Home » » Yulius: Dulu Anjal, Kini Penyuluh HIV

Yulius: Dulu Anjal, Kini Penyuluh HIV

OLEH: AGUS SALAM
‘’Sering saya mendengar curhat berbagai masalah anak-anak di mall. Bahkan tidak jarang mereka sampai menangis. Setelah diskusi ada yang berubah perilakunya tetapi banyak juga yang tidak. Saya tidak mau dibilang ngacak-ngacak privasi orang, biar mereka yang menentukan jalannya sendiri. Saya hanya membantu,’’ungkap Yulius, mantan anak jalanan (Anjal) yang kini dipercaya sebagai seorang penyuluh HIV oleh Yayasan Pelita Ilmu (YPI) Jakarta.
Untuk merekam jerit tangis kaumnya, Yulius rela nongkrong berjam-jam di Mall Cijantung, Jakarta Timur. Bahkan sampai tiga kali sehari setiap minggu, Yulius menghabiskan sebagian waktu dan tenaganya di pusat perbelanjaan termewah. Mengenang kisah hidup, sembari menerawang, Yulius mengaku, sebelum dipercaya di YPI, dirinya sudah cukup menjalani profesi sebagai seorang Anjal di sekitar jalur-jalur strategis seputaran kota Jakarta.
Karena itu, dirinya sudah lebih dulu menjadi ‘’tamu’’ di Yayasan Pelita Ilmu. ‘’Saya ini sudah duluan mengenal YPI. Bahkan sering nongkrong di kantor yayasan itu sampai menjadi outreach (penjangkau) atau penyuluh HIV. Saya tidak pernah merasa jenuh menjadi seorang penjangkau karena saya menganggap pekerjaan tersebut sebagai upaya banyakin teman. Biar gaul gitu lho. Saya juga tercatat sebagai pendiri teater Die-J sejak tahun 2004 dan aktif melakukan pagelaran-pagelaran teater bertema HIV,’’ buka Yulius.
Sepintas, sosok pria yang agak kurus ini memang tidak seperti orang teater. Ya, kesannya jauh dari seorang seniman kebanyakan. Tetapi siapa yang bisa sangka bahwa dengan keahliannya berakting, Yulius berkesempatan mengunjungi Kolombo, Sri Langka. ‘’Saya merasa tidak seperti seorang penyuluh apalagi mantan anak jalanan kota Jakarta,’’ ucapnya merendah dan menyebar senyum lebar.
Sesuai dengan program YPI, pencegahan HIV dan AIDS bagi remaja di Mal Cijantung, Yulius diberi kesempatan mengadakan penyuluhan di Mall Cijantung yang diawali survey lokasi dan peserta yang mayoritas dari kaum anjal. Ternyata banyak anak nongrong di mall tersebut sehingga sangat efektif untuk dilakukan penyuluhan kesehatan terutama HIV/AIDS. Tujuannya untuk mengurangi atau menurunkan resiko remaja terhadap masalah kesehatan reproduksi, Infeksi Menular Seksual, HIV/AIDS dan sebagainya.
Menurut Yulius, personil teater Die-J yang didirikan pada tahun 2004 itu lebih didominasi oleh kaum pelajar seusia SLTA sampai SLTU. Dan tema-tema yang dibawakan saat pentas seputar edukasi reproduksi kesehatan, bahaya narkoba, HIV dan AIDS. Dibanding media lain, penyampaian materi melalui teater jauh lebih efektif ibanding penyuluhan secara oral. Karena pesan yang disampaikan langsung ke sasaran karena dibawakan secara komedi. Bagi Yulius, teater merupakan media seni yang paling bagus untuk menyampaikan sebuah pesan moral. Lewat pengalamannya bersama teater inilah Yulius dipercaya menjadi peserta utusan dari Indonesia untuk menghadiri sebuah acara penting di Kolombo, Sri Langka pada Agustus 2007. Di sana, Yulius membawakan materi tentang Efektifitas Teater Sebagai Media Edukasi HIV dan AIDS bagi remaja.
Thanks for reading Yulius: Dulu Anjal, Kini Penyuluh HIV

« Previous
« Prev Post
Next »
Next Post »

0 komentar:

Posting Komentar