Oleh: Wayan Nita
Kisah tragis bom Bali, 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 masih membekas di benak para korban yang cacat fisik dan keluarga korban yang mati akibat serangan bom itu. Lebih dari itu, yang menjadi korban adalah anak-anak yang tidak bersalah ikut memikul beban penderitaan akibat orang tua mereka meninggal atau terluka. Melihat fakta yang memilukan itu, didirikan Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) dengan kantor di Jl Kediri 38 Kuta dan Yayasan Kuta International Disaster Scholarship (KIDS) oleh COURTS di Jl Cokroaminoto 32A Denpasar. Kedua yayasan ini bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan anak-anak korban bom Bali.
Menurut Rucina Ballinger, Chief Executive Officer YKIP, pendidikan anak sangat penting. Untuk itu, harus tetap diusahakan agar mereka bisa sekolah. ‘’Meski awalnya sulit, tapi kini kami mampu membawa mereka hingga ke jenjang pendidikan SMU,” jelas Rucina.
Menurut Rucina, masih rendah kepekaan masyarakat terhadap anak-anak korban bom Bali. Buktinya, mayoritas donatur justru masyarakat dari luar negeri. Ni Putu Sherlyana, Field & Admin Officer YKIP-YKIDS menyebut, ALF, Centrelink Australia dan klub sepak bola Rugby Hongkong dan YNS masih tetap menggalang dana untuk korban bom Bali, termasuk Quiksilver yang sudah menjadi donatur tetap. ‘’Sebagian besar dari mereka juga kehilangan anggota keluarga akibat bom Bali. Semua sumbangan disalurkan kepada anak-anak korban bom melalui YKIP-YKIDS,” kata Sherly.
Yang menerima sumbangan, sebut Sherly adalah mereka yang salah satu orang tuanya meninggal atau mengalami luka permanen. Yayasan membayar langsung biaya pendidikan ke sekolah. Bantuan yang sama disalurkan kepada korban yang berdomisili atau yang memutuskan pulang ke Jawa pasca tragedi bom Bali I dan bom Bali II. Setiap tahun, lanjut Sherly, mereka mendapatkan peralatan sekolah secara lengkap seperti tas, sepatu, kaus kaki, seragam sekolah, buku tulis hingga kotak tulis plus isinya.
Anak-anak juga diberi kebebasan mengikuti les non akademis sesuai bakat mereka. Misalnya menari atau melukis. “Semua kami lakukan demi masa depan mereka. Selain belajar mereka juga berhak bersosialisasi. Untuk itu setiap enam bulan sekali, yayasan mengadakan acara pertemuan seluruh keluarga dan anak-anak yang dikenal dengan KIDS Gathering Party. Dalam acara ini diselenggarakan berbagai perlombaan dan hiburan, perayaaan ulang tahun dan penghargaan untuk anak berprestasi. Karena sebagian besar dari mereka jiwanya masih tertekan,” urai Sherly.
Setelah hampir enam tahun, 132 anak telah dibantu dan bahkan ada lima anak sudah wisuda. Saat ini ada 53 anak yang masih dibiayai yayasan baik TK, SD, SMP, SMA sampai universitas. Berdasarkan dana yang sudah, yayasan baru mampu menyekolahkan anak-anak ini hingga tingkat SMA. Meski begitu, yayasan terus berupaya menggalang dana agar beasiswa pendidikan anak-anak korban bom Bali tercukupi sampai ke jenjang Universitas (Akademi).
Sherly mengharapkan, sumbangan donator. Selain fokus pada pendidikan anak korban bom Bali, yayasan tersebut sudah melebarkan misi kemanusian dengan merambah bidang kesehatan masyarakat yang tidak mampu meski ada persyaratan khusus.
Kisah tragis bom Bali, 12 Oktober 2002 dan 1 Oktober 2005 masih membekas di benak para korban yang cacat fisik dan keluarga korban yang mati akibat serangan bom itu. Lebih dari itu, yang menjadi korban adalah anak-anak yang tidak bersalah ikut memikul beban penderitaan akibat orang tua mereka meninggal atau terluka. Melihat fakta yang memilukan itu, didirikan Yayasan Kemanusiaan Ibu Pertiwi (YKIP) dengan kantor di Jl Kediri 38 Kuta dan Yayasan Kuta International Disaster Scholarship (KIDS) oleh COURTS di Jl Cokroaminoto 32A Denpasar. Kedua yayasan ini bergerak di bidang pendidikan dan kesehatan anak-anak korban bom Bali.
Menurut Rucina Ballinger, Chief Executive Officer YKIP, pendidikan anak sangat penting. Untuk itu, harus tetap diusahakan agar mereka bisa sekolah. ‘’Meski awalnya sulit, tapi kini kami mampu membawa mereka hingga ke jenjang pendidikan SMU,” jelas Rucina.
Menurut Rucina, masih rendah kepekaan masyarakat terhadap anak-anak korban bom Bali. Buktinya, mayoritas donatur justru masyarakat dari luar negeri. Ni Putu Sherlyana, Field & Admin Officer YKIP-YKIDS menyebut, ALF, Centrelink Australia dan klub sepak bola Rugby Hongkong dan YNS masih tetap menggalang dana untuk korban bom Bali, termasuk Quiksilver yang sudah menjadi donatur tetap. ‘’Sebagian besar dari mereka juga kehilangan anggota keluarga akibat bom Bali. Semua sumbangan disalurkan kepada anak-anak korban bom melalui YKIP-YKIDS,” kata Sherly.
Yang menerima sumbangan, sebut Sherly adalah mereka yang salah satu orang tuanya meninggal atau mengalami luka permanen. Yayasan membayar langsung biaya pendidikan ke sekolah. Bantuan yang sama disalurkan kepada korban yang berdomisili atau yang memutuskan pulang ke Jawa pasca tragedi bom Bali I dan bom Bali II. Setiap tahun, lanjut Sherly, mereka mendapatkan peralatan sekolah secara lengkap seperti tas, sepatu, kaus kaki, seragam sekolah, buku tulis hingga kotak tulis plus isinya.
Anak-anak juga diberi kebebasan mengikuti les non akademis sesuai bakat mereka. Misalnya menari atau melukis. “Semua kami lakukan demi masa depan mereka. Selain belajar mereka juga berhak bersosialisasi. Untuk itu setiap enam bulan sekali, yayasan mengadakan acara pertemuan seluruh keluarga dan anak-anak yang dikenal dengan KIDS Gathering Party. Dalam acara ini diselenggarakan berbagai perlombaan dan hiburan, perayaaan ulang tahun dan penghargaan untuk anak berprestasi. Karena sebagian besar dari mereka jiwanya masih tertekan,” urai Sherly.
Setelah hampir enam tahun, 132 anak telah dibantu dan bahkan ada lima anak sudah wisuda. Saat ini ada 53 anak yang masih dibiayai yayasan baik TK, SD, SMP, SMA sampai universitas. Berdasarkan dana yang sudah, yayasan baru mampu menyekolahkan anak-anak ini hingga tingkat SMA. Meski begitu, yayasan terus berupaya menggalang dana agar beasiswa pendidikan anak-anak korban bom Bali tercukupi sampai ke jenjang Universitas (Akademi).
Sherly mengharapkan, sumbangan donator. Selain fokus pada pendidikan anak korban bom Bali, yayasan tersebut sudah melebarkan misi kemanusian dengan merambah bidang kesehatan masyarakat yang tidak mampu meski ada persyaratan khusus.


0 komentar:
Posting Komentar