Home » » Banyak RS Diskriminatif Terhadap Penderita HIV/AIDS

Banyak RS Diskriminatif Terhadap Penderita HIV/AIDS

IPPI Bali
Oleh: Heni Kurniawati
Kadang sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dibentuk untuk coba menjembatani riak-riak penderitaan yang dialami manusia dalam berbagai ruang lingkup kehidupann. Di tengah hiruk pikut pembangunan, banyak kaum perempuan yang didera ragami persoalan sosial, ekonomi dan psikis, termasuk banyak dari mereka yang positif mengidap HIV. Di Bali sendiri, ada Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) yang khusus sharing perhatian terhadap penderitaan kaumnya sejak dibentuk pada 3 Februari 2007.
Koordinator IPPI Bali, Luh Putu Ikha Widari menjelaskan, IPPI terbentuk karena adanya kebutuhan dan permasalahan perempuan penderita HIV positif. Perempuan HIV/AIDS kerap mengalami diskriminasi dari lingkungan masyarakat dan keluarga. IPPI ingin mewujudkan perempuan penderita HIV/AIDS agar lebih diberdayakan secara ekonomis dan psikis. Diharapkan mereka memiliki hidup yang berkualitas dan setara dalam aspek kesehatan, sosial, pendidikan dan ekonomi.
”Mengingat nasib perempuan HIV lebih kompleks dari laki-laki, IPPI ingin agar perempuan memiliki rasa percaya diri dan dan dapat memberdayakan diri dalam bidang kesehatan, sosial, pendidikan dan ekonomi melalui pemberian informasi tentang HIV dan meningkatkan ketrampilan perempuan agar tidak terpuruk,” kata ibu satu anak.
Dalam bidang ekonomi, sosial dan kesehatan, jelas Widari, IPPI Bali melatih perempuan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan. Mereka dilatih berbicara di depan publik, serta usaha peningkatan akses layanan kesehatan. Karena banyak rumah sakit yang masih mendiskriminasikan penderita HIV dalam pelayanan kesehatan.
”Kami ingin agar perempuan HIV positif memiliki akses kesehatan di setiap rumah sakit. Sebab banyak rumah sakit yang tidak menerima pasien HIV. Selain itu, pemberian informasi tentang penyakit terus diberikan guna meningkatkan kembali rasa pecaya diri penderita dengan mengajarkan suatu ketrampilan baik berbahasa Inggris maupun cara berbicara di depan umum dengan baik,“ tegas wanita asal Singaraja, Bali.
Seiring dengan berbagai kegiatan advokasi, praktek diskriminasi pun berangsur dikikis dan penderita mulai lebih terbuka dalam bermasyarakat. Selain itu, akses untuk mendapat pelayanan kesehatan mulai terbuka meski hanya satu atau dua rumah sakit yang mau menerima. ”Penderita HIV postif melalui pemberian informasi tentang penyakitnya mulai bangkit dari rasa frustasi. Diskriminasi terhadap para penderita ini memang masih banyak, tetapi kini masyarakat sudah mulai mengerti dan peduli dengan pengidap HIV positif,” tambah Widari.
Thanks for reading Banyak RS Diskriminatif Terhadap Penderita HIV/AIDS

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar