Oleh: Saiful Amin Ghofur*
Setelah ribut-ribut album Slank dengan lagu “Gosip Jalanan” yang dinilai Badan Kehormatan (BK) DPR melecehkan anggota dewan yang terhormat mulai mereda, kini blantika industri musik kita kembali diguncang prahara. Album Julia Perez bertajuk “Kamasutra” yang disertai kondom sebagai bonusnya telah menuai kontroversi. Menteri Negara Pemberdayaan Wanita, Meutia Hatta, dan Lembaga Sensor Film (LSF) yang diketuai Titi Said, tak urung kebakaran jenggot. Perseteruan kian memanas hingga bergulir wacana pencekalan dan penarikan album “Kamasutra” dari pasar.
Baik Meutia Hatta maupun Titi Said menuduh Jupe, demikian ia akrab disapa, tengah membangun kampanye seks bebas dengan atraksi penyertaan kondom dalam penjualan albumnya. Tentu tuduhan tersebut cukup masuk akal sebab karet pelindung elastis seukuran ibu jari orang dewasa itu menjadi kian mudah didapat. Siapapun yang membeli album, tak pandang usia maupun status sosialnya, praktis mendapatkan kondom. Jika sudah begitu, tak ada ada mekanisme kontrol yang akurat terhadap penggunaan kondom. Di sinilah kekhawatiran legalisasi seks bebas menemukan relevansinya.
Namun tidak demikian dengan asumsi Jupe. Artis sensual yang sempat disebut-sebut sebagai ikon bom seks nasional itu justru berdalih bonus kondom di albumnya sebagai bagian partisipasi aktif terhadap gerakan kesadaran seks-aman (safety sex) sekaligus mematok target perlindungan dari penyakit kelamin menular terutama HIV/AIDS. Menurutnya, tak ada yang istimewa dengan langkah tersebut sebab grup musik Slank juga pernah melakukan hal serupa beberapa waktu silam.
Misinterpretasi
Kontroversi album “Kamasutra” Jupe sebenarnya berpangkal pada misinterpretasi. Langkah taktis Jupe dimaknai berbeda oleh pemerintah yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Meutia Hatta dan Titi Said. Terlepas dari kemungkinan adanya niat terselubung Jupe untuk mengerek popularitas dengan bonus kondom pada sistem pemasaran albumnya, iktikad baik Jupe perlu diapresiasi. Sebab fakta menunjukkan tingkat penyebaran HIV/AIDS, di mana perilaku seks bebas diindikasikan sebagai faktor penyebab utamanya, terus menanjak.
Menurut catatan Ditjen PPM&PL, Depkes, pada akhir Juni 2006 secara komulatif telah mencapai angka 10.859 kasus derngan rincian 6.332 penderita AIDS dan 4.527pengidap HIV. Yang lebih memprihatinkan adalah tingginya persentase penderita pada usia produktif (53,% kelompok usia 20-29 tahun dan sekitar 25,% pada kelompok usia 30-39 tahun).
Sejak lima tahun terakhir, jumlah penderita AIDS memang meningkat cukup tajam. Data yang dihimpun Asmuni (2006) menyebutkan bahwa jumlah kasus selama tahun 2005 hampir sama dengan total kumulatif kasus AIDS selama 17 tahun sejak 1987. Kasus AIDS sejak 1987 sampai dengan 2004 mencapai 2683 orang, sedangkan pada tahun 2005 jumlah penderita AIDS tercatat sekitar 2638 orang. Setahun berikutnya, jumlah itu membengkak empat kali lipat menjadi 10.859 orang. Angka ini diperkirakan meningkat drastis di tahun berikutnya. Sungguh, jumlah yang amat fantastis.
Di Jawa Tengah sendiri selama lima tahun terakhir jumlah pengidap AIDS mencapai 275 orang. 251 orang positif terjangkit virus HIV dan selebihnya, 24 orang, dipastikan terserang AIDS. Dari 24 orang pengidap AIDS, 17 orang di antaranya telah meninggal dunia. Penderita AIDS ini tersebar sekurang-kurangnya di 10 kapubaten/kota di Jawa Tengah.
Semua data di atas menunjukkan bahwa, pertama, penyebaran HIV/AIDS berkembang dengan pesat dan meluas. Desa-desa yang seringkali diyakini steril dari virus tersebut, kini mulai merebak. Kedua, data di atas hanyalah jumlah orang yang teridentifikasi sebagai pengidap HIV/AIDS. Tentu saja, masih banyak jumlah orang yang terinfeksi virus ini di luar identifikasi pemerintah dan lembaga yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Data pengidap HIV/AIDS ibarat gunung es, yang tampak di permukaan hanyalah secuil namun di dasarnya begitu besar.
Mitra kerja
Fakta pilu tentang HIV/AIDS tersebut mesti diinsafi bersama. Karena itu, langkah Jupe tak semestinya disambut dengan geram. Fenomena Jupe sepatutnya ditangkap sebagai peluang menciptakan agenda bersama untuk meredam laju HIV/AIDS.
Jupe adalah representasi musisi yang juga terlanjur menjadi figur publik di dunia hiburan (entertainment). Dan, lazimnya musisi bisa diterima oleh publik terutama dari kalangan muda. Dengan mempertimbangkan fakta mayoritas penderita HIV/AIDS adalah kalangan muda, maka Jupe dan juga para musisi lainnya layak digandeng sebagai mitra kerja dalam perang melawan HIV/AIDS.
Para musisi kerap diidolakan oleh kalangan muda. Maka tak heran jika setiap kali konser musik digelar, pengunjung fanatik yang membludak kebanyakan adalah kalangan muda. Oleh sebab itulah, para musisi perlu dirangkul sekaligus terus dilibatkan dalam setiap kegiatan kampanye anti-seks bebas melawan HIV/AIDS dan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja.
Benang kusut kontroversi Jupe mesti segera diurai. Masing-masing pihak sepantasnya duduk berdampingan demi mengobarkan semangat perang terhadap HIV/AIDS, bukan terus berpolemik yang justru kontra-produktif.
*) Direktur Eksekutif Carpediem Institute Yogyakarta, tinggal di Bantul.
Setelah ribut-ribut album Slank dengan lagu “Gosip Jalanan” yang dinilai Badan Kehormatan (BK) DPR melecehkan anggota dewan yang terhormat mulai mereda, kini blantika industri musik kita kembali diguncang prahara. Album Julia Perez bertajuk “Kamasutra” yang disertai kondom sebagai bonusnya telah menuai kontroversi. Menteri Negara Pemberdayaan Wanita, Meutia Hatta, dan Lembaga Sensor Film (LSF) yang diketuai Titi Said, tak urung kebakaran jenggot. Perseteruan kian memanas hingga bergulir wacana pencekalan dan penarikan album “Kamasutra” dari pasar.
Baik Meutia Hatta maupun Titi Said menuduh Jupe, demikian ia akrab disapa, tengah membangun kampanye seks bebas dengan atraksi penyertaan kondom dalam penjualan albumnya. Tentu tuduhan tersebut cukup masuk akal sebab karet pelindung elastis seukuran ibu jari orang dewasa itu menjadi kian mudah didapat. Siapapun yang membeli album, tak pandang usia maupun status sosialnya, praktis mendapatkan kondom. Jika sudah begitu, tak ada ada mekanisme kontrol yang akurat terhadap penggunaan kondom. Di sinilah kekhawatiran legalisasi seks bebas menemukan relevansinya.
Namun tidak demikian dengan asumsi Jupe. Artis sensual yang sempat disebut-sebut sebagai ikon bom seks nasional itu justru berdalih bonus kondom di albumnya sebagai bagian partisipasi aktif terhadap gerakan kesadaran seks-aman (safety sex) sekaligus mematok target perlindungan dari penyakit kelamin menular terutama HIV/AIDS. Menurutnya, tak ada yang istimewa dengan langkah tersebut sebab grup musik Slank juga pernah melakukan hal serupa beberapa waktu silam.
Misinterpretasi
Kontroversi album “Kamasutra” Jupe sebenarnya berpangkal pada misinterpretasi. Langkah taktis Jupe dimaknai berbeda oleh pemerintah yang dalam hal ini direpresentasikan oleh Meutia Hatta dan Titi Said. Terlepas dari kemungkinan adanya niat terselubung Jupe untuk mengerek popularitas dengan bonus kondom pada sistem pemasaran albumnya, iktikad baik Jupe perlu diapresiasi. Sebab fakta menunjukkan tingkat penyebaran HIV/AIDS, di mana perilaku seks bebas diindikasikan sebagai faktor penyebab utamanya, terus menanjak.
Menurut catatan Ditjen PPM&PL, Depkes, pada akhir Juni 2006 secara komulatif telah mencapai angka 10.859 kasus derngan rincian 6.332 penderita AIDS dan 4.527pengidap HIV. Yang lebih memprihatinkan adalah tingginya persentase penderita pada usia produktif (53,% kelompok usia 20-29 tahun dan sekitar 25,% pada kelompok usia 30-39 tahun).
Sejak lima tahun terakhir, jumlah penderita AIDS memang meningkat cukup tajam. Data yang dihimpun Asmuni (2006) menyebutkan bahwa jumlah kasus selama tahun 2005 hampir sama dengan total kumulatif kasus AIDS selama 17 tahun sejak 1987. Kasus AIDS sejak 1987 sampai dengan 2004 mencapai 2683 orang, sedangkan pada tahun 2005 jumlah penderita AIDS tercatat sekitar 2638 orang. Setahun berikutnya, jumlah itu membengkak empat kali lipat menjadi 10.859 orang. Angka ini diperkirakan meningkat drastis di tahun berikutnya. Sungguh, jumlah yang amat fantastis.
Di Jawa Tengah sendiri selama lima tahun terakhir jumlah pengidap AIDS mencapai 275 orang. 251 orang positif terjangkit virus HIV dan selebihnya, 24 orang, dipastikan terserang AIDS. Dari 24 orang pengidap AIDS, 17 orang di antaranya telah meninggal dunia. Penderita AIDS ini tersebar sekurang-kurangnya di 10 kapubaten/kota di Jawa Tengah.
Semua data di atas menunjukkan bahwa, pertama, penyebaran HIV/AIDS berkembang dengan pesat dan meluas. Desa-desa yang seringkali diyakini steril dari virus tersebut, kini mulai merebak. Kedua, data di atas hanyalah jumlah orang yang teridentifikasi sebagai pengidap HIV/AIDS. Tentu saja, masih banyak jumlah orang yang terinfeksi virus ini di luar identifikasi pemerintah dan lembaga yang bergerak di bidang HIV/AIDS. Data pengidap HIV/AIDS ibarat gunung es, yang tampak di permukaan hanyalah secuil namun di dasarnya begitu besar.
Mitra kerja
Fakta pilu tentang HIV/AIDS tersebut mesti diinsafi bersama. Karena itu, langkah Jupe tak semestinya disambut dengan geram. Fenomena Jupe sepatutnya ditangkap sebagai peluang menciptakan agenda bersama untuk meredam laju HIV/AIDS.
Jupe adalah representasi musisi yang juga terlanjur menjadi figur publik di dunia hiburan (entertainment). Dan, lazimnya musisi bisa diterima oleh publik terutama dari kalangan muda. Dengan mempertimbangkan fakta mayoritas penderita HIV/AIDS adalah kalangan muda, maka Jupe dan juga para musisi lainnya layak digandeng sebagai mitra kerja dalam perang melawan HIV/AIDS.
Para musisi kerap diidolakan oleh kalangan muda. Maka tak heran jika setiap kali konser musik digelar, pengunjung fanatik yang membludak kebanyakan adalah kalangan muda. Oleh sebab itulah, para musisi perlu dirangkul sekaligus terus dilibatkan dalam setiap kegiatan kampanye anti-seks bebas melawan HIV/AIDS dan penyuluhan kesehatan reproduksi remaja.
Benang kusut kontroversi Jupe mesti segera diurai. Masing-masing pihak sepantasnya duduk berdampingan demi mengobarkan semangat perang terhadap HIV/AIDS, bukan terus berpolemik yang justru kontra-produktif.
*) Direktur Eksekutif Carpediem Institute Yogyakarta, tinggal di Bantul.


0 komentar:
Posting Komentar