
IPPI Bali
Oleh: Heni Kurniawati
Kadang sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dibentuk untuk coba menjembatani riak-riak penderitaan yang dialami manusia dalam berbagai ruang lingkup kehidupann. Di tengah hiruk pikut pembangunan, banyak kaum perempuan yang didera ragami persoalan sosial, ekonomi dan psikis, termasuk banyak dari mereka yang positif mengidap HIV. Di Bali sendiri, ada Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) yang khusus sharing perhatian terhadap penderitaan kaumnya sejak dibentuk pada 3 Februari 2007.
Koordinator IPPI Bali, Luh Putu Ikha Widari menjelaskan, IPPI terbentuk karena adanya kebutuhan dan permasalahan perempuan penderita HIV positif. Perempuan HIV/AIDS kerap mengalami diskriminasi dari lingkungan masyarakat dan keluarga. IPPI ingin mewujudkan perempuan penderita HIV/AIDS agar lebih diberdayakan secara ekonomis dan psikis. Diharapkan mereka memiliki hidup yang berkualitas dan setara dalam aspek kesehatan, sosial, pendidikan dan ekonomi.
”Mengingat nasib perempuan HIV lebih kompleks dari laki-laki, IPPI ingin agar perempuan memiliki rasa percaya diri dan dan dapat memberdayakan diri dalam bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan ekonomi melalui pemberian informasi tentang HIV dan meningkatkan ketrampilan perempuan agar tidak terpuruk,” kata ibu satu anak.
Dalam bidang ekonomi, sosial dan kesehatan, jelas Widari, IPPI Bali melatih perempuan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Mereka dilatih berbicara di depan publik, serta usaha peningkatan akses layanan kesehatan. Karena banyak rumah sakit yang masih mendiskriminasikan penderita HIV dalam pelayanan kesehatan.
”Kami ingin agar perempuan HIV positif memiliki akses kesehatan di setiap rumah sakit. Sebab banyak rumah sakit yang tidak menerima pasien HIV. Selain itu, pemberian informasi tentang penyakit terus diberikan guna meningkatkan kembali rasa pecaya diri penderita dengan mengajarkan suatu ketrampilan baik berbahasa Inggris maupun cara berbicara di depan umum dengan baik,“ tegas wanita asal Singaraja, Bali.
Seiring dengan berbagai kegiatan advokasi, praktek diskriminasi pun berangsur dikikis dan penderita mulai lebih terbuka dalam bermasyarakat. Selain itu, akses untuk mendapat pelayanan kesehatan mulai terbuka meski hanya satu atau dua rumah sakit yang mau menerima. ”Penderita HIV postif melalui pemberian informasi tentang penyakitnya mulai bangkit dari rasa frustasi. Diskriminasi terhadap para penderita ini memang masih banyak, tetapi kini masyarakat sudah mulai mengerti dan peduli dengan pengidap HIV positif,” tambah Widari.

Luh Putu Ikha Widari; Kita Lebih Banyak Bekerja Tanpa Dibayar

thumbnail
OLEH: HENI KURNIAWATI
Kompleksnya permasalahan yang mendera pemuda saat ini melahirkan aktivis-aktivis untuk tergabung dalam sebuah LSM. Lewat sentuhan hangat para aktvis, kaum mudapun berani bangkit dari keterpurukan hidup. Bekerja dengan hati menjadi pedoman baggi hampir setiap aktivis.
Luh Putu Ikha Widari, salah satu aktivis HIV/AIDS, merasa terpanggil melihat keadaan kaum muda mudi di Bali yang terpuruk hidupnya karena menderita dan mengidap HIV/AIDS. Menurutnya berkecimpung dalam dunia sosial harus dilakukan dengan hati. Bercengkrama dengan para penderita HIV/AIDS atau kerap disebut ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) sejak akhir tahun 2004. Bergabung dengan Bali Plus, Ike pangilan akrabnya terjun langsung dalam pendampingan penderita di rumah sakit.
“Sebagai pemuda kita tidak boleh hanya berdiam diri saja. Kalau bukan kita yang bangkit untuk menolong penderita, siapa lagi yang akan peduli. Meskipun tanpa dibayar, kita harus rela. Karena kita bekerja dengan hati dan tanpa pamrih,” kata wanita Singaraja, Bali.
Dia bergabung dalam berbagai LSM yang fokus pada nasib perempuan yang menderita HIV /AIDS, mulai dari IPPI, BKBI, Kisara dan Bali Plus. Karena potensi perempuan lebih rentan tertular virus HIV terutama usia produktif atau remaja. Lebih dari 4 ribu remaja yang mengidap HIV positif dan 70% adalah perempuan. ”Perempun memiliki potensi yang lebih besar daripada laki-laki. Hal ini karena wanita memiliki organ reproduksi yang rentan terkena HIV. Adanya kekerasan seksual pada wanita pun menjadi pemicu terinveksi HIV. Permasalahan wanita memang kompleks karena lebih mempedulikan keluarga daripada diri sendiri,” ungkapnya.
Baginya, menjadi pengidap HIV bukan berarti harus menerima nasib dengan pasrah. Tantangan yang masih terus dipecahkan adalah menepis anggapan masyarakat yang tidak peduli dan mendiskriminasikan ODHA. Selain itu, pemberian informasi, motivasi dan semangat kepada pengidap HIV positif yang baru, cukup sulit. ”Saya selalu memberikan motivasi agar mereka percaya diri, kembali bangkit dan bersemangat dalam menghadapi hidup. Semangat agar terus optimis saya tanamkan, sebab HIV bukan akhir segalanya. Selain itu, saya selalu menanamkan bahwa kita yang mengendalikan virus dan bukan virus yang menang,” tandasnya.

Jalani Terapi Demi Masa Depan Anak

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Keluarga yang harmonis dan bahagia tak menjamin kehidupan berjalan normal. Ada saja anggota keluarga yang berbuat menyimpang. Anak-anaklah yang mudah terpengaruh dengan pergaulan lingkungan yang bebas. Karena masa remaja yang penuh dengan rasa ingin tahu. Maka gampang sekali pengaruh dari luar merasuki pikiran mereka. Tapi kembali pada keluargalah yang bisa membawa mereka bangkit dari keterpurukan.
Hal itulah yang terjadi pada Made Sumadi, ayah satu putra ini. Masa SMA yang penuh dengan gejolak kaula muda mengubah hidupnya. Akibat salah pergaulan dalam memilih teman, dirinya terjerumus ke dunia hitam. Berawal dari rasa ingin tahu dan coba-coba menggunakan narkoba. Sumadi menjadi ketagihan dan tak bisa lepas dari putau dan heroin. Di sana, Sumadi juga mengenal istrinya yang telah meninggal karena narkoba.
Untuk mendapatkan barang haram tersebut banyak cara harus terpaksa dilakukan. Sumadi sering minta uang secara paksa dan kasar kepada orang tuanya. Dan tidak jarang, ia mencuri di rumahnya sendiri. Kala itu orang tua tidak menyadari jika Sumadi sudah pada taraf ketergantungan putaw. Seiring dengan berjalannya waktu, orang tua dan lingkungan sekitar mengetahui jika Sumadi sudah menjadi seorang pecandu. Awalnya memang mereka tidak bisa menerima dan bahkan dikucilkan dari lingkungan sekitar. Tapi orang tua dan saudara bisa menerimanya juga dengan kehadiran buah hati Sumadi. “Mereka sangat mendukung ketika tahu saya ingin berhenti pake. Dan ingin ikut terapi rehabilitasi,” ungkap Sumadi.
Bersama istrinya, Sumadi menjalani rehabilitasi di PTRM (Program Terapi Rumatan Methadone) Sandat. Usaha rehabilitasi itu dijalankan berkat saran dari sahabatnya yang juga seorang pemakai dan kini memasuki masa kesembuhan dari ketergantungan. Sudah dua tahun lebih program itu Sumadi jalankan. Tapi sayang, Tuhan tak mengizinkan istrinya bertahan lebih lama bersamanya. Meski begitu, Sumadi tetap rutin menjalani terapi. Semua itu tidak lepas dari peran anak yang kini duduk di kelas 4 SD. Bersama PTRM Sandat, kini Sumadi berusaha untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik. Semua itu karena dirinya ingin melihat buah hatinya tumbuh dewasa. Dan juga bisa kembali ke tengah-tengah masyarakat meski banyak dari mereka yang menyambutnya dengan racun-racun cemohan.
Banyak perubahan yang dirasakan Sumadi sejak mengikuti terapi bersama Methadone ini. Selain terapi obat Methadone, di PTRM Sandat juga diberikan layanan konseling dan pemeriksaan oleh dokter. Terapi obat Methadon yang diberikan, terang Sumadi pengaruhnya di tubuh jaraknya lebih lama. Dan harganya lebih murah jika harus terapi di tempat lain atau tetap pakai putaw. Tapi harus setiap hari rutin terapi agar pengaruh narkoba benar-benar hilang. Selain itu, PTRM Sandat juga memberikan kesempatan pada Sumadi untuk berjualan. Kegiatan itu dilakukannya di kantin PTRM Sandat setiap hari.
Kegiatan tersebut, menurut dr Nyoman Hanati, SpKJ (K), psikiater PTRM Sandat, untuk memberikan ketrampilan agar tidak banyak waktu terbuang. Selain itu, lanjut dr Hanati, untuk menyiapkan agar mereka dapat kembali ke tengah lingkungan masyarakat. Jika banyak waktu mereka habiskan untuk diam, keinginan untuk kembali memakai putaw sangat besar. “Perlu juga dukungan dari keluarga dan masyarakat. Supaya mereka bisa bangkit dari keterpurukannya,” tegas dr Hanati.

MUTIARA KEHIDUPAN

thumbnail
Cinta Tanah Air

Cara patria, carior libertas (Aku mencintai tanah air, tetapi aku lebih mencintai kemerdekaan). Anonim
Omnes omnium caritates patria una complexa est
(Satu tanah air telah merangkul semua cinta kasih warganya). Cicero
In necessaries unitas, in dubiis libertas, in omnibus caritas
(Dalam kebutuhan mendesak harus ada kesatuan, dalam keragu-raguan harus ada kebebasan, dalam semua keadaan tetap harus ada cinta kasih). Agustinus dari Hippo (354-430)

YKIP-YKIDS Selamatkan Generasi Muda

thumbnail
Oleh: Wayan Nita
Kisah tragis bom Bali, 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 masih membekas di benak para korban yang cacat fisik dan keluarga korban yang mati akibat serangan bom itu. Lebih dari itu, yang menjadi korban adalah anak-anak yang tidak bersalah ikut memikul beban penderitaan akibat orang tua mereka meninggal atau terluka. Melihat fakta yang memilukan itu, didirikan Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) dengan kantor di Jl Kediri 38 Kuta dan Yayasan Kuta International Disaster Scholarship (KIDS) oleh COURTS di Jl Cokroaminoto 32A Denpasar. Kedua yayasan ini bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan anak-anak korban bom Bali.
Menurut Rucina Ballinger, Chief Executive Officer YKIP, pendidikan anak sangat penting. Untuk itu, harus tetap diusahakan agar mereka bisa sekolah. ‘’Meski awalnya sulit, tapi kini kami mampu membawa mereka hingga ke jenjang pendidikan SMU,” jelas Rucina.
Menurut Rucina, masih rendah kepekaan masyarakat terhadap anak-anak korban bom Bali. Buktinya, mayoritas donatur justru masyarakat dari luar negeri. Ni Putu Sherlyana, Field & Admin Officer YKIP-YKIDS menyebut, ALF, Centrelink Australia dan klub sepak bola Rugby Hongkong dan YNS masih tetap menggalang dana untuk korban bom Bali, termasuk Quiksilver yang sudah menjadi donatur tetap. ‘’Sebagian besar dari mereka juga kehilangan anggota keluarga akibat bom Bali. Semua sumbangan disalurkan kepada anak-anak korban bom melalui YKIP-YKIDS,” kata Sherly.
Yang menerima sumbangan, sebut Sherly adalah mereka yang salah satu orang tuanya meninggal atau mengalami luka permanen. Yayasan membayar langsung biaya pendidikan ke sekolah. Bantuan yang sama disalurkan kepada korban yang berdomisili atau yang memutuskan pulang ke Jawa pasca tragedi bom Bali I dan bom Bali II. Setiap tahun, lanjut Sherly, mereka mendapatkan peralatan sekolah secara lengkap seperti tas, sepatu, kaus kaki, seragam sekolah, buku tulis hingga kotak tulis plus isinya.
Anak-anak juga diberi kebebasan mengikuti les non akademis sesuai bakat mereka. Misalnya menari atau melukis. “Semua kami lakukan demi masa depan mereka. Selain belajar mereka juga berhak bersosialisasi. Untuk itu setiap enam bulan sekali, yayasan mengadakan acara pertemuan seluruh keluarga dan anak-anak yang dikenal dengan KIDS Gathering Party. Dalam acara ini diselenggarakan berbagai perlombaan dan hiburan, perayaaan ulang tahun dan penghargaan untuk anak berprestasi. Karena sebagian besar dari mereka jiwanya masih tertekan,” urai Sherly.
Setelah hampir enam tahun, 132 anak telah dibantu dan bahkan ada lima anak sudah wisuda. Saat ini ada 53 anak yang masih dibiayai yayasan baik TK, SD, SMP, SMA sampai universitas. Berdasarkan dana yang sudah, yayasan baru mampu menyekolahkan anak-anak ini hingga tingkat SMA. Meski begitu, yayasan terus berupaya menggalang dana agar beasiswa pendidikan anak-anak korban bom Bali tercukupi sampai ke jenjang Universitas (Akademi).
Sherly mengharapkan, sumbangan donator. Selain fokus pada pendidikan anak korban bom Bali, yayasan tersebut sudah melebarkan misi kemanusian dengan merambah bidang kesehatan masyarakat yang tidak mampu meski ada persyaratan khusus.

Yulius: Dulu Anjal, Kini Penyuluh HIV

thumbnail
OLEH: AGUS SALAM
‘’Sering saya mendengar curhat berbagai masalah anak-anak di mall. Bahkan tidak jarang mereka sampai menangis. Setelah diskusi ada yang berubah perilakunya tetapi banyak juga yang tidak. Saya tidak mau dibilang ngacak-ngacak privasi orang, biar mereka yang menentukan jalannya sendiri. Saya hanya membantu,’’ungkap Yulius, mantan anak jalanan (Anjal) yang kini dipercaya sebagai seorang penyuluh HIV oleh Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta.
Untuk merekam jerit tangis kaumnya, Yulius rela nongkrong berjam-jam di Mall Cijantung, Jakarta Timur. Bahkan sampai tiga kali sehari setiap minggu, Yulius menghabiskan sebagian waktu dan tenaganya di pusat perbelanjaan termewah. Mengenang kisah hidup, sembari menerawang, Yulius mengaku, sebelum dipercaya di YPI, dirinya sudah cukup menjalani profesi sebagai seorang Anjal di sekitar jalur-jalur strategis seputaran kota Jakarta.
Karena itu, dirinya sudah lebih dulu menjadi ‘’tamu’’ di Yayasan Pelita Ilmu. ‘’Saya ini sudah duluan mengenal YPI. Bahkan sering nongkrong di kantor yayasan itu sampai menjadi outreach (penjangkau) atau penyuluh HIV. Saya tidak pernah merasa jenuh menjadi seorang penjangkau karena saya menganggap pekerjaan tersebut sebagai upaya banyakin teman. Biar gaul gitu lho. Saya juga tercatat sebagai pendiri teater Die-J sejak tahun 2004 dan aktif melakukan pagelaran-pagelaran teater bertema HIV,’’ buka Yulius.
Sepintas, sosok pria yang agak kurus ini memang tidak seperti orang teater. Ya, kesannya jauh dari seorang seniman kebanyakan. Tetapi siapa yang bisa sangka bahwa dengan keahliannya berakting, Yulius berkesempatan mengunjungi Kolombo, Sri Langka. ‘’Saya merasa tidak seperti seorang penyuluh apalagi mantan anak jalanan kota Jakarta,’’ ucapnya merendah dan menyebar senyum lebar.
Sesuai dengan program YPI, pencegahan HIV dan AIDS bagi remaja di Mal Cijantung, Yulius diberi kesempatan mengadakan penyuluhan di Mall Cijantung yang diawali survey lokasi dan peserta yang mayoritas dari kaum anjal. Ternyata banyak anak nongrong di mall tersebut sehingga sangat efektif untuk dilakukan penyuluhan kesehatan terutama HIV/AIDS. Tujuannya untuk mengurangi atau menurunkan resiko remaja terhadap masalah kesehatan reproduksi, Infeksi Menular Seksual, HIV/AIDS dan sebagainya.
Menurut Yulius, personil teater Die-J yang didirikan pada tahun 2004 itu lebih didominasi oleh kaum pelajar seusia SLTA sampai SLTU. Dan tema-tema yang dibawakan saat pentas seputar edukasi reproduksi kesehatan, bahaya narkoba, HIV dan AIDS. Dibanding media lain, penyampaian materi melalui teater jauh lebih efektif ibanding penyuluhan secara oral. Karena pesan yang disampaikan langsung ke sasaran karena dibawakan secara komedi. Bagi Yulius, teater merupakan media seni yang paling bagus untuk menyampaikan sebuah pesan moral. Lewat pengalamannya bersama teater inilah Yulius dipercaya menjadi peserta utusan dari Indonesia untuk menghadiri sebuah acara penting di Kolombo, Sri Langka pada Agustus 2007. Di sana, Yulius membawakan materi tentang Efektifitas Teater Sebagai Media Edukasi HIV dan AIDS bagi remaja.

Dua Manusia Besi Australia Siap Tampil

thumbnail
Bali International Triathlon II
Oleh: Wayan Nita

Upaya menarik kalangan wisatawan ke Bali melalui berbagai kegiatan olah raga ternyata mendapat simpati luas dari berbagai atlet dunia. Bahkan, pada helatan Bali International Triathlon (BIT) II yang siap digelar pada akhir Juni ini, dua atlet asal Australia yang dijuluki Manusia Besi, sudah mendaftarkan diri sebagai peserta. Keduanya berasal dari kalangan professional yakni Luke McKenzie dan Amanda Balding. Luke sendiri merupakan jajwara grup pria pada Triathlon I 2007 dan Amanda justru tercatat sebagai ‘’penguasa’’ setelah mengoleksi gelar dengan memeceha rekor pada ajang Cancun Ironman Australia 2008.
Di Australia, Luke lebih dikenal sebagai Manusia Besi dengan catatan waktu tercepat. Atlet profesional asal Gold Coast, Australia ini sebelumnya meraih posisi kelima pada ajang Ironman Australia 2008. Kondisi tempat latihan yang dilingkupi keindahan alam kota berkarang Tweeds Head. Dia mengadakan latihan di San Diego, California (pusat latihan), yang tak jauh berbeda dengan tempat perlombaan di Jimbaran, Bali. ‘’Sedangkan predikat Wanita Besi masih digenggam atlet asal Australia Barat, Amanda Balding yang belum lama ini memecahkan rekor di Cancun Ironman 2008. Kedua manusia besi asal Australia itu tidak mau melewatkan ajang BIT II di Jimbaran,’’ ungkap Renato Sagrado.
Mewakili LLC yang merupakan gabungan Generic Events (USA) dan Bali Discovery Tours, --sebuah perusahaan perjalanan wisata terkemuka di Bali, Sagrado menjelaskan, tim campuran tetap diizinkan, hanya saja sangat tergantung pada kekuatan setiap peserta. Selain dua manusia besi itu, panitia sudah mengoleksi 80 peserta hingga akhir April. Dari total itu, 15 peserta berupa satu tim dari Indonesia dan sisanya dari luar negeri, baik perorangan maupun grup. Uniknya, peserta dari luar negeri justru berasal dari kalangan professional yakni para atlet di bidang Triathlon (renang sejauh 1,5 km), sepeda (40 km) dan lari (10 km).
Semua peralatan pendukung selama gelaran berlangsung, pinta Sagrado, harus disiapkan sendiri oleh para peserta. ’’Seperti sepeda dan kelengkapan peralatan sepeda yang dibutuhkan jika rusak. Karena jika sepeda rusak atau ban kempes tak boleh diperbaiki orang lain. Setiap peserta harus perbaiki sendiri. Jika diperbaiki orang lain akan terkena diskualifikasi dan dianggap gugur. Begitu juga dengan peserta yang jatuh lalu mengalami luka serius sampai tidak bisa melanjutkan perlombaan tetap dikenai diskualifikasi dan dinyatakan gugur,’’ tegas Sagrado.
Namun, jika teman setim masih ingin melanjutkan perlombaan tetap diperbolehkan dan tidak masuk dalam penilaian. Berbeda dengan peserta luar negeri, jika terjadi apa-apa tetap dianggap gugur dan tidak bisa melanjutkan perlombaan karena sendirian. Sebagian besar peserta di Indonesia berasal dari kalangan umum. Artinya bukan seorang atlet yang memang profesional di Triathlon. Di kelompok profesional, persaingan antar atlet luar negeri dipastikan bakal sengit dan seru. Sebagian besar dari mereka berasal dari Australia.
Untuk peserta dari luar negeri, sebut Sagrado, mereka ingin mengukur kemampuannya di berbagai event. Karena itu semua catatan waktu menjadi pembanding untuk setiap event Triathlon yang digelar di berbagai benua. Persiapan BIT II sudah rampung baik dari segi perizinan, lokasi maupun dari dukungan binamarga yang siap mengecek jalan (rute) seminggu sekali untuk menghindari kerusakan. “Peserta BIT I 2007 saat perlombaan mengajukan protes karena jalan banyak yang berlubang. Itu bisa memperlambat waktu tempuh mereka. Peserta sendiri terbagi dalam kategori umur 16 tahun hingga di atas 70 tahun dengan patokan penilaian tetap pada rekor kecepatan waktu,’’ ujar Sagrado.
Tahun ini, BIT digelar lebih meriah dengan target peserta 300 atlet dan 2.000 pengunjung. Tambahan peserta diperkirakan penyelenggara dari seluruh Indonesia yang pada BIT I 2007 tercatat 60% dari total peserta. Peserta Indonesia terkategori Best Indonesian Time disiapkan hadiah uang tunai Rp 7,5 juta, Rp 5 juta (urutan kedua) dan Rp 2,5 juta untuk posisi ketiga serta hadiah menarik dari para spronsor. Untuk pendaftaran US$ 75 per orang atau US$ 225 untuk tim beregu (3 orang). Harga tersebut sudah termasuk pendaftaran lomba, race T-shirt, race briefing, course tour, race swim cap, cocktail party, hi-carb dinner and pesta di pantai pada hari perlombaan. Sebagai pemanasan, kegiatan renang, sepeda dan lari sudah diadakan pada tanggal 27-28 sebelum hari H (29 Juni).
Kepada para peserta dan anggota keluarga, Bali Discovery Tours sudah menawarkan paket akomodasi dengan harga khusus dan anggota keluarga di Four Seasons Resort dan Bali Intercontinental Resort sebagai Official Hotel. Pada gelaran BIT I diikuti 205 atlet dari 16 negara. Untuk informasi lebih detail, bisa mengakses via website www.balitriathlon.com.