Cerobong industri pariwisata Bali tetap bergelimang dollar wisatawan asing. Sektor ini jelas tidak akan pernah berakhir mengepulkan asap demi mendukung eksistensi industri andalan Pulau Dewata ini. Aneka setting program terus digelontor pelbagai kalangan, terutama pelaku wisata. Antara lain, pemilik hotel dari yang kelas melati, bintang hingga kelas berbintang lima plus. Dari pengelola spa, travel, penerbangan, restoran bermenu spesifik hingga gerai-gerai penyangga geliat dunia pelancongan ini.
Bila Kuta lebih identik sebagai tempat mandi panas matahari dan hinggar-bingar dentuman musik di malam hari, maka Sanur masih tetap bernapas untuk lebih menyuguhkan nuansa ketenangan dan kenyaman bagi wisatawan usia lanjut dari berbagai manca benua. Kawasan Nusa Dua? Ya, konon lebih menjadi kawasan elit bagi wisatawan berkantong tebal alias kelas menengah ke atas.
Untuk mempertahankan citra dan image sebagai sebuah kawasan wisata yang tetap digandrungi para pemilik dollar, sejumlah elemen wisata sekitar areal kawasan tersebut tidak pernah jera menawarkan jurus-jurus terbaru demi menggaet wisatawan agar bisa menghabiskan uang belanjaan yang disiapkan.
Bali Collection, misalnya, seakan menjadi salah satu magent belanja buat wisatawan dalam maupun luar negeri kala bertandang ke Nusa Dua. Bahkan, sekitar 1,2 juta wisatawan yang didominasi turis asing (70%) dan turis dalam negeri termasuk Bali yang berkunjung dan belanja di Bali Collection. Dalam setahun, total pengeluaran yang digelontor wisatawan di kawasan itu mencapai Rp 150 miliar, terutama untuk makan dan minum.
"Lihat saja di areal perbelanjaan lebih dari 25 hektar ini dipenuhi wisatawan yang sedang makan-minum, selain membeli oleh-oleh dan aneka kebutuhan," jelas Bimo Prihantoro, Deputy GM Marketing Bali Collection kepada ANTARA belum lama ini.
Merunut pada data pengunjung dan omset belanja, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, setiap hari bisa 3.000 orang wisatawan dengan rata-rata belanja Rp 125 ribu per orang. "Kami melihat melimpahnya kunjungan turis asing diimbangi peningkatan jumlah wisatawan domestik. Ini potensi yang akan terus kami garap guna mencapai 1,4 juta pengunjung," tegas Bimo didampingi Nidia Niekmasari, Senior Manager Promotion & PR Bali Collection.
Kawasan wisata Nusa Dua berdiri 15 hotel berbintang lima dan sejumlah fasilitas lain dengan total pekerja hotel (karyawan/ti) berjumlah 12 ribu orang dan dari perusahaan lain. Daerah itu dihuni sekitar 80 ribu penduduk dari berbagai latar belakang budaya. Untuk lebih menarik minat wisatawan domestik agar lebih royal di Nusa Dua, lanjut Bimo, pihaknya sangat optimis untuk senantiasa menggelar konsep baru ‘’pengalaman gaya hidup atau Lifestyle Experience (LE) dengan obsesi mengutamakan pemenuhan kebutuhan hiburan, makan malam dan belanja. "Selama ini kita kurang memperhatikan kalangan domestik saja pengunjungnya mencapai 30 persen. Kami akan tampilkan aneka hiburan secara rutin, selain tempat-tempat makan ala Indonesia," katanya.
Sebagai bukti, pihaknya belum lama ini menampilkan hiburan tari, perpaduan antara tradisional Bali dengan seni modern dari sejumlah Negara. Pentas itu digelar untuk menandai kerja sama Garuda Indonesia dan American Express Merchant Service Bank Danamon dengan fokus lebih populerkan kawasan Bali Village di Blok C Bali Collection yang menyajikan aneka barang dan sajian makanan khas Indonesia. Novie Rozak, Bali Area Management Head American Express maupun General Manager Garuda Indonesia Denpasar, Bagus Y Siregar menyambut gembira kerja sama yang saling menguntungkan itu.
Kadis Pariwisata Bali, Drs I Gede Nurjaya menegaskan, sebagai tujuan wisata nasional, untuk tahun 2008, Bali tetap optimis ’memanen’ 1,9 juta wisatawan seperti yang sudah ditargetkan. Buktinya, pada semester pertama 2008 saja, sudah berkunjung 917.000 orang atau meningkat rata-rata 32 persen. Kondisi itu didukung faktor keamanan dan kenyamanan yang sudah tercipta selama ini. Pada tahun 2007, total wisman ke Bali sebanyak 1.664.047 orang.
Sementara guru besar Universitas Gajah Mada, Prof Dr Irwan Abdullah menilai, di balik glamoritas pariwisata yang terus digenjot, Bali sedang terjadi dislokasi budaya, --mulai tercerabutnya akar-akar kebudayaan. "Kondisi tersebut memperlihatkan potensi konflik yang tidak bisa diabaikan," kata Prof Abdullah saat tampil sebagai pembicara dalam sarasehan terkait helatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 di Denpasar.
Disebutkan, dislokasi budaya melahirkan kegelisahan psikologis yang memungkinkan munculnya ikatan-ikatan baru dengan kepatuhan yang baru pula. Namun nantinya masyarakat tidak lagi digerakkan oleh kepatuhan nilai adat dan budaya, tetapi semata-mata untuk kepentingan materialistik prakmatis.
Semua itu, sebut Prof Abdullah, tidak terlepas dari berbagai dampak negatif perkembangan pariwisata yang pesat dan globalisasi. Karena itu, secara dini harus diantisipasi agar Bali ke depan tetap aman, nyaman serta tetap lestarinya kehidupan seni budaya, ujar Direktur Program Pasca Sarjana UGM tersebut.
Sebagai bagian dari komunitas dunia, ada kecenderungan yang tercipta di Bali mengadopsi kebudayaan modern (kosmopolitan). Proses adopsi pada sisi lain membuat kebudayaan Bali mengalami proses orientasi yang terfokus pada lokalitas, khususnya desa adat. Penetrasi nilai dan kepentingan internasional yang sangat kuat di Bali itu, tidak terlepas dari adanya iklim investasi ekonomi maupun politik. (Albert Kin Ose M)
Bila Kuta lebih identik sebagai tempat mandi panas matahari dan hinggar-bingar dentuman musik di malam hari, maka Sanur masih tetap bernapas untuk lebih menyuguhkan nuansa ketenangan dan kenyaman bagi wisatawan usia lanjut dari berbagai manca benua. Kawasan Nusa Dua? Ya, konon lebih menjadi kawasan elit bagi wisatawan berkantong tebal alias kelas menengah ke atas.
Untuk mempertahankan citra dan image sebagai sebuah kawasan wisata yang tetap digandrungi para pemilik dollar, sejumlah elemen wisata sekitar areal kawasan tersebut tidak pernah jera menawarkan jurus-jurus terbaru demi menggaet wisatawan agar bisa menghabiskan uang belanjaan yang disiapkan.
Bali Collection, misalnya, seakan menjadi salah satu magent belanja buat wisatawan dalam maupun luar negeri kala bertandang ke Nusa Dua. Bahkan, sekitar 1,2 juta wisatawan yang didominasi turis asing (70%) dan turis dalam negeri termasuk Bali yang berkunjung dan belanja di Bali Collection. Dalam setahun, total pengeluaran yang digelontor wisatawan di kawasan itu mencapai Rp 150 miliar, terutama untuk makan dan minum.
"Lihat saja di areal perbelanjaan lebih dari 25 hektar ini dipenuhi wisatawan yang sedang makan-minum, selain membeli oleh-oleh dan aneka kebutuhan," jelas Bimo Prihantoro, Deputy GM Marketing Bali Collection kepada ANTARA belum lama ini.
Merunut pada data pengunjung dan omset belanja, terutama untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, setiap hari bisa 3.000 orang wisatawan dengan rata-rata belanja Rp 125 ribu per orang. "Kami melihat melimpahnya kunjungan turis asing diimbangi peningkatan jumlah wisatawan domestik. Ini potensi yang akan terus kami garap guna mencapai 1,4 juta pengunjung," tegas Bimo didampingi Nidia Niekmasari, Senior Manager Promotion & PR Bali Collection.
Kawasan wisata Nusa Dua berdiri 15 hotel berbintang lima dan sejumlah fasilitas lain dengan total pekerja hotel (karyawan/ti) berjumlah 12 ribu orang dan dari perusahaan lain. Daerah itu dihuni sekitar 80 ribu penduduk dari berbagai latar belakang budaya. Untuk lebih menarik minat wisatawan domestik agar lebih royal di Nusa Dua, lanjut Bimo, pihaknya sangat optimis untuk senantiasa menggelar konsep baru ‘’pengalaman gaya hidup atau Lifestyle Experience (LE) dengan obsesi mengutamakan pemenuhan kebutuhan hiburan, makan malam dan belanja. "Selama ini kita kurang memperhatikan kalangan domestik saja pengunjungnya mencapai 30 persen. Kami akan tampilkan aneka hiburan secara rutin, selain tempat-tempat makan ala Indonesia," katanya.
Sebagai bukti, pihaknya belum lama ini menampilkan hiburan tari, perpaduan antara tradisional Bali dengan seni modern dari sejumlah Negara. Pentas itu digelar untuk menandai kerja sama Garuda Indonesia dan American Express Merchant Service Bank Danamon dengan fokus lebih populerkan kawasan Bali Village di Blok C Bali Collection yang menyajikan aneka barang dan sajian makanan khas Indonesia. Novie Rozak, Bali Area Management Head American Express maupun General Manager Garuda Indonesia Denpasar, Bagus Y Siregar menyambut gembira kerja sama yang saling menguntungkan itu.
Kadis Pariwisata Bali, Drs I Gede Nurjaya menegaskan, sebagai tujuan wisata nasional, untuk tahun 2008, Bali tetap optimis ’memanen’ 1,9 juta wisatawan seperti yang sudah ditargetkan. Buktinya, pada semester pertama 2008 saja, sudah berkunjung 917.000 orang atau meningkat rata-rata 32 persen. Kondisi itu didukung faktor keamanan dan kenyamanan yang sudah tercipta selama ini. Pada tahun 2007, total wisman ke Bali sebanyak 1.664.047 orang.
Sementara guru besar Universitas Gajah Mada, Prof Dr Irwan Abdullah menilai, di balik glamoritas pariwisata yang terus digenjot, Bali sedang terjadi dislokasi budaya, --mulai tercerabutnya akar-akar kebudayaan. "Kondisi tersebut memperlihatkan potensi konflik yang tidak bisa diabaikan," kata Prof Abdullah saat tampil sebagai pembicara dalam sarasehan terkait helatan Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-30 di Denpasar.
Disebutkan, dislokasi budaya melahirkan kegelisahan psikologis yang memungkinkan munculnya ikatan-ikatan baru dengan kepatuhan yang baru pula. Namun nantinya masyarakat tidak lagi digerakkan oleh kepatuhan nilai adat dan budaya, tetapi semata-mata untuk kepentingan materialistik prakmatis.
Semua itu, sebut Prof Abdullah, tidak terlepas dari berbagai dampak negatif perkembangan pariwisata yang pesat dan globalisasi. Karena itu, secara dini harus diantisipasi agar Bali ke depan tetap aman, nyaman serta tetap lestarinya kehidupan seni budaya, ujar Direktur Program Pasca Sarjana UGM tersebut.
Sebagai bagian dari komunitas dunia, ada kecenderungan yang tercipta di Bali mengadopsi kebudayaan modern (kosmopolitan). Proses adopsi pada sisi lain membuat kebudayaan Bali mengalami proses orientasi yang terfokus pada lokalitas, khususnya desa adat. Penetrasi nilai dan kepentingan internasional yang sangat kuat di Bali itu, tidak terlepas dari adanya iklim investasi ekonomi maupun politik. (Albert Kin Ose M)


0 komentar:
Posting Komentar