OLEH: AGUS SALAM
Batik, salah satu warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Batik juga mampu menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan seiring kecenderungan global yang kembali kepada keunikan etnik. Inilah yang diharapkan dari penyelenggaraan pameran Adi Wastra Nusantara, 20 April lalu di Jakarta Convention Center.
Pameran kain unggulan tradisional nusantara tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Pecinta Kain Adati Wastraprema, dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan Visit Indonesia Year 2008. Menurut Ketua Umum Wastraprema, Adiati Arifin Siregar, adanya pameran ini dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif di Indonesia dengan memberi tempat bagi lahirnya karya cipta dan kreativitas yang bersumber dari kekayaan intelektual individu.
Pameran ini, selain menampilkan kain tenun, batik, sulaman, dan kain adati unggulan dari berbagai daerah Nusantara, pameran juga menampilkan kain dari negara anggota ASEAN, Jepang, dan Cina, seminar, peragaan busana, dan memberi tempat untuk perajin dan pengusaha kain tradisional.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sudah sejak lama khususnya di Jawa. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya ‘Batik Cap’ yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. ‘’Dengan bangkitnya industri kreatif, pada gilirannya akan menjadi lokomotif bagi ekonomi rakyat menyangkut ribuan perajin kain di seluruh Nusantara yang melibatkan jutaan tenaga kerja tersebut,’’ katanya.
Pada pemeran itu ditampilkan sejarah kebudayaan kain Indonesia melalui lebih dari 100 helai kain langka dan kuno antara lain tais dari Tanimbar, hinggi kawaru dari Sumba, songket dari Kerajaan Siak Indrapura, tais feto dari Timor, ulos Tumtung dari abad ke-19. Untuk memasyarakatkan pemakaian kain, beberapa perancang busana juga berkreasi dengan menggunakan kain tradisional. Mereka adalah Stephanus Hamy, Didi Budiardjo, Tuty Cholid, Deny Wirawan, Oscar Lawalata, Carmanita, Ghea Panggabean dan Guruh Sukarno Putra.
Keindahan batik selalu mengundang inspirasi perancang tanah air untuk mengekplorasinya menjadi karya seni yang memikat. Tak sedikit perancang yang memutuskan menekuni batik sebagai ciri khas rancangannya. Sebut saja nama Iwan Tirta, mendiang Prajudi, dan sederet nama lainnya. Banyak pula perancang muda yang memutuskan serius menekuni batik. ‘’Untuk mengembangkan dan melestarikan kain adati, Ibu Ani Bambang Yudhoyono yang membuka pameran tersebut berharap para perancang ikut berbartisipasi agar kain adati tidak hanya dipakai pada acara adat saja tapi dipakai untuk sehari-hari,’’ katanya.
Batik, salah satu warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Batik juga mampu menjadi peluang bisnis yang sangat menjanjikan seiring kecenderungan global yang kembali kepada keunikan etnik. Inilah yang diharapkan dari penyelenggaraan pameran Adi Wastra Nusantara, 20 April lalu di Jakarta Convention Center.
Pameran kain unggulan tradisional nusantara tersebut diselenggarakan oleh Himpunan Pecinta Kain Adati Wastraprema, dalam rangka peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional dan Visit Indonesia Year 2008. Menurut Ketua Umum Wastraprema, Adiati Arifin Siregar, adanya pameran ini dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi kreatif di Indonesia dengan memberi tempat bagi lahirnya karya cipta dan kreativitas yang bersumber dari kekayaan intelektual individu.
Pameran ini, selain menampilkan kain tenun, batik, sulaman, dan kain adati unggulan dari berbagai daerah Nusantara, pameran juga menampilkan kain dari negara anggota ASEAN, Jepang, dan Cina, seminar, peragaan busana, dan memberi tempat untuk perajin dan pengusaha kain tradisional.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sudah sejak lama khususnya di Jawa. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya ‘Batik Cap’ yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. ‘’Dengan bangkitnya industri kreatif, pada gilirannya akan menjadi lokomotif bagi ekonomi rakyat menyangkut ribuan perajin kain di seluruh Nusantara yang melibatkan jutaan tenaga kerja tersebut,’’ katanya.
Pada pemeran itu ditampilkan sejarah kebudayaan kain Indonesia melalui lebih dari 100 helai kain langka dan kuno antara lain tais dari Tanimbar, hinggi kawaru dari Sumba, songket dari Kerajaan Siak Indrapura, tais feto dari Timor, ulos Tumtung dari abad ke-19. Untuk memasyarakatkan pemakaian kain, beberapa perancang busana juga berkreasi dengan menggunakan kain tradisional. Mereka adalah Stephanus Hamy, Didi Budiardjo, Tuty Cholid, Deny Wirawan, Oscar Lawalata, Carmanita, Ghea Panggabean dan Guruh Sukarno Putra.
Keindahan batik selalu mengundang inspirasi perancang tanah air untuk mengekplorasinya menjadi karya seni yang memikat. Tak sedikit perancang yang memutuskan menekuni batik sebagai ciri khas rancangannya. Sebut saja nama Iwan Tirta, mendiang Prajudi, dan sederet nama lainnya. Banyak pula perancang muda yang memutuskan serius menekuni batik. ‘’Untuk mengembangkan dan melestarikan kain adati, Ibu Ani Bambang Yudhoyono yang membuka pameran tersebut berharap para perancang ikut berbartisipasi agar kain adati tidak hanya dipakai pada acara adat saja tapi dipakai untuk sehari-hari,’’ katanya.


0 komentar:
Posting Komentar